pertama kalinya nulis fanfic agak panjang dan kelar! *dance*
apdet fic ini emang lama banget ya, nyesel juga sih karena ga punya deadline tersendiri dalam nulis fic berseri. yah tapi untuk saat ini, ini kelar lho! *nangis bombay*
daaaaan berjuta-juta terimakasih saya persembahkan buat Akita Reiyang sudah menyempatkan diri menulis review sepanjang itu buat saya. mohon maaf apabila saya mengecewakan sarannya akan terus saya ingat dalam menulis cerita-cerita berikutnya! (:
soooo here it comes! LAST CHAPTER!
Demonic Side
Disclaimer: Kuroshitsuji dan Kuroshitsuji II milik Yana Toboso. Tapi tokoh Aquarine Vodaffe dan Rangel berlisensi, punya saya! xD
Genre: Fantasy... dan ga jelas~
Background (time): After-story dari anime Kuroshitsuji II
Warning! Novel-like. Yang kurang suka bahasa (agak) baku dan cerita yang (kayaknya) agak rumit, lebih baik hengkang (!) Don't like don't read, RnR please! ^.^
.
"Aquarine Vodaffe tidak seharusnya ada, begitu pula Rangel. Mereka adalah satu kesatuan," lanjut Ciel. "Sudah seharusnya mereka tinggal di muka bumi di atas dua kaki, di dalam satu tubuh."
Sebastian merenungi penjelasan Ciel. "Bocchan, kenapa kau bisa menyimpulkan hal seperti itu?"
Ciel tidak menjawab. Sebastian, yang tidak sabar menanti, berdehem dan mengulangi pertanyaannya. Namun Ciel tetap diam.
"Bocchan, kenapa Aqua memanggil Rangel dan meminta dijadikan pelindung? Kenapa Aqua adalah Rangel dan Rangel adalah Aqua…? Kenapa… Kenapa…" Suara Sebastian tertahan di tenggorokan. "Kenapa beberapa tahun yang lalu… Bovstad memaki-maki Harrone?"
Sebastian menyebut nama dua iblis yang dahulu dikenalnya. Dua iblis yang cukup berpengaruh di lingkungan sosial para iblis. Dan Sebastian pun tersadar. Serpihan informasi itu mengantar Sebastian pada Aqua.
Sebastian bisa melihat Aqua berdiri di ujung sana, mengenakan terusan putih yang kasual sembari tersenyum manis. Sebagian rambut nilanya ditarik ke belakang dan disatukan dengan jepitan berwarna ungu.
Kemudian, di sampingnya berdiri Rangel. Sosok yang sangat mirip dengan Aqua, namun memiliki mata yang benar-benar hitam. Rambut panjangnya yang juga hitam dibiarkan tergerai bebas. Ia mengenakan kaus di balik jaket denim yang dipadukan dengan celana hitam ketat. Ajaibnya, senyum menggantung di wajahnya.
"Claude sudah mengetahui hal ini, dan karenanya ia bimbang. Ia sulit menerima bahwa Aqua adalah iblis," terang Ciel. "Claude juga geram, karena sebenarnya Hannah telah mengetahui semuanya. Bahkan, Hannah sudah lama percaya bahwa ia akan bertemu Aqua suatu hari nanti."
"Ternyata, takdir benar-benar mempertemukan Hannah dan Aqua. Jadinya, Hannah sangat menyayangi dan melindungi Aqua."
"Rangel pun sudah diberitahu oleh para iblis. Ia tahu ia hanya merupakan pecahan, dan pecahan lainnya hidup di alam tengah dalam bentuk manusia. Rangel pun menolak membuat kontrak, karena diam-diam ia menanti perjumpaannya dengan pecahan yang lain. Hidup mengalir, dan ta-da, Aqua dan Rangel bersatu."
"Tapi, dunia tidak bisa terus berbaik hati pada mereka. Keberadaan mereka masing-masing menjadi luntur, dan disatukan secara paksa oleh alam. Aqua lupa akan masa lalunya, Rangel kehilangan perasaannya. Pada akhirnya mereka harus memilih—menjadi Aqua, atau menjadi Rangel."
Sebastian mendengarkan dengan seksama, sambil masih berhalusinasi. Dalam pandangannya, Aqua dan Rangel bergandengan tangan, berlari menjauh bersama-sama. Namun Rangel terjatuh. Aqua menoleh dan memanggil Rangel, tetapi kakinya terus melangkah dengan cepat. Aqua berteriak. Rangel terenyuh. Aqua berlari. Rangel roboh.
Air mata meleleh di sudut mata Aqua. Tangannya terjulur ke belakang, mencoba meraih Rangel. Namun kedua kaki jenjangnya membawanya semakin jauh dan jauh dari si pecahan. Rangel tergolek lemas. Kedua matanya terpejam dalam keputusasaan.
Samar, Sebastian mendengar suara Aqua.
"…Rangel… Merindumu…"
.
Jentikan jari Ciel menghembuskan angin kehidupan kembali pada Sebastian. Tubuhnya mendingin, pandangannya redup, roh Sebastian seakan keluar dari raganya. Ciel tidak terlalu cemas melihat ini, hanya saja ia merasa tersinggung karena menganggap Sebastian tidak mendengarkannya.
"Dengarkan, Bodoh," gerutu Ciel.
Sebastian menarik nafas pendek, menghembuskannya dengan cepat, dan buru-buru menarik nafas pendek lagi. Dadanya bergerak naik-turun dalam periode kecil. Tiada lagi Rangel maupun Aqua dalam penglihatannya. Menyadari itu, Sebastian justru sibuk mencari kedua remaja perempuan tersebut. Otot wajahnya menegang, dan perilakunya yang aneh perlahan membuat Ciel takut.
"…bocchan," panggil Sebastian. "Bocchan, di mana Aqua sekarang?"
Ciel tampak kaget. "Hah?"
"DI MANA AQUA?" bentak Sebastian. Kesal, ia mengulurkan tangan dan mencengkeram kerah kemeja Ciel, mengangkat tubuh mungil iblis itu dengan mudah. Ciel semakin kaget dibuatnya, terlebih ketika bocah belia itu menyadari amukan amarah dalam darah Sebastian.
Pandangan Sebastian agak berputar-putar, dan ia juga tidak bisa fokus memandang Ciel di depan matanya.
"Turunkan aku, Sebas!" seru Ciel. "Turunkan aku! Ini perintah!" Ciel mulai kesal pula, dan menepis lengan Sebastian. Ciel melompat turun, membebaskan diri dari Sebastian. Sebastian jatuh terduduk sembari memegangi kepalanya.
"Bocchan, maafkan," bisik Sebastian. "Untuk sekali saja, saya ingin menolong Aqua."
"Untuk apa?"
Sebastian tetap menunduk. "Tolong izinkan saya."
Ciel menaruh curiga, namun urung bertanya. Ia diam saja ketika Sebastian bangkit dan melesat pergi. "…dasar bodoh."
.
.
.
Beberapa bulan berselang. Damai menyelimuti bumi, sambil terkadang dihiasi pertengkaran kecil yang menambah warna dalam hidup. Di daerah pelosok provinsi barat, kehidupan pun berjalan sebagaimana mestinya. Tenang, tentram, mengalir. Seakan tidak pernah terjadi pertumpahan darah. Seakan tidak pernah datang penderitaan.
Seorang gadis berambut nila sibuk memanggang daging di alam terbuka sembari bersenandung. Melodi yang diperdengarkannya menyentuh sanubari dan membawa angin kesedihan. Aroma barbekyu turut terbawa angin tersebut dan menggelitik rasa lapar para iblis yang tengah berkumpul di depan pondoknya.
Seorang iblis berambut biru tampak mengerut di tempat duduknya, dengan bibir yang terkatup rapat dan dimonyongkan. Iblis berambut hitam yang mengenakan pakaian butler berdiri di sampingnya, sedang memandangi telapak tangan kanan yang terbungkus sarung tangan putih. Entah apa yang ia lihat di situ, namun wajahnya menampilkan gurat kebahagiaan.
Iblis wanita berambut ungu berjalan melewati mereka berdua, membawa beberapa lembar daging mentah yang ditumpuk di atas piring. Ia menghampiri si gadis berambut nila dan memintanya memanggang lebih banyak daging.
Si gadis berambut nila mengangguk sambil tersenyum. Ia meraih selembar daging untuk diletakkan di atas pemanggang, namun sial, daging itu terlepas dari tangannya dan menyentuh tanah tanpa bisa diapa-apakan lagi.
Para iblis syok melihat bahan makanan yang mereka peroleh dengan bermandikan peluh itu terbuang sia-sia.
"AQUA—!"
.
.
.
Di jalanan kota London tiga tahun yang lalu, gadis kecil itu merengkuh suatu berkah.
Apa yang kau inginkan? What is your wish?
I want… it… Please grant my wish.
As you please, my Lady.
~FIN~
Afterwords-
well... sebenernya aku suka fic ini karena ini fic panjang pertamaku yang tertulis dan bisa dipublish karenanya, apabila ada orang-orang yang senang membaca fic ini, itu seperti rezeki tambahan :):)
sangaaaaaat senang karena fic ini selesai, walau mungkin ada yg pengen ngebacok SylphWolf karena endingnya yang superantiklimaks, no? (_ _") chapter terakhir ini ditulis lamaaaaaaaaa setelah chapter 6 dipublish, jadi feelnya udah agak-agak pudar. hee... nggak bagus ya buat pengarangnya curhat kayak gini, hihi :3
bagi yang punya waktu lebih, silakan reviewnyaa =))
