Author : vitaMINElf
Tittle : PROMISE PART II
Genre : Drama, Romance, Angst
Rating : T
Disclaimer : Mereka bukan punya saya, saya cuma pinjem nama saja. Sungmin baru punya saya.
Warning : YAOI , EYD berantakan , tidak nyambung
Cast : Eunhyuk (bayangin Eunhyuk oppa di mv happiness)
Donghae (Donghae oppa di mv SFS)
Sungmin ( Sungmin oppa di mv Mr. Simple)
Kyuhyun (Kyuhyun oppa di mv SFS)
Siwon ( Siwon oppa di mv bonamana)
Cast lainnya menyusul
Chapter 4
Sial, ternyata mereka bukan hanya sekedar teman. Tapi mana mungkin mereka sudah menikah, pernikahan seperti itu kan tidak legal di Korea. Aku harus mencari tau kebenarannya
"Ada pekerjaan untukmu. Cari tau informasi tentang Lee Donghae dan Eunhyuk secepatnya"
"..."
"Aku ingin besok laporannya sudah ada ditanganku"
Sudah sangat lama aku memendam cinta untuk Eunhyuk, dan sekarang aku harus merelakannya begitu saja. rasanya aku tidak rela dan tidak akan bisa. Pasti ada cara agar Hyukjae bisa berpaling padaku.
.
.
.
Hari ini aku tidak bisa berkonsentrasi dalam bekerja, kejadian tadi pagi benar-benar menyita perhatianku.
Flashback
Pagi ini aku terbangun dengan perasaan yang buruk. Hyukkie lebih memilih tidur dari pada menolongku, Tega sekali dia. Hah..aku harus berangkat kerja lebih pagi hari ini karena hari ini ditoko akan ada datang barang, ini kesempatan untukku mendapatkan uang yang banyak.
"Pagi Hae" walau sedang kesal aku tidak bisa mengacuhkan senyum itu
"Pagi chagi, tidurmu nyenyak?"
"Iya, aku tidur nyenyak. Hae juga tidur nyenyak kan?"
"Tidak chagiku yang manis" bagaimana aku bisa tidur nyenyak. Keinginanku tertunda, semua karena 'tamu' semalam
"Kenapa?" tentu saja salah satu penyebabnya dirimu Hyukkie
"Hanya tidak bisa tidur saja. Kau masak apa Hyukkie?" dari pada membahas yang semalam dan membuatku bisa terlambat kerja lebih baik aku menghentikan pembahasan ini.
"Aku tidak masak apa-apa Hae, hanya ada roti saja. tidak apakan? Nanti siang aku akan masak yang enak" pasti persedian makanan kami habis. Kasian Hyukkie, dia harus susah gara-gara ikut denganku
"Tentu tidak apa, roti juga enak. Mana chagi" aku harus tetap terlihat senang agar Hyukkie tidak sedih
"Ini, makanlah" Hyukkie menyodorkan sepotong roti dalam piring
"Kenapa Cuma ada satu, punyamu mana?" aku tidak melihat ada piring lain dimeja makan
"Aku sudah makan duluan Hae, ini memang untukmu" Aku tau dia berbohong, Hyukkie tidak akan menatap mataku jika sedangberbohong.
"Kita makan berdua yah?" aku potong roti ini menjadi dua lalu menyuapkannya kemulut Hyukkie
"Tidak usah Hae, kau kan akan bekerja. Nanti kau bisa lapar kalau rotinya dibagi dua"
"Aku lebih baik kelaparan dari pada aku harus menjadi suami yang sangat jahat jika aku makan sedangkan istriku tidak, ayo makan" Aku kembali menyuapi sepotong roti ini kemulut Hyukkie
"Tapi Hae..." anak ini banyak protes sekali sih. Langsung saja kumasukan roti ini saat Hyukkie sedang berbicara tadi. Mudah-mudahan Hyukkie tidak tersedak makanan
"Sudah jangan banyak protes, aku tau kau belum makan juga Hyukkie"
Setelahnya makan dengan setengah potong roti aku pergi untuk bekerja
Flashback end
Jika begini terus, aku akan semakin membuat Hyukkie menderita. Aku harus lebih giat lagi bekerja.
Brukk...Prang..
Astaga...bagaimana ini. Aku bisa kena marah oleh tuan Wang
"HEI DONGHAE APA YANG KAU LAKUKAN. KENAPA BISA SAMPAI PECAH BEGINI HAH. DIMANA MATAMU"
"Maafkan aku tuan, tadi ada orang yang menyenggolku, jadi..."
"JANGAN MENYALAHKAN ORANG ATAS KESALAHANMU. KAU TAU HARGA BARANG ITU KAU BISA MENGGANTINYA"
"Tapi tuan.."
"Tidak ada kata tapi, mulai hari ini kau kupecat. Kau membuatku rugi"
Apa?aku dipecat. Ini tidak boleh terjadi
"Tuan, aku mohon maafkan aku. Tadi itu tidak sengaja, sungguh, jangan pecat aku. Aku butuh pekerjaan ini" aku terus memohon pada tuan Wang agar tidak memecatku. Bagaimana kehidupanku dan Hyukkie jika aku tidak bekerja.
"Itu bukan urusanku, dan cepat pergi dari sini"
"Tunggu dulu tuan, aku mohon beri aku kesempatan" dan setelah aku memohon bahkan hampir mengiba tapi tetap saja tidak didengarkan oleh tuan Wang. Para pekerja lain yang melihatku hanya bisa memberikan tatapan iba. Akhirnya aku memutuskan untuk pulang kerumah. Hyukkie maafkan aku...
.
.
.
"Tuan, orang yang bernama Lee Donghae bekerja ditoko tuan Wang, tapi sekarang dia sudah dipecat" aku mendapatkan informasi yang sangat berharga ini dari orang suruhanku
"Bagus, terus pantau apa saja yang terjadi pada orang itu"
"Baik tuan" aku harus memanfaatkan hal ini dengan baik.
Senyum terkembang dibibir pemuda Choi ini, entah apa yang ada dipikirannya, hanya dia yang tau.
.
.
.
Saat ini aku sedang menyiapkan makanan, untuk aku dan Hae makan nanti. Aku sudah tidak sabar menunggu Hae pulang dan makan bersana. Aku sudah sangat lapar.
Kriet..
Itu pasti Hae yang datang, aku harus menyambutnya
"Hae kau sudah pu...lang? Hae ada apa denganmu? Kenapa kau pucat sekali chagi?" Hae pulang dengan wajah yang pucat dan mata yang merah serta bengkak. Apa Hae menangis, tapi kenapa
Brukk
"Hae.."tiba-tiba saja Hae memelukku dengan sangat erat
"Hyukkie...Hyukkie...Hyukkie..." ada apa ini, kenapa denganmu Hae
"Hae ada apa? Tolong jangan begini" aku tak akan sanggup jika melihatnya hancur seperti ini. Air mata ini tak bisa ditahan sebentar saja.
"Aku tidak berguna Hyukkie" aku merasakan bajuku basah, pasti Hae menangis
"Tidak Hae, kau sangat berguna"
"Tapi aku tidak bisa membuat mu senang, dari dulu aku selalu membuatmu susah, a...aku...tidak..bisa..bekerja..lagi..." Apa maksudmu Hae, kenapa tidak bisa bekerja
"Memangnya kenapa?"aku mencoba untuk tenang, saat ini Hae butuh sandaran. Kuusap punggungnya agar ia bisa tenang
"Aku dipecat Hyukkie, dan sekarang kita tidak punya apa-apa lagi untuk bertahan hidup" Hae dipecat, pantas Hae menjadi sedih begini. Aku juga sedih mendengarnya, tapi aku lebih terluka jika melihat orang yang kucintai terlihat hancur. Kulepas pelukan Hae, kutangkupkan kedua tanganku dipipinya
"Dengar Hae, kita masih punya hal penting untuk bisa bertahan hidup. Aku memiliki kau dan kau memiliki aku. Bagiku itu sudah cukup, kita hadapi semuanya bersama-sama. Asal berdua aku yakin kita pasti kuat" mungkin bagi orang lain itu hanyalah kalimat gombal, tapi tidak bagiku. Aku yang menunggunya bertahun-tahun sangat percaya akan kebenaran kalimat itu.
Dipeluknya lagi tubuhku oleh Hae, biarlah ia meluapkan segala perasaan sedihnya saat ini, asalkan sesudah ini Hae Ku akan tersenyum lagi.
"Aku mencintaimu Hyukkie, saranghae"
"Nado Hae..." inilah yang kami butuhkan dalam menghadapi kehidupan yang berat ini, cinta yang saling menguatkan.
.
.
.
Sudah tiga hari aku menjadi pengangguran, hari ini aku akan mencari kerja lagi untuk yang kesekian kalinya. Aku tidak boleh menyerah, pasti selalu ada jalan
Tok...tok...tok...
Siapa pagi-pagi yang datang bertamu kerumah. Aku buka saja, sepertinya juga Hyukkie sedang sibuk didapur
"Selamat pagi" sapa seorang Kim ahjumma pemilik tempat apartemen ini, mau apa dia pagi-pagi kerumahku.
"Pagi ahjumma, ada apa ahjumma datang kemari? Apa ada hal penting" aku sedang malas berbasa-basi, langsung saja tanya tujuannya
"Aku kemari ingin menanyakan tentang Eunhyuk" tanya tentang Hyukkie? Memangnya ada apa dengan Hyukkie
" Memangnya ada apa ahjumma?"
"Sebenarnya aku tidak enak untuk membicarakannya, tapi ini sangat penting untukku. Minggu kemarin Eunhyuk meminjam uang padaku, lalu sebagai jaminannya dia memberikan cincin ini padaku. Sekarang aku sedang butuh uang, kalau Eunhyuk belum bisa mengembalikan uangku terpaksa aku menjual cincin ini" itu kan cincin pernikahan kami
"Maaf ahjumma, bisa beri aku waktu sedikit lagi, aku akan membayar uang yang dipinjam Eunhyuk, tapi tolong jangan jual cincin ini, aku mohon" aku tidak mungkin membiarkan cincin itu dijual.
"Baiklah, tapi tolong janga lama-lama" untunglah Kim ahjumma ini mau mengerti
"Terima kasih ahjumma, akan aku usahakan sepecatnya"
"Kalau begitu aku permisi dulu Donghae"
Hyukkie pasti berusaha untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari kami, aku tidak boleh berdiam diri saja. aku harus bisa menebus cincin itu kembali demi Hyukkie
"Hae siapa yang datang"
"Kim ahjumma chagi, apa pekerjaanmu sudah selesai"
"I...Iya sudah, apa ahjumma mengatakan sesuatu" aku melihat ada raut khawatir diwajah Hyukkie. Lebih baik aku tidak cerita masalah tadi
"Tidak ada, hanya ingin berkunjung saja. Chagi aku harus pergi sekarang. Doakan aku mendapatkan pekerjaan ya"
Chu...
Kukecup bibir merahnya sebagai tanda perpisahan
"Tentu Hae, semoga berhasil. SEMANGAT CHAGI..."
Dia itu manis sekali
.
.
.
Siang ini aku akan kerumah Hyukjae, walaupun orang yang bernama Donghae itu mengaku sebagai suaminya, tidak ada salahnya kan terus mencoba. Pasangan yang menikah resmi saja bisa bercerai apalagi yang tidak menikah secara resmi. Aku membawa beberapa bahan kebutuhan untuk Eunhyuk, aku tau sekarang Eunhyuk sedang kesulitan ekonomi. Pasti dia sangat membutuhkan semua ini. Aku juga mempunyai kejutan untuk dirinya.
Tok...tok...tok...
Ku ketuk pintu rumah Eunhyuk, semoga dia ada dirumah. Tak berapa lama pintu rumah ini terbuka
"Siwon..." pasti dia terkejut dengan kedatanganku
"Hai Eunhyuk" kuberikan senyum terbaikku yang kata orang-orang mampu membuat wanita bertekuk lutuk dihadapanku. Apa ini juga berlaku untuk Eunhyuk
"Sedang apa kau kemari" dia terlihat biasa saja dengan kehadiranku. Ternyata senyumku tidak mempan untuknya
"Emm...aku masih boleh mainkan kerumahmu? Apa suamimu ada?" aku terpaksa menyebut kata 'suamimu' didepan Eunhyuk. Aku harap orang itu tidak ada
"Hae sedang pergi keluar. Memangnya kau mau bertemu dengan Hae ya Siwon" bertemu Donghae, tentu saja aku tidak mau. Aku itu ingin menemuimu Eunhyuk.
"Tidak juga, aku ingin bertemu denganmu. Kau tidak sedang sibuk kan?"
"Tidak, silahkan masuk" aku memasuki rumah Eunhyuk, lalu kuletakkan barang-barang yang ku bawa itu dimeja Eunhyuk
"Kau habis pulang belanja ya Siwon"
"Iya Hyuk, dan ini semua untukmu?"
.
.
Saat ini dirumah Siwon sedang bertamu, katanya dia sedang main kerumahku. Lalu aku melihatnya meletakan barang belanjaannya dimeja
"Kau habis pulang belanja ya Siwon" sekarang kami sedang duduk kursi ruang tamu dirumahku. Aku duduk di hadapan Siwon yang dipisahkan oleh meja yang ada dihadapku
"Iya Hyuk, dan ini semua untukmu" apa?untukku, dalam rangka apa dia memberiku banyak barang begini
"Untuk apa Siwon?"
"Tentu saja untuk kau pergunakan Eunhyuk" aku tau semua barang ini untuk dipergunakan tapi kenapa dia memberikannya padaku
"Maksudku kenapa kau berikan padaku"
"Hanya ingin saja, aku tau kau sedang mengalami masalah ekonomi. Bukan bermaksud menyinggungmu, hanya ingin memberi saja. kau mau menerimanya kan?"
Dari mana dia tau aku megalami kesulitan ekonomi.
"Sudah jangan kau pikirkan bagaimana aku bisa tau hal itu" sepertinya Siwon ini bisa membaca pikiranku
"Baiklah aku menerimanya. Terima kasih ya Siwon" aku mengambil barang-barang ini dan meletakanya di dapur
"Aku ada kejutan untukmu Hyuk" seperti hari ini ulang tahunku saja aku mendapatkan banyak barang
"Kejutan apa?" ku akui aku cukup penasaran dengan kejutan yang akan Siwon berikan
"Tutup dulu matamu" agar kejutannya cepat keluar, kuturuti semua yang Siwon katakan. Awas saja kalau aku tidak terkejut
"Aku sudah menutup mataku, sekarang mana kejutannya"
"Jangan mengintip" banyak sekali peraturannya
"Iya cerewat, ayo cepat mataku sudah pegal"
"TARA...sekarang buka matamu"
"Cincin ini...dari mana kau mendapatkannya?" aku senang sekali dengan kejutan yang Siwon berikan. Ini cincin pernikahan yang aku jadikan jaminan pada Kim Ahjumma. Aku sendiri takut jika tidak dapat menebusnya lagi
"Itu rahasia, kau senang" tentu saja aku senang, cincin pernikahanku kembali
"Iya, aku sangat senang...terima kasih Siwon. Kau mendapatkannya dari Kim ahjumma?"
"Begitulah, aku mengetahuinya saat aku akan masuk masuk apartemen ini. Lalu aku berbiat menebusnya"
"Sekali lagi terima kasih Siwon"
Tak hentinya Eunhyuk mengembangkan senyum sedari tadi. Tak taukah dia bahwa senyum itu membuat pemuda dihadapannya merasa menang akan rencana yang disusnnya, rencana merebut Eunhyuk dari seorang Donghae.
.
.
.
Hari ini pun sama, aku belum mendapatkan pekerjaan apapun. Kenapa susah sekali, semua seperti sudah kompak untuk menolakku melamar kerja. Lebih baik aku pulang saja, aku rindu pada Hyukkie
Saat sudah hampir memasukin kawasan apartemen, aku melihat mobil yang melaju didepanku dan sepertinya aku kenal dengan pengemudinya
"Hyukkie aku pulang" keman Hyukkie? Biasanya dia langsung menyambutku
"Hae, kau sudah pulang"
Chu..
Wah sepertinya hari ini Hyukkie sedang senang
"Kau sedang senang ya chagi"
"Iya Hae. Aku sudah menyiapkan makanan yang enak hari ini. Ayo kita makan"
"Ayo, aku juga sudah lapar" Kebetulan aku sedang lapar sehabis berkeliling kota Busan untuk mencari kerja
Saat sudah sampai dimeja makan, aku sedikit terkejut melihat banyaknya makanan yang ada di meja saat ini. Dari mana Hyukkie mendapatkan uang untuk membeli semua ini, apa dia meminjam lagi pada ahjumma Kim
"Ayo Hae, kenapa melamun disitu. Katanya lapar" aku tersadar dari acara melamunku barusan. Dan tanpa sengaja aku melihat cincin ditangan kiri Hyukkie, bukankah cincin itu masih ditangan Kim ahjumma?kenapa sekarang bisa ada ditangan Hyukkie
"Chagi, cincin itu bukannya masih ada pada Kim ahjumma, kenapa bisa ada padamu"aku benar-benar penasaran akan hal ini, aku butuh penjelasan.
"Dari mana kau tau Hae?" Hyukkie terlihat terkejut dengan pertanyaanku
"Tadi pagi Kim ahjumma yang mengatakannya padaku, aku berniat mengambilnya jika sudah mempunyai uang. Lalu bagaimana kau bisa menebus cincin itu Hyukkie" entah mengapa emosiku seakan langsung naik, mengingat pengendara mobil yang baru keluar dari rumahku tadi adalah Siwon. Apa Siwon yang menebus cincin itu.
"I..itu...Siwon yang menebusnya Hae"
Prang...
.
.
Donghae lempar piring makanan yang ada dihadapannya ini kelantai, ia tidak bisa menahan emosi lagi. 'Kenapa harus orang itu'. ia tau sekarang dari mana sumber makanan ini, 'pasti dari orang itu juga'. Begitulah pikiran Donghae saat ini
"Apa makanan ini dari Siwon juga?" Donghae bertanya pada Eunhyuk yang sedang menundukan kepalanya, ia tau jika Eunhyuk sedang menangis, terlihat dari bahunya yang bergetar. Tapi Donghae tidak bisa menghentikan ini, ia merasa harga dirinya sebagai suami seperti terinjak-injak. Ia suaminya, kenapa harus laki-laki lain yang bisa membuat Eunhyuk tersenyum.
"JAWAB AKU EUNHYUK, JANGAN HANYA DIAM" Donghae sudah kehilangan kontrol atas diriku, ditanggkup pipi Eunhyuk kasar, dan dapat ia lihat air mata itu mengalir membasahi pipi Eunhyuk.
"I..iya.. hiks...hiks...Hae hiks.."
"KENAPA KAU MENERIMANYA, KAU MENYUKAI LAKI-LAKI ITU, APA KAU SUDAH BOSAN HIDUP SUSAH DENGANKU? " Donghae mendorong pelan tubuh Hyukkie hingga terjatuh, namun karena beling yang masih berserakan dilantai beling itu menusuk tangan Hyukkie.
"Aww... sakit..." darah, Hyukkie berdarah dan itu karena Donghae
"Hyukkie...ma..maaf..kan aku, sungguh aku tidak sengaja" Donghae merasa menjadi laki-laki bodoh, melukai istrinya sendiri karena egonya
Hyukkie menepis tangan Donghae, tidak kasar namun itu menyakitkan. Dicabutnya beling yang menancap ditangannya
"Aargh..."darah itu semakin banyak mengalir
"Hyukkie, sudah hentikan. Ayo kita kedokter" Donghae berusaha untuk menggenggam tangan Eunhyuk. Tapi lagi-lagi Hyukkie melepaskannya.
"Kau tidak suka hiks...memakan makanan inikan hiks..., biar aku buang hiks..." Eunhyuk berusaha menahan sakit sambil mengambil piring-piring makanan itu, ia berniat membuangnya ketempat sampah. Namun tenaga seolah terkurang, Eunhyuk jatuh dengan piring-piring yang ada ditangannya
Prang...
Luka ditangan Eunhyuk semakin terbuka lebar, Donghae yang tidak tahan lagi langsung memeluk Eunhyuk
"Maaf...maaf...maaf...maaf...maaf...Hyukkie" Donghae terus mengucapkan kata 'maaf' pada Hyukkie
" Kau boleh hiks...membentahku hiks...membuang semua makanan itu hiks...tapi jangan pernah meragukan cintaku. Hanya kau Hae" Donghae yang mendengar kalimat Eunhyuk barusan hanya bisa menangis, merutuki kebodohannya karena cemburu buta.
"Aku janji tidak akan melakukan itu lagi, maafkan aku chagi" Hyukkie hanya menganggukan kepalanya dalam pelukan Eunhyuk, tangannya melingkari tubuh Donghae tanpa peduli luka ditangannya dan baju Donghae yang akan basah karena darah.
.
.
.
Hari ini terpaksa aku meninggalkan Busan dan kembali ke Seoul, perusahaan sudah mulai beroperasi dan mulai berkembang secara perlahan. Sebenarnya aku masih ingin disini, ingin mengetahui apakah rencana yang sudah aku susun berjalan dengan baik atau tidak. Tapi aku percaya pada kemampuan orang-orang suruhaku dan pasti tidak ada yang mengetahuinya. Semoga kita bisa bertemu lagi Eunhyuk, dan aku yakin dalam 'keadaan' yangberbeda dari sekarang aku akan mengunjungimu lagi jika ada waktu luang.
"Tuan, mobil anda sudah siap"
"Baiklah, terima kasih" akupun menaiki mobil yang akan membawaku ke Seoul
"Sampai jumpai Eunhyuk"
.
.
.
Disebuah perusahaan besar, terlihat sang penguasa sedang memberikan perintahnya kepada orang-orang suruhnya
"Jadi anak itu belum menyerah juga"
"Begitulah tuan, semua perusahaan juga tidak ada yang mau menerima tuan muda, hanya tempat makan kecil yang baru buka di daerah Busan itu yang tidak mempan dengan ancaman kita, jadi tuan muda sekarang bekerja disana"
"Semakin menarik, terus jalankan rencana kita"
Aku yakin rencana yang ini akan berhasil
"Kita lihat siapa yang akan menang Hae"
.
.
.
Setelah kejadian mengenaskan itu kini pasangan Donghae dan Eunhyuk terlihat semakin romantis. Donghae sudah bekerja ditempat makan kecil di daerah perumahan dikota Busan.
Sejak malam itu kami memutuskan tidak ada lagi rahasia sekecil apapun yang harus disembunyikan, semua akan dibicarakan bersama. Hari ini aku dan Hyukkie sedang berjalan dipusat kota Busan. Jalan-jalan terlihat ramai dengan kendaraan yang melintas
"Hae, aku mau ice criem" laki-laki sudah dewasa tapi kenapa kelakuannya seperti anak kecil dan sialnya aku terjebak akan sifat manja yang bagiku sangat manis itu
"Kau mau rasa apa chagi?"
"Rasa pisang ya Hae"
"Baiklah, kau tunggu disini ya" aku melihat diseberang sana ada yang menjual ice criem. Setelah bersaing dengan anak-anak kecil akhirnya aku mendapatkan ice criem yang dipesan oleh Hyukkie chagi.
Saat kembali ketempat dimana Hyukkie menunggu, aku melihat dia melambaikan tangan kearahku, sepertinya dia ingin menyusulku, pasti tidak sabaran dengan ice criem ditanganku ini
.
.
Saat mereka sudah hampir bertemu ditengah jalan yang sepi, tiba-tiba saja tanpa ada sebuah mobil yang tanpa diduga dengan kecepatan kencang menghantam tubuh salah satu dari mereka.
Brukkk...
"Hyukiiiiii..."
.
.
.
Saat ini Donghae sedang berada di intansi gawat darurat, dirinya kelihatan sangat kacau dengan air mata yang mengalir dan bibir yang tak berhenti menyebut nama 'Hyukkie'. Saat seorang dokter menghampiri Donghae untuk memberi kabar barulah Donghae sadar dari racauan tak jelasnya
"Bagaimana Hyukkie, dia tidak apa-apakan, sekarang dia dimana, lukanya bagaimana?" berbagai pertanyaan yang ingin diketahui jawabanya oleh Donghae
"Tuan Eunhyuk mengalami cedera kepala berat, saat ini pasien sedang menalami penurunan kesadaran,dan adap endarahan di tengkoraknya karena pembuluh darah duramater yang belum menutup" Begitu mendengar penjelasan dari dokter Donghae merasa tidak berada didunia lagi.
"Tuan harus tenang dan terus berdoa untuk keselamatan tuan Eunhyuk, saya permisi dulu"
Berdoa dan terus berharap untuk kesembuhan orang yang sekarang yang sedang dilakukan Donghae
"Tuhan jika Kau izinkan aku hidup bersamanya tolong sembuhkanlah dia untukku"
.
.
Sudah sembilan Eunhyuk menjalani perawatan, kesadarannya mulai membaik namun keadaanya masih memprihatinkan. Hyukkie selalu mengeluh sakit kepala, mual dan muntah, gangguan pergerakan. Hanya bedrest total yang bisa Hyukkie lakukan dan mengkonsumsi obat-obatan yang diberikan dokter.
Saat ini aku sedang membersihkan bekas muntahan Hyukkie, sekarang dia sudah tertidur.
"Chagi, sepatlah sembuh" kukecup keningnya yang masih terpasang perban karena luka yang ada dikepalanya.
Namun sepertinya ujian masih akan hubungan menghampiri hubungan kami.
"Permisi tuan Donghae, anda harus segera melunasi biaya perawatan tuan Eunhyuk. Ini sudah lewat dari ketentuan yang rumah sakit tetapkan" perawat Jung memberi tau ku agar aku segera melunasi biaya rumah sakit, sedangkan aku saat ini tidak memiliki uang.
"Tolong beri saya waktu sedikit lagi, saya belum punya uang"
"Maaf tuan, kami hanya menjalankan tugas saja. kami memberi waktu sampai besok jika besok belum terlunasi terpaksa kami harus menghentikan perawatan tuan Eunhyuk.
Aku tidak mungkin menghentikan perawatan Hyukkie, keadaannya masih belum stabil. Bagaimana ini.
.
.
.
Aku mencoba meminta bantuan kepada orang-orang yang kukenal, namun hasilnya nihil. Tidak ada satupun dari mereka yang bisa membantuku. Bayangan Hyukkie yang sedang sakit membuat aku tidak bisa berpikir jernih
"Aku harus bagaimana"
Umma, ya aku harus meminta tolong pada umma. tidak ada jalan lain lagi. Aku harap umma mau membantuku. Biarlah aku merendahkan harga diriku demi kesembuhan Hyukkie.
.
.
.
Donghae dengan terpaksa harus menjilat ludahnya sendiri dengan meminta pertolongan kepada keluarganya, padahal dulu sewaktu ia pergi dari rumah ia sudah berjanji untuk tidak melibatkan keluarganya lagi.
"Halo" sapa seorang wanita yang sedang menerima telpon dari seseorang
"Halo umma"
"Hae, ini kau nak?"Betapa senangnya wanita ini mendengar suara anaknya yang sudah lama tidak dilihatnya
"Umma, aku butuh pertolongan umma. aku sedang dalam kesulitan" ibu mana yang tidak khawatir mendengar anaknya dalam kesulitan. Apapun pasti akan dilakukan seorang ibu untuk menolong anaknya
"Apa Hae? umma akan bantu Hae. Sekarang Hae dimana?"
Dan pembicaraan antara anak dan ibu ini terus berlangsung tanpa tau ada seorang yang tersenyum saat mendengar hal tersebut
"Sesuai dengan rencanaku"
.
.
.
Saat ini aku sedang berusaha menyuapi Hyukkie bubur yang aku masak sendiri, Hyukkie bilang masakan dari rumah sakit tidak enak.
"Hae sudah, kepalaku sakit" ini sudah hari kesebelas Hyukkie dirawat. Wajahnya masih terlihat pucat dan masih sering mengeluh sakit kepala.
"Ya sudah, sekarang kau tidur saja biar sakitnya hilang" ku elus rambut hitamnya dan ku nyanyikan lagu penghantar tidur untuknya.
.
.
Hari ini aku sudah membuat janji dengan umma untuk bertemu dicafe dekat rumah sakit. Sudah satu jam aku menunggu namun umma belum juga datang. Aku takut saat aku tidak ada Hyukkie terbangun dari tidurnya.
"Lama tidak bertemu Hae"
Deg...
Suara ini...suara appa
"Appa" aku ssangat terkejut melihat appa sedang berdiri dihadapanku. Kemana umma, bukankah hanya umma saja yang mengetahui aku berada.
"Hanya ini sambutan untuk appamu yang sudah lama tidak bertemu?" appa memang tersenyum saat mengatakan itu, namun aku tau itu adalah senyum mengejek untuk keterpurukanku.
"Apa yang sedang appa lakukan disini, aku tau ini bukan hak kebetulan saja" aku sedang tidak ingin berbasa basi dengan appa.
"Aku memang sengaja untuk menemui disini, aku dengar dari ummamu kau sedang kesulitan biaya. Jadi aku berniat untuk membantumu" benarkah yang kudengar ini, appa ingin membantuku.
"Benarkah? Appa ingin membantuku?"
"Tentu saja Hae" aku sungguh senang, seperti menemukan air digurun pasir yang gersang
"Berapa biaya yang kau butuhkan"
"2 juta Won" terlihat appa yang mengeluarkan uang dari dompetnya
"Ini uang yang kau butuhkan, sekarang cepat kau gunakan dengan baik"
"Terima kasih appa" setelah menerima uang tersebut langsung saja aku menuju rumah sakit untuk melunasi uang administrasi rumah sakit Hyukkie.
.
Donghae langsung meninggalkan appanya, dia sangat terburu-buru sampai tidak mendengar apa yang diucapkan oleh ayahnya.
"Permata akan kembali ke tempat yang semestinya"
.
.
.
"Hyukkie, kata dokter beberapa hari lagi kau bisa pulang chagi. Setelah ini kita akan jalan-jalan, piknik, pokoknya kita akan bersenang-senang. Kau cepat sembuh ya"
Saat ini Hyukkie sedang tertidur setelah meminum obat, kugenggam tangannya yang terbebas dari infus. Entah kenapa aku ingin selalu berada didekatnya, aku tidak ingin berada jauh darinya.
Kriett...
Ku lihat siapa yang datang kekamar rawat Hyukkie, tadinya aku kira perawat atau dokter yang datang, ternyata yang masuk adalah appaku. Apa appa kemari untuk menjenguk Hyukkie. Mungkin appa sudah berubah pikiran dan bisa merestui kami, jika itu terjadi aku akan jadi orang paling bahagia didunia.
"Appa" kulihat wajah appa yang datar saat menatapku
"Jadi ini laki-laki yang membuatmu pergi meninggalkan keluargamu dan memilih hidup serba kekurangan dari pada hidup mewah" entah hanya perasaanku saja atau perkataan appa tadi terdengar seperti melecehkan Hyukkie
"Namanya Eunhyuk appa"
"Aku tidak bertanya namanya dan aku datang kesini bukan untuk mengetahui tentang dirinya" aku cukup terkejut mengdengar appa yang berbicara keras
"Appa sebaiknya kita bicara diluar saja" aku mengajak appa keluar, aku tidak ingin Hyukkie terbangun karena keributan kami
"Langsung saja ke intinya Hae, appa sudah membantumu membayar biaya perawat laki-laki itu dan sebagai imbalannya kau harus tinggalkan laki-laki itu"
Apa, meninggalkan Hyukkie? Itu tidak mungkin, sudah sejauh ini perjuangan kami dan aku sudah berjanji tidak akan pernah lagi meninggalkan Hyukkie
"Aku tidak bisa"
"Aku tidak menerima penolakan Hae"
"Aku tidak akan meninggalkan nya appa, jika semua karena biaya yang telah appa keluarkan aku akan berusaha untuk mengembalikannya"
"Bukan masalah biaya, aku sudah tau seperti apa masa lalu dari laki-laki itu. Dia seorang pencuri kan dan kau sendiri pernah menjadi korbannya"
"Tapi itu hanya masa lalunya"
"Aku tidak perduli, dan ku ingatkan Hae, jika kau tidak meninggalkan dia maka aku pastikan bahwa dia akan mendekam dipenjara"
"Dia sudah berubah appa"
"Seorang pencuri tetaplah seorang pencuri dan sudah seharusnya dia mendekam dipenjara"
"APPA, TIDAK BISAKAH KAU MELEPASKAN KAMI" aku sudah tidak peduli lagi jika kami ada diarea rumah sakit, appa sungguh kejam.
"Aku tidak peduli, aku hanya ingin kau hidup dengan normal, dan itu bukan dengan hidup bersama dengan laki-laki gay sepertinya".
Setelah mengatakan Mr. Lee meninggalkan Donghae yang hanya bisa menatap kosong pada lantai rumah sakit. Pikirannya kosong, kebahagian sesaat yang baru dirasakannya serasa diambil paksa oleh takdir yang begitu kejam.
.
.
Hari yang ditetapkan oleh Mr. Lee pun datang. Beliau datang kembali ke rumah sakit untuk mendengar keputusan yang akan diambil Donghae.
"Sudah waktunya Hae, kau harus sudah mengambil keputusan. Pilih tinggalkan laki-laki itu atau laki-laki itu akan dipenjara" Mr. Lee berbicara dengan angkuhnya saat mendatangi Donghae di rumah sakit
"Aku akan meninggalkan Hyukkie" Donghae terpaksa mengambil keputusan itu, ia tidak ingin Hyukkie berada di tempat seperti itu, membayangkannya saja Donghae sudah takut.
"Bagus, itu adalah pilihan yang tepat untuk kau ambil, sekarang ayo kita pergi"
"Beri aku waktu sampai Hyukkie sembuh, setelah itu aku akan pulang sendiri" setelah mengatakan hal tersebut Donghae meninggalkan . air mata menjadi saksi betapa hancurnya hati Donghae, terpaksa meninggalkan orang yang dicintainya, mengingkari janjinya untuk yang kedua kalinya.
.
.
Kriett...
"Hae, kau dari mana?" ternyata Hyukkie sudah bangun
"Aku baru keluar mencari makanan, kau mau makan chagi?" sungguh aku tidak akan sanggup meninggalkan Hyukkie, meninggalkanya sama saja dengan mati
"Aku mau, tapi suapi lagi ya?"
"Tentu saja, aaaa..." maafkan aku Hyukkie, ini aku lakukan demi dirimu. Percayalah cintaku akan selalu bersamamu walaupun kita terpisah.
"Boleh aku menciummu chagi"
"Tentu saja, kenapa harus minta izin" wajah memerah ini, aku akan sangat merindukannya
Chu...
.
.
"APA, KENAPA BARU KAU BERI TAU AKU, DASAR BODOH"
Prang...
"Bagaimana dengan keadaan Eunhyuk?kenapa bisa jadi seperti ini"
Tbc...
Baru chapter ini aku ngetik sebanyak 4000 kata, mudah-mudahan teman-teman tidak bosan untuk membacanya.
Berasa kayak sinetron gak sih?
Aku seneng baca review dari temen2, bikin semangat aku ngetik. Aku ucapin terima kasih sama temen2 semua.
RieHaeHyuk, anchofishy, Bunnyminimi Cloudsomnia, Chwyn, harumisujatmiko, yayank jewelf, myfishychovy, namikaze, kyukyu, han gege, ressijewelll, minmi arakida.
Untuk yayang jewelf yang bilang aku kejam, rencananya aku bakal bikin Haehyuk cerai trus Eunhyuk nikah sama aku
Hehehehehehe (dijeburin jewels ke sumur)
Chap ini ditunggu review nya lagi, jka responnya positif aku lanjutin.
Apa part ini alurnya kecepetan, terlalu lambat atau gak jelas, ada kalimat yang rancu atau banyak typo?
Tolong berikan pendapat teman2, boleh kritik, saran atau ide.
Udah liat mv spy?
Akhir kata
Tolong reviewnya...
