Hey hey hey! Bagi yg udah nungguin next chap 'PD' dgn sabar saya ucapkan MAKASIH BANGET! n maap klw misalkan saya rada2 telat utk update next chap d waktu mendatang. Lg mumpet ide nih. N buat review dr temen2 semuanya saya ucapkan terima kasih ya... Oh, ya sekedar informasi di chapter ini pd bagian awalnya ada sedikit emmm... ada adegan dewasa gitu. (klw kata temen2 fanfict sih namanya itu LEMON ya?) jd utk jaga2 utk kali ini saya kasih rating M (nggak terlalu vulgar sih tapi untuk jaga2 aja gitu). Okey... klw begitu selamat membaca dan jgn lupa REVIEW!

Disclaimer: Detective Conan punya Aoyama Gosho. Fanfic 'PERNIKAHAN DINI' punya Nugraha Al Ramadhan ;)

Warning: TYPO, OOC, geje, abal, n senegaranya apapun itu. Mohon maap...

Rating: M (sewaktu-waktu dapat berubah atw malah tetap stay)

Summary: Shinichi bermimpi melakukan 'itu' dengan Ran hingga akhirnya ada rasa bersalah darinya untuk Shiho. Sementara itu, Ran merasakan perasaan yang aneh begitu melihat Shinichi dan Shiho bermesraan. Pertanda apakah ini? Di sisi lain, Chikage Kuroba dan Ginzo Nakamori mempunyai sebuah rencana besar untuk Kaito dan Aoko hingga membuat Aoko penasaran!


PERNIKAHAN DINI

Episode 05

"Eh? Dimana ini? Ruangan putih? Aku ada dimana?"

"Nnggghhhh... eemmmhhh..."

"Eennggghhhh... ahhh..."

"Su... suara apa itu?"

"Aaahhh... Shinichi... emmhhh..."

"Eh? Itu... suara Ran? Dimana dia?"

"Ngghhh... ahhh... Shi... Shinichi... ahhhh..."

"Hah? A... apa aku tak salah dengar? Barusan... Ran memanggil namaku?"

"Emmppphhhh... Ran... a... annghhh..."

"Apa? Suara ini kan... suaraku! Tapi... kenapa ada desahan dan erangan?"

"A... ahhh... Ran... eenngghhh..."

"Shi... Shinichi... ahhh..."

"Suara ini... berasal dari dalam kamar ini. Tapi... apa yang mereka lakukan?"

"Shi... Shinichi... enngghhh... a... ahhh..."

"Mmmmhh... Ra... Ran..."

"Ja... jangan-jangan..."

'BRAAAKKK!'

"A... apa ini? A... aku... dan... Ran..."

"AHHHHH... SHINICHI!"

"ENNGGGHHH... RAN!"


"Tidak... ini tidak mungkin... tidak..." igau Shinichi dalam tidurnya. Tak lupa peluh dan keringat membasahi tubuhnya hingga meninggalkan bekas basah di bajunya.

"TIIIDDDAAAAAKKKKKKKK!" jerit Shinichi yang tersentak bangun dalam tidurnya.

Nafasnya tak beraturan. Seakan-akan dia melihat sesuatu yang mengerikan. Seperti dikejar-kejar oleh sesuatu yang menakutkan. Matanya membelalak hebat. Dia sekarang masih belum bisa mencerna semuanya. Pikirannya kalut. Hatinya diserang oleh prasangka-prasangka yang macam-macam.

Kemudian setelah menenangkan dirinya, Shinichi mulai memperhatikan sekelilingnya. Keadaan sekitarnya masih dalam kegelapan. Yang ada hanya sinar bulan yang masih menerangi malam. Lantas dia mencari sesuatu, untuk memastikan waktu saat ini. Diraihlah jam beker dan dilihatnya jarum jam itu menunjukkan angka tiga.

"Jam tiga pagi..." gumamnya datar.

Shinichi kembali berpikir. Kembali memikirkan 'mimpi panas' antara ia dengan Ran. Sebenarnya, ia ragu. Apakah ia memang bermimpi seperti itu. Sejenak ia memuat memori mimpi dalam otaknya. Hasilnya, Shinichi benar-benar bermimpi 'sesuatu'. Bermimpi tentang pergulatan suami-istri yang ia lakukan bersama Ran, yang seharusnya tak mungkin ia lakukan.

Seketika, pipinya merona hebat. Merah memanas. Malu karena bisa-bisanya dia bermimpi seperti itu. Tak diduganya lagi, ia bermimpi melakukan 'itu' bersama Ran, bukan kekasihnya saat ini yakni Shiho.

"Kenapa aku bisa bermimpi seperti itu?" ujarnya lirih sementara wajahnya tidak bisa dikendalikan lagi warna merah karena terlalu malu untuk mengungkapkannya.

Setelah dia tenang beberapa menit, Shinichi memutuskan untuk kembali melanjutkan tidurnya. Tetapi sebelum tidur, Shinichi berujar dalam hati agar mimpinya tidak kembali lagi menghantuinya.

"Mudah-mudahan... aku tidak bermimpi seperti itu lagi," ujarnya sambil memejamkan mata.


Waktu menunjukkan pukul 6.00, namun Shiho masih terjaga dalam tidurnya. Wajar saja, semalam dia tidur pada pukul 11.00. Waktu yang sangat larut bagi gadis seusianya. Sebab, dia tidak bisa tidur memikirkan apa yang Akako katakan tadi malam. Hingga tiba-tiba dia terbangun dalam tidurnya.

Bangkit dari ranjangnya, kemudian ia membuka lebar gorden jendelanya, sehingga sinar matahari bisa menusuk matanya.

"Jam berapa ini?" gumam Shiho seraya mengambil jam beker yang terletak di sebelah ranjang tidurnya.

"Jam 6 pagi. Baiklah, aku mau mandi," ujarnya seraya membuka daster tidurnya hingga tubuhnya tak tertutup sehelai benang pun, dan membuka pintu kamar mandinya.


Sementara itu di kediaman Nakamori, terlihat Aoko yang sudah berpakaian sekolah lengkap, sedang memasak nasi goreng untuk sarapannya. Mengingat kini ibunya sudah tidak ada, terpaksa Aoko yang harus mengerjakan urusan dapur. Namun, selama ini Aoko hanya bisa memasak nasi goreng saja, itupun untuk sarapan. Makan siang dan makan malam selalu mereka beli dari luar, entah itu ayahnya ataupun dia.

Di ruang tengah, terlihat Ginzo yang sedang bersantai membaca koran sambil menikmati aroma kopi susu buatan anak kesayangannya. Sejenak, dia seperti teringat akan sesuatu. Lantas dia melipat korannya dan meletakannya di atas meja, kemudian mengambil handphone yang tersimpan di saku bajunya.

Ginzo pun kemudian membuka handphone itu, dan mencari sebuah kontak nama hingga ia menemukan nama: Chikage Kuroba.

Sedetik kemudian Ginzo menekan tombol call dan mendekatkan handphone itu di telinganya.

"Halo, Chikage? Kau ada dimana?" tanya Ginzo kepada lawan bicaranya, Chikage. Tak lama berselang, Ginzo pun kemudian melanjutkan pembicaraannya.

"Apa sebaiknya kita beritahukan mereka sekarang saja? Bagaimana kalau malam ini kita bertemu?" tanya Ginzo lagi kepada Chikage. Setelah mendapatkan petunjuk dari lawan bicaranya, ia lantas menutup pembicaraan.

"Baiklah kalau begitu, sampai ketemu nanti malam," ujar Ginzo seraya menekan tombol end. Ginzo pun kembali menaruh handphone itu di saku bajunya, dan kembali melanjutkan kegiatan sebelumnya yakni membaca koran.

Namun, Ginzo tidak mengetahui bahwa pembicaraan ia dengan Chikage via telepon telah didengar oleh Aoko yang saat itu ingin memanggil ayahnya untuk sarapan.

"Ayah dengan Bibi Chikage ada urusan apa, ya?" benak Aoko dalam hati.


"Sekarang jam 6 lewat 20 menit... masih ada waktu," ujar Shiho yang baru selesai memakai sepatunya.

"Ayah! Ibu! Aku pergi dulu, ya..." pamit Shiho kepada orang tuanya.

"Iya..."


Di lain tempat, terlihat Akako yang sedang kebingungan mencari sekolah barunya, yakni SMU Ekoda. Sepanjang tadi, dia tersesat di persimpangan jalan, dan merasa bahwa dia dari tadi hanya berputar-putar saja.

"Huh! Kalau begini, mending aku tunggu Shiho saja dulu biar tidak tersesat," sesal Akako. Ya, Akako pergi ke SMU Ekoda terlebih dahulu tanpa menunggu Shiho. Alasannya karena Akako tak ingin terlalu merepotkan Shiho. Jika Shiho mengantarnya sampai SMU Ekoda, besar kemungkinan nanti malah justru Shiho lah yang akan terlambat masuk sekolah dan ia tak mau itu terjadi. Setidaknya, itulah yang dipikirkan oleh Akako.

Ketika Akako masih linglung mencari SMU Ekoda, tak jauh di depannya terlihat seorang gadis berjalan yang memakai seragam sekolah yang sama dengan dirinya.

"Sepertinya... gadis itu memakai baju yang sama dengan yang kupakai. Apa lebih baik kuhampiri saja dia?" tanya Akako dalam hati.

Akako akhirnya menghampiri gadis yang ada di depannya. Ketika ia menepuk bahu gadis itu, gadis itu langsung menoleh ke arahnya. Alangkah terkejutnya Akako, ketika mengetahui gadis itu mirip dengan wajah Ran yang terpampang di foto Shiho.

"Emm... maaf. Tapi, kamu Ran, ya?" ujar Akako bertanya pada gadis itu. Sedangkan sang gadis yang disangka Akako hanya bisa tersenyum simpul saja.

"Ran? Oh, maksud kamu Ran yang dari SMU Teitan itu, ya?" tanya gadis itu balik. Mengetahui bahwa ia salah orang, Akako langsung buru-buru minta maaf.

"Oh, maaf! Kupikir kamu itu Ran!" ujar Akako sambil membungkukan badan tanda ia meminta maaf kepada gadis itu.

"Ah, tidak apa-apa kok. Emm... kalau boleh tahu kenapa kau menghampiriku?" tanya gadis itu.

"Sebenarnya aku ini tersesat. Aku sedang mencari SMU Ekoda. Kau tahu dimana sekolah itu?" tanya Akako lagi.

"Oh, SMU Ekoda? Kebetulan aku bersekolah di sana! Mau ikut bareng?" ajak gadis itu yang dijawab oleh senyum Akako.

"Tentu saja! Terima kasih, ya..." ujar Akako.

"Sama-sama. Oh ya, apa kamu murid baru? Kenalkan, aku Aoko Nakamori," ujar gadis itu, Aoko, seraya mengulurkan tangannya kepada Akako.

"Namaku Akako Koizumi. Salam kenal, ya..." timpal Akako seraya berjabat tangan dengan Aoko.


Lima belas menit lagi sebelum jam pelajaran sekolah dimulai, kini Shiho dan Shinichi telah sampai di pintu gerbang sekolah tersebut. Berbeda dengan Shiho yang begitu bersemangat untuk sekolah pada hari ini, Shinichi justru sebaliknya.

Meskipun raga Shinichi kini sedang bersama Shiho untuk menuju ke kelas, tapi pikiran Shinichi justru melayang entah kemana. Ya, pikiran Shinichi masih dipenuhi oleh rasa penasaran akan 'mimpi mesum' itu.

Shinichi jamin bahwa ini pertama kalinya ia bermimpi seperti itu. Terbesit dalam benaknya rasa bersalah yang begitu dalam kepada kekasihnya, Shiho. Ia merasa seperti pria paling bejat di seluruh dunia. Ketika ia dan Shiho telah menjalin hubungan yang lebih dari sekedar pertemanan, sementara dalam tidurnya justru Shinichi bermimpi melakukan hubungan suami-istri kepada Ran.

Shiho yang merasa bahwa Shinichi tidak ada di sampingnya, menoleh ke belakang dan mendapati pemuda itu berdiri terpaku dengan wajah yang ditekuk. Seakan-akan Shinichi seperti kehilangan nyawanya.

"Shinichi?" sahut Shiho pada kekasihnya itu dan menghampirinya.

Seketika Shinichi tersentak begitu Shiho memanggilnya tepat di hadapannya. Melihat Shiho, lantas Shinichi pun memeluk kekasihnya itu.

Shiho begitu kaget dengan perlakuan Shinichi yang aneh itu. Tidak biasanya Shinichi melakukan hal seperti ini di keramaian umum.

"Shi... Shinichi...?" ujar Shiho yang masih gugup bahwa Shinichi memeluknya di hadapan teman-temannya. Shinichi hanya diam dalam pelukannya bersama Shiho. Sontak teman-temannya itu menggoda mereka.

"Cieeee... mesra banget nih..." itulah ucapan teman-teman yang lain saat melihat mereka berpelukan. Shiho hanya bisa merona malu mendengar olok-olokan teman-temannya itu. Sementara Shinichi nampaknya tidak terlalu menghiraukan perkataan yang lain.

Setelah beberapa detik mereka berpelukan, kini Shinichi merenggangkan pelukannya dengan Shiho dan meletakkan kedua tangannya di pundak Shiho.

"Shiho, maafkan aku, ya..." ujar Shinichi lirih.

Shiho yang mendengar permintaan maaf Shinichi hanya bisa cengok dan bingung akan perubahan sikap Shinichi.

"Hei... kenapa dengan kau ini? Kenapa mesti minta maaf? Memangnya kau salah apa, Shinichi?" tanya Shiho yang masih tidak mengerti atas perilaku Shinichi yang mendadak berubah itu.

Ditanya Shiho seperti itu, Shinichi merasa kelabakan. Shiho tidak mengetahui, bahwa perasaan Shinichi saat ini dilanda rasa cemas atau khawatir. Namun sebisa mungkin Shinichi mengendalikan perasaannya.

"Oh, tidak apa-apa. Aku hanya ingin minta maaf kalau-kalau selama ini aku tidak pernah bisa membahagiakanmu," kilah Shinichi pada Shiho.

"Kau bicara apa sih? Kenapa bisa-bisanya kau berpikir bahwa aku tidak bahagia bersamamu? Aku bahagia bersamamu, Shinichi. Sangat bahagia..." ujar Shiho meyakini Shinichi bahwa ia begitu senang bisa bersama-sama dengan Shinichi.

"Shiho, terima kasih ya..." ujar Shinichi sambil mengecup singkat bibir merah Shiho. Shiho hanya bisa merona mengetahui Shinichi menciumnya walaupun hanya lima detik saja.

"Ayo... lebih baik kita masuk ke kelas saja," ajak Shinichi dengan menggenggam erat tangan Shiho.

Shinichi kini bisa bernafas lega. Perlakuannya kepada Shiho sedikit melegakan Shinichi, bahwa ia meyakini ia masih mencintai kekasihnya itu. Tanpa Shinichi dan Shiho sadari, aksi mereka dilihat oleh kedua sahabat mereka, yakni Ran dan Sonoko.


Ran dan Sonoko hanya bisa terpana melihat aksi Shinichi yang tiba-tiba begitu romantis terhadap Shiho. Mereka heran, Shinichi yang biasanya begitu jahil dan anti dengan kata-kata romantis kini bisa-bisanya berpelukan bahkan tanpa sungkan mencium bibir Shiho meskipun hanya beberapa detik saja.

Jika Sonoko begitu bersemangat melihat perkembangan yang begitu pesat dalam hubungan Shinichi-Shiho, lain halnya dengan Ran. Ran merasakan perasaan yang aneh begitu melihat kemesraan di antara Shinichi dan Shiho. Dia tidak tahu perasaan ini apa namanya, tetapi yang jelas kebersamaan Shinichi dan Shiho membuat dia menjadi gelisah.

Sonoko yang melihat gelagat sahabatnya menjadi aneh, langsung menyadarkan Ran.

"Ran! Kenapa melamun? Apa ada yang salah?" tanya Sonoko seraya menepuk pundak Ran.

Ran yang begitu tersadar atas lamunannya, segera mencurahkan segala perasaannya kepada Sonoko.

"Sonoko?"

"Ya... ada apa Ran?"

"Aku tidak tahu mengapa aku merasakan perasaan ini... tapi begitu melihat Shinichi dan Shiho bermesraan seperti itu..." ucap Ran yang kini terputus. Merasa tidak yakin untuk melanjutkan perkataannya. Tetapi begitu melihat Sonoko yang sepertinya memperhatikan omongannya, akhirnya Ran melanjutkan lagi kata-katanya.

"Aku... merasa jadi aneh... begitu melihat Shinichi dan Shiho seperti itu..." ujar Ran lirih.

Sonoko terperangah kaget. Dia tahu namanya perasaan yang dirasakan oleh Ran ketika melihat Shinichi dan Shiho bermesraan seperti itu. Namun, Sonoko masih belum mempercayainya.

"Ran... jangan-jangan kau..." ucap Sonoko terputus.

BERSAMBUNG...

Balasan utk review 'PD' all chapter:

Ichira-chan: Wah, makasih atas sarannya. Oke, di lain chapter akan saya coba panjangin ceritanya ya ;)

Yumi Kuroba: Oh, anti sinetron? Tapi tenang, fanfic ini hanya minjem judul sinetron kok. Selebihnya... 100% original! Khas Indonesia! #bangga

jeffrey simanjuntak inversy: Oke! Selalu update ;) b^o^d

AKHIR KATA... REVIEWS GUYS ;)