.
Bunyi-bunyi alat makan keramik dan sendok teh dari besi saling berdencingan satu sama lain, menjadi pengisi suara pagi yang mengiringi cicitan burung gereja yang merdu di luar jendelanya sana. Aroma darjeeling yang harum mengisi ruangan tersebut, selagi sang pengaduk teh menuangkan semacam sirup―tunggu, apa itu madu atau sirup maple?―yang harusnya berfungsi sebagai pemanis teh yang dimaksud.
Ah, damainya.
Sang pembuat teh―atau, mari kita panggil saja dirinya sebagai Matthew Fitzgerald Williams―bernafas lega. Menyunggingkan senyumnya sembari membawa secangkir teh bening itu dan berjalan ke arah balkon yang berada tak jauh dari tempatnya memasak teh, lalu duduk pada sebuah kursi kayu mahoni yang nampaknya mulai termakan usia. Matthew mulai menyeruput darjeeling tersebut dan menatap akan pemandangan luas yang dipertunjukkan oleh istana yang berdiri di atas tanah sebesar pulau kecil yang melayang ini.
Indah, kalau ia harus bilang.
Tinggi di mana mereka berada tidaklah lebih tinggi daripada lapisan awan, tapi cukup tinggi untuk ukuran jarak antara tanah dan tempatnya mereka berada. Pemandangan yang nampak pun menjadi sangat jelas dengan biru sungai raksasa yang dihiasi oleh pelabuhan dan hijau yang bertebaran akan lahan pertanian yang begitu luas dengan para pekerja yang terus giat menghasilkan lahannya. Ia kira, kala mendengar nama Ar-Dor yang terkenal sebagai negeri yang terkenal akan maritim dan pendidikannya dulu kala, ia akan menjumpai sebuah negeri yang akan ditebari oleh banyaknya pelabuhan, kontainer dalam ukuran-ukuran besar di setiap pelabuhannya, dan universitas serta sekolah dalam jumlah serta kualitas yang mengesankan.
Ternyata tidak juga, tuh. Buktinya saat ini ia bisa melihat kawasan pertanian yang tak kalah subur dibandingkan dengan Ar-Lacrima, kampung halamannya―walau harus ia akui, secara jumlah, lahan pertanian Ar-Dor masih kalah jauh dibandingkan negeri tercintanya tersebut. Ia menyeruput habis tehnya, dan kini melirik ke bagian bawah balkonnya yang dimana, ia menjumpai lapangan latihan bagi para tentara. Disanalah ia menjumpai sosok kakaknya tengah dilatih oleh sang Kardinal besar yang sudah sering ia dengar namanya, sang Ksatria Putih dari Ar-Dor. Tawanya mulai keluar, kala ia melihat sang kakak nampak kewalahan menghadapi Kardinal Arthur Kirkland yang memang harus ia puji akan kemampuannya.
Ya, semuanya terlalu hebat, biarkata ia baru tinggal di sini kurang dari tiga hari.
"Beruntung sekali aku bisa berada disini, eh?"
Kyelestä ~Picturesque~
Iryél Il ~Ar-Ciel~
[Chapter One ~This World~]
Hetalia : Axis Powers © Hidekazu Himaruya
謳う丘 ~Ar=Ciel Ar=Dor~ / Singing Hill ~This World, This Land~ © 志方あきこ / Shikata Akiko
I own nothing except the damn crazy twisted plot
WARNING
Magicians!AU/Multipairs in slash and straight, mainly focusing on USUK & RomaMona/Extreme OOC/Lots of Description/Multiplots/Genderbent/Crack pairs might possible/Major plague of typos
Il-Li Iryél Vie en Priér
Dalam Chapter ini terdapat pair berupa
US/UK, Romano/Monaco, China/Nyo!Japan
Asyareil mictä pantasharela, picta vanomé, hayrä melei el märdi.
Sebab sama seperti berbuat baik, untuk menjadi jahat pun, seseorang perlu usaha dan kerja keras.
CRING!
"Salah! Gerakkan pedang dengan pergelangan, bukannya satu badanmu ikut bergerak!"
TRANG!
"Tadi bukannya sudah kubilang, pegang gagang pedangnya dengan benar!"
TRING!
Klotak. Bruk.
Lalu terdengarlah sebuah desahan dari seorang dengan alis tumpuk, yang sedang menatap jengkel pada sang pangeran dari Ar-Lacrima yang kini telah kalah dengan sukses. Kewalahan menghadapi sang Kardinal yang ternyata sangat hebat dalam bermain pedang―oh, wow, maksudnya broadsword. Alfred sendiri juga kaget bahwa dengan badan sekurus itu bisa punya tenaga untuk mengangkat pedang sebesar dan seberat itu.
"Kau sendiri gila apa?! Pedang itu beratnya entah berapa puluh kilogram, dan kau kuat mengangkatnya hanya dengan satu tangan?" oke, mengangkat mungkin sanggup, tapi digunakan untuk berduel dan diayunkan dengan nampak mudah seolah berduel menggunakan kemoceng? Mana bisa Alfred menganggapnya tidak gila? "Lagipula darimana aku bisa menggunakan pedang sebesar itu, astaga!"
"Kata seorang pangeran yang kudengar punya tenaga tak kalah dari banteng." Memberi penekanan khusus pada jabatan Alfred yang benar-benar membuatnya kecewa. Ada apa dengan para penerus kerajaan zaman sekarang? Kenapa semuanya payah tak terkira? Arthur benar-benar tak habis pikir akan hal ini.
"Ya, aku kuat." Dengan sedikit kepayahan, Alfred mengangkat broadsword yang sedari tadi digunakan Arthur. "Tapi mengayunkannya? Tidak mungkin." Sebagai bukti, Alfred ikut mengayunkan pedang besar itu, dan ternyata hasilnya sangatlah payah. "Bisa kupegang dan kuayunkan tapi tak mungkin sampai selincah aku menggunakan pulpen bulu."
Pfft, pulpen bulu? Yang benar saja? Arthur hanya bisa menyeringai dengan sangat pasrah, menatap pada sang pangeran yang sepertinya tak tahu harus bagaimana lagi. Sepertinya memang benar, susah untuk mengatasi anak ini. "Jangan kira aku akan memberikanmu kompensasi karena kau calon raja. Justru karena kau seorang calon raja, aku akan terus menghajarmu besar-besaran sampai kau benar-benar pantas untuk menyebut dirimu lebih kuat dari ayahmu. Sekarang, siapa yang selama ini melatihmu?"
Keraguan nampak jelas di wajahnya, dan dengan suara yang lebih pelan, ia menjawab pertanyaan sang pengajarnya. "Errm... Ibuku sendiri...?"
"Nah, 'kan? Kau harusnya merasa beruntug karena sudah bisa dilatih oleh Queen Joan langsung."Arthur merentangkan tangan kanannya ke arah broadsword yang tadi diletakkan kembali oleh Alfred di tanah, sementara tangan kirinya diarahkan ke bawah kakinya, tempat dimana broadsword miliknya ia letakkan. Semacam kekuatan yang tak nampak mendorong dua broadsword tersebut berada tepat di masing-masing tangan kanan dan kirinya. "Dan kau hanya mempermalukan namanya saja kalau melawanku saja kau tak bisa. Ayo, berikan aku lebih dari ini, kali ini silakan gunakan senjata yang menurutmu paling fleksibel."
Alfred, yang seperti biasanya mudah merasa tertantang, pun merentangkan cambuknya yang memang ia belitkan di sekitar pinggangnya. Cambuk hitam tersebut ia beri tekanan sampai terdengar suara angin yang memecah, akibat dari hasil gerakan cepat yang menyebabkan timbulnya suara ultrasonik. Wajah Alfred kini nampak lebih percaya diri ketimbang sebelumnya, dan tergurat satu ucapan bisu dari air mukanya, sebuah harapan bahwa setidaknya kali ini ia dapat merasa imbang.
"Oh, pemain cambuk? Lama aku tak melihatnya." Arthur kembali memasang wajah garangnya. "Sudah siap? Lawanmu dua pedang besar, lho."
Sebagai gantinya, Alfred balas menyeringai. "Dua pedang besar tidak berarti sama dengan kemenangan."
Biasanya tidak sehening ini.
Biasanya lebih ramai lagi, dengan para penjaganya yang sedikit ribut di depan sana. Atau samar-samar ia akan mendengar panggilan-panggilan yang tak penting, tak jarang pula, gosip yang tak ada gunanya, yang sama sekali tidak benar. Terkadang beberapa berkata tentang dirinya yang terlalu kaku, atau terlalu ketus. Terkadang lagi tentang istrinya yang lagi-lagi pulang malam dan berjudi di kasino Ivan―oke, ini tidak perlu ia pungkiri. Istrinya memang gila judi―atau sesaat lainnya, tentang hal-hal yang sebenarnya sangat ingin membuatnya tertawa karena terdengar terlalu konyol.
Tapi hari ini, tidak lagi terdengar itu.
Di hadapannya terdapat sepasang pemimpin absolut Ar-Lacrima, sang raja dan ratunya yang kini hendak memperbincangkan masalah penting. Ikut mendampingi di sampingnya, sang istrinya tersayang, yang kini mempersilakan keduanya duduk di sebuah sofa yang berada di hadapan meja kerja Lovino.
"Sesuatu yang penting atau basa-basi?"
Tak perlu basa-basi, Lovino segera memberikan tanya tersebut. Francis pun cepat menjawabnya, "cukup penting."
Mendengar respon dari Francis, Moria pun membacakan sebuah mantra, menciptakan semacam hawa gelap di sekeliling ruangan tersebut, dan dalam sekali ayunan tangannya ke kiri lalu ke kanannya, jendela-jendela dalam ruangan itu tertutup rapat. Tak lupa ia selubungi pintu besar tempat satu-satunya orang dapat keluar masuk dari ruang kerja Lovino ini dengan sebuah energi gelap yang membuat pintu tersebut seperti dilapisi sesuatu berwarna ungu gelap. Ruangan itu pun akhirnya jatuh dalam kegelapan setelah semua sihir yang dilakukan sang ratu Ar-Dor, yang kemudian menjentikkan jari-jarinya dan membuat sekumpulan lidah-lidah api biru cerah yang muncul dari kedua tangannya mengelilingi ruangan sebagai ganti penerangannya.
"Kita aman. Silakan bicara."
Lovino mengambil tempat duduk yang tepat berada di seberang Francis dan Joan. Mengibaskan sekali tangannya ke atas coffee table tersebut sehingga muncullah berbagai macam kue serta sepoci teh dan empat cangkir teh. "Santai saja, tapi aku tak terima basa-basi yang terlalu panjang." Lovino pun membuka pembicaraan dengan gaya yang sangat tipikal dari dirinya.
"Kurasa kau sudah tahu 'kan kenapa kita di sini?" Queen Joan adalah yang pertama melanjutka pembicaraannya. "Kami ingin mengajukan aliansi kepada kalian."
Lovino mengangguk-angguk, sementara Moria yang duduk di sebelahnya ikut memperhatikan pembicaraan dengan seksama, mendengarkan Joan yang lanjut bercerita. "Kurasa kalian sudah mengerti kondisinya. Belakangan ini kami merasa resah, dan bukan hanya kalian saja yang mendapat serangan bandit. Kami pun juga mendapatkannya, dan walau itu bukan perkara yang terlalu berat bagi kami, rakyat yang tak bersalah pun bisa saja kena. Kami merasa, ini ada hubungannya dengan kegiatan Ar-Rayvena. Tidakkah kalian sependapat?"
"Tentu." Kini Moria yang ikut angkat bicara. "Tapi apa untungnya bagi kami jika kami terima tawaran aliansi kalian?"
"Semua hasil pertanian kami yang selama ini kami ekspor ke tempat kalian tidak akan dikenakan pajak lagi. Aliansi seumur hidup, dan juga demi memajukan pendidikan serta kemajuan negeri dari dua negara. Kami dapat memberikan kalian jaminan untuk bahan pangan yang tak terbatas, sesuatu yang benar-benar berat bagi kalian, jika aku tak salah?" Francis pun mengajukan tawarannya. Tahu bahwa Ar-Dor adalah negeri yang sangat membutuhkan suplai makanan mengingat tanahnya yang sangat sempit dan faktor geografis yang berisi banyak pulau-pulau melayang yang ketinggiannya tak mungkin diakses orang-orang berkemampuan biasa. "Lagipula kalian juga untung. Ar-Lacrima saat ini sudah menjalin aliansi dengan Ar-Lucria, dan ini semua hanya tinggal waktu sebelum perang terjadi. Kalau kalian mau mendukung kami, Ar-Lucria pun juga tak akan segan untuk memberikan bantuan kepada kalian."
Lovino mulai menimbang-nimbang. Semuanya terdengar menggiurkan, dan semuanya yang telah dikatakan tadi oleh Francis tidak salah. Ia tahu bahwa Ar-Dor adalah negeri yang sangat dirugikan secara faktor georgrafis. Air asin yang mendominasi dan air tawar yang sangat sedikit, banyak pulau-pulau melayang yang belum terjangkau, dan tanah-tanah yang sangat tak cocok untuk menghidupi mereka, negeri kecil yang memang boleh dikata paling maju secara sihir dan pengetahuan walau kekurangan banyak hal. Mereka selama ini bergantung banyak dari Ar-Lacrima, dan rasa-rasanya kalau pun mereka menolak, tak mungkin mereka dapat hidup.
Tapi untuk perang?
Bukankah itu sama saja?
Baik Lovino atau pun Moria sama pendapatnya. Mereka tak mau rakyat mereka terlibat perang, dan sudah cukup akan perang-perang ini. Mereka berdua telah bertemu dalam keadaan yang sangat menyedihkan, dan telah menjalani awal-awal rezim mereka dengan sangat tak nyaman. Pertentangan, perang saudara, dan berbagai macam hal buruk sudah mereka saksikan dan rasakan secara langsung, dan itu berarti bahwa satu perang lagi, juga tidak masuk dalam wish list mereka.
"Kami tahu kondisi Ar-Dor memiliki banyak kekurangan secara geografis." Lovino mencoba sebaiknya, untuk memberikan jawaban yang sangat pas dengan kondisi yang ada sekarang. Bahkan kalau mau bicara jujur, ia sudah berusaha memikirkannya semenjak semalam sampai ia tidak bisa tidur, tapi hasilnya sama saja. Ia tak dapat menemukan jawaban jika kondisi ini pun sudah ia perkirakan sekali pun. "Tapi maaf, kami tak dapat ikut terlibat dalam perang kalian. Kami ingin menjaga perdamaian, dan tahu karena kami memiliki banyak kekurangan di banyak faktor, kami merasa bahwa diam adalah jalan terbaik."
"Jadi kalian benar-benar akan diam saja?"
Tatapan kecewa dari Joan muncul. Bukan karena dua orang yang merupakan pimpinan Ar-Dor ini adalah teman masa kecilnya, tapi melihat bahwa ini adalah masalah dunia yang mereka perbincangkan dan apabila mereka menolak, Ar-Lacrima yang tak mempunyai armada banyak pun akan segera luluh lantak dalam sekejap. Ya, bolehlah andalkan mereka dalam masalah suplai segala macam kebutuhan pangan yang sangat hebat, tapi lain daripada itu, baik Francis atau pun Joan tak tahu bagaimana harus menghadapi tekanan politik yang seolah semakin menancap dalam di jantung negerinya ini.
"Bagaimana jika kita lihat dulu saja perkembangannya? Kami akan tetap menyimpan penawaran ini, jika diperbolehkan. Kami juga harus berbicara dengan pihak dari Ar-Teflecia untuk mencari jalan tengah dari konflik ini. Pula, kalau pun memang benar Ar-Rayvena akan berperang, mereka pasti sudah siap dengan semuanya." Moria kembali menjelaskan. "Dan kenapa kalian meminta kepada kami? Kalian bisa meminta kepada Ar-Filia yang memang spesialis militer. Kami tidak memiliki armada yang sehandal Ar-Filia, lagipula, dan kurasa kalian sudah tahu tentang ini."
"Tapi kalian punya taktik, punya pengetahuan, dan di atas itu, punya sihir yang kuat!" Francis mulai sedikit gelisah. Bagaimana pun, diskusi kali ini harus membawa satu hasil yang memuaskan, dan ia tak mau jika lusa nanti ia pulang, ia akan pulang dengan tangan hampa. "New Element yang kalian kembangkan saat ini sangat berguna bagi kebutuhan perang ini. Ini akan―sedikit-dikitnya―membuat gentar Ar-Rayvena."
Ruangan tersebut kembali jatuh dalam kesunyian yang panjang, membawa dua pemimpin besar Ar-Dor tersebut merenung akan apa yang seharusnya mereka jawab. Lovino melontarkan kata-kata dalam bahasa khusus kerajaan yang hanya diketahui oleh para Raja dan Ratu-nya kepada Moria, dan hal itu membuat Moria mendesah kecil sembari mengayunkan tangannya lalu menjentikkan jarinya untuk melepaskan selubung yang menciptakan ruangan tersebut menjadi aman untuk membicarakan kasus-kasus sensitif, seperti apa yang terjadi sekarang ini. Seiring dengan masuknya sinar matahari ke dalam ruangan besar tersebut, lidah-lidah api biru tersebut pun memudar dan menghilang perlahan.
"Kita lanjutkan ini besok lagi." Lovino angkat bicara, dan kemudian berjalan menuju pintu keluar untuk membukakannya bagi sepasang pemimpin dari Ar-Lacrima tersebut. "Kami sangat berterima-kasih atas kedatangan kalian, dan tenang saja, apa pun hasil yang kami putuskan esok hari, Alfred akan tetap kami rawat dengan baik sesuai perjanjian awal kita."
Francis tersenyum kepada Lovino, lalu menggandeng dan membawa Queen Joan keluar dari ruangan tersebut. "Oui, aku menunggu jawabanmu."
Pintu itu pun ditutup, dan Lovino pun melayangkan pandangan tajamnya ke arah sang ratu yang berada di tengah ruangan tersebut.
"Sepertinya kita benar-benar harus memanggil dia."
Tercenung.
Kenapa ia berada disini juga dari awal? Kenapa ia tak bisa tinggal saja di istana-nya yang walau pun tidak semewah ini, tapi ia masih dapat bersantai dan berkuda dengan tenang? Kenapa ia harus lahir untuk dididik oleh seorang beddebah semacam ini? Kenapa? Kenapa?!
"Kalau kau terus bertanya kenapa kau ada disini dan harus begini, jangan tanya aku." Arthur mendesah lagi, sang kardinal yang seolah sejak tadi dapat membaca pikirannya―asumsinya, tapi setelah Alfred tanyakan sihir macam apa itu, Arthur hanya bilang kalau ia dapat membaca raut muka orang dan tak lebih―dan sudah mendorong-dorongnya sejak tadi untuk berusaha lebih kuat. "Dan jujur, aku kecewa. Memang hanya segini kemampuan dari anak Joan d'Arc dan Francis Bonnefoy? Kalau memang hanya segini, kau benar-benar mempermalukan nama kedua orangtuamu."
Alfred mendecak lagi. Kenapa sejak tadi si kardinal ini hanya membicarakan tentang ayah dan ibunya terus, sih? Iya, Alfred tahu mereka berdua itu raja dan ratu dari Ar-Lacrima, negeri agraris dan negeri termakmur akan sumber daya alamnya, dan mereka memang para penguasa yang adil dan baik, tapi sepertinya gaya tutur Kardinal Ar-Dor ini seperti menggambarkan mereka berdua adalah orang yang jauh lebih hebat dari para penguasa Kota Suci Ar-Teflecia. "Lalu kenapa kalau mereka orangtuaku? Ya sudah, aku sudah tahu mereka kuat. Kau tak perlu berkata itu berkali-kali seolah-olah tak pernah melihat mereka."
"Kalau begitu, ganti kutanya kepadamu, kau tahu siapa aku?"
Kembali, Alfred melontarkan wajah kebingungannya. "Kau itu Kardinal Besar Ar-Dor." Dan serius, hanya itu yang ia tahu. Maksudnya, untuk apa mencari tahu tentang orang lain? Dia 'kan calon raja dan sepantasnya kalau mereka memperkenalkan diri kepadanya dan bukannya ia yang harus lelah-lelah mencari tahu tentang mereka. "Namamu Arthur Kirkland."
"Sudah, itu saja?"
"Ya."
Tanpa disangka-sangka, lelaki itu menggampar Alfred sampai tersungkur ke tanah. Terkejut akan gamparan itu, ia hendak memprotes. Tapi rambut kuning mataharinya telah dijambak dengan kasar, membawa wajahnya hanya terpaut beberapa senti dengan sang Kardinal yang memberikan sorot mata tajam yang selevel dengan para pembunuh. Alfred pun langsung diam, dan hanya mampu meneguk air liurnya dalam kebingungan dan ketakutan.
"Dengar, aku tak peduli kau itu anak raja atau siapa, tapi keegoisanmu itu benar-benar penyakit yang sangat parah, sampai-sampai tentangku saja kau tak tahu." Uh, bukannya ia mau berlagak sombong, tapi serius, anak umur lima tahun saja sudah tahu siapa dia. Belum lagi ia sering berkunjung ke tempat "Dan jangan kira karena kau anak Francis dan Joan, kau bisa bertindak semaumu, dasar pangeran bedebah. Disini aku gurumu, dan kau muridku. Murid harus selalu tunduk pada apa yang gurunya katakan. Mengerti?"
Alfred terpaksa mengangguk, dan dari jauh, dua iris violet milik Matthew menatap dengan cemas akan keadaan kakak kembarnya tersebut yang memang terlibat dalam masalah, terima kasih karena ego-nya yang terlalu tinggi. Ia sudah tahu bahwa Arthur Kirkland adalah orang yang seperti itu―tunggu, kenapa jadi ia yang tahu lebih banyak daripada yang seharusnya diketahui Alfred?―tapi mana ia sangka akan sekeras ini kepada kakaknya tersebut? Benar-benar mengejutkan baginya, dan baru saja Matthew akan menghampiri kakaknya yang kini hampir menumpahkan setitik air matanya karena merasa benar-benar terpukul baik mental dan fisik, sebuah tangan sudah menyentuh pundaknya, dan menahan Matthew.
"Mom." Matthew menyapa ibunya, yang masih melambungkan senyumannya kepada anaknya, dan juga, cengkeraman di pundaknya yang cukup kuat sampai-sampai ia meringis kesakitan. "Ta-tapi Alfred―"
"Sudahlah, Arthur memang begitu, kok. Kau masih beruntung saja dia masih bersikap baik hati hari ini." Joan tertawa, dan mau tak mau hal itu membuat Matthew merinding. Segini saja sudah dibilang berbelas kasih? Bagaimana kalau si Kardinal itu sedang marah? "Kenapa kita tidak berjalan keluar saja hari ini, dan nikmati keindahan kota ini? Kita akan pergi dengan King Lovino dan Queen Moria setelah ini."
Matthew Fitzgerald Williams sudah mendengar tentang keindahan spektakuler yang ditawarkan Ar-Dor, juga telah mendengar bahwa negeri yang memang sederhana namun dapat mendaki hingga posisi dimana mereka dapat meraih kekuatan New Element sampai dapat menciptakan apa pun dari ketidak-adaan adalah satu hal yang sangat perlu diberi apreasiasi. Tak lupa juga, adik kembar dari Alfred Fitzgerald Williams satu ini memang seorang yang mudah terpikat pada segala hal baru.
Dan bertemu dengan King Lovino dan Queen Moria yang memandunya di sepanjang perjalanan mereka ini, adalah satu hal yang benar-benar menyenangkan. Apalagi semuanya itu dilakukan dengan menaiki pegasus khusus kerajaan yang tak ada di rumahnya, dan itu menambah pengalaman Matthew untuk berkuda sambil terbang. Tidakkah itu benar-benar hebat? Oh, betapa ia sudah ingin melakukan semuanya ini, dan memacu pegasus cokelat mudanya sambil merasakan semilir angin di ketinggian seperti ini sungguh menyenangkan.
"Dan di sebelah sana ada pusat kota." Queen Moria menjelaskan kepada Matthew sembari menunjuk ke arah barat daya. "Di sana ada banyak gedung-gedung kementrian―salah satunya juga tempatku bekerja―dan kasino yang kuurus."
Szalbriémemang sebuah planet yang memiliki sistem pemerintahan monarki yang unik dimana pemerintahan dijalankan oleh rakyat dengan sepantauan Raja dan Ratu. Segala macam keputusan yang ada diusulkan langsung oleh rakyat dan oleh Raja dan Ratu serta penasihat-penasihatnya, mereka akan mengatur keluar-masuknya keputusan dan memilah-milah mana yang harus ditanggapi atau tidak. Dan bagi Ar-Dor yang memang secara geografis diisi oleh pegunungan tinggi dan pulau-pulau melayang dampak keabnormalan New Element saat pertama kali ditemukan belasan generasi yang lalu, sistem pemerintahan ini pun cukup merepotkan karena setiap distrik memiliki permasalahannya sendiri.
Atau begitulah kata King Lovino.
"Kasino?" dan bagi Matthew, itu adalah satu kata yang asing. Secara hal itu memang tak pernah ada di tempatnya, atau pun di beberapa kerajaan lain yang ia kunjungi, baru pertama kali ia menemukan nama kasino. "Aku belum pernah mendengarnya."
"Memang, kasino disini baru akan kami umumkan secara luas ketika grand opening-nya nanti." Queen Moria terus melanjutkan, dan menyunggingkan seulas senyum kepada Matthew. Membiarkan King Lovino dan kedua orangtuanya sibuk dengan pembicaraannya sendiri di depan sana. "Sistem kasino adalah perjudian, yang dimana memanfaatkan kekuatan berpikir dan probabilitas untuk mengeruk keuntungan. Sistemnya mudah saja, kau masukkan uang, misalnya 10 Raila [1] sekali main roulette, nanti kau disuruh memilih angka dan warnanya. Kau pilih misalnya angka ganjil atau warna merah, maka jika salah satu dari itu kena, maka kau akan mendapatkan untung dari uangmu beberapa kali lipat sesuai yang dipasang oleh bandar."
"Roulette?"
"Permainan roda yang diputar dan kemudian sebiji bola putih dilemparkan ke roda itu." Tuturnya. "Inti perjudian adalah bertaruh akan kesempatan. Ini permainan yang berbahaya kalau kau tidak bisa mengontrol uangmu."
Matthew mengangguk pelan. Ia paham sekali bahwa negeri ini akan kesusahan jika harus beradu dengan kekuatan sumber daya alam, tapi hei, ini tidak terlihat seperti sesuatu yang kotor juga, 'kan? Toh ini baru sebuah permulaan dan walau pun ini semua terdengar seperti sebuah permainan yang akan berlangsung busuk, itu juga bukan urusan Matthew. Urusannya sekarang adalah dia harus tahu lebih dalam tentang semua yang ada di sini dan mampu melindungi Alfred.
Ya, melindungi. Memang apa lagi tugasnya kalau bukan itu?
Tak ada yang namanya jabatan pangeran bagi anak kedua, apalagi jika anak kedua itu adalah kembar. Satu-satunya yang ada hanyalah menjadi Halbringer bagi sang calon raja, karena saudara adalah pemilik ikatan terbesar selain dari orang tuanya. Bukan hal yang gampang untuk menjadi Halbringer yang harus menjalin ikatan batin yang kuat dengan sang 'tuan' yang biasanya disebut Altair, dan maksudnya hal ikatan batin itu sangat berdampak pada kekuatan fisiknya. Semakin jauh jarak antara Halbringer dan Altair, maka semakin lemah kedua pihak ini secara kekuatan fisik dan magis.
Karena itulah ia agak enggan untuk meninggalkan Alfred. Bisa mati dihajar anak itu karena kekuatannya semakin lemah dengan menjauhnya jarak fisik antara mereka berdua.
"Maaf, Queen." Matthew menyapa sang Ratu Ar-Dor yang tengah 'berkuda' di sampingnya. "Kalau saya boleh tahu, apakah Kardinal Besar Arthur Kirkland memang sekasar itu?"
Moria tertawa, sepertinya sudah terbiasa akan pertanyaan tentang Kardinal mereka yang tak pernah dalam mood yang baik itu. "Ah, biarkan lah. Dia memang suka begitu. Memang ibu-mu tak pernah galak padamu, umm?" dan apa yang membuat Matthew semakin kesal adalah gaya bicara sang Ratu yang seakan mengajak berbicara dirinya kala ia masih berusia 12 tahun―oke, memang sih itu waktu terakhir kali mereka bertemu sebelum hari ini, tapi itu 'kan sudah hampir 7 tahun yang lalu. "Jangan langsung kesal karena perlakuannya yang kasar. Begitu juga, kalau bukan karena dia, Ar-Dor tak akan mendapat penghargaan sebagai negeri dengan keamanan tertinggi, loh."
Kalau begitu sih, tak heran. Siapa yang tak takut pada sikapnya yang seperti itu, pula?
Dencingan alat-alat makan yang khas kembali terdengar. Bedanya dengan waktu itu, kali ini para hadirin dari dua kerajaan telah bersiap untuk menikmati makanan spesial yang dihidangkan di ruang makan istana Ar-Dor yang malam ini didesain dengan konsep fine dining yang menawan. Ruangan besar dengan nuansa Baroque dan Neo-Renaissance yang kuat pun ikut mengisi kemewahan ruangan ini yang tak henti-hentinya membuat Alfred nampak terpukau akan suatu ruangan yang bahkan istana kecilnya di Ar-Lacrima tak miliki.
Tapi rasa kagum itu harus berhenti kala sesuatu menendang lututnya. Dengan mengeluh kesakitan, Alfred menjumpai sang Kardinal baru saja memasang wajah kesal karena perlakuan Alfred yang kurang beradab, telah menengok-nengok ke sekeliling ruangan seperti tak pernah tinggal di istana saja. Alfred langsung diam, merasa bahwa tak perlu baginya untuk melanjutkan rasa terkesimanya karena tahu bahwa itu tak ada gunanya, toh, ia juga tak mau kena hajar lagi. Sudah cukup selama seharian ini tubuhnya telah mencecap rasa sakit karena dipaksa untuk terus mengikuti ekspektasi sang Kardinal ber-alis tumpuk tersebut, yang ternyata, ekspektasinya lebih tebal dari alisnya.
Lagipula ia menjadi lemah begini 'kan bukan salahnya sepenuhnya...
Cepat, makanan pun dihidangkan. Dimulai dari makanan pembuka berupa udang dingin yang diguyur oleh minyak zaitun terbaik, dan memiliki rasa rempah-rempah yang kuat. Alfred melahap makanan tersebut, sudah tak peduli akan apa pun lagi selama perutnya mampu terisi penuh. Hal itu pun membuat Arthur menggeram kesal, akan keberadaan Alfred yang sebenarnya berlaku sangat tidak beradab. Sekali, lalu dua kali tendangan datang lagi ke lututnya. Sepertinya jika setelah makan malam ini Alfred mendapati lututnya penuh dengan bekas-bekas luka, ia tak akan merasa heran.
"Jadi, bagaimana harimu disini, Alfred?" Moria mulai menyapa Alfred, teringat bahwa hari ini ia belum bercakap banyak dengan pangeran yang akan tinggal selama beberapa waktu di istananya ini.
Alfred melantunkan senyuman konyolnya seperti biasa, lalu menjawab pertanyaan Queen of Ar-Dor satu itu. "Sangat menyenangkan!" dan tentu saja, tak perlu butuh waktu banyak bagi Matthew yang duduk di seberangnya untuk tahu bahwa itu hanyalah bohong belaka. Mana mungkin menyenangkan jika harus belajar di bawah Arthur yang begitu keras mengajar seseorang yang selalu dimanja semacam Alfred?
"Oh, baguslah." Moria kembali tersenyum, lalu mengikuti pembicaraan suaminya dengan kedua pemimpin Ar-Lacrima yang duduk tak jauh dari mereka. Perjamuan malam hari itu pun kembali berlanjut dengan tenang, diisi dengan berbagai macam bunyi-bunyian alat makan yang terus berdencingan dan menu yang silih berganti seperti yang sudah ditentukan. Setelah udang, keluarlah sup jamur, dengan makanan utamanya hari itu berupa daging ikan panggang dengan kualitas terbaik, yang semakin membuat Alfred lahap membabat habis semua makanan yang ada.
Matthew menilik ke arah kedua pemimpin Ar-Dor yang sedang berbicara dengan wajah yang cukup serius dengan kedua orang tuanya, dan kemudian ia saksikan King Lovino mengecup pipi Ratu-nya, sebelum akhirnya berlalu pergi keluar dan memberi salam kepada para hadirin yang masih menikmati makan malamnya. "Maaf, izinkan saya keluar terlebih dahulu." sopan, King Lovino memberikan ucapannya.
Dan pintu pun ditutup.
Matthew yang semenjak tadi memperhatikan segala kondisi yang terjadi di ruangan tersebut mulai merasa sedikit tak enak. Lantaran bahwa jarang sekali seorang raja akan meninggalkan perjamuan jika sedang menyambut tamunya―dalam kasus ini, mereka, dari Ar-Lacrima―kecuali jika ada sesuatu yang benar-benar mendesak. Kepergian King Lovino dari ruangan itu juga diikuti oleh Kardinal Arthur yang nampaknya sedikit tergesa-gesa juga keluar dari ruangan. Beberapa saat berlalu pun, ia juga baru sadar bahwa butler yang mirip dengan sang Raja Ar-Dor itu juga tak ada.
Semakin merasa tak enak, ia pun kembali mengedarkan pandangannya ke arah meja makan. Jajaran makanan kelas atas dengan rasa yang tak kalah sedap masih belum diangkat di depan matanya, dan kedua orangtuanya juga masih bercakap-cakap dengan santai bersama dengan Ratu Ar-Dor, Moria Borques. Ia menilik ke arah kakak kembarnya, dan melihat bahwa anak itu semakin cepat melahap makanannya, apalagi karena kini, sang Kardinal sudah ada dan ganti ibunya lah yang mulai menginjak kaki Alfred yang mulai kelewatan.
Ya, semuanya nampak normal, tapi dalam benaknya, masih ada sesuatu yang terasa tak normal.
'Sepertinya ada yang aneh dengan semuanya ini.'
Trettioré les Ar-Rayvena
Kingdom of Ar-Rayvena
Orsträtt les Indié
Continent of Indies
Sosok wanita dengan model pakaian kimono yang sangat menawan dengan warna dasar berupa ungu, berjalan menuju sebuah ruangan dengan perlahan. Geta [2] yang ia kenakan perlahan membunyi semacam suara seperti klok, klok, yang membawa perhatian bagi para penjaga yang kini memberi hormat pada wanita dengan wajah yang memancarkan kehangatan dan penuh ketenangan tersebut. Rambut hitam sebahunya ikut berkibar sesaat ketika para pengawal manusia berkaki unta tersebut membukakan pintu besar yang menampilkan ruangan pribadi Raja Ar-Rayvena satu itu.
Klok, klok, klok.
Dan terus, geta itu berbunyi seraya sang wanita yang tak lain dari Ratu Ar-Rayvena berjalan mendekat ke arah Raja-nya yang nampak tersenyum, duduk pada sebuah ranjang besar yang tersingkap di balik kelambu ungu muda. Sang raja yang kini nampak jelas tak berbusana di bagian atas tubuhnya tersebut tersenyum, lalu menarik wanita yang merupakan istri tersayangnya itu ke arah dirinya, dan memberikan ciuman yang hangat dan dalam.
"Kau nampak lelah."
Lembut, sang raja membelai pipi ratunya yang kembali tersenyum hangat. Sebab bukankah seorang istri yang baik harus tetap tersenyum dan selalu memberikan yang terbaik bagi suaminya? "Ya, tuanku. Hari ini benar-benar berat bagi saya." dan perkara kesopanan juga termasuk dalam hitungan memberikan segalanya yang terbaik, tentu saja.
"Kuharap kau tidak merasa berat mendengarkanku sebentar saja." lagi, sang raja kini bergerak untuk mencium tengkuk istrinya, merasakan wewangian bunga Sakura yang hanya tumbuh di tanah Ar-Rayvena. "Ada perkara penting yang harus kukatakan padamu, Michiyo."
"Katakan saja, tuan. Aku tetap mendengar."
Sang Raja, Wang Yao, tersenyum. Istrinya benar-benar begitu pengertian dan sabar, dan hal ini membuat ia sering merasa beruntung karena dapat memiliki pasangan hidup semacam Honda Michiyo. "Bagus, aku tahu Michi akan tetap mendengarku." lalu ia kembali mengecup di beberapa helai rambut pendek yang terasa seperti sutera tersebut. "Karena aku butuh pertolongan Michi."
Michiyo bergetar sesaat, merasa sedikit sensitif pada hembusan dari suaminya yang bermain-main di sekitar rambutnya dan juga tengkuknya. Terlebih lagi karena kini tangan milik sang raja sudah menggapai perlahan dan mengekspos punggungnya yang terdapat tanda lahir berupa emblem yang melambangkan bahwa ia adalah Ratu Ar-Rayvena, menyentuh salah satu bagian yang paling sensitif dari tubuhnya tersebut. "U-uhm. Katakan padaku, tuan, dan akan kulakukan untukmu."
"Bisakah kau pantau pergerakan Ar-Dor?"
"Eh? Ar-Dor, tuanku?" sesaat terkesiap, sebelum kembali bereaksi karena tanda lahirnya disentuh lagi. "Te-tentu saja bisa, tapi untuk apa?"
"Mereka tengah bergerak cepat, dan yang kudengar dari kabar yang dibawa beberapa anak buahku, mereka sedang membangun hubungan persahabatan yang lebih intens dengan Ar-Lacrima." Wang Yao melanjutkan perkataannya. "Dan kau tahu, bukan, apa artinya?"
"Ya, tentu tuanku. Ar-Lacrima beraliansi dengan Ar-Lucria." Michiyo menjawab pertanyaan Yao, mencoba untuk fokus pada perkataan Yao dan tidak mudah teralihkan pada perasaan sensitif di sekujur tubuhnya karena sentuhan-sentuhan dari sang Raja. "Ji-jika Ar-Lacrima berhasil menjalin aliansi dengan Ar-Dor, otomatis, Ar-Dor akan ikut menjadi mu-musuh kita. Bukankah itu, tuanku, supaya Ar-Dor tetap dalam pa-pantauan kita dan sebisa mungkin, mereka tidak masuk dalam hal ini...?"
"Bagus, bagus. Michi memang pintar." kali ini Yao melumat bibir sang ratunya sekali lagi dengan penuh keinginan untuk mendominasi sang istri. "Sekarang biarkan aku memberikan hadiahmu karena Michi sudah menjadi anak yang pintar."
Dan selanjutnya, biarlah desah napas dan eranga di balik kelambu ungu itulah yang bercakap.
Trettioré les Ar-Dor
Kingdom of Ar-Dor
Orsträtt les Indié
Continent of Indies
Arthur Kirkland mendesah berat.
Ia benar-benar bingung bagaimana harus menyikapi seorang Alfred Fitzgerald Jones, dan ia tak mengerti bagaimana seharusnya ia mendidik seseorang karena satu hal yang memang sangat jelas. Ia tak pernah mengajar seseorang, sekali pun.
Dan disinilah ia, disuruh oleh sang Raja bedebahnya untuk mengajar seorang pangeran yang sangat kekanak-kanakan. Jujur saja ia kecewa, masa' seorang pangeran yang akan segera menjadi raja hanya dalam hitungan beberapa tahun saja―belum lagi, ia anak dari Joan d'Arc!―berlaku semalas itu! Arthur mengibaskan tangan kirinya, sehingga tubuhnya yang kini sedang melayang di udara, mengarah ke sebelah kirinya, dan tak lama kemudian, mendarat dengan mulus di salah satu bagian rerumputan di tepi danau ini, masih dengan perasaan kesalnya.
Danau kecil di salah satu pulau melayang yang tak jauh dari kastil Ar-Dor ini memang salah satu tempat yang indah. Memang, namanya danau kecil, dan di sekitarnya hanya ditumbuhi oleh pepohonan yang berjenis pinus dan sejenisnya, namun tempat ini benar-benar memiliki keindahan yang sangat berbeda. Tentang bagaimana bayangan bulan terefleksi dengan indah pada permukaan air yang tenang tak beriak, dan rerumputan yang lembut, tempat bersarangnya embun yang menyejukkan kala pagi nanti datang. Dari kejauhan terdengar juga kerincingan melodi dari bunga lonceng―ya, bunga-bunga di tempat ini bisa 'bernyanyi', tidak seperti bunga yang ada di tempat kalian―yang seolah menjadi iringan instrumental para jangkrik yang mengadakan konsernya di malam ini.
Arthur kembali mendesah. Ia begitu menyukai tempat ini, dan mau tak mau kenyataan itu membuat senyumannya mengembang kecil, membuat dirinya nampak begitu manis dan benar-benar berbeda dari kondisinya sehari-hari yang terlihat Kardinal-super-tegas-yang-tidak-akan-terima-pengecualian-apa-pun. Semilir angin yang bertiup di sekitarnya dan berhembus di sela-sela rambut emas gelapnya tersebut membuatnya semakin menikmati malam yang benar-benar tenang ini―
―kalau saja sesuatu tidak terantuk di kepalanya dengan sangat keras.
"Augh!" Arthur berseru, melirik ke arah sekitarnya dan benar-benar yakin bahwa yang barusan bukanlah buah pinus yang jatuh menghantam kepalanya karena memang ia tidak duduk tepat di bawah pohon pinus. Sesuatu yang lain, tapi cukup keras, dan kemungkinan besar mampu bergerak akan kemauannya sendiri, tapi apa? Well, bisa saja itu musuh, dan hal itu menjadi satu dalih yang baik untuknya mencabut kalung yang kemudian berubah menjadi tongkat yang cukup panjang dengan ukiran uniknya, bersiap menembakkan kekuatan sihirnya kapan pun yang ia mau.
Krek.
Bunyi dahan yang patah. Datang lagi dari arah lain.
Srek, klotak.
Lagi, sepertinya tidak hanya ada satu orang atau mungkin sesuatu yang berada di sekitarnya. Mau berapa pun jumlahnya, Arthur bisa menyimpulkan bahwa ia tidak sendirian di pulau ini. Pegangannya pada tongkat miliknya semakin menguat, dan jubah putihnya ikut berkibar kecil seiring dengan kilat-kilat berwarna putih bercampur emas yang memancar di ujung tongkatnya, merasa bahwa benar-benar ada sesuatu yang mungkin saja mampu mengancam jiwanya―
"Ufft―!"
―dan hanya untuk menjumpai seekor kelinci yang menyerang langsung ke wajahnya.
"Oh, astaga!" dengan cepat, tangannya menggamit kelinci tersebut dan menatapnya langsung. "Ternyata hanya kelinci―" dan semakin dikagetkan pada kenyataan bahwa kelinci yang tengah ia pegang ternyata perlahan pecah dan berubah menjadi abu, bertebaran di rumput sebelum akhirnya dihempaskan angin, kembali pada sebuah arah. Bersamaan dengan beberapa abu dengan wujud yang kurang lebih sama persis, mengarah ke dalam pepohonan pinus yang semakin rimbun di dalam.
Disanalah, ia menjumpai banyak abu yang kemudian berkumpul, masuk kembali pada satu buku yang kini mulai membentuk banyak gambar dari halaman demi halamannya berkat abu-abu yang kembali masuk ke dalamnya lagi. Arthur mendesah kecil, ternyata hanya sebuah sihir iseng yang digunakan oleh... Pangeran idiot ini.
'Kenapa anak ini bisa ada di sini pula...'
Arthur harus bertanya, darimana seorang Alfred Fitzgerald Jones tengah berada di rimbunan hutan, dengan buku gambarnya, tertidur lelap meninggalkan semacam sihir yang belum selesai sampai-sampai seisi buku gambarnya keluar. Tapi pertanyaan itu sama sekali tak dapat terjawab dengan kondisi si caster yang kini tertidur lelap dan Arthur hanya mampu menjentikkan jarinya untuk membersihkan semua kekacauan yang ada, lalu membawa gambar-gambar yang kini telah menjadi nyata, kembali masuk lagi dalam buku gambarnya, diam kembali tak bergerak.
Arthur menutup buku gambar itu, dan baru sadar bahwa di sekitarnya terdapat beberapa perkamen lainnya. Beberapa tertulis dengan tulisan yang amat berantakan―oh ya ampun, jangan katakan ini tulisan si pangeran bedebah satu ini―dan beberapa lagi tertulis dengan tulisannya. Tak perlu waktu lama untuk menyadari bahwa semua perkamen ini adalah kumpulan catatan pelajaran teori yang ia berikan pada Alfred dalam waktu beberapa hari. Kesimpulan sementara yang bisa ia dapatkan adalah Alfred sedang belajar di tempat ini, lalu tertidur pulas karena kelelahan akibat... entah, mungkin karena anak ini benar-benar berusaha untuk belajar.
Tapi darimana anak ini bisa mencapai tempat ini? Atau biarkan ia koreksi pertanyaannya, darimana anak ini tahu tentang tempat ini? Ya, tempat ini memang terpencil, dan hanya beberapa orang yang tahu lokasinya karena memang pulau melayang satu ini sengaja dibuat oleh Arthur untuk tak dapat ditemukan oleh sembarang orang kecuali yang memang ia inginkan untuk masuk.
Yah, sudahlah, ia bisa tanyakan hal itu besok kalau anak ini sudah terbangun, dan biarkan dirinya kembali membuat lingkaran besar di sekelilingnya untuk membawa dirinya dan anak ini kembali ke kamarnya di kastil Ar-Dor. Tak perlu waktu lama bagi Arthur untuk meletakkan semua barang-barang yang berhasil ia temukan di sekitar anak itu, dan semuanya itu mudah saja dengan kekuatannya untuk membawa tubuh Alfred ke atas ranjang, dan menyelimutinya tanpa harus membuat anak itu terbangun.
'Mungkin aku memang terlalu keras padanya...'
Iris hazel itu berkilat dengan sedikit kecemasan, walau hal kecemasan itu tertutup dengan baik oleh perasaan yakin yang mulai membara. Sosok yang tak lain dari Lovino Vargas itu pun kemudian bersiul kencang, dan membuat banyak bulu-bulu hitam yang halus seperti sutera tersebut mengelilingi di sekitarnya, sehingga muncul sesosok berkerudung hitam tepat di sampingnya.
"Fratello memanggilku, Ve?"
Tak ada suara yang menjawab pertanyaan itu, namun sebuah anggukan cukup untuk membuat lelaki di balik kerudung hitamnya melanjutkan pertanyaannya. "Dan apa yang fratello mau lakukan kali ini?"
"Aku merasa bahwa wanita itu sudah mulai bergerak, dan aku percaya bahwa kau bisa tetap mengawasi dia untuk tidak berbuat macam-macam." Lovino menjawab pertanyaan sang lelaki berkerudung hitam, yang tak lain dari adiknya sendiri, Feliciano Vargas. "Kau tahu 'kan, apa yang harus kau lakukan, mi fratellino?"
Tawa kecil terdengar dari sang fratellino―sang adik―yang kini menampakkan kilau matanya yang terpapar oleh pantulan sinar dari bulan. "Tentu. Dan apakah aku harus melepaskan segel bawah tanah kita, sekarang?"
"Jangan, bodoh. Terlalu cepat untuk itu." sang Raja Ar-Dor menjawab dengan cepat. "Jangan bertindak gegabah. Aku tak tahu pasti apa alasan mereka untuk memantau kita, dan juga aku tak mau jika perang terjadi dan sudah cukup banyak kematian yang sudah kita saksikan. Cukup pantau saja mereka, dan biarkan aku pikirkan sesuatu selama kau bisa memberiku apa yang kumau."
Walau sepertinya, tak ada gunanya akan apa pun yang akan kulakukan untuk menghindari perang.
"Baik, tentu saja fratello bisa mengharapkan yang terbaik dariku, Ve." senyuman itu kembali pada sang adik yang kini mulai mengeratkan jubahnya yang sedikit merosot. "Buona Notte, mi Fratello." [3]
Lovino hanya dapat mendesah, dan kemudian menutup pintu balkonnya seiring dengan menghilangnya sosok sang adik.
.
.
To Be Continued
[1] Raila : Mata uang di dunia ini. 1 Raila sama dengan seribu rupiah
[2] Geta : sepatu kayu tradisional Jepang
[3] Buona Notte, mi fratello ( Italian ) : Selamat malam, kakakku
A/N : oh ya, saya kembali ngapdet ini ahahahaha. Sepertinya saya masih hidup.
Chapter depannya saya gak tau kapan update ya, saya lagi kegencet sama banyak kerjaan dan pertandingan orz.
