Annyeong minna-san!
Ada yang tau kenapa Hana mengedit fanfic ini? Karena ini fanfic pertama Hana yang Hana rasa ancur luar. Biasa jadi Hana edit soalnya Hana malah publish ulang. Rencananya, fanfic Hana yang pada banyak salahnya mau Hana edit semua kok. OK, I can't say anything else. So, let's read!
ENJOY
Kamichama Karin © Koge-Donbo
Playboy
Warning : GaJe, Aneh, Sulit dipahami, OOC, Typo & Miss Typo terbang dimana-mana, De Es Be.
3 : My Feeling
"Kazu-nii sudah gila!" teriak Kazusa memecah keheningan di rumah saat pagi hari. Ia mengagetkanku yang sedang melamun sambil tersenyum-senyum aneh saat beramain PSP. Aku hanya mendengus kesal dan menatapnya datar. Kazusa menatapku ngeri, ia segera berjalan menjauh seikit dariku.
"Enak saja! Kakakmu yang tampan, jenius, dan cool seperti ini kamu bilang gila!" jawabku ketus dan menatapnya datar. Kazusa yang mendengar jawabanku langsung shock, ia menepuk pipinya beberapa kali untuk membangunkannya dari mimpi. Aku menatap jam dinding. Jarum panjang menunjukkan angka 7 dan jarum pendek menunjukkan jam 6. Segera aku mengambil ponselku dan mengirim pesan singkat ke Karin.
From : Kazune Kujyou ( +81 – 212 – 342– xxx )
To : Hanazono Karin ( +81 – 778 – 212 – xxx )
Ohayou sweety! Kau mau kencan hari ini? ^^
Send this message
Aku tersenyum saat mengirim pesan itu. Kazusa hanya geleng-geleng kepala melihat tingkahku. 'Karin pasti akan menjawab degan cepat!' batinku dengan sedikit senyum atau menyeringai lebih tepatnya. Aku merasa ponselku bergetar, segera saja aku ambil ponselku. Benar saja, Karin langsung menjawabnya.
From : Hanazono Karin ( +81 – 778 – 212 – xxx )
To : Kazune Kujyou ( +81 – 212 – 342– xxx )
Ohayou Ugly Prince :p Kencan? Kurasa itu ide yang bagus. OK, aku setuju
Reply this message
Segera aku mengetikkan jawaban dengan cepat. Sebelum mengirim pesan itu. Kubaca pesan itu dengan teliti. Sejenak, aku membayangkan ekspresi Karin saat kami kencan. Haha! Sepertinya aku sangat menyukai permainan ini.
From : Kazune Kujyou ( +81 – 212 – 342– xxx )
To : Hanazono Karin ( +81 – 778 – 212 – xxx )
Baiklah, kita bertemu di taman jam 10. Aku tunggu sweety!
Send this message
Aku tertawa senang setelah mengirim pesan itu. OK, sepertinya aku mulai berlebihan sekarang. Kazusa menatapku dengan menyergit dahi. Ia bergumam entah apa sambil menunjuk-nunjukku. Tapi, aku tak perduli. Hari ini Minggu, kurasa taman akan penuh. Jadi, mungkin meyenangkan bila kencan di taman. Hei! Kenapa a—aku jadi berbunga-bunga bergini! Kenapa sih! Ingat Kazune. Kau disini balas dendam, bukan menyukai nona aneh seperti Karin!
"Kau mau kencan dengan Karin ya Kazu-nii?" tanya Kazusa.
"Euh?" aku hanya bertanya balik sambil menunjuk diri. Kenapa aku berlagak sedikit bodoh di depan adikku ini? Aish! Kenapa imageku jadi aneh seperti ini sih! Kazusa mendengus sebal. Ia menatapku datar sambil bergumam tak karuan.
"TIDAK JADI!" jawabnya ketus lalu bergegas pergi. Aku hanya menatap kepergian Kazusa dengan aneh. Aku segera melangkahkan kakiku menuju ke kamar. Bersiap-bersiap untuk kencan bersama sweety! E—eh, kok ja—jadi aku yang aneh begini. 'TIDAK INI TIDAK BOLEH! Aku tak boleh suka pada Karin,' batinku. Segera kutepis pikiran yang aneh itu jauh-jauh.
.
.
"Tidak! Aku terlambat!" aku segera membuka pintu rumah dengan kasar. Aku menoleh ke belakang melihat Kazusa yang tengah asyik menonton televisi.
"Aku pergi dulu!" seruku.
"Hai!" jawab Kazusa enteng. Aku segera masuk ke dalam mobilku. Segera kupacu mobilku menuju rumah Karin. Aish! Kenapa aku bisa terlambat hanya karena pusing memilih penampilan untuk kencan balas dendam dengan Karin? Baka Kazune!
.
.
Setelah memarkir mobil. Aku segera berlari melesay ke taman. Sesampainya di taman, aku melihat Karin yang tengah duduk di bangku berwarna putih di bawah pohon sakura. Ia mengenakanbaju lengan pendek dan memakai jaket tak berlengan berwarna putih, ia mengenakan jeans putih. Penampilannya itu dipadu dengan sepatu putih dan tas berwarna putih. Tak lupa rambut brunettenya yang diikat dua. Sesakali ia melihat jam tangan putih yang melekat di pergelangan tangan kirinya.
DEG! DEG! DEG!—jantungku berdetak tak karuan melihat penampilannya yang eum cantik. Aish! Baka! Kenapa aku jadi aneh seperti ini? Kenapa? Kenapa? Aish! Kau aneh Kazune! Segera kubuang pikiran itu jauh-jauh. Segera kulangkahkan kakiku menuju ke arah Karin. Sedikit aku melambaikan tangan padanya dan berteriak memanggil namanya. Karin menoleh ke arahku, ia tersenyum simpul.
"Gomene, aku terlambat," ucapku.
Karin menatapku sejenak. Ia menyunggingkan senyumnya yang eum manis sedikit. "Tak apa. Aku juga belum terlalu lama datang kok," ucapnya.
Aku tersenyum lembut yang memang sengaja aku buat. Segera aku menggandeng tangannya. Karin sedikit tersentak dengan perilakuku. Tangannya lembut dan terasa hangat di tanganku. Aku menatap wajahnya. Ia tersenyum manis padaku. A—apa ini? Aku merasa senang bila kami bersama. Aku merasa, dia selalu ada di sampingku. Aku merasa ia sangat berharga. A—apa aku jatuh cinta padanya? TIDAK! Ini sangat mustahil!
"Kau kenapa melamun?" tanya Karin membuyarkan lamunanku.
"A—Ah! Tak apa. Ayo jalan-jalan," aku segera menarik tangannya bersemangat. Selama kami berdua berjalan bersama dalam diam. Pikiranku diisi banyak pertanyaan tentang Karin. Aish! Kau bodoh Kazune Kujyou! Jangan berpikir macam-macam sekarang!
.
.
"Kazune, aku capek isitirahat ne?" pintanya.
"Ya," jawabku singkat sambil menanggukan kepala. Kami segera duduk di bawah pohon sakura. Ia mendongak menatap langit yang berwarna soft blue sky. Ia menatap langit dengan tatapan sendu. Aku sedikit aneh dengan tatapan matanya. Benar-benar, aku tak pernah melihat tatapan mata seperti itu. A—Aku merasa tatapan itu menyakitkan sekali.
"Kau kenapa Karin?" tanyaku sedikit cemas.
"Ah! Aku tak apa," jawabnya kaget. Aku hanya menyergit dahi. Ia bohong. Aku dapat melihat kebohongannya dari sorot matanya. HEI! Jangan tuduh aku yang tidak-tidak hanya karena aku bisa melihat kebohongan dari sorot mata Karin. Banyak orang yang sering melakukan seperti itu bukan?
"Kau bohong. Cerita saja. Aku tak keberatan mendengar ceritamu." Karin menatap kearahku, ia segera menangis. Aku segera mendekapnya dengan erat. Aku mencoba menenangkan dan membuatnya nyaman. Aku ingin dia bisa nyaman dalam saat ini, karena itu memang yang ia butuhkan sekarang. Sepertinya, ia mengalami moment yang membuatnya tertekan. Tak lama, ia pun bisa tenang.
"Hiks... Shi-chan ma—mati!" ucapnya sambil menanggis.
"Shi-chan?" aku menyergit dahi heran. 'Apa lagi itu? Makanan?' batinku.
"Kucingku," jawabnya masih sedikit terisak. Aku mendekapnya erat mencoba kembali menenangkannya. Aku menatap Karin dan senyum manis. Kuusap surai brunette miliknya. Karin menatapku dan tersenyum tipis.
"Ayo kubelikan kucing baru," jawabku. Aku segera menggandeng tangannya menuju mobilku yang berada di parkiran. Setelah itu kujalankan mobilku menuju ke pet shop yang berada cuku jauh dari taman kota. Sekarang aku tak ingin balas dendam pada Karin. Karena kini, hatiku sudah jatuh padanya. Aku sudah tak ingin melihatnya sedih—itu tujuan utamaku sekarang.
.
.
"Menurutmu mana yang lucu?" tanya Karin padaku.
Aku melihat anak-anak kucing di toko hewan itu. Ada dua yang menurutku lucu. Seekor ucing dengan mata blue sky dan bulu putih dengn totol-totol coklat dan hitam di sekitar telinganya. Serta seekor kucing bermata onix dengan bulu berwarna putih dan totol abu-abu di mata kanannya. Aku segera menunjuk dua kucing itu yang menurutku lucu. Karin tersenyum melihatnya. Ia segera menunjuk-nunjuk kedua kucing itu.
"Ah! Itu sangat lucu," ucap Karin berbinar melihat kelakuan menggemas kedua kucing itu.
"Baiklah! Jadi yang itu ya!" aku segera memanggil penjaga toko dan membeli kedua kucing itu.
.
.
Setelah membeli 2 ekor kucing, aku dan Karin kembali ke taman. Kami melanjutkan kencan kami bersama dua kucing itu. Karin menatap kucing bermata shappier itu. Sedangkan aku sibuk menatap kucing berwarna onix itu. 'Lucu juga,' batinku saat melihat dua kucing itu. Aku segera mengacak bulu halus kucing bermata onix. Kami kini duduk di bangku taman yang berada di bawah pohon cemara dan berhadapan dengan air mancur di pusat taman.
"Kau lucu ya!" Karin membelai lembut kucing yang ia bawa. Aku tertawa ringan melihat tingkah Karin dan kucingnya. Karin menatapku dengan tatapan aneh. Ia sedikit memanyunkan bibirnya. Aish! Dia menggemaskan sekali!
"Ngomong-ngomong, kau ingin memberi nama siapa untuk kucingmu itu dan yang ini?" ucapku sambil menatap kedua kucing itu sambil mengalihkan pandanganku ke arah Karin yang masih sibuk dengan kucing bermata shappier.
"Yang ini Kha-chan dan yang itu Rhi-chan," jawabnya sambil menunjuk kedua kucing itu bergiliran. Aku menatap Rhi-chan. Aku menatap mata onix kucing yang menggemaskan itu. Entah kenapa. Matanya lucu sekali. Aku tertawa melihatnya. Karin juga ikut tertawa sambil menatap Kha-chan.
"Kazune, Rhi-chan kau pelihara ya? Biar adil!" ucapnya sambil menunjukan gummy smile.
"Ya. Sekarang Rhi-chan peliharaanku. Dan, kau rawat Kha-chan baik-baik ne?" jawabku sambil mengelus Rhi-chan. Rhi-chan terlihat senang dengan perlakuanku. Ia segera menggerakan kedua telinganya menunjukan bahwa ia senang.
"Of course!" jawab Karin bersemangat.
.
.
Jam di taman telah menunjukkan pukul 15.00 JST karena sudah berdentang cukup keras sebanyak 15 kali. Saat jam itu berdentang dengan keras, Rhi-chan dan Kha-chan menjadi takut dan masuk ke kandang masing-masing. Aku dan Karin tertawa melihat perilakuan kedua peliharaan kami.
"Karin," panggilku pelan.
"Nani?" tanya Karin.
"A—ano. Aku janji, tak akan jadi playboy lagi. Because, my love only you," ucapku pelan dan sedikit malu. Karin tersenyum. Pipinya juga merona malu. Ia menanganggukkan kepalanya pelan. Lalu ia segera memelukku. Aku tersenyum pelan. Kubalas pelukannya dengan hangat. Aku mengarahkan tanganku ke dagu Karin. Otomatis wajah Karin menatapku. Segera kutempelkan bibirku dengan bibirnya selama 10 detik. Setelah itu, aku melepasnya. Karin kaget, matanya membulat. Ada rona merah tipi menghiasi pipinya.
"Gomene,"ucapku menyesal.
"Tak apa," jawabnya. Ia menarik tanganku sambil membawa kandang Kha-chan.
"Ayo pulang!" katanya dengan senang.
"Ne!" jawabku sambil membawa kandang Rhi-chan.
.
.
Aku sampai di rumah pukul 16:00 JST. Aku menatap kandang Rhi-chan yang berisi seekor kucing yang kini tengah duduk manis di dalam kandang. Ia menatapku sejenak dan mengeong padaku. Aku tersenyum senang. Sejenak aku tertawa.
"Eh.. Kazu-nii sudah pulang? Apa itu?" tanya Kazusa saat melihatku dan menunjuk kandang Rhi-chan.
"Ini peliharaan baruku, namanya Rhi-chan. Tadi, aku dan Karin membelinya. Sebenarnya sih sepasang, tapi yang satu lagi dibawa Karin," jawabku enteng sambil membuka pintu kandang Rhi-chan. Rhi-chan keluar dan ia duduk di bawah kakiku. Ia menggosok-gosokkan hidungnya pada kakiku. Aku tertawa geli merasakan perlilaku Rhi-chan.
"Betulkan apa yang aku bilang dulu! Kau dari yang tidak suka dengan Karin jadi suka!" ucap Kazusa sambil mengusap bulu Rhi-chan.
"Hai, hai, hai! kau benar! Puas?" jawabku sambil memeluk Rhi-chan. Kazusa tersenyum dengan penuh kemenangan. Sesaat ia tersenyum dengan bahagia. Aku merasa heran dengan senyum itu. Entah kenapa perasaan buruk tengah kurasa melihat senyum Kazusa.
"Berarti Kazu-nii harus mentraktrik Jin, Michiru, da tentunya aku juga!" seru Kazusa Kazusa riang.
"Eh?" aku lupa janjiku. Aku memutar memori otakku yang jenius ini. Aku teringat dengan kejadian saat pesta dansa tentang janjiku pada Jin. Aku segera menatap Kazusa sejenak. Lalu aku menatap Rhi-chan yang berada dalam dekapanku
"TIDAK UANGKU AKAN HABIS!"
To Be Continue
.
.
What do you think?
Don't forget leave me your opinion in review ne?
