Annyeong! Ini chapter ini kembali Hana edit. Semoga suka ne? Jadi, review, review, review ne? ^^
ENJOY
Aku menatap luar jendela. Malas sekali memperhatikan Ken-sensei yang sedang mengomel mengajar fisika. Hei! Aku ini sudah jenius! Jadi, tak perlu terlalu memperhatikan bukan? Aku yakin jika pelajaran fisika aku akan mendapatkan nilai sempurna dengan mudah. Jangan salahkan aku? Otakku memang sudah jenius. Aku tersenyum kecil sesaat. Membayangkan rencanaku yang akan terjadi nanti malam. Pasti dia tak menolakku. Waktunya balas dendam!
"Aku yakin, ini akan berhasil," bisikku pelan seraya menyeringai tipis.
Kamichama Karin © Koge-Donbo
Playboy
Warning : GaJe, Aneh, Deskripsi sulit dipahami, AU, OOC , Typo & Miss Typo dimana-mana, De Es Be.
2 : Revenge Time
Aku menatap gadis yang tengah duduk di bawah pohon sakura sambil membaca novel. Rambut brunette bergerak seiring dengan hembusan angin yang menerpanya. Perlahan, kugerakkan kakiku menuju dirinya. Ia masih sibuk atau asyik membaca novel hingga tak merasakan kehadiranku.
"Hai," ucapku dengan senyum menawanku. Sedikit kugoyangkan tanganku di depan wajahnya. Namun hasilnya nihil. Dia—Karin—tak tak merespon sama sekali. Aku segera duduk di sampinya. Lalu kurebut novel yang tengah ia baca dengan paksa.
"Novel apa ini sweety?" tanyaku. Kuamati sambul novel dengan sampul warna pink dan rentetan tulisan tebal yang merupakan nama novel dengan warna putih. Aku membaca sinopsis novel itu sejenak.
"Sweety?" ucapnya binggung dan heran. Sebelas alisnya terangkat menatapku. Aku menatapnya dan tersenyum menawan. Karin sama sekali tak merubah raut wajahnya. Ia masih dengan wajah bingung menatapku. Entah kenapa jantungku berdebar menatap wajah itu. Wajahnya terasa sangat imut itu sugguh menggemaskan! 'Aish! Baka Kazune!' segera kutepis semua pemikiran aneh yang datang entah darimana itu.
"Cause, you're my sweety!" jawabku dengan senyum menawan. BLETAK!—Karin menjitak kepalaku. Ia menatapku dengan tatapan datar dan ketus. Jitakan itu membuatku merasa nyeri di kepalaku. Aku menatap Karin memelas dan memanyunkan bibirku. Karin mengambil novelnya dan mengalihkan tatapannya dariku.
"Berhentilah memanggilku dengan panggilan bodoh itu!" ucapnya ketus. Ia kembali membaca novelnya. Karin menatapku sejenak dan kembali menatap lembaran novel yang ia baca. "Jangan gunakan wajah jelek seperti itu Ugly Prince. Wajahmu membuatku ingin muntah," ucapnya sambil menaikan sedikit novelnya.
Aku mendengus. Bukankah ekspresi wajahku tadi membuatku terkesan imut? Kenapa dia malah mengatakan bahwa ingin muntah melihat ekspresi wajahku yang imut itu. Aku melirik menatap Karin. Di balik novel berisi 400 halaman yang ia baca terlihat rona tipis berwarana merah di pipinya. Aku berdiri sejenak. Segera aku berjalan mendekatinya.
"Kalau kau bilang wajahku membuatmu ingin muntah. Kenapa kau malah malu?" tanyajy sambil sedikit menyeringai. Ia membalikkan posisi duduknya membelakangiku. Masih ada rona tipis merah dipipinya. Aku mendekapnya. Ia tersentak pelan.
"A—Apa yang kau mau Ugly Prince?!" tanyanya gugup dan mara.
"Aku ingin kau menjadi pasanganku di pesta dansa nanti malam. Bagaimana?" kataku pelan sembari pelan melepaskan dekapanku.
Karin menatapku dengan tatapan heran. Dahinya berkerut sedikit menandakan bahwa ia sedang heran. Karin menatapku intens. Ia mengamati wajahku. Entah apa yang ia pikirkan. Ia memundurkan tubuhnya dan menyandarkannya pada batang pohon sakura. Ia menatapku datar.
"Bagaimana sweety?" tanyaku manja padanya.
"Kenapa aku harus mau?" tatanya ketus.
"Karena kita harus membawa pasangan ke pesat dansa itu. Kau tau? Semua sudah memiliki pasangan kecuali. Ya, kau tahu kan?" ucapku. Karin menarik napas sejenak. Ia menatapku datar dan menghela napas panjang. Karin berdiri dan menepuk roknya—membersihkan dari debu tanah yang menempel di roknya.
"Baiklah. Ini karena terpaksa," jawabnya lalu seger pergi melenggang entah kemana.
"E—Eh?" aku hanya bengong sendiri mendengarnya. Apa aku tak salah dengar? Ya, kau tak salah dengar Kazune. Aku menyeringai tipis. Yes! Balas dendamku akan berjalan. Tunggu saja pembalasannya Hanazono Karin! Aku segera balas dendam padamu atas perbuatanmu kemarin.
.
.
Pesta dansa akan dimulai 1 jam lagi. Aku sekarang berada di taman kota. Atau tepatnya di dalam mobilku yang tepat berseberangan dengan taman kota. Aku menggunakan pakaian untuk menghadiri pesta dansa yang simpel tapi keren. Aku mengenakan ham putih dengan celana kain berwarna hitam dan jass berwarna hitam. Sekarang aku sedang menunggu si Monster Mata Hijau. Kami berjanji akan bertemu disini. Well, aku tak tahu alamat rumah Karin. Jadi, aku tak menjemputnya. Dan jika aku tahu, aku juga tak mau menjemputnya.
"Dia ini lama sekali!" gerutu sedikit berteriak. Aku memukul stir mobilku pelan. Aku mendengus sebal. Menunggu itu membosankan. Aku mengambil PSP yang sengaja kubawa karena aku merasa akan bosan. Segera aku memainkan PSPku yang menjadi sahabat setiaku.
TOK! TOK! TOK!—Aku merasa ada yang mengetuk kaca jendela mobilku. Segera aku matikan PSPku dan meletakannya. Aku segera membuka kaca jendela yang diketuk itu. Aku terkejut bukan main. Melihat Karin yang agak menarik napas cukup panjang. Aku mengerti bahwa ia lelah, karena ia kemari dengan tergesa. Aku terkejut melihat penampilannya yang berbalik total dengan di sekolah.
Ia mengenakan dress berwarna putih dengan bagian atas berbentuk seperti memiliki lengan pendek dan berwarna hitam, ada pita hitam yang berada di pinggang bagian kanan, serta high heels dengan warna dan dompet berwarna putih. Rambut brunette yang biasa diikat ditata dengan sederhana dan rapi dengan jepit kupu transparan membuatnya... Ehm agk cantik. Ya, agak cantik.. Aku hanya bilang agak cantik, bukan berarti aku menyukainya bukan?
"Gomene aku terlambat," ucapnya pelan.
"Tak apa, masuklah," jawabku.
.
.
"Kya! itu Kazune-kun! Dia keren sekali!" itulah yang pertama kali aku dengar setibanya di halaman sekolah. Dan segera saja, para fansgirl yang merepotkan minta ampun itu mengerumuniku. Aku mendengus. 'Merepotkan,' batinku. Aku mendengus dan berusaha lepas dari kerumunan mereka yang menyiksaku ini. Sejenak, aku melirik ke belakang, memastikan keadaan Karin. Mungkin ia kabur. And great! Ia kabur sekarang! Mungkin ia risih dan para semut ini.
Aku segera menerobos kerumunan para fansku dan mencari si berteriak kecewa melihatku pergi dari mereka. Aku ingin segera menemukan Karin dan memulai aksi balas dendamku. Bukan hal lain dan aneh, seperti ya suka. Ah... Lupakan saja. Aku segera menghapus kata itu dari otakku. Rencanaku balas dendam bukan suka sama Karin. Segera aku membuang pikiranku itu. Segera aku melangkahkan kakiku mencari Karin yang pergi entah kemana.
.
.
Iris shappierku melihat sosok yang kucari dengan duduk di bawah pohon sakura. Ia menatap para orang yang tengah berdansa dengan tatapan kosong. Ia menghela napas beberapa kali. Kurasa ia bosan. Aku menyeringai tipis, segera aku melangkah mendekatinya.
"Karin," ucapku pelan sembari memegang bahunya. Ia menatapku sekilas. Alisnya naik sebelah seperti bertanya padaku melalui mimik wajah yang menanyakan 'apa'. Aku sedikit menunduk dan berjongkok di depannya, kuulurkan tanganku padanya. Aku berpura-pura agar momen ini menjadi romantis untuknya. Ia hanya menatap tanganku dengan tatapan bingung. Aku menyunggingkan killer smileku padanya dan kukatakan "Ayo kita berdansa sweety."
Rona merah tipis menghiasi pipinya yang berwarna putih. Hatiku tertawa melihatnya termakan permainanku. 'Aku memang sudah merencanakan ini dengan matang,' pikirku. Dengan ragu, Karin menerima uluran tanganku. Kami berjalan menuju lapangan dansan. Aku dan Karin berdansa. Aku menggenggam erat tangannya. Aku merasa sesuatu yang berbeda, suatu kehangat—itu yang kurasa. Aku tak pernah merasakan tangan yang hangat seperti ini. Tapi, lagi-lagi kutepis pikiran itu dari benakku. 'Ini hanya permainan,' ingatku.
Musik mengalun lembut diikuti dengan gerakan dansaku dan Karin yang senada. Aku melirik beberapa orang. Mereka menatap kami kagum. Mungkin mengira kami cocok. Menurutku tidak. Kami tak akan pernah cocok. Dia tidak pantas untukku. Aku terlalu keren untuknya. Dan dia itu jelek, sangat jelek. Beberapa fansgirlku shock melihat adegan ini. Meraka bahkan menanggis melihat kami. Itu berlebihan bukan? Aku segera mengembalikkan konsentrasiku pada dansa ini. Aku menatap iris emerland Karin.
"Karin," ucapku pelan.
"Hm?" jawabnya ringat tanpa menatapku.
"Aa—aku ingin bilang sesuatu nanti," kataku berbisik pelan di telinganya ada sedikit rasa dag-dig-dug saat aku membisikan kalimat itu. Karin hanya mengangguk pelan. Dan kami melanjutkan acara dansa kami lagi. Aku menarik napas. Kenapa ada perasaan dag-dig-dug saat aku membisikannya. 'Aish! Lupakan!' batinku.
.
.
Jarum panjang menunjukkan pukul 6 dan jarum pendek menunjukkan pukul 8. Acara dansa telah selesai. Kini adalah acara panggung musik yang diisi anak-anak yang mengikuti ekstra musik. Aku hanya menikmati alunan lagu yang cukup yang menenangkan ini. Lagu klasik yang sering aku dengar tapi sangat syahdu di dengar. Aku meminum orange juice yang aku ambil sembari menghayati lantunan lagu ini. Mataku melirik ke arah kananku. Aku melihat Karin tengah meminum orange juicenya. Kurasa, ini saat yang kurang tepat untuk melakukannya.
"Hei Kazune!" Jin menepuk bahuku pelan.
"Ngh?" jawabku cuek dan sedikit dingin.
"Kau dansa dengan Karin ya? Bagaimana rasanya? Menyenangkan ya? Ya jelas karena kau kan su—" aku segera menyumbat mulut Jin dengan sepotong kue. Aku menatapnya dengan tatapan ketus. Ia mencoba menelan chesse cake yang kugunakan untuk menyumbat mulutnya yang sedari tadi berbunyi.
"Ka—Kau ini jahat sekali pada sahabatmu ini!" ucapnya pada dengan tatapan kesal. Aku terkekeh pelan dan menyeringai sesaat padanya. Jin sedikit bergidik ngeri melihat senyumku. Sesaat itu nyengir tiga jari padaku. 'Dia ini aneh,' batinku melihat tingkah idola yang mesum itu.
"Biarkan saja, ini hakku. Dan, aku sama sekali tak menyukainya," jawabku dengan penekanan dikata tak menyukainya.
Jin menatapku dengan tatapan mengejek "Kalau kau nanti jadi suka, kau harus meneraktirku dengan Michi. Ah... Kazusa juga harus di traktir! Bagaimana?"
Aku menghela nafas pelan "Baiklah."
"Hei, Kazune sudah ya? Aku mau sama adikmu dulu," ucap Jin sambil melenggang pergi ke arah Kazusa.
"YAA! Jangan apa-apan adikku!" seruku. Jin menoleh ke arahku dan menunjukan jempolnya. Aku tersenyum. Meskipun ia itu ya begitulah kau tau? Mesum. Tapi, ia tak mungkin berani dengan Kazusa. Malah ia takut dengan Kazusa. Tapi, dia tetap menjaga Kazusa dengan baik. Aku melihat mereka—Kazusa dan Jin—terlihat mesra sekali. Aku iri dengan mereka. Aku ingin segera punya pacar. Lagi dan lagi aku menepis pikiranku tantang ide pacaran. Aku segera mendekati Karin yang tengah mengadahkan kepalanya menatap langit malam.
"Hei," sapaku pelan dengan melemparkan killer smile andalanku padanya.
"Ada apa?" tanyanya pelan sambil menatap wajahku.
"Aku ingin bilang sesuatu," ucapku. Aku menarik napas panjang, mencoba mempersiapkan diri sesuai dengan rencanaku. "A—aku mau kau jadi pacarku. Ternyata aku menyukaimu," ucapku dengan nada dan mimik wajah yang kusesuaikan agar Karin mau menerimaku. Iris emerald Karin membulat sesaat. Bibir kecilnya terbuka sesaat.
"Ma—maksudmu! Kau me—menyukaiku?" tanya tak percaya dengan setengah berteriak. Aku pun berpura-pura sedikit malu dan mengangguk pelan. Karin lagi-lagi kaget dan shock Ia menundukkan kepalanya. Tanganku kugunakan untuk menaikkan dagunya. Agar ia menatapku.
"Bagaimana?" tanyaku pelan. Sesaat dia diam. Tak ada komentar sama sekali yang melesat melalui bibir mungilnya itu. Apa aku gagal menjalankan balas dendamku? Semoga tidak. Aku ingin balas dendam dengannya karena kemarin membuatku malu dan kesakitan.
"I—Iya. A—aku ma—mau kok," ucapnya dengan tersipu. Aku segera memeluknya. Merengkuh tubuh mungil itu ke dalam pelukanku. Perlahan ia mau membalas pelukanku. Aku merasa sedikit sensasii berbeda saat memeluknya. Rasanya sangat nyaman. Jantungku berasa melakuakn senam jantung karena detakan yang tak berhenti-henti ini.
"Love you sweety!" ucapkku pelan.
"Love you too Ugly Prince," jawab Karin padaku dengan rona merah dipipinya. Aku tersenyum pelan. Sepertinya rencanaku akan berjalan lancara. Tunggu saja pembalasannya Hanazono Karin. E—Eh! Tunggu dulu. Aku menatap wajahnya, sedikit kumiringkan kepala saat menatapnya.
"Kau tadi panggil aku apa?" tanyaku lembut.
"Ugly Prince," jawab Karin dengan senyum tak berdosa.
"YAA! Kau ini jahat sekali sweety!"
To Be Continue
.
.
What do you think?
Is it a bad chapter? Leave me your opinion in review please!
