ENJOY
Kamichama Karin © Koge-Donbo
Playboy
Warning : GaJe, Aneh, Sulit dipahami, OOC, OC, AU, Typo & Miss Typo, De Es Be.
4 : The Bigest Problem
Kini, sudah seminggu genap aku dan Karin berpacaran secara tulus dan serius. Aku menatap Rhi-chan yang sedang bergulung di karpet ruang tengah. Ia terlihat sangat senang. Aku tertawa kecil segera kuusap kepalanya. Ia terlihat senang dan menunjukannya dengan mengeong-ngeong.
Futari no jikan ga tomaru~ Suki yo booifurendo!—ponselku bergetar pelan. Aku meraih ponsel yang kuletakkan di atas meja. Aku melihat ada 1 pesan singkat yang masuk. Segera aku membacanya. Siapa tahu pesan itu dari Karin. Hei! Aku tak salahkan berharap mendapatkan pesan dari kekasihku sendiri?
From : UNKNOW ( Private Number )
To : Kazune Kujyou ( +81 – 212 – 342– xxx )
Jauhi Karin mulai sekarang! Atau kau akan berhadapan denganku!
Reply This Message
Aku menggeram pelan. 'Siapa ini? Kenapa dia mengancamku untuk menjauhi Karin. Siapa dia?' pikirku penuh sejuta pertanyaan sambil menatap layar ponselku yang masih berisi pesan dari Orang Misterius itu. Aku menatap Rhi-chan yang sedang bergulung di atas karpet. Aku mengelus kepalanya. Ia mengeong dan menggerakan telinganya lucu. Aku tersenyum simpul.
"Hah~ Siapa dia? Kenapa dia menerorku ya?" tanyaku sambil menarik Rhi-chan dan memeluknya. Rhi-chan mengeong dan mengesek-gesekkan kepalanya pada tanganku. Aku tertawa ringan.
"Meaow~ Meaow?" jawabnya sambil menggerakkan telinganya.
Aku tertawa ringan melihat tingkah Rhi-chan yang menggemaskan. Lalu segera memasukkan Rhi-chan ke kandang dan memberinya makan. Setelah itu, aku ke kamar dan chatting via video dengan Karin, karena hari ini aku dan Karin tak bisa kencan seperti minggu lalu.
.
.
Pagi ini sangat cerah. Tapi, entah kenapa aku merasakan hal yang tak enak. Aku bergegas menuju sekolah dengan berjalan kaki bersama Kazusa. Sesampainya di sekolah. Aku tak melihat Karin. 'Kemana dia?' pikirku sambil celingak-celinguk mencari Karin. Aku berdecak sebal karena tak menemukannya.
"Kemana kau?" lirihku pelan.
Bel akan berbunyi 5 menit lagi. Aku melihat Karin datang tergesa. Keringat mengucur deras dari pelipisnya. Aku segera berjalan mendekatinya mendekatinya. Memastikan keadaannya baik-baik saja. Aku tak ingin terjadi hal buruk padanya.
"Kau sehat?" tanyaku cemas.
"Ya," jawabnya ringan sambil menyunggingkan senyum manisnya.
Aku bernapas lega. Itu merupakan kabar bahagia untukku karena Karin tak apa-apa. Aku sangat khawatir karena tak melihatnya saat datang. Karna, biasanya, ia datang lebih dulu daripada aku dan Kazusa. Bel masuk berdering dengan keras. Aku segera kembali ke bangkuku sambil sedikit mencuri pandangan pada Karin. Karin yang mengetahuinya tertawa ringan. Aku tersenyum simpul. Dan duduk di bangkuku dengan tenang.
"Ciee!" teriak Jin ringan disampingku.
"Diamlah! Berisik!" aku segera menjitak kepala Jin. Jin yang segera mengelus kepalanya. Ia memanyunkan bibirnya padaku dan memberikanku tatapan yang menurutku menjijkan. Aku membalikan pandanganku dari Jin.
"Wajahmu menjijikan!" ucapku dengan nada ketus. Aku memang sering melakukan hal itu pada Jin. Memang itu tindakan kekanak-kanakan. Tapi, itu mampu membuat Jin tak membalasnya. Aku tertawa penuh kemenangan karena dapat membuat Jin tak berkomentar lagi.
Tak lama Hayake-sensei datang sambil membawa tumpukan buku sejarah yang tebal. Ia kerepotan membawa tumpukan buku yang terbal itu. Setelah sampai di mejanya, ia sedikit membenarkan letak kacamatanya yang sedikit salah. Ia menatap beberapa siswa. Dan tersenyum ringan.
"Buka halaman 127. Tapi, sebelum itu berdoa dulu," ucap Hayake-sensei dengan ramah.
"Baik sensei," jawab semua siswa serentak.
.
.
Bel istirahat berdentang nyaring terdengar di seluruh ruangan sekolah. Aku melihat Karin yang sudah pergi keluar kelas bersama Kazusa dan Himeka. Aku menarik napas pelan. Seketika, aku teringat dengan pesan yang mengusik pikiranku kemarin. Segera aku mencari Michi. Karena ia kenal dengan Karin sejak mereka kecil, jadi Michi sangat paham dengan Karin. Aku melihat Michi sedang duduk di bawah pohon sakura sambil membaca buku.
"Hei, Michi!" ucapku seraya melambaikan tangan padanya dari kejauhan.
Michi menghentikan aktivitasnya dan menoleh kearahku. Ia melambaikan tangannya sambil tersenyum ringan. Aku berlari kecil menuju ke arah Michi. Michi meletakkan bukunya dan ia sedikit menggeser posisi duduknya. Aku segera duduk di sampingnya.
"Nah, ada apa? Mau traktir lagi?" tanyanya dengan senyum ringan atau hanya cengiran tak jelas.
"TIDAK! Cukup sekali itu saja! Uangku kalian peras hingga habis!" jawabku dengan sebal. Karena saat acara traktir itu berubah menjadi acara pemerasan oleh Jin, Kazusa, dan Michi uangku banyak yang habis karena mereka makan banyak sekali dan membeli beberapa barang yang menurutku aneh. Michi terkekeh pelan. Aku hanya menatapnya dengan tatapan ketus. Tak lama ia berhenti tertekekeh.
"Lalu apa?" tanyanya mulai serius.
"Begini, aku mendapat pesan teror oleh seseorang. Ia mengatakan bahwa aku harus menjauhi Karin. Kau tau siapa dia?" terangku.
"Ah! Pasti dia!" ucap Michi dengan nada tak senang.
"Siapa?" tanyaku penasaran.
"Zen Nakayouga. Siswa kelas III-2. Ia menyukai Karin sejak lama. Tapi, Karin selalu menolaknya. Sayangnya, Zen tak mau berhenti menembak Karin, hingga Karin mau menerimanya," jawab Michi.
"Oh dia rupanya!" jawabku enteng.
"Hati-hati Kazune. Kau tau? Ia pasti akan melakukan segala cara agar bisa menghancurkan hubunganmu," saran Michi padaku.
Aku mengangguk pelan. Aku percaya ucapan Michi. Ia tak pernah berbohong padaku. Dan aku dapat mengetahui kejujurannya dari sorot matanya. Walau sejujurnya, Michi sering berbohong padaku kalau ia sedang dalam masa yang terdesak. Seperti berbohong pinjam uang untuk membayar buku yang ia gunakan untuk memberi pakan kelinci.
"Kazune, kau mau tida traktir aku lagi ya?"
"Arght! Tidak! Tidak! Tidak! Cukup traktir saat itu saja!"
.
.
Bel pulang sudah berdentang dengan keras. Aku segera membereskan buku yang berserakan di mejaku dan menghampiri Karin. Kazusa sudah heboh mengejekku bersama Jin. Tapi, kuacuhkan ia dengan pacarnya. Mereka adalah penganggu kau tahu? Mereka pasangan yang jahil.
"Ayo pulang!" ucapku pelan.
"Ya,"jawab Karin ringan sambil menggenggam tanganku. Perjalanan pulang dihiasi oleh ejekan aneh dari Jin dan Kazusa. Tapi, kami—aku dan Karin—mengacuhkannya. Aku mengamati Karin dengan sesama. Aku sedikit khawatir dengannya. Aku merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi pada kami. Sesuatu yang sangat buruk.
"Karin, kau percaya padaku kan?" tanyaku sedikit ragu.
"Tentu saja. Aku percaya padamu Kazune," jawabnya dengan senyum manis. Aku tersenyum ringan. Tapi, entah kenapa aku merasa ada masalah besar yang akan melanda kami. Di perempatan jalan, kami berpisah. Aku menatap Karin yang mulai menjauh dariku. Enath kenapa ada rasa was-was di hatiku. Kazusa menatapku heran.
"Ada apa?" tanyaku ketus.
"Kau merasakan sesuatu?" tanya Kazusa ragu.
"Tidak," jawabku datar.
.
.
Aku berjalan sendiri menuju rumah. Kazusa tadi berlari duluan menuju rumah. Jarak ke tumah hanya tinggal 700 meter lagi. Aku berpikir beberapa hal aneh selama berjalan. Hingga tak sengaja, aku menabrak seorang gadis berambut soft lavender. Aku segera menolongnya dengan mengulurkan tanganku.
"Go—Gomene!" ucapku sambil mengulurkan tangan kananku. Aku mengulurkan tangaku untuk menolongnya, segera gadis itu menerima uluran tangaku. Aku lalu berusaha menariknya dengan pelan. Tapi, saat ia berdiri ia hampir terpleset. Aku menariknya cukup kuat hingga aku dan dia jatuh. Dan posisinya aku berada di bawah dan dia di atas. Dan sialnya lagi. Aku tak segaja mencium bibirnya. 'Kami-sana apa yang aku lakukan kali ini?!' batinku.
"Ah! Go—Gomene!" ucapnya seraya bangkit.
"Tak apa. Ini hanya kecelakaan," jawabku ringan. "Gomene!"lanjutku. Setelah aku mengucapkan maaf sekali lagi. Seusai itu gadis itu pergi meninggalkanku dan tak berbicara sepatah kata lagi. Ia terlihat pergi dengan tergesa. Perasaanku sekarang jadi was-was dan takut. Entah apa yang akan terjadi.
"Kazu-nii cepat pulang!" seru Kazusa yang datang tiba-tiba berada di belakangku. Aku menoleh ke arah Kazusa dan mengangguk pelan dan mengikutinya dari belakang.
.
.
"Ini foto yang bagus untuk menghancurkannya," ucap seseorang dengan senyum kemenangan atau seringai yang lebar dari kejauhan. Ia segera berjalan dari tempat persembunyiaanya yang berada di dekat tempat yang menjadi saksi bisu adegan ciuman tadi dengan senyum kemenangan.
.
.
"Kazune!" teriak Karin padaku dari jauh saat aku memasuki kelas.
"Ada a-," belum selesai aku menjawab sebuah tamparan mengenai wajahku. PLAK!—Karin menampar wajahku dengan keras. Darah segar segera mengalir dari hidungku.
"Kenapa kau menamparku?" protesku tak terima.
"Apa ini? Jelaskan padaku!" teriak Karin dengan tangis yang segera pecah sambil menunjukkan foto aku dan seorang gadis yang berciuman. Mataku membulat seketika. Itu foto saat kecelakaan kemarin dengan gadis berambut soft lavender. Tapi tunggu dulu! Siapa yang memotret kami?
"Itu kecelakaan," jelasku.
"Kau bohong! Itu bukan kecelakaan!" teriak Karin sambil menaparku lagi.
"Itu benar-benar kecelakaan!" terangku.
"Lalu bagaimana dengan foto ini? Bagaimana? Kau penipu. Katamu kau tak akan menjadi playboy lagi. TAPI! KENAPA KAU MENCIUM GADIS INI! KENAPA?" bentak Karin sambil menangis kencang. Karin membalikkan tubuhnya. Ia menatapku sejenak dan menghapus air matanya kasar. "KITA PUTUS!" ucapnya sambil menangis dan menjauh dariku.
Perasaanku bergejolak tak karuan. Rasa nyeri langsung terasa di dada bagian kanan. 'A—apa? Putus? Tidak mungkin! A—aku kan mencintainya!' pikirku kacau. Aku berlari mengejarnya. Tapi, segera aku ditahan oleh Michi dan Jin. Aku menatap mata mereka berdua taham. Mereka menggeleng pelan.
"Biarkan dia tenang dulu," saran Michi. Aku menarik nafas pelan. Aku mengangguk pelan. Aku memang harus membiarkannya tenang dulu. Jangan gegabah kali ini. Aku mengerti ia sedang sakit hati. Dan aku harus mengembalikan segala hal dengan perlahan.
"Bagaimana? Kalian putus? Kasihan sekali," ucap seseorang sambil bertepuk tangan kecil..
"Kau!" aku menatap orang itu tajam. Tatapan sinis menghiasi matanya yang berwarna onix. Dan rambutnya yang berwarna hitam bergerak diiringi hembusan angin. Beberapa siswi yang melihatnya terpana. Aku segera mengepalkan tanganku, menahan emosiku yang hampir meluap.
"Zen!" teriak Michi dengan nada sebal.
"Oh! Hai Michiru," sapa Zen ringan dengan senyumnya yang menyebalkan. Zen berjalan mendekatiku. Ia menatapku dengan tatapan sinis. Setelah itu, ia tersenyum penuh kemenangan. Ia menaruh tangannya di kepalaku. Dan mengacak rambut blondeku sesuka hati. Dan mendekatkan kepalanya pada telingaku.
"Kubilang apa kemarin? Kau tak ikuti perintahku. Jadi, rasakan itu. Aku yang akan mendapatkan Karin," bisiknya. Ia tersenyum penuh kemenangan padaku. Lalu melangkahkan kakinya menjauh dariku. Aku menggeram sebal. 'Awas kau Zen!' runtukku. Michi dan Jin berusaha menenangkanku.
"Aku yang akan mendapatkan Karin. Karena aku mencintainya dengan tulus. Tak sepertimu Zen!" lirihku.
To Be Continue
.
.
What do you think?
Leave me your opinion in review!
