Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
Warning : OOC. TobiramaIzuna.
Chapter Five
With The Moonlight
Tes...
Tobirama terjaga dari kantuk saat mendengar tetesan embun di dedaunan. Binar kembar ruby mulai terfokus dan mendapati sinar pagi terang masuk ke dalam gua tempat pria Senju ini bermalam. Dia melihat tubuh Uchiha di sampingnya masih tertidur. Tobirama mengangkat tangan kanannya untuk menyentuh dahi si pemilik sharingan lalu sedikit lega karena demam tinggi semalam cukup turun. Dari sudut matanya, terlihat balutan perban dengan kayu penyangga lengan kiri si Uchiha. Pemilik rambut perak ini tahu luka yang disebabkan tak bisa dibiarkan lama. Tapi kalau pagi ini juga diobati oleh ahli, rasanya tidak terlalu terlambat. Tobirama segera duduk, meregangkan badan sebentar, kemudian mengecek berapa senjata yang tersisa dari pengejaran kemarin. 6 shuriken dan 2 kunai. Seharusnya cukup kalau hanya untuk kembali ke rumah.
Setelahnya dia kembali menghadap Uchiha yang masih terbaring. Sekali lagi ia tertegun melihat paras Izuna. Sungguh ia takjub menyadari dirinya harus mengakui bahwa penilaian para kunoichi tentang anggota klan Uchiha itu benar. Seulas senyum terlukis di wajah Tobirama sebelum ia menepuk pelan pipi salah satu petinggi Uchiha ini, "Izuna, Izuna."
Sedikit lemas, Izuna membuka mata. Terlihat lelah, membuat Tobirama bertanya, "Pusing?"
"Tidak," jawabnya.
"Nyenyak semalam?" Canda Tobirama sambil tersenyum iseng.
"Ya," nada menyindir sebagai tanggapan canda, "berkat dengkuran seseorang yang bilangnya mau berjaga tanpa tidur. Jadi, sangat nyenyak."
Tobirama tertawa, "Seseorang itu juga manusia yang butuh tidur. Yah, mari kesampingkan masalah kecil."
"Shinobi mana yang bisa-bisanya tidur di depan musuh itu masalah kecil?" Izuna tersenyum kecil. "Dimana ada yang seperti itu?"
"Ada di sini," Tobirama menunjuk dirinya sendiri lalu menambahkan, "dan kau juga tidur kan?"
Terdesak, Izuna memalingkan muka sehingga Tobirama terkekeh sebelum berkata dengan menghilangkan nada canda tadi, "Demammu sudah turun. Kurasa kau bisa pulang dengan sisa tenagamu yang sekarang. Sebaiknya cepat, karena nyeri di tanganmu tidak akan hilang kalau tidak diobati. Dan saat kita keluar gua ini… "
Sharingan Izuna muncul untuk menerima tekanan membunuh dari mata ruby yang melanjutkan, "Gencatan senjata berakhir."
Melihat mata berwarna merah dengan tomoe melingkari pupil Izuna, Tobirama tersenyum menghilangkan niat membunuh serta mendekati Izuna untuk membantunya duduk, "Salahku memang sudah melibatkanmu sampai terluka. Aku memang tidak menyembuhkanmu, tapi aku memberi pertolongan pertama. Kita impas."
Izuna menyadari tekanan dalam kata itu. Ia sangat tahu bahwa mereka berdua dalam kedua klan yang bermusuhan dan tidak hanya Tobirama, Izuna sendiri juga tidak ingin ada hutang budi terhadap lawan. Kalimat Tobirama barusan sebagai pengingat mengapa gencatan senjata mereka bisa berlangsung semalam serta untuk ke depannya agar tidak diungkit sebagai upaya menagih hutang saat berperang sekaligus menanyakan kesediaan Izuna akan status luka lengan kirinya. "Ya," ucap Izuna dengan tenang.
"Kita pergi sekarang?"
Hanya dengan gerakan berdiri dari Izuna, Tobirama menganggap itu jawaban pertanyaannya. Mereka berjalan mendekati mulut gua. Tobirama menghentikan langkah diikuti Izuna sebelum berkata, "Pergilah duluan. Aku akan menunggu satu menit sampai aku tidak lagi merasakan kehadiranmu."
Seketika Izuna menatap tajam Tobirama. Begitu mereka keluar dari gua ini mereka kembali menjadi Senju dan Uchiha. Tidak bisa dipungkiri bisa saja —meski secara individu seperti ini— keduanya beradu senjata. Jika keluar bersamaan dan saling menyerang, Tobirama berkemungkinan menang karena Izuna sedang cedera. Mempersilakan salah satu keluar duluan bisa menjadi kesempatan menyerang duluan dan berpeluang menang. Dan Izunalah yang diperkenankan keluar duluan, berarti Tobirama memberi kesempatan Izuna menyiapkan jebakan atau serangan dadakan. Tapi, belum tentu Izuna menang karena kekurangannya sekarang. Dengan kata lain, Tobirama yakin apapun yang dilakukan Izuna tak akan mempengaruhi hasil jika mereka adu senjata.
"Kau… meremehkanku."
"Tidak, tidak. Sama sekali tidak," Tobirama menggeleng tenang. " Hanya… sisa tanggung jawabku saja."
Jika menuruti emosi, mereka sudah beradu kunai. Tapi, Izuna tahu itu tidak penting sekarang. Dia sedang mencari sesuatu yang penting untuk kakaknya dan sudah tertunda semalam karena demam. Tak ada waktu terbuang percuma di sini. Apapun tidak masalah yang penting dia bisa cepat meneruskan pencarian. Untuk sekarang, ditelannya saja —entah kebaikan atau sindirian— tawaran Tobirama. Dia maju ke mulut gua namun terhenti lagi oleh Tobirama yang bertanya, "Izuna, apa kau tahu masalah lebih besar daripada tertidur di depan musuh?"
Izuna melirik sebagai jawaban. Ia mendapati senyuman Tobirama disertai jawaban, "Jatuh cinta dengan musuh."
.
.
Menerima tawaran adik Hashirama, Izuna sudah melesat jauh dari gua dalam hitungan menit. Namun, tanpa mengindahkan peringatan Tobirama, adik Madara ini bukan kembali ke kediaman Uchiha tapi ke arah berbeda menuju tempat semula alasan kepergiannya kemarin. Gunung Jofuku. Sambil mengabaikan nyeri lengan kiri, ia tetap berlari lurus ke arah gunung tersebut. Hujan semalam menyebabkan tanah lembab serta genangan air di jalanan. Izuna menginjak genangan air tersebut. Pandangannya menyipit. Merasa ada sesuatu yang berbeda. Kewaspadaannya meningkat ketika menginjak lagi genangan air berikutnya. Masih dalam kondisi berlari tanpa niat berhenti, jemari kanan Izuna siap melempar shuriken saat terdengar, "Aw!" dari genangan air ketiga yang diinjak.
Muncul sosok manusia dari dalam genangan yang diinjak Izuna barusan. Ia berkata, "Izuna! Kau tiga kali menginjakku!"
"Dan kau tiga kali mengikutiku," shuriken terarah ke sosok dari genangan air tadi yang menangkis dengan pedang pendek, "Tobirama-san."
"Yah, aku ada ala—"
Trang!
Izuna maju menyerang dengan kunai, "Tak akan kubiarkan kau mendekati rumah Uchiha."
"Bukannya ini arah yang berbeda?" Tobirama menunjukkan senyum sinis. Izuna menendang kaki Tobirama namun dihindari dengan melompat lalu keduanya menjauh dan saling bertatapan. Izuna mencoba menerka maksud Tobirama. Jika dia tahu arah yang dituju Izuna bukanlah kediaman Uchiha, berarti hanya satu alasannya diikuti. Mata hitam Izuna berubah menjadi sharingan. "Tunggu, tunggu. Aku tidak mau bertarung."
"Jadi, apa maumu?" Izuna tidak menurukan kesiapan menyerang.
Tobirama menghela nafas, "Lengan kirimu itu harus diobati secepatnya. Aku mengikutimu hanya untuk memastikan kau tidak diserang musuh-musuhmu yang lain sampai kau kembali ke Uchiha."
"Bukankah kau sendiri yang bilang gencatan senjata sudah berakhir?"
Senju dengan rambut perak itu diam sesaat lalu memalingkan wajah, "Apa boleh buat 'kan? Aku kepikiran. Lagipula kau Uchiha dan adik Madara. Siapa yang tidak berniat membunuhmu kalau mereka melihatmu sendirian?"
"Itu berlaku untukmu juga, seorang Senju dan adik Hashirama-san."
Tobirama berkata dengan nada bangga, "Tapi aku tidak terluka sehabis dikeroyok kemarin. Tidak seperti seseorang."
SET!
Ujung kunai menggores luka di pipi Tobirama. Begitu cepatnya lemparan Izuna sehingga Tobirama tidak sempat menghindar. Tatapan sharingan Izuna dengan niat membunuh cukup membuat Tobirama berkeringat sekalipun tidak diserang genjutsu apapun. Tobirama mengeratkan kepalan tangan sambil tersenyum kesal menyembunyikan rasa gentar yang dirasakannya sesaat tadi. Sebenarnya Senju satu ini tahu ia tak perlu mengawal Izuna karena bagaimanapun Izuna itu Uchiha. Sekalipun tangan terluka, selama penglihatannya tak bermasalah, Izuna masih bisa menang. Tapi, meski sudah yakin begitu, Tobirama tetap saja kepikiran. Ia pun mengklarifikasikan maksudnya mengikuti Izuna, "Po-pokoknya aku tidak akan pergi sampai tanganmu diobati iryo-nin."
Izuna tidak merasakan niat membunuh ataupun bertarung dari Tobirama sehingga ia mengembalikan kembali permata hitam untuk menghilangkan sharingan-nya. Dia mengerti maksud Tobirama dan tidak melihat tanda-tanda Tobirama akan mendengarkan perkataannya untuk dibiarkan sendiri. "Kau sudah melakukan apa yang harus kau lakukan. Kita sudah impas. Ini bukan lagi kewajibanmu padaku."
"Aku hanya akan bersembunyi di balik air dan akan muncul kalau musuh menyerangmu. Itu saja. Lagipula sharingan-mu bisa kau gunakan kalau ternyata aku menyerangmu 'kan?" Keduanya tahu sistem cara melawan pengguna genjutsu. Jika dua orang, maka yang satunya bisa membantu menyadarkan dari ilusi. Tapi jika sendirian, sudah pasti termakan ilusi. Seperti sekarang Tobirama menawarkan posisi lemahnya akan genjutsu hanya untuk dibiarkan menemani Izuna sampai ke tempat Uchiha.
"Aku tak bisa kembali sekarang."
"Misikah?" Tobirama mengangguk-ngangguk tanpa jawaban Izuna. "Sudah kuduga. Aku tidak akan bertanya misimu itu apa dan tidak akan mengganggu atau membantumu kecuali kau diserang. Bukan pilihan buruk 'kan?"
.
.
Sungguh. Waktu sudah terbuang banyak sejak Izuna beradu argumentasi dengan Tobirama. Dikatakan "terbuang" karena hasil argumentasi tersebut selalu berakhir dengan dirinya mengikuti apa yang sudah diputuskan Tobirama. Izuna menghela nafas sendiri. Heran kenapa dirinya tak bisa menolak ataupun kenapa Tobirama bersikeras menyuruhnya tangannya disembuhkan. Kalaupun terlambat disembuhkan, bukankah justru itu keuntungan bagi Klan Senju? Hutangkah? Tapi sebagai musuh, seharusnya tidak perlu terlalu memusingkan perihal hutang budi kecil begini. Apalagi di tengah perang. Izuna tak mau memikirkan lebih dari ini karena bisa semakin membuang waktunya. Sekarang ia harus fokus untuk menemukan bunga di gunung ini.
Mereka berdua telah sampai di tempat tujuan Izuna. Gunung Jofuku. Sejak memulai pencarian bersama, Tobirama menepati janjinya dengan tidak menganggu Izuna dalam menjalankan misi. Bahkan dia tidak bertanya kemana mereka supaya tidak memecahkan konsentrasi Izuna yang tampak mengedarkan pandangan ke segala arah seolah mencari sesuatu. Berlari di kaki gunung dengan melihat ke arah manapun, Izuna masih tidak menangkap sekelebat warna pelangi sedikitpun di atas tanah.
Tidak ada informasi apapun memang tentang bunga penyembuh yang dicarinya ini sehingga tidak ada jalan selain mencari dengan matanya sendiri. Setiap sudut pohon, rawa, tanah, rumput, dan sungai ditelusuri. Keringat sudah membasahi Izuna, menandakan tubuhnya telah sampai pada batas ketahanan. Melihat itu, Tobirama yang mengikuti dari tadi jadi tidak sabar. Ia tidak mau menganggu tapi berlari tanpa tentu arah dan tanpa istirahat —buatnya tak masalah— membuatnya yakin bagi Izuna tentu cukup berat dengan kondisi sekarang.
"Izuna, istirahat sebentar. Tubuhmu tidak akan tahan." Saran Tobirama menekankan kata-katanya dengan serius.
Hanya jawaban singkat terdengar tanpa mengurangi kecepatan, "Tidak ada waktu."
Dalam diam Tobirama mencoba memikirkan lagi apa yang menjadi misi Izuna. Tidak terlihat tanda-tanda misi Izuna ini berhubungan dengan seseorang. Bertemu atau negoisasi dengan seseorang. Jika bukan orang, berarti informasi atau sesuatu yang dicari. Gunung Jofuku. Tobirama memutar otaknya memikirkan apa yang membuat orang ke gunung ini. Rasanya ada yang pernah didengarnya.
"Gunung Jofuku…" Tobirama teringat sesuatu akan gunung ini, "Kau, apa kau mencari Bunga 7 warna Jofuku?"
Meski masih berlari, Izuna menoleh ke Tobirama dan tersenyum, "Hebat juga, Adik Hashirama Senju."
"Aku lebih suka namaku dibanding sebutan itu," Tobirama sedikit kesal tapi dengan ini ia tahu tujuan Izuna. "Aku tidak tahu kau menginginkan bunga itu untuk tanganmu atau apa, tapi itu bunga langka yang bisa menyembuhkan berbagai jenis penyakit."
Melihat Izuna tersenyum tidak menanggapi, Tobirama menambahkan, "Kau tahu kenapa bunga itu langka nyaris terdengar seperti legenda?"
Ini berhasil membuat Izuna menoleh lagi ke arahnya.
"Bunga itu hanya berbunga di gunung ini setiap 7 tahun sekali."
to be continued...
Makasih sudah mau baca :)
Bunga dan Gunung Jofuku muncul di episode 185, tapi keterangan yang tentang bunga ini mekar 7 tahun sekali itu cuma kutambahin doang sih xp
Sebenernya gak ada keterangan pasti sih bahwa semua keturunan Uchiha itu cakep tapi aku sih ngesimpulinnya aja gitu dari ngeliat Madara-Izuna-Itachi-Sasuke, Mikoto sendiri cantik, jadi yah sekiranya kayaknya cakep-cakep XP
Kalo ada yang mau disampaikan, silahkan ^^
