Wow! Episode 06 'PD' akan saya publish sesaat lagi! Jujur ya... utk episode 06 gue bingung mw kasih plot/alur kyak gimana. Soalnya kyak udah banyak ide gitu tp gak tw musti dimulai drmana. Contoh klw gue udah dapet ide A nah disaat gue mw tulis ide A eh malah muncul ide B yg lebih bagus. Jadinya diulang lg n pas mw nulis ide B eh malah ide C nyantol di otak gue. Dihapus lagi, dibuat lg ide C n seterusnya kyak gitu trus. Baiklah klw begitu langsung saja simak fanfic chapter 6! REVIEW nya ya guy ;)
Disclaimer: Detective Conan kepunyaan Aoyama Gosho
Summary: Akako jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap Kaito! Sementara itu, perseteruan Shinichi dan Ran kini mulai memudar! Bahkan, Shinichi ingin mengajak bicara dengan Ran BERDUA SAJA!
Warning: segala kesalahan apapun yg ada di fanfic ini mohon MAAF BANGET!
Rating: T (kembali ke asal)
PERNIKAHAN DINI
Episode 06
"Ran... jangan-jangan kau..."
'TRENG TRENG TRENG!'
"Sonoko! Bel masuk berbunyi, ayo cepat kita harus masuk ke kelas," ajak Ran kepada Sonoko seraya menarik tangan sahabatnya itu. Sementara Sonoko hanya bisa diam tak berkata apa-apa. Dirinya masih bingung dengan apa arti dari perkataan sahabatnya itu.
"Nah, Akako! Ini dia sekolah kebangaan kami, SMU Ekoda!" ujar Aoko bersemangat memperkenalkan sekolahnya kepada Akako setibanya mereka di gerbang sekolah.
Sejenak Akako memperhatikan sekolah barunya itu. Kesan besar dan megah tergambarkan dengan jelas dalam benaknya ketika melihat langsung SMU Ekoda. Dia hanya bisa menganga, menggambarkan betapa ia kagum dengan sekolah barunya itu.
Aoko yang melihat Akako begitu terpesona dengan SMU Ekoda, hanya bisa tersenyum simpul.
"Bagaimana? Kau suka dengan sekolah ini?" tanya Aoko sambil merangkul teman barunya itu.
"Iya... aku sangat suka sekolah ini..." ujar Akako senang.
"Ayo, kita masuk. Akan kuantarkan kau ke ruangan kepala sekolah," tawar Aoko yang disambut baik oleh Akako.
"Baiklah," ujarnya singkat.
Namun, baru beberapa langkah memasuki gedung sekolah SMU Ekoda, terlihat Kaito di belakang Aoko dan Akako sedang terburu-buru. Sepertinya, Kaito terlambat lagi.
"Aoko! Tunggu aku!" teriak Kaito pada Aoko hingga membuat Aoko dan Akako menoleh ke arah sumber suara.
"Kaito! Kau hampir terlambat tahu!" tegur Aoko keras kepada teman sejak kecilnya itu.
"Maaf... maaf... habis jam wekerku rusak sih," ujar Kaito santai pada Aoko. Aoko pun hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.
Akako yang melihat Kaito hanya bisa terpaku. Dia tidak pernah bertemu dengan cowok seperti Kaito. Seakan-akan, dia terpesona pada pandangan pertama terhadap Kaito.
Merasa diperhatikan oleh orang asing yang ada disamping Aoko, Kaito pun bertanya kepada Aoko siapa perempuan yang bersamanya saat ini.
"Aoko, siapa gadis ini? Kenalanmu?" tanya Kaito berbisik kepada Aoko.
"Oh, ini... kenalkan Akako, ini namanya Kaito Kuroba... Kaito, gadis ini namanya Akako Koizumi. Dia ini murid baru disini," ujar Aoko yang memperkenalkan mereka berdua.
Kaito hanya menggangguk mengerti, sementara Akako masih berada dalam diamnya memperhatikan cowok yang ada di depannya.
"Halo! Aku Kaito! Kaito Kuroba," ujar Kaito seraya mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Akako.
"O... oh... ha... halo... salam kenal. Namaku Akako. Akako Koizumi," ujarnya yang tersadar dari lamunannya dan membalas jabat tangan Kaito.
"Aoko, aku ke kelas duluan ya..." ujar Kaito sambil berlalu meninggalkan Aoko dan Akako. Aoko pun tersenyum simpul.
"Nah, Akako... sekarang kuantarkan kau ke ruangan kepala sekolah. Ayo," ajak Aoko pada Akako. Akako pun mengikutinya.
Ketika melihat Kaito untuk pertama kalinya, dia merasakan ada sesuatu yang aneh. Sesuatu yang ia tunggu-tunggu selama hidupnya. Seperti seseorang yang selama ini mencari harta yang paling berarti dan ia menemukannya. Dan itu ia alami ketika berjumpa dengan Kaito. Akako tahu, apa nama dari perasaan aneh itu. Karena Akako untuk pertama kalinya merasakan jatuh cinta pandangan pertama dengan Kaito.
Jam pelajaran pertama SMU Teitan telah dimulai. Seluruh siswa-siswi kelas 2-A telah siap untuk memulai pelajaran. Jam pelajaran pertama akan diisi oleh mata pelajaran Bu Kobayashi, guru Bahasa Jepang.
Suasana sepi dan sunyi terasa menggelayuti kelas 2-A. Ya, Bu Kobayashi adalah salah satu guru yang paling terkenal dengan kekejamannya. Jika ada yang berisik sekali saja, maka hukuman untuk mengelilingi lapangan sekolah selama 5 kali sudah siap menanti. Tentu saja, kekejaman Bu Kobayashi itu sudah pernah dirasakan oleh Sonoko, Shiho, Ran, dan Shinichi. Makanya, jangan heran jika Shinichi yang dijuluki murid paling terjahil dan cuek di SMU Teitan, bisa begitu takluk di hadapan Bu Kobayashi. Berurusan dengan Bu Kobayashi itu sama saja dengan berurusan dengan malaikat pencabut nyawa, itulah kata-kata yang dipegang teguh oleh Shinichi.
Sepanjang pelajaran, Shinichi dengan fokus begitu mengikuti pelajaran Bu Kobayashi dengan baik. Tak jarang, Shinichi mencatat seluruh materi pelajaran yang disampaikan Bu Kobayashi. Di samping kirinya, terlihat juga Ran yang sedang serius mencatat materi yang ditulis Bu Kobayashi di papan tulis.
Entah sadar atau tidak, tiba-tiba Shinichi melirik samping kirinya tempat Ran berada. Secara kebetulan, Ran juga menengok ke arah Shinchi di samping kanannya. Hingga akhirnya kedua bertatap mata. Namun apa yang terjadi, bukannya mereka membuang muka ke arah lain, justru mereka semakin mendalami tatapan mereka. Sejurus kemudian, keduanya saling melemparkan senyum. Senyum yang paling tulus yang tidak pernah mereka perlihatkan sebelumnya. Lama mereka berada dalam situasi seperti itu hingga suara seseorang berhasil memecahkan suasana yang sedang mereka bangun.
"Shinichi? Ran?" ujar suara itu dengan nada yang sedikit tegas hingga Shinichi dan Ran melengos dan melihat dari mana asal suara itu.
"Bu... Bu Kobayashi?" sahut mereka berdua secara bersama-sama. Sepertinya, karena mereka dipergoki oleh Bu Kobayashi, membuat mereka menjadi salah tingkah.
"Apa kalian memperhatikan materi saya?" tanya Bu Kobayashi dengan sorot matanya yang tajam. Karena pertanyaan Bu Kobayashi membuat seluruh siswa yang tadinya memperhatikan papan tulis kini menengok ke arah Shinichi dan Ran.
"Sa... saya memperhatikan, Bu Kobayashi," ujar Shinichi dengan sedikit gugup. Perkataan itu juga ditimpali oleh Ran.
"Saya juga, Bu..." timpal Ran dengan datar.
Bu Kobayashi selama beberapa detik menatap mereka dengan tatapan tajam itu, sebelum akhirnya melanjutkan kembali materi pelajaran.
Shinichi dan Ran hanya bisa bernafas lega, dan mereka kini melanjutkan kembali fokus terhadap materi pelajaran. Tapi, tanpa mereka ketahui bahwa aksi mereka saling bertatapan itu dilihat oleh Sonoko, hingga menimbulkan kecurigaan besar dalam diri Sonoko.
"Akako..."
"Ka... Kaito...?"
"Akako, kau cantik sekali..."
"Ka... Kaito..."
"Aku ingin kau tahu bahwa sebenarnya aku..."
"Kaito..."
"Aku... benar-benar menyu..."
"AKAKO KOIZUMI!" bentak Bu Jodie saat dilihatnya Akako melamun. Akako pun tersentak begitu mendengar teriakan keras Bu Jodie yang menggema ke seluruh arah kelas 2-B.
"Ah? Bu Jodie...?" sahut murid baru itu dengan sedikit tergagap melihat guru itu memandang dirinya dengan aura yang mencekam.
"Akako! Apa kau memperhatikan materi saya?" tanya Bu Jodie tegas kepada Akako.
"Ma... maaf, Bu Jodie. Sa... saya..." belum sempat Akako melanjutkan perkataannya, Bu Jodie memotong ucapan Akako.
"Akako! Kali ini saya maafkan! Tapi kalau sekali lagi kamu melakukan hal itu, saya tak akan segan-segan untuk menghukum kamu!" ucap Bu Jodie keras terhadap Akako dengan sorot mata yang tajam.
"Ba... baik, Bu Jodie..." ujar Akako dengan perasaan ketakutan.
Bu Jodie lantas kembali melanjutkan pelajarannya. Sementara Akako hanya bisa menghela nafas. Memikirkan apa yang baru saja ia lamunkan. Ya, ia memikirkan jika Kaito menembak dia.
Sebelum kembali mencatat, terlihat sorot mata Akako mengarah ke tempat Kaito yang berada disamping Aoko, terlihat serius memperhatikan pelajaran Bu Jodie. Melihat Kaito dengan raut wajah yang serius semakin membuat Akako terpesona.
"Kaito, kau benar-benar membuatku gila..." batin Akako dalam hati.
"Ran... apa kau ada waktu? Aku ingin bicara denganmu sebentar..." ujar Shinichi kepada Ran di koridor kelas.
"Ya sudah... silahkan kita bicara di sini saja..." ujar Ran yang masih cuek terhadap Shinichi.
"Tidak, Ran. Kita bicarakan ini berdua saja... bagaimana?" kata Shinichi yang sukses membuat Ran terperangah.
"Shinichi mau bicara berdua saja denganku? Apa aku tak salah dengar?" gumam Ran dalam hati.
"Bagaimana, Ran?" tanya Shinichi lagi karena Ran tak merespon pertanyaannya.
Ran pun menghela nafas dan menerima ajakan Shinichi. "Baiklah kalau begitu," ujar Ran enteng dan mengikuti Shinichi pergi.
Dalam hati, Shinichi bertekad bahwa ia harus mengakhiri permusuhan antara ia dengan Ran. Dan sekarang, ia akan berbicara dengan Ran berdua saja untuk menyelesaikan semuanya.
BERSAMBUNG...
