Disclaimer: Kuroko no Basket © Fujimaki Tadatoshi

Warning: AoKise, shota!Midorima, OOC, typo, dsb

Terima kasih untuk meshi-chan dan Charles Grey yang sudah memberi inspirasi ke saya buat lanjutan fanfic ini di twitter TwT

Dan juga kamu :)


5 blok dari tempat menginap para tokoh pelangi, ada sebuah Game Center yang ukuran sedang yang tidak terlalu ramai. Oke, tadinya tidak terlalu ramai. Tapi semua itu berubah ketika manusia berambut biru dan kuning bertemu dengan ring basket.

"Kyaaaaa~ Lihat ada yang mau bertanding basket!"

"Siapa siapa?!"

"Itu Kise-kun yang ganteng itu 'kan?"

"Hei, siapa lawannya yang hitam dekil itu?"

"Tak tahu. Tapi pacarku bilang dia pemain basket yang hebat di SMP-nya."

"Heeee, jadi mereka mau tanding?!"

"Mungkin begitu."

"… Lalu, siapa anak kecil berambut hijau itu?"

Kerumuman orang-orang (yang kebanyakan fans Kise) itu mulai berbisik-bisik membicarakan tanding ketiga orang tersebut di arcade basket. Sementara yang menjadi pusat pembicaraan malah tidak peduli sama sekali. Pokoknya mereka cuma mikir kalo dia mesti menang!

Jadi, semua berawal dari scene terakhir di chapter 1. Aomine, Kise, dan Midorima kecil membeli es krim di minimarket terdekat, dan ternyata ketiganya mendapat bonus untuk memainkan satu permainan gratis di Game Center terdekat. Karena ketiganya sama-sama maniak basket, jadilah mereka memilih itu.

"Dek, adek yakin mau ambil yang untuk dewasa?" mas-mas penjaga Game Center kembali mengingatkan.

"Jangan lemehkan aku, nanodayo. Kalau cegini cih macih pendek nanodayo." Midorima mendorong kacamatanya dan memulai ancang-ancang.

"Aku tak akan kalah dari Aominecchi dan Shintaroucchi-ssu!" Kise sudah membulatkan tekadnya. Terdengar teriakan fangirls yang mendukungnya sepenuh hati.

"Che, jangan mimpi Kise. Yang bisa mengalahkan aku cuma aku." Kata Aomine klise, dengan mata yang sudah menyala.

Peluit pun dibunyikan, dan ketiganya langsung berusaha memasukkan bola dengan kecepatan ekstrem.

Kise menggunakan beberapa teknik yang ia salin dari pemain yang pernah ia lawan. Quick release lah, apalah, yah pokoknya intinya ia menggunakan teknik yang ia copy. Sementara Aomine menggunakan formless shot-nya yang meski terlihat ogah-ogahan, tetapi masuk semua. Midorima meski agak kewalahan karena tubuhnya yang kecil, tapi ia masih bisa memasukkan bola dengan lihainya—membuat semuanya terpana tidak percaya.

Bagi anggota Kiseki no Sedai, main beginian sih segampang membalikkan telapak tangan.

2 menit berlalu, dan mereka pun selesai bermain.

"Hah.. aku kalah dari Aominecchi!" keluh Kise. "Aku cuma dapat 200 poin!"

"Ckckckck, setidaknya kau sudah dapat voucher makan gratis." Seru Aomine, si peraih poin 228 yang merupakan rekor di Game Center tersebut, sambil memutar-mutarkan bola basket berwarna biru tua yang menjadi hadiahnya.

Sementara Midorima kecil asyik menghirup oshiruko, minuman favoritnya, yang merupakan hadiahnya juga.

"Mou… Midori—eh, Shintaroucchi ga marah kalah sama Aominecchi? Padahal shooting kan spesialismu!" tanya Kise.

"Aku sengaja ngalah dali papa kalena mau oshiruko, nanodayo." Ujar Midorima kecil sambil memalingkan muka. Paling dia gak mau ngaku aja kalo dia kalah.

"Ahh… padahal aku mau bola basket baru."

Plok. Telinga Aomine langsung bereaksi mendengar itu.

"Nih," Aomine menyodorkan bola basketnya dengan malu-malu. Kise bingung sendiri melihatnya.

"Eh ga usah Aominecchi aku cuma bercan—"

"Ambil saja," Aomine bersikeras, "Toh aku masih punya bola basket bagus."

Kise menatap Aomine sebentar. Dengan ragu, ia pun akhirnya menerima pemberian Aomine. "Terima kasih, Aominecchi!"

DOKI.

DOKI. DOKI. DOKI.

Aomine bersumpah kalau jantungnya tadi berdetak lebih cepat ketika melihat senyum bahagia Kise.

"Sa—sama-sama." Balas Aomine malu.

.

.

.

.

Kruyuuuuuuuukk.

Aomine dan Kise melirik kebawah, mendapati Midorima kecil yang sudah memegangi perutnya dengan muka merah. Aomine rasanya ingin tertawa, namun niatnya terpaksa dihentikan ketika Kise menendang tulang betisnya.

"Lapar karena main tadi ya, Shintaroucchi?" Tanya Kise. Midorima mengangguk meski malu.

"Sepertinya kupon makan ini ada gunanya," seru Kise riang sambil melambai-lambaikan kupon makan gratisnya, "Ayo kita ke Maji Burger!"

_~(AoKise)~_

"EEEEHHH? KUPON TIDAK BERLAKU TANPA PEMBELIAN?!"

Teriakan Aomine dan Kise hampir saja membuat telinga si mbak penjaga toko tuli. Dengan sabar, akhirnya si mbak kembali menjelaskan, "Ya begitulah mas, kalau anda tidak membeli minimal satu burger maka kupon gratis spageti dan minuman ini tidak akan berlaku."

"Ga jadi beli deh kalo gitu." Aomine membalikan badan hendak pergi, namun kerah bajunya ditahan oleh tangan Kise.

"Tapi aku lapar, Aominecchiiiii! Shintaroucchi juga lapar! Iya 'kan?"

"Aku mau bulgel yang itu." Kata Midorima sudah memesan.

"Kau bisa beli sendiri 'kan Kise?" tanya Aomine ketus.

"Uangku habis gara-gara es krim tadi!" aku Kise. Aomine sweatdrop. Buset, model kece begini duitnya dikit bro!

"Gini aja deh, kita suit, yang kalah beli burger buat Midorima." Usul Aomine.

"Setuju." Kise menyetujui usul Aomine. Mereka berdua pun langsung ambil ancang-ancang buat suit.

"JAN-KEN-PON!"

.

.

.

"Hali ini hali yang beluntung buat Gemini, apalagi dengan bola basket walna bilu sebagai Lucky Item." Kata Midorima kecil sambil asyik mengunyah burger berukuran jumbo miliknya.

"Diam." Aomine mengunyah spagetinya dengan kesal. Ya, sesuai dugaan kalian, Aomine kalah suit. Aomine jadi menyesal kenapa ia tadi memberikan bola basketnya kepada Kise.

Kise—yang berbagi spageti dengan Aomine, karena Midorima sangat pelit dan tidak mau membagi burgernya dengan alasan tidak higenis—asyik mengunyah spagetinya dengan muka bahagia. Well, siapa yang tahu kalau aliran "gunting selalu menang" yang dianut Akashi memang selalu benar.

Aomine merutuk. Keseringan mengalah janken dengan Akashi membawa dampak tidak baik bagi dirinya.

"Eh, Aominecchi, ga makan lagi?" tanya Kise sambil asik memutar-mutarkan garpunya, lalu memasukkannya ke dalam mulutnya.

"Gak napsu." Jawab Aomine sekenanya.

"Ya sudah kuhabiskan saja."

"Eh! Jangan diabisin! Belinya kan pake duit aku!" protes Aomine.

HAP. Kise mengabaikan perkataan Aomine, dan kembali menyuapkan segarpu spageti ke mulutnya, "Tapwi ituw yang terakhir low Aominecchi~"

Perempatan mulai muncul di pelipis Aomine. Beraninya..

"Sialan! Balikin spagetinya!" perintah Aomine sambil menarik-narik garpu yang diulum Kise. Sementara Kise dengan gigih tetap mempertahankan si garpu di mulutnya.

"Kiseeeeee!"

"Aominecchi, relain aja sih spagetinya buatku!" seru Kise, masih dengan mulut penuh spageti.

"Ogah!" Aomine berhasil menarik garpu itu dari mulut Kise, "Aku akan merebutnya meski dengan paksaan!" ujar Aomine ngotot.

"Maksud Aominecchi ap—"

Tiiing

Sebuah garpu berbahan aluminium jatuh membentur lantai.

Mata Kise membelalak, mata Aominepun ikut membesar beberapa lama kemudian.

Tidak ada yang benar-benar mengerti apa yang terjadi saat ini.

Yang jelas, yang Aomine tahu, tadi ia menghentikan perkataan Kise dengan menempelkan bibirnya di atas bibir ranum si model cilik.

_~(AoKise)~_

'APA. YANG. TELAH. AKU. LAKUKAN!'

Pikiran Aomine acak kadut. Ia tidak mengerti kenapa ia bisa berakhir dalam situasi seperti ini.

Berawal dari kemarin malam ia dan Kise bermain poker bersama. Lalu Midorima yang mendadak berubah menjadi kecil, ia dan Kise disuruh mengurus Midorima, ketiganya pergi ke Game Center bersama, ia dan Kise yang suit untuk membeli makan siang Midorima,lalu Kise menghabiskan spagetinya, dan… Ia yang tidak terima kalau spagetinya dihabiskan Kise sehingga ia meminta Kise mengembalikannya dan—

Aomine merutuki dirinya yang amat sangat kekanak-kanakkan.

Dan lagi, yang membuat Aomine semakin bingung adalah.. alasan kenapa ia masih melanjutkan ciuman itu.

(Dan kenapa jantungnya malah berdetak tidak karuan ketika berada sedekat ini dengan Kise).

Sungguh, Aomine ingin sekali mengakhiri ciumannya dengan Kise, namun seperti ada magnet berbeda kutub di antara kedua bibir mereka sehingga membuatnya tidak bisa terlepas, seperti ada gula manis di ujung bibir Kise sehingga membuat Aomine semakin ketagihan untuk mengulumnya.

"A.. o.. mine.. cchi.."

"Ah." Selang waktu kemudian, Aomine pun menyudahi ciuman mereka. Keduanya memalingkan muka, tidak berani melihat muka lawan mainnya. Hening pun menyelimuti. Tidak ada satupun yang mau menanyakan maksud ciuman tadi.

"Aominecchi.."

Oh tidak tidak tidak. Jangan bertanya mengenai apapun dulu, Kise!

"Aominecchi! Dengarkan aku!"

Tidak! Aomine berteriak dalam hati. Ia tidak tahu harus menjawab apa kalau Kise bertanya mengenai tadi!

"Aominecchi! Shintaroucchi hilang!"

"Eh?"

Aomine melirik ke arah kursi tempat Midorima kecil duduk. Dan Midorima tidak ada disana. Pasti pergi ketika mereka sedang sibuk dengan 'kegiatan' mereka tadi.

"Aominecchi, bagaimana ini? Akashicchi pasti akan membunuh kita!"

"Te—tenang!" Aomine memegang pundak Kise, berusaha menenangkan si pirang, "Mendingan kita cari Midorima sekarang. Kuso, dasar bocah sialan! Ayo Kise!"

_~(AoKise)~_

"Ingatkan lagi kenapa aku harus menemanimu?"

Si raven hanya tertawa kecil, membuat si rambut coklat marah dan memukul kepala si raven.

"Hey! Tak usah memukulku juga kali, Miyaji-senpai!"

"Ya jangan suka memaksaku untuk menemanimu jalan-jalan sore, Takao! Kecuali kalau kau gadis manis yang mempunyai ukuran dada yang lumayan!" sergah Miyaji. Pemuda raven yang dipanggil Takao ini hanya meringis sambil memegangi kepalanya yang sedikit benjol.

"Anggap saja sebagai hadiah karena aku sudah belajar dengan giat untuk masuk Shuutoku, oke sempai?" ujar Takao ngeles. Miyaji pun kembali mengomel dan sesekali mengancam akan melemparinya dengan nanas.

'DUK'

"Aduh…"

Takao dan Miyaji diam sebentar. Mereka melongo melihat anak yang tidak sengaja mereka tabrak. Seorang anak kecil pendek, punya balutan perban di tangan kirinya, berambut hijau, dan sedang memeluk boneka babi dengan eratnya.

Hendak mereka bertanya kepada anak kecil ini, tiba-tiba sang anak kecil hijau ini berdiri dan berkata, "Tolong. Aku nyasal, nanodayo."

"HEEEEEEEEEEEEEE?"

TBC


A/N: Dengan segala pertimbangan, akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan fic ini. Awwww big thanks buat review-nya guys!Kalian harus tau reaksi saya yang udah mesem-mesem sendiri kayak orang gila pas bacanya.

Anyway, berhubung chapter 3 belum saya ketik, jadi saya gak tahu ini fic bakal apdet kapan. Ya.. semoga saja saya tidak menelantarkannya hohoho #headshot

Segala kritik dan saran diterima.

~Sign,

Mochiyo-sama