[Sementara di Gymnasium]

"Akashi-kun, ini semua perbuatanmu ya?"

Akashi mengintip Kuroko dari balik kertas-kertas yang diberikan Momoi tadi, "Apa yang membuatmu berpikir begitu, Tetsuya?"

"Entahlah. Hanya saja, ada yang aneh dari cemilan buatan Momoi-san."

"Dan itu adalah?"

"Momoi-san kemarin malam membuat kue kering dari kacang merah," terang Kuroko, "Dan di antara mereka bertiga yang menyukai kacang merah hanyalah Midorima-kun."

Akashi merapihkan dokumen-dokumen yang diberikan Momoi sambil menghela napas, "Lalu, kau menuduhku menyuruh Satsuki meracuni Shintarou, begitu?"

"Bukan begitu," Kuroko menunduk, "Aku tidak menuduh Akashi-kun. Hanya bertanya saja."

"Hm." Akashi lalu memberikan dokumen-dokumen itu kepada Momoi. Setelah itu ia berdiri dan meregangkan tubuhnya, "Kembalilah latihan, Tetsuya. Atau latihanmu kutambah 3 kali lipat."

"Baik."

"Atsushi, kau juga."

"Tapi Aka-chin~ Aku lapar~"

Kuroko dan Murasakibara pun kembali ke lapangan. Momoi yang dari tadi memperhatikan mengeluarkan sebuah tawa pelan.

"Tetsu-kun benar-benar seorang pengamat yang cermat, iya 'kan, Akashi-kun?"

Akashi tidak menjawab pertanyaan Momoi dan malah berjalan menuju lapangan—bergabung dengan dua rekannya yang lain.

Tapi sebagai gantinya—

—ada sebuah senyuman mengerikan terpampang disana.


Disclaimer: Kuroko no Basket © Fujimaki Tadatoshi

Warning: AoKise. Teikou Days. Random. Family-Humor gagal. Typo. Dsb

Terima kasih pada shikitsu yang sudah berbaik hati mau membuat 'kan cover :'D

Dan juga KAMU :'3


"Tolong. Aku nyasal, nanodayo."

Takao dan Miyaji tak henti-hentinya bertukar pandang karena anak ini. Apa coba anak ini, baru juga ketemu udah laporan kalau dia nyasar. Emangnya mereka apa, satpam?

"Kak,"

"Eh—ah, iya," Takao dan Miyaji kembali memfokuskan perhatiannya ke anak hijau tadi. "Jadi, ehm, dik, kau itu nyasar."

"Namaku bukan nyasar, nanodayo."

Takao mengacak-acak kepalanya, frustasi. "Maksudku, kau tersesat. Iya 'kan?" Midorima kecil mengangguk.

"Dimana kau terakhir melihat orang tuamu?"

"Di Maji Burger. Tapi saat aku kembali kesana mereka sudah tak ada." Jawab Midorima kecil dengan nada sedih.

"Oh.." Takao mangut-mangut. "Kenapa kau bisa terpisah dari mereka?"

"Lucky Item-ku ketinggalan di Game Centel," Midorima menunjukkan boneka babinya, "Jadi aku mengambilnya. Lagipula papa dan mama sedang melakukan 'ulusan' meleka tadi."

'URUSAN?! EMANG ORANG TUA DIA LAGI NGAPAIN?!' Pikiran Takao dan Miyaji udah kemana-mana. Emang dasar kalian pikiran kalian kotor.

"Eh, bocah, namamu siapa?" giliran Miyaji yang angkat bicara.

"Chintalou, nanodayo." Jawab Midorima pendek.

"EH?! SHINTAROU?" Takao setengah berteriak, "Shintarou, seperti Midorima Shintarou-nya Kiseki no Sedai? Yang 'Ijo. Mantap. Hot.'itu?!"

Takao, tolong hentikan perkataanmu itu. Midorima kecil dan Miyaji sampai ambil seribu langkah darimu tahu.

"Namaku Takao Kazunari!" seru Takao riang beberapa saat kemudian, ketika Midorima kecil sudah tidak merasa takut untuk mendekatinya lagi, "Yang ini calon senpai-ku, Miyaji Kiyoshi!"

"Oyaji?"

"KAU MAU KULEMPARI NANAS?!" seru Miyaji emosi. Takao tertawa terpingkal-pingkal.

"Sudahlah Miyaji-senpai," ujar Takao sambil menepuk-nepuk punggung Miyaji, "Lebih baik kita bantu Shin-chan mencari orang tuanya sekarang~"

"Jangan panggil aku begitu, nanodayo."

"Terserah~"

Lalu ketiganya pun memulai perjalanan mereka mencari orang tua Midorima. Dan mereka pun hidup bahagia selamanya.

TAMAT!

.

.

.

Oke, saya bercanda. Sekarang mari kita tengok 'orang tua' Midorima.

"Maji Burger, cek. Taman, cek. Minimarket tempat beli es krim, cek.." Kise berusaha mengingat daftar tempat yang sudah ia datangi, "Aominecchi, bagaimana ini? Shintaroucchi tidak ada dimanapun!"

"Mana kutahu!" gerutu Aomine sebal, "Sialan! Midorima juga tidak ada di penginapan lagi. Untung tadi Akashi gak curiga pas liat kita di penginapan!"

"Ah! Aku jadi pusing!" Aomine mengacak-acak rambutnya, "Kise, pinjem bolanya! Aku mau main basket."

TING. Sebuah lampu bohlam bersinar di kepala Kise, "Aominecchi! Kau jenius!"

"Hah?" Aomine memiringkan kepalanya, bingung, "Aku jenius dalam bermain basket?"

"BUKAN!" kata Kise keras, membuat Aomine sedikit tertohok, "Eh, ya, Aominecchi memang jenius dalam bermain basket, tapi bukan itu yang kumaksud!"

"Terus?"

"Aominecchi, coba ingat. Dari tempat-tempat yang kita datangi bersama Shintaroucchi tadi, mana coba yang belum kita cari?"

Aomine memasang tampang (sok) berpikirnya. Coba ia ingat-ingat kegiatan yang mereka bertiga lakukan. Datang ke gym lalu diusir Akashi, jalan-jalan ke taman, makan es krim di minimarket, main basket..

Ah. "GAME CENTER!" Aomine dan Kise berseru dalam waktu bersamaan. Keduanya lalu saling pandang-pandangan.

"Aominecchi memikirkan hal yang sama denganku!" ujar Kise senang, membuat pipi Aomine sedikit memerah.

"Ayo Aominecchi!" Kise menarik-narik lengan baju Aomine, "Kita kesana sekarang!"

"O-osh!"

_~(AoKise!)~_

"Takao… bukankah kita seharusnya mencari orang tua anak ini?"

"Kau benar, senpai." Jawab Takao santai.

"Kalau begitu…" Miyaji mengepalkan tangannya penuh emosi, "KENAPA DIA MALAH ASIK NAIK BEGITUAN HAH?!" ujar Miyaji penuh amarah. Takao menanggapinya hanya dengan menghela napas sementara Midorima kecil tetap asyik dengan tunggangan Kerosukenya.

"Ah sudah beres.." Midorima menatap dengan nanar, "Oyaji, minta uang lagi, nanodayo."

"BIARKAN AKU MELEMPARNYA DENGAN NANAS!" Miyaji pasti sudah melempari Midorima kecil dengan sejuta nanas, kalau saja Takao tidak segera menenangkannya. Lagipula, kau dapat nanas darimana, Miyaji?

"Ayolah senpai, sesekali menemani anak kecil main tidak masalah 'kan?" kata Takao. Miyaji cuma menggerutu saja di tempat sementara Midorima kecil ya.. masih asyik dengan Kerosukenya.

"Shintaroucchi?" telinga ketiga orang itu mendelik mendengarnya. Suaranya kok familiar ya?

"Shintaroucchi!" sosok remaja lelaki pirang berlari mendekati Midorima kecil, "Kau ternyata disini! Aominecchi, dugaan kita benar!"

"Mama! Papa!" Midorima kecil langsung melompat dari Kerosuke dan mengampiri 'mama'-nya.

"Hah… Jangan bikin khawatir dong, bocah!" seru sang 'papa' sambil mengacak-acak rambut Midorima kecil, membuat yang bersangkutan mengeluh kesakitan.

Ah.. Reuni keluarga yang mengharukan. Bukan begitu, Takao, Miyaji?

E—eh, Takao, Miyaji, kenapa kalian pasang tampang terkejut seperti itu?

".. Jadi orang tua Shin-chan itu.. Aomine Daiki dan Kise Ryouta dari Kiseki no Sedai?!" ujar Takao dengan suara tinggi. Tampangnya sudah tidak bisa dideskripsikan lagi.

"MANA MUNGKIN!" Elak Aomine sambil melempari Takao dengan bola basket Kise. Ckckck brutalnya. Jangan ditiru di rumah ya!

"Tapi dia memanggilmu 'papa' dan 'mama'!"

"Ya, banyak hal yang terjadi." Kise membawa Midorima kecil ke dalam gendongannya, "Terima kasih sudah menjaga Shintaroucchi!"

"Tak usah berterima kasih," Cring. Cring. Cring. Tampak efek bunga-bunga muncul sebagai latar belakang Miyaji, "Kami tidak kerepotan kok."

"Meski begitu tetap saja aku harus berterima kasih, anu.."

"Miyaji," Miyaji langsung menyambar tangan Kise dan mencium punggung tangan Kise, membuat semburat kecil muncul di wajah si kuning, "Namaku Miyaji. Lain kali kalau ada apa-apa, hubungi saja aku."

"I—iya."

Namun, tidak seperti Kise yang menanggapi ucapan Miyaji sebagai tanda pertemanan, Aomine Daiki malah menanggapinya sebagai sebuah tantangan.

Tunggu, kenapa pula ia harus menanggapinya sebagai sebuah tantangan?! Dia 'kan cuma mencium tangan Kise!

"Tapi serius loh, Kise-kun," Miyaji mendekatkan dirinya ke wajah Kise, "Aku sebenarnya mengagumimu."

Aomine mengepalkan tangannya. Tidak. Ia tidak cemburu. Dan ia bukanlah seorang tsundere seperti teman satu timnya yang sekarang mengecil.

"Mengagumiku?"

"Ya," kata Miyaji dengan suara rendah di samping telinga Kise, membuat Kise terkikik geli, "Sangat mengagumimu.."

DUAK!

Aomine menonjok Miyaji tepat di muka, membuat sang siswa Shuutoku melayang jauh. Takao dan Kise melongo, sementara Midorima kecil berdoa agar arwahnya tenang di dunia sana.

Persetan dengan teriakan protes Kise, ia tidak suka kalau ada yang berani menyentuk miliknya.

"Jangan sentuh Kise, sialan." Seru Aomine. "Kita pulang, Kise."

"Tapi Aominecchi—"

"Tidak ada tapi-tapian." Aomine menggubris perkataan Kise dan menarik tangannya paksa, membuat Kise mengaduh kesakitan, "Kita pulang, sekarang."

Aomine dan Kise pun pergi meninggalkan Takao yang sudah membeku di tempat.

"Senpai, kau tidak apa-apa?"

"Ohok, iya.." Miyaji bangkit sambil meneglus-ngelus pipinya yang membengkak, "Orang-orang Kiseki no Sedai memang menakutkan ya meski di luar lapangan…"

_~(AoKise!)~_

"Aominecchi!" panggil Kise. Sudah 10 menit lebih Aomine menarik lengan Kise dan tidak mengindahkan panggilannya, "Aominecchi—kau kenapa sih?!"

"Aku tidak kenapa-napa!"

"Bohong!" Kise menepis tangan Aomine, "Jelas-jelas kau kenapa-napa. Kalau tidak ngapain kau memukul Miyaji-san!"

"Aku tidak apa-apa Kise! Kau saja yang—"

"DAIKI!" Kise berteriak. Aomine terdiam, pupil matanya membesar—kaget. Ini pertama kalinya Kise memanggil nama depannya.

Screw it. Orang yang ia sukai pertama kali memanggil nama depannya dengan amarah? Menyedihkan.

"Aku tidak suka,"

"Eh?"

"Aku tidak suka ketika dia dekat-dekat kamu begitu." Aku Aomine. Ia memalingkan mukanya yang sudah memerah. "Menjijikan tahu."

Pessssssshh. Muka Kise sudah panas sekarang. Dadanya berdegup kencng seakan mau lepas.

"Tapi Aominecchi, Miyaji-san kan—"

"Aku tahu." Potong Aomine cepat, "Tapi tetap saja."

Hening menyelimuti mereka berdua untuk beberapa saat.

"Aominecchi cemburu?" tanya Kise. Aomine langsung tersedak—entah tersedak apa. Daki-dakinya, mungkin?

"Aku juga, suka cemburu pada Aominecchi."

Aomine membelalakkan matanya. Wow, ia baru mendengar hal seperti ini dari mulut Kise.

"Aku cemburu kalau Aominecchi sama Kurokocchi."

"Hah? Aku dan dia kan cuma partner!"

"Tetap saja aku cemburu!" Kise menggembungkan pipinya, "Habisnya Aominecchi lebih memilih bersama dengan Kurokocchi di banding main one-on-one denganku! Lalu aku juga sebal kalau Aominecchi baca majalah Mai!"

"Kok bisa?! Suka-suka aku mau baca majalah apa—"

"Soalnya Aominecchi suka tipe-tipe gadis seperti Mai 'kan?!" teriak Kise. "Aku kesal, soalnya aku tidak mendekati tipe kesukaan Aominecchi. Aku ini laki-laki, badanku tidak kecil, dadaku tidak besar, dan tentunya aku tidak moe!" lanjut Kise dengan nada kesal.

"Jadi, sebetulnya aku sudah lebih lama cemburu di banding Aominecchi! Hmph!"

Hahaha.

Ya ampun, pikir Aomine. Rasanya ia ingin tertawa kencang mendengar pengakuan Kise.

"Aominecchi! Kenapa kau tertawa begitu—hei! Jangan pencet hidungku begitu—Sa-sakit tahu!"

"Diamlah," Aomine menempelkan dahinya ke dahi Kise dan melingkarkan kedua tangannya, "Begini saja dulu."

"Aominecchi…"

Kise memanggil Aomine, tapi Aomine hanya diam dan menatap kedua bola mata Kise dalam-dalam. Biru laut bertemu kuningnya matahari. Mereka berdua tidak berhenti tatap-tatapan, sampai akhirnya Aomine mengambil inisiatif untuk mendekati Kise. Terus mendekatinya hingga akhirnya—

"Ma, aku mau pipis."

—gagal menciumnya.

"UWAAAAAAAAAAAAA—Ba-bagaimana kau bisa berada di atas kepalaku?!" tanya Aomine kalut. Secara reflek ia langsung mendorong Kise dan membuatnya jatuh ke tanah. Terdengar keluhan-keluhan Kise seperti "Jahat Aominecchi!" dan "Uwaa aku ini model tahu!" terlontar dari mulutnya.

"Habis papa dan mama mengabaikanku, nanodayo." Ujar Midorima kecil kesal. "Ah, mama, aku mau pipis. Buluan, nanodayo."

"I—iya." Kise langsung mengambil Midorima kecil dari kepala Aomine dan pergi menuju toilet umum, "Uhm, Aominecchi, maaf ya, tapi sepertinya harus kita lanjutkan nanti-ssu."

DOKI DOKI DOKI. Semburat merah muncul di wajah Aomine. Badannya tiba-tiba saja menegang.

"Ja—jangan membuatku semangat tiba-tiba dong, dasar bego.."

Sehabis menunggu Midorima kecil buang air, ketiganya pun berjalan beriringan menuju penginapan.

_~(AoKise!)~_

[Keesokan Paginya.]

"Ugh… Kepalaku sakit."

Midorima bangkit dari tempat tidurnya sambil memegangi kepalanya. Kepalanya terasa pening sekali, dan parahnya ia tidak ingat apa-apa. Apa yang terjadi sebenarnya?

"Kenapa tempat tidurku sempit sekali?" Omel Midorima. Ia hendak menoleh ke sekeliling kasurnya dan mendapati Aomine dan Kise yang tidur di sampingnya—sambil melingkarkan tangan mereka ke pinggangnya.

Midorima cengo melihatnya.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

Empat detik.

Lima detik.

"APA YANG KALIAN LAKUKAN DI TEMPAT TIDURKUUUUUUUUUUUUUU?!" Seru Midorima murka. Ia langsung mendorong Aomine dan Kise hingga membuat Aomine terjungkal dan Kise mencium tembok dengan mesranya. Sungguh alarm yang hebat.

"Aduh apa yang kau laku—SHINTAROUCCHI?" Kise mengerjapkan matanya, "SHINTAROUCCHI! KAU KEMBALI SEPERTI SEMULA!" seru Kise riang dan langsung memeluk si hijau, tanpa memperdulikan sumpah serapah yang dikeluarkan si hijau.

"Jangan seenaknya memanggil nama depanku, nanodayo! Dan apa maksudnya 'sudah kembali seperti semula' nanodayo?!"

"Kau tidak ingat?" Aomine menggaruk-garuk kepalanya yang sudah benjol karena beradu dengan lantai, "Padahal kemarin kau itu ngerepotin banget. Kau berutang satu majalah Mai-chan padaku."

"SESEORANG JELASKAN APA YANG SEBENARNYA TERJADI KEMARIN, NANODAYO!"

"Shintarou, kau berisik," pintu kamar mereka bertiga terbuka. Akashi, Murasakibara, Kuroko, dan Momoi berdiri disana. Momoi serta merta langsung menerjang Midorima—membuat yang bersangkutan berteriak kerisihan. "Ah, kulihat kau sudah kembali seperti semula."

"Aku tidak mengerti maksudmu, nanodayo. Dan Momoi, apa-apaan makanan ringan pemberianmu itu? Rasanya tidak enak. Apa yang kau masukkan?"

Momoi hanya ber-"teehee" ria.

"Sayang sekali," ujar Kuroko sambil menatap bungkusan warna hijau mudanya dengan nanar, "Padahal aku sudah membelikan ini khusus untuk Midorima-kun."

"Apa maksud—Kenapa kau membelikanku baju Kerosuke berukuran anak-anak, nanodayo?" tanya Midorima makin tidak mengerti.

Sementara yang lainnya sedang asyik merusuhi Midorima, Aomine dan Kise malah jalan berdua keluar kamar—menuju gymnasium.

DUK. DUK. DUK. "Sedih juga ya melihat Midorimacchi sudah kembali seperti semula." Ujar Kise sembil memantul-mantulkan bola basket yang ia pegang, sebelum ia tembakkan menuju ring yang ada di sebelah kanannya.

"Kok bisa?" gentian Aomine yang bertanya, sambil mengambil bola yang Kise tembakkan dan men-dribble-nya berulang kali.

"Rasanya sepi aja," Kise meremas kaus di sekitar daerah dadanya, "Sekarang aku tahu rasanya ditinggal anaknya yang sudah dewasa."

"Duh kamu ngomong kayak ibu-ibu aja deh." Ujar Aomine sambil melakukan formless shot andalannya. Kise lalu mengambil bola basket lain dan melemparnya ke Aomine dengan bibir mengembung.

"Aominecchi tidak senang dengan kemarin?" tanya Kise penuh harap. Sirat matanya seperti anak anjing yang mengharap makanan dari majikannya. Aomine sudah tak kuasa untuk menahannya, Kiseeeee~

"Aominecchi, kenapa ga—HUWAAA kenapa mukaku ditutup bola basket-ssu?"

"Jangan liat mukaku dulu," Aomine bersandar di permukaan bola yang lain, "Aku malu."

"Eh?"

"Sebenarnya…" Tarik nafas. Hembuskan. "Aku.. merasa tidak keberatan, mengurus, uhuk, anak, denganmu."

Eh?

EH?!

EEEEHHHHHH?!

Peeeeeessssssssshhh.

Kise jadi salah tingkah sendiri. Ta—tadi Aominecchi bilang apa?

".. Aominecchi, kau baru saja menembakku?

DUAK. Aomine melempari Kise dengan bola basket yang tadi. Kasihan. "SI—SIAPA YANG BILANG BEGITU BODOOOOHH?"

"Tapi tadi Aominecchi bilang kalau kau tidak keberatan mengurus anak denganku-ssu!"

"Tapi bukan berarti aku nembak 'kan!"

"Aominecchi ga usah tsundere gitu dong!"

"MEMANGNYA AKU MIDORIMA?!" seru Aomine tambah geram. Sebagai hasilnya muka model Kise yang menjadi korban lemparan bola basketnya.

"I—ittai-ssu! Aominecchi jahat-ssu!"

"Salah sendiri." Aomine mengorek-ngorek kupingnya, sesekali mengintip Kise yang sibuk meringis meratapi nasib muka modelnya. Merasa kasihan, akhirnya Aomine dengan baik hati membasahi handuk kecilnya dengan air dingin dan mengompres pipi Kise dengan itu.

"Aku cuma gak mau kau absen one-on-one denganku gara-gara kau harus operasi plastik hanya karena mukamu kena bola basket, mengerti?"

Kise menatap muka Aomine yang sudah merah semerah tomat. Perlahan-lahan, sebuah senyuman mulai tersungging di bibirnya.

"Iya!"

Keduanya pun menghabiskan pagi sampai siang mereka dengan bermain one-on-one. Keduanya bermain dengan sangat semangat—mungkin karena kemarin mereka tak sempat tanding karena mengurus Midorima kecil.

Ah, omong-omong, sebenarnya Aomine tadi memang menyatakan perasaannya pada Kise, tapi ia mengelaknya karena malu. Hei, ini pertama kalinya ia menembak seseorang tahu! Biasanya 'kan ia yang ditembak cewek!

Tapi tidak apa-apa, tetap seperti ini juga tidak apa-apa. Karena Aomine tahu kalau Kise itu miliknya, dan sepertinya Kise juga sudah sadar akan hal itu.

Kise akan menjadi milik Aomine sampai kapanpun.

Dan Aomine bertekad, suatu saat nanti ia akan menyampaikan perasaannya dengan layak (kalau kata Satsuki sih dengan sebuket bunga mawar dan makan malam romantis di sebuah restoran mewah. Ha, berapa budget yang harus ia keluarkan coba?).

Dan setelah itu, ia akan membentuk keluarga bahagia bersama Kise, dengan seorang anak yang imut-imut dan penurut tentunya, tidak tsundere seperti seseorang yang baru saja membesar.

FIN


A/N: FIC MULTICHAPTER PERTAMA YANG BERES! KYAAAA—Terima kasih bagi kalian semua yang sudah mendukung! This chapter is especially for you guys! Sengaja apdet tanggal segini soalnya sekaligus sebagai penutup tahun ini #eak

Sampai jumpa tahun depan! Selamat tahun baru 2013!

~Sign,

Mochiyo-sama