Discailmer: NARUTO ITU BUKAN PUNYA AKU, POKOKNYA BUKAAAAAAAAN *SINETRON BANGET* *ZOOM IN ZOOM OUT* *CAPSLOCK JEBOL*
.
.
.
.
.
Hinata mengenyahkan semua pikiran tentang 'Naruto tulus mendekati aku' dari kepalanya. Sampai kapanpun, playboy seperti Naruto tidak akan pernah berubah. Apalagi status Naruto sebagai orang terkaya, huh sangat tidak mungkin.
Hinata keluar dari mobil Naruto ketika Naruto mematikan mesin mobil silver itu tanpa mengeluarkan sepatah katapun, entah itu ucapan terimakasih, selamat pagi, atau apa kita akan pulang bersama? Sepertinya kita bisa mengabaikan kalimat yang terakhir. Berpuluh-puluh pasang mata mengamati si Gadis Aneh datang bersama si Tampan Naruto, tapi Hinata sama sekali tidak peduli.
"Hey! Hey Hinata!" Naruto mencoba mengejar langkah Hinata yang dia pikir sangat cepat, mencoba menyusulnya dengan nafas yang tersendat. Hinata mengacuhkan Naruto, sama sekali tidak melihat kearah si tampan.
Naruto mengerucutkan bibirnya. Sialan, wanita bernama Hinata benar-benar menyebalkan. Ia sangat irit bicara walaupun berbicara di dunia ini tidak dipungut biaya, dia juga membuat seolah-olah Naruto orang gila yang berbicara dengan patung. Tersenyum bagi seorang Hyuuga Hinata mungkin sama saja dengan pergi ke kutub utara dengan berjalan kaki, sangat langka. Mungkin Naruto harus segera mendaftarkan "Senyuman Hinata" menjadi delapan keajaiban dunia. Selama ini tidak ada seorang wanita-pun menolak pesona anak tunggal dari Papa Namikaze Minato ini, tapi Hinata? Apakah ketampanannya sudah berkurang? Oh tidak mungkin, buktinya sekarang dia sudah mengoleksi delapan kekasih layaknya mengoleksi perangko. Naruto mengingat janjinya pada Kiba dan Sasuke, kalau saja waktu itu dia tidak berjanji kepada kedua makhluk menyebalkan itu, mungkin saja dia tidak perlu bersusah payah menarik perhatian gadis bernama Hinata itu, dan tentu saja kata menyerah tidak akan pernah ada di dalam kamus seorang Naruto. Pantang baginya untuk menarik janji yang sudah terlanjur diucapkannya.
"Hinata..." Naruto mengatur nafasnya yang masih saja tersendat, mencoba memanggil gadis itu yang berjalan tanpa beban. Sialan, jalannya cepat sekali, bagaimana jika Hinata berlari?
Lagi-lagi Naruto tidak dipedulikan oleh Hinata.
"Oy Hinata! Astaga Hinata, dengarkan aku, aku ingin bicara!" Suara Naruto terdengar seperti suara orang yang sedang tersedak bola basket. Sukses! Hinata menoleh dengan tatapan yang sulit diartikan.
"A-Apa? 5 detik," jawab Hinata singkat, tanpa memandang Naruto yang tiba-tiba sudah berada di sebelahnya.
"Aku tunggu kau di kantin saat makan siang." Naruto mengeluarkan senyuman yang selalu di keluarkannya saat menggoda gadis-gadis layaknya pria hidung belang. Hinata kembali berjalan tanpa mengindahkan pernyataan Naruto.
"Hinata! Kau mau tidak?" Naruto menepuk jidatnya. Gadis ini.. Gadis ini mengapa sebegini dinginnya?
"A-Aku bisa makan sendiri."
"Tidak! Pokoknya aku harus makan bersamamu." Bukan Naruto namanya jika tidak memaksa. Hinata hanya mendengus kesal, kemudian memasuki kelasnya.
Ternyata Naruto benar-benar menepati omongannya, dia menghampiri Hinata dimeja kantin yang selalu di pilih Hinata.
"Hey, sudah lama?" Naruto meletakkan makanannya sementara Hinata hanya diam sambil meminum es kelapanya. Naruto heran saat melihat bungkusan tablet putih diatas meja Hinata. "Tablet apa ini?" sahut Naruto sambil mengambil tablet putih itu dan mengamati bentuknya.
"A-Aspirin." Hinata mengambil atau bisa di katakan merampas obat kanker yang dialibikan sebagai aspirin dari genggaman Naruto, meletakan satu butir aspirin di telapak tangan dan hendak memasukan kedalam mulutnya.
"Oy Hinata, kau mau mati? Habis minum air kelapa itu tidak boleh minum obat." Naruto menarik dengan paksa tangan Hinata kemudian membuang obat itu. Hinata benar-benar gadis gila.
Hinata beranjak dari tempatnya dan meninggalkan Naruto.
Naruto hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, mendelik tajam ke arah Sasuke dan Kiba yang sedang menertawakannya.
"Bagaimana Naruto? Sudah berhasil eh?" Kiba mengeluarkan senyuman mengejek khasnya saat Naruto sudah duduk di meja mereka.
"Hinata benar-benar gadis yang aneh." Jawaban Naruto sontak membuat kedua temannya itu tertawa. Seorang Naruto dibuat seperti orang merana oleh gadis pendiam itu? Yang benar saja!
"Ku bilang juga apa? Waktumu tinggal 28 hari lagi, Naruto!" Sasuke mengingatkan janji Naruto kepada mereka berdua tempo hari.
"Ya-ya. Aku tahu." Naruto sendiri tidak yakin dengan jawabannya, apa dia bisa?
Hinata mendengar suara bentakan tajam dari arah ruang keluarga rumahnya. Dia memang tidak ada kelas lagi hari ini, sehingga dia bisa pulang lebih awal dan terhindar dari makhluk bernama Naruto. Hinata mengendap-ngendap mencoba menguping pembicaraan kedua orang itu. Ternyata orang yang sedang bertengkar itu adalah Ayahnya, Hyuuga Hiashi, dan kakaknya, Hyuuga Neji.
"― tapi ayah, apakah penyakit Hinata sama sekali tidak penting untuk ayah?" Hinata bisa melihat ekspresi kekecewaan menguar dari wajah kakaknya.
"Sangat penting Neji, tapi Hanabi juga darah dagingku."
Ternyata yang sedang mereka bicarakan adalah dia dan adik bungsunya―Hyuuga Hanabi.
"Aku tahu ayah. Apakah Hinata harus menghentikan terapinya?" Nada bicara Neji sudah mulai melembut.
"Aku tidak punya pilihan. Demi Tuhan, keadaan ini membuatku menjadi serba salah. Hanabi harus menjalani operasi usus buntu besok, sementara Hinata juga harus menjalankan kemoterapi untuk kankernya. Uangku sudah habis Neji, aku harus memilih salah satu dari mereka."
Hinata hanya tersenyum simpul mendengar pernyataan ayahnya. Dia rela. Dia rela menunda kemoterapinya atau bahkan tidak menjalani kemoterapi yang menyakitkan itu sama sekali, asalkan Hanabi sembuh. Hinata sadar bisnis keluarganya sudah diambang kehancuran, wajar saja ayahnya tidak memiliki uang untuk biaya kemoterapinya dan operasi Hanabi yang jumlahnya tidak bisa dikatakan sedikit. Hinata merasakan pening di kepalanya. Kanker otak ini selalu menyiksanya setiap detik. Dia memang tidak pernah menunjukan ekspresi kesakitan kepada ayahnya, adiknya serta kakaknya. Dia hanya tidak suka dikasihani.
Hinata meninggalkan kedua orang yang sangat penting di hidupnya itu berdebat. Biarkan saja mereka yang memutuskan, bagaimana baiknya, tapi Hinata lebih memilih Hanabi yang harus sembuh, toh Hinata juga akan mati akhirnya. Penderita kanker memiliki persentase kemungkinan yang sangat kecil untuk sembuh, tapi tidak menutup kemungkinan untuk sembuh kan?
Jemarinya memencet tombol ponselnya.
"H-Halo Kabuto, kau bilang kemarin ada barang penghilang rasa sakit, benarkah?"
"Baiklah, aku kesana." Hinata menjawab setelah memastikan bahwa orang yang di teleponnya itu mempunyai barang yang di pesannya. Mengambil sedikit uang dia bergegas pergi. Syukurlah, pada saat dia pergi, rumah dalam keadaan kosong.
.
.
"Mana barangnya?" ujar Hinata kepada pria berambut agak ungu dihadapannya.
"Haha, kita bersenang-senang sebentar dulu Hinata." Pria itu melemmparkan seringaian mesum ke arah Hinata. Kurang ajar, umpat Hinata dalam hati. Sakit di kepalanya benar-benar menusuk.
"Aku tidak punya waktu, Kabuto."
"Hmm Baiklah. Ini barangnya, ini adalah alkoloida yang merupakan hasil ekstraksi serta isolasi opium dengan zat kimia tertentu untuk penghilang rasa sakit." Hinata tersenyum saat menerima sebuah barang dari pria berkacamata itu, dia memberikan sebuah amplop tebal berisi uang sebagai upah atas barang itu.
"Terimakasih." Hinata meninggalkan pria itu sambil membawa barang itu. Barang itu akan menghilangkan rasa sakitnya, sehingga ayahnya akan percaya bahwa dia baik-baik saja, dan Hanabi akan sembuh.
Sementara pria bernama itu hanya mengeluarkan seringaian licik.
Setelah mengonsumsi barang―yang sama sekali tidak Hinata ketahui namanya― itu, barang itu langsung bekerja pada sistem syaraf pusat Hinata, dan rasa sakit itu sedikit demi sedikit menghilang. Terimakasih, Kami-sama, ujar Hinata dalam hati, dan larut dalam euforia.
.
.
.
3 November 2011
Naruto kembali menjemput Hinata di rumahnya, dan sepertinya kali ini tidak ada penolakan yang berarti dari Hinata. Hinata masih membaca buku bersampul hitam yang sepertinya adalah buku favoritnya.
"Hinata itu buku apa?" Naruto memang masih penasaran dengan buku itu. Dimanapun Hinata berada buku itu selalu menemani.
"Kanker."
"A-Apa?" Jawaban Hinata membuat Naruto mengalami gagap mendadak. Apa hubungannya Hinata dan kanker?
"Hanya buku bacaan." Hinata kembali menjawab dingin. Andaikan, Naruto punya cara untuk bisa meluluhkan Hinata yang sedingin es di kutub utara itu, pasti akan menyenangkan. Wajahnya yang cantik, rambut ungu, dan mata lavender itu, sangat menawan. Sepertinya sifat playboy Naruto akan sangat sulit di hilangkan, tapi percayalah, Naruto bersedia melepaskan pacar-pacarnya andai saja itu bisa membuat Hinata bersikap ramah kepadanya.
Seperti kemarin, Hinata berjalan mendahului Naruto yang sepertinya masih sibuk mengotak atik mobilnya. Berbagai pasang mata dan komentar pedas tertuju kearah gadis itu.
"Gadis aneh! Beraninya menggoda, Naruto!"
"Dasar pecandu Narkoba!"
"Cih, ku dengar dari Kabuto dia membeli morfin darinya."
'Kabuto bangsat, berani-beraninya dia membocorkan rahasia ini' ujar Hinata dalam hati, Hinata hanya diam seperti biasa. Dia lupa memberi tahu kepada Kabuto untuk tutup mulut, dan dia juga baru tahu nama obat yang dia beli dan dia konsumsi kemarin bernama Morfin. Hinata menyadari kebodohannya, Kabuto memang terkenal sebagai ember bocor di kampusnya. Sudah banyak rahasia mahasiswa di kampusnya terbongkar karena mulutnya yang bocor.
"Kampus kita adalah kampus favorit, sangat tidak etis jika ada pecandu narkoba disini!" teriakan lantang dari seorang gadis berambut merah membuat Hinata menatap tajam. Apabila tatapan itu dapat mengeluarkan sinar pembunuh, maka gadis berambut merah itu pasti sudah mati.
"Setuju!" teriakan menggema keluar dari segerombolan orang yang sudah melingkari Hinata. Berbagai benda terlempar ke arahnya. Entah itu bungkusan makanan, botol bekas, bahkan sisa makanan. Hinata hanya berjongkok dan menunduk, sungguh dia di perlakukan seperti seonggok sampah yang tak berharga, dia hanya menangis. Apa seorang Hinata yang selalu menyatakan dirinya adalah wanita tegar menangis? yang benar saja. Hinata merasakan ada tangan kekar yang melindunginya.
Naruto. Namikaze Naruto.
Sejak kapan dia ada di sampingnya? Hinata bisa melihat rambut Naruto yang dikotori oleh kulit kacang.
"Kalau kalian ingin menyakiti gadis ini, kalian berurusan denganku." Teriakan Naruto sukses membuat aksi lemparan itu berhenti, dan orang-orang meninggalkan mereka berdua. Hinata yakin, beberapa gadis-gadis yang melemparnya dengan sampah itu adalah kekasih Naruto. Tapi, kenapa Naruto membela dia didepan kekasih-kekasihnya. Naruto memang selalu melakukan selingkuh secara terang-terangan di depan pacar-pacarnya tapi gadis-gadis yang telah dikhinati Naruto selalu bersikap biasa. Mungkin karena pengaruh uang mereka tidak berani menentang Naruto. Gadis-gadis itu pasti hanya cinta pada uang, bukan pada Naruto. Hinata memang sudah lama memperhatikan tingkah Naruto, dan sifat playboy Naruto.
"M-mengapa kau melindungiku?"
"Hanya ingin." Naruto tersenyum sambil membersihkan tubuhnya.
"Kalau kau berniat menjadikanku kekasihmu, simpan saja niat busukmu itu." Hinata berniat meninggalkan Naruto tapi sayang lengannya ditahan oleh Naruto.
"Hey, itu kata-kata terpanjang yang kudengar darimu." Naruto mengeluarkan senyuman khasnya, "Kau percaya diri sekali. Aku hanya ingin kita berteman."
Naruto mengedipkan matanya dan menjawab dengan yakin, membuat Hinata ingin terjungkal karena menahan malu. Yah, memang mendekati Hinata harus dimulai dari tahap pertemanan terlebih dahulu, setelah itu tahapan yang lebih serius. Naruto bisa melihat raut kaget dari wajah Hinata.
"Benarkah?" Naruto hanya mengangguk menjawab pernyataan gadis itu. Hinata tersenyum manis. Sepertinya semuanya akan menjadi lebih mudah setelah ini.
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
Hai! Hai! Hai! Apakah ada yang menunggu fic ini? :D semoga saja masih ada. Maaf ya kalo kelamaan update. Sumpah ane sibuk #digaplok. Bales review dulu yooo :
Putri Hyuuga Uzumaki-san : aku akan tanggung jawab rosalinda #gaknyambung. iyaaaa sudah aku perlama. Hehoheho udah diupdate nih. Review lagi yaaaa :D
-san : udah update loh ini :D
-Azu-nyan : hehehe gomen yaaa :D udah update nih. Masih singkat ga? Hehehehe
-NamikazeNoah-san: sudaaaaah lanjut :D
-ArisaKinosita0-san: hehe makasih :) sudah lanjut nih :D
-Diana chan-san : waaaah masih penasaran ga dengan chapter ini? Hehehe
-Cuilan Bakpao :hmm sepertinyaa hehehe cui kemana ajaaa? Kenapa ga pernah nongol di review fic citraa? Biasanya cui selalu review sampai bosen citranya #digaplok hehehe :D
-arakida-san: hehe sudah lanjut nih:) hmm kita liat saja nanti ya hehe :p
-Monyet dufan: udah diupdate nih monyet dufan. Jgan marah ya heheohe:p
-azu-nyan : udaaaa di update :p
okeeee akhir kata, see you di chapter 3 yaaaaa :) *dadahdadah*
