Hollaaaaaaaa~ mencuri waktu di masa UAS, karena jarang-jarang bisa make modem _ here is chapter 5~! maaf lama banget! thanks reviewnya killinheaven, membaca reviewmu bagaikan oasis~ #eaa ;)
enjoy~ ^A^
Demonic Side
Disclaimer: Kuroshitsuji dan Kuroshitsuji II milik Yana Toboso. Tapi tokoh Aquarine Vodaffe dan Rangel berlisensi, punya saya! xD
Genre: Fantasy... dan ga jelas~
Background (time): After-story dari anime Kuroshitsuji II
Warning! Novel-like. Yang kurang suka bahasa (agak) baku dan cerita yang (kayaknya) agak rumit, lebih baik hengkang (!) Don't like don't read, RnR please! ^.^
.
Sebastian berlari tergesa-gesa melintasi koridor. Kakinya nyaris tak menapak lantai lagi. Mimiknya sangat serius dan dengan cermat diliriknya setiap ruangan yang dilewati. Ciel belum terlihat sepagian ini. Terakhir kali Sebastian bersamanya adalah ketika makan malam sehari sebelumnya. Padahal Sebastian telah mendapat ilham mendadak, yang menurutnya dapat memuaskan rasa ingin tahu Ciel.
Ide itu muncul dalam periode yang sangat singkat, di dalam kepala seorang iblis jenius bernama Sebastian Michaelis. Untunglah butler tersebut menyadari keberadaan ide cemerlang itu dengan cepat. Maka dari itu, kini Sebastian berusaha keras menemukan Ciel yang entah bagaimana menghilang.
"Bocchan," bisik Sebastian. Ia merasa agak kesal karena belakangan ini majikannya mulai menyusahkan. Sebelumnya, Ciel menolak camilan yang disediakan Sebastian dan meminta hal yang aneh-aneh. Sebastian memang tidak akan tumbang hanya karena hal semacam itu, namun Ciel terus mengulanginya dan membuat Sebastian jengah. Permintaan Ciel untuk menyelidiki Aquarine Vodaffe juga sesungguhnya dirasa janggal oleh Sebastian.
Hingga siang berakhir, Ciel belum dapat ditemukan.
.
.
.
Claude meninggalkan toko Undertaker dengan perasaan bingung dan hancur. Sepertinya ia belum siap mengetahui kebenaran, atau kesalahan, di balik keberadaan Rangel. Ia juga belum sanggup mengakui perasaannya pada Aqua, namun sudah dipaksa untuk meninggalkannya.
Kaki-kaki panjang Claude melangkah sangat cepat dalam gerakan yang ringan dan mengalun. Perasaan gamang membuat Claude terlambat menyadari kehadiran Ciel di hadapannya sehingga kedua iblis tersebut nyaris bertubrukan. Claude menatap Ciel dengan sinis dan bergumam kesal.
"Maaf, aku telah mencuri dengar."
Claude melotot marah. Namun lambat laun ekspresi kerasnya mengendur, hingga akhirnya berubah sendu. Ia tentu menyadari bahwa tidak ada yang dapat ia lakukan. "Oh…"
"Kau patah hati?" Ciel bagai menghujam Claude dengan tombak.
"Aku… tidak mencintainya," sahut Claude pelan. Jawabannya yang terdengar kurang tegas tidak mampu meyakinkan Ciel. Lelaki berambut biru itu mengangkat sebelah alisnya dan memandang rendah pada Claude.
"…bohong," Claude menimpali ucapannya sendiri. "Hanya saja… Itu sesuatu yang mengagetkan. Bukan hal yang bisa kau tanggapi dengan senyum manis. Bukan hal yang bisa kau terima dengan hati lapang."
Mata merah Ciel menatap Claude heran. "Bukankah arti sesungguhnya dari Aqua berarti… suatu keuntungan bagimu?"
Claude memejamkan mata dan menghela nafas pendek. "Aku terbiasa dengan kehadiran Aqua seperti sekarang ini. Entah apakah aku bisa menerima ketika Aqua mengetahui itu, nanti."
"Pecundang."
Ciel berbalik badan dan menggenggam tongkat berjalannya erat. Matanya menyipit, mencegah debu yang dibawa angin kencang masuk ke dalam mata. "Kau seorang pecundang, Claude."
Claude tersenyum lirih. "Untuk pertama kalinya, aku setuju denganmu, Nak."
"Cih," desis Ciel. "Aku takut dengan dirimu yang sekarang, Claude. Kau berubah baik, aku benci itu."
.
.
.
Aqua berbaring di atas ranjangnya yang tidak bisa dibilang empuk, menatap langit-langit kamar tanpa harapan. Terngiang ucapan Hannah, yang menyatakan bahwa sekali Aqua menemukan kenyataan, Aqua tidak akan dapat kembali.
Tak bisa diungkapkan perasaan Aqua ketika mendengar pernyataan tersebut. Gadis remaja itu merasa takut, merasa cemas, dan merinding kala kalimat itu menyapa telinganya. Setelahnya, Hannah tidak mengatakan apa-apa. Iblis baik hati itu pergi meninggalkannya sembari tersenyum simpul.
Aqua memutar tubuhnya, kini menghadap tembok kusam yang berdebu. Diperhatikannya guratan cat yang menonjol. Bola matanya bergerak menelusuri guratan-guratan di dinding sementara pikirannya kosong. Apa lagi yang harus ia lakukan? Apa yang telah terjadi? Kenapa ia merasa sangat tidak nyaman? Apa yang salah?
"Tidak ada yang salah," bisik Aqua, mencoba menenangkan diri sendiri. "Tidak apa…"
Mendadak, sebuah suara muncul dalam kepalanya. Untaian kata-kata merasuki pikirannya dan menyampaikan sebuah kalimat.
"Kau bodoh, Aqua," ujar suara tersebut.
Aqua terkesiap. Ini adalah pengalaman pertama baginya; berbincang dengan Rangel yang berada di dalam dirinya.
"Instingmu tidak pernah salah. Sebaiknya kau percaya pada hatimu," lanjut Rangel. Suara altonya membahana dalam kepala Aqua. "Dan saat itu tiba, mungkin aku tidak bisa lagi membencimu."
Aqua menggigit bibir bawahnya. "Maksudmu… Selama ini kau membenciku?"
"Bukan membenci," sahut Rangel. "Kau adalah majikanku, Aqua. Majikan pertama dan terakhir. Bukankah aku sudah pernah bilang di awal perjumpaan kita? Apa kau tidak bisa menarik kesimpulan dari situ?"
"Tidak," sambar Aqua cepat. "Aku tidak mengerti apa-apa."
Terdengar suara gemuruh, timbul dari amarah Rangel. "Aku adalah iblis, bukan manusia. Bukan makhluk yang sama denganmu. Kita adalah dua makhluk yang berbeda, tinggal di dunia yang berbeda, memiliki kebiasaan yang berbeda. Bisakah kau berhenti menganggapku teman, dan mulai memandangku sebagai makhluk pemangsa?"
Aqua terdiam. Ia tidak mengira Rangel merasa seperti itu selama ini. Ia lebih tidak mengira Rangel akan mengungkapkan isi hatinya.
Rangel menarik nafas panjang. "Sudahlah. Toh, tidak lama lagi kita akan berpisah."
Aqua masih diam. Suara berat Rangel menimbulkan sensasi aneh pada diri Aqua. Perasaan kelam, rasa bersalah, keputusasaan, ketakutan… Entah kenapa itu semua terasa familiar bagi Aqua.
Setetes air mata pun jatuh.
"…Rangel?" bisik Aqua. "Kau menangis?"
"…tidak."
"Kau mena—"
"TIDAK!"
Sengatan tajam menusuk kulit Aqua dari dalam.
"AKU TIDAK MENANGIS! AKU TIDAK PERNAH MENANGIS! TIDAK SEPERTIMU!"
Aqua menjerit. Tubuhnya seakan ditarik dan dicabik, hingga Aqua berhalusinasi bahwa dirinya telah tercerai berai. Ia tidak dapat merasakan lengannya, tungkainya, dadanya—apapun. Terdengar bunyi retakan tulang dan regangan otot. Aqua merasa takut. Ia takut mati.
"Hen…ti…kan," bisik Aqua sembari menahan air mata. Rasa sakit yang menjalarinya membuatnya tak mampu menangis maupun berbicara. "S-stop…"
.
.
.
Ukiran perak yang mengelilingi batu rubi memantulkan cahaya matahari senja. Aliran cairan kental berwarna merah mengalir sepanjang lempengan besi tipis nan tajam itu. Sepasang mata berwarna emas membelalak, menatap marah ke dalam batu rubi yang seakan menertawakannya. Batu itu berkilat redup, tak tampak merasa bersalah atas apa yang telah diperbuatnya. Toh, yang mengayunkannya dan menebas tubuh lelaki tegap di hadapannya bukanlah ia, melainkan seorang remaja dengan tatapan membunuh.
"K-kau…"
Angin enggan berembus.
"Kenapa…"
Rerumputan enggan bergoyang.
"…brengsek…"
Claude ambruk dengan tenang. Luka yang melintang di dadanya dan memperlihatkan gumpalan-gumpalan dalam tubuhnya seperti tidak berefek apa-apa selain rasa kaget. Ciel, dengan pedang terhunus di tangan kiri, memperlihatkan wajah muramnya.
Diperhatikannya mayat Claude yang terbaring di tengah lautan darah. Wajah rupawannya tampak sangat menderita.
…Aku belum sempat bertemu dengannya…
Ciel mencibir. Pemikiran seperti itulah yang menjatuhkan manusia dalam kegelapan, begitu pikirnya. Seharusnya, iblis yang memang dipenuhi nafsu, tidak akan menderita karena cinta.
…Aku belum minta maaf kepadanya…
Seorang iblis yang keberadaannya sendiri adalah dosa, mengapa harus peduli pada satu kesalahan kecil terhadap seorang manusia?
...Aku masih ingin mencintainya…
"Matilah kau, wahai iblis berperasaan," bisik Ciel. Kedua matanya menyala terang. "Sebagai iblis muda, aku tak bisa memaafkanmu."
~TBC~
A/N tolong reviewnyaaa ^_^;
