Chap 2 up, ayo dibaca lagi... hehehe

How To Be Something You Miss?

By Thyz Verbazend

Disclaimer : MK

.

.

.

Chapter 2 : This kind of feeling.

Cahaya matahari senja sudah menutupi sebagian selasar rumah sakit. Hinata dan Tenten sedang menikmati saat-saat istirahat mereka di salah satu meja kantin rumah sakit tersebut. Keduanya asyik berbincang mengenai pengalaman mereka setelah dua hari magang. Dari kejauhan terlihat Ino dengan wajah lesu datang menghampiri mereka.

"Hey guys..." Sapanya lemah, dia mengambil kursi di sebelah Tenten.

"Kenapa sih, masih sore kok udah loyo?" Tenten menyodorkan segelas teh yang memang sengaja sudah dipesan sebelumnya untuk Ino.

"Kalian musti tahu...!" Wajah Ino berubah serius lalu meneguk sedikit tehnya dan melanjutkan kembali.

"Barusan aku menghadapi pasien pankreatitis, terus dengan seenaknya Dokter Shika itu marah-marah cuman gara-gara gue lupa ganti popok pasien itu selama sejam." Ino merengut kesal.

"Hahaha, lagian sih, pake ada acara lupa ganti popok segala. Udah tau dokter shika tuh kalo udah nyangkut pasien bawelnya setengah mati." Tenten dan hinata tertawa mendengar pejelasan Ino yang memang mengundang tawa.

"Heran deh, aku pikir juga dulu Dokter Shika itu tipe pemalas and ogah-ogahan gitu orangnya. Eh taunya dia pinter and perfeksionis banget." Hinata menambahkan perkataan Tenten.

"Tapi dokter yang satu lagi itu bisunya minta ampuuun! Aku ampe gelagapan kemarin disuruh jagain pasien yang di kamar 103, tapi dia gak ngasih penjelasan apapun..." Ino kembali mengeluhkan Trainer-trainer baru mereka.

"Emang kayaknya dokter Neji itu dingin banget." Tenten menimpali lagi seperti biasa. Namun kali ini Hinata hanya diam saja, dia tahu betul bahwa sepupunya itu dulu bukanlah orang yang pendiam seperti sekarang. Dan dia cukup mengerti jelas apa penyebabnya.

"Eh ngomong-ngomong, hari ini kalian jaga malam lagi kan?" Hinata mangalihkan topik pembicaraan untuk menghindar sebelum Ino menanyakan pendapatnya mengenai Neji.

"Aku sih engga, kalo sakura iya. Kemarin giliranku udah abis kan?" Tenten menjawab pertanyaan Hinata sambil meneguk tehnya.

"Oh gitu, mmh..." Hinata melirik jam tangannya sejenak. "A-aku harus pergi dulu kayaknya, masih ada kerjaan di dalam." Hinata menatap kedua temannya menunggu jawaban.

"Aku ikut deh, aku juga masih harus ngecek pasien sekali lagi sebelum pulang." Tenten berdiri dari kursinya mengikuti Hinata. Mereka berpamitan pada Ino.

"Kita duluan ya, kamu gak apa-apa sendirian?" Tanya Tenten sebelum pergi.

"Oke, gapapa lagipula kerjaanku udah selesai kok." Ino tersenyum pada kedua temannya itu. Lalu mereka berdua menghilang dari pandangannya. Sedangkan Ino masih berkutat dengan biskuit dan tehnya sambil terlihat sedang melamunkan sesuatu. Entah apa yang sedang dilamunkannya, hanya dia, tuhan dan author yang tahu.

.

.

.

Neji keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk saja yang dililitkan pada pinggangnya, mempertontonkan perut dan dadanya yang terawat indah. Dia menuju ke lemari pakaian untuk menemukan beberapa piyamanya. Semenjak pernikahannya dengan Sakura kamar itu telah menjadi kamar mereka berdua, barang-barang Sakura pun sudah tersimpan semua di dalam kamar itu. Hanya saja sang pemilik yang satu lagi tak pernah memasukinya sekalipun atau lebih tepatnya belum sempat.

Saat memilih-milih pakaian yang terlipat, sesuatu terjatuh dari tumpukan pakaian Sakura. Begitu mata Neji melihat kebawah, terlihat sebuah buku bersampul daun kering yang disusun menutupi keseluruhan permukaannya. Diatasnya bertuliskan nama H. Sakura dengan tinta emas dan ada foto sang pemilik yang sedang tersenyum bahagia di bawah pohon bersama sosok Neji yang memeluknya dari belakang.

Neji belum pernah melihat buku itu, wajahnya tersenyum simpul melihat potret dirinya bersama sang istri yang diambil semasa mereka masih kuliah dulu. Tangannya meraih buku dan menaruhnya di meja samping tempat tidurnya. Dia berniat membuka buku itu, namun niatnya urung mengingat itu adalah barang pribadi istrinya.

Dia kembali menyibukkan dirinya memakaikan pakaian yang nyaman untuknya malam ini. Tiba-tiba tenggorokkannya terasa haus. Mungkin segelas jus dan biskuit akan terasa segar di malam seperti ini, pikirnya dalam hati.

Setelah mangambil jus dan sekotak biskuit dari dapur, dia kembali ke ruang tengah untuk menonton tv. Tangannya memencet-mencet remote selama beberapa kali, namun tak ada satupun acara yang dianggapnya menarik, biskuit dan jusnya pun sudah habis. Maka dia pun memutuskan untuk kembali ke kamar dan pergi tidur.

Begitu tiba di tempat tidurnya, dia kembali teringat akan buku yang ia temukan tadi. Dia terus merasa penasaran akan buku tersebut, maka ia pun meraihnya dari meja. Sesuatu perasaan sedikit menelisik ke dalam hatinya ketika ia melihat kembali foto yang tertempel disampul itu. Sudah lama sekali ia dan Sakura tak pernah tertawa sebahagia itu. Ia sangat merindukan sosok istrinya yang ceria seperti matahari yang menjadi semangatnya setiap hari. Namun yang dapat ia lihat hanyalah sebentuk wajah yang tak berekspresi sama sekali. Perasaan itu mulai mengusik dirinya kembali, perasaan bersalah dan menyesal yang selalu menghantuinya sepanjang malam.

Ditepisnya perasaan itu dan ia membuka sampul buku yang terbuat . Disana tertulis 'Miss Haruno, Hyuuga's Future Wife'. Ternyata buku itu merupakan buku harian milik Sakura yang tak pernah diperlihatkannya pada Neji. Rasa penasaran membawanya pada halaman pertama, tulisan Sakura yang rapih terlihat berjejer disana.

Hai diary ku,

Ini pertama kalinya aku menulis dalam diary ini, Karin memberikannya sebagai hadiah ulang tahunku. Katanya aku harus lebih banyak menulis agar kecerewetanku ini bisa sedikit tertanggulangi. Sungguh aneh pikirku, mana bisa mengurangi cerewet dengan menulis ya? Tapi tak apalah sedikit-sedikit untuk mengembangkan hobiku.

Oya kupikir aku harus memberimu sebuah nama, tapi aku belum tahu nama yang cocok. Mungkin aku akan memikirkannya dulu baik-baik. Kukira perkenalan hari ini cukup. Akan kulanjutkan lagi nanti.

Neji tak pernah berpikir wanita tomboy seperti Sakura mempunyai sebuah diary. Setahunya, yang biasa mencurahkan perasaan pada sebuah buku adalah tipe wanita rumahan yang feminim, cenderung pendiam dan lebih menggunakan perasaan dalam bertindak. Dan Sakura tidak termasuk dalam salah satunya, sosok yang selalu ia tunjukkan adalah seorang gadis yang periang, enerjik dan cenderung tomboy.

Rasa penasaran Neji menggelitiknya untuk membuka lembaran berikutnya, namu sepertinya ia lebih tunduk pada rasa lelah dan kantuk. Wajar saja, karena siang tadi dia menghabiskan waktu selama lima jam di kamar operasi untuk mengangkat tumor di perut seorang anak berusia enam tahun. Tanpa disadarinya matanya sudah terlelap dengan punggung dan kepala yang bersandar pada punggung tempat tidur. Sedangkan buku itu masih didekapnya dalam tidurnya.

.

.

.

"Ino tolong kamu pasangkan labu infus baru pada pasien ini." Neji yang sedang mencatat sesuatu dalam lembar rekam medisnya tiba-tiba menyuruh Ino yang sedang membersihkan tempat tidur pasien. Siang itu saat Ino mengecek keadaan pasien secara kebetulan saja Neji juga datang untuk mengecek pasien tersebut.

'Eh, gak salah denger ya, dokter itu ngomong? Kirain dia bisu...' pikir Ino bercanda dalam hatinya.

"Oh iya baik dok." Jawab Ino sigap dan langsung menuju ke lemari persediaan untuk mengambil peralatan yang dibutuhkan. Selama beberapa menit berikutnya di ruangan itu tercipta keheningan meskipun ada tiga orang yang berada di dalamnya. Masing-masing sibuk dengan pikiran dan tugasnya. Neji yang memperhatikan dan mencatat ini-itu, Ino yang tadi diperintahkan memasang labu infus baru dan tentu saja sang pasien sendiri yang sedang beristirahat dan menginginkan ketenangan sehingga tak perlu susah-susah mengajak ngobrol sang dokter.

"Bagaimana bu keadaannya hari ini? Apakah sakit di dadanya sudah baikan?" Neji bertanya pada pasien sambil menelusurkan ujung stetoskopnya pada dada pasien tersebut. Spontan saja Ino yang sedang serius dan tidak memperhatikan keadaan sekitar menjadi kaget dengan datangnya suara ramah sang dokter yang sedari tadi tak berekspresi sedikit pun. Saat Ino memperhatikan ke asal pemilik suara tersebut, dilihatnya sebuah senyum ramah dan lembut yang menghiasi wajah tampan yang selalu dingin itu. Ino tak pernah menyangka, ternyata dibalik sikapnya itu Neji masih menyimpan rasa kemanusiaan.

'Yaiyalah, dia kan bukan setan. Please' Ino merutuk dirinya sendiri atas kebodohan yang baru saja dipikirkannya. Selama ini dia sering mendengar bahwa setiap dokter harus bersikap sebaik mungkin di depan pasiennya agar dapat menjadi motivasi demi keberlangsungan cepatnya kesembuhan sang pasien. Seorang dokter harus mengesampingkan dahulu urusan pribadinya dan tidak membawa-bawa perasaannya di depan pasien, tapi belum pernah dia melihatnya secara langsung. Sampai akhirnya hari ini, dia benar-benar percaya kata-kata itu.

"Mmh, sepertinya sudah baikan dok, hanya tinggal sesaknya saja." Jawab pasien itu tersenyum, dia ikut terbawa akan suasana cerah yang ditampilkan Neji.

"Oh. Baguslah kalau begitu, cepat sembuh ya bu." Neji melepaskan stetoskopnya dan kembali tersenyum. Tapi begitu dia mengangkat kepalanya tak sengaja matanya menangkap Ino yang sedang menatap ke arahnya intens. Ino pun tak sempat mengalihkan pandangannya dari arah Neji. Sehingga yang ada dia langsung menundukkan kepalanya salah tingkah karena tertangkap basah oleh Neji.

"Ya? Ada apa Ino?" Tanya Neji bingung pada Ino yang sedari tadi memperhatikannya.

"Eh... err... tidak ada apa-apa... hehe, hanya iseng saja." Ino tersenyum-senyum gaje di depan neji dan terus mengedarkan pandangannya ke segala arah untuk menghindar dan menetralisir rasa malunya.

"Oh." Neji terlihat mengangkat sebelah alisnya karena bingung dengan jawaban Ino. Tapi dia tak ambil pusing dan langsung beranjak dari ruangan tersebut karena masih banyak pekerjaan lain yang tengah menunggunya. "Kamu kerjakan sisa tugas kamu, setelah itu baru boleh istirahat ya." Ucap Neji sebelum meninggalkannya. Jika Neji lebih memperhatikan, mungkin dia akan menemukan semburat merah yang sudah menghiasi pipi Ino.

Neji kembali ke ruangannya untuk menyelesaikan laporannya hari itu. Dia duduk di meja dan mulai menelaah satu per satu lembaran kertas yang ada di depannya, beberapa yang telah diperiksanya dia kumpulkan menjadi satu di sisi kanan meja. Saat akan merapikan pekerjaannya yang hampir selesai, matanya tersita oleh suatu benda yang berada tepat di sebelah laporan kerjanya. Benda itu adalah buku harian Sakura, dia sengaja membawanya ke rumah sakit untuk melanjutkan membacanya, namun pekerjaan yang menumpuk tidak memberinya waktu sedikit pun bahkan hanya untuk menyentuh buku itu.

Sekarang tugasnya sudah hampir selesai, dia berpikir tak ada salahnya jika menyempatkan beberapa menit beristirahat sebelum kembali bekerja.

Hai,

Kali kedua aku mengisi buku ini, hehe. Maaf ya telah meninggalkanmu lama. Habisnya tadi Karin bertanya apakah aku sudah mengisimu atau belum. Aku merasa bersalah karena belum menyentuhmu sama sekali. Jadi kuputuskan untuk mengisimu malam ini.

Aku bingung harus menulis apa dan memulainya dari mana? Ya sudah kalau begitu kuceritakan saja pengalamanku dari saat terakhir mengisimu. Dua bulan yang lalu aku sudah resmi lulus dari SMA dan sekarang aku sudah diterima menjadi seorang mahasiswa di Universitas yang sudah kuidamkan sejak dulu.

Senangnya ...! Dan lagipula di universitas ini ada klud teaternya, sehingga aku dan Karin bisa tetap mengikuti kegiatan klub seperti dulu. Hari ini adalah hari orientasi pertama klu teater, dan ada seorang kakak kelas yang sangat menyebalkan. Dia memarahiku habis-habisan gara-gara aku lupa membawa name tag-ku. Benar-benar menyebalkan, tapi yang membuatku semakin kesal lagi, Karin malah berpikir bahwa dia mempunyai wajah yang menawan. Semakin aneh saja hari ini.

Neji ingat bahwa hari pertama latihan klub drama adalah hari dimana pertama kalinya ia betemu dengan Sakura. Pada awalnya dia tak berniat untukmenjadi seorang kakak kelas yang galak pada masa orientasi klub drama. Akan tetapi begitu dia melihat sesosok gadis berambut merah muda mencolok diantara barisan para anggota baru, Neji langsung jatuh hati pada sosok itu. Dia berniat mengetahui siapa namanya hanya saja gadis itu lupa memakai name tag nya. Akhirnya dia pun pun berinisiatif untuk memarahinya agar bisa berkenalan dengan gadis itu.

Begitu mengetahui siapa nama gadis itu, dia segera mencari tahu tentangnya. Dari mulai nomor telepon, alamat, jurusan dan fakultas tempatnya belajar jugahal-hal kecil lainnya. Dia tak ingin melewatkan satu detail pun tentang Sakura.

Lembaran berikutnya mulai ia baca lagi, tanggal yang tertera disana berselang beberapa hari dari catatan sebelumnya.

Aku benci sekali pada lelaki itu! Hari ini dia mempermalukanku di depan semua teman-temanku...

Padahal aku kan hanya berniat baik.

.

.

...Flashback...

Sakura's POV

Hari ini adalah hari keempatku menjalani masa orientasi di klub ini. Setelah melewati 3 hari yang melelahkan yang lumayan melelahkan, semuanya akan cepat berakhir. Semoga saja di hari ini tidak lebih buruk dari hari-hari sebelumnya. Seperti biasa pada setiap pembukaan, acara akan dimulai dengan pemeriksaan barang-barang yang harus kami bawa dari rumah sebagai tugas. Tentu saja barang-barang tersebut disebutkan dengan kode agar kami tidak mudah menebaknya dan melakukan kesalahan. Karena kesalahan itulah yang sebenarnya diincar oleh senior.

Semua berjalan lancar sampai ketika kami diminta menunjukkan sebatang coklat yang harus kami bawa. Salah seorang anak di barisan depan kebetulan tidak membawanya, dia beralasan bahwa coklat itu menghilang karena dia ingat betul bahwa dia telah memasukkannya ke dalam tasnya. Beberapa senior sudah mulai mengerubungi anak itu seperti singa lapar menemukan kaming yang tersesat, wajahnya mulai terlihat ketakutan dan pucat mendengar bentakan-bentakan dari mereka. Mataku dan karin saling bertatapan, aku merasa iba padanya apalagi di dalam tas ku aku masih membawa satu batang coklat lagi.

Saat semakin tak tahan melihat anak itu terus dimarahi aku pun berniat untuk menolongnya. Sejenak aku melihat dulu keadaan sekeliling, mencari sosok lelaki tinggi berkulit putih dan berambut coklat panjang yang semenjak tiga hari ini terus menghantuiku. Entah mempunyai dendam apa terhadapku tapi yang selalu dimarahinya hanya aku. Setelah tidak menemukan sosok itu dimana pun akhirnya aku memberanikan diri untuk mengangkat tangan.

"Interupsi kak!" Kataku agak keras. Dan otomatis semua orang pun menengok ke arahku untuk melihat siapa anak baru yang lancang mengganggu kesenangan mereka.

"Hei kamu yang berambut Pink! Ada apa mengacungkan tangan?" Seorang senior perempuan bertanya padaku dengan wajah yang terlihat tak santai.

"A-anu, anak itu benar. Ta-tadi saya melihat coklatnya jatuh dan sa-saya yang menyimpannya, takutnya nanti dia mencarinya." Ucapku terbata sambil merogoh sebatang coklat dari tasku dan menunjukkannya pada senior yang tadi bertanya. Anak yang tadi melihat tak percaya padaku, tapi wajahnya menunjukan ekspresi berterima kasih. Wajah senior tadi kelihatan sangsi, dia menaikkan sebelah alisnya. Beberapa senior terlihat berpandangan mata, bingung bagaimana harus menentukan sikap. Namun tiba-tiba sebuah suara keras datang dari arah belakang.

"Bohong itu! Jangan percaya dia!" Aku sweatdrop seketika karena mengetahui betul pemilik suara tersebut. Bagaimana tidak? Jika suara yang sama terus memarahimu selama tiga hari ini, kau pasti akan mengenalinya tanpa perlu melihat wajah pemiliknya. Semua kembali melihat pada satu sosok, yang semakin lama semakin mendekatiku itu. Dia kini berdiri tepat di depanku, wajahnya sangat dingin. Aku hanya mampu menunduk tanpa mampu menatap matanya yang bagai menusuk-nusuk diriku itu. Mengapa dia bisa tiba-tiba muncul padahal sudah kupastikan tadi bahwa dia tak ada di sekitar sini.

"Jangan mencoba menjadi pahlawan." Ya ampun, nada bicaranya benar-benar mengintimidasiku! Aku harap sekarang ada malaikat yang akan menolongku, siapapun itu. Tapi nyatanya kami semua dalam posisi yang sama. Salah sedikit mungkin nasibnya akan berakhir jauh lebih buruk dariku. Mulutku seakan terkunci untuk mengucapkan kata-kata balasan

"Teman-temansepertinya kita perlu memberikan pelajaran pada gadis sok pahlawan ini." Matanya mengerling pada salah satu temannya. Dan temannya itu sedikit tersenyum.

Oh tuhaaaan! Cobaan apa lagi yang akan kau berikan padaku!

.

.

.

TBC

.

.

.

A/N:

Waduhh, setelah sekian lama saya tinggalkan fic-fic saya. Akhirnya saya bisa update juga. Mohon maaf sekali ya readers. Karena liburan sudah berakhir dan saya harus kembali ke dunia nyata yang penuh dengan tugas kuliah dan sebagainya saya baru sempat melanjutkan lagi fic ini.

Saya akan coba menyesuaikan diri dulu dengan keadaan, karena semester ini jadwal saya semakin padat. Mudah-mudahan chapter depan bisa publish lebih cepat dari chapter yang ini.

Dan lagi maaf untuk sekarang belum bisa balas review. Yah maklum sesudah ini masih ada tugas lagi. Ide awal cerita ini adalah dari kasus yang sedang saya pelajari di kelas dan ditambah dengan film cinta pertama yang juga pemeran utamanya mengalami keadaan yang sama dengan pasien pada kasus saya. Jadi saya ambil ide ceritanya sedikit dengan tambalan disana-sini tentunya. Bagi yang sudah menonton pasti mengerti dimana perbedaannya.

Mohon maaf untuk Ooc yang terdapat dalam fic ini. Karena perlu saya lakukan untk mempertahankan alur cerita. Yah memang sudah keterlaluan sih OOC nya.

Dan jangan lupa reviewnya, baik itu Concrit, flame atau apapun.

Semoga masih menunggu perkembangan berikutnya. Jangan lupa mampir ke fic saya yang lain ya.

-THYZ-