"Kencan ya?" celetuk Tenten. Naruto salah tingkah, wajah Hinata memerah. Neji memutar bola matanya bosan.
"Yasudah sana. Jangan pulang malam!" perintah Neji. Hinata hanya mengangguk patuh.
"Kami pergi!" teriak Naruto dan membonceng Hinata dengan motornya.
Surat Rahasia?
Naruto © Masashi Kishimoto
Story © Akiko Fumiko
Genres : Humor/Romance
Pair : SasuSaku, NaruHina
Warning : typo, AU, OOC, aneh, gak nyambung(?), dll.
Note :Chapter ini mungkin lebih panjang dari sebelumnya.
.
.
Don't Like? Don't read!
But I hope you liked my story.
.
.
Chapter 4
"Ah, Hinata-chan. Beli es krim yuk!" ajak Naruto dengan senyum lebar. Hinata berpikir sebentar.
"U-umm, Oke N-Naruto-kun." Kata Hinata pada akhirnya. Naruto dengan semangat langsung menggendeng tangan Hinata menuju tempat penjual es krim terdekat.
Hinata terbelalak melihat Naruto menggendeng tangannya. Tak lama kemudian, wajah Hinata merona.
Sesampai di tempat penjual es krim, Naruto langsung bertanya pada Hinata.
"Hinata-chan—loh? Kamu kenapa? Sakit?!" tanya Naruto dengan khawatir. Bahkan Ia lupa melepas genggaman tangannya.
"A-Aku tak apa-apa kok!" ucap Hinata sambil menunduk.
"Umm, Yasudah, kamu mau es krim rasa apa?" tanya Naruto meski dinada bicaranya masih terdengar suara kekhawatiran.
"Aaa, I-Iya! Aku b-baik-baik saja, Naruto-kun. Umm, a-aku mau rasa… blueberry." kata Hinata gugup.
Naruto mengangguk dan menghadap ke penjual es krim tersebut. "Aku pesan 2 es krim. Rasa jeruk dan rasa blueberry!"
"Baik,"
Hinata sedikit gelisah dengan tangan Naruto yang tak kunjung lepas dari tangannya. Lalu Ia pun bertanya pada Naruto. "N-Naruto-kun,"
Merasa gadis di belakangnya memanggilnya, Ia pun menoleh. "Ya? Hinata-chan?"
Hinata sedikit ragu untuk mengatakannya. Dengan keberanian yang dimilikinya, Ia pun mengatakannya –walau sedikit malu. "N-Naru-to-kun, t-t-tanganmu…"
Mengerti apa yang dikatakan Hinata, Naruto melihat kearah tangannya. Dengan cepat, Naruto menarik tangannya. "M-Maaf." ucapnya canggung. Naruto merutuki dirinya.
"T-tidak apa." Kata Hinata tersenyum malu.
"Uhm, maaf mengganggu. Ini es krimnya." Ucap penjual es krim tersebut. Naruto segera mengambilnya.
"Terima kasih, i-ini uangnya. Ambil saja kembaliannya." Ucap Naruto dan menggendeng tangan Hinata lagi –tanpa sadar.
.
.
Naruto dan Hinata sekarang berjalan-jalan disekitar taman Konoha. Mereka berjalan dalam keadaan hening. Akhirnya Naruto pun berkata pada Hinata,
"Hinata-chan, sekarang jam berapa?" tanya Naruto sambil menghabiskan es krim nya.
Hinata yang awalnya menatap Naruto langsung melirik jam tangannya. "17.15"
Naruto hanya mengangguk kecil lalu menatap Hinata. "Hinata?"
"Ya?"ucap Hinata sambil memandang Naruto.
"Ayo, pulang! Aku takut Neji-nii marah padaku kalau aku tak mengantarmu tepat waktu." Ucap Naruto bergidik ngeri membayangkan apa jadinya dia kalau Neji ngamuk.
.
.
Naruto dan Hinata berada di Kediaman Hyuuga.
"I-Ini helm-nya, N-Naruto-kun." Ucap Hinata.
"Hehehe, Iya." Naruto mengambil helm tersebut.
Hening…
Keduanya diam. Tak ada yang mau bicara. Naruto yang tidak terlalu suka keheningan pun mencairkan suasananya.
"Hinata-chan, terima kasih ya? Mau menemaniku," ucap Naruto pelan. Hinata pun menatap Naruto.
"Aku sebenarnya sedang sedih, makanya aku mengajakmu jalan-jalan." Jelas Naruto.
'Sedih? Karena?' Hinata menunduk.
"Sebenarnya aku mengajakmu bukan karena itu saja. Karena kau orang yang paling dekat dengan ku, yang paaaaling dekat dengan ku selain Sasuke dan Sakura. Karena kau istimewa buatku." Ucap Naruto.
Blush!
Wajah Hinata memerah. Itu pujian dari Naruto-kun ya? Pikirnya.
"M-Memangnya… Naruto-kun sedih… karena apa?" tanya Hinata sedikit ragu.
"Kucing ku. Meninggal."
Krik…
Krik…
Kucing?
Meninggal?
Bruuukk!
"Hinata-chan!" pekik Naruto.
.
.
"…ta-chan."
"Hinata-chan!"
Sepasang mata yang warnanya persis seperti warna lavender itu terbuka. Ia lalu melihat keasal suara yang ternyata berada di depannya.
'K-Kenapa dekat sekali? O-Oh iya! Tadi aku pingsan? Hah… sudahlah. Tetapi, kenapa Naruto-kun sedekat ini?!' batin Hinata tak karuan.
"Hinata-chan?" panggil Naruto heran.
"E-Eh, I-Iya?" ucap Hinata gugup.
"Kau baik-baik saja?"
"I-Iya, Naruto-kun."
"Syukurlah," Naruto berdiri bersamaan dengan Hinata-yang dibantu olehnya. "Besok kita berangkat sama-sama ya?"
"Eh? B-Baiklah."
Naruto tersenyum lebar. "Tunggu aku besok, Hinata-chan. Aku pasti menjemputmu!"
Hinata hanya tersenyum. Naruto menaiki motornya, lalu memakai helm-nya.
"Aku pulang dulu, Hinata-chan! Jaaa~"
Bruuuuummmmm!
"Jaa, Naruto-kun." Gumam Hinata.
"Kau kenapa Hinata?" tanya Neji . Hinata langsung terperanjat dan mundur 4 langkah.
"Neji-nii! Kau m-mengagetkanku!" seru Hinata sambil menggembungkan pipinya kesal. Bagaimana kalau aku jantungan? Dan tak bisa ketemu Naruto-kun? Ah! Kau ini ngaco Hinata! Batinnya.
"Hehe, maaf. Ayo masuk! Ntar masuk angin." Ucap Neji. Hinata mengangguk dan bersama Neji memasuki kediaman Hyuuga.
Kediaman Uchiha
Sasuke baru saja pulang dari rumah Sakura dan mendudukan diri disofa yang berada di ruang tengah. Kerena bosan hanya duduk-duduk tak jelas disofa, Ia pun mengambil buku yang tergeletak di atas meja. Buku yang tadi sebelum pergi, masih sempat diletakkannya diatas meja dan buku yang belum selesai dibacanya-karena Itachi menariknya-. Sasuke pun membuka lembaran buku itu dan mencari bab dimana ia terakhir membacanya. Setelah ketemu, Ia mulai membaca dalam hati. Baru satu kalimat dibacanya, anikinya memanggilnya.
"Otouto! Kau sudah datang?" tanya Itachi. 'Emang yang berada disini siapa?' batin Sasuke dan mengacuhkan Anikinya.
"Ah, lupakan. Oh iya, sudah kau antarkan bingkisan untuk keluarga Sakura?" tanya Itachi –lagi-.
"Hn." Sasuke menaikan sebelah alisnya, bingung. Ia melihat Itachi menenteng bingkisan lagi.
"Err… M-maaf ya, Otouto? Bingkisannya sebenarnya ada dua, aku lupa memberikan satunya padamu." Ucap Itachi mulai berkeringat dingin.
Mata Sasuke membulat. Lalu Ia menggeram. "Jadi maksudmu, aku disuruh mengantar lagi?" ucap Sasuke kesal.
"I-iya, k-kan orangtua Sakura sahabat Ayah dan Ibu." Kata Itachi mencari alasan agar Sasuke tak marah.
"Apa! Aniki pikir aku tidak cape apa?! " geram Sasuke. Disekitarnya mendadak auranya berubah.
"Yaaa, tapikan—" Tanda peringatan berbunyi di pikiran Itachi.' Otoutonya akan ngamuk!' batinnya. Ia lalu berlari kearah dapur dengan bingkisan ditangannya.
"Aniki! Jangan lari!" Sasuke mengejarnya dan membawa penyapu-yang entah didapatnya darimana- dengan perasaan marah bercampur kesal.
"IBUUUUU!" teriak Itachi panik.
.
.
Mikoto yang sedang mencuci piring langsung kalut melihat Itachi berlari kearahnya dan bersembunyi dibelakangnya-meskipun percuma karena Itachi lebih tinggi dari Mikoto-.
"Ibu, Otouto menakutkan!" keluh Itachi . Sebenarnya Ia tidak terlalu takut melihat adiknya yang sekarang. Hanya saja, ada benda yang sedang dipegangnya. Ia takut melukai tubuhnya yang gagah ini *Itachi narsis Mode : ON*.
"Kenapa Sasuke menakut—" perkataan Mikoto terputus ketika mendengar suara Sasuke.
"Aniki! Sini!" kata Sasuke sambil mengayun-ayunkan penyapu ditangannya.
"NO!" teriak Itachi membuat Mikoto kaget lalu menjitak Itachi.
"Auch! Ibu! Kenapa aku dijitak?" ucap Itachi mengusap-usap kepalanya.
"Karena kau berteriak didekat telinga Ibu. Telinga Ibu jadi berdenging(?)!" jelas Mikoto kepada Itachi. Lalu menghampiri Sasuke.
Mikoto mengambil penyapu ditangan Sasuke. "Tidak ada kekerasan Sasuke!" nasihat Mikoto bijak.
"Hn. Baik, Bu." Ucap Sasuke patuh dengan ekspresi kembali datar-seperti biasa-.
"Otouto norak! Sudah ada kemampuan bela diri masih pake penyapu!" kata Itachi mengejek Sasuke.
Sasuke mendelik. "Kau? Kenapa tak menggunakan kemampuan bela dirimu juga?" sindir Sasuke. Itachi hanya terkekeh lalu berkata, "Mana mungkin aku melukaimu, Otouto sayang~" goda Itachi membuat Sasuke bergidik ngeri.
Mikoto tersenyum. "Ok! Sasuke, antar lagi ya bingkisan kerumah Sakura?" ucap Mikoto sambil memandang Sasuke penuh harap.
'Ck! Ibu! Jangan pasang ekspresi itu!' gerutu Sasuke dalam hati. Dilihatnya Itachi tersenyum kemenangan sambil menggoyang-goyangkan bingkisan ditangannya. Sasuke hanya mendengus sebal.
"Baik! Baik!" kata Sasuke mengambil—merampas- bingkisan ditangan Itachi. Itachi hanya menghela nafas pasrah sambil terkikik geli.
"Aku pergi." Ucap Sasuke.
"Otouto, titip salam dengan—"
"Diam, Aniki!" ucap Sasuke jengkel. Itachi tertawa kecil lalu berpikir.
"Sepertinya tadi aku sudah mengucapkannya?" gumam Itachi.
Kediaman Haruno
Ting! Tong!
"Sakura. Coba lihat siapa itu?" ucap Sasori yang lagi nonton bersama Sakura. Orangtua mereka sedang pergi-ntah kemana, mereka lupa menanyakannya.
"Huh! Iya-iya!" Sakura berjalan menuju pintu dengan ogah-ogahan.
Clek!
"Ah, Sasuke?" sapa Sakura ramah. 'Lagi?' batinnya.
"Hn." Sasuke menatap Sakura.
"Ada apa ya?" kata Sakura polos.
'Aduh, masa aku harus melakukannya lagi?' Batin Sasuke pasrah. "Ini, Ibuku kasi."
"Ah, makasih Sasuke. Ayo masuk!" ajak Sakura sopan. Sakura merasa, Ia sudah mengatakannya tadi. Apa waktu berputar kembali?
"Tak usah, aku mau langsung pulang." Ucap Sasuke.
"Oh, umm… besok kau jemput aku ya? Kita berangkat sama-sama!" kata Sakura semangat.
Gubrak!
Sasuke jatuh terjungkal kebelakang mendengarnya. Tetapi dalam pikirannya sih. Hehe, kan Imej cool-nya kan bisa rusak.
"…Suke?"
"Sasuke!" teriak Sakura.
"Hn." 'Hah, kurasa aku harus minum obat sakit kepala' batin Sasuke.
"Jemput aku ya!"
"Ya." Ucap Sasuke singkat.
"Oke!" ucap Sakura girang.
Sasuke tersenyum tipis. "Baiklah, aku pulang dulu. Jaa.."
"Jaa, Sasuke-kun!" ucap Sakura tanpa sadar.
'Sasuke…-kun?' Sasuke pun tersenyum tipis.
Kediaman Uchiha
Sasuke baru saja pulang dari rumah Sakura-untuk kedua kalinya- dan mendudukan diri disofa yang berada di ruang tengah. Kerena bosan hanya duduk-duduk tak jelas disofa, Ia pun mengambil buku yang tadi tergeletak di atas meja.
'Mana buku itu?' batin Sasuke bertanya-tanya.
"Di Kamarmu, Otouto." Ucap suara Itachi mengagetkannya.
"Hn. Kau ternyata Aniki."
"Hehehe.." kata Itachi nyengir tak jelas.
Sasuke pun menuju kamarnya.
Keesokan Harinya… Dikediaman Haruno.
KRIIIIIIIINGGGGGG—
BRAK!
"SAKURA!" teriak pemuda berwajah baby face membuka pintu kamar Sakura dengan kasar. Bahkan suaranya mengalahkan suara jam weker Sakura, ck. Ck. Ck.
-IIIIINNNGGGG—Tik!
Pemuda—yang diketahui bernama Sasori- itu mematikan jam weker Sakura. "Hey! Bangun Sakura!" paksa Sasori. Jadi? Sudah ada jam weker, tetap dibangunin? Jadi, apa guna jam weker disitu?
Sakura hanya diam saja—meski Ia mendengar suara Sasori samar-samar.
Twing!
Muncul perempatan di kepala Sasori. "Sakura! Kalau kau tidak bangun, aku akan menyirammu dengan AIR!" ancam Sasori dengan sedikit menekan kata 'Air'.
Sakura langsung terduduk. Ia tidak mau disiram dengan air. Karena itu akan membuat Ia, seprai dan segala macam di tempat tidurnya basah. Padahal Ia sudah menggantinya kemarin.
"Aku sudah bangun, Sa-So-Ri-Nii!" ucap Sakura menggembungkan pipinya kesal sambil mengeja nama Sasori. Sasori terkekeh.
"Hehehe~ Gitu donk! Jadikan aku tidak perlu mengeluarkan tenagaku untuk menyirammu, Sakura."
"Huh, Yasudah. Tunggu apalagi?"
"Apa lagi apanya?" tanya Sasori heran.
"Aku mau mandi, Nii-san!"
Pluk!
Yak! Satu bantal telah mengenai wajah Sasori.
"Iya, iya! Tapi gak usah pake lempar bantal!" keluh Sasori dan meninggalkan kamar Sakura.
.
.
Setelah mandi, Sakura berpakaian seragam khas Konoha High School. Lalu ia menyisir rambutnya dengan rapi di depan cermin. "Aaaa~ Sempurna!"
Ia pun menenteng tasnya dan pergi menuju dapur yang terletak dilantai bawah.
Sesampainya di dapur, Sakura meletakkan tasnya di bawah meja makan. Ia melihat sarapan yang akan disantapnya. Disana terdapat roti, selai strawberry, selai apel(?), dan mentega serta susu.
"Sepertinya enak." Gumam Sakura.
"Emang enak. Cepat sarapan!" perintah Sasori seenak jidatnya.
"Huh! Terserah aku donk!" ucap Sakura lalu duduk untuk menyantap sarapan diatas meja.
Setelah selesai, Sakura melirik jam dinding yang berada tak jauh dari meja makan.
'6.25?' Sakura langsung mengambil tasnya yang berada di bawah meja makan, lalu menuju rak sepatu.
"Ibu! Ayah! Sasori-nii! Aku pergi!" Sakura membuka pintu dan hendak berlari. Tetapi—
Buk!
-Ia menabrak seseorang yang mau menekan bel rumah Sakura.
"Awch!—Sasuke?" tanyanya. "Sedang apa kau?"
Sasuke mendengus. "Menjemputmu."
"Oh~ Ayo kita pergi!" ajak Sakura riang.
"Hn."
In Konoha High School…
"Ah, masih sepi ya, Sasuke?" ucapnya melihat keadaan sekolahnya yang masih sepi. Hanya dua-tiga orang yang berlalu lalang.
"Hn." Sasuke melangkah menuju kelas mereka.
Setelah sampai, Sakura meletakkan tasnya. 'Ah, Hinata-chan belum datang rupanya.' Batin Sakura.
"Sakura-chan?" panggil seseorang. Sakura menoleh, mendapatkan seorang gadis bermata violet menatapnya.
"Aaa, ya? Ada apa?"
"Tolong bantu aku mengantarkan buku-buku ini ke Kurenai-sama? Aku akan mengerjakan perintah dari Tsunade-sama. Jadi, kau mau membantuku? Tidak mau juga tak apa." tanya Shion—gadis itu- sambil tersenyum ramah
"Oke! Aku mau!" ucap Sakura tak kalah ramah.
Ia pun segera mengantarkan buku-buku itu. Meski terasa berat. Shion sedikit khawatir padanya. "Tidak apa-apa nih? Sakura-chan?"
"T-Tenang saja! Aku bisa!" ucap Sakura sambil menahan berat buku yang dibawanya. Buku yang dibawanya hanya 5, tetapi ukuran buku itu tebal-tebal.
"Baiklah. Hati-hati, Sakura-chan!"
Sakura berjalan sambil membawa buku itu. "Uh! Berat sekali!" keluhnya.
Ia berjalan walau buku-buku itu menghalanginya. Tanpa disadarinya, seseorang berlainan arah berjalan sambil mendengarkan music dengan mata terpejam dan…
BRUK! Brak! Duk! Buk!
To Be Continue!
(A/N) : Halo~ Kembali dengan saya! :D
Terima kasih pada readers yang bersedia membaca dan me-review cerita saya. ^0^
Ok. Sepertinya cerita saya tak terasa humornya ya? #pundung.
Oke! Balas review dulu~ :
Karimahbgz : Hehehe… tapi di chap ini udah ada maksudnya kan? (?)
Ini udah update! Review again? :D
Nina317Elf : Aaaa~ Tidak apa. :)
Review again?
yukarindha yoshikuni : Yupz! Tapi akan saya usahakan pelakunya tertangkap! xD
Review again? :)
MTPG : Arigatou! Ini udah saya update. Review again?
AcaAzuka Yuri chan : Hahaha, mungkin di chap ini Itachi dan Sasuke lebih kocak? xD #berharap
Ummm… SasuSaku ya~? Yah, mungkin saja di chap ini SasuSaku nya lebih banyak dari sebelumnya? xD
Ini udah saya update, review lagi? :)
Uchiha Yumiko : Arigatou! Ini sudah saya update! Review lagi? :)
Hira-kun : Aaaa~ Tidak apa, Hira-san~ read and review again?
Akhirnya selesai chap ini. (Horay!) Ummm, mungkin jadwal update saya seminggu sekali. Sebentar lagi Author akan Ujian Semester~ Hufh~ mungkin bisa update setelah ujian?
Yak! ada yang bisa nebak? siapa yang ditabrak Sakura? :3
Oke. Readers, jangan lupa beri saran dan kritiknya!
R
E
V
I
E
W
?
P
L
E
A
S
E
?
