Materi Rahasia

.ooOoo.

Disclaimer : Masashi Kishimoto

.

.

Warning : EYD hampir tidak beraturan, bahasa baku dan gaul jadi satu. OOC

.

.

Genre : Adventure, sedikit Parody

.

.

Rate: K - K+

.

.

Summary

Ada guru biologi baru di sekolah Naruto dan Sasuke dan mereka mendapatkan sebuah materi rahasia. Apa yang akan Naruto dan Sasuke lakukan setelah mendapat materi rahasia tersebut?

Chapter 3

Arrived~

Angin malam nan dingin berhembus cukup kencang malam ini. Dedaunan bergoyang kesana kemari mengikuti hembusan sang angin, beberapa daun yang sudah tua pun ikut berterbangan terbawa angin malam. Cuaca saat ini sebenarnya tidak cocok untuk berpergian, apalagi berpergian ke daerah dataran tinggi. Tentu saja angin disana akan semakin kencang hembusannya, dan sanggup membuat masuk angin. Tetapi rasa penasaran kedua sahabat sekaligus rival itu lebih kuat dari keadaan cuaca malam itu, mereka memang keras kepala.

"Uh, Teme.. Jangan cepat-cepat.."

"Hahh..."

Sasuke langsung menghela nafas sambil memutar bola matanya, dan menapakan kakinya di salah satu atap rumah warga. Ia menoleh kebelakang dan melihat sesosok anak laki-laki berambut kuning yang menyala di kegelapan malam itu, kalau mempunyai rambut se-cerah itu bagaimana mau menyusup bisa-bisa belum sampai di dalam laboratorium pasti langsung ketahuan.

"Cih, baka Dobe."

Dengan nafas terengah-engah, akhirnya Naruto bisa berpijak pada atap rumah yang sama dengan sasuke. Naruto tidak abis pikir, apa yang Sasuke konsumsi setiap hari sehingga ia begitu cepat. Bukankah ia selalu memakan tomat ya? Apakah tomat bisa membuat lari/lompatan kita menjadi cepat?

"Dobe, kau bawa sesuatu yang berwarna gelap tidak?"

"Uh? sesuatu berwarna gelap? Memang untuk apa?"

"Ah.., mana tasmu sini!"

Dengan sedikit kasar, Sasuke melepaskan tas yang berada di pundak Naruto. Dia mengambil jaket miliknya yang berada di bagian paling belakang dari tas tersebut. Sasuke selalu membawa jaket hitam kesayangannya saat berpergian kemanapun, alasannya ya.. Hanya untuk jaga-jaga.

"Nih, tutupi rambutmu yang menyilaukan itu!"

"He? buat ap-"

"Sudah pakai saja!"

"Gahh, baiklah.."

Naruto pun melilitkan jaket hitam milik sahabatnya ke kepalanya sehingga menutupi sebagian besar rambutnya. Yang tersisa mungkin hanya beberapa helai poninya saja. Sekarang penampilan Naruto sedikit lebih 'gelap' dari sebelumnya.

"Teme, apa maksudmu menyuruhku menutup rambutku?"

"Hn, rambutmu kan terang Dobe!"

"Terang? Memang rambutku lampu apa?"

"Hahh.., rambutmu itu terang dikegelapan seperti saat ini. Kalau kita ingin menyusup ke laboratorium Kabuto-sensei dengan penampilan rambutmu yang terang itu bisa-bisa kita bisa ketahuan"

"Ho-oh, iya benar juga.. Umm, memang rambutku begitu terang yah?" (memegangi kepalanya)

"Sudahlah, ayo kita lanjutkan perjalanan!"

"Oh.. Sejak kapan kau di utus menjadi kapten 'misi' ini Teme?"

Tak perlu menjawab, Sasuke pun mulai menjauhkan kakinya dari tempat awal ia berpijak. Dengan begini, pasti Naruto akan terdiam dan langsung mengikutinya. Di dalam hatinya sebenarnya ia tertawa melihat perilaku sahabatnya.

"Uoo, Teme! Jangan tinggalkan aku!"

Anak berambut kuning itu segera menyusul sahabatnya yang sudah 2 meter di depannya. Bukit yang mereka tuju sudah kelihatan jelas. Mungkin hanya 5 menit juga sampai di kaki bukit. Letak Laboratorium milik Kabuto-sensei berada di tengah bukit itu. Kalau dilihat dari kaki bukit belum kelihatan, karena ditutupi pepohonan yang rindang. Apalagi saat malam hari. Untuk apa Kabuti-sensei membangun sebuah laboratorium di tengah-tengah bukit ini? Sebenarnya ada apa ini?

"Baiklah! Kita sudah sampai di kaki bukit!"

"Ini baru di kaki bukit Dobe.. Masih jauh ke Laboratoriumnya"

Naruto dan Sasuke sudah berada di kaki bukit. Tanpa mereka sadari, sesosok laki-laki yang lebih tua dari mereka menghampiri Naruto dan Sasuke. Bukk! suara tepukan tangan yang mendarat di bahu kedua sahabat sekaligus rival itu sukses mengejutkan mereka berdua.

"Kalian sedang apa di sini?"

"Suara berat, pasti ini lelaki" pikir Naruto dan Sasuke.

Setengah takut dan setengah penasaran mereka mencoba memutar balik badan mereka agar bisa melihat siapa yang menepuk dan sekaligus bertanya kepada mereka.

"Huaaaa!, H-Han-tu! T-Teme! L-Lari!"

Naruto sudah siap dengan posisi lari marathonnya bersiap untuk memulai aksi larinya. Sebelum itu terjadi, baju belakang Naruto sudah dipegang oleh Sasuke. Dengan tampang sangat datar Sasuke menyeret tubuh Naruto yang sudah pucat itu kembali ke posisi awalnya.

"Heh, baka Dobe lihat dulu baik-baik baru bilang hantu! Kau tidak lihat apa ini Yamato-sensei. cepat membungkuk dan minta maaf!"

"Hee? Yamato-sensei? G-Gomen!"

Naruto yang setengah malu dan setengah lega pun akhirnya mengucapkan maafnya, karena sudah salah menganggap Yamato-sensei yang menjadi guru biologi saat ia masih kelas 10 adalah hantu.

"Ho-oh.. Baiklah.. Baiklah saya maafkan, Naruto. Haha, memang saya tadinya mau menakut-nakutkan kalian berdua." (menggaruk-garuk belakang kepalanya sambil tertawa)

"Oh, yah kalian ada apa berada disini?"

"Ngg... kami.. kami.. ka-"

"Kami ingin pergi kerumah teman SD saya sensei, rumahnya dekat sini kok"

"Kenapa malam-malam? Kalian mau 'ngapain'?" *Kepo*

"Karena kalau pagi-sore kan sekolah sensei, kita hanya mau mengembalikan komik ini saja kok."

Sasuke dengan sigap mengambil salah satu buku komik Naruto yang selalu ia bawa kemana saja. Hanya cara ini yang bisa dia pakai supaya 'misi' mereka tidak diketahui orang lain selain mereka.

"Nee? Teme it- Aww! Tem-"

Belum selesai Naruto mengomel, Sasuke sudah menginjak kakinya. Melihat ekspresi wajah Yamato-sensei, Naruto dan Sasuke tidak melihat ekspresi kecurigaan. Fuu~ untung saja. Pikiran mereka berbanding terbalik dengan pikiran author #loh(?) Ternyata Yamato-sensei menyembunyikan rasa kecurigaan kepada Naruto dan Sasuke. Tetapi ia berhasil menyembunyikannya dengan 'nyaris' sempura.

"Oh., komik. Baiklah hati-hati di jalan ya. Jangan lupa habis mengembalikan komik itu langsung pulang, malam sudah larut, bahaya." (tersenyum)

"Baik sensei. umm... Ngomong-ngomong sensei sedang apa disini?"

Mendengar pertanyaan Naruto, Sasuke melemparkan pandangan tersinis yang dimiliki clan uchiha. "Huh dasar Baka Dobe!" ujarnya dalam hati.

"Haha.. Saya hanya lagi ingin jalan-jalan saja" (tertawa)

"Tapikan cuacanya bur-"

"Ayo! kalau tidak cepat nanti semakin larut malam!"

Sasuke langsung memutus pembicaraan Naruto dan Yamato-sensei begitu saja. Kecurigaannya sudah melampaui batas terhadap Yamato-sensei. Pasti ada yang disembunyikannya. Sasuke pun menarik tas Naruto dan menyeret Naruto menjauhi Yamato. Naruto yang kebingungan dengan tingkat sahabatnya pun hanya bisa diam dan melambaikan tangannya kepada Yamato untuk tanda selamat tinggal. Yamato yang tampak kebingungan melihat tingkah kedua 'mantan' muridnya pun hanya diam dan meneruskan perjalanannya.

Sudah agak jauh dari tempat pertemuan mereka dan Yamato, Sasuke akhirnya berhenti menyeret tubuh terima dangan perlakuan seperti itu Naruto pun Berbalik dan langsung mencaci maki Sasuke.

"HEEH! DASAR BAKA TEME! KAU TIDAK LIHAT APA AKU SEDANG BERBICARA DENGAN YAMATO-SENSEI? PEMBICARAANKU BELUM SELESAI! KAU SEENAKNYA SAJA MEMOTONG PEMBICARAANKU DAN MENYERETKU SEPERTI TADI! DAN SATU LAGI! ITU KOMIKKU TAHU! DASAR TEMEE!"

"Fuu~ Kau yang baka, Dobe. Kalau kita berlama-lama disana, itu hanya buang-buang waktu saja. Masalah komik itu hanya akal-akalanku saja untuk menutupi 'misi' kita, jangan terlalu bodoh Dobe."

Sasuke menjelaskan itu semua dengan nada datar andalannya plus nada sok-sokan miliknya. melihat itu semua, perempatan kecil tiba-tiba muncul di sudut kepala Naruto rasanya ingin langsung menonjok muka sok keren milik SasuTeme itu. Untung saja ia menyelamatkan 'misi' mereka jadi dia belaga sok keren gitu. Huu! kalau tidak. Wajah tampan Sasuke bisa berubah menjadi Sukaku milik Gaara yang sudah terkena Rasengan miliknya.

"Huh! Sudah cukup penjelasannya Teme, ayo sekarang pergi ke Laboratoriumnya!"

Naruto mulai melangkah duluan di banding Sasuke, dia ingin menjaga jarak sebentar sampai emosinya mereda. Sasuke yang masih menampilkan ekspresi sang uchiha masih berjalan dengan santai 2 meter di belakang Naruto, ia tak ingin melakukan hal yang tidak berguna kalau ia menyusul Naruto.

Pohon-poho rindang masih melindungi mereka dari sinar bulan malam itu. Walaupun sinar bulan tak sesilau sinar matahari, tetapi suasana seperti ini cukup mengerikan *Bagi orang yang paranoid* Walaupun Naruto berpura-pura tidak takut akan suasana itu tetapi di dalam hatinya dia ketakutan. Semua adegan film horor yang pernah ia tonton seperti memutar kembali di otaknya. Hal itu yang membuat Naruto tak sanggup lagi menyembunyikan rasa takutnya. Perlahan ia memperlambat jalannya agar Sasuke bisa lama-semakin lama Naruto memperlambat jalannya untuk menunggu Sasuke agar bisa menyusulnya, tetapi Sasuke tidak menyusulnya juga. Apakah Sasuke?

"Jangan.. Jangan.. Si Teme itu?-"

Tak mau rasa takut mengerogoti hatinya, Naruto mencoba sekali lagi memperlambat langkah kakinya. Tetapi usahanya gagal, Sasuke tak muncul juga. Rasa khawatir Naruto mengalahkan semuanya. Akhirnya Naruto menghentikan langkahnya dan berbalik.

"Teme...?"

"..."

Ternyata Sasuke sedang membaca komik yang dia ambil saat bertemu Yamato-sensei. Pantas saja ia berjalan lama sekali. Naruto pun bisa bernafas lega, ke-khawatiranya akhirnya sirna saat melihat sahabatnya masih ada di belakangnya. Tak mau rasa khawatir dan takut datang lagi, Naruto langsung menghampiri Sasuke.

"Teme! Apa yang kau lakukan? Bukan sat baca komik!"

"Hn, komik ini seru juga ya Dobe?"

"Nee? Iya lah! Itu komik kesukaanku! Kau mau meminjamnya?"

"Hn"

"Baiklah akan ku pinjamkan.. SETELAH KITA SELESAIKAN 'MISI' INI!"

"Asal kau tahu Dobe, ini bukan misi"

"..."

"SUDAH CUKUP BACANYA!"

Naruto merebut komik itu dan langsung menaruhnya ke tempat yang seharusnya, yaitu di tasnya. Naruto menganggap Sasuke itu terlalu 'norak' dengan namanya komik. Memang selama ini Sasuke hanya membaca buku ilmu pengetahuan yang selalu dipenuhi dengan kata-kata dan angka-angka yang bisa membuat mata berkunang-kunang dan pastinya membuat pusing, itulah asumsi Naruto terhadap buku-buku yang selalu dibaca oleh sahabatnya.

"Cih"

Sasuke membuang muka saat buku yang bernama komik itu direbut pemiliknya. Sasuke baru sadar, ternyata ada jenis buku yang lebih seru daripada buku-buku yang selalu dibacanya. Sungguh Sasuke yang malang, dia baru tahu bahwa komik itu sangat bagus dan menarik, tapi itu terlambat bukan waktunya untuk membaca benda baru yang mengasyikan itu saat ini. Dia dan Naruto harus mencari jawaban atas kecurigaannya kepada Kabuto-sensei dan Yamato-sensei. Dua orang guru biologinya selama di SMA.

"Dobe.., habis ini aku pinjam komik itu"

"Huu.., boleh saja tapi kau menepati janjimu tentang traktir ramen tadi siang ya!"

"Hn"

"Haha! bagus! Ayo kita menyusup!"

"Dobe..." (dalam hati)

Hari pun semakin larut. Angin pun juga semakin ganas bertiup, sepertinya akan badai. Uh, semoga saja tidak! Tidak ada yang tidak mungkin di sebuah cerita, apa saja bisa dibuat disini. Tergantung keinginan author dong #lah (?). Author pun berkata lain, Rintik-rintik hujan pun mulai turun satu persatu semakin lama, semakin banyak dan deras.

"Sial! Hujan, untung tinggal sedikit lagi ayo Teme!"

"Hati-hati Dobe. Siapa tahu disini ada jebakan"

'Ahh, Teme memang aku bodoh apa, aku ta-"

SRUUUKKK... Tanah yang di injak Naruto tiba-tiba jatuh dan membuat Naruto jatuh bersama tanah yang di injaknya. Karena iya sedang mengobrol dengan Sasuke, dia tidak melihat tali halus yang berada 2cm di atas tanah yang ternyata berupa jebakan yang mereka bicarakan tadi, sebelum Naruto terkena jebakan itu. Untung saja Baruto sigap membuat segel jurus seribu bayangan andalannya, para bayangan Naruto langsung mencoba menggapai apa saja sebagai pegangan. Usaha salah satu bayanan Naruto berhasil menggapai retakan tanah di dinding tanah, langsung saja bayangan Naruto yang lain memegang kaki bayangn Naruto yang berhasil menggapai retakan tersebut. Dan pada akhirnya semua bayangan Naruto melakukan hal tersebut, terbentuklah tali bayangan Naruto. Naruto asli berada di posisi paling bawah.

Sasuke baru beberapa detik memberitahu untuk berhati-hati kepada Naruto, sekarang sudah melihat sahabatnya terjebak dalam jebakan yang mereka baru bicarakan. Masih dengan ekspresi sok cool miliknya, Sasuke berteriak ke lubang tempat Naruto jatuh. Dia masih bisa melihat sahabatnya masih menggantung di dinding tanah.

"Hey Dobe, kau tidak apa-apa?"

"Tentu saja aku tidak apa-apa Teme!"

"Perlu bantuan?"

"Sekarang tidak! Bayanganku dan aku ingin berusaha sendiri dulu!"

Naruto dan bayangannya langsung menggoyang-goyangkan badan ke kiri dan ke kanan agar bisa menggambil ancang ancang untuk melompat ke atas.

"HOY! Semuanya lakukan seperti yang kulakukan!"

Semakin kuat goyangannya, retakan itu semakin ingin patah. Sasuke yang melihatnya langsung berteriak kepada Naruto untuk menghentikan aksi yang tidak berguna itu. Sebenarnya Sasuke begitu khawatir kepada sahabatnya satu ini.

"Baka Dobe! hentikan itu! Retakannya mau patah! Hentikan sekarang juga! Berusahalah kau

masih bisa menggantung di sana!"

Naruto yang mendengar teriakan Sasuke langsung menghentikan aksinya, dia juga memerintahkan bayanganya agar berhenti. Dia tidak habis pikir, seseorang Sasuke Uchiha yang dikata orang tak punya hati, ternyata begitu peduli dengannya. Sementara itu Sasuke melihat sekeliling, ia mencari benda yang cukup panjang dan bisa digunakan untuk menarik Naruto dari lubang tersebut. Mata Sasuke berhenti pada satu pohon, pohon itu mempunyai akar nafas yang sangat panjang dan tebal, itu pasti bisa dijadikan tali. Langsung saja Sasuke berlari ke pohon itu dan mencabut beberapa akar hisapnya. Setelah itu dia langsung berlari kearah lubang jebakan dan menjulurkan akar nafas itu ke Naruto

"Dobe pegang ini!"

"Ho! baiklah Teme!"

Sasuke sekuat tenaga menarik tubuh Naruto keluar dari jebakan itu. Tenyata bukan hanya Naruito yang ia tarik, ternyata Sasuke menarik bayangan-bayangan Naruto juga. Pantas saja berat. Akhirnya Sasuke berhasil menarik keluar Naruto dan para bayangannya keluar dari jebakan tersebut. Kemudian satu persatu bayangan Naruto menghilang. Sekarang Naruto sudah keluar dari lubang tersebut dan mulai menapakan kakinya ditanah yang lebih aman tentunya.

"Arigatou, Teme!"

"Hn"

Sasuke hanya merespon dengan "Hn" plus ekspresi datar andalannya. Tetapi didalam hatinya dia merasa lega karena temannya tidak terluka. Mereka berdua langsung melajutkan perjalanan mereka menuju Laboratorium Kabuto. Naruto yang tidak ingin kecerobohannya terulang lagi akhirnya berjalan dengan berhati-hati sambil memperhatikan sekitar.

500 meter lagi mereka sampai di Laboratorium Kabuto, gedungnya sudah terlihat. Walaupun bergitu Naruto tetap ber-waspada ria. Saat Naruto melihat ke arah kanan, ia melihat sekelebat bayangan. Sontak Naruto kaget. Keringat pun meluncur dengan derasnya dari pelipis Naruto, karena ia tipe orang paranoid, hal ini pasti terjadi kalau ia melihat sesuatu yang janggal. Sasuke yang risih melihat kelakuan sahabatnya pun langsung menanyakan apa yang terjadi.

"Dobe, kau kenapa hah?"

"Te-Teme, ka-kau l-li-hat b-bayangan t-tidak? Da-dari sebelah kanan~"

"Huh? Tidak. Bayangan? Bentuk orang? Atau hewan?"

"Ummm, sepertinya manusia"

"Ah, kau ini kebanyakan nonton film horor"

"Hee! Tidak! Teme! Ini serius, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri!"

"Itu hanya ilusimu Dobe, ayo cepat! Kita sedikit lagi sampai"

Naruto's Side~

Ih, Teme tidak mempercayaiku! Aku sungguh melihat bayangan itu! Apa Teme pikir paranoidku kambuh? *emang penyakit-_-* Memang sih, aku ini paranoid, tapi ini sungguhan! Dan bukan ilusi! Dan sekarang di Teme sialan itu malah mengabaikannya, dan bilang itu hanya ilusi, sialan!

End Naruto's Side~

Langkah kaki Sasuke dapat membuat Naruto bergerak mengikutinya dari belakang. Naruto hanya *ngedumel* dibelakang Sahabat sekaligus rivalnya itu. Ia mengoceh sampai lupa waktu, tanpa ia sadari orang didepannya sudah menghentikan langkahnya. Naruto yang terlambat menyadarinya langsung menghentikan langkahnya, namun ia terlambat tubuhnya sudah mendahului otak dan saram motorik yang mengatur gerakannya. Badannya sudah menabrak punggung Sasuke.

Braakkk!

Naruto dan Sasuke pun jatuh tersungkur tepat di pintu masuk Laboratorium Kabuto. Dari suasanannya seperti bangunan tak berpenghuni. Sepi, kotor, menjijikan. Gedung berwarna putih kusam itu berdiri tegak dihadapan mereka. Naruto dan Sasuke pun akhirnya berdiri dari posisinya tadi, lalu membersihkan tanah-tanah yang mengotori baju mereka.

"Gomen, Teme... Sungguh aku tidak sengaja"

"..." (sambil menepuk-nepuk baju dan celananya yang terkena tanah)

"Teme... Maaf"

"Hn"

"Waw, Laboratoriumnya bes-"

Belum selesai menyampaikan apresiasi terhadap kemegahan gedung Laboratorium tersebut, mulut Naruto sudah dibekap oleh tangan Sasuke.

"Hajshajaidjifjifi... buu-bukk-buka! T-tee-mee-teme!"

Hosh.. hosh.. hosh..

"Teme! Kau menciba membunuhku ya?"

"Kalau bisa sih akan kulakukan"

"Hee? Ja-jadi kau benar-benar ingin membunuhku?"

"Hahaha! Dobe... Dobe..."

"A-apa ma-ksudmu?"

"Untuk apa aku membunuhmu sekarang? Tidak ada gunanya. Aku hanya bercanda!"

"Terus apa maksudmu membekapku seperti itu?"

Sssst...

Sasuke pun langsung mengecilkan suaranya dan mulai berbicara.

"Kecilkan suaramu Dobe"

"Uh? Memangnya kenapa Teme. Ini kan sepi"

"Hal sepi ini harus dicurigai"

"Kau ini! Semuanya dicurigai!"

"Aku ini bukan tukang curiga, tapi berwaspada"

"Waspadamu berlebihan Teme~"

Sreekk...Sreek...

Suara dari semak-semak 10 meter dari tempat mereka berpijak. Sepertinya ada sesuatu yang bergerak sehingga menggerakan dedauna semak-semak itu dan menimbulkan suara. Tapi siapa yang bergerak dan bersembunyi dibalik semak-semak itu?!

YEAH! Selesai! Chapter 3... bagaimana? Ahh... apa kata anda langsung aja kirim ke review! Oke! Saya menerimanya kok! *kecuali flame yang gak penting* sebenernya di chapter 3 mau langsung tamat-in tapi ya... sampe chapter 4 aja deh hihi... ingin membuat klimaks di akhir

Untuk semua pembaca!

Arigatou Gozaimasu!

Spoiler chapter akhir! See it!

Seperti yang says bilang di chapter akhir adalah klimaks. Kalau pembaca gak baca dari chapter pertama pasti bingung. Soalnya setiap chapter pasti aneh alurnya. Jadi baca dulu dari chapter 1-3

baru bisa mengikuti alu ceritanya. Di chapter 4, akan ada kejadian yang menarik! Dan akan menguak semua kebenaran yang ada HAHAHA *evil laugh* jadi!

Keep read and wait for next chapter!

Pembalasan Review!

A: Author , N: Naruto , S:Sasuke

A: "Ekem... Seperti chapter sebelumnya ya Naru.. Sasu.. Hihi

N&S (menatap dgn sinis) : "Apa maumu?"

A (senyum-senyum gaje) : "Balesin review-annya yayaya please~"

N&S : "Untungnya buat kami apa?"

A : "Kalian masih dimainkan sampe chapter akhir kok"

N : "Bisa minta tambahan tidak?"

A&S : "Kau pasti minta traktir ramen lagi kan?"

N : "HAI!"

A : "Kalau fic ini bnyk reviewnya baru saya traktir :p"

N&S : "Haa... Baiklah"

A : "Ladies and Gentleman please read this reply from your review and comment"

N: "Dari nauri minna-uchisaso

panjangin lagie dunk chapternya, cepat banget bacanya nieh, yang lamain sedikit dunk, baca fic saya ya baru nie review juga ya"

A : "Iya, saya lg bikin chapter selanjutnya kok! Uumm.. Gomen kalo ceritanya pendek bgt soalnya baru hihi. Terimakasih reviewnya, keep follow this fic ya. Salam kenal ya "

S : "Dari Iria-san males login Hehehe. . Aku mengerutkan kening karena ending chap 1nya agak ngegantung dan pndek banget. .
Untuk chap 2, dari penceritaan masih harus diperbaiki, alurnya terkesan agak terburu2. Terutama yg tanda *. . .* lebih baik dikurangi.
Trus, perhatikan juga huruf besar, huruf besar harus ada di semua nama orang, nama tempat, nama panggilan, tanggal dll. .
Yah. .rasanya cukup itu ajaa. .dulu. .hehe. .aku aja masih bnyak kekurangan koka. Salam kenal yah. ."

A : "Ohh, begitu toh... Oke! Saya akan coba untuk memperbaiki EYD saya di chapter selanjutnya. Mungkin gak bisa langsung perfect, tapi saya coba dibaikin lagi hehe. Terimakasih reviewnya, keep follow this fic ya. "

SEE YAA!