Chapter 3: Siwon

Aku baru saja akan pergi menuju kelasku setelah berpisah dengan Kyuhyun. Aku berjalan menyusuri koridor yang berlawanan dengan Kyuhyun. Karena masih ada sedikit waktu sebelum kelasku dimulai, aku memutuskan untuk pergi ke toilet dulu. Kucuci tanganku dan kukeringkan. Dan saat aku melangkah keluar dari toilet, tanpa sengaja aku menabrak seseorang.

"Maaf!" Kudengar suara lembut itu.

Sosok itu sedang memungut buku-buku bahasa China-nya yang terjatuh. Rambutnya menjuntai di wajahnya, menyembunyikan mata berwarna cokelat tua di belakangnya. Kulitnya berwarna kecoklatan tanpa cacat sedikit pun. Dan saat aku ikut berjongkok untuk membantunya, dia mengangkat wajahnya ke arahku, melihat tepat ke dalam mataku, pada saat itulah aku merasakan bagaimana rasanya bumi berhenti berputar.

Mungkin dia adalah makhluk paling indah yang pernah aku temui. Bibirnya tipis tapi cukup untuk membuatku ingin menciumnya. Tatapannya yang lembut dan dalam sanggup membuatku terpaku di posisiku, tanganku yang sedang mengangkat bukunya di udara terhenti. Figurnya ramping, tapi proporsional. Dan aku rasa tubuhnya akan terasa sangat pas di dalam dekapanku.

"Apa kau baik-baik saja?" Tanya suara lembutnya padaku.

"Uhm…" Sangat sulit untuk menemukan suaraku di hadapan makhluk indah ini, "I-iya…Aku baik-baik saja."

Lalu, dia memberikan senyum hangatnya padaku, "Syukurlah. Umm, bisa tolong kembalikan bukuku? Aku harus cepat pergi ke kelasku."

Kulihat buku di tanganku dan kukembalikan dengan gugup. Dia mengangguk dan menggumamkan sesuatu yang terdengar seperti 'Terima kasih' dan jalan menjauh.

Aku masih berdiri tak bergerak di tempatku saat kuingat sesuatu.

"Siapa namamu…?"

Tapi dia telah menghilang dari pandanganku.

Kulanjutkan perjalananku menuju kelas dengan otak kosong, lalu kuhempaskan tubuhku ke atas kursiku.

Siapa dia? Apa dia juga murid? Tapi dia tidak memakai seragam yang sama denganku. Apa dia seorang guru? Tapi dia terlihat teralu muda untuk menjadi seorang guru. Dia memiliki aksen dalam perkataannya, apakah dia orang asing? Apa mungkin dia dari China melihat buku-buku yang dibawanya?

Dan tiba-tiba hatiku mencelos. Kalau dia memang benar orang China, bagaimana kalau aku tidak bisa melihatnya lagi? Dalam waktu singkat aku mulai merasa panik dan mulai menggigit jariku.

"Siwon!"

"Hah?" Aku menjawab teman sekelasku, Kibum, tanpa sadar.

"Kau terlihat melamun." Dia tersenyum.

"Ma-maaf, Kibum. Aku sedang memikirkan sesuatu tadi, kau bilang apa?"

Dia menghela nafasnya dan memberiku sehelai kertas, "Ini, Kepala Sekolah bilang kau harus menuliskan nama orang yang akan menjadi teman sekamarmu nanti, jadi beliau bisa mengaturnya untukmu."

Kuanggukan kepalaku dan menulis nama Kyuhyun. Lalu kuberikan kembali kertas itu kepada Kibum.

"Kyuhyun?" Kibum bertanya, "Kau mengenalnya?"

"Begitulah, kami teman waktu kecil. Kenapa?"

Kibum menggelengkan kepalanya, "Ah, tidak apa-apa. Yang aku tahu dia orang yang pendiam. Dia hanya mulai berdebat dengan Sungmin, selain dengannya Kyuhyun sangat pendiam."

"Hanya dengan Sungmin?" Kutanya lagi.

Kibum mengangguk dan keluar dari kelas. Kurasakan bibirku tertarik ke atas. Apa Kyuhyun menyukai Sungmin?

Dan untuk sementara waktu, aku melupakan lelaki yang tadi kutemui itu.

###

Sepulang sekolah, seperti yang aku dan Kyuhyun janjikan, kami bertemu di gerbang sekolah.

"Yah! Kyuhyun!" Kupanggil namanya.

"Yo?"

Kupukul kepalanya dan kudengar ernangan darinya, "Argh! Pukulan itu untuk apa, Siwon?"

Kukalungkan lenganku di lehernya, "Kau menyukainya, ya?"

Dia mengerutkan dahinya, "Siapa?"

Kekembangkan bibirku menjadi senyum jahil, "Sungmin!"

Kyuhyun hampir tersedak karenanya, "Apa? Tidak!"

"Bohong! Kata temanku, kau adalah anak yang pendiam. Tapi kau mulai berdebat hanya dengan Sungmin!"

"Itu tidak berarti aku menyukainya, Babo! Aku hanya merasa kalau dia itu menyebalkan dan menyenangkan untuk mengejeknya!"

"Ha! Seperti kau tidak menyebalkan saja, Cho Kyuhyun Culun!"

Saat kami memalingkan wajah kami, kulihat Sungmin yang sedang cemberut dengan dua murid lain di sampingnya.

"Minnie! Menghina itu tidak baik!" Salah satu dari dua murid itu berkata sedangkan yang lainnya hanya tertawa.

"Tapi, Leeteuk!" Sungmin merengek, "Dia selalu menghinaku juga!"

"Biarkan saja dia, Teukie. Menyenangkan melihatnya seperti itu."

Sungmin memukul dada murid yang besar itu, "Yah! Kangin! Sedang apa kau di sini? Teukie bilang kau sakit!"

Murid yang bernama Kangin itu memeluk pundak murid yang keibuan di sebelahnya, "Aku merindukannya, kau tahu?"

"Kau menciumnya setiap hari, tentu saja kau merindukannya, Kangin!" Sungmin menjawab dengan sinis dan tiba-tiba menunjuk Kyuhyun, "Dan kau! Tidak bisakah kau berhenti mengejekku?"

Kyuhyun tertawa keras, "Ha? Tidak mungkin! Mengejekmu itu kesenanganku! Tidak mungkin aku mengehentikannya!"

"Mati saja kau, Cho Kyuhyun! Kenapa kau tidak bisa belajar menjadi baik seperti Siwon?"

Kyuhyun berhenti tertawa dan memberengut.

Tiba-tiba, Sungmin melambaikan tangannya kepada seseorang di belakang kami, sambil berteriak, "Hangeng Hyung!"

Kuputar wajahku dan sekali lagi, dunia berhenti.

Dia orang yang kutabrak sebelumnya. Dia memeluk buku-bukunya dengan satu tangannya dan balik melambai kepada Sungmin dengan tangan satunya. Dia berjalan menghampiri kami. Kulihat Leeteuk, Kangin bahkan Kyuhyun membungkuk, aku pun mengikuti mereka.

"Apa yang pernah kubilang padamu, Lee Sungmin?" Dia bertanya dengan suara lembut beraksennya, memukul pelan kepala Sungmin dengan bukunya, "Kau harus memanggilku dengan sebutan Pak Han di sekolah."

Sungmin menyeringai kepadanya, "Maaf, Hyu…eh, maksudku, Pak Han."

"Sudahlah, waktu sekolah sudah selesai jadi kau bisa memanggilku hyung lagi."

Hangeng, atau Pak Han, memalingkan wajahnya padaku, "Ah, kau...?"

Kuberikan sedikit bungkukan lagi.

"Eh? Kau sudah mengenalnya, Hyung?" Sungmin bertanya padanya.

Hangeng menggelengkan kepalanya, "Tidak. Tapi tadi kita sempat berpapasan, lebih tepatnya bertabrakan, sesudah istirahat siang selesai."

"Ahh, begitu." Sungmin mengangguk-angguk, "Dia ini Siwon. Choi Siwon, lengkapnya. Dia murid baru, Hyung. Siwon, ini sepupuku dan sekaligus guru bahasa China kita, Pak Han."

"Atau kau bisa memanggilku Hyung seperti yang lainnya di luar sekolah, Siwon. Kata 'Bapak' itu terdengar sangat tua." Dia tertawa, "Aku lebih memilih untuk tidak menggunakannya jika saja bukan karena peraturan sekolah."

"Hangeng Hyung…" Aku mencoba memanggilnya dengan gugup. Dia memberikanku senyum manisnya sebagai balasan.

"Oh, Hyung!" Sungmin berseru, "Itu Mei Lin!"

Hangeng memalingkan wajahnya dariku dan kuikuti arah pandangannya. Kulihat seorang anak perempuan berlari menghampiri kami.

"Mei Lin! Kenapa kau ada di sini?" Dia menitipkan buku-bukunya kepada Sungmin dan menggendong anak perempuan itu, "Bukankah sudah kubilang untuk menungguku?"

"Maaf, tapi aku ingin bertemu denganmu cepat-cepat, Papa!"

Papa…?

Tak kudengar lagi suara-suara di sekitarku, sekali lagi hatiku mencelos.

Jadi, dia sudah menikah…?


A/N: Astaga, ini pendek lagi ya? Tapi tapi tapi tapi...cepet kan? Hehehe~

MinnieGalz: itu dong yang di mauin smuanya hahaha

S: moga bener jadian yaaaa haha. hmm hankyung sm siwon...hmmm jadian ga ya...? *nyebelin* hhi keep following yaa

sayuri: hmm bener ga ya...? *ditabok* hihi bener kok~

Dongdonghae: Nih sihannya udah ada-dikit- hahaha Mei Lin anak China sayangnya...maafkan haha

Eunnida: belum dong~ hehehe, tenang sajaaaaa, perjalanan masih panjang, dongsaeng~

audrey musaena: kan bully tanda cinta *hah?* haha iya nih kyu blm nydar2 amat sm prsaan cedih deeeeh hihi

ayachi casey: tapitapitapitapi ini udah aha lanjutannya kok (walaupun pendek juga) tapitapitapitapi ini cepet kan? yah yah yah? *puppy eyes* sihan bukan yah...? hmmm...iya dong tentunya sihan! ^o^

YunieNie: ini si sihan sudah ketemu~ hihi cepet kan ?

Park gyu Ri: begitulah, dongsaeng~ ini chappie slanjutnya sudah jadi keep following yaaah~ :D

Wah senangnya dapet banya cinta (Baca: ripiu)! *suara genit* *dilempar meja*