A/N: Yak! Aku memutuskan untuk mengganti sudut pandangnya jadi dari author. Jadi aku bisa membuatnya lebih panjang daripada sudut pandang perkarakter. Kuharap kalian ga bingung hehe.
MAKASIH UNTUK KALIAN YANG MERIPIU DAN MEMBACA FF INI, aku tersentuh loh, aslian! hehe, terimakasih readers muah muah!
Maaf ya aku ga bisa reply ripiunya satu2 hihi, kuharap kalian ga marah, *tutup muka*
kembali ke laptop, eh, ceritaaaa~!
Seperti biasa, Sungmin berjalan bersama Leeteuk dan Kangin menuju gedung sekolah. Mereka berpisah di tengah jalan karena mereka memiliki kelas matematika sedangkan Sungmin memiliki kelas bahasa China.
Saat Sungmin melangkah ke dalam kelas, dia menemukan Hangeng melamun, menghadap jendela.
"Hyung…?" Sungmin memanggil saudaranya itu sekali. Tetapi, Sungmin tidak mendapat jawaban. Dia menepuk pundak Hangeng dan guru bahasa China itu terlonjak di kursinya.
"Ya Tuhan! Minnie, kau menakutiku!" Dia berseru, memegang dadanya.
Sungmin merasakan air mukanya berubah, "Aku sudah memanggilmu, Hyung, tapi kau tidak menjawabku."
"Eh, benarkah? Maaf, Minnie…" Hangeng menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Sungmin melempar tasnya ke atas salah satu meja dan menendang sebuah kursi sebelum dia mendudukinya di hadapan Hangeng.
"Ada apa, Hyung?"
"Yah! Sungmin sudah bilang untuk memanggilku…"
"Hyung, ini bukan saatnya untuk berdebat soal itu!" Sungmin memotong perkataan sepupunya itu, " Katakan padaku, ada apa?"
"Tidak ada apa-apa, kok…"
"Hyung!"
Akhirnya, Hangeng menghela nafasnya panjang dan bersandar ke kursinya, memijat-mijat dahinya. Dia terlihat kelelahan.
"Jam berapa kau tidur tadi malam, Hyung?" Sungmin bertanya kepadanya karena ada lingkaran hitam di bawah mata coklat Hangeng.
"Aku tidak begitu memperhatikan, tapi mungkin sekitar jam tiga…"
"Hyung!" Sungmin menghela nafasnya, "Kau harusnya tidur lebih dari tiga jam! Apa ada yang mengganggumu?"
Hangeng menutup matanya dan merebahkan tengkuknya di sandaran kursi, "Kenangan itu…"
"Hyung! Kau harus melupakannya! Kenapa kau selalu mengingat wanita itu?! Apa kau masih mencintainya?!" hardik Sungmin.
"Minnie!" Hangeng menghardik sepupunya balik, menompang dagunya di tangannya, "Dengar! Aku tidak selalu mengingatnya, oke?! Aku tidak mencintainya lagi! Ini hanya karena Siwon bertanya di mana istriku tadi malam saat dia mengunjungi rumahku! Maka kenangan itu terlintas kembali di benakku. Tapi, tidak! Aku tidak akan mencintainya lagi, karena dia telah meninggalkanku, dengan anakku yang juga anaknya, dan kembali ke pelukan mantan kekasihnya!"
Sungmin menundukkan kepalanya dengan rasa bersalah, "Maaf, Hyung…Aku terbawa emosi…Sungmin tidak bermaksud seperti itu…"
"Sudahlah, Minnie. Maafkan aku juga karena menghardikmu…"
"Tentu saja kau tidak mencintainya lagi, Hyung. Lagi pula kau punya Mei Lin. Tetapi, itu telah berlalu bertahun-tahun lalu. Kau harus mencari cinta yang baru, Hyung, mencari ibu baru untuk Mei Lin mungkin, Mei Lin membutuhkannya."
Hangeng menutup mukanya, "Aku mau. Tapi, aku tidak bisa. Aku sudah tidak percaya akan wanita lagi."
"Coba dengan lelaki mungkin?"
Hangeng menatap sepupu sekaligus murdinya itu dan mengangkat bahunya, "Aku…tidak tahu. Aku belum pernah memikirkannya. Lagi pula, cinta tidak semudah itu, Minnie. Sebenarnya, aku tidak terlalu ambil pusing apakah yang akan jadi pasanganku itu seorang lelaki atau perempuan. Aku juga tidak menentang adanya hubungan gay. Tapi masalahnya adalah bisakah aku mempercayai orang itu? Bisakah aku mencintainya? Bisakah aku memberikan seluruh hatiku padanya? Bisakah dia mengurus Mei Lin? Bisakah dia mencintai Mei Lin seperti aku? Bila orang itu mencintaiku, maka dia juga harus mencintai anakku."
Sungmin mengangguk tanda mengerti. Hangeng benar. Orang itu harus mencintai dan juga dicintai, baik oleh Hangeng dan Mei Lin.
"Kau akan menemukan seseorang, Hyung, Aku yakin itu! Siapa yang tidak cinta orang yang baik dan lembut sepertimu, Hyung? Jika memang ada, maka orang itu pasti buta!"
Akhirnya Hangeng mengembangkan senyumannya, "Terima kasih, Minnie…"
"Oh, Hyung!" Sungmin menepuk tangannya, "Kupikir, aku menyukai seseorang!"
Mata Hangeng terbelalak seketika, "Benarkah?! Wah, Minnie kecilku sudah beranjak dewasa, ya?!"
Sungmin bisa merasakan bahwa pipinya memanas, "Aku bukan anak kecil lagi, Hyung~!"
"Iya, iya!" Hangeng tertawa, "Jadi, perempuan mana yang beruntung?"
Sungmin menundukkan kepalanya dan bermain dengan jarinya, "Hmm, sebenarnya dia seorang lelaki…"
"Oh, Aku mengerti. Jadi, lelaki mana yang beruntung?"
"Ehh…dia…hmmm…"
KLAK!
Tiba-tiba pintu kelas dibuka oleh anak laki-laki yang baru akan Sungmin sebutkan namanya. Dan lelaki imut itu terkejut melihat Siwon di sana. Dia tidak menyangka bahwa Siwon mengambil kelas bahasa China juga.
"Oh, Sungmin. Kau sudah datang." Siwon menyapaku. Lalu dia melihat Hangeng dan membungkuk, "Selamat pagi, Pak Han."
Sungmin tersenyum dan mengangguk dengan pipi memanas. Tanpa sengaja, Hangeng melihat wajahnya dan senyum jahil guru itu pun mengembang.
Siwon menempati tempat terdepan, di depan meja milik Hangeng. Sungmin bertekad untuk menempati bangku paling belakang di kelas itu dengan tujuan agar dia bisa memperhatikan Siwon dengan leluasa.
Saat Sungmin berjalan menuju bagian paling belakang dari kelas saat tiba-tiba sesuatu menyangkut di kakinya dan sebagai hasilnya Sungmin terjun bebas tanpa parasut ke atas lantai, mendarat dengan indahnya tepat di bokong montoknya.
"Aww~!" terdengar sebuah erangan. Saat Sungmin menatap ke arah sumber suara, dia menemukan Kyuhyun mencengkram pinggangnya (yang sepertinya) tertendang oleh kakiknya.
Hangeng membelalakan matanya, dia tidak menyangka bahwa Kyuhyun sudah ada di sana saat dia sedang membicarakan masa lalunya dengan Sungmin.
"Apakah kau tidak apa-apa?" Siwon bertanya kepada Hangeng yang mulai memucat, "Kau terihat pucat!"
Hangeng tidak membalasnya. Dia masih mengalihkan pandangannya kepada Sungmin dan Kyuhyun yang terlihat mengantuk.
Tiba-tiba Sungmin meraih pergelangan tangan Kyuhyun dan menggusurnya keluar dari kelas secepat mungkin.
"Heh, Kelinci, apa yang kau lakukan?!" Murid berkacamata itu menghardik Sungmin. Tapi orang yang ditujukan mengabaikannya dan tetap menariknya sampai ke koridor yang sepi dan menghantamkan punggungnya ke dinding terdekat.
"Agh!" Kyuhyun berteriak, "Itu sakit, Kelinci bau! Sialan kau!"
"Apa kau mendengarnya tadi?!" Sungmin membalas berteriak, "Jawab aku, Kyuhyun!"
"Mendengar apa?!" Kyuhyun balas bertanya.
Sungmin menghela napasnya dengan lega, "Jadi, kau tidak mendengarnya? Syukurlah…"
Saat Sungmin baru saja hendak meninggalkan Kyuhyun saat tiba tiba kudengar suara lelaki berkacamata itu.
"Aku mendengarnya…" Kyuhyun mengaku.
"Kau…apa?!"
"Aku mendengarnya…Aku mendengar percakapanmu dengan Hangeng Hyung tentag…masa lalu Hyung. Aku tidak sengaja, tapi Aku mendengarnya dengan sangat jelas."
Sungmin membiarkan mulutnya terbuka sampai Kyuhyun tertawa dan mendorong dagunya ke atas.
"Kyuhyun…kumohon!" Sungmin mengatupkan kedua tangannya, "Kumohon jangan beri tahu siapapun tentang ini…tidak ada yang boleh tahu!"
Kyuhyun menatap Sungmin yang memohon dan memutuskan untuk sedikit menggodanya, "Kalau aku tidak mau?"
"Kumohon!" Sungmin berteriak, "Kumohon!"
"Tenanglah, Sungmin." Kyuhyun tertawa, "Tanpa kau memohon pun aku cukup pintar untuk tidak mengatakannya, itu bukan urusanku lagi pula. Tapi, bolehkan aku bertanya, kenapa kalian menutupinya? Bukankah perceraian itu hal yang wajar?"
Sungmin bersandar di dinding di depan Kyuhyun dan menatap langit-langit, "Hangeng Hyung menikah di usia yang terlalu muda, Kyuhyun. Dia mempunyai Mei Lin di umurnya yang 19 tahun. Itu akan berdampak buruk kepada karirnya sebagai guru."
Kyuhyun menyadari ada setitik air bening mengalir dari mata Sungmin, "Omo! Jangan menangis! Aku tidak akan memberitahu siapa-siapa, aku berjanji!"
"Benarkah…?" Sungmin bertanya sambil mengusap air matanya.
Kyuhyun buru-buru mengangguk dan Sungmin pun tersenyum lagi.
"Terima kasih, Kyuhyun…"
Yang Kyuhyun tahu selanjutnya adalah jantungnya berdegup kencang dan wajahnya memanas. Kyuhyun tidak menyangka sebuah senyuman dari Sungmin dapat membuatnya salah tingkah seperti itu.
"Sa-sama-sama…"
###
Siwon berdiri di bawah guyuran air hangat dengan kepala tertunduk. Dia datang di saat yang bisa dibilang salah tadi pagi. Tapi mungkin baginya, itu sebuah jawaban yang bisa meyakinkan dirinya akan Hangeng. Ya, bukan hanya Kyuhyun, tetapi Siwon pun mendengar percakapan Hangeng dan Sungmin tadi pagi.
Siwon sungguh tidak menyangka ternyata itulah alasan dia tidak menemukan ibu Mei Lin saat dia mengunjungi rumah Hangeng. Siwon tidak menyangka guru bahasa China yang penuh kelembutan itu memiliki masa lalu pahit dan sudah tersakiti hatinya selama beberapa waktu. Hangeng bekerja sebagai guru dan mengurus Mei Lin di saat yang bersamaan, itu membuat Siwon semakin yakin akan pilihannya untuk mencintai Hangeng.
Bukan hanya itu, dia berharap Kyuhyun cukup pintar untuk menutup mulutnya. Siwon yakin Hangeng tidak ingin siapa pun mencemohnya atau mengasihaninya.
Siwon menengadahkan wajahnya, membiarkan air hangat jatuh di mukanya. Setelah mematikan shower, Siwon melangkahkan kakinya keluar dan mengenakan bajunya.
Siwon menghapus embun yang menempel di cermin dan menatap bayangannya sendiri. Dan Siwon sadar bahwa dirinya telah jatuh terlalu dalam untuk Hangeng. Tidak banyak waktu yang Siwon perlukan untuk menentukan pilihannya, dan itu jatuh kepada Hangeng.
Siwon ingin menghapus semua emosi negatif dari hati Hangeng. Kesedihan. Kelemahan. Kelelahan. Kenangan pahit. Semuanya. Siwon ingin Hangeng untuk berbagi masalah dengannya.
Siwon masih membayangkan senyuman Hangeng yang hangat serta suara beraksennya yang lembut. Untuknya, segala sesuatu tentang Hangeng tidak pernah bisa Siwon lupakan.
Dalam benak Siwon tersirat banyak pertanyaan. Akankah Hangeng menerimanya? Akankah Hangeng mempercayainya? Siwon ingin Hangeng untuk mempercayainya dan yakin bahwa Siwon akan mencintai anaknya seperti Siwon mencintai Hangeng. Siwon ingin Hangeng percayai bahwa ia sanggup menjaga keluarganya.
"Siwon?" Tiba-tiba suara Kyuhyun terdengar dari luar, "Apa aku baik-baik saja? Kau sudah 30 menit lebih di dalam!"
Siwon tersentak dari lamunannya dan buru-buru keluar dari kamar mandi.
"Eh! Ada apa, Siwon?!"
"Apa…?" Siwon balik bertanya kepada Kyuhyun.
"Kau menangis!" Kyuhyun memberikan handuknya, "Ada apa, Siwon?"
"Ah…" Siwon mengelap air mata yang tidak ia sadari sebelumnya dan tersenyum, "Hanya teringat rumah. Aku tidak apa-apa."
Kyuhyun sebenarnya tidak percaya tapi dia tahu Siwon punya alasan pribadi yang mungkin tidak ingin dibicarakan. Maka Kyuhyun menepuk bahu Siwon dan berkata, "Aku pun merasakannya waktu pertama di sini. Aku akan mandi, oke?"
Siwon balik tersenyum dan berjalan menuju kasurnya.
###
"Kenapa kau duduk bersama kami, Kelinci?!" Kyuhyun menggeram.
"Aku juga ingin menjadi temannya Siwon! Memangnya salah?!" Sungmin cemberut dan mendelik kepada Kyuhyun.
Siwon hanya bisa tertawa kecil saat menonton yang ada di hadapannya. Sungmin dan Kyuhyun mulai beradu mulut lagi. Mereka hanya tidak sadar bahwa mereka terlihat seperti pasangan yang berisik. Dan Siwon diam-diam merasa lega karena tak ada salah satu dari Sungmin atau Kyuhyun yang mengungkit masalah kemarin.
Tiba-tiba mata Siwon menangkap seseorang yang familier berlari masuk ke dalam kantin dan mulai meloncat-loncat karena terhalan oleh orang-orang yang mengantri di depan salah satu stand.
Siwon mendekatinya, mengabaikan pertanyaan Sungmin dan Kyuhyun tentang ke mana dia akan pergi.
"Hyu…maksudku, Pak Han…"
"Oh, halo Siwon!" Dia menyapa Siwon dan kembali meloncat-loncat.
Siwon hanya bisa tertawa akan hal itu, "Apa yang akan kau beli?"
"Hmm, Aku ingin membeli paket beef teriyaki dan susu kotak. Bagaimana bisa aku lupa untuk memasak makan siang Mei Lin, aduuuh!"
"Tunggu sebentar." Siwon menyelusup ke antara kerumunan murid-murid itu dan keluar dengan apa yang Hangeng akan pesan sebelumnya.
"Cih…" Hangeng memanyunkan bibirnya, "Inilah mengapa aku iri dengan orang bertubuh tinggi sepertimu."
Siwon tetawa mendengarnya, "Di mana sekolah Mei Lin?"
"Hmm, 10 menit dari sini di sebelah kanan ada playgroup, eh, Siwon! Tunggu!" Sebelum Hangeng dapat menyelesaikan kalimatnya Siwon telah berlari.
"Urus saja kelasmu, Pak Han!" Siwon berteriak dari jauh, "Aku akan mengantarnya untuk Mei Lin!"
Terdengar 'Eh, hati-hati Siwon!' dari Hangeng samar-samar.
Siwon menemukan playgroup dan segera memanggil Mei Lin dari teman-temannya yang sedang asyik bermain.
"Siwon Oppa? Apa yang kau lakukan di sini?" Mei Lin bertanya dengan lucunya.
Siwon membelai rambut anak perempuan itu dan memberikan makanannya, "Ini, papamu tidak bisa mengantarnya karena harus bekerja. Jadi aku menggantikannya. Kau tidak marah bukan?"
"Tentu saja tidak!" Mei Lin menjawab, "Terima kasih, Oppa! Kau benar-benar baik seperti Papa!"
"Terima kasih kembali, Mei Lin." Siwon tersenyum, "Aku harus kembali ke sekolahku sekarang. Habiskan makananmu, ya."
"Tunggu, Oppa!"
"Ada ap-" Sebelum Siwon menyelesaikan pertanyaanya, Mei Lin sudah mengecupkan bibir mungilnya di pipi Siwon.
"Terima kasih, Oppa! Kunjungi kami lebih sering, ya? Dadaaaah!" Dan Mei Lin pun berlari masuk ke dalam gedung playgroupnya, meninggalkan Siwon yang masih tersentuh dengan perlakuannya barusan.
###
"Terima kasih, Siwon." Hangeng berkata kepada murid yang sedang berada di hadapannya itu.
"Itu bukan berarti apa-apa, Hyung."
"Oh, ya, di mana teman sekamarmu itu? Aku membutuhkan bantuannya lagi."
"Kyuhyun?" Siwon berhenti sebentar untuk berpikir, "Aku yakin dia sedang main game di kamarnya. Apa kau mau aku untuk memanggilnya, Hyung?"
"Tidak apa-apakah?" Hangeng bertanya.
"Tentu saja."
Lalu Siwon pun mengeluarkan handphone-nya untuk memanggil Kyuhyun. Beberapa menit kemudian, dia menaruhnya kembali ke dalam sakunya.
"Kata Kyuhyun, dia akan berada di rumahmu sekitar 30 menit lagi, Hyung."
"Terima kasih, Siwon." Hangeng tersenyum, "Kau akan ikut atau ingin langsung pulang?"
"Aku rasa aku akan ikut, Hyung."
"Papa!" Suara Mei Lin terdengar lantang sesaat setelah Hangeng memasuki playgroupnya,
"Hai, Malaikat Kecilku! Bagaimana sekolahmu?"
Mei Lin tersenyum lebar dan lompat ke pelukan ayahnya, "Sangat baik! Kami belajar matematika dan bermain game! Oh, Siwon Oppa juga tadi datang!"
"Kebetulan sekali, dia sedang di luar sekarang." Hangeng tersenyum dan menggendong anak perempuan semata wayangnya itu, "Dia akan mengunjungi kita, Mei Lin."
"Benarkah?! Asyiiiiiik~!"
"Kenapa kau sangat senang berada di sekitar Siwon, Mei Lin?"
"Karena dia sangat baik padaku! Dia sepertimu, Papa!"
Hangeng tertawa mendengar pernyataan polos anaknya itu dan segera menuju keluar.
"Oppa!" Mei Lin berteriak begitu melihat Siwon.
"Hai, Mei Lin!" Siwon tersenyum, "Kita bertemu lagi, ya?"
"Papa bilang Oppa akan main ke rumah? Benarkah?"
Siwon tertawa dan mecubit pipi Mei Lin, "Itu benar."
"Oppa, Oppa! Gendong aku, ya? Ya?"
"Mei Lin!" Hangeng menegur anaknya, "Itu tidak sopan!"
"Tidak apa-apa, Hyung. Biarkan aku menggendongnya." Siwon merentangkan tangannya untuk menerima Mei Lin.
"Ta-tapi, Siwon..." Hangeng berusaha menolaknya tetapi Mei Lin sudah memberontak di pelukannya.
"Tidak apa-apa, Hyung." Siwon meyakinkan guru bahasa China itu.
Hangeng menghela nafasnya dan memberikan Mei Lin ke pelukan Siwon, "Maaf, Siwon. Mei Lin! Kau membuat malu papamu!"
Mei Lin hanya mengembangkan senyumannya dan bergegas naik ke atas pundak Siwon dan bermain dengan rambut hitamnya.
"Oh, iya!" Mei Lin mengangkat tangannya, "Papa, apakah Papa sudah membeli telur, wortel dan nugget?"
"Aish!" Hangeng menepuk dahinya, "Aku lupa, Mei Lin..."
"Ayo kita membelinya dulu, Hyung." Siwon menyarankan, "Aku yakin Kyuhyun tidak akan secepat apa yang dia janjikan."
"Maaf, Siwon, aku merepotkanmu."
"Tidak apa, Hyung." Siwon tersenyum.
Lalu mereka pun menuju supermarket yang jaraknya tidak begitu jauh dari rumah Hangeng.
"Annyeonghaseyo." Pegawai supermarket itu menyapa mereka begitu mereka masuk. Siwon tersenyum balik kepada pegawai perempuan itu dan bergegas mengambil keranjang.
"Aku akan membawa keranjangnya." Siwon menawarkan.
"Tidak!" Hangeng mengambil keranjangnya dari tangan Siwon, "Menggendong Mei Lin saja sudah cukup merepotkanmu, Siwon. Biar aku saja yang membawa keranjangnya."
Siwon hanya tertawa dan mengambil kembali keranjangnya dari tangan Hangeng, "Membawa keduanya tidak berat, kok, Hyung. Biar aku saja."
Hangeng hanya bisa tersenyum akan kebaikan Siwon, "Baiklah. Terima kasih."
Lalu Hangeng mengambil beberapa buah wortel dan sekotak telur.
"Nugget...nugget..." Hangeng menggumam sambil melihat sekelilingnya, "Ah, itu dia."
"Baiklah. Kita butuh apa lagi, Mei Lin?"
"Itu! Sosis!" Mei Lin menunjuk sebungkus sosis di dalam freezer.
Hangeng berbalik dan melihat wajah Siwon memerah.
"Siwon, wajahmu merah! Apa kau sakit?"
Siwon menggelengkan kepalanya, "Tidak, Hyung. Hmm, aku baik-baik saja."
"Benarkah...?"
Siwon mengangguk dan mengambil sebutir tomat sebelum memutarnya di ujung jarinya, terlihat salah tingkah.
Tiba-tiba terdengar kikikan anak perempuan dari arah yang berlawanan dengan tempat mereka berada.
"Lihat! Mereka terliah begitu manis!"
"Aih, lucunya! Siapa anak perempuan itu? Anak mereka bukan, ya?"
"Lelaki yang tinggi itu begitu baik, lihat, dia bahkan membawakan keranjangnya."
"Mereka terlihat seperti pasangan yang baru saja menikah, bukan? Aaw~ manisnya, mereka berbelanja kebutuhan rumah tangga bersama!"
Hangeng merasakan wajahnya terbakar begitu mendengar pernyataan terakhir dari perempuan-perempuan gosip itu.
Me-menikah?!, Hangeng menjerit dalam hatinya, A-apa kami terlihat seperti itu?!
Buru-buru Hangeng mendorong punggung Siwon menuju kasir dan membayar semuanya tanpa mengambil kembaliannya.
"Ma-maaf, Siwon!" Hangeng berkata, "Aku tidak bermaksud untuk memalukanmu seperti itu."
"Tidak, Hyung! Itu bukan apa-apa! Aku malah menikmatinya!" Siwon buru-buru membalas.
"Eh? Menikmatinya?"
"Ma-maksudnya..." Siwon menunjuk Mei Lin, "Aku menikmati berbelanja bersama kau dan Mei Lin."
"Syukurlah." Hangeng menghembus nafas lega tanpa kecurigaan sedikit pun, "Aku senang kau tidak marah, Siwon."
Siwon tersenyum balik.
"Ayo, Siwon. Lebih cepat kita sampai, lebih baik."
###
Hangeng memasak dua setengah piring nasi goreng dan menaruhnya di atas meja. Setengah porsi tentu saja untuk Mei Lin.
"Aku harap kau tidak bosan dengan nasi gorengku, Siwon."
"Tentu saja tidak." Kata Siwon yang sudah mengambil sendoknya, "Seperti yang Kyuhyun bilang. Sepertinya aku sudah kecanduan nasi gorengmu."
Saat Hangeng sedang menyuapi Mei Lin, tiba-tiba terdengar bunyi ketukan pintu dari luar.
"Itu pasti Kyuhyun." Hangeng menggumam dan segera menuju pintu rumahnya.
Tetapi, wajah yang berada di hadapannya setelah itu bukanlah wajah Kyuhyun.
"Hai, Geng...lama tidak berjumpa."
"Fei..." Hangeng berseru tertahan, "Kenapa kau ada di sini...?"
A/N: Jahat ga aku menggantung ceritanya kaya gitu? Hihi. Tapi panjang 'kan? 2.695 kata loh *jadi author bangga? ditabok!*
Hai! Ditunggu ripiunya hihi~
