ENJOY


Kamichama Karin © Koge-Donbo

Playboy

Warning : GaJe, Aneh, Sulit dipahami, Deskripsi buat pusing, OC, OOC, AU, Typo & Miss Typo berterbaran, De Es Be.


6 : Let's Start It Again!


Aku merasa benda halus menyentuh pipiku dengan perlahan. Aku mencoba membuka mata. Namun, itu sulit. Mataku seperti sudah di lem dengan lem super sehingga membuatku sulit membuka mata. Aku mengumpulkan segenap tenaga dan berusaha membuka mataku. Akhirnya, aku bisa membuka mataku. Aku menatap sekelilingku. Aku hanya melihat lingkungan yang kosong dengan warna putih bersih. Aku terlonjak kaget ketika melihat sosok yang sudah lama tak kutemui berada di sampingku. Tangannya menyentuh pipiku dan membelai rambutku.

"O—Okaa-san!" ucapku kaget. Okaa-san tersenyum ramah. Ia menyentuh pipiku dengan lembut dan membelainya. Matanya yang berwarna zambrut itu menatap iris mataku. Aku tersernyum padanya. Memberikan senyuman terbaikku padanya. Aku rindu belaian ini.

"Aku dimana Okaa-san?" tanyaku.

"Kau tak perlu tahu Kazune. Ini rahasia," ucap Okaa-san sambil mencubit hidungku pelan. Aku tersenyum senang. Aku merindukkan sosok Okaa-san. Sosok yang lama tak aku temui. Okaa-san sudah tiada. Jadi, mungkinkah aku berada di surga? Entah aku tak tahu. Tapi, aku tak ingin pergi secepat ini. Aku menatap sekelilingku. Aku menangkap sebuah banyangan seseorang mendekat kemari, ke arahku dan Okaa-san.

"Kazune," suara yang tak asing terdengar di telingaku. Aku menatap sosok itu. Itu Otou-san! Ya, Otou-san! Aku sudah lama tak bertemu dengannya! Ia juga telah tiada. Otou-san mendekatiku. Ia mengusap rambutku lembut. Aku tersenyum senang menerima perlakukan Otou-san dan Okaa-san padaku. Kasih sayang yang lama tak kurasa. Aku terasa di manja seperti saat aku kecil.

"Aku kenapa bisa berada disini?" tanyaku.

"Okaa-san dan Otou-san tak bisa menjawab. Ini rahasia," jawab Okaa-san sambil mengelus pipiku lembut.

"Apa Okaa-san dan Otou-san akan pulang?" tanyaku lagi dengan jawaban yang telah terbukti. Yaitu TIDAK! Tidak mungkin Okaa-san dan Otou-san pulang. Sudah ada perbedaan yang menghalangi dan membentenghi untuk Okaa-san dan Otou-san pulang. Okaa-san menggeleng pelan. Otou-san mengelus rambutku pelan. Ia tersenyum, tapi senyum itu tak dapat di mengerti .

.


.

Seorang gadis menatap sosok yang tengah terbaring lemah di atas kasur. Di tangan kanannya bertengger selang infus. Alat pembantu pernapasan terpasang untuk membantunya bernapas. Beberapa alat-alat yang etah bernama apa juga berada di sampingnya. Alat-alat itu melekat di tubuh orang itu. Alat yang membantunya bertahan hidup. Gadis itu menatap sosok dengan kepala yang di perban. Matanya sosok itu terpejam.

Sudah lama, sosok itu memejamkan matanya—seminggu sudah ia hanya terbaring lemah. Tangan gadis itu menggerakkan tangannya menyetuh kaca tebal yang membatasinya dengan sosok itu. Ia menanggis. Tangan kanannya mengepal menunjukan emosi yang sudah tinggi. Rindu. Rindu sudah membuai hatinya.

"Kazune," ucapnya sambil menahan tangis.

.


.

"Kazune, apa kau ingin bersama Okaa-san dan Otou-san terus?" tanya Okaa-san sambil mengelus pipiku lembut.

"Aku ingin bersana Okaa-san," jawabku sambil menatap mata Okaa-san dengan tatapan serius.

"Apa kau yakin tak akan menyesal, Kazune?" tanya Otou-san tegas.

"Ma—maksudnya?" aku heran. Menyesal? Menyesal untuk apa? Kenapa aku harus menyesal? Aku jadi heran dengan maksud Okaa-san dan Otou-san. Aku merasa diputari oleh pertanyaan-pertanyaan yang tak ingin kujawab!

"Apa kau ingin meninggalkan orang yang kau sayangi dan kau bersama kami, Kazune?" Okaa-san mengelus rambut blondeku dengan lembut. Orang yang kusayangi? Aku langsung teringat dengan Kazusa dan Karin. Aku tersentak. Iris mataku segera menatap iris mata Okaa-san. Aku tak percaya. Aku melupakan Kazusa dan Karin. Bagaimana bisa? Tunggu dulu! Bagaimana keadaan mereka berdua sekarang? Apa mereka sedang menangis mengkhawatirkanku?

Kalau Kazusa sih aku percaya ia menanggis dengan keadaanku. Ah! Tapi jika Karin? Kurasa Karin masih benci padaku? Ia tak suka padaku. Ini semua karena Zen! Argh! Aku bingung sekarang! Apa yang harus aku lakukan? Aku mengacak rambutku pelan. Sedikit frustasi dengan hal yang aku alami sekarang. Okaa-san mendekapku, dekapan hangat yang lama sekali tak kurasa. Aku memejamkan mataku, menikmati pelukkan hangat Okaa-san. Okaa-san melepaskan pelukannya, diusapnya rambutku dengan penuh kasih sayang.

"Kau harus memilih yang terbaik Kazune," bisik Okaa-san padaku. Aku mendongak, iris mataku menatap iris zambrut Okaa-san. Ah, mata itu mengingatkanku pada Karin. Okaa-san mengelus rambut blondeku berulang kali. Aku merasa nyaman bila ada di dekat okaa-san. Aku juga merasa nyaman bila berada di samping Karin. "Okaa-san tahu, kau sudah dewasa," ucapnya.

"Pilihlah yang terbaik Kazune. Kami tak apa-apa disini," tutur Otou-san dengan bijak. Aku memalingkan wajahku dari Okaa-san. Kini aku tengah menatap Otou-san. Aku tersenyum mendengar nasehat dari Otou-san. Aku mengangguk pelan.

"Aku memilih ..."

.


.

"Dokter! Kondisi pasien Kazune Kujyou menurun!" seru seorang suster. Dokter yang sedang menjelaskan keadaan Kazune pada Kazuse dan Karin segera berlari masuk ke ruangan Kazune berada. Karin yang berada di samping Kazusa melemas. Kakinya sudah tak mampu menopang berat tubuhnya. Sedangkan Kazusa sedang menahan tangisnya.

"Kami-sama, tolonglah Kazune," lirih Karin sambil mulai terisak.

.


.

"Kau yakin dengan keputusanmu ini Kazune?" tanya Okaa-san berusaha menyakinkan Kazune.

Aku mengangguk dengan yakin "Aku yakin."

Otou-san mengacak rambut blondeku pelan. Ia tersenyum lembut padaku. Okaa-san segera memelukku. Rambutku diusapnya berulang kali. Otou-san menepuk bahuku untuk meyakinkan keputusanku ini. Aku sudah bertekad bulat dengan keputusanku ini. Aku percaya ini keputusan yang terbaik.

"Jaga dirimu baik-baik Kazune. Jaga juga yang lain," ucap Okaa-san.

"Aku mengerti Okaa-san," jawabku sambil memeluk Okaa-san.

"Nah, baiklah. Ini perpisahan. Kita akan bertemu lagi setelah ini. Tapi, itu entah kapan. Hati-hati Kazune," seru Otou-san. Aku merasakan tanah yang kupijak mulai bergerak menjauhi tempat Okaa-san dan Otou-san. Aku melihat mereka tengah melambaikan tangan padaku. Segera aku angkat tanganku dan kulambaikan tanganku. Aku memejamkan mataku.

"Kita akan bertemu lagi suatu saat nanti!" seru Otou-san dan Okaa-san bersamaan.

.


.

PIP!—suara mesin detak jantung Kazune berbunyi. Karin yang mendengar alat itu langsung jatuh lemas. 'I—ini tak mungkin!' jerit Karin dalam hati. Ia menarik rambut brunettenya pelan. 'Kazune tak mungkin pergi secepat ini!' pikir Karin.

"Sabarkan dirimu kalian," Jin berusaha menenangkan Karin dan juga Kazusa yang menangis. Jin mendekap tubuh Kazusa yang gemetar karena menangis. Karin hanya menatap pemandangan di depannya dengan shock. Ia belum percaya.

"Hanazono, tabahkan dirimu," Michi menepuk pundak Karin beberapa kali. Ia seperti berusaha memberikan Karin semangat untuk hidup. Para suster pun mulai melepaskan beberapa alat yang membantu hidup Kazune untuk seminggu ini. Saat suster hendak melepas mesin detak jantung Kazune, ia terperanjat kaget. DUG, DUG, DUG!—suara itu berbunyi dengan irama yang teratur. Grafik berbentuk garis naik turun mulai berjalan.

"Pasang lagi semuanya!" seru sang dokter.

Karin dan Kazusa yang mendengar seruan sang dokter menghentikan tangis mereka. Senyum ringan segera mengembang di wajah Kazusa. Karin segera menghapus air matanya. Ia segera mendekati dinding kaca yang membatasi dirinya dan Kazune.

"Kazune," bisiknya pelan dengan senyum kecil.

.


.

"Ngghh," aku melengguh pelan. Kelopak mataku terasa sedikit berat. Aku berusaha untuk membukanya. Hal pertama yang aku lihat adalah langit-langit putih. Aku berusaha untuk melihat sekitarnya. Aku melihat seorang dokter dan beberapa suster di sampingku.

Dokterpun segera melakukan check keadaanku sekarang. Aku merasa ada perban yang melilit kepalaku. Kakiku juga di gips. Aku yakin kakiku patah karena kecelakaan yang aku alami. Dokter memberi perintah ke suster untuk mengambil selang oksigenku.

"Kau merasa baik Kazune?" tanya dokter.

"Ya, se—sedikit," jawabku dengan suara serak.

"Baiklah kalau begitu. Sekarang kau beristirahatlah," ucap sang dokter sambil keluar dari ruanganku diiringi dengan beberapa suster. Aku menatap sekitarku. Aku dapat melihat ada sebuah buket bunga mawar putih. Ada kertas kecil yang terselip di antaranya. Aku dapat membacanya, meskipun aku tak dapat meraihnya. Segera aku membacanya.

Dari Hanazono Karin.


Maafkan aku yang bodoh ini Kazune. Aku sangat menyesal. Andaiakan saat itu aku datang lebih cepat. Kau takkan seperti ini.


Kazune, cepat sembuh ya! Kau tahu? Kha-chan sangat rindu dengan Rhi-chan dan kau.


Aku tersenyum senang melihat pengirim buket itu. 'Karin, kau tak marah ya? Syukurlah,' batinku sambil tersenyum dengan ringan. Aku kembali menatap langit-langit ruangan kamarku. Aku berusaha memejamkan mataku dan akhirnya aku tertidur.

.


.

"Kazune," aku mendengar suara yang tidak asing bagiku. Segera kubuka mataku dan melihat sosok di sampingku—Karin. Aku tersenyum ringan sembari menatapnya. Karin tersenyum lembut padaku. Diusapnya tangan kananku yang di infus.

"A—aku min-," belum sempat ia menyelesaikan ucapannya aku segera memotongnya.

"Aku minta maaf. Yang salah aku," potongku.

"Iie! Ini salahku, salahku karena aku tidak mempercayaimu," ucapnya sambil menahan tangis.

"Iie! Ini salah kita bersama, kau tidak mau mempercayaiku dan aku tak dapat menjelaskan sesungguhnya yang terjadi. Dan ini juga salah Zen," tuturku. Karin tersenyum ringan. Ia menoleh padaku, menatapku dengan senyum yang sangat manis. Tangannya menyentuh pipiku. Aku dapat merasakan kehangatan dari tangannya. Aku tersenyu ringan padanya.

"Ayo kita ulang semua ini dari awal," seruku.

"Iya, ayo kita ulang semua ini dari awal," jawab Karin dengan senyum ringan.

.


.

Kini, sudah 1 bulan aku tak dirawat di Rumah Sakit. Aku hanya harus sering check up tiap seminggu sekali. Ya, membosankan juga berada di Rumah Sakit selama 2 bulan. Aku menjalani hidupku dengan normal kembali. Aku bersekolah, bercanda dengan Jin dan Michi, berdebat dengan Kazusa. Dan jangan lupakan kencan dengan Karin!

Aku tersenyum senang deengan kehidupanku kini. Aku memang telah mengambil keputusan yang benar. Kembali lagi pada kehidupanku yang dulu. Tapi, kini aku berbenah diri. Aku berjanji tak akan mengulangi sifat playboyku lagi. Now, I have found my love—Hanazono Karin!

.


.

"YAA! Kha-chan jangan lari-lari! Kau nanti kotor lagi! Bulumu belum kering!" Karin mengejar Kha-chan yang berlari di belakang rumahku. Aku tertawa ringan. Segera aku mengeringkan tubuh Rhi-chan dengan handuk. Aku tersenyum pelan. Aku segera memasukan Rhi-chan ke dalam kandang dan menjemurnya.

"Karin, aku bantu kau menangkap Kha-chan, ia sangat nakal!" aku berlari mengikuti Karin dan Kha-chan.

"Ya! Ayo bantu aku Kazune!" seru Karin. Kami berlari berputar sambil saling berancang menangkap. HUP!—Kha-chan melompat masuk ke dalam kandang. Aku segera berusaha menangkapnya dan Karin melompat memangkapnya dari arah yang berlawanan dariku. And now! CHU!—aku dan Karin berciuman tanpa sengaja karena ulah Kha-chan.

"Uh!" Karin menatap Kha-chan sebal. Ia berkacak pinggang di depan Kha-chan, segera ia mengunci kandang Kha-chan dan menjemurnya. Aku tertawa ringan melihat tingkahnya. Ya inilah aktifitas kencan kami—aku dan Karin—memandikan kedua kucing kami yang menggemaskan walau terkadang mereka menyebalkan.


THE END


.

.

What do you think?

Mind to Review?