Chapter 3: a gradge
Oh ya sebelumnya saia mengucapkan Marhaban Ya Ramadhan, Mohon maaf lahir dan Batin. Selamat menunaikan Ibadah Puasa ^^
Desclaimer: Tite Kubo
Pairing: IchiRuki
Rate: T
Genre: Adventure, Hurt/Comfort, Supernatural, dan lainnya.
Warning: OOC, AU, Typo(s), gaje, bahasa ancur,dll. Disini Ichigo dkk masih kecil masih belum remaja ataupun dewasa, jadi jangan bingung yaa ^^
"Mohon maaf kalau ada kesamaan dalam alur maupun situasi yang terjadi dalam cerita
"Love in Heart defeat of evil"
Don't like don't read
;;
;;
;;
Langit mendung menumpahkan air matanya, seolah-olah ikut menangisi kepergian orang yang paling berarti bagi bocah yang kini tengah memandang sendu kedua batu nisan yang baru saja tertancap di tanah.
" Ichi… ayo kita pulang," bujuk seorang gadis sambil menyentuh pundak Ichigo.
"…"
Karena tidak mendapat jawaban, gadis itu pun mencoba memanggilnya sekali lagi, "Ichigo…!"
"…"
"Ichi…"
"Pulanglah Rukia, aku tidak apa-apa… aku masih ingin di sini…"
"Tap…"
"Sudahlahlah Rukia-chan, lebih baik kita biarkan Ichigo di sini… kita pulang duluan saja, kau juga butuh istirahat Rukia-chan," kata Ashido mencoba membujuk Rukia yang merasa sedih dengan keadaan Ichigo saat ini. Mau tidak mau Rukia pun mengikuti Ashido pulang, membiarkan Ichigo yang masih menatap sendu batu nisan kedua orang tuanya.
Suasana di pemakaman sudah sepi, saat ini hanya ada seorang bocah yang masih berdiri di depan kedua batu nisan orang tuanya, ditemani hujan yang turun dengan derasnya.
"…"
"Kaa-san… Tou-san..." ucapnya lirih, kejadian tadi malam masih berbekas diingatannya. Kejadian dimana orang-orang yang disayanginya tewas di depan matanya.
Flashback
Ichigo yang saat itu masih tertidur merasa terkejut saat melihat Rukia tidak ada di sampingnya, keterkejutannya semakin bertambah besar saat mendengar teriakan Rukia. Dengan cepat dia pun keluar dari kamarnya. Mata ambernya melebar saat melihat pemandangan yang ada di depan matanya.
"Ka-san! Tou-san! Rukia!"
Ichigo histeris melihat kedaan kedua orang tuanya dan Rukia. Ayahnya yang sudah berlumuran darah berusaha melawan sekelompok orang-orang berpakaian serba hitam, Ibunya terbaring tak bernyawa, dan Rukia yang meringkuk di sebelah ibunya dengan keadaan tangan yang terluka.
Ichigo berusaha mendekati Rukia dan ibunya. Rukia yang menyadari Ichigo berjalan kearahnya berusaha memperingati Ichigo agar tidak mendekat. Namun mata violetnya langsung melebar ketika melihat seseorang berpakaian hitam berusaha menebas Ichigo dari belakang.
"ICHIGO…! AWAS DI BELAKANGMU!"
Terlambat, Ichigo sudah tidak bisa menghindar lagi dari serangan pria berpakaian hitam itu. Ichigo hanya menutup matanya, beberapa detik kemudian Ichigo tidak merasakan sakit. Hangat, itulah yang dirasakannya , seperti sedang berada dalam pelukan, dengan gugup Ichigo membuka matanya, mata ambernya semakin melebar saat melihat ayahnya berada di hadapannya dengan pedang yang menancap di punggungnya.
"TOU-SAN!"
;;
;;
"Kau… Ugh… baik-baik sa…ja Ichigo?"
"Tou-san…"
"Larilah… Ichigo… bawa Rukia pergi…berjanjilah kalau kau akan… uhuk… menjaga Rukia… uhuk.. berjan...jilah Ichigo…"
"Tou-san… Tou-san kuat kan? Tou-san dan kaa-san pasti akan selamat," kata Ichigo sambil menahan air matanya yang sejak tadi hampir keluar. Isshin menggeleng lemah, "Tidak Ichigo… ugh… kaa-sanmu sudah pergi sejak tadi, dan… uhuk…uhuk… tou-san juga akan menyusul kaa-san dan adik-adikmu Ichigo… uhuk…"
"Kalau begitu biarkan Ichigo ikut kaa-san, tou-san dan adik-adik Ichigo, tou-san..."
"Ti-tidak!… kau...tidak boleh ikut tou-san dan ka… uhuk… san, kau harus menjaga Rukia-chan…kau mengerti Ichigo?" sambil menangis Ichigo hanya mengangguk.
"Cih! Drama yang menyedihkan!" desis seorang pria sambil menendang Isshin.
"TOU-SAN!"
"Jangan mendekat Ichigo! Cepat kau pergi dan bawa pergi Rukia!"
"Ta-tapi…"
"Turuti permintaan terakhir ayahmu ini Ichigo!"
"Ckckck… kau sangat menyedihkan Isshin… seharusnya kau serahkan saja gadis itu pada kami… maka semua ini tidak akan terjadi padamu, istrimu dan mantan anakmu!"
"Diam kau!"
"Tuan… beberapa shinigami sedang mengarah ke sini."
"Cih! Menyusahkan saja, ayo kita kembali!"
"Baik tuan! Semua ayo kita kembali!"
Dengan satu kata perintah dari segerombolan pakaian hitam itu, mereka semua hilang meninggalkan keadaan rumah yang telah berantakan.
;;
;;
"Tou-san…"
"Ugh… maafkan kaa-san dan… tou-sanmu ini Ichigo, karena kami… tidak bisa merawatmu dan Rukia-chan sampai kalian tumbuh dewasa… jangan menangis Ichigo, kau anak kuat, kau… pas… ugh… kau pasti kuat menghadapi ini semua Ichigo… sela…mat... ting…gal."
"Tou-san… Tou-san! Tou-san bangun! Tidak… TOU-SAAANN!"
End of Flashback
"Maafkan Ichigo, Tou-san… kaa-san… Ichigo tidak bisa untuk tidak menangisi kepergian Kaa-san, tou-san dan calon adi-adik Ichigo…" ucapnya lirih.
"Kaa-san… Tou-san… Ichigo ingin ikut kalian…tapi, Ichi tidak tega meninggalkan Rukia sendirian." bocah malang itu mulai sesegukan.
"Ke-kenapa tou-san dan ka-san harus meninggalkan Ichigo sekarang? Kenapa?" Bocah kecil itu menangis menumpahkan apa yang sejak tadi ditahannya, bocah orange itu menangis dengan ditemani guyuran hujan.
;;
;;
"Hm… begitu… jadi kalian hanya berhasil membunuh Masaki dan Isshin?"
"Benar tuan… maafkan kami karena sudah lalai dalam menjalankan tugas," kata pria berambut silver sambil menunduk.
"Hm… tidak apa-apa Gin, justru dengan ini rencana kita akan berjalan dengan lancar." Pria yang duduk di singgasananya itu menyeringai," untuk malam ini aku yang akan ambil alih."
;;
;;
Seorang bocah berambut orange duduk menyendiri di sebuah batang pohon, memandang langit malam dengan tatapan sendu.
"Ashido-senpai… apa tidak apa-apa kalau Ichigo-kun kita biarkan biarkan sendiri di luar?" tanya Inoue.
"Kita biarkan saja dia sedirian kau tau kan sifat Ichigo kalau dia sedang sedih? lebih baik kita hibur Ruki-chan, dia terus-terusan menyalahkan dirinya sendiri."
"Baiklah Ashido-senpai." mereka pun masuk kedalam rumah untuk menemui Rukia.
Sedangkan Ichigo yang sejak tadi mendengar pembicaraan Ashido dan Inoue hanya diam, dia merasa bersalah karena sudah membuat Rukia sedih.
"Maafkan aku Rukia, aku tidak bisa menunjukkan sikap menyedihkanku kepadamu."
"Fufufu…"
Ichigo terkejut mendengar suara tawa di sekitar tempat dia berada, "Siapa di sana?"
Seorang pria berpakaian putih dengan rambut coklatya keluar dari balik pohon. "Aku… Aizen… Ikutlah denganku Ichigo."
"A-apa maksudmu? Kenapa aku harus ikut denganmu?"
"Untuk membuatmu menjadi kuat!"
"Kuat?" Aizen menyeringai melihat wajah polos Ichigo, "Benar Ichigo, kau harus menjadi kuat untuk membalaskan semua dendam orang tuamu Ichigo!" mata Ichigo melebar mendengar kata 'balas dendam'.
"Balas dendam? Balas dendam kepada siapa?"
"Kepada para Shinigami dan… Kuchiki Rukia," bisik Aizen.
"Rukia? Kenapa harus Rukia? Dan apa hubungannya para Shinigami dengan apa yang terjadi dengan Tou-san dan kaa-san malam itu?" Ichigo masih tidak mengerti dengan perkataan Aizen, Ichigo masih belum bisa menyerap apa-apa.
"Aku tau kau termasuk bocah yang pandai Ichigo, jadi aku akan mengatakan hubungan Shinigami dan Kuchiki Rukia dengan kematian kedua orang tuamu!"
"Kau tau, jika saja malam itu para shinigami bisa lebih cepat datang ke rumahmu, maka saat ini kedua orang tuamu akan selamat dan jika Kuchiki Rukia tidak ada dalam keluargamu, maka saat ini kau akan hidup bahagia dengan tou-san, kaa-san dan calon adikmu!"
Ichigo masih menyerap apa yang dimaksud dengan Aizen, setelah otak cerdasnya bisa menangkap maksud dari perkataan Aizen, Ichigo langsung menggelengkan kepalanya, "Tidak! Tidak mungkin… tidak mungkin Rukia…"
"Benar Ichigo, malam itu, kalau saja kaa-sanmu tidak melindungi Rukia, maka kaa-sanmu akan selamat tapi, karena kaa-sanmu melindungi Rukia dengan tubuhnya saat melihat Rukia, maka kaa-sanmu tidak akan terbunuh."
"Tidak! Kau bohong! Aku tidak percaya denganmu!"
"Fufu… apa kau tau apa yang diicar pria berpakaian hitam itu?" Ichigo hanya menggeleng.
"Kuchiki… Rukia…"
DEG
"Kuchiki Rukia datang di tengah-tengah keluargamu menyebabkan keluargamu musnah, Kuchiki Rukia adalah pembawa bencana untukmu! Kau harus membalas dendam pada Kuchiki Rukia karena dia sudah menghancurkan kebahagiaanmu." Aizen menyeringai melihat Ichigo diam, sepertinya Ichigo membenarkan kata-kata Aizen.
"Ikutlah denganku buang perasaan sayangmu pada Rukia, ubahlah perasaan itu menjadi perasaan benci kepadannya. Bagaimana Ichigo?
"…"
"Keh, apa kau tidak mau? Baiklah, aku akan memberikanmu waktu, besok malam aku akan menemuimu, jika kau ingin menemuiku lebih cepat, kau hanya harus memanggil namaku," Aizen berbalik pergi, meninggalkan Ichigo yang hanya berdiam diri.
;;
;;
"Ichigo…" sapa Rukia saat melihat Ichigo memasuki rumahnya, Ichigo hanya melihat Rukia, ucapan Aizen terus terngiang di kepala Ichigo, "Maaf Rukia, bisakah kau tidak menemuiku untuk sementara?"
"Ichi…" Rukia hanya menatap sendu punggung kecil Ichigo. 'Bahkan sekarang kau tidak menatap mataku Ichi'.
'Maafkan aku Rukia, ucapan orang itu menumbuhkan rasa sakit di dadaku'. Ichigo masuk ke kamarnya merebahkan tubuh kecilnya, samar-samar dia mengingat kehangatan saat bersama dengan kedua orang tuanya, tapi sekarang dia tidak bisa merasakan kehangatan itu lagi.
"Semua karena Kuchiki Rukia, jika saja dia tidak hadir di tengah-tengah keluargamu, kau pasti masih bisa merasakan kebahagiaan bersama kedua orang tuamu!" lagi, ucapan itu masih terngiang, Ichigo bangkit dari tempat tidurnya, ia keluar dari kamarnya. Matanya melihat Rukia yang sedang tertidur di sofa, melihatnya membuat hatinya sakit. Ichigo tidak ingin percayanamun dia juga membenarkan perkataan pria itu.
Dengan pelan Ichigo mendekati Rukia, hatinya sakit saat menyadari apa yang terjadi pada keluarganya disebabkan oleh kedatangan Rukia. Ichigo pergi melewati Rukia. Kakinya membawa dirinya ke tempat saat dirinya bertemu dengan orang yang bernama Aizen.
"Tuan Aizen…"
"Keh, cepat sekali?" Aizen muncul di depan Ichigo.
'Cepat sekali?' kata Ichigo dalam hatinya.
"Aku… Ingin ikut dengan Tuan Aizen." Aizen menyeringai, dengan tenang Aizen mengulurkan tangannya ke arah Ichigo.
"Dengan ini kau harus berbakti padaku! Apa kau mengerti?" Ichigo hanya mengangguk dan menerima uluran tangan Aizen, mulai saat ini Ichigo akan menjadi kuat, menjadi kuat untuk membunuh Kuchiki Rukia, melupakan janjinya yang pernah ia ucapkan dengan lantang.
;;
;;
"Ichigo!" Rukia terkisap dari tidurnya, dia bermimpi bahwa Ichigo pergi meninggalkannya, dengan cepat Rukia membuka kamar Ichigo, kosong. "Ichigo!" Rukia berlari mencari Ichigo namun ia tidak menemukan Ichigo. Ichigo menghilang, meninggalkannya sendiri di rumah yang sepi, meninggalkan Rukia yang masih kecil.
"Hiks… Ichigo… Kaa-san, Tou-san… aku sendirian lagi, Hiks…" Rukia menangis, menangisi kesedihannya karena sekarang dia benar-benar sendirian.
11 tahun kemudian
TRANG! TRANG!
Bunyi gesekan pendang semakin terdengar saat kedua orang yang saat ini sedang bertarung sudah mencapai klimaksnya. Seorang lelaki dengan rambut Orangenya yang berkibar mengarahkan pedangnya ke arah leher pria berambut Biru.
"Cukup! Kalian berdua istirahatlah!" titah pria berambut coklat.
"Cih, kalau saja tuan Aizen tidak menghentikannya mungkin kau sudah mati jeruk!" kata pria berambut biru.
"Heh. Begitukah? Bukannya kau yang hampir saja mati di tanganku Grimmjow!" ucapnya dengan nada dingin yang angkuh.
"Kau!"
"Hentikan Grimmjow!... Ichigo kemampuan pedangmu sudah meningkat, setelah ini apa yang akan kau lakukan?"
"Aku akan kembali ke Soul Society, kemudian… balas dendam kepada Kuchiki Rukia…" ucapnya dengan tegas, kebencian terpancar di matanya saat menyebut nama Rukia. Aizen tersenyum misterius, ternyata hasutan yang diberikannya kepada Ichigo sejak dia bocah membuat Ichigo dipenuhi dengan dendam kepada para shinigami Soul Society dan tentu saja Kuchiki Rukia.
"Keh, memangnya kau bisa membunuh wanita itu?" sindir Grimmjow.
"…"
"Kau tidak mungkin bisa membunuh wanita itu! Lebih baik aku yang membunuh wanita it…" ucapan Grimmjow terpotong saat merasakan sebilah pisau menyentuh lehernya.
"Mencoba menyentuhnya kau akan mati…"
Grimmjow menyeringai, "Kenapa? Kau masih menyukainya? Cih!"
Mendengar perkataan Grimmjow, Ichigo semakin menekankan pedangnya ke leher Grimmjow, para Arrancar yang melihat adegan kedua orang yang selalu bertengkar itu hanya diam.
"Turunkan pedangmu itu Ichigo!" Ichigo menurut, Ichigo memang selalu menuruti semua perintah yang dikatakan Aizen.
"…"
"Kau akan membunuh Kuchiki Rukia kan, Ichigo?"
"Tentu saja Tuan Aizen, aku ingin Rukia menderita dan itu terjadi hanya boleh di tanganku! Karena itu kumohon tuan Aizen menyerahkan urusan Rukia hanya kepadaku… dan jika ada yang berani menyentuh Rukia, aku akan membunuh orang itu, bolehkan tuan Aizen?"
"… Ya, lakukan apa yang ingin kau lakukan. Kapan kau akan kembali ke Soul Society?"
"Malam ini."
'Malam ini aku akan kembali bertemu denganmu Rukia'
;;
;;
"Rukia-chan… cepatlah… kita harus menemui Uraharaa-sensei" teriak gadis cantik yang memiliki rambut Orange kecoklatan.
"Iyaa! Aku tau…" seorang gadis mungil yang manis keluar dari rumah dengan kimono ungunya.
"kau manis sekali Rukia-chan."
"Haha… kau juga manis cantik sekali Inoue-chan."
"Rukia-chan tidak usah memuji seperti itu, ahh itu yang lainnya ayo Rukia-chan!"
"Iya…"
"Kya… Rukia-chan manis sekali…" teriak Rangiku.
"Haha… Rukia-chan memang sudah manis sejak dulu Rangiku-san." Puji Ashido.
Mendengar pujian dari teman-temannya membuat Rukia tersipu malu, "Nah karena Rukia-chan dan Inoue-chan sudah datang, ayo kita berangkat ke rumah Urahara-sensei, Renji dan yang lain sudah lebih dulu kesana."
"Ayo Rukia-chan…" ajak Ashido.
"Hm…"
Malam ini di rumah Kisuke Urahara sedang diadakan pesta tahun baru,'Sudah sebelas tahun.'
Rukia ingat hari ini, Rukia selalu ingat, ini adalah hari dinama Ichigo pergi menghilangkannya, selama 5 tahun Rukia terus bersedih namun karena dukungan dan semangat dari teman-temannya, Rukia bisa bangkit. Rukia tidak akan menangis lagi, Rukia akan menjadi kuat agar saat bertemu Ichigo dirinya tidak akan malu.
"Terimakasih Ashido-senpai,"
"Hm? Untuk apa?"
"Untuk semuanya, untuk semua kebaikan senpai selama 11 tahun ini." Ashido tersenyum gadis kecil yang dulu begitu rapuh kini menjadi gadis manis yang tegar.
"Kau tidak perlu berterimakasih Rukia-chan," ucap Ashido sambil menyentil jidat Rukia.
"Aw… apa yang senpai lakukan?" tanya Rukia sambil mengusap-usap jidatnya. Ashido dan Rukia tertawa bersama, namun mereka bingung saat melihat Inoue dan Rangiku yang terlihat sedang memandang seseorang dengan ekspresi terkejut luar biasa.
Melihat gelagat aneh kedua temannya Rukia dan Ashido mengikuti arah pandang kedua temannya, seorang pria dengan rambut orangenya sedang berdiri di depan mereka. Rukia yang mengetahui siapa orang itu membelalakan matanya.
"Ich…go"
;;
;;
;;
TBC
Waaa maaf saia telat apdet. Ini fic trpanjang yang pernah saia buat gomen klo c eritax kurang menarik, maklum masih newbie hehe…
Kayaknya fic" yg saia bikin g' ada yg bagusnya deh *nyadar diri -,-"… Ah gak masalah yang penting bisa bikin fic sesuai imajinasi saia XD okke balas Review dulu:
Metsfan101: hehe thanks ^^
Shizuku Kamae: halo juga Yoroshiku ne ^^, g' papa koq hehe, makasih pujian and sarannya, ini uadh apdet koq, review lagi yaa ^^
Nenk Rukiakate: hhee maaf yaa nenk-senpai *bungkuk* adegan itu adanya chap depan hehe. Ini uadah panjang belum?
Grey'Swee'Blue: hehe klo yang ini gimana? Udh panjang belom? Review lagi ya ^^
HikariNdychan: hehe ini udh apdet Ndychan XD review lagi yaa ^^
Yosh thanks buat yang udh review, sampai jumpa di caha selanjutnya yaa ^^
REVIEW PLEASE
