Truth of My Destiny

.

.

~ Sunny Narcieq February ~

Disclaimer: Gakuen Alice © Tachibana Higuchi

Truth of My Destiny © Sunny N. F.

Sekuel 'New World'

...

HOTARU IMAI

Di sebuah ibukota besar dan memiliki penduduk yang sangat banyak. Di sebuah jalan di mana para penduduk yang tidak bersalah sedang melewati jalan untuk pulang, kerja, dan sebagainya merasa tenang. Tetapi, tiba-tiba ada seorang laki-laki besar datang mengambil tas belanjaan ibu yang baru membeli sesuatu di pasar.

Sang ibu itu menyadari kalau tasnya di ambil paksa oleh orang yang tidak dikenalnya yang tengah berlari darinya. Sang ibu itu melihat laki-laki sudah pergi dan dia pun berteriak.

"PENCURI! Tolong! Ada pencuri mengambil tas saya!"

Semua kerumunan penduduk yang berjalan kaki dan di dalam pertokoan pun menghampiri ibu yang sudah menangis terisak-isak. Dia ingin sekali berlari, mengejar laki-laki itu yang sudah mengambil tasnya. Tetapi, kakinya tidak mau jalan karena sakit gemetarnya sang ibu.

"Biar aku yang mengambilnya, bibi!" kata anak kecil berusia 5 tahun, berambut hitam pendek, yang sekarang berlari mengejar laki-laki yang hampir menghilang.

Sang ibu dan para penduduk yang melihatnya merasa aneh melihat seorang bocah perempuan mau mengejar laki-laki pencuri itu.

Saat mereka masih menatap bocah perempuan tersebut, ada seorang laki-laki berambut biru memakai kacamata yang berusia 13 tahun, mendekati ibu dengan kekhawatiran.

"Apa Anda tidak apa-apa?" tanya anak laki-laki berusia 13 tahun itu.

Sang ibu itu melihat anak laki-laki itu. Dia sudah mengetahui, siapa laki-laki itu.

"Anda, Tuan Imai!?" tanya Ibu itu penuh keterkejutan. "Anak dari Tuan besar Mizt Imai?"

Laki-laki itu memiringkan kepalanya tidak menyangka kalau ada yang mengenalnya selain keluarganya. "Anda kenal saya?" tanya laki-laki bocah itu.

"Yah, saya kenal Anda, tuan Subaru!" Sang ibu tidak lagi menangis, melainkan bahagia melihat ada anak dari komandan ksatria yang telah menyelamatkan desanya dari suku kegelapan. "Anda adalah anak dari komandan ksatria yang saya selalu kagumi!"

"Benarkah?"

"Iya!"

Wajah bocah bernama Subaru berekspresi sedih. Saat dia mau menjauhi ibu itu, Subaru menyadari kalau adik perempuannya tidak ada di sampingnya.

"Hotaru!?" Subaru melirik ke kanan ke kiri, tapi tidak melihat sosok adiknya. "Hotaru! Kamu di mana?"

"Apakah Anda mencari seseorang?" tanya seorang laki-laki berusia 35 tahun tersebut.

"Iya! Adik saya! Adik saya hilang!" teriak Subaru histeris.

Semuanya pada khawatir dan membantu Subaru untuk mencari-cari adiknya.

Sang ibu yang mengagumi keluarga Imai tadi, memberanikan dirinya untuk mempernyatakan siapa sosok yang dicarinya itu.

"Apakah adik Anda itu... usianya 5 tahun, tuan Subaru?"

"Iya!" tegas Subaru, mengangguk menatap ibu itu.

Sudah tahu siapa dicarinya, ibu itu menyatakan lagi siapa yang dicari Subaru, " apakah rupanya perempuan berambut hitam pendek...?"

"Iya! Di mana dia, nyonya!?" Subaru menatap ibu itu tajam sambil memegang pergelangan tangan ibu, gemetar.

"Tadi... adik Anda mengejar pencuri yang mengambil tas saya... lalu..."

Ucapan sang ibu terpotong karena Subaru lari mengejar adiknya yang bernama Hotaru tadi ke arah di mana mereka menghilang. Ibu itu tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa pasrah dan berdoa semoga mereka akan baik-baik saja.

...

Sesosok bocah perempuan berusia lima tahun mengejar laki-laki yang dikiranya pencuri itu. Di saat masuk gang, Hotaru melompat ke dinding. Biarpun tubuhnya kecil, Hotaru sangat ringan dan lincah, itulah yang membuatnya sangat ingin menjadi komandan ksatria sama seperti kakek dan ayahnya.

Hotaru melompat dinding ke dinding lain, dia pun mendarat di depan pencuri itu. Pencuri itu menatapnya heran, kagum, aneh, juga bingung bercampur aduk melihat bocah sekecil itu bisa mengejarnya sampai di sini.

Hotaru berbalik. Mata ungunya yang bersinar, biarpun di balik gang gelap, tapi masih ada sinaran cahaya warna ungu di dalamnya menatap tajam pada sosok pencuri yang berjumlah hanya satu orang itu.

Hotaru melangkah maju, "kembalikan tas ibu itu!"

Pencuri itu pun melangkah mundur, tiga langkah, menggenggam erat tas yang dicurinya, "tidak... tidak akan pernah terjadi!"

"Kembalikan tas itu! Jika tidak..." Hotaru melangkah maju, dan ucapannya terpotong karena pencuri itu berteriak histeris.

"Ini semua gara-gara kalian! Jika kalian tidak semena-mena pada kami yang miskin!"

"Apa yang kamu bicarakan, bodoh!?"

"Apakah kamu tahu siapa pemilik dari tas ini!?"

"..." Hotaru tidak menjawab.

"Tidak tahu, ya? Tas ini milik ibu yang sudah membuang aku!"

Hotaru kaget sekaligus terkejut. Dia menghentikan langkahnya menuju pencuri itu yang sudah menangis dan berteriak histeris.

"Ini... adalah tas dari orang yang sudah kuanggap ibuku sendiri. Dia adalah ibuku yang sudah melahirkanku dan membesarkanku. Tetapi, sejak peristiwa perang itu... ayah dan adikku meninggal dunia karena menyelamatkanku... Di saat itu pula, ibuku membenciku gara-gara aku yang telah membunuh mereka... ibuku berubah drastis dan... dan... membuangku..."

Hotaru tidak bisa berkata apa-apa lagi. Biarpun usianya masih lima tahun, tapi otaknya seperti orang dewasa karena kakek dan kakaknya sudah mengajarkan dia cara mengerti lingkungannya.

"Makanya... aku sengaja mengambil tas ini... tas ibuku yang sudah melahirkanku... tas ibu yang paling aku cintai..."

Hotaru ingin mendekat. Tetapi, hal itu di halau oleh laki-laki berkaca mata berusia 13 tahun yang ingin sekali menghajar pencuri itu.

"Kamu! Kamu apakan adikku!" teriak Subaru mendorong tubuh pencuri itu ke dinding.

"Kakak! Hentikan!" teriak Hotaru melepaskan cengkraman kakaknya dari tubuh pencuri itu.

"Kenapa kamu bela dia, Hotaru!? Dia hampir mencelakaimu!"

"Tidak kakak! Dia tidak melakukan apa-apa padaku!"

"Benarkah itu?" Subaru melonggarkan cengkramannya dari tubuh pencuri itu setelah mendengar pengakuan adiknya.

Pencuri itu jatuh terduduk, Hotaru mendekatinya sambil berjongkok.

"Kamu tidak apa-apa?" tanya Hotaru, cemas.

Pencuri itu menganggukkan kepala.

Hotaru menatap kakaknya yang sedikit bingung. Dia mendekati kakaknya supaya tidak khawatir lagi. Subaru merasa aneh melihat tingkah adiknya, akhirnya membalas pelukan mungilnya.

"Jangan buat kakak khawatir lagi, Hotaru," Subaru mengusap-usap punggung adiknya, sayang.

"Iya, aku janji, kakak!" Hotaru juga menepuk punggung Subaru, sayang.

"Aku... aku... harus bagaimana? Jika aku mengembalikan tas ini padanya...? Pasti dia akan tambah benci padaku..." isak pencuri berambut panjang diikat, menundukkan kepalanya.

Hotaru dan Subaru melepaskan pelukannya. Mereka berdua menatap satu sama lain. Hotaru punya ide dan menyuruh kakaknya untuk membungkuk badannya sedikit, membisikkan sesuatu ke telinganya. Subaru terkejut, akhirnya setuju. Dia mendekati pencuri itu.

"Nama Anda siapa, pak?" tanya Subaru menepuk bahu pencuri itu.

"Fu... Fukutan..." jawab pencuri.

"Pak Fukutan, bagaimana kalau Anda tinggal bersama kami? Sebagai keluarga dan saudara?"

Laki-laki pencuri bernama Fukutan itu tidak tahu bagaimana mengendalikan perasaan sedihnya. Dia menangis terharu sambil memeluk tas milik ibunya itu.

Fukutan setuju. Akhirnya Subaru-lah yang mengembalikan tas ke pemilik aslinya. Tanpa diketahui sang ibu itu, Subaru hanya berbicara kalau pencurinya melarikan diri entah kemana, setelah meletakkan tasnya ke sebuah gang gelap. Subaru meminta maaf dan pamit untuk pulang agar tidak lagi ditanya-tanya hal yang bukan urusannya.

...

Hotaru yang sudah selesai makan, menemui ibunya yang berada di tempat ibadah sambil berdoa. Hotaru mendekatinya dan memeluk ibunya dari belakang. Ibunya kaget dan menatap anak perempuannya yang menutup wajahnya cantiknya ke punggung ibunya.

"Ada apa, sayang?" tanya ibunya, heran.

"Ibu... aku merasakan kalau aku ingin menjadi ksatria saja..." balas Hotaru terus memendamkan wajahnya ke punggung ibunya.

Ibunya terkejut. Sudah berapa cara agar Hotaru harus menjadi selayaknya orang normal atau menjadi seorang priest. Hal itu tidak bisa dilakukannya karena itu sudah menjadi takdirnya. Takdir di mana dia akan berperang, seperti layaknya sang ayah Hotaru dan Subaru yang gugur dalam tugas.

Ibu Hotaru menangis. Dia ingin Hotaru menjadi priest seperti dirinya. Tetapi, mengingat ayahnya yang merupakan kakek Hotaru dan Subaru yang telah menjadi ksatria terkenal di kerajaan Alice. Mau tidak mau, ibunya pun setuju pada keputusan Hotaru dengan berat hati.

"Baiklah, Hotaru... Jika itu maumu. Ibu tidak akan memaksamu lagi..." Ibunya melepaskan pelukan Hotaru dari belakang, berbalik menatap Hotaru, mengelus pipinya lembut, "tapi, kamu harus menjaga dirimu supaya kamu tidak apa-apa. Mengerti, sayang?"

Hotaru mengangguk. Kembali memeluk ibunya penuh kasih sayang.

Ibunya kembali menangis, tapi menangis dalam hati. Menangis untuk anaknya yang akan beranjak dewasa, yang akan melindungi kerajaan Alice, melindungi Raja mereka yang tidak tahu kemana anak Raja itu. Melindungi dari putri suku kegelapan. Melindungi semuanya sambil mempertaruhkan nyawa demi orang-orang yang di cintainya.

Subaru yang melihat ibu dan Hotaru terus berpelukan, hanya tersenyum pasrah. Iya, dia pun pasrah pada takdir sang adik yang lebih memilih menjadi ksatria daripada seorang priest. Akhirnya pun, Subaru lebih memilih menjadi priest, menggantikan sang ibu di sekolah Alice Royal Academy.

Yah, takdir Hotaru menjadi ksatria terhebat seperti kakek dan ayahnya. Takdir Subaru menjadi priest, seperti sang ibunya. Mereka berdua akan memegang takdir itu sampai perang ketiga dimulai, atau bisa di sebut perang terakhir.


EXTRA

MIKAN SAKURA and HOTARU IMAI

Hotaru yang sudah berusia sepuluh tahun berjalan-jalan ke luar, meninggalkan rumahnya di pagi itu untuk berlatih di lapangan sambil membawa pedang berwarna violet bening, pedang peninggalan ayahnya.

Di saat dia akan sampai di lapangan, dia melihat gadis kecil seumuran dengannya menari-nari sambil bernyanyi. Suaranya sangat indah, alunan melodi setiap lagu dinyanyikan gadis itu membuatnya terus menatapnya tidak berhenti.

Hotaru terus menatap gadis seusianya yang memiliki rambut panjang berwarna cokelat keemasan dan bola mata yang belum diperlihatkannya karena gadis kecil itu terus menutup matanya sambil bernyanyi.

Gadis kecil itu berhenti bernyanyi karena ada yang terus memperhatikannya. Dia membuka matanya, memandang sekalilingnya. Saat matanya tertuju ke gadis berambut hitam pendek seusianya, dia memiringkan kepalanya.

Wajahnya sangat tidak berekspresi. Tapi, ada kelembutan di dalamnya. Dengan penuh keberanian, gadis berambut panjang cokelat keemasan itu mendekati perempuan berambut hitam pendek ke puncak bukit.

Hotaru bisa melihat bola cokelat madu di dalam matanya saat gadis itu mendekatinya. Hotaru bisa melihat senyuman yang dihiasi di wajah cantiknya itu.

"Kamu siapa?" tanya gadis itu menghentikan tatapan Hotaru kepadanya.

Hotaru memalingkan wajahnya.

Gadis itu melihat ke tangan gadis rambut hitam itu. Yang dipegangnya sebuah pedang bening berwarna violet yang sangat cantik. Dia pun kembali menatap Hotaru.

"Kamu memiliki pedang bening berwarna violet? Itu sungguh cantik sama seperti pemiliknya!" gadis tersenyum gembira.

Mata Hotaru menatap gadis yang sudah tersenyum gembira. Senyuman menghangatkan hati. Sehingga Hotaru mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan gadis yang tidak diketahuinya itu.

"Namaku Hotaru. Senang berkenalan denganmu."

Gadis itu berhenti tersenyum. Dia melirik ke uluran tangan Hotaru kepadanya. Dia kembali tersenyum dan membalas uluran tangan Hotaru.

"Aku, Mikan. Senang juga berkenalan denganmu!"

Hotaru sudah mengetahui nama gadis itu. Namanya Mikan.

Mikan juga sudah mengetahui nama gadis berambut hitam pendek itu. Namanya Hotaru.

Inilah pertemuan antara calon ksatria Alice dan putri suku kegelapan. Pertemuan takdir mereka yang akan mengubah dunia lama menjadi dunia baru. Dan persahabatan mereka yang sungguh mendalam.

Apakah persahabatan mereka akan menghentikan Mikan menghancurkan kerajaan Alice? Apakah pertemuan takdir mereka akan mengubah perang terakhir?

Hanya waktu yang akan menentukannya.

...

Sunny Note's: Saya menambahkan cerita extra untuk pertemuan Mikan dan Hotaru biar hanya singkat saja. Asalkan kalian suka. Jika tidak suka tidak apa-apa... Saya tidak akan memaksa kalian kok.

Tolong tinggalkan review, kritik dan saran juga boleh.

Terima kasih untukmu, Amel! Telah mau menempatkan diri untuk RnR... hehehehe... Maaf, jika saya tidak bisa menemuimu, karena saya lagi sakit waktu itu. Tapi, saya senang padamu karena kamu mau membaca fict saya yang aneh ini (Ups! Tidak boleh menganggap cerita sendiri aneh! Tidak boleh!).

Terima kasih!

Love and Hug

Sunny N. F

Review... Please...