Hai, hai, hai... saya kembali hadir untuk melanjutkan fanfic ini. Mohon maaf ya, kalau di chap pertama saya nggak memperkenalkan diri. Kalau begitu, di chap kedua ini, aku akan memperkenalkan diri. Namaku Nugraha Al Ramadhan, panggil saja namaku Nunu atau Rama. Aku adalah pendatang baru di dunia FanFiction sekaligus pendatang baru di fandom ini (sbg seorang author). Jadi buat semuanya yg udah senior, mohon bimbingannya ya ;) dan jangan lupa juga untuk memberikan kritik atau saran atau review atas cerita ini. Sangat diperbolehkan kok. Oke? Mohon bantuannya ya semuanya ;)

Disclaimer: Detective Conan itu punya ayahku tahu... (reader: emang siapa ayahmu?) (aku: Aoyama Gosho) (reader: #lemparbatu). Nah, kalau fanfic Pernikahan Dini, bukan cintanya yang terlarang~~~ (loh kok nyanyi?) itu baru punyaku.

Warning: Typo, Geje, Abal, Kamseupay ieewwwhhh, OOC, and many more (mohon dimangapkan!)


PERNIKAHAN DINI

Episode 02

Beralih ke tempat lain yang tak jauh dari SMU Teitan, pandangan kini tertuju ke SMU Ekoda. Ya, SMU Ekoda adalah salah satu SMU bergengsi dan paling disegani oleh penduduk Jepang. Ibarat kata, SMU Ekoda adalah permata berharga yang dimiliki oleh Jepang. Sama seperti SMU Teitan, SMU Ekoda adalah tempat sekolah bagi orang-orang terpilih. Tentu saja karena hal itu aura persaingan yang sangat besar terdapat di antara SMU Teitan dan SMU Ekoda.


Bicara soal keadaan sekita SMU Ekoda, tidak ada yang aneh disana. Nuansa sepi sangat terasa disana karena saat ini kegiatan belajar mengajar sedang berlangsung. Namun, jika memperhatikan lebih saksama lagi, di tengah halaman sekolah, berdekatan dengan tiang bendera, ada seseorang yang tengah berdiri dengan tegap, sedang dalam posisi hormat tak jauh dari bendera yang ada di hadapannya.

Orang itu terus saja melakukan hal itu sejak jam pelajaran pertama dimulai. Sesekali, orang itu terus-terusan mengeluh dengan keadaan panas yang dia rasakan. Tak jarang juga, dia menengok jam tangan yang dia kenakan di tangan kanannya. Dilihat jarum jam menunjukkan pukul 08.00, yang menandakan waktu hukuman yang dia laksanakan masih lama untuk berakhir.

Sesaat, orang itu tampaknya bergumam sesuatu. Lebih tepatnya, dia menyesali apa yang dia lakukan waktu itu hingga dia harus menerima hukuman seperti ini.

"Huh, seandainya saja aku tidak bertemu dengan gadis itu, pasti aku tidak akan seperti ini sekarang," gumam orang itu seraya membasuh keringat yang ada di keningnya dengan tisu kecil.

Sepertinya, orang-atau lebih tepatnya lelaki-itu benar-benar sudah tidak tahan dengan hukuman ini. Rasa panas, lelah, dan haus yang dirasakan tubuhnya, membuat daya tahan tubuhnya seakan melemah dan menurut dugaannya, tidak lama lagi ia akan jatuh pingsan di tengah halaman sekolah jika tidak ada yang memberikan ia minuman segar.

Rupanya, dewi fortuna seakan berpihak kepada lelaki itu. Hanya butuh empat detik saja, datanglah seorang gadis yang sebaya dengannya menuju ke arahnya dari pintu masuk sekolah, dengan membawakan sebotol air mineral.

"Hei..." ujar gadis itu sambil mendekat ke arah lelaki itu dengan tersenyum.

"Kau? Kenapa kau ada di sini? Bukankah kau harusnya sedang belajar di kelas?" tanya lelaki itu heran mengapa gadis itu bisa santainya keluar dari kelas dan melihat keadaannya.

"Memangnya kenapa? Kalau kau tak suka aku ada di sini, ya... lebih baik aku pergi saja," ucap gadis itu pura-pura ketus.

"Bukan begitu. Tapi, apa kau tidak dimarahi oleh Bu Jodie kalau kau berada disini?" tanya lelaki itu lagi.

"Tidak, Kaito. Justru aku ada disini atas perintah Bu Jodie. Ini! Bu Jodie memberikanmu sebotol air putih. Lumayan, untuk mengurangi rasa hausmu," ujar gadis itu kepada Kaito, lelaki yang sedari tadi sedang menjalankan hukumannya.

"Oh, ya? Bu Jodie menyuruhmu, Aoko?" tanya Kaito kepada gadis itu, Aoko, disertai dengan anggukan Aoko.

"Wah, ternyata galak-galak begitu, Bu Jodie baik juga, ya?" ujar Kaito seraya meminum air putih pemberian Aoko.

"Oh, ya! Satu lagi. Bu Jodie bilang tujuh menit lagi kau sudah harus dikelas. Oke, Kaito?" tanya Aoko yang dijawab dengan cengiran khas dari Kaito.

"Okelah, Kaito. Aku duluan, ya..." ujar Aoko sambil berlalu meninggalkan Kaito.

"Iya!"


Masih berada di SMU Ekoda, bel istirahat telah berbunyi dan itu menandakan bahwa jam pelajaran kedua telah selesai.

"Anak-anak, jangan lupa nanti kerjakan tugas Matematika nanti di rumah ya?" tanya Bu Jodie sebelum meninggalkan kelas 2-B.

"Baik, Bu Jodie!" seru murid-murid kelas 2-B dengan semangat.

Kini, semua murid berhamburan keluar dari kelas. Ada juga sedikit murid yang memutuskan untuk tetap di kelas saja, dan Kaito adalah salah satu di antara mereka.

Setelah dia menyelesaikan hukuman dari Bu Jodie, Kaito langsung saja menuju ke kelasnya dan mengikuti sisa waktu pelajaran Bu Jodie. Namun, tanpa sepengetahuan Bu Jodie, sedari tadi Kaito terus saja melamun seakan memikirkan sesuatu, dan hal itu tanpa disadari Kaito dilihat oleh Aoko, sahabat masa kecilnya.

Aoko langsung menghampiri Kaito yang masih duduk merenung, dimana pandangan Kaito saat ini tertuju ke jendela yang ada di sampingnya.

"Hei! Kaito!" seru Aoko yang rupanya dapat membuat Kaito kaget dan tersadar dari lamunannya.

"Aoko! Kau membuat aku kaget saja," ujar Kaito. Sementara Aoko hanya bisa tersipu menanggapi Kaito.

"Kaito, kau ini kenapa? Dari tadi kuperhatikan, melamun terus?" tanya Aoko yang kini duduk di depan Kaito.

"Tidak, Aoko. Aku tidak apa-apa," ujar Kaito cuek tanpa memperhatikan Aoko.

"Ih, Kaito! Aku ini tanya serius! Kau ini kenapa? Apa jangan-jangan masalah tadi pagi, ya?" ujar Aoko seakan dapat membaca pikiran teman masa kecilnya itu.

"Kau... tahu dari mana?" tanya Kaito.

"Hei, memang sudah berapa lama kita berteman? Aku ini tahu apa yang sedang kau alami," ujar Aoko serius seraya memandang Kaito.

Akhirnya, Kaito tak bisa mengelak lagi dari Aoko. Memang, kejadian tadi pagi masih berada dalam pikirannya. Andai saja kalau dia tidak bertemu dengan gadis yang menabraknya tadi pagi sewaktu ia berjalan menuju sekolah, pasti ia tak akan dihukum oleh Bu Jodie. Itulah saat ini yang berada dalam pikiran Kaito.

"Sebenarnya, tadi pagi aku bertemu dengan seorang gadis," ujar Kaito yang kini mulai bercerita kepada Aoko yang ada di hadapannya.

"Seorang gadis?" tanya Aoko keheranan.

"Iya, seorang gadis. Sewaktu aku berlari ke sekolah, tiba-tiba saja gadis itu menabrakku. Sialnya, gadis itu bukannya menolongku malah pergi begitu saja tanpa minta maaf. Karena aku bertemu dia, makanya aku terlambat dan hasilnya aku dihukum oleh Bu Jodie," ujar Kaito panjang lebar kepada Aoko.

"Jadi? Kau terlambat hanya karena seorang gadis? Dan sekarang itu menjadi beban pikiranmu? Oh, Kaito! Masalah begitu saja tidak usah dipikirkan. Yang penting sekarang kau tidak akan mengulanginya lagi, kan?" ujar Aoko.

"Tapi, Ao..." belum sempat Kaito menyelesaikan perkataannya, sudah dipotong duluan oleh Aoko.

"Ssssttt! Sudahlah, tak penting untuk dibahas! Sekarang, bagaimana kalau kita ke kantin saja? Masih ada waktu empat belas menit lagi sebelum bel masuk berbunyi," tawar Aoko yang disertai dengan anggukan Kaito.


Kaito Kuroba dan Aoko Nakamori. Sama-sama memiliki eksistensi masing-masing yang membuatnya begitu disenangi oleh para sahabatnya. Keduanya pun sama-sama memiliki bakat yang diakui oleh seluruh siswa-siswi SMU Ekoda.

Kaito Kuroba. Terlahir dari pasangan suami-istri Toichi Kuroba dan Chikage Kuroba. Toichi Kuroba sendiri adalah salah satu pesulap legendaris yang dimiliki Jepang. Kemampuannya dalam bidang sulap sudah diakui oleh kancah internasional. Namun sayangnya, akibat penyakit jantung yang lama diidapnya, membuat Toichi harus meninggalkan Kaito dan Chikage untuk selama-lamanya. Sementara Chikage Kuroba sendiri adalah seorang asisten Toichi, sebelum akhirnya dinikahi diam-diam oleh Toichi. Karena itu, jangan heran jika kemampuan sebagai pesulap mengalir di darah Kaito.

Sedangkan Kaito sendiri mempunyai segala keunikan. Tampan dan pesulap handal, namun phobia berlebihan terhadap ikan adalah keunikan yang ada di dalam kehidupan Kaito. Tetapi hal itu nampaknya tidak memudarkan rasa kekaguman para wanita terhadap Kaito.

Satu-satunya sahabat karib Kaito yang dia kenal sejak kecil ialah Aoko Nakamori. Aoko merupakan anak tunggal dari Ginzo Nakamori, inspektur polisi dari Divisi 2 Kepolisian Metropolitan Tokyo. Sementara ibu dari Aoko, meninggal setelah melahirkan Aoko. Meskipun begitu, namun Aoko tidak pernah kehilangan figur seorang ibu. Karena ayahnya, Ginzo, telah merangkap sebagai seorang ayah sekaligus ibu. Maka dari itu, Aoko terlihat sangat lengket dengan Ginzo.

Kedekatan yang dijalin oleh Kaito dan Aoko sejak kecil rupanya sering mengundang salah paham oleh teman-teman satu sekolahnya. Mereka menganggap bahwa Kaito dan Aoko itu adalah sepasang kekasih. Memang, keakraban mereka jarang diisi oleh pertengkaran (berbeda dengan Shinichi dan Ran), sehingga mereka diidentikan sebagai icon couple SMU Ekoda.

Akibat memiliki banyak kesamaan dengan Shinichi dan Ran, Kaito dan Aoko sering disangka sebagai Shinichi dan Ran. Hal yang bisa membedakan antara Shinichi-Ran dengan Kaito-Aoko adalah tempat sekolah mereka. Kaito dan Aoko sendiri mengetahui ketenaran Shinichi dan Ran, karena mereka sering menjadi bahan pembicaraan di SMU Ekoda. Namun, baik Kaito maupun Aoko sama-sama belum pernah bertemu langsung dengan Shinichi dan Ran. Sehingga, mereka tidak tahu, seberapa mirip antara mereka dengan kedua siswa SMU Teitan tersebut.


Sementara itu di SMU Teitan, tampak Ran yang sedang makan sendirian di kantin sekolah. Ran kini menyantap nasi goreng yang dia pesan dengan begitu lahapnya. Sesekali, dia bergumam akan kelezatan makanan yang dia santap.

"Hmmm... sedap sekali..." gumam Ran sambil meneruskan makannya.

Sonoko yang melihat sahabatnya, Ran, makan sendirian, segera menghampirinya dan ikut makan bersama.

"Hai, Ran!" sapa Sonoko kepada Ran.

"Oh, hai Sonoko!" balas Ran dengan senyumnya.

"Kau makan sendirian? Dimana Shiho dan Shinichi?" tanya Sonoko kepada Ran. Biasanya saat istirahat seperti ini, Ran selalu makan di kantin bersama Shiho dan Shinichi.

"Kalau Shiho sih, dia sedang latihan di laboratorium kimia untuk perlombaan nanti. Kalau si 'Om Rambut Kuali' itu, aku tak tahu, deh. Paling... dia bermain bola bersama teman-temannya di halaman sekolah," ujar Ran ketus dengan menekankan kata 'Om Rambut Kuali' kepada Sonoko.

"Hah? 'Om Rambut Kuali'? Ohh... maksudmu Shinchi," ujar Sonoko yang paham siapa yang Ran sebut 'Om Rambut Kuali'. Sementara Ran, hanya menjawab dengan anggukan saja.

Beberapa detik saja mereka diam satu sama lain, hingga Sonoko memulai pembicaraan.

"Ran..."

"Iya, ada apa Sonoko?"

Sonoko ingin mengatakan sesuatu kepada Ran, namun ia seakan gugup mengatakannya kepada Ran. Dan gelagat Sonoko tentu saja bisa terbaca oleh mata Ran.

"Sonoko, ada apa? Apa ada masalah?" tanya Ran yang sepertinya mulai cemas dengan kondisi sahabatnya itu.

Sonoko sendiri nampak takut mengatakannya, namun dengan paksaan Ran, akhirnya ia pun mengatakannya.

"Ran..."

"Hmmm?" gumam Ran yang begitu penasaran menanti perkataan Sonoko selanjutnya.

Sonoko pun menghela nafas dan mengatakannya dengan terbata-bata dan sedikit berbisik-bisik.

"Ran, a... aku..."

"Iya?"

"A... aku... hamil..."

BERSAMBUNG...

Review, please? Hehehee...