Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
Warning : OOC. Hints for HashiMada.
Chapter Two
Without The Moonlight
Entah sudah berapa pertempuran dilalui sejak pertemuan pertama mereka. Dan memang sudah takdir bagi kedua klan untuk saling membunuh di peperangan. Bunyi dentingan besi dari kunai menguasai malam. Suara ketika shuriken dilempar menjadi pertanda kewaspadaan masing-masing. Panas api dari jurus Uchiha membakar tanpa peduli lawannya, Senju.
Pertempuran ini bukan pertama kalinya sejak Hashirama menjadi pemimpin klan Senju setelah ayahnya meninggal. Perseteruan dengan Uchiha tak pernah lepas dari pikiran Hashirama. Terutama sejak pemimpin Uchiha menemuinya dahulu. Bertatap muka di peperangan sungguh berbeda dengan pertemuan pertama mereka dulu. Dan sekarang, masih sambil menghindari serangan lawan, Hashirama mengedarkan pandangan ke sekitar. Sudah cukup lama sejak pertempuran ini dimulai, tapi ia masih belum menemukan sosok yang tanpa sadar dicarinya. Seolah terbiasa, Hashirama menunggu pemimpin lawan untuk bertarung sebagaimana selama ini mereka lakukan. Karena yang bisa menghadapi kemampuan Hashirama, di Uchiha, hanya satu orang. Begitu juga sebaliknya.
Mata Hashirama bisa melihat pasukan Uchiha yang menggunakan sharingan. Mencari sang pemimpin lawan.
Trang!
Seseorang menyerangnya dari belakang, namun dengan sigap Hashirama menghentikan dengan pedang. Segera ia berbalik. Menghadapi sharingan yang bersinar menerima pantulan dari bulan. Wajah itu… Hashirama diam-diam bernafas lega melihatnya.
"Madara!" Bersamaan dengan menyebut nama orang yang dicarinya itu, Hashirama maju menyerang dengan pedangnya yang kembali ditahan oleh sang lawan. Ketika jarak mereka cukup dekat dan Hashirama bisa melihat jelas wajah lawan, ia menyadari ada sesuatu yang lain dari pemimpin Uchiha tersebut. Atau setidaknya orang yang ia kira Madara itu.
"Kau…" Hashirama tak menyembunyikan keterkejutan terhadap Uchiha tersebut. Uchiha berwajah hampir mirip dengan sang pemimpin itu berkata, "Sayang sekali, Hashirama-san."
Keduanya mengambil jarak. Uchiha yang mirip Madara membuat segel tangan dengan cepat lalu mengeluarkan api dari mulutnya. Jurus elemen api khas Uchiha. Hashirama membentuk segel tangan juga dan memunculkan kayu-kayu dari dalam tanah untuk menahan api tersebut. Setelahnya mereka kembali beradu pedang dengan kunai serta saling melempar shuriken dan bom kertas. Dalam jarak tertentu keduanya mengambil nafas. Tak melepaskan pandangan satu sama lain.
"Kau… adik Madara." Ia berkata ditengah nafasnya yang tersengal. "Izuna."
Diam sejenak sebelum menjawab, "Kehormatan bagiku karena anda mengetahui namaku."
"Dimana Madara?"
Izuna tak menjawab. Hashirama diam memikirkan reaksi Izuna. Sebelumnya ia tak pernah beradu senjata dengan Izuna karena selalu berhadapan dengan Madara selama ini. Sementara sekarang sang adik yang berhadapan dengan Hashirama. Hanya satu jawaban yang terlintas. "Dia tidak ikut perang kali ini?" Kesimpulan sekaligus pertanyaan tertuju pada si adik pemimpin Klan Uchiha. Izuna kembali mengangkat senjatanya dan hanya berkata sebelum kembali menyerang Hashirama, "Lawanmu adalah aku."
Itu membuktikan apa yang disimpulkan Hashirama barusan benar. Selagi bertarung dengan Izuna, keheranan menghantui. Pertanyaan 'kenapa' membayangi. Madara adalah pemimpin klan. Tapi kenapa dia tidak turun ke medan perang padahal selama ini tak pernah dia tidak menguasai bulan dengan matanya. Kenapa?
.
"Kau kembali, Izuna?" Madara duduk di teras kamar yang menghadap ke taman kecil. Ia berpakaian khas keluarga Uchiha. Pandangannya tak terfokus menghadap ke samping kiri dimana sang adik yang terbalut perban di beberapa bagian, duduk. Sama seperti Madara, Izuna juga mengenakan pakaian biasa Klan Uchiha. Ia menjawab, "Iya, Ani-ue."
Tangan Madara terangkat untuk menyentuh Izuna. Namun, pandangan yang mengabur membuatnya tak tahu jarak antara mereka sehingga Izuna dengan lembut memegang tangan sang kakak. Merasakan balutan perban di tangan Izuna, Madara menggerakan jari menyentuh bagian tubuh adiknya yang lain. Dari indera perasa, ia mengetahui adiknya terluka cukup banyak sehingga Madara mengerutkan alis. Menunjukkan kekesalan akan diri sendiri yang membuat sang adik terluka. Memang dalam peperangan pasti menimbulkan korban dan tidak mungkin menghindari serangan yang mengakibatkan luka. Madara tahu persis itu. Tapi… yang disesali Madara sekarang adalah dirinya tidak berguna.
"Maaf, Izuna," ucap Madara dengan nada berat.
"Tidak apa, Ani-ue," terdengar suara Izuna lembut tulus tidak menyalahkan sang kakak. Meski Madara tidak melihat, tapi ia yakin si adik sedang tersenyum ke arahnya. "Aku senang bisa membantu. Selama beberapa hari ke depan kita akan istirahat, jadi aku bisa mencari cara menyembuhkan ani-ue."
Madara terdiam mendengar rencana Izuna. Semakin ia mengutuki diri karena kehilangan penglihatan disaat masih sangat dibutuhkan. Begitu juga merutuki jurus yang mengakibatan kondisi begini, "Mangekyou Sharingan."
Air muka Izuna berubah. Mangekyou Sharingan. Jurus terhebat sharingan. Didapat jika membunuh orang terdekat si pengguna. Itulah yang dilakukan Madara dan Izuna sehingga mereka menjadi yang pertama menggunakan jurus itu dan mendapat nama besar sebagai petinggi Klan Uchiha. Tapi, tentu saja semakin kuat suatu jurus, semakin besar pengorbanan yang didapatkan si pengguna. "Aku tidak menyangka dampaknya akan sehebat ini," kata Izuna dengan wajah sendu.
"Ya," Madara menyetujui. "Kau jangan menggunakannya terlalu sering, Izuna. Aku tidak ingin kau seperti aku."
"Tidak akan. Aku akan menjadi mata ani-ue sampai penglihatanmu pulih."
Madara menepuk bahu Izuna, "Maaf merepotkanmu."
Izuna tersenyum lagi lalu berdiri, "Aku ambilkan makan malam dan obat."
Sang kakak mengangguk kemudian si adik pergi meninggalkan kakaknya sendirian duduk menikmati angin senja. Pikiran serta perasaan Madara berkecamuk. Dia adalah pemimpin klan. Dan tidak diragukan kemampuan sebagai prajurit ataupun pemimpin. Karena kehebatannya yang unik dari seluruh anggota klan membuat Madara bisa menjadi pemimpin sekarang. Ia menguasai jurus terhebat sharingan pun semuanya ia lakukan untuk melindungi Klan Uchiha. Karena dialah pemimpinnya. Ketua. Harus melindungi semua. Tapi sekarang, jangankan melihat medan perang, melihat tangan sendiri saja sudah tidak jelas. Kedua matanya semakin kehilangan cahaya. Menyeret penglihatan untuk menetap dalam kegelapan.
Madara masih tenggelam dalam kekesalan ketika didengarnya langkah kaki mendekati. Ia mengira, "Izuna?"
Langkah itu terhenti.
Kecurigaan menguasai. Karena tak lagi mengandalkan indra penglihatan, Madara sudah cukup terbiasa mendeteksi dengan indera yang lain. Dan langkah yang mendekatinya itu berbeda dengan langkah Izuna yang biasa. Sedangkan ini adalah daerah kamar pribadinya. Anggota Uchiha lain selain yang diizinkan tak akan memasuki. Hanya satu yang dipikirkannya.
"Madara."
Musuh.
Mendengar namanya dipanggil, Madara segera melempar shuriken yang disembunyikan dibalik pakaian ke sumber suara. Terdengar suara shuriken tertancap di tanah. Madara menajamkan lagi pendengaran untuk mengetahui posisi lawan dan berdiri siaga. Terasa perubahan arah angin dikulit dan ia segera menoleh ke belakang dimana arah angin barusan berubah. Terlambat. Lawan dibelakang sudah mengunci gerakan tangan Madara. Ia berkata, "Kau tidak bisa melihatku."
"Lalu?" Madara tidak kehilangan ketenangan ataupun panik sama sekali. Pemimpin Uchiha ini menendang kaki musuh sehingga kehilangan keseimbangan dan terpaksa melepas pegangannya dari Madara lalu mundur mengambil jarak aman. "Aku masih bisa menghadapimu—"
Suara yang menyebut namanya tadi, ia tahu siapa ini.
"—Hashirama."
Pemimpin klan Senju itu hanya diam memandangi Madara yang meneruskan berkata-kata dalam nada sindiran, "Hebat sekali kau bisa menyusup ke rumah kami sejauh ini, Hashirama."
"Tidak sehebat dirimu bisa mendekatiku tanpa terdeteksi dulu, Madara," tanggap Hashirama mengingatkan pertemuan pertama mereka ketika saling menyebutkan nama kala pertama kali ditetapkan sebagai pemimpin klan masing-masing. Madara tersenyum sinis mendengar itu. Ia berkata, "Aku tidak menyangka kau, Pemimpin Senju, turun sendiri memata-matai kami. Kenapa? Tidak ada lagi yang berbakat di klanmu sebagai mata-mata?"
"Aku tidak datang untuk memata-matai," jawab Hashirama. Tatapannya terlihat sedih meski Madara tidak bisa melihat kesenduan itu. Atau mungkin justru karena Madara tak bisa melihat, maka Hashirama tidak membatasi reaksi wajah atau pancaran mata akan kebenaran yang dirasakan.
Mendengar jawaban Hashirama, Madara menunjukkan kekesalan. Posisi mereka adalah musuh dan kondisi Madara jauh dari baik untuk bisa menghadapi Hashirama seperti biasa. Ia tidak ingin dilihat dalam kondisi seperti ini oleh musuh-musuhnya, terlebih Hashirama. Karena itu, ia meminta Izuna yang memimpin penyeran Klan Uchiha untuk sementara waktu. Dia tahu kemampuan Hashirama diatas Izuna dan tidak berharap adiknya akan membunuh Hashirama. Tapi, kedatangan Hashirama diam-diam ke sini, melihatnya dalam kondisi begini, sungguh membakar emosi.
"Aku mendengar pembicaraan barusan," ada nada sedih tertangkap telinga Madara saat Hashirama mengucapkan pengakuan itu.
Madara cepat melempar ketiga kunai untuk mengikat tubuh Hashirama dengan benang di pangkal kunai dan berhasil. Begitu tertangkap Madara membentuk segel jurus elemen apinya dan menyalurkan api melalui benang untuk membakar tubuh Madara. Selama api membakar, terasa perubahan arah angin lagi. Menandakan Hashirama sudah melepaskan diri dari api dan kini berada dibelakang Madara serta langsung melingkarkan tangan kanan di leher Madara lalu mendaratkan jemari di kepala Madara bagian kiri. Gerakan yang diketahui Madara bahwa lehernya bisa dipatahkan dengan satu gerakan dari saingannya ini. Hashirama sendiri merasakan ujung tajam kunai menyentuh pakaiannya.
Ia tersenyum lalu berbisik di telinga kiri Madara dari belakang, "Mungkin kau tidak melihat, tapi aku tidak membawa senjata apapun. Aku tidak datang untuk bertarung."
Kurang lebih, Madara sudah menduga karena sedari tadi ia tidak merasakan senjata tajam dari Hashirama. Hanya gerakan tangan saja. Mengerti maksud kata-kata Hashirama, Madara menurunkan kunai-nya. Sekalipun mereka musuh, Madara tidak serendah itu untuk bertarung dengan lawan yang tidak bersenjata. Hashirama tahu Madara yang berharga diri tinggi akan mengerti. Meski kunai sudah diturunkan, Hashirama masih belum menurunkan tangannya. Belum mau, mungkin lebih tepat.
"Jika bukan untuk memata-matai atau bertarung," Madara memecah keheningan diantara mereka, "lalu untuk apa kau datang, Hashirama?"
Perlahan, jemari Hashirama turun lembut membelai rambut bagian kiri si pemimpin Uchiha sebelum menyentuh bahu kiri Madara dan memposisikan tangan kirinya melingkari perut Uchiha tersebut sehingga membawa tubuh Madara merapat ke tubuhnya sendiri. Kehangatan tubuh Hashirama bisa dirasakan punggung Madara yang masih terkejut. Rambutnya menerima hembusan nafas Hashirama kala memanggil pelan dengan nada yang tak pernah Madara dengar sebelumnya, "Madara…"
Suara langkah dari dalam kamar terdengar, "Ani-ue?"
Bersamaan dengan itu, kehangatan dari belakang Madara menghilang bersama angin. Untuk sesaat, ia sempat bingung sampai Izuna memanggilnya lagi, "Ani-ue."
"I-Izuna?" Madara masih belum kehilangan bingungnya.
"Berlatih lagi? Izuna setelah melihat bekas abu di tanah yang menandakan Madara memakai jurus elemen api dan kunai di tangan kanan Madara. "Kenapa tidak memberitahuku?"
Madara diam saja membiarkan Izuna memegang tangannya untuk menuntun duduk kembali ke teras kamar dan menunjukkan dimana posisi makanannya. "Aku bisa berlatih sendiri, kau pulihkanlah lukamu dulu," saran Madara begitu akan mulai mengambil sumpit. Dia tidak berlatih sebenarnya tapi dia juga tidak berniat mengatakan apa yang barusan dilakukan Hashirama.
"Luka kecil begini, tidak apa-apa," kata Izuna.
"Kau… melawan Hashirama?" Tanya Madara karena kini Hashirama tiba-tiba memenuhi kepalanya. Izuna mengangguk, "Ya. Seperti kata ani-ue, dia kuat."
Kembali menyantap makanannya, si pemimpin ini terdiam ketika Izuna berkata, "Dia tampak tidak fokus perang kemarin. Seperti mencari-cari sesuatu."
"Mencari sesuatu?"
"Ya, tapi begitu melihatku, dia terlihat lega. Dia mengira aku itu ani-ue. Mungkin karena kita mirip."
Madara kembali terdiam.
"Mungkin, dia mencari ani-ue."
to be continued...
Makasih sudah mau baca ^^
Jika ada yang ingin disampaikan, silahkan :)
