Chapter 4 : Sepuluh Tahun Kemudian.

Sepuluh tahun telah berlalu semenjak Sherry pindah ke luar negeri dan hubungan persahabatan mereka pudar. Sepuluh tahun mereka tidak saling menghubungi satu sama lain atau mengirimkan surat, lebih tepatnya komunikasi di antara mereka berdua sudah putus, sama seperti benang persahabatan mereka. Setidaknya itulah yang dipikirkan oleh Jake.

Wesker sebetulnya memiliki alamat tinggal Sherry di luar negeri beserta nomor telepon dan alamat e-mailnya, namun Jake menolaknya. Ia merasa lebih baik jika ia tidak menghubungi Sherry, apalagi ia merasa ini adalah hukuman untuknya.

Di kelasnya, Jake manatap keluar. Kemudian ia melirik jam yang berada di dinding depan dekat pintu masuk. Sebentar lagi kelas akan usai, namun ia merasa tidak bersemangat hari ini entah kenapa.

.

.

.

Setelah kelas usai Jake memeriksa isi tasnya, memastikan apakah ada barang yang ia lupa masukkan ke dalam atau tidak. Setelah yakin ia menutup tasnya.

"Hai Jake." Sapa temannya dari samping.

"Oh Mark, ada apa?."

"Kau hari ini punya waktu luang tidak?"

"Ya."

"Maukah kau menemaniku ke toko buku?"

"Ya, kebetulan ada buku yang juga ingin kucari sekalian belanja bahan untuk makan malam."

"Hari ini giliranmu yang memasak?"

"Ya, akhir-akhir ini ayahku pulang malam."

Di tengah perjalanan menuju toko buku ada tiga orang gadis yang berbincang-bincang di depan Jake dan temannya. Mereka mengenakan seragam sekolah khusus untuk sekolah wanita.

Ada salah satu gadis yang berambut pendek dan berwarna pirang. Namun Jake tidak ambil pusing.

"Hei Jake! Kita sudah sampai!" Tegur Mark.

"Oh iya, maaf."

Kemudian mereka masuk ke dalam toko buku. Mark berkeliling di bagian buku fiksi sedangkan Jake di bagian alat tulis. Jake mengambil pensil mekanik yang baru karena pensil mekanik yang ia beli sudah rusak. Ia juga membeli dua buah pena untuk Wesker.

Jake mendengar suara yang familiar, ia menatap ke depan. Rupanya tiga orang gadis yang tadi berbincang-bincang di depannya rupanya juga ke toko buku.

Setelah itu Jake berjalan ke bagian buku fiksi. Mark sedang memegang dua buku yang akan ia beli. Namun Mark member isyarat bahwa ia masih belum selesai.

Sambil menunggu, Jake membaca majalah.

Ada salah satu karyawan yang sedang menata buku di bagian atas. Tapi tanpa sengaja tangannya menyenggol kardus yang berisi buku dan ia melihat gadis berambut pendek dan berwarna pirang yang sedang berjalan.

"Hei nona bahaya!" Pekik si karyawan.

Si gadis melihat ke atas dan terkejut melihat buku yang berhamburan keluar dari kardus dengan refleks ia menutup kedua matanya. Jake kemudian berlari ke arahnya dan melindunginya dari buku-buku.

"Buka matamu, sekarang sudah tidak apa-apa." Ujar Jake sambil menyingkir.

Gadis itu kemudian membuka matanya. "Ah terima kasih."

"Maaf nona!" Ujar si karyawan sambil membungkuk hormat.

"Sudah tidak apa-apa." Jawab Gadis itu.

"Hei sudah selesai belum?" Tanya teman si gadis.

"Ya, aku akan segera kesana!" Kemudian gadis itu membalikkan badannya "Sekali lagi terima kasih!" Lalu ia berlari menuju temannya.

"Maaf tuan."

"Tidak apa-apa. Sini aku bantu."

"Terima kasih tuan."

Sambil membantu membereskan buku-buku yang terjatuh Jake melihat sebuah kartu pelajar kemudian ia membacanya.

Sherry Birkin

Tahun lahir 1986

Sekolah khusus wanita

Jake terkejut rupanya tadi gadis itu adalah Sherry?.. Kemudian ia mengantungkan kartu pelajar tersebut lalu ia kembali membereskan buku.


Setelah selesai dari toko buku dan belanja bahan untuk makan malam. Jake segera memasak namun ia tidak konsentrasi.

"Ayah pulang. Jake-" Wesker mencium bau gosong dari dapur kemudian ia bergegas menuju dapur.

"Jake! Masakanmu hangus!"

"Eh?" Jake tersadar dari lamunannya kemudian ia melihat panic "Uwa!" Kemudian ia mematikan kompor.

"Nyaris saja." Ujar Wesker.

"Maaf ayah."

"Sudahlah hari ini ayah yang masak saja."

"Tapi-"

"Tidak ada tapi-tapian. Nanti gosong lagi." Ujar Wesker dengan tegas sambil melepaskan kacamata hitamnya.

Jake menggerutu. Apa boleh buat yang dikatakan oleh Wesker memang benar, kemudian ia berjalan menuju ke kamar Wesker dan ia meletakkan dua buah pena di atas meja.

Seusai makan malam Jake menghempaskan dirinya ke kasur kemudian ia mengambil kartu pelajar Sherry.

Ia berpikir apakah ia harus mengembalikannya ke Sherry? Padahal ia tidak ingin bertemu Sherry setelah apa yang ia perbuat kepadanya ketika mereka berdua masih kecil. Namun tidak mungkin juga ia tidak menegembalikannya ke Sherry.

Akhirnya Jake memutuskan untuk mengembalikannya ke Sherry. Lagipula ia tidak ingin ayahnya tahu bahwa ia memiliki konflik dengan Sherry, kalau ayahnya tahu pasti dia akan kecewa.

"Tapi jika aku minta maaf apakah ia akan memaafkanku?"

Sementara itu di lain tempat…

"Halo? Oh Claire, ya aku baik-baik saja jangan khawatir." Ujar Sherry sambil tersenyum. "Baik-baik, aku mengerti." Kemudian Sherry menutup panggilan teleponnya.

Lalu Sherry kembali melanjutkan mengerjakan pekerjaan rumahnya. "Tadi itu siapa ya? Aku merasa familiar. Tapi siapapun itu semoga saja aku bisa bertemu dengannya supaya aku bisa mengucapkan terima kasih lagi…"


A/N : Mohon maaf chapter barunya baru diupdate sekarang. Soalnya kena WB x_x. Ditambah lagi sedang musim UAS dan stress sama UAS Take home ORZ.