"Aku lapaaaaaar!" Sungmin berteriak ke arah langit-langit kamarnya.

"Sungmin! Jangan berisik!" Leeteuk menegurnya.

"Tapi, Teukie~ aku lapaaaar~"

"Kenapa kau tidak mendatangi Hangeng Hyung saja? Aku yakin kau mau makan nasi goreng buatannya, 'kan?"

Sungmin menjentikkan jarinya, "Kau benar! Aku akan minta dibuatkan nasi goreng! Ikut?"

"Naah! Tidak. Aku akan memanggil Kangin saja ke sini."

"Oke..." Sungmin mengangguk, "Tapi, Teukie..."

"Yap?" Leeteuk memalingkan wajahnya ke arah Sungmin.

"Jangan terlalu berisik dan jangan melakukan itu di kasurku, oke?"

Sebagai hasilnya Sungmin mendapat sebuah lemparan bantal di mukanya dari Leeteuk yang mukanya memerah tomat.

###

Saat Sungmin sedang berjalan turun dari lantai kamarnya, dia mendengar seseorang memanggil namanya, koreksi, memanggilnya dengan panggilan jelek yang dia tahu dari siapa itu.

"Hei, Kelinci Bau!"

Sungmin memalingkan mukanya dengan kesal ke sumber suara, "Apa?! Dan jangan memanggilku dengan sebutan itu, Culun!"

"Nama itu cocok denganmu." Kyuhyun mengangkat bahunya tanda tak peduli.

Sungmin hanya bisa cemberut dan melanjutkan perjalanannya.

Kyuhyun berlari mengejarnya dan mensejajarkan langkahnya dengan Sungmin, "Apa kau menuju ke rumah Hangeng Hyung?"

"Yep." Sungmin mengangguk, "Kau juga?"

"Begitulah. Siwon bilang Hyung membutuhkan bantuanku lagi."

Mata Sungmin membesar dengan bahagianya, "Benarkah?! Siwon juga ada di sana?!"

Kyuhyun memberikan lirikan apa-kau-gilanya kepada Sungmin dan bertanya, "Iya. Terus kenapa kau harus begitu berisik, ha?"

Sungmin menunduk untuk menyembunyikan mukanya yang memerah, "Ti-tidak apa-apa..."

Saat mereka tiba di depan pintu rumah Hangeng, Sungmin langsung menyelonong masuk tanpa mengetuk.

"Kau harus belajar etika, Kelinci Bau." Kyuhyun berkomentar, tetapi Sungmin mengabaikannya.

Saat mereka sudah di dalam, terlihatlah sepasang sepatu hak tinggi tersimpan rapi di rak sepatu. Sungmin melihat Kyuhyun untuk meminta jawaban, tetapi Kyuhyun hanya menggelengkan kepalanya tanda tidak tahu.

Dan saat mereka melangkah masuk ke arah dapur, mereka melihat punggu seorang wanita denga rambut panjang membelakangi mereka.

Sungmin merasakan tubuhnya bergetar dalam kemarahan. Dan sebelum Kyuhyun bertanya siapa wanita itu, Sungmin sudah menghentakan kakinya dengan kasar menuju wanita itu.

"Kau!" Sungmin mendorong bahu wanita itu dengan kasar, "Kau wanita terkutuk! Apa yang kau lakukan di sini?! Mau apa kau, hah?! Mau menghancurkan hidup Hangeng Hyung lagi?! Apa sekali tidak cukup untukmu, hah?!"

"Sungmin! Hey, Sungmin! Tenanglah!" Kyuhyun segera memeluk pinggang Sungmin untuk menahannya menyerang wanita itu lagi.

"Lepaskan aku, Kyuhyun!" Sungmin berteriak, "Tidak tahukah kau siapa wanita terkutuk ini?! Dialah orang yang membuat Hangeng Hyung menderita! Dialah orang yang tega meninggalkan Hangeng Hyung dan anaknya sendiri!"

Kyuhyun membelalakan matanya karena kaget dan menatap wanita yang mulai menangis itu.

"Sungmin..." Wanita itu memanggil nama Sungmin.

"Jangan berani kau memanggil namaku dengan mulut kotormu itu! Pergi dari sini, Wanita Jalang!"

"Lee Sungmin, tenangkan dirimu." Hangeng mendekati Sungmin dan memeluk sepupu kesayangannya itu.

Mei Lin menangis di pelukan Siwon, terlihat sangat ketakutan akan kemarahan Sungmin sebelumnya.

"Apa yang dia lakukan di sini, Hyung?!" Sungmin bertanya dengan rahang terkatup.

"Tenanglah dulu, Sungmin." Hangeng mengelus punggung Sungmin, "Kau membuat Mei Lin ketakutan."

Kyuhyun melepaskan pinggang Sungmin karena sudah merasa aman Sungmin tidak akan menyerang wanita itu lagi. Sungmin duduk di kursi yang berhadapan dengan Fei dan memukul meja dengan keras.

"Apa yang kau lakukan di sini, Fei?!" Sungmin mendesis dengan penuh kemarahan, "Jangan bilang kau berniat mengambil Mei Lin! Kalau itu benar, aku tidak akan ragu untuk menendangmu keluar dari sini!"

Fei mengelap air matanya dan menggeleng lemah, "Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku tidak layak mengasuh Mei Lin..."

"Dan itu sangat benar sekali!" Sungmin membalasnya, "Lalu untuk apa kau masih di sini, hah?!"

"Aku hanya ingin meminta maaf kepada Hangeng dan Mei Lin, Sungmin..."

"Minta maaf?!" Sungmin mendengus dengan nada sarkas, "Kau pasti bercanda! Setelah membiarkan Hangeng Hyung membesarkan Mei Lin sendiri dan kembali ke pelukan kekasih terkutukmu itu, setelah sekian lama, kau ke sini hanya untuk minta maaf?! Oh, ya! Permintaan maafmu itu sangan membantu kehidupan Mei Lin!"

Mata Fei sudah basah karena air mata lagi. Tapi, tak terlihat satu pun dari mereka merasa kasihan, kecuali Hangeng.

"Oh, berhentilah menangis!" Sungmin menghardik Fei lagi, "Tangisanmu tidak akan membuat mood-ku membaik! Dan juga tidak akan memnyelesaikan masalah yang sudah kau buat ini!"

"Aku tahu, Sungmin!" Fei terisak, "Aku tahu! Aku hanya ingin mengunjungi Mei Lin! Dia itu anakku!"

"Kalau kau mengerti, Fei, dia adalah anak yang sudah kau tinggalkan bertahun-tahun lalu!"

"Aku mengerti!" Fei membalas dengan setengah menjerit. Dia palingkan wajahnya ke arah Mei Lin, "Mei Lin...Mama sangat merindukanmu..."

Mei Lin menangis lebih keras dan menyembunyikan wajahnya di dada Siwon, "Aku tidak punya mama! Aku hanya punya papa dan oppa-oppa!"

"Mei Lin!" Hangeng menegur anaknya, "Kau tidak seharusnya mengatakan itu!"

"Mei Lin benar, Hyung!" Sungmin menanggapi, "Mei Lin tidak pernah mempunyai seorang mama. Dia hanya punya kita."

"Sungmin, mengertilah!" Fei kembali memohon, "Akulah ibunya! Akulah yang melahirkannya, aku yang merasakan sakitnya!"

"Kau melupakan satu hal, Fei!" Sungmin menunjuk wajah Fei, "Kau juga yang meninggalkannya dengan Hangeng Hyung!"

Kyuhyun kembali melingkarkan lengannya di pinggang Sungmin karena Sungmin sudah berdiri untuk menyerang wanita itu.

"Mei Lin..." Fei kembali menatap anak perempuannya, "Apakah Mama masih punya tempat di hatimu...?"

Mei Lin tidak menjawab. Dia tetap menangis di dada Siwon.

"Aku rasa tidak..." Fei menghela nafasnya sedih, "Ta-tapi, bolehkan aku mengunjunginya lagi?"

"Tidak..." Pernyataan iti datang dari Siwon yang sedari tadi hanya diam, "Aku mengerti aku tidak punya andil apa-apa dalam masalah ini, karena ini antara kau dan Hangeng Hyung. Tapi, aku rasa lebih baik kau tidak mengunjungi baik Hangeng Hyung atau Mei Lin lagi. Aku bukannya menghalangimu atau apa, Fei-ssi, tetapi tidak sadarkah kau hanya menggali lubang yang sudah hampir tertutup dengan cara mengunjungi mereka? Kau meninggalkan mereka, maka sudah menjadi resikomu untuk tetap menjauh dari mereka. Aku mengerti kau ibunya Mei Lin, tapi tidakkah kau melihat bagaimana Mei Lin sekarang setelah kau memutuskan untuk mengunjunginya?"

Semua orang, kecuali Fei, memandang Siwon dengan penuh kekaguman. Dia mengungkapkan yang semua orang ungkapkan dengan kepala dingin dan tenang. Sungmin mendadak merasa malu atas dirinya yang meledak-ledak sebelumnya.

"Maaf, Hyung." Siwon tersenyum kepada Hangeng yang masih memandangnya, "Aku tidak bisa menahan diri."

Fei berdiri dengan tiba-tiba, tersenyum penuh kekalahan, "Mungkin kau benar. Mungkin lebih baik aku meninggalkanmu dengan Mei Lin sekarang, Geng. Aku akan kembali ke suamiku sekarang. Kuserahkan Mei Lin sepenuhnya padamu. Kuharap kau bisa menjaganya dengan baik. Maafkan aku yang telah meninggalkanmu dulu."

"Sudahlah." Hangeng berdiri untuk menyalami tangan Fei, "Itu masa lalu. Biarkan saja berlalu."

"Aku pergi..." Fei berkata seraya menuju pintu keluar.

Seketika setelah Fei pergi, hanya suara isakan Mei Lin saja yang masih terdengar. Semuanya masih terlalu kaget untuk berkata-kata.

"Hyung," Siwon memutuskan untuk mengakhiri keheningan yang mencekam itu setelah suara Mei Lin tidak terdengar lagi, "Mei Lin tertidur. Aku akan membaringkannya di kamarmu, ya?"

Hangeng mengangguk lemah, masih tetap menutupi wajah dengan tangannya.

"Maaf, ya..." Hangeng tertawa lemah saat Siwon sudah kembali bergabun dengan mereka, "Aku sudah memperlihatkan sesuatu yang tidak pantas..."

"Tidak apa-apa, Hyung." Kyuhyun menghela nafasnya, "Aku sudah tahu sebelumnya."

"Aku juga..." Siwon berkata, mengagetkan semuanya.

"Kau...? Bagaimana bisa?" Hangeng bertanya dengan penuh rasa kaget.

"Sebenarnya, bukan hanya Kyuhyun yang tidak sengaja mendengar percakapanmu dengan Sungmin, Hangeng Hyung. Tapi aku juga."

"Siwon..."

"Maaf, Hyung." Siwon menunduk dalam-dalam, "Aku tidak bermaksud."

Hangeng menghela nafasnya dan menawarkan mereka minum, "Tenanglah, Siwon. Tidak apa-apa. Aku akan membuatkan kalian teh, oke?"

Guru itu pun berdiri dan hampir terjatuh lagi karena limbung. Siwon dengan segera menangkap pinggangnya agar Hangeng tidak terjatuh.

Kyuhyun menyadari ada yang berbeda dari tatapan Siwon kepada Hangeng. Itu adalah tatapan penuh kasih sayang.

"Jangan bergerak." Siwon mendudukkan Hangeng kembali, "Biar aku saja yang membuatnya."

Kyuhyun mengalihkan pandangannya kepada Sungmin, takut-takut Sungmin menyadari apa yang beru saja terjadi.

"Hey, Kelinci, kau mau pulang atau tetap tinggal di sini?" Kyuhyun bertanya pada teman sekelasnya itu.

"Menurutku, aku lebih baik pulang..." Sungmin menjawab pertanyaan Kyuhyun dengan lemah.

"Baiklah, aku juga."

"Kalian tidak mau meminum dulu teh?" Siwon menawarkan.

Kyuhyun menggelengkan kepalanya, begitu juga Sungmin.

"Apa kau tidak akan pulang, Siwon?" Kyuhyun bertanya kepada teman sekamarnya.

Siwon memandangi Hangeng yang masih terduduk lemas dengan rasa sayang yang sama dengan sebelumnya dan menggelengkan kepalanya.

"Tidak. Aku akan menemani Hangeng Hyung sebentar. Kau pulanglah duluan."

Kyuhyun mengangguk dan melemparkan kunci kamar kepada Siwon, "Jangan lupa kunci pintunya saat kau pulang, Siwon."

Kyuhyun mendorong punggung Sungmin dengan lembut sampai mereka keluar dan Kyuhyun pun menutup pintu rumah Hangeng perlahan.

"Hey, Kelinci..." Kyuhyun memanggi Sungmin saat mendengarnya terisak-isak, "Apa kau baik-baik saja?"

Sungmin hanya mengangguk tetapi masih menutupi wajahnya dengan tangannya.

"Hey, jangan menangis." Kyuhyun menepuk punggung Sungmin, "Ayo, akan kuantar kau pulang."

Sungmin menarik ujung jaket Kyuhyun dengan tiba-tiba, "Tidak mau...Aku tidak mau pulang dalam keadaan seperti ini. Aku tidak mau membuat Leeteuk khawatir..."

Kyuhyun membeli dua kaleng minuman hangat sebelum mendorong Sungmin untuk duduk di taman terdekat.

"Ini," Kyuhyun menyodorkan salah satu dari kaleng hangat tersebut, "Minum ini. Tenangkan dirimu."

Sungmin menggumamkan 'terima kasih'-nya dan menyesapnya perlahan.

"Kenapa kau menangis, Kelinci? Ini tidak seperti dirimu yang biasanya."

Sungmin menggenggam erat kaleng minumannya, "Aku malu, tetapi darahku juga mendidih..."

"Maksudnya?"

"Aku berteriak di depan semuanya seperti orang gila padahal Hangeng Hyung, yang jelas-jelas disakiti, masih bisa tenang. Siwon mampu mengutarakan hal yang seharusnya bisa kuutarakan dengan kepala dingin. Kau mampu menahanku untuk menyerang wanita itu. Dan aku? Aku hanya bisa berteriak dan memaki wanita itu tanpa memperdulikan kondisi Mei Lin yang ketakutan." Sungmin mengelap pipinya yang basah, "Bisa-bisanya aku melakukan itu..."

Kyuhyun sedikit lega mendengar pernyataan Sungmin. Itu berarti Sungmin menangis bukan karena ia cemburu kepada Hangeng atas perlakuan Siwon.

"Karena kau kelinci bodoh." Kyuhyun menanggapinya.

"Benar..." Sungmin terisak makin keras, "Kau benar. Aku memang bodoh! Harusnya aku tidak melakukannya!"

"Eh! Sungmin!" Kyuhyun buru-buru merangkul pundak Sungmin yang gemetar, "Maafkan aku! Bukan itu maksudku! Sssh, berhenti menangis, oke? Kumohon..."

Sungmin melihat wajah Kyuhyun dan tertawa di antara isakannya, "Lihat wajahmu, Culun! Kau terlihat tolol!"

Kyuhyun menghela nafas lega setelah mendengar deraian tawa kecil Sungmin.

"Apakah sebegitu menyenangkannya membuatku khawatir?" Kyuhyun menepuk kepala Sungmin dengan lembut, "Berhentilah menangis!"

Sungmin mengangguk dan berbisik, "Terima kasih, Kyuhyun."

Kyuhyun merasakan hatinya meleleh ketika mendengar namanya disebutkan dengan lembut. Kyuhyun tidak menyangka dampaknya begitu besar setelah mendengar Sungmin menyebutkan namanya dengan penuh kelembutan.

"Sa-sama-sama, ermm," Kyuhyun bingung harus memanggil Sungmin apa. Kelinci? Bodoh? Dan pada akhirnya ia menyebutkan nama Sungmin, "Sama-sama, Sungmin..."

###

Siwon membawakan dua cangkir teh ke atas meja dan Hangeng menyesapnya perlahan.

"Maaf, Hyung. Aku seharusnya tidak mengatakan apa-apa tadi." Siwon bertakta dengan penyesalan yang terdengar jelas.

Hangeng tersenyum lembut, "Bukankah aku sudah berkata tidak apa-apa, Siwon?"

"Tapi tetap saja aku merasa yang kulakukan itu salah..."

Hangeng tertawa kecil dan meletakan cangkirnya, "Siwon, kau benar. Semua yang kau katakan itu adalah hal yang ingin kukatakan kepada Fei, hanya saja aku tidak mengatakannya. Jadi aku bersyukur kau menegaskan hal itu. Sekarang berhentilah memminta maaf atau kupukul kau dengan majalah!"

Siwon melihat tepat ke mata Hangeng dan ia merasakan hatinya menghangat. Baginya, senyum dan tawa Hangeng tidak pernah bisa berhenti membuatnya bahagia.

Siwon mengangkat tangannya untuk menyingkirkan beberapa helai rambut yang jatuh di wajah Hangeng.

"Hyung, kau tidak pernah pantas untuk mendapatkan perlakuan seperti. Kau adalah orang terbaik dan terlembut yang pernah aku temui. Saat kau patah hati lagi di masa depan, yang kuharap tidak akan pernah terjadi lagi, pastikan itu tidak membuatmu terjatuh dan menangis."

"Siwon..."

Siwon membiarkan senyumnya mengembang dan segera berdiri mengambil tasnya.

"Aku pikir aku sebaiknya pulang sekarang. Sekarang sudah semakin larut." Siwon tertawa kecil, "Sampai bertemu lagi, Hyung."

"Siwon." Hangeng memanggil namanya.

"Ya, Hyung?"

"Terima kasih banyak."

Siwon mengangguk, "Itu bukan apa-apa. Semoga tidurmu nyenyak malam ini, Hyung."

###

"Siwon!" Suara Kyuhyun memenuhi kamar berukuran sedang itu, "Bangun, Siwon! Cepat bersiap-siap! Kita harus sekolah!"

Siwon menggerutu dan bangun dari kasurnya. Ia kurang tidur tadi malam karena benaknya dipenuhi oleh bayangan Hangeng. Siwon mengambil seragam dan handuknya, tidak luput untuk menabrak ujung meja karena ia berjalan dengan mata tertutup.

Kyuhyun sudah berangkat duluan saat Siwon selesai mandi. Ia menyiapkan buku-bukunya dan meninggalkan kamar, tidak lupa untuk menguncinya.

"Pagi, Siwon!" Sungmin menyapa Siwon di gerbang sekolah.

"Pagi, Sungmin." Siwon membalasnya dengan sopan, "Bagaimana tidurmu semalam?"

"Yaah, aku berbohong kalau aku tidak terganggu dengan kejadian itu, tapi..." Sungmin menghentikan perkataannya dan tersipu sedikit setelah melihat seseorang yang berjalan menuju ke arah mereka dari belakang Siwon.

Siwon membalikan tubuhnya dan melihat Kyuhyun menghampiri mereka. Seketika saja ia penasaran dengan apa yang terjadi di antara Kyuhyun dan Sungmin.

"Yo, Siwon," Kyuhyun memanggil temannya itu, "Maaf aku meninggalkanmu. Aku harus membantu Hangeng Hyung tadi."

"Yeah, santai saja."

"Ehh, aku...pergi duluan ya teman-teman! Sampai nanti!" Sungmin berseru dan buru-buru berlari menjauh.

Siwon menyikut perut Kyuhyun yang masih melihat ke arah Sungmin berlari tadi.

"Aw!" Kyuhyun mengaduh, "Kenapa kau ini, Siwon?!"

"Ceritakan padaku, apa yang terjadi tadi malam setelah kalian berdua meninggalkan rumah Hangeng Hyung?"

Kyuhyun merasakan pipinya menghangat.

"Ka...kau...?" Siwon menunjuk wajah Kyuhyun tidak percaya, "Kau tersipu?!"

Kyuhyun melempar lengan Siwon dari pundaknya dan berjalan menjauh.

"Hey! Tunggu dulu!" Siwon menahan pundak Kyuhyun dan membalikkan tubuhnya, "Apa yang terjadi tadi malam? Kau menyatakan cintamu padanya, ya?! Jadi, aku benar saat kubilang kau menyukainya?!"

"Gaaaaah! Mati saja kau, Siwon!" Kyuhyun meninju perut Siwon, tetapi tdak terlalu keras, "Tentu saja aku tidak menyatakan apa-apa kepadanya! Aku bahkan tidak punya persaan apa-apa terhadapnya! Apa yang harus kunyatakan, hah?!"

"Lalu mengapa kau tersipu?!" Siwon bersikeras.

"Karena kau terus menggodaku!" Kyuhyun balas bersikeras, "Hentikan itu!"

"Aah, Kyuhyun!" Siwon mengacak-acak rambutnya sendiri, "Kenapa ada orang sebodoh kau hidup di dunia ini?!"

"Aish!" Kyuhyun mendorong Siwon seraya meninggalkannya, "Kau akan tetap menggangguku atau menuju kelas?!"

Siwon tertawa dan segera menyusul temannya yang begitu bodoh itu. Tetapi, segera saja langkahnya terhenti saat melihat Hangeng keluar dari ruangannya dan menuju ke perpustakaan. Diam-diam Siwon mengikutinya dari belakang. Hangeng terlalu fokus dengan bukunya sampai-sampai tidak menyadarinya.

Ketika sampai di perpustakaan, Hangeng segera menduduki salah satu kursi kosong di pojok ruangan yang sedikit terisolasi dan tetap membaca bukunya. Siwon mengabadikan pemandangan yang menurutnya indah itu dengan kamera handphone-nya lalu mendekati sang guru bahasa Cina.

"Merasa lebih baik?"

Hangeng terlonjak di kursinya dan memegang dadanya, "Astaga, Siwon! Kau mengagetkanku!"

Siwon tertawa kecil dan menempati kursi kosong yang ada di hadapan Hangeng, "Kau tidak mendengar suara langkahku?"

"Kau terlalu berkonsentrasi."

Hangeng hanya tersenyum dan membalikan lembaran pada bukunya lagi.

"Kau belum menjawab pertanyaanku." Siwon menuntut, "Merasa lebih baik?"

"Ah, iya." Hangeng mengangguk, "Terima kasih banyak, Siwon. Oh, aku juga belum berterima kasih kepada Kyuhyun dan Sungmin. Mungkin nanti saat aku bertemu dengan mereka."

"Kau tidak ada kelas, Hyung, maksudku, Pak Han?"

"Tidak. Bagaimana denganmu?"

"Aku ada kelas bahasa Inggris sekarang." Siwon beranjak dari tempat duduknya, "Aku duluan kalau begitu."

"Hmm, Siwon." Hangeng memanggilnya lagi.

Guru bahasa Jepang itu menggigit bibir bawahnya, terlihat ragu-ragu tentang apa yang akan ia katakan. Siwon menunggunya dengan sabar.

"Hari Minggu ini ulang tahunnya Mei Lin. Aku berniat membawanya ke taman ria. Apakah kau bisa ikut?"

"Aku?" Siwon menunjuk dadanya, "Kau mengajakku?"

"Err, hanya jika kau tidak berkeberatan..."

"Tentu saja tidak!" Siwon tersenyum senang, "Aku pasti akan ikut! Pasti!"

"Baiklah." Hangeng tertawa melihat tingkah laku muridnya itu, "Mei Lin pasti akan sangat senang jika mengetahui kau ikut. Dia sangant menyukaimu. Oh, ya, bila kau bertemu dengan Kyuhyun dan Sungmin, tolong ajak mereka juga, ya?"

Siwon mengangguk dan segera meninggalkan guru bahasa China-nya. Otaknya berpikir keras tentang apa yang akan ia kenakan nanti.

###

"Mei Lin, Papa pulang."

"Papa!"

Mei Lin segera loncat ke pelukan Hangeng.

"Apakah Mei Lin menjadi anak baik hari ini?" Hangeng bertanya kepada anak perempuan semata wayangnya itu.

"Tentu saja!" Mei Lin mengangguk senang, "Papa, bagaimana dengan rencana hari Minggi ini?"

"Pasti jadi, Mei Lin. Papa bahkan sudah mengajak Siwon Oppa. Dan ia akan menyampaikannya juga kepada Kyuhyun Oppa dan Sungmin Oppa."

Mei Lin berteriak girang, "Yeeeees! Aku tidak sabar menunggu hari Minggu ini!"

"Knp kau sangat senang untuk berada di sekitar Siwon, Mei Lin?" Hangeng menepuk kepala anaknya.

"Aku menyayanginya!"

"Apa?!" Mata Hangeng melebar mendengarnya, "Tidak boleh!"

"Kenapa...?" Mei Lin merengek.

"Kau masih teralu muda untuk hal itu!"

Hening...

Mei Lin pun tertawa mendengar perkataan papanya, "Maksudku aku menyayanginya bukan seperti itu! Aku menyayangin Siwon Oppa seperti aku menyayangi Papa, Sungmin Oppa dan juga Kyuhyun Oppa!"

"Ahh..." Hangeng tertawa kecil, memukul kepalanya sendiri, "Bodohnya Papa~"

"Papa ada-ada saja." Mei Lin tertawa lagi.

RRRRING! Tiba-tiba handphone Hangeng berbunyi.

"Halo, Minnie?" Hangeng menyapa penelepon yang ternyata adalah sepupunya itu.

"Hyung! Benarkah kau mengajakku untuk pergi ke taman ria hari Minggu ini?" Sungmin bertanya dengan semangat.

"Yep, bersama Siwon dan Kyuhyun juga."

"Eh?! Jadi, Siwon ikut juga?! Kupikir dia tidak ikut! Dia tidak mengatakan hal itu padaku!"

"Iya, dia ikut, Minnie. Apa kau senang?"

Sungmin berteriak di ujung telepon, "Tentu saja! Tapi, Hyung, kenapa kau mengajak si Culun juga?"

"Culun?" Hangeng bertanya balik, "Kyuhyun maksudmu?"

"Iya! Aish, Hyung! Dia akan menghancurkan kebahagiaan kita nanti!"

Tawa Hangeng meledak mendengar pernyataan Sungmin, "Minnie, kau terlalu kejam! Kau harus tahu bahwa dia sebenarnya laki-laki yang baik. Ya, aku mengajaknya karena dia teman baiknya Siwon."

"Cih! Hanya karena dia teman baik orang yang kusukai makanya aku mau menerimanya. Kalau tidak, aku sudah menendangnya jauh-jauh dari acara ini!"

Setelah berbincang sebentar dan mengakhiri telepon itu, Hangeng menggelengkan kepalanya perlahan. Dia benar-benar tidak berpikir bahwa Sungmin membenci Kyuhyun sampai sebegitunya.

###

"Selamat pagi, Birthday Girl!" Hangeng mencium pipi Mei Lin yang masih setengah tidur.

Mei Lin langsung membuka matanya lebar dan meloncat turun dari kasur, "Selamat pagi, Papa! Wah! Hari ini aku berumur 5 tahun!"

"Iya, Mei Lin, kau berumur 5 tahun hari ini!" Hangeng menggandeng tangan Mei Lin.

Tiba-tiba terdengar suara ketukan dari arah depan rumah. Hangeng membuka pintunya hanya untuk melihat Siwon menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Hey, Hyung." Siwon menyapanya, "Sepertinya aku datang terlalu pagi..."

"Tentu saja." Hangeng tertawa, "Ini masih jam 8 pagi. Aku bahkan belum mandi. Lagipula, bukankah kita sudah menentukan di mana kita akan bertemu?"

Siwon hanya tersenyum malu.

Hangeng mempersilahkannya untuk masuk. Begitu melihat Siwon, Mei Lin langsung berlari ke arahnya dan memeluknya.

"Oppa!" Mei Lin berteriak, "Kau di sini!"

"Pagi, Mei Lin." Siwon segera menggendongnya, "Selamat ulang tahun!"

"Terima kasih, Oppa!" Mei Lin tersenyum lebar, "Papa, ayo mandikan aku, cepat-cepat!"

"Ya Tuhan, Mei Lin." Hangeng menggelengkan kepalanya, "Kau terlalu semangat pagi ini. Baiklah, ayo mandi! Siwon, kutinggal sebentar, oke?"

"Baiklah." Siwon menjawab, menduduki sofa yang ada.

Setelah memandikan Mei Lin, Hangeng membilas tubuhnya sendiri. Setelahnya ia keluar hanya dengan selembar handuk di pinggangnya.

"Hyung!" Siwon berseru.

"Apa?"

"Ka-kau..." Siwon melirik handuk yang melingkar di pinggang Hangeng, "Ha-handuk..."

Hangeng ikut melirik handuknya dan bertanya lagi, "Iya, memangnya kenapa? Kita 'kan sama-sama lelaki."

"Ah, tidak." Siwon membalasnya kaku dan segera menyibukkan diri dengan membaca majalah yang tergeletak di atas meja.

###

"Bersikaplah normal, Kelinci!"

"Aku melakukannya! Kau juga, Culun!"

"Aku sudah melakukannya, Bodoh!"

Sungmin dan Kyuhyun sedang bertengkar seperti biasa di tempat mereka bertemu saat Hangeng, Mei Lin dan Siwon datang. Seperti biasa, Mei Lin digendong Siwon di pundaknya.

"Yah!" Hangeng berseru untuk menghentikan pertengkaran childish yang Sungmin dan Kyuhyun lakukan, "Kapan kalian akan berhenti, hah?"

"Salahkan dia!" Keduanya memjawab bersamaan, menunjuk satu sama lain.

Hangeng memijat kepalanya yang pusing sedangkan Siwon hanya tertawa.

"Biarkan saja, Hyung. Nanti juga kau akan terbiasa." Katanya.

"Murid-murid jaman sekarang." Hangeng menggeleng-geleng, "Ayo, cepat sebelum terlalu siang!"

"Ayo!" Mei Lin menunjuk ke arah taman ria.

"Ayo!" Siwon berlari mendahului ketiga orang di belakangnya.

"Hyung." Sungmin menarik tangan Hangeng, "Kenapa kau datang bersama dengan Siwon?"

Hangeng tersenyum jahil, "Jangan cemburu. Dia datang ke rumahku pagi ini."

"Ke rumahmu?" Sungmin mengerucutkan bibirnya, "Kenapa?"

"Jangan pasang tampang seperti itu!" Hangeng tertawa, "Dia bilang dia kepagian."

"Memangnya kenapa, Kelinci?" Suara Kyuhyun menginterupsi pembicaraan kedua sepupu itu, "Untuk apa kau peduli?"

Sungmin menyeringai kesal, "Bukan urusanmu, Culun!"

"Tentu saja urusanku. Sekedar informasi, bila kau terlalu bodoh untuk mengingatnya Kelinci, kalian membicarakan teman baikku!"

Sungmin membuang mukanya dengan marah, "Membuat mood-ku hancur saja!"

Lalu dia menghentakkan kakinya menuju Siwon dan Mei Lin yang berada jauh di depan mereka.

"Aish, kalian..." Hangeng menghela napasnya, "Tidak bisakah kalian akur untuk sehari saja?"

Kyuhyun mengangkat bahunya, "Salahkan Kelinci bau itu, Hyung. Dia memulainya duluan. Oh, ya Hyung, aku juga penasaran kenapa kau bisa datang dengan Siwon."

"'Kan kau sudah mendengarnya tadi." Hangeng memutar matanya, "Siwon bilang dia kepagian, jadi dia datang ke rumahku."

"Hanya itu?"

Hangeng mengangguk, "Dia bilang itu alasannya."

Kyuhyun terlihat berpikir dengan menyangga dagunya di tangannya.

"Kenapa, Kyuhyun?" Hangeng mengangkat alisnya, "Apa ada yang salah?"

Kyuhyun memberikan Hangeng seulas senyum penuh arti sebelum meninggalkannya yang kebingungan menuju Siwon.


A/N: Waduh lama banget ya ga update?

Maaf yaaaaaa, soalnya nulisnya rada panjang sekarang. Soalnya sepertinya aku ga akan update untuk dua minggu ke depan karena lebaran hehe. Harap maklum yaaaa~ kuharap ini cukup.

Terima kasih reader dan reviewer~!