Gadis itu berkata-kata dengan lantang.

Sosok Sasuke-kun ditatapnya dengan penuh determinasi yang membara.

Iris viridiannya tak gentar, memancarkan keberanian kokoh,

—meski terselip ketakutan luar biasa di sana.

Ne, Sasuke-kun,

—kau lihat tidak?


a 2012 NARUTO Fanfiction

.

Segelas Penuh Kebaikan

©Andromeda no Rei

.

Standard Disclaimer Applied

.

for Winterblossom's 4th Anniversary;

Headcanon Challenge

#31

.

Karin's Point of View

.

.

.

Namanya Sakura—itu hal kecil yang dapat kutangkap ketika Sasuke-kun menyuarakan keterkejutannya. Dia seorang kunoichi Konoha—teman dekat Sasuke-kun, kurasa. Aku tidak bisa mendengar terlalu jelas, hanya saja aku cukup terkejut dengan maksud kedatangan gadis itu.

Ia bilang ingin bergabung dengan Sasuke-kun dan mengkhianati Konoha. Cih, konyol sekali. Bagaimana tidak? Memangnya siapa yang akan percaya jika gadis bertubuh kurus seperti itu berkata seolah-olah dia berada di pihak antagonis? Aku akui—sepertinya Sakura adalah gadis baik-baik, dan tentu saja sulit untuk mempercayai ia akan mengkhianati desanya—meski demi orang yang dicintainya.

Itu konyol.

Dia pasti sudah gila.

"Kalau begitu buktikan. Bunuh dia."

Nah, kau dengar itu, 'kan—hei, Sakura? Sasuke-kun yang kau hadapi sekarang bukan Sasuke -kun yang pernah mengisi hari-harimu sebelum ini. Pemuda yang telah berhasil membunuh tua Bangka bernama Danzo itu tidak memiliki perasaan. Tidak sedikit pun. Sungguh. Ia bagaikan mesin pembunuh yang tidak peduli apa pun.

Sakura berjalan dengan kunai dalam genggaman tangannya yang gemetar. Ia menatapku dengan penuh keraguan. Kenapa, Sakura? Aku tahu kau gadis yang baik.

Dengan menelan ludah dan mengalirnya keringat dingin pada kening lebarnya, dieratkannya pegangan pada kunai yang sepertinya beracun itu—siap menusukkannya pada jantungku. Ah, tapi sepertinya tidak begitu. Kilatan mata viridiannya menunjukkan keraguan, deru napasnya memaparkan ketakutan.

Gadis berambut merah muda itu mencintai Sasuke-kun. Sangat mencintai Sasuke-kun. Tapi, seperti yang sudah kukatakan, Sasuke-kun yang sekarang itu mesin pembunuh. Tidak ada lagi alasan baginya untuk beramah-tamah—apalagi dengan kunoichi yang berasal dari desa yang sangat ia benci.

Sasuke-kun mengerutkan alisnya ketika mengamati Sakura yang tampak ragu-ragu. Saat itu, tangan kanannya terangkat—dan seperti yang sudah kuduga—aliran listrik kebiruan khas chidori menyelubunginya.

Sakura…

Sasuke-kun akan membunuhnya.

"Jangan… Sa—suke-kun…"

"!"

Sakura menyadarinya, tapi ia terlambat—dan kejadian itu begitu cepat.

Sasuke-kun mengarahkan chidori-nya pada punggung bagian kiri Sakura. Namun meski hanya sepersekian detik, gadis itu sempat berbalik dan melompat menghindar. Tidak banyak, kurasa. Karena setelahnya erangan pilu Sakura menggema, dan darah segar bercipratan di atas bebatuan.

Tubuh Sakura meleyang beberapa saat sebelum akhirnya jatuh membentur bumi dengan bunyi gedebum keras. Jubah kuning pucatnya robek sebagian, memperlihatkan perut bagian kanan Sakura yang bersimbah darah.

Kunoichi itu meringis. Jika diperhatikan baik-baik, kondisinya sungguh menyedihkan. Ia meringkuk di sana, menyibakkan jubahnya yang telah dikotori tanah dan darahnya sendiri. Luka akibat chidori Sasuke-kun pada pinggang kanannya itu menganga lebar dan darah terus mengalir tanpa ampun. Jika dibiarkan terus, Sakura benar-benar akan mati.

Tapi gadis itu memang bodoh.

Dengan sisa tenaga yang tidak seberapa, ia susah payah bangkit. Lututnya gemetar dan pada akhirnya ia hanya menumpukan berat tubuh pada sebelah lututnya yang ditekuk. Dibukanya sarung tangan cokelat pada tangan kanannya dan detik berikutnya chakra kehijauan berpendar menyelubunginya.

Sou ne. Yappari iryou-nin da ne. Tentu saja ia bisa menyembuhkan diri sendiri. Tapi… untuk ukuran luka mengerikan begitu, rasanya belum cukup jika hanya menggunakan chakra medis. Apalagi dengan keadaan…

"Hn."

Sasuke-kun bergumam pelan melihat aksi Sakura. Air mukanya sama sekali tidak berubah—tetap datar, seolah sama sekali tak peduli. Benar, 'kan? Sasuke-kun yang sekarang itu monster.

"Kau memang ninja medis, ya," ucap Sasuke-kun sambil menyeringai miring. Aku belum pernah merasakan ini sebelumnya—aura Sasuke-kun berubah. Entah hanya perasaanku saja, tapi rasanya sungguh menusuk dan dingin.

Ini tidak baik. Ini sungguh tidak baik.

Tangan kanan Sasuke-kun kembali terangkat, dan listrik dengan bunyi bagaikan ciapan burung gereja kembali menari kaku menyelubunginya. Ia mendekati Sakura dengan wajah angkuh itu. Perlahan langkahnya semakin cepat, dan—

GREP

Sasuke-kun mencengkram leher Sakura dengan tangan kirinya—menerjang, membawa gadis itu hingga kembali menubruk bumi. Kali ini telentang—dengan Sasuke-kun berada di atasnya. Tangan kanan ber-chidori Sasuke-kun teracung, siap ia hantamkan tepat pada dada kiri Sakura.

Bangun, Sakura.

Bangunlah.

Sakura tak bergerak. Hanya dadanya yang naik-turun efek napasnya yang terengah. Tangan kanannya masih setia bertengger pada luka menganga di perutnya yang tak kunjung membaik.

Sakura…

Gadis bodoh itu tidak mendengarku. Ia hanya menatap lurus iris onyx Sasuke-kun dengan viridiannya yang sayu. Kenapa? Kenapa ia tidak melawan? Apa ia sudah siap mati? Idiot!

Kedua mata Sasuke terbelalak—masih tanpa emosi berarti di dalamnya. Sepersekian detik berikutnya, tangan kanan itu bergerak cepat—terjun menghunus pada sasaran tak jauh di bawahnya. Dan untuk yang pertama kali setelah sekian lama, aku berdoa…

…untuk sang kunoichi yang tengah meregang nyawa.

"Shine." —mati kau, bisikan terakhir Sasuke-kun yang lirih terdengar sebelum bunyi chidori semakin keras, disusul bunyi retakan tanah yang seolah terhantam sesuatu dengan kasar.

Seseorang tolong datanglah.

Kenapa? Kenapa tidak ada yang datang?

Shinobi Konoha—siapa pun!

Tapi seorang Uchiha Sasuke memang sulit ditebak. Satu sisi ia begitu rapuh, bagai fusuma di kuil-kuil tua, namun di sisi lain ia begitu gelap—jauh, tak terjangkau. Seperti yang terjadi saat ini—ketika kedua alisnya bertaut dan bola matanya terbelalak ngeri. Giginya gemelutuk dan tubuhnya bergetar hebat. Yaitu ketika—

—tangan kanannya yang mengepal, yang sebelumnya ber-chidori, bertengger tepat di sisi kepala merah muda Sakura.

Tidak ada darah. Tidak ada rintihan.

Sasuke-kun hanya terpaku di sana, tak juga bergerak dari posisinya. Ditatapnya kedua mata Sakura yang menyipit—seolah tidak percaya pada apa yang baru saja dilakukannya. Apa yang kau lihat? Apa yang kau lihat di balik iris viridian indah itu, Sasuke-kun? Kau merindukannya?

Kenapa kini Sasuke-kun tampak ketakutan? Kenapa chidori itu tak jadi terhunus ke jantung Sakura? Mesin pembunuh itu tidak beremosi. Seharusnya.

"Yappari Sasuke-kun…" Sakura berujar lirih. Tangan kanannya yang berlumuran darah terangkat—menjangkau wajah Sasuke-kun yang berada tepat di depannya. Ia tersenyum lemah.

Padahal Sasuke-kun sudah tidak peduli padanya. Padahal Sasuke-kun berniat membunuhnya.

"…yasashikute—"

Tidak, tidak. Sasuke-kun sama sekali tidak baik. Ia hampir membunuhku, setelah semua bantuanku padanya. Tidakkah kau melihat itu, Sakura? Dia juga hampir membunuhmu, bukan?

Aku salahkah?

Meski Sasuke-kun tidak pernah membunuh shinobi-shinobi yang menjadi boneka latihannya, padahal Orochimaru-sama telah membolehkannya. Meski ia hanya membuat lawan-lawannya cidera setiap kali bertarung.

Sasuke-kun tidak benar-benar ingin membunuh yang bukan menjadi targetnya.

Iya, ya. Mungkin, kebaikan meluap-luap—yang berada sangat jauh di dalam hati kecilnya itulah yang Sakura lihat. Mungkin, karenanyalah ia tersenyum, dan terus mencintainya.

"—arigatou."

Tangan kanan Sakura masih gemetar. Tapi gerakan halus yang dilakukannya pada garis rahang dan belakang telinga Sasuke-kun itu terkesan lembut. Ia sedikit menariknya maju, dan Sasuke-kun seolah tanpa sadar semakin terhanyut—menyatukan bibirnya dengan Sakura dalam ciuman keputusasaan.

Saat itu Sakura menangis. Mungkin untuk yang kesekiankalinya.

Lalu ia tersenyum.

Sebelah tangannya terangkat untuk mendekap lebih erat sosok Sasuke-kun. Dan lagi-lagi tangannya bergetar. Takut. Ia pasti sangat ketakutan.

Mungkin sampai kapan pun aku tidak akan pernah mengerti kenapa Sakura tidak melepaskan monster itu. Padahal aku yakin ketakutan yang dihadapinya saat ini teramat besar. Perlu keberanian luar biasa untuk terus bersama orang yang jelas-jelas telah melukai—bahkan hampir membunuhmu.

Ah, ekspresi penyesalah bercampur rasa takut yang sedikit sekali tertera pada wajah Sasuke-kun mengingatkanku pada sosoknya tiga tahun lalu—ketika kami bertemu saat ujian chuunin di hutan kematian. Sosoknya yang kesepian—yang terus berjuang melawan ketakutannya sendiri dengan menanamkan kebencian dan terjun dalam kegelapan terpekat.

Sasuke-kun bisa kapan saja mengamuk—membunuh, membantai. Tapi saat ini, Sasuke-kun adalah Sasuke-kun yang Sakura kenal dulu. Betapa pun besarnya rasa takut yang dihadapi, Sakura kukuh mendekapnya. Karena ia tahu, ketika ia melepaskannya—Sasuke-kun tidak akan kembali pada dirinya sendiri.

Saat itulah—mungkin—Sakura akan mengucapkan selamat tinggal untuk selamanya.

.

.

.,;:0O0:;,.

.

.

"Kau tidak ingin menginap semalam saja?"

Karin tersenyum dan menggeleng pelan. "Tidak usah, Sakura, lain kali saja," jawabnya sembari mengamati deretan buku-buku medis pada rak di belakang Sakura.

"Paling tidak tinggallah untuk makan malam." Wanita berambut sewarna permen kapas itu membalikkan tubuhnya menghadap Karin setelah mengambil beberapa buku medis tebal.

"U-un." Lagi-lagi Karin hanya menggeleng. "Kau tahu 'kan aku tidak suka menetap di suatu tempat berlama-lama."

"Tapi kau baru sehari di Konoha," ujar Sakura sambil mencubit gemas lengan Karin. "Itu pun kau tinggal di rumah Naruto. Huh."

Karin terkekeh kecil. "Dia sepupuku, Sakura. Lagipula aku terlanjur tergoda dengan masakan Hinata saat itu."

"Hei, kau nyindir, ya."

"Ehehe—EH?!"

"Are—KARIN-BASAN!"

Karin melambaikan sebelah tangannya ketika melihat sosok bocah berambut merah muda di ujung barisan rak buku medis—tersenyum ke arahnya. Bocah itu berlari kecil dan memeluknya. "Hei, jagoan," sapanya sambil mengacak pelan kepala yang setinggi pinggangnya.

"Kapan datang ke Konoha?"

"Tsuyoshi-kun, pelankan suaramu," desis Sakura. "Ini perpustakaan."

Tsuyoshi mengerucutkan bibirnya imut. Melihat itu, Karin mencubit pipinya gemas. "Berapa umurmu, Tsuyoshi-kun?" tanyanya sambil berjongkok—menyamakan tinggi dengan Tsuyoshi.

"Tujuh." Tsuyoshi tersenyum lebar. "Dan bulan April lalu aku masuk akademi, lho."

"Wah, ii na~"

"Hehe…"

"Tsuyoshi-kun tidak bersama Satsuki-chan?" tanya Sakura sambil memilah-milah beberapa buku dalam dekapannya.

"Satsuki di rumah Takeshi. Kata Ino-bachan ada titipan untuk tou-san yang pulang misi malam ini," jawab Tsuyoshi sambil memainkan chapucho-nya.

"Kalau begitu kenapa tidak membantu Satsuki-chan membawa titipannya?"

"Demo—Satsuki bilang bisa sendiri kok." Tsuyoshi melirik Sakura sekilas, kemudian mendengus kecil. "Baiklah aku akan menyusulnya."

Karin terkikik geli ketika mengamati punggung kecil Tsuyoshi yang berlari kecil ke arah pintu keluar perpustakaan, dan kemudian menghilang di balik koridor. "Anak-anak itu lucu, ya," ujarnya.

"Un." Sakura meletakkan buku-bukunya di meja terdekat.

"Sudah masuk akademi… cepat sekali, ya." Karin melanjutkan. Ditatapnya Sakura yang hanya focus pada buku-buku medisnya.

"Kau pikir ini tahun berapa…"

"Ahaha, iya iya…"

"Tokorode, kau yakin mau langsung berangkat setelah ini?" Sakura menghentikan kegiatannya dan menatap Karin dalam. "Tidak ingin bertemu Sasuke-kun dulu? Dia mungkin akan sampai saat makan malam."

Karin tersenyum simpul lalu menggeleng. "Sampaikan saja salamku padanya. Ne?"

Saat itu, Karin tersenyum—seolah tak ada lagi beban yang menghinggapi bahunya.

Beberapa menit setelahnya kami berpisah jalan. Ia bilang akan melanjutkan perjalanannya yang tak jelas tujuannya. Ketika mengatakan itu ia tertawa sarkastik. Ah, padahal 'kan akan lebih baik kalau dia tinggal di Konoha saja.

Karin melambaikan tangannya penuh semangat, sebelum akhirnya berbalik—memamerkan punggung kecilnya yang tertutupi rambut merah sepunggungnya—lalu melangkah pergi.

Terima kasih,

—untuk persahabatan tak terduga yang kita jalin sejak hari itu.

Terima kasih,

—telah mengajarkan kekuatan untuk menghapus air mata.

Terima kasih,

—untuk tidak melupakan sebuah kenangan kecil pada suatu waktu yang telah lama berlalu.

Terima kasih,

karena akhirnya gelas ini pun penuh dengan segala kebaikan

.

.

.

.

おしまいだよ!

[It's The End!]


Author's Note:

Hahahahahahahahaaaapa iniiiii? ;A;)

Niatnya bikin chemistry SasuSaku tapi kok fail parah dan malah banyakan tentang Karinnya yak (="=)a

Eniwei, HAPPY ANNIVERSARY, winterblossom~! *tebar confetti*

20121127日 (午後11.30)

~rei~