Chapter 3 : Tragedi Dan Perpisahan

Dua bulan berlalu. Sherry sedikit berubah, ia menjadi mudah khawatir. Terlebih lagi orangtuanya semakin jarang pulang ke rumah, mereka benar-benar semakin sibuk dan jarang mengecek keadaan Sherry.

Begitupula dengan Wesker, ia juga sangat sibuk. Untungnya Claire yang punya waktu luang bisa menjaga dan menemani mereka berdua. Walaupun pada awalnya Jake kesulitan dekat dengan Claire dibandingkan dengan Sherry yang langsung bisa akrab dengannya. Bagi Sherry, Claire sudah seperti kakak perempuannya, sedangkan Jake menganggap Claire sebagai sosok seorang ibu.

"Sherry!, Jake! Bangun, sudah sore." Ucap Claire dari depan pintu kamarnya.

"Iya!" Jawab mereka berdua. Kemudian mereka turun ke bawah setelah ganti baju. Setelah itu mereka turun ke bawah dan menuju ruang tamu.

Di meja ruang tamu ada cangkir berisikan teh dan makanan ringan. Kemudian mereka duduk dan meminum teh.

"Sayang hari ini kita tidak bisa kemana-mana." Keluh Jake.

"Ya, hari ini hujan turun dengan derasnya." Kata Sherry "Padahal tadi pagi sudah hujan."

Claire tersenyum "Tidak ada salahnya sesekali di dalam rumah kan?"

Sherry dan Jake mengangguk.


Laboratorium Arklay

Tidak seperti biasanya, entah kenapa William dan Anette mendadak menjadi 'aneh' dan mereka merasa bahwa aka nada hal buruk yang terjadi. Wesker yang menyadari bahwa mereka berdua mendadak menjadi 'aneh'.

"Kalian berdua ada apa? Apakah ada hal yang aneh?"

"Entah kenapa perasaan kami berdua tidak enak." Jawab Anette.

"Ya. Wesker sebaiknya kita menyuruh anak buah kita pulang terlebih dahulu." Saran William.

"Baiklah kalau itu mau kalian berdua." Jawab Wesker meninggalkan mereka berdua.

Wesker kemudian memberitahu ke anak buahnya agar mereka pulang duluan dan kembali bekerja besok pagi. Setelah memeriksa apakah semua anak buahnya sudah pulang atau belum. Namun salah satu anak buahnya ada yang belum pulang, anak buahnya sedang siap-siap untuk pulang.

Wesker meninggalkan anak buahnya karena ia yakin pasti anak buahnya akan langsung segera pulang dan ia merasa tidak perlu mengawasinya.

Namun saat ia masuk ke dalam laboratorium…

DHUAR

Laboratorium mendadak meledak. Wesker tanpa berpikir panjang langsung masuk ke dalam dan mencari William dan Anette, tidak peduli bahwa masih ada percikan api. Wesker kemudian menemukan William dan Anette, namun mereka berdua terluka parah.

"William! Anette!" Seru Wesker sambil menghampiri mereka berdua.

"W, Wesker, jangan pedulikan aku. Tolong perhatikan kondisi William." Ucap Anette yang kesakitan sambil memegang tangan kirinya.

"William! William! Bertahanlah!"

"U-ugh, Wesker." Erang William.

"William, jangan berbicara!. Nanti lukamu akan terbuka."

"Uhuk-uhuk! Pak William, Bu Anette!" Seru anak buah mereka yang belum pulang. Ia terkejut melihat keadaan William dan Anette yang terluka parah.

"Kau! Cepat panggil ambulans dan pemadan kebakaran!" Perintah Wesker.

Dengan cepat, anak buah mereka menghubungi ambulans dan pemadam kebakaran.

"William… dan Anette… Kalian berdua bertahanlah." Ucap Wesker.

William meraih menggenggam tangan Wesker. Wesker merasakannya, William semakin melemah.

"M-maaf Wesker, a-aku- uhuk, uhuk."

"Aku sudah bilang jangan bicara!"

William hanya bisa tersenyum. "Aku mohon, to-tolong beritahu Sherry sekarang juga, bahwa kami ber..dua…"

Seketika itu tangan William berhenti menggenggam tangan Wesker. Wesker memeggang tangan William. Tidak ada denyut nadi… William telah meninggal. Wesker memeluk badan William yang sudah kaku. Kemudian ia mendekati Anette. Kondisi Anette terluka parah tapi masih bisa bertahan.

Kemudian datanglah ambulans dan pemadam kebakaran.

Sementara itu di ambulans Wesker berpikir bagaimana ia harus mengatakan ke Sherry bahwa ayahnya sudah meninggal dan ibunya terluka parah. Akhirnya ia memutuskan untuk memberitahu apa yang terjadi.


Kriing Kriing

"Ada yang menelepon." Kata Sherry.

"Biar aku yang angkat." Ucap Claire. "Halo, Claire disini."

"Claire? Ini Wesker, apa Sherry ada disana?"

"Ya, dia ada disini? Ada apa?"

"Sebetulnya.."

Claire mengerutkan keningnya "Baik, aku paham. Tolong tunggu sebentar." Kemudian ia jeda sebentar. "Claire ada telepon untukmu. Dari Wesker."

Sherry kemudian berjalan ke arah Claire dan Claire memberikan telepon ke Sherry.

"Ada apa paman Wesker?"

"Sherry… Ayahmu meninggal dan ibumu terluka parah karena kecelakaan di laboratorium.."

"Apa?" Tanya Sherry.

"Pergilah ke rumah sakit bersama Claire dan Jake."

"Baik paman." Kemudian ia menutup telepon.

"Jake, Sherry, kita harus ke rumah sakit sekarang juga."

Tanpa bertanya apapun Jake segera mengikuti mereka berdua.


Rumah Sakit

Wesker berjalan mondar-mandir di depan kamar di mana Anette sedang dirawat. Menurut doketer, luka Anette sangat parah dan kemungkinan buruk Anette akan meninggal.

"Wesker!" Panggil Claire.

Wesker kemudian menatap Sherry yang berada di belakang Claire.

"Sher-." Belum sempat memanggil Sherry, muncul dokter yang keluar dari kamar Anette.

"Bagaimana kondisinya dokter?" Tanya Claire sambil memegang pundak Sherry.

Sang dokter menggelengkan kepalanya. "Kami sudah berusaha tapi…" Kemudian ia menatap Sherry "Nak, kau anak perempuan Nyonya Anette? Tolong masuk ke dalam, ibumu ingin berbicara denganmu…"

Tanpa mengangguk atau menjawab, Sherry langsung masuk ke kamar ibunya.

Setelah masuk ke dalam kamar ibunya, Sherry menutup pintu dengan pelan dan ia melihat ibunya dari kejauhan. Tangan kiri Anette diperban, begitu pula dengan tangan kanannya walaupun perbannya tidak sebanyak di tangan kiri.

Anette menatap anak perempuannya dan mengulurkan tangan kanannya "Sherry kemarilah."

Sherry kemudian mendekati Anette, dan Anette menyentuh pipi kiri Sherry. "Maafkan ibu nak, ayahmu.."

Sherry memegang tangan ibunya dan menggelengkan kepalanya. Menandakan bahwa itu bukan salah ibunya. Sherry meneteskan air matanya, ia menangis tanpa suara dan ibunya hanya bisa tersenyum pahit karena telah membuatnya menangis.

"Sherry, hiduplah nak." Pesan Anette. Setelah mengucapkan kata-kata terakhir dan sekaligus pesannya, Anette menutup kedua matanya untuk selama-lamanya.

"Ibu?..." Ucap Sherry terbata-bata

Kemudian Wesker, Claire, Jake dan dokter masuk ke dalam. Di dalam, Sherry masih memegang tangan ibunya yang sudah dingin dan kaku. Ia menangisi kematian ibunya.

Setelah melihat Anette, Wesker keluar dari kamar Anette.

"SIAL!" Umpat Wesker sambil meninju tembok rumah sakit. Kemudian ia menenangkan dirinya.


Dua hari kemudian…

William dan Anette di makamkan hari ini. Setelah Wesker usai menaburkan bunga di makam William dan Anette, kali ini giliran Sherry. Sherry mrnaburkan bunga di makam kedua orangtuanya.

Kemudian Jake dan Claire juga menaburkan bunga di makam William dan Anette. Tanpa sepengetahuan mereka, diam-diam Sherry meninggalkan mereka.

"Sherry?" Panggil Claire. "Sherry." Panggilnya lagi. Karena tidak ada jawaban Claire menengok kebelakang. Ia terkejut tidak ada Sherry.

"Wesker, Jake!" Sherry menghilang." Ucap Claire panik.

"Apa?!" Kata Jake. Kemudian ia mencari Sherry. Wesker dan Claire juga mencari Sherry.

Sepuluh menit telah berlalu. Mereka mencari Sherry namun hasilnya nihil. Jake masih melanjutkan pencariannya dan ia berhasil menemukan Sherry yang sedang duduk di bawah pohon.

Jake mendekatinya, Sherry tidak menangis. Ia berusaha agar tidak menangis.

"Kau mau menangis 'kan?" Tanya Jake.

"Tidak." Jawab Sherry dengan tegas.

"Jangan bohong!" Ucap Jake "Kalau kau ingin menangis, menangislah! Itu akan membuatmu merasa lebih baik."

Sherry menatap Jake. "Sok keren, padahal kau lebih muda dariku." Ucap Sherry sambil terisak.

"Pinjam… Pinjamkan pundakmu."

Jake mengangguk dan kemudian ia duduk di samping Sherry.

Kemudian Sherry menangis di pundak Jake. Jake menatap Sherry, ia berharap semoga Sherry tidak sedih lagi. Wesker dan Claire berhasil menemukan Sherry yang sedang menangis.

Satu bulan sudah berlalu setelah kematian orangtuanya. Sherry melampiaskan kesedihannya melalui belajar dengan tekun. Ia jarang ke rumah Wesker dan bermain dengan Jake. Jake merasa ditinggalkan ia merasa bahwa Sherry sudah tidak ingin berteman dengannya.

"Sherry." Panggil Claire dari bawah.

"Ya, tolong tunggu sebentar." Jawab Sherry sambil menutup bukunya. Kemudian ia turun ke bawah.

"Sherry, ada yang ingin kubicarakan denganmu." Claire menatapnya dengan serius.

"Ada apa?"

"Minggu depan aku akan pindah ke luar negeri. Apa kau ingin ikut bersamaku?"

"Ya."

"Sherry, apa kau yakin?"

Sherry mengangguk.


Malah harinya, kediaman Wesker

Jake tidak bisa tidur. Ia memikirkan Sherry, baginya Sherry berubah total semenjak orangtuanya meninggal.

"Jake." Panggil Sherry.

Jake kemudian bangkit dari kasurnya dan segera membuka pintu kamarnya. Saat membuka pintunya, ia masih belum percaya bahwa yang berdiri di depannya adalah Sherry.

"Masuklah."

Kemudian Sherry masuk ke kamar Jake.

"Aku tidak lama-lama. Hanya sebentar."

"Kau ingin membicarakan apa?" Tanya Jake.

"Aku minggu depan akan pindah ke luar negeri bersama Claire."

Jake terbelalak mendengarnya. "Minggu depan?! Bohong?!"

"Aku tidak bohong."

"Tapi kenapa?!"

"Tidak kenapa-kenapa."

"Baguslah kalau begitu!" Ucap Jake dengan ketus.

"Seharusnya kau tidak seketus itu."

"Memangnya kenapa?!" Kata Jake dengan sengit, ia tidak bisa mengontrol amarahnya.

"Terserahlah!" Balas Sherry dengan sengit. "Aku sudah tidak peduli lagi." Ucap Sherry kemudian ia pergi dari kamar Jake.

Jake menyesalinya. Kenapa ia mendadak marah kepada Sherry? Padahal ia tidak ingin marah.

"Sherry."

"Ya Claire?"

"Ada kabar buruk. Kita tidak jadi pindah keluar negeri minggu depan. Tapi lusa."

Sherry terkejut tapi ia tidak bisa membantah. "Baiklah kalau begitu…"


Lusa

Jake tidak peduli jika Wesker bertanya kenapa Jake mendadak jadi aneh. Ia tidak menjawabnya. Namun hari ini ia mendapat kabar buruk dari ayahnya.

"Sherry pindah keluar negeri hari ini."

Jake kaget, namun reaksinya datar saja. Hal ini membuat Wesker kebingungan. Sebelum Wesker bertanya kepadanya, Jake langsung masuk ke kamarnya.

Ia melempar bantal ke arah tembok. Kesal dengan dirinya sendiri.

Kenapa? Tanyanya dalam hati.

Padahal aku belum sempat minta maaf kepada Sherry bahwa aku telah berkata kasar.