satu chapter di liburan tahun baru~ here it comes~ enjoy~ ^w^

Demonic Side

Disclaimer: Kuroshitsuji dan Kuroshitsuji II milik Yana Toboso. Tapi tokoh Aquarine Vodaffe dan Rangel berlisensi, punya saya! xD

Genre: Fantasy... dan ga jelas~

Background (time): After-story dari anime Kuroshitsuji II

Warning! Novel-like. Yang kurang suka bahasa (agak) baku dan cerita yang (kayaknya) agak rumit, lebih baik hengkang (!) Don't like don't read, RnR please! ^.^

.

"Tahan dirimu, Bocchan."

Sebastian muncul dari balik pepohonan, bermandikan peluh dan nafas yang tersengal. Ia melirik mayat Claude dan menghela nafas.

"He doesn't deserve it."

Ciel menjatuhkan pedangnya, menimbulkan bunyi gedebuk yang berat. Ototnya mengencang, memperlihatkan emosinya. Sebastian tahu persis bagaimana perasaan Ciel, walau ia hanya bisa melihat punggung sang majikan.

"Really, he doesn't deserve it," ulang Sebastian dengan lebih tegas. Tindakannya terlihat menantang sang Tuan Muda. "Kau tidak sebaiknya mengangkat pedang untuk hal remeh yang belum kau selami dengan baik. Ini bukan yang pertama kalinya, Bocchan. Dulu juga kau membakar rumah hanya karena—"

Mata pedang yang sebelumnya tergolek di atas tanah, kini nyaris menyentuh pipi mulus Sebastian. Lengan kurus Ciel yang membentang, menggenggam pedang dengan erat, berujung pada wajah garangnya.

Tanpa kata-kata, Ciel mengungkapkan bahwa ia tak ingin diceramahi.

Sebastian menatap Ciel dengan raut muka sedih. Ia menyayangkan pribadi Ciel yang semakin gegabah setelah menjadi iblis—salah, setelah kehadiran Aqua dalam kehidupan mereka.

"Bocchan," panggil Sebastian lirih. "Ada apa dengan Aqua?"

Ciel tidak menyahut. Sebagian rambut biru gelapnya menutupi mata. "…tidak ada."

"Dilarang mengelak, Bocchan."

Ciel menegakkan kepalanya, mencoba menganalisis pertanyaan sang iblis yang telah menemaninya selama kurang lebih empat tahun terakhir. Sebastian tentu telah memperoleh suatu fakta, informasi yang menyedihkan hingga membuatnya bertingkah seperti itu. Perkataannya tersurat, sorot matanya kelam. Tidak biasanya Sebastian seperti ini.

Sepertinya, Sebastian sudah menemukan kepingan riwayat hidup Aqua. Sedangkan Ciel, yang telah mengetahui banyak hal dari Undertaker, hanya bisa meringis.

Ciel pun menurunkan pedangnya. "Apa yang kau ketahui?"

Sebastian menyeringai. Bukan seringai liciknya yang biasa, melainkan seringai sendu yang ambigu. "Apapun yang akan menjawab pertanyaanmu, Bocchan."

.

.

.

"Kau adalah iblis," erang Hannah, memeluk Aqua yang tak berdaya. Ia mendekap gadis muda tersebut di antara kedua lengannya yang berbalut kain satin putih. "Tapi Rangel tak punya hak untuk melakukan ini padamu."

Hannah mencium kening Aqua. Bibirnya mendeteksi suhu rendah dan keringat dingin. Seketika, Hannah terkesiap. Ia bisa membayangkan perjuangan Aqua menahan serangan Rangel. Ia bisa membayangkan teriakan sunyi Aqua di masa kritisnya.

Air matanya mulai menetes. Dibenamkannya wajah ke pundak Aqua. "Kau sudah berjuang, my dear."

.

.

.

"Aquarine Vodaffe adalah seorang iblis," ujar Sebastian. "Bukan kabar yang terlalu mencengangkan, huh?" lanjutnya kala melihat reaksi Ciel yang datar-datar saja, belum menyadari bahwa Ciel tahu jauh lebih banyak dibandingkan dengannya.

Ciel, bermain-main dengan tongkat berjalannya, bergumam, "Itu saja tidak cukup untuk membuatku kaget."

Sebastian menarik nafas panjang. "Cerita hidup Aqua tidak serumit yang kita kira, Bocchan."

"Memang tidak," timpal Ciel. "Dan aku tetap tidak menyesal telah menghabisi Claude."

Rambut Sebastian yang menjuntai ke depan berayun pelan ketika lelaki itu menggeleng. "Padahal, Claude dan Aqua bisa bersatu, karena mereka sama-sama iblis."

"Aqua bukan iblis," sambar Ciel segera setelah Sebastian menyelesaikan kalimatnya. "Seperti yang terlihat, dia manusia biasa."

.

.

.

Hannah menyeret Aqua perlahan, berusaha untuk tidak membangunkannya. Ia membawa gadis itu keluar pondok, menempatkannya di tepi sungai tempat mereka berbincang tadi siang. Kini langit sudah gelap dan sinar rembulan tertutup awan kelabu, tetapi tempat tersebut masih berkilau dengan caranya sendiri.

"Indah," bisik Hannah. "Indah, indah sekali. Aqua, kau harus bangun dan melihat ini." Dialihkannya pandangan ke wajah damai Aqua. "Kau harus bangun dan melihat ini," ulang Hannah. Lagi, air mata menetes dan membentuk sungai kecil di pipinya yang merona alami.

Hannah berjongkok dan membelai kepala Aqua. "Maafkan aku, Aqua, Rangel."

Ia meraih tangan Aqua dan mengenggamnya.

"Karena sebenarnya aku telah dimintai tolong oleh ibu kalian."

~TBC~

A/N yang baik hati yang cakep yang kece yang oke silakan revieww~~ (_ _)