Oke lah kalo begitu. Saya kembali hadir bawa fanfic saya nih... mw dilanjutin ceritanya. Klw begitu, tanpa panjang-lebar-tinggi (loh?) langsung saja ya kita menuju k next chap. Enjoy reading ;)
Disclaimer: Detektif Conan punya hak ciptanya Aoyama Gosho. Kalau Fanfic ini bener2 original from the oven dari saya loh. Beneran deh.
Warning: OOC, Typo, Abal, Gaje, etc.
Summary: Ran kembali bermimpi tentang 'sesuatu' antara dia dengan Shinichi. Sementara itu, Kaito dan Aoko mulai merindukan masa-masa kecil mereka seperti dulu.
Oh, ya. Rating sewaktu-waktu dapat berubah, loh...
PERNIKAHAN DINI
Episode 03
"Ran..."
"Hmmm?" gumam Ran yang begitu penasaran menanti perkataan Sonoko selanjutnya.
Sonoko pun menghela nafas dan mengatakannya dengan terbata-bata dan sedikit berbisik-bisik.
"Ran, a... aku..."
"Iya?"
"A... aku... hamil..."
Sejenak suasana diantara mereka hening selama tujuh detik saja, hingga Ran kembali mempertanyakan apa yang dikatakan Sonoko barusan. Ya, barusan Sonoko mengatakan hal itu dengan gugup sekaligus volume suaranya yang sengaja dikecilkan, membuat Ran yang berada didepan Sonoko tidak bisa dengan jelas mendengarnya.
"Apa, Sonoko? Kau bilang apa? Aku tak bisa mendengarnya," ujar Ran yang memberi kode agar Sonoko mengulangi perkataannya.
"Ran, aku hamil..." ucap Sonoko yang masih dengan suara yang sengaja dikecilkan, namun tidak gugup lagi.
"Hah? Kau bicara apa sih, Sonoko? Aku tak jelas mendengar..."
"Ran... aku hamil..." ucap Sonoko kini dengar suara lantang dan kini bisa didengar oleh Ran.
Ran yang saat itu sedang meminum teh botol, sontak kaget mendengar perkataan Sonoko barusan. Sehingga teh yang tadi dia minum, kembali dia keluarkan hingga baju Sonoko sedikit terkena cipratan teh yang diminum Ran.
"Ran!"
"Ma, maaf Sonoko! Aku tak sengaja," ujar Ran seraya dengan memberikan sapu tangan kepada Sonoko. Lantas, Ran pun kembali mempertanyakan perkataan Sonoko, guna untuk memastikan apa yang barusan didengarnya itu adalah benar.
"Sonoko, apa kau yakin dengan perkataanmu barusan? Aku tak salah dengar, kan?" ujar Ran meyakinkan Sonoko.
Sementara Sonoko hanya bisa menundukkan wajahnya sambil merenung. Ran yang melihat Sonoko seperti itu hanya bisa sedih. Mengetahui sahabatnya kini sedang tertimpa masalah, tanpa tahu apa penyebabnya.
"Sonoko..." ucap Ran sambil menggenggam erat tangan Sonoko.
"Ran..." ujar Sonoko dengan wajah yang masih ditunduknya.
"Ya?"
"Kau..."
"Hmmm?"
"Kau... TERTIPU! BWAHAHAHAHAHA!" ucap Sonoko sambil tertawa. Sementara Ran hanya bisa cengok tak mengerti melihat perubahan sikap Sonoko. Bukankah dia itu barusan sedih? Kenapa sekarang malah tertawa seperti orang gila?
"Sonoko, apa maksudmu? Aku tak mengerti semua ini," ujar Ran yang mulai penasaran dengan sikap Sonoko.
"HAHAHAHA! Ran, Ran, apa kau lupa kalau hari ini tanggal 1 April?" kata Sonoko yang memberikan kode kepada Ran bahwa sebenarnya ia dipermainkan oleh sahabatnya sendiri.
"1 April? I... itu... bukannya... April Mop?" ujar Ran yang sedikit bingung dan dibalas Sonoko dengan anggukan.
Ran yang otaknya masih belum connect selama beberapa saat, akhirnya ia mulai paham apa yang dikatakan Sonoko.
"SONOKO! KAU MEMBOHONGIKU!" teriak Ran kepada Sonoko sehingga suara Ran yang lantang itu bisa dipastikan terdengar oleh semua orang yang ada di kantin sekolah.
Sonoko sendiri hanya menunjukkan tanda peace disertai cengiran yang khas, menandakan bahwa apa yang dia katakan kepada Ran barusan hanyalah bercanda.
"Hehehehe... aku duluan ya, Ran." ucap Sonoko yang melarikan diri duluan ke kelasnya agar tak terkena amukan dari Ran.
"SONOKO! AWAS KAU, YA!"
"Eeennngggghhhhh..."
"Ayo, terus! Nyonya Ran! Kau pasti bisa! Tinggal sedikit lagi!"
"Heeeennngggghhhhh!"
"Berjuanglah, Nyonya Ran! Sedikit lagi kau akan menjadi seorang ibu!"
"A... aku... su... dah... tidak... ku... at... eennggghhhh..."
"Terus! Terus! Ya, begitu, Nyonya Ran!"
"Dokter, kepala bayinya sudah kelihatan!"
"Nyonya Ran, dorong terus! Sedikit lagi!"
"Eeennngggghhhhhh!"
"HOWEEEE! HOWEEE!"
"Akhirnya, Nyonya Ran... anda melahirkan bayi laki-laki yang sehat..."
"Iya, Nyonya. Bayi anda lucu sekali. Seperti bapaknya. Tampan sekali..."
"Ba... bapaknya?"
"Iya... mirip Shinichi Kudo."
"A... apa? Ba... bapaknya... Shi... Shinichi..?"
"Benar, Nyonya Ran Kudo!"
"TIDAK! INI TIDAK MUNGKIN! TIIIDDDAAAAAKKKKKKKKK!"
"TIDAAAKKKKKKKKKK!"
Ran tersadar dari lamunannya. Semua mata tertuju kepada Ran. Begitu pun dengan Shinichi, Sonoko, dan Shiho, dimana tempat duduk mereka begitu berdekatan dengan Ran. Teriakannya barusan mampu membuat suasana kelas yang tadinya hening karena menyimak pelajaran, kini semakin sunyi akibat ulah Ran yang sedari tadi memikirkan sesuatu.
Tentu saja, Bu Sayuri yang sedari tadi memberikan materi pelajaran, kini menegur Ran.
"Ran! Kenapa kau ini! Sudah tidak menyimak pelajaran, sekarang malah teriak-teriak tak jelas!" ujar Bu Sayuri tegas kepada Ran.
"Ma, maaf, Bu. Sa... saya..."
"Sudah! Sebaiknya kau keluar saja, daripada mengganggu ketenangan kelas," bentak Bu Sayuri kepada Ran.
"Ta, tapi..."
"KELUAR!" kini Bu Sayuri tidak bisa lagi memendam amarahnya. Ran hanya bisa pasrah mengikuti perintah Bu Sayuri untuk beranjak dari kursinya dan keluar dari kelas.
Sepanjang pelajaran, Ran terus-terusan berdiri di samping pintu masuk kelasnya. Selama itu pula, Ran merenungi apa yang barusan dia pikirkan dalam otaknya. Dimulai dari mimpi yang dia alami tadi pagi hingga pikirannya yang melayang ke dalam sebuah situasi yang cukup membingungkan.
Bagaimana tidak? Tadi pagi dia bermimpi bahwa dia akan menikah dengan Shinichi Kudo. Oke, untuk mimpinya ini dia tidak terlalu menghiraukannya, bahwa dia beranggapan mimpi itu adalah bunganya tidur. Tetapi sekarang, dia bermimpi bahwa dia akan melahirkan seorang bayi laki-laki dengan ayahnya adalah Shinichi Kudo! Tentu sekarang dia memikirkan, kenapa dia bisa memikirkan hal-hal seperti itu? Bagaimana mungkin? Di usia yang masih sangat muda, dia sudah harus menikah dan melahirkan anak, sementara dia sendiri masih sendiri alias belum mempunyai kekasih. Belum lagi dengan kenyataan bahwa Shinichi sudah menjalin hubungan dengan Shiho. Tentu tak akan bisa jika dia menikah bahkan melahirkan anak dari Shinichi.
"Sebenarnya, apa yang terjadi padaku? Kenapa aku berpikiran seperti itu?" gumam Ran yang bertanya pada dirinya sendiri. Pertanyaan itu terus-terusan berada dalam benaknya.
"Apa mungkin... ini pertanda buruk?" ujar Ran yang kini mulai dihantui rasa ketakutan karena mimpinya barusan.
Sekarang Ran menghadapi rasa was-was yang berlebihan, meskipun dia memutuskan untuk tidak terlalu memikirkan masalah tadi karena kalau dia berpikiran yang aneh-aneh lagi, mungkin sekarang Ran mulai terkena gangguan jiwa. Yang jelas, Ran mengetahui bahwa ini semacam tanda-tanda bahwa akan ada kejadian besar yang menimpa dirinya dan tentu saja Shinichi.
Jam pelajaran sekolah di SMU Ekoda telah berakhir. Kini, seluruh siswa-siswi bersiap-siap untuk pulang ke rumah. Tak terkecuali Kaito dan Aoko yang berkemas-kemas untuk pulang ke rumah.
"Hei, Kaito, kau mau pulang bersamaku?" tawar Aoko kepada Kaito.
"Tentu saja," ujar Kaito dengan senyumnya.
Entah kenapa, Aoko merasa bahwa dia sangat senang bisa wajah Kaito dengan senyumnya itu. Menambah nilai plus bagi ketampanan Kaito. Sontak, samar-samar wajah Aoko bersemu merah mengetahui bahwa Kaito ini tampan di matanya.
Kaito yang melihat Aoko senyum-senyum sendiri, keheranan dan segera membangunkan Aoko dari 'dunianya'.
"Aoko?" ujar Kaito sambil mencubit kecil pipi kanan Aoko.
"Aduh! Sakit tahu, Kaito," ucap Aoko dengan memukul kecil lengan Kaito.
"Ya, habis... kau senyum-senyum sendiri tidak jelas. Memikirkan apa, sih?" tanya Kaito kepada Aoko.
Pertanyaan Kaito barusan membuat Aoko kembali memunculkan semburat merah di kedua pipinya yang imut itu.
"A... ahhh... sudahlah... sekarang kita pulang saja..." ujar Aoko yang langsung saja melaju pergi tanpa menghiraukan Kaito yang ada di sampingnya.
"Oi, oi... Aoko... tunggu..." Kaito pun langsung mengejar Aoko yang meninggalkannya.
Dalam perjalanan mereka, terlihat Kaito dan Aoko yang begitu akrab satu sama lain. Sesekali, mereka terlihat bercanda dan tertawa bersama-sama. Hingga ketika mereka melewati sebuah taman kota, langkah Aoko terhenti. Dia melihat dua anak kecil yang sedang bermain bola bersama-sama.
Melihat anak laki-laki yang bermain tangkap bola bersama anak perempuan itu, membuat Aoko kembali mengingat masa kecilnya bersama Kaito. Masa kecil yang dianggapnya indah, karena mereka selalu bermain dan belajar bersama-sama. Tak jarang, mereka pun pernah tidur dalam satu kamar.
Kaito yang melihat Aoko yang tertegun melihat dua anak kecil itu, langsung menyadarkannya.
"Aoko?"
"Eh, iya Kaito..." ujar Aoko yang tersadar dari lamunannya.
"Kenapa? Apa ada sesuatu?" tanya Kaito pada Aoko.
"Oh, tidak... hanya saja..."
"Hm? Hanya saja apa, Aoko?"
"Hanya saja, aku..." Aoko sengaja menggantungkan perkataannya, menganggap bahwa Kaito tak perlu tahu atas apa yang dipikirkan olehnya.
"Ya..." ujar Kaito yang terus-terusan penasaran dengan perkataan Aoko.
"Sudahlah, Kaito. Aku tidak apa-apa, kok. Ayo, lebih baik kita pulang saja..." ujar Aoko disertai dengan senyuman dan beranjak duluan meninggalkan Kaito.
Sebelum Kaito menyusul Aoko, sesaat dia melirik ke arah kedua bocah yang bermain bola itu. Dari situ, ia menyadari, bahwa Kaito juga merindukan masa-masa kecilnya bersama Aoko. Sama seperti Aoko.
BERSAMBUNG...
Ayo, ayo, ayo... Kritik, review, saran ditunggu loh ;)
