Disclaimer: Masashi Kishimoto

Rating: M

Warning: TYPO(S), Abal, AU, OOC, YAOI, Freak, and So on.

DO NOT LIKE DO NOT READ~

CHAPTER 3: Fear?

Sebagian besar orang sulit menerima hal-hal yang berbau menyimpang. Apalagi jika berbicara soal penyimpangan seksual. Suka terhadap sesama jenis. Penyimpangan yang benar-benar menabrak apa yang dinamakan norma dan nilai sosial masyarakat. Hal yang selalu ditatap dengan pandangan jijik dan tatapan yang mengatakan seolah-olah itu sangatlah kotor. Pandangan cinta selalu berbeda di mata seseorang. Bukan karena perbedaan umur ataupun ilmu. Namun, semakin lama orang itu memahami apa yang dinamakan dengan cinta … maka semakin berbeda pula pandangan mereka terhadap cinta.

Saat masa remaja, kebanyakan orang mengatakan bahwa cinta adalah anugerah dari Tuhan yang datang dari hati yang terdalam. Tak dapat ditebak atau bahkan dimengerti. Cinta adalah perasaan kita saat menyukai seseorang tanpa tahu sebab itu sendiri. Itu hanya dalam segi remaja yang masih menjalani apa yang biasa disebut dengan cinta monyet.

Lalu?

Bagaimana dengan pandangan orang yang telah menikah dan berkeluarga selama beberapa tahun? Apa arti cinta bagi mereka masih sama dengan yang dulu? Jawabannya adalah tidak. Karena cinta itu tak pernah diam. Cinta selalu berkembang dan hidup layaknya kehidupan manusia. Cinta selalu berjalan dan berpikir. Banyak orang mengatakan tak ingin lagi mengenal apa yang namanya cinta setelah disakiti. Namun kenyataan selalu berkata sebaliknya. Hidup yang terluka akan cinta … akan terobati dengan cinta itu pula.

Kecintaan kita terhadap diri kita. Kecintaan kita untuk tetap tegar dan menjaga perasaan dan kehidupan ini. Bukankah semua itu karena cinta kita terhadap diri kita?

Dalam hal cinta … ada satu yang sulit untuk dihilangkan.

Ketakutan.

Kita takut jatuh karena terlalu cinta.

Kita takut salah karena terlalu cinta.

Kita selalu takut merusak cinta itu.

Lalu apa sebenarnya ketakutan itu? Ketakutan itu adalah nafsu jiwa yang terlalu kuat untuk mencoba menyempurnakan cinta itu.

Sex God

.

.

Aroma alkohol yang mewarnai kamar berukuran sedang itu tampak begitu menyengat. Kotak obat yang telah terbuka lebar tampak kosong. Semua isinya berhamburan di sebelah kotak tersebut. Tampak seorang pria bersurai merah kejinggaan sedang mendudukkan dirinya di sebelah ranjang berukuran besar—kedua tangannya mengatup. Matanya menatap khawatir pada sosok berambut pirang yang sedang tak sadarkan diri di hadapannya.

Helaan napas berat tampak meluncur manis dari bibirnya saat menyadari sudah lebih dari sejam dia menunggui sosok pirang tersebut untuk bangun. Dengan perlahan dia bangkit dan melangkahkan kakinya menuju pria lainnya yang berada di dalam kamar itu juga. Raut khawatir berubah menjadi raut kesal dan marah. "Keluar! Tinggalkan aku dengan adikku," ucapnya sembari mengusir pria berambut hitam panjang yang saat itu tak mengenakan baju atasan.

"Dasar temper. Kautahu dia sedang baik-baik saja. Jangan berlebihan," jawab sosok berambut hitam tersebut sembari menyeringai penuh arti. Dia bangkit dari duduknya dan mengambil bajunya yang tergeletak di lantai lalu mengenakannya. Kaki jenjangnya membawanya untuk keluar dari ruangan yang terasa begitu dingin tersebut. "Kita lanjutkan nanti."

Kyuubi yang mendengar ucapan itu hanya mampu mengangkat alisnya tak peduli. "Keluar, sialan."

Itachi mendengus geli mendengar balasan ramah dari teman sepermainannya tersebut. Dia hanya melambaikan tangannya dengan perlahan dan menghilang dari balik pintu tersebut. Kyuubi sendiri tersenyum lebar saat Itachi meninggalkan ruangan tersebut. Dia kembali menatap tubuh tak berdaya yang sedang tertidur di ranjangnya. Raut lega terukir di wajahnya saat menyadari sosok tersebut tampak mulai menggerak-gerakkan kelopak matanya. "Naru? Kau sadar?" tanyanya sembari menepuk-nepuk pipi Si Pirang tersebut.

"K-kyuu-nii, badanku sakit semua," jawabnya sembari memasang tampang malasnya. Dia menguap dan membuka matanya dengan lebar. Mata itu menyipit tajam saat menyadari kakaknya sedang bertelanjang dada seenaknya. "Ma-mau apa? Mandi? Aku ikut, ya?" tanyanya sembari mendudukkan dirinya.

Kyuubi tampak cengo mendengar ucapan adik sintingnya itu. "Siapa yang mau mandi? Aku mau tidur." Kyuubi kemudian merebahkan badannya tepat di sebelah Naruto.

"Aku akan tidur di sebelah," jawab Naruto seadanya sembari bangkit dari ranjang tersebut dan keluar begitu saja dari kamar Kyuubi.

Hening.

Hening.

Hening.

"Dasar bocah sinting! Untung kau pikun!" teriak Kyuubi kesal sembari melempar pintu yang baru saja ditutup tersebut dengan bantalnya. Dia tidak habis pikir jika Naruto melupakan kejadian tadi begitu saja sedangkan dia sudah sibuk harus mengatakan alasan apa jika Naruto sadar nanti. Kyuubi menghela napas lega sembari memejamkan matanya.

.

.

.

'CKLEK'

"Meong~"

Naruto memandang malas pada sosok yang sedang tertidur pulas di kamarnya. Matanya beralih pada seekor kucing yang sedang berputar-putar di atas tubuh orang tersebut. Kemudian Naruto terdiam dan mematung di tempat.

Sosok samar yang dilihatnya sedang bermain dengan kakaknya.

"Hahahaha lupakan Naruto! Lupakan! Kau pasti gila jika terus mengingat hal tersebut!" suara Naruto yang nyaring cukup untuk membangunkan Sasuke yang sedang tertidur pulas. Dia kembali diam dan memasang tampang malasnya. Naruto menatap Sasuke yang kini sedang duduk menghadap ke arahnya.

"Ayo tidur," ucap Sasuke pelan sembari menepuk-nepuk tempat di sebelahnya.

"Iya," jawab Naruto pelan sembari berjalan perlahan menuju Sasuke. Naruto terdiam dan menatap Sasuke dengan lekat. Seketika itu juga matanya membulat dengan besar. "Kenapa aku harus mengikuti kata-katamu, hah?" teriaknya nyaring sembari melotot ke arah Sasuke yang sedang terduduk bingung dengan seekor kucing yang sedang memeluk kepala bagian atasnya.

"Entahlah," ucap Sasuke pelan sembari tersenyum tipis. Dia mengambil kucing yang ada di atas kepalanya dan menaruhnya di pangkuannya. "Kau lapar?" tanyanya sembari mengelus kepala kucing tersebut dengan pelan. Kucing tersebut hanya menjawabnya dengan meongan manja. Sasuke kemudian menatap Naruto dan mengangkat kucing tersebut tepat di hadapan Naruto. "Ucapkan salam kenal kepada Mama," ujar Sasuke seenaknya sembari mendekatkan kucing tersebut ke arah Naruto. Naruto hanya mematung di tempat saat kucing tersebut menjilat pipi kanannya.

"Aku-tidak-mau-punya-anak-seekor-kucing-dan-kenapa-aku-yang-menjadi-mamanya, hah?" Naruto menatap kesal Sasuke sembari mengambil kucing tersebut dan menggendongnya dengan pelan. "Ini anak siapa? Anak siapa? Dia bukan anakku!" teriaknya tidak jelas sembari menatap kucing tersebut dan Sasuke secara bergantian.

"Namanya Menma." Sasuke sama sekali tak berniat menanggapi omongan Naruto. Dia mengambil Menma dari pelukan Naruto dan menaruhnya kembali di atas kepalanya. "Hidupmu tidak akan lama jika di tangannya," ucapnya sembari menunjuk Naruto menggunakan dagunya. Lalu yang membuatnya sangat aneh adalah … Menma tampak mengangguk seolah-olah dia mengerti maksud Sasuke.

"N-no, Menma! Kau lebih bahaya jika bersamanya. Lebih baik kau dengan Mama. Mama adalah orang paling baik di keluarga ini."

"See, kau baru saja mengakui bahwa dirimu itu adalah Ibu dari kucing ini," kata Sasuke sembari menyeringai ke arah Naruto.

"E-eh? Bu-bukan begitu maksudnya."

Dan?

Naruto telah masuk dalam perangkapnya.

-VargaS. Oyabun-

Lalu di sisi lain dari cerita ini adalah rumah Inuzuka yang sangat harmonis. Membiarkan kedua orang baru yang belum diketahui pasti identitasnya menjaga rumah bersama putra satu-satunya yang mungkin akan menjadi … korban.

Semuanya berawal dari dua orang yang tak bisa menahan nafsunya. Sehingga membuat Kiba Inuzuka Si Pemilik rumah tergeletak tak berdaya di atas sebuah ranjang berukuran besar. Tanpa mengenakan sehelai benang pun yang menutupi tubuhnya. Bukan hanya foreplay. Kini dia telah kehilangan harta berharganya. Keperawanannya.

Kiba yang sedang asik berbaring di atas ranjangnya tiba-tiba saja dikejutkan dengan seorang pria yang tiba-tiba masuk ke kamarnya dan menciumnya. Pria bermata kuaci dengan rambut seperti nanas itu tampak benar-benar mendominasi bibir manis Kiba. Desahan-desahan kecil tampak meluncur manis dari mulut Kiba. Semua itu hanya permainan awal pria rusa tersebut.

Shikamaru tampak melepaskan ciumannya dan menatap Kiba dengan mata yang dipenuhi desiran nafsu yang membuncah. Dia tersenyum tipis menatap Kiba yang sedang sibuk mencari pasokan oksigen sebanyak mungkin. "Aku membutuhkannya sekarang," ucap Shikamaru sembari menurunkan kepalanya hendak membuka celana pendek milik Kiba. Dengan perlahan dia membuka pakaian Kiba. Dia tersenyum tipis saat melihat tubuh Kiba yang sudah polos tak mengenakan apapun. Shikamaru segera mendekatkan wajahnya pada barang Kiba sebelum sebuah tangan menghentikan gerakannya. Dia menatap bingung ke arah Kiba.

"Ki-kita lakukan bersamaan," ucap Kiba dengan malu-malu. Semburat merah tipis tampak menghiasi kedua pipinya. Entah apa yang ada di pikirannya sampai-sampai mau mengeluarkan kata-lata tak senonoh tersebut. Namun dia sudah terlanjur mengeluarkannya. Dia hanya mengangguk ke arah Shikamaru. Shikamaru kemudian membuka seluruh pakaiannya sampai dia benar-benar sama polosnya dengan tubuh Kiba. "A-aku akan membantumu."

Shikamaru tak mendengarkan omongan Kiba. Dia hanya menarik Kiba mendekat ke arahnya dan segera mengulum kejantanan Kiba. Kiba mendesah nikmat mendapat perlakuan mendadak seperti itu. Namun dia juga harus menyelesaikan tugasnya. Kiba menatap barang Shikamaru yang tampak sudah mengeras yang kini ada tepat di hadapannya. Sepertinya posisi mereka saat ini saling menguntungkan.

Dengan cepat Kiba mengulum barang Shikamaru. "A-ahh!" Kiba mendesah nyaring saat Shikamaru menghisap ujung barangnya dengan sangat kuat. Kiba memejamkan matanya dengan erat sembari terus memanjakan barang Shikamaru. "Akh! Ahh!" lagi-lagi Kiba mendesah antara nikmat dan sakit saat tiba-tiba Shikamaru memasukkan jarinya ke dalam lubang Kiba. Kiba melepaskan kulumannya pada barang Shikamaru, "Ah!" erang Kiba nyaring. Shikamaru terus saja memasukkan jarinya lebih dalam. Sampai akhirnya dia menemukan titik kenikmatan Kiba. "A-akh ohhh!"

Shikamaru mengeluarkan jarinya dan menggantinya menggunakan lidahnya. Erangan-erangan nikmat terus keluar dari mulut Kiba. "Ah, NO!" Kiba berteriak nyaring saat lidah Shikamaru masuk lebih dalam.

Shikamaru mengeluarkan lidahnya dan menyeringai, "No? Tapi sepertinya barangmu kembali menegak seperti belum pernah kusentuh," ucap Shikamaru sembari kembali menggenggam erat barang Kiba. Kiba hanya mampu berteriak nyaring saat merasakan klimaks yang dinantinya kembali tertahan.

"Cepat selesaikan, dammit!" teriak Kiba kesal sembari menatap tajam ke arah Shikamaru. Shikamaru hanya mengangkat sebelah alisnya tidak peduli sembari tiba-tiba mengocok barang Kiba dengan cepat. "O-ohh! Ahh good!" Kiba berteriak sangat nikmat saat kejutan tersebut menyengat tubuhnya. "Hu-huurry, fucktard!"

Shikamaru menyeringai penuh arti dan segera membalik tubuh Kiba. Saat ini Kiba sedang dalam posisi menungging tepat di hadapan Shikamaru. Dengan perlahan Shikamaru memasukkan barangnya ke dalam lubang Kiba. "Oh good, Kiba!" Shikamaru mendesis nikmat saat merasakan dinding dalam Kiba yang meremas barangnya.

"Do-do it! Ahh!"

Shikamaru hanya mengangguk dan mulai memaju-mundurkan pinggulnya. Erangan nikmat Kiba membuat Shikamaru lepas kendali. Gerakan cepat yang dilakukannya membuat Kiba melihat bintang di sekelilingnya. "Oh! Yes! Ahh! Ahh again!" Kiba terus-terusan mengerang nikmat saat Shikamaru menyerang titik kenikmatannya sembari terus mengocok barangnya yang semakin mengeras. Kiba memejamkan matanya saat merasakan kedatangan benihnya sebentar lagi. "Aaahhh!" Kiba melenguh nikmat saat mencapai klimaksnya. Kepalanya mendongak ke atas mencoba merasakan kenikmatan puncaknya.

'CKLEK'

Pintu itu terbuka dan tampaklah seorang pemuda dengan kacamata hitam bulat. Dia menyeringai ke arah Shikamaru dan Kiba yang nampaknya telah melupakannya. "May I join?" tanyanya sembari menatap Shikamaru dengan lekat. Shikamaru menyeringai ke arahnya dan mengangguk.

Kiba membulatkan matanya saat melihat Shino tiba-tiba saja membuka celananya dan mendatanginya dengan perlahan. "Eh? A-ap-akhhh!" Kiba berteriak kencang saat Shino tiba-tiba memasukkan barangnya ke dalam lubangnya. Kiba memejamkan matanya dengan erat. Merasakan dua barang menempati lubangnya sekaligus. Entah apa yang harus dikatakannya saat ini.

"Here we go," ucap Shikamaru dan Shino bersamaan sembari menggerakkan pinggul mereka secara bersamaan.

Kiba memejamkan matanya kuat. "A-ahhh ahhh!" teriakan nikmat meluncur manis dari bibirnya saat Shino dan Shikamaru bersamaan menyentuh titik kenikmatannya. Entah berapa banyak teriakan dan lenguhan nikmat yang Kiba keluarkan. Entah sudah berapa kali Kiba mencapai klimaksnya pada adegan threesome ini.

Yang terakhir kali Kiba lihat adalah tatapan yang begitu berbeda dari kedua makhluk tersebut. Tatapan itu bukan lagi tatapan nafsu. Melainkan … tatapan yang seakan-akan ingin melindungi dan memilikinya seutuhnya.

Shikamaru menatap Shino dengan lekat. Helaan napas berat meluncur dari bibirnya. "Perasaan ini bukan untuk pemuas lagi. Aku merasa … seperti sedang jatuh cinta," ucap Shikamaru sembari mengeringkan rambutnya yang basah karena air. Dia tersenyum tipis sembari menatap Kiba yang sedang tertidur pulas karena kelelahan.

"Hm, kau mendahuluiku rusa," ucap Shino sembari memperbaiki letak kacamatanya. Dia menatap langit yang sudah sangat gelap dengan lekat. "Tidak ada salahnya jatuh cinta."

-VargaS. Oyabun-

Naruto menatap kesal ke arah Sasuke. Sepertinya meskipun dia tidak menyukai orang itu, dia sedikit cemburu juga dengan kucing yang mendapat perhatian lebih itu. "Ayo pulang! Ini sudah malam," ucap Naruto sembari merapatkan jaketnya. Dia menatap Sasuke dengan lekat sebelum akhirnya memutuskan untuk berjalan duluan. Naruto mendecak kesal. "Buat apa aku peduli dengannya. Sudah baik aku mau menemaninya mencari makanan kucing."

Sasuke yang melihat Naruto pergi begitu saja mengangkat sebelah alisnya bingung. "Kau cemburu?" tanyanya sembari sesekali mengelus kucing yang sedang tertidur di pelukannya. "Aku bisa membaca pikiranmu, Naru."

"Jangan bercanda. Kaupikir kau siapa? Buat apa aku cemburu denganmu," ucap Naruto sok cuek sembari terus saja berjalan menjauhi Sasuke. Dia tersenyum tipis saat memperhatikan roda besar yang berputar dengan pelan. Penuh dengan kilauan lampu warna-warni.

"Bukan denganku tapi dengan Menma. Kau bocah yang lucu." Sasuke meletakkan Menma ke dalam hoodie-nya dan berjalan ke samping Naruto. Dia menyeringai dan menggandeng tangan Naruto. "Jangan berontak."

Naruto yang mendengar ucapan Sasuke hanya mampu diam dan terus melangkah. Sesekali dia melirik ke arah tangannya yang sedang digenggam Sasuke. Entah kenapa dia tiba-tiba merasa sedikit lebih nyaman berada di dekat Sasuke. Mungkin karena selama ini belum ada sosok yang kembali mengganggam tangannya dengan erat seperti ini. Dulu Kyuubi selalu menggenggam tangannya seperti ini. Dulu Naruto sangat mencintai Kyuubi. Namun seiring waktu berjalan, dia tahu jika Kyuubi bukanlah orang yang tepat. Karena … Kyuubi adalah kakaknya.

Bukanlah hal yang baik menaruh hati pada kakak kandung sendiri. Naruto tahu cintanya terhadap Kyuubi adalah cinta yang berbeda. Itu adalah cinta yang menandakan betapa inginnya dia selalu seperti itu. Selalu ditemani dan tak pernah kesepian. Namun semuanya berubah semenjak Kyuubi beranjak dewasa dan mengerti tentang mana yang harus ditinggalkannya dan mana yang harus didapatkannya. Meskipun dia tetap menyayangi Naruto … namun tangan itu tak lagi pernah menggenggam tangan Naruto.

Yang keluar dari mulutnya adalah kata-kata yang sedikit menyakitkan bagi Naruto. Meskipun Naruto tahu bahwa hal tersebut hanyalah sebagian dari keras kepala kakaknya.

"Bergadengan tangan hanya dilakukan oleh anak kecil!"

"Bersikaplah dewasa!"

Itulah yang selalu keluar dari mulut Kyuubi. Bukan Naruto ingin tetap menjadi anak kecil. Dia hanya ingin tetap menjaga cintanya terhadap Kyuubi. Namun ternyata dia tak bisa menjaganya.

Dan?

Kini dia takut untuk mengeluarkan cinta itu. Dia takut hal yang sama akan terulang kembali. Sulit rasanya untuk mengerti dirinya sendiri.

"Meong~"

Naruto terlonjak kaget saat seekor kucing menjilat kedua matanya. Dia menatap kucing tersebut dengan lekat, "Me-menma?" tanyanya sembari mengambil kucing tersebut dari tangan Sasuke.

"Dia tidak ingin kau menangis hanya karena mengingat masa lalumu," ucap Sasuke sembari memasang tampang datarnya. Sepertinya hari ini dia cukup banyak bicara. "Kita sudah sampai."

Naruto menatap rumahnya dengan lekat. Bayangan saat dia masih kecil terlintas di kepalanya. Kehangatannya masih tersimpan jelas di pikirannya. "Arigatou, Menma," ucapnya sembari tersenyum lebar. Naruto mengelus kepala Menma dengan pelan. "Mulai sekarang kau harus memanggilku Mama, oke?"

"Meong~"

"Good boy!"

-VargaS. Oyabun-

Suasana pagi yang begitu hangat tampak mewarnai langit Tokyo. Aroma hangat matahari membuat tubuh lebih semangat untuk bergerak. Tampak seorang bocah berambut pirang tengah duduk dengan manis di sebuah meja makan yang cukup besar. Di sebelahnya tampak seorang pria dengan rambut hitam kebiruan yang sedang sibuk memotong beberapa buah tomat. Naruto meletakkan makanan Menma pada sebuah wadah sedang dan menaruhnya tepat di hadapan Menma. "Makan yang banyak biar cepat besar," ucapnya sembari tersenyum lebar.

Kyuubi yang duduk di hadapan Naruto mengerutkan keningnya bingung. "Ada apa denganmu?" tanyanya sembari meminum jus apelnya. Sesekali Kyuubi memelototi Itachi yang sedari tadi mencoba untuk menyentuh daerah terlarangnya. Beruntung karena taplak meja tersebut sangatlah panjang.

"Tidak apa-apa. Aku akan berangkat sekolah lebih awal." Naruto tersenyum tipis ke arah kakaknya dan membungkuk. Dia pergi meninggalkan ruang makan tersebut. Sepeninggalan Naruto, ruang makan tersebut menjadi hening.

Itachi yang menyadari gelagat aneh Kyuubi mulai angkat bicara. "Bukankah sebagai seorang kakak kau terlalu kejam. Memaksanya menjadi orang dewasa di saat kau sendiri belum siap," ucapnya sembari tersenyum tipis. Kyuubi hanya menatapnya dengan tajam. "Jangan terlalu memaksakan diri. Kautahu … setahuku dia dulu bocah yang periang. Sekarangpun dia bocah yang periang. Akan tetapi, dia lebih terlihat seperti orang yang kese—"

"Aniki, tutup mulutmu. Kita sedang makan. Bisakah kau bicarakan masalah ini di tempat lain?" Sasuke menatap kakaknya dengan lekat. Matanya lalu beralih pada Kyuubi yang tampak sedang menahan amarahnya. "Aku sudah selesai," ucapnya sembari bangkit dari duduknya. Sasuke tak lupa menggendong Menma dan meninggalkan ruangan tersebut.

Itachi menghela napas lelah dan menatap Kyuubi dengan lekat. "Jika kauingin tahu darimana aku mengetahui itu semua. Aku akan memberitahukannya saat kau menjadi milikku sepenuhnya." Itachi mendekatkan wajahnya ke arah Kyuubi dan menggigit bibir Kyuubi dengan pelan. Kyuubi yang mendapat perlakuan mendadak seperti itu hanya mampu mematung di tempat. "Melakukan seks akan lebih baik saat keduanya memiliki perasaan yang sama," ucap Itachi setelah melepaskan ciuman paginya.

.

.

.

Naruto membulatkan matanya saat mendapati teman dekatnya sedang asik berciuman dengan pria lain di dalam kamar mandi sekolah.

WHAT THE HELL?

Naruto memejamkan matanya dengan erat sembari menarik napas yang sangat panjang. "Ehem!" Naruto berdehem cukup nyaring sampai keduanya terkejut dan berbalik menatap Naruto.

"Na-naru? Hai~ sedang apa kau di sini?" tanya seorang bocah berambut hitam dengan mata hitam dan kulit putih pucat. Senyuman yang terlalu ramah selalu terukir di bibir merahnya, Sai. Sai menarik sosok berambut hitam panjang dan berkulit putih pucat yang juga sedang tersenyum ke arah Naruto. "Perkenalkan dia kekasihku."

Naruto hanya tersenyum tipis. Sepertinya akhir-akhir ini dia terlalu sering mendapat pemandangan percintaan sejenis. Tidak di rumah dan di sekolah sama saja. "Hai, aku Naruto. Salam kenal," ucapnya sembari menjabat tangan sosok tersebut.

"Muku, salam kenal balik Naru-chan."

"Cih, embel-embel 'chan' itu sangat kubenci," batin Naruto sembari tetap tersenyum ramah ke arah Sai dan Muku. "Mereka lebih mirip saudara kembar. Sejak kapan Sai punya selera sejenis seperti i-eh tunggu? Ke-kenapa aku seperti pernah dengar nama itu," batin Naruto terus saja meracau tidak jelas sembari terus memperhatikan Muku.

"Ah, kau anak Minato-san, bukan? Dia adalah teman ayahku dalam pekerjaan khususnya." Muku tampak tersenyum ramah ke arah Naruto.

"Apa kubilang. Pasti dia sejenis dengan Sasuke dan Itachi-nii," batin Naruto merasa tebakannya benar. Naruto hanya mengangguk dan kembali tersenyum. "Aku mau masuk ke toilet du—"

"Ah! oh yeah! Ah again! There! Ahhhh!"

Lalu?

Naruto mematung di tempat saat ingin membuka pintu tersebut.

"Ahh ahhh!"

Naruto, Sai, dan Muku hanya mampu saling pandang satu sama lain saat mendengar desahan yang terlalu nyaring tersebut.

"Si-siapa?" tanya Naruto sedikit nyaring.

"Bu-bukan siapa-siapa!"

Naruto kembali cengo saat mendengar jawaban tersebut. Apakah pelaku seks yang ada di dalam toilet itu takut ketahuan?

"Makanya jangan nyaring-nyaring mendesahnya," batin mereka bertiga bersamaan.

Dan?

Naruto dan Sai saling pandang. Sepertinya mereka pernah mendengar suara orang yang menjawab tadi. "Su-suara itu!" teriak mereka bersamaan.

BERSAMBUNG...

Ha—ah, maaf untuk apdet yang terlalu lama. Terima kasih bagi yang telah membaca dan masih menunggu kelanjutan cerita ini. Maaf SasuNaru dan ItaKyuu belum ada lemon. Karena kalo kecepatan lebih terkesan PWP hahaha. Terima kasih bagi yang sudah mereview di chapter-chapter sebelumnya. I LOVE YOU ALL!