Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto

Warning : OOC. Slight humor-romance scene.


Chapter Three

Since The Moonlight


"Aku pergi dulu, Ani-ue," ucap Izuna setelah berpakaian lengkap untuk pergi mencari cara menyembuhkan penglihatan pemimpin Klan Uchiha yang tak lain tak bukan adalah kakak kandungnya sendiri. Madara berdiri di depan pintu teras kamarnya menghadap Izuna. "Kutunggu kabar baik darimu," Izuna mengangguk mendengar itu lalu hilang dari tempat semula.

Madara melangkah keluar ke arah taman dan menengadahkan kepala ke arah langit. Dia tak perlu menggunakan kelopak untuk menghalangi cahaya matahari karena matanya sudah kehilangan daya menyerap cahaya dan tenggelam dalam kegelapan. Mengalami penglihatan seperti ini, pikirannya mau tak mau melayang ke hal lain yang tak bisa dilihat oleh mata.

Madara…

Suara bernada rendah menyimpan maksud kembali terngiang. Madara menyentuh telinga kiri dimana suara itu kemarin berbisik. Terima kasih untuk itu, Madara tak bisa tidur semalaman. Memikirkan alasan kenapa Hashirama datang sembunyi-sembunyi kemarin, kenapa Hashirama menyebut namanya dengan nada berbeda seperti kemarin, juga kenapa Hashirama tidak memberi jarak antara tubuh mereka kemarin. Dipikir bagaimanapun hanya satu yang bisa menjelaskan. Dan Madara tidak salah perhitungan untuk menyimpulkan begitu. Kecuali, ternyata semua itu tipuan. Tapi, mengetahui perilaku Hashirama sejauh ini —meski hanya berasaskan mengenal dalam pertempuran— Madara tidak yakin ini jebakan.

"Kau pikir aku tidak sadar?" Tiba-tiba Madara menoleh ke arah pagar sebelah kiri. "Sampai kapan kau mau bersembunyi," ia menghela nafas, "Hashirama?"

Perlahan sosok Hashirama muncul dari pagar kayu pekarangan sambil tersenyum, "Aku tidak berpikir kau tidak sadar."

Madara mengarahkan pandangannya ke Hashirama sekalipun ia tak bisa melihat apa-apa. Tapi dari gesekan angin, Madara tahu pemimpin klan musuhnya ini sama seperti kemarin. Tidak membawa barang satu pun shuriken. "Kau mau disadari?" Madara mendengar langkah kaki Hashirama mendekat. "Mungkin," Hashirama sudah berdiri di samping Madara, mengambil tangan kanan Madara untuk menuntunnya masuk ke dalam kamar. Menjauhkan Madara dari sinar matahari.

"Lalu?" Mereka sudah duduk berdampingan di teras kamar saat Hashirama yang merespon, "Hm?"

"Kau mau memelukku lagi?"

Mendengar itu, tubuh Hashirama membeku. Dengan gerakan patah-patah, dia menoleh ke Madara. Keringat dingin mengucur menandakan kegugupan. "E-eh?"

"Kau tidak bawa senjata lagi 'kan?"

"I-i-i-itu…"

"Berarti seperti kemarin?"

Madara tidak menunjukkan perubahan ekpresi apapun sementara Hashirama kali ini mematung menerima 'serangan' telak barusan. Sepanjang mengenal pemimpin klan musuhnya, Hashirama cukup tahu kalau Madara termasuk orang yang tidak berbelit-belit jika berkata-kata. Dengan kata lain, langsung menyampaikan apa yang dipikirkan. Pengguna mokuton ini setengah bersyukur karena mata Madara sekarang tidak bisa melihat ekspresi wajahnya sendiri yang ia nilai pasti terlihat memalukan. Hashirama menggerakkan tangan kanan untuk menutupi setengah wajahnya yang cukup memanas dan berubah warna sambil menghela nafas. Ia pun mengaku kalah, "Kau tidak perlu terang-terangan seperti itu, Madara."

Meski tidak melihat, dari perubahan nada bicara dan suara nafas lawan bicaranya, memberitahukan bahwa Hashirama sedikit gugup. Hashirama Senju, seorang rival sekaligus musuh. Shinobi yang dihormati banyak orang. Tak jarang dari Klan Uchiha ataupun Madara sendiri. Tapi, shinobi hebat dikenal siapapun ini sekarang duduk disampingnya dengan gugup bukan karena perihal kekuatan perang atau apapun. Melainkan karena hal lain yang manusiawi. Mau tak mau, Madara tersenyum tipis menyadari itu.

"Di tengah perang yang tidak menjamin esok masih bisa bernafas atau tidak, siapapun punya sesuatu yang ingin dilakukan sebelum mati," Madara kembali memandang langit. Ya, dia paham. Sebagai pemimpin sebuah klan di tengah peperangan, sebagai seorang shinobi yang dikelilingi kematian, sebagai salah satu makhluk hidup, dia mengerti. Lagipula tidak ada yang tahu selain mereka berdua. Rahasia mereka berdua.

Menanggapi toleransi yang disimpulkannya sebagai jawaban, Hashirama tersenyum, "Kau… tidak ingin bertanya tentang kemarin?"

"Benar juga. Soal kemarin," Madara diam sesaat lalu bertanya, "apa kau bodoh, Hashirama?"

Pemimpin Klan Senju itu terdiam kaget saat Madara melanjutkan perkataan, "Namamu dikenal dimana-mana, kekuatanmu tak bisa diremehkan, dan kau dihormati semua orang. Kau pemimpin klan. Seharusnya kau memilih yang sepadan untuk menjadi pendamping. Yang kuat, berharga diri tinggi, tegas, bukan sembarang oran—"

Tak mampu menahan lagi, Hashirama tertawa. Madara terpaksa memotong kata-kata karena suara tawa Hashirama sebelum ia menyelesaikan kalimat. Uchiha satu ini menunggu tawa Hashirama mereda sebelum bertanya, "Kenapa kau tertawa?"

"Bukankah kau mendeskripsikan dirimu sendiri?" Terdengar nada senang dari Hashirama. Madara membantah, "Bukan musuh yang kumaksud."

Hashirama tersenyum lalu keduanya duduk diam memandang langit biru cerah.

Keheningan hadir mempersilahkan gemerisik daun dan suara angin menemani mereka tenggelam dalam pikiran. Masing-masing mempunyai pikiran yang berbeda namun sama. Beban sebagai pemimpin klan. Keinginan terkekang. Perang. Mungkin ini pertama kalinya sejak mereka berdua saling kenal sebagai musuh untuk duduk berdampingan dan menikmati siang bersama meskipun tanpa sepengetahuan siapapun. Bertukar kata dibanding beradu senjata serta menorehkan luka. Hal yang sudah lama tak pernah dipikirkan Madara sejak mengenal bau darah peperangan. Melupakan suatu eksistensi bernama kedamaian sebagai salah satu pewarna kehidupan di dunia. Dirinya menyadari bahwa ia menikmati masa ini. Hal yang dinilainya tidak buruk. Kemudian, sebuah pertanyaan melintas dibenaknya.

"Hei," Madara merendahkan suara.

"Hm?"

"Sejak kapan?" Pertanyaan ini merujuk tentang kemarin yang jelas itu apa bagi Madara. Ia hanya ingin tahu dimulai dari kapan Hashirama merasakannya. Hashirama melirik Madara sambil menjawab, "Entahlah… Mungkin sejak sharingan-mu bersinar saat bulan purnama waktu itu."

Madara bungkam sekali lagi sebelum bertanya, "Kau serius?"

"Kau mempertanyakan keseriusan seorang shinobi yang menyelinap ke daerah musuh tanpa membawa senjata, Madara?" Suara Hashirama terdengar lebih berat menunjukkan si pemilik suara sedikit terluka diragukan niatnya. Madara bisa merasakan Hashirama tengah menatapnya lekat. Menyadari ia sudah menyinggung, Madara kembali diam sambil memalingkan muka dari tatapan Hashirama.

Hashirama menghela nafas lagi menghadapi kebisuan Madara. Ia tahu tak bisa lama-lama di sini. Selain ia tidak tahu kapan Izuna kembali ataupun anggota Uchiha lain memergoki mereka, ia tidak membawa senjata apapun untuk melindungi diri. Maka, Hashirama segera mengutarakan maksud kedatangannya sejak. Digenggamnya tangan orang yang memenuhi pikirannya ini, "Madara."

Nada yang berbeda lagi dari Hashirama membuat Madara menoleh selain karena kaget tangannya terasa hangat digenggam Hashirama. "Kalau datang ke sini menurutmu tidak serius, bagaimana kalau aku menyembuhkan matamu?" tawar pemimpin klan musuh ini yang berhasil menimbulkan ekspresi kaget Madara.

Tentu saja Madara tahu kalau Hashirama memiliki kemampuan iryo-nin yang luar biasa tak ada tandingan disamping kekuatan bertempur unik menggunakan elemen kayu dan bakat berdelegasi mengagumkan sebagai pemimpin, tapi tak pernah sedikit pun terbersit niat untuk minta bantuan Hashirama menyembuhkan penglihatannya atas doujutsu yang selama ini ia gunakan untuk melawan musuh-musuhnya. Termasuk kepada klan pimpinan Hashirama. Dia tidak habis pikir Senju satu ini menawarkan penyembuhan untuk dirinya yang akan kembali bertemu di medan perang hanya untuk membuktikan dia serius dengan perasaannya?

"Kau mengasihaniku?" Belum sempat Hashirama menjawab pertanyaan balik barusan, Madara sudah mendaratkan kepalan tinjunya di pipi kanan pria berkulit kecoklatan yang kini terhempas dari duduknya sampai ke pagar kayu tempat dia menunjukkan diri tadi.

"Jangan meremehkan aku, Hashirama Senju," kentara amarah dalam intonasi Madara. Hashirama memegang pipinya yang memar sambil berdiri dan menerima kekesalan Madara tampak jelas. "Aku tidak butuh bantuanmu. Aku tidak selemah perkiraanmu. Aku tidak serendah itu."

Madara tidak ingat entah kapan ia terakhir kali merasa sangat emosi seperti ini. Harga dirinya terluka. Penyesalan menyeruak dalam dada. Menanyakan diri sendiri kenapa ia mau bicara baik-baik dengan Hashirama dan tidak mencoba membunuh selagi Hashirama tidak bersenjata. Bahkan sempat membiarkan dirinya menikmati perbincangan sebelum ini. Kesal. Sesal. Benci. Benci. Benci.

"Aku Uchiha Madara!" Kebencian disuarakan sebagai penegas kenyataan, "Musuhmu!"

to be continued...


Makasih udah mau baca X)