ENJOY
Kamichama Karin © Koge-Donbo
Playboy
Warning : GaJe, Aneh, Sulit dipahami, Deskripsi buat pusing, OC, OOC, AU, Typo & Miss Typo berterbaran, De Es Be.
5 : Is It End Of My Love?
Sudah 2 hari ini, aku tak sering bertemu Karin. Sejak, insiden foto pembawa masalah dari Zen itu datang, Karin menghindar dariku. Aku menghela napas pelan. Aku ingin bertemu dengannya setiap saat. Aku ingin bercanda dengannya. Aku ingin, kami dapat bersama seperti dulu. Namun, semua hancur karena Zen. Aku harus bisa mencari waktu yang pas. Aku mengacak rambut blondku frustasi. Aku benar-benar tak dapat jauh dari Karin sekarang.
'Aa~! Awas kau Zen!' runtukku sambil mengutuk Zen dalam hati. Aku menyandarkan kepalaku di atas buku matematika. Aku mencuri sedikit pandangan ke arah Karin. Ia nampak sedang memperhatikan pelajaran dengan sangat serius. Aku tersenyum kecil. Aku hanya bisa melihatnya saat pelajaran, sedangkan saat-saat lain tidak. Ia langsung pergi jika bertemu denganku. Aku tau satu hal, ia marah. Marah sekali padaku. Oh! Tidak! Mungkin ia tak hanya marah padaku, tapi juga benci.
Aku menjambak rambutku ringan. Aku benar-benar sudah mencintai Karin sekarang. Aku mengembalikkan posisi wajahku untuk memperhatikan Miro-sensei yang sedang mengajar sosiologi yang kini tengah berbicara tentang masalah penduduk.
"Apa kita bisa bersama lagi?" bisikku pelan.
.
.
Bel pulang sudah berbunyi 1 jam yang lalu. Aku sekarang tengah berada di taman kota, tempat pertama aku dan Karin kencan. Aku duduk di bangku taman yang dulu aku duduki bersama Karin. Aku menggalau di tempat ini. Mengingat detik-detik saat bersama dengannya. Aku ingat saat aku menenangkannya karena ia sedih karena Shi-chan sudah mati, saat membeli Rhi-chan dan Kha-chan. Aku teringat dengan Kha-chan sejenak. Bagaimana nasibnya sekarang? Aku membelalak kaget dengan pikiran yang menyergap otakku sekarang.
"Ja—jangan-jangan, Karin membuang Kha-chan!" ucapku setengah berteriak.
Aku kembali mengacak rambutku. Selama aku putus dengan Karin, aku mudah frustasi dan selalu mengacak rambut blondeku. Aku meremas rambutku. Aku tak tega kalau Kha-chan di buang. Biar bagaimanapun, ia makhluk hidup dan bila dibuang kasihan bukan? Aku berteriak ringan. Berusaha melepaskan rasa stress yang menyergap dan menumpuk di kepalaku. Galau sekali rasanya. Memori otakku berputar saat aku bersama dengan Karin. Aku menjambak rambutku dengan cukup kencang.
"Ka—Karin," ucapku pelan.
Aku meringkuk di bangku taman ini. Aku galau sekali. Aku tak tau apa yang harus aku lakukan. Aku memukul keningku dengan tanganku secara perlahan. Berusaha menenangkan otakku yang mulai error dengan parah. Aku kembali mengacak rambutku kesal.
"A—aku ingin Karin kembali padaku!" ucapku setengah berteriak.
.
.
"Tadaima," teriakku lemas saat membuka pintu rumah.
"Okaeri. Kazu-nii, kau kenapa?" tanya Kazusa yang cemas melihat keadaanku. Baju seragam yang berantakan dan rambutku yang acak-acakan. Aku terlihat seperti anak sekolah yang frustasi saat akan mengikuti Ujian Nasional. Kazusa memapahku hingga aku duduk di sofa ruang tengah.
"Ka—kau kenapa Kazu-nii?" tanyanya lagi dengan kecemasan yang tersirat di wajahnya.
"A—aku," ucapku bingung untuk memulai cerita yang panjang ini. Aku hanya menatap Kazusa dengan tatapan kosong, karena bingung mau bicara apa.
"Baiklah, aku mengerti. Kazu-nii galau kan? Galau karena putus dengan Karin?" tanyanya. Aku hanya mengangguk pelan. Ya, perasaanku sekarang tengah berada di level kegalauan tinggi karena putus dengan Karin. Kazusa menarik napas panjang, sejenak ia tersenyum.
"Dan," Kazusa sedikit menggantung kalimatnya "Kau ingin kembali dengan Karin kan?" lanjutnya.
"Ya, aku sangat ingin. Tapi, bagaimana?" tanyaku.
"Kazu-nii, katanya orang yang jenius! Kenapa Kazu-nii tak punya ide? Hah! Baiklah. Aku tau kalau Kazu-nii dijebak oleh Zen-senpai. Jadi, sebaiknya, kita cari saksi dulu," saran Kazusa sambil menyungginkan senyum ringan. Aku seperti mendapat sebuah pentunjuk dari Kazusa. Semangatku langsung berkobar seketika. Tapi, mendadak semangatku turun drastis. Wajahku yang cerah langsung menjadi masam. Aku menggacak rambutku kesal.
"Ta—Tapi jalanan saat itu jalanan sepi!" ucapku setengah berteriak.
Kazusa menghela nafas "Kalau begini sulit." Kami duduk terdiam sambil memikirkan beberapa rencana. Otakku bekerja dengan keras. Aku mengacak rambutku lagi. Aku benar-benar pusing sekarang. Tapi, bagaimanapun aku harus mencari cara agar aku bisa bersama dengan Karin lagi.
.
.
"Sepertinya aku salah ya?" tanya seorang gadis pada kucingnya.
"Meaow?" kucing dengan mata shappier itu bergerak mendekati gadis itu. Gadis itu mengelus pelan kepala kucing itu. Kucing itu menggerakkan kepalanya, ia sangat senang di elus oleh gadis itu. Gadis itu tertawa ringan. Senyum kecil mengembang di wajahnya.
"Kurasa, aku salah. Aku terlalu marah. Aku harusnya tak mengucapkan itu. I—itu hanya kebohongan dari Zen-senpai yang sangat menyebalkan. Harusnya aku percara padanya," ucap gadis dengan nada sedih.
"A—aku harus minta maaf!" ucapnya sambil menggendong kucingnya.
.
.
"Begini saja, Kazu-nii!" teriak Kazusa tiba-tiba. Aku langsung menoleh padanya dengan sebelah alis yang naik karena pensaran. Senyum senang sukses mengembang di wajahnya. Aku yang melihatnya hanya, menggelengkan kepala. Aku sesekali heran dengan adikku ini.
"Kazu-nii, kau tahu apa saja yang Karin suka?" tanya Kazusa.
"Ya, dia suka bunga mawar, coklat, kucing, dan apa ya yang satu lagi, aku lupa. Oh iya! Novel! Ia sangat suka itu!" teriakku dengan senang pada saat Kazusa menanyakan benda yang Karin suka. Kazusa yang mendengarnya hanya tersenyum senang sambil menggelengkan kepalanya. Dia pasti berpikir kalau aku sudah sangat hafal dengan Karin. Tentu saja, sebagai pacar yang baik harus hafal dengan kesukaan sang pacar bukan?
"Kau belikan hadiah itu padanya tapi secara rahasia selama 7 hari. Lalu, kau di hari terakhir, beri dia pesan untuk bertemu denganmu," ucap Kazusa ringan. Aku menatap Kazusa riang. Segera kupeluk adikku itu. Aku mengucapkan terima kasih beberapa kali. Ide Kazusa baru saja membuat hatiku berbunga-bunga. Aku segera berlari ke kamar mandi untuk mandi dan bersiap pergi memberi bunga mawar yang banyak sekali untuk Karin.
.
.
Jam baru saja menunjukkan pukul 06.30 JST, kelas akan di mulai jam 07.15 JST. Keadaan sekolah belum ramai, terutama di kelasku. Belum ada yang datang selain aku dan Kazusa. Aku segera berjalan ke loker milik Karin. Aku ambil bunga mawar yang semalam aku rangkai sendiri dengan sedikit bantuan Kazusa ke dan kumasukkan dalam loker Karin. Bunga mawar putih, merah, dan pink yang ku rangkai menjadi bentuk hati dan ada pesan kecil yang bertulis You're my girl. I Love U. Aku tersenyum riang sesudah memasukkan rangkaian bunga itu ke loker Karin. Tak lama semakin banyak orang yang datang. Aku dan Kazusa bergegas keluar kelas. Mencari udara pagi yang segar. Atau lebih tepatnya aku mencari tau apa Karin yang sudah datang atau belum.
"Semoga rencana ini berhasil! Ya, pasti berhasil," ucapku pelan.
.
.
Hari telah berganti hari. Sudah tepat seminggu aku memberi kado misterius untuk Karin. Dan bila aku amati, dia sangat suka dengan kado itu. Mulai dari novel, bunga mawar, dan coklat. Kurasa, Karin sudah tau pengirim kado itu. Tapi, ia tak berekspresi apa-apa jika bertemu denganku. Apa ia masih marah? Semoga saja tidak. Aku tak ingin masalah ini semakin berlarut-larut.
Aku sudah berada di taman tempat dimana aku—sebagai pengirim kado misterius itu ingin bertemu Karin. Taman yang sama dengan dulu, taman tempat pertama kali aku dan Karin kencan. Aku tersenyum ringan menunggu Karin. Hari ini Senin, tapi libur karena para guru mengadakan rapat. Aku menggunakan ham berwarna soft blue sky dengan setelan celana jeans hitam. Aku membawa sesuatu yang kusembunyikan di belakang tubuhkku. Sebuah kado berwarna berbungkus kertas kado berwarna merah muda dengan pita berwarna merah marun.
Aku menenggok kesana-sini untuk mencari Karin. Aku belum melihat tanda-tandanya. Aku sedikit melirik ke arah jam tangan yang melingkar di tangan kiriku. Sudah jam 9 pagi. Padahal, kami membuat janji bertemu jam 08.30 JST. Apa ia tak mau datang? Apa ia masih marah padaku? Apa ia tambah membenciku dengan kado yang kuberikan? Aku tak mengerti. Ini masih sebuah pertanyaan besar untukku. Aku tersenyum ringan, mencoba menyabarkan diriku. Aku duduk di bangku taman untuk menunggu Karin.
.
.
"Hah," aku menghela napas jenuh. Sudah berapa lama aku di taman ini? Aku melirik jam tangaku yang menunjukkan pukul 11.00 JST. Aku menghela napas pelan. Aku mendongak, menatap langit biru yang berubah. Awan startus sudah menutupi langit. Aku tersenyum masam. Aku bangkit, dan berjalan meninggalkan taman. Segera kumasukkan kado itu ke dalam saku celanaku. Aku yakin Karin tak akan datang. Karena ia marah padaku. Tidak, ia tak hanya marah padaku, ia benci padaku. Aku tersenyum masam selama berjalan. Aku tau, usahaku sia-sia. Aku sudah berharap sesuatu yang tak mungkin berjalan lagi. Itu mustahil! Sangat mustahil.
Aku berjalan dengan langkah gontai melewati jalanan. Aku sama sekali tak berpikir tentang apa pun selain Karin. Hujan kini mulai membasahi bumi. Tetesan air yang berukuran beberapa mili itu mengenai tubuhku. Semakin lama hujan semakin deras. Aku berjalan di bawah hujan deras. Aku menyebrang jalan malas. Aku tak menoleh ke kanan atau ke kiri. Aku tak berpikir apa yang akan terjadi. Aku merasa perasaanku bercampur aduk. Aku hanya ingin bersama dengan Karin! Tapi, itu tak mungkin. Karena, ia membenciku sekarang.
TIIN! TIIN! TIIN!—klakson truk bergema jelas di telingaku. Aku menoleh. Menatap sebuah truk dengan kecepatan tinggi menuju kearahku. Mataku terbelalak kaget. Tubuhku seketika kaku tak bisa bergerak lagi. Aku tak tau apa yang akan terjadi. Seketika, tubuhku ini di tabrak truk itu. Aku terlempar hingga di trotoar pinggir jalan. Aku merasa ada sesuatu yang kental mengalir di atas kepalaku. Aku berusaha menyentuhnya. Tapi, aku tak bisa. Tubuhku lemas. Pandanganku mulai mengabur. Tapi, aku berusaha untuk bertahan.
Aku melihat sosok yang mendekati sambil membawa payung berwarna biru muda. Langkahnya terus mendekatiku. Aku tersenyum melihatnya. Gadis dengan rambut coklat yang diikat jadi satu. Iris emeraldnya memancarkan pandangan khawatir. Ada air mata yang akan tertetes di ujung matanya. Ia mendekapku setibanya di sampingku. Aku tak dapat memeluknya balik. Tubuhku sangat lemah.
"Ka—Kazune," ucapnya pelan sambil menangis.
"Ka—Ka—Karin. Go—Gomene. A—aku minta ma—maaf," ucapku pelan sambil mengeluarkan kado dari dalam saku celanaku dengan sulit. Mengingat keadaanku seperti ini. Akhirnya, aku berhasil memberikankado itu pada Karin. Pandanganku segera menggelap. Kepalaku merasa pusing yang semakin menjadi. Seketika, mataku terpejam. Tak ada lagi yang aku ketahui. Aku hanya mendengar Karin berteriak memanggil namaku dan sirine ambulan yang mendekat. Aku tak tau apa yang terjadi. Aku pasrah. Mungkin saja ini akhir hidupku dan akhir dari cintaku.
To Be Continue
.
.
What do you think?
Review ne?
