/lalu apakah kau hanya akan meraung untuk mendapatkan dirimu kembali, wahai jiwa yang terluka—/

.

.

.


Disclaimer: Kuroko no Basket adalah properti milik Fujimaki Tadatoshi. Saya hanyalah fans yang kagum dengan karyanya dan tidak mengambil keuntungan apapun dari publikasi fanfiksi ini.

Warning: Future!AU, BL. Aokise, Kagakuro, possibly OOC karena saya suka melihat mereka menye-menye kalau lagi galau. Timeline loncat-loncat, hati-hati membacanya. Maaf yang satu ini masih pendek, karena intermezzo adalah intermezzo dan saya galau karena tip-off yang banyak nampilin kikuro _(:'3_/ *elus-elus aomine*

Other than that, selamat membaca!


.

.

.

Kise memeluk kedua lututnya, membisu di antara kehampaan.

Dia tidak seharusnya berada di sini. Tidak—tidak dengan kaus putih sederhana yang membalut bagian atas tubuhnya, tidak dengan jemari kaki yang dibiarkan menapaki permukaan dingin sebuah dimensi tanpa batas. Permata kembar itu kosong, betul-betul kosong seolah kau bisa menerawang masuk ke dalamnya; tidak lagi berkuasa untuk menyepuh obyek-obyek di sekitar dengan hangat bak udara musim panas.

Di seberang sana, ada sebuah jam pasir yang menunggu untuk dibalik, tahu bahwa suatu saat akan ada tangan yang mampu meruntuhkan kesunyian yang membentuk tempat ini.

Tik, tok.

Kelopak mata mengerjap.

Kise bertanya-tanya apakah benda itu bisa membantunya keluar dari tempat ini.

.

.

.


Dua buah bawang merah menatap balik mata biru tua yang mengamati tiap lapis umbinya, sebelum meraih sebuah pisau sayur yang mendesis tajam ketika Aomine mengiris salah satunya menjadi penampang-penampang halus. Hidup sendirian selama lebih dari sembilan tahun membuat pemuda itu mahir dalam urusan dapur memotong kaldu, walau berantakan. Memanggang daging, walau lidahnya masih akan merasakan bagian yang tidak dimatangkan. Dia bahkan mampu menciptakan beberapa kudapan sore, asal kamu tahu, walau penampilannya tidak akan bisa menyamai level makanan yang dipajang di etalase toko roti.

Aomine berusaha untuk tidak mengerjap, sebab air mata yang tertahan di sudut permata elektrik itu akan bobol jika dia mengerjap sekali saja. Menjengkelkan, bawang merah itu. Di antara suara ujung pisau yang beradu dengan papan kayu, Aomine bisa mendengar suara langkah kaki berderap menuju dapurnya.

...berderap.

Lebih seperti tidak menapak.

"Aominecchi?"

Aomine tidak mengerahkan sepeser usaha apapun untuk membuka mulutnya. Nama itu dibiarkan menguar di udara, menyisakan suara bawang merah yang teriris.

"...tidak lekas pergi?"

Dia tidak lagi mengerti. Kise memiliki kebiasaan untuk tidur sampai matahari berada di posisi teratas langit setelah menyempatkan dirinya sendiri untuk mengucap 'hati-hati' dan mencium kedua pipi sebelum Aomine berangkat kerja. Kondisi tubuhnya lemah, masih terbayang ekspresi wajah Kise tatkala pertanyaan yang serupa diluncurkan kepada yang bersangkutan, tersenyum penuh arti dan tidak membiarkan Aomine memahami alasan di balik senyum itu.

(Oh, Aomine tahu.)

(Dia hanya tidak ingin menerima fakta bahwa dia paham.)

"Duduk dan perhatikan," Aomine berkata dengan nada rendah, sembari mengeluarkan dua buah telur segar dari kulkas yang terbuka. Tidak ada respon, artinya Kise masih menunggu penjelasan lebih lanjut. Biner kembarnya melirik cepat sebelum akhirnya melanjutkan, "aku ambil cuti. Siang ini panas sekali, kau tahu, siapa juga yang mau menghabiskan waktunya berpatroli sambil dibakar matahari. Kau belum makan sejak pagi, bukan?"

"Eh," ada suara bangku yang ditarik, dan tubuh yang didudukkan. Aomine membawa mangkuk berisi telur yang telah dikocok rata dengan irisan bawang merah berenang-renang di dalamnya, atensi beralih pada jaring-jaring emas yang memahkotai seorang Kise Ryouta. Jemarinya bergerak menyalakan sumbu kompor ke titik yang paling tinggi dan timbul suara csssh yang bergetar ketika Aomine menuang seluruh likuidasi dari dalam mangkuknya ke atas material stainless-steel.

Kise memperhatikan, Aomine tahu.

"Mau kubantu, Aominecchi?"

"Tidak perlu."

Rengekan pelan.

"Tapi bukankah," Kise bangkit dari bangkunya, begitu cepat sampai Aomine baru menyadari kehadiran sang kekasih di sampingnya sepersekian detik setelah pandangan lazulinya mendapati bahwa Kise tidak lagi berada di hadapan. "Bukankah kita akan lebih cepat menikmati hidangannya kalau Aominecchi mendapatkan bantuan, hm?"

Bantuan yang tidak berguna, maksudmu.

"Heh."

Kise menyambar asal pisau yang digunakan untuk mengiris bawang beberapa saat yang lalu, dan Aomine bisa merasakan syaraf sensoriknya mengirim sinyal refleks untuk segera menghentikan tangan pucat itu. Tersentak, Kise melempar pandangan penuh tanda tanya kala mendapati sebelah tangan kecoklatan menggenggam erat pergelangan tangannya, seolah sesuatu yang buruk bisa saja terjadi andai Kise berhasil mengangkat pisaunya.

"...Aominecchi?"

"Letakkan pisaunya."

"Tapi—"

(—aku ingin membantu!)

"Letakkan pisaunya," Aomine menggeram, "sekarang."

Kise tidak membantah.

Hening menyelimuti.

"Aku tidak ingin sesuatu yang buruk menimpamu, oke," jelas Aomine pada akhirnya. Ada nada trauma yang tersirat ketika Aomine melingkarkan kedua tangannya ke pinggang sang kekasih, menariknya ke dalam sebuah pelukan hangat. Agar dia bisa membelai surai keemasan Kise, agar harum bunga kamomil yang menempel pada tubuh Kise merasuk permanen ke dalam sukmanya. Kise merileks, menyukai belaian yang dibubuhkan di kepala, lengannya merambati punggung Aomine. Menghapus jarak, membiarkan detak jantung mereka beradu. "Tidak lagi. Tidak setelah aku kehilanganmu."

Bibir tipis itu menghela napas bahagia.

"Aku tahu."

Di belakang mereka, ada telur goreng yang menggosong.

.

.

.


Aomine beruntung bisa memiliki Momoi di sisinya, bibir tipis sang dara membisikkan kata-kata syahdu yang diterima membran timpaninya sebagai penenang kalbu.

("Ki-chan mencintaimu, Dai-chan. Dia tidak ingin melihatmu meneteskan barang setitik air mata atas semua kejadian yang menimpanyaaku yakin, amat yakin.")

Seolah krisantemum yang kontras dengan jaring-jaring emas yang terperangkap dalam sebuah bingkai foto di sudut utama Krematorium Kanagawa akan menjawab segala sesuatunya. Berbagai macam potret diri diletakkan di atas peti hitam—yang diibaratkan sebagai linimasa kehidupan sosok yang seharusnya berada di dalam peti, seharusnya mengenakan pakaian terbaiknya, seharusnya dikelilingi bunga matahari yang menjadi substitusi keindahan mata pemiliknya.

Mereka tidak berhasil menemukan jasad Kise.

Nilakandi menjelujuri satu demi satu potret diri yang terpajang. Jemari gembil yang berusaha meraih setoples kue di atas meja, senyuman kekanakkan yang bangga akan randoseru pertamanya, toga hitam yang menggelapkan suasana sehingga mata berwarna madu itu mampu berpijar terang—ada napas yang tercekat ketika jelujurannya sampai pada potret seorang Kise Ryouta yang mengenakan seragam Kaijou, berakhir dengan sorot mata penuh percaya diri di bawah topi pilot kebanggaannya.

"Dai-chan."

Aomine tidak menghiraukan tepukan di bahunya.

"Letakkan bunganya, Dai-chan, upacara akan segera dimulai."

Lalu Aomine akan diajari bagaimana caranya mengucapkan selamat tinggal dengan benar.

Entitas demi entitas datang menghampiri, begitu banyak namun kompak sehingga Aomine tidak perlu menolehkan kepalanya untuk mencari tahu. Akashi Seijuurou datang dan berdiri bersebelahan dengannya, ada krisantemum menggantung di tangan yang mahir beradu di papan shougi, menunggu untuk diletakkan bersama-sama dengan krisantemum yang lain. Kombinasi krimson dan emas itu menutup perlahan, membisikkan seutas doa sebelum kembali menengadahkan kepalanya.

Mata itu tidak kontras.

Menusuk.

"Angkat dagumu, Daiki. Jadilah pria yang kuat."

Aomine ingin tahu bagaimana caranya.

"Ryouta akan bahagia di dunianya."

Sedangkan Aomine tidak.

Bagaimana dia bisa menjadi sosok yang kuat, jika tangan yang berhasil menumbuhkan kekuatan spiritual pada ruhnya telah hilang ditelan langit; lantas digantikan dengan tangisan-tangisan yang tiada berhenti?

.

.

.


(rrrrrrrrrrrrrr)

"Ya, Aomine-kun?"

"Tetsu, bantu aku."

"...membantumu?"

"Tentang Kise."

"..."

"Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan, oke, aku butuh bantuanmu—kau dan Kagami. Kau bisa datang malam ini, Tetsu, bawa Kagami atau Satsuki atau Midorima atau siapapun yang bisa membuat Kise berhenti mengoceh dalam tidurnya... sesuatu tentang sebuah janji dan jam pasir dan dia harus kembali ke asalnya."

"Aomine-kun—"

"Aku tidak mau kehilangan dia lagi."

"Aomine—"

"Keparat itu tidak boleh pergi kemana-mana."

"Tolong dengarkan aku—"

"Tidak setelah dia meninggalkanku untuk yang pertama kalinya, Tetsu, kau tahu bagaimana rasanya kehilangan orang yang kaucintai—lantas kau harus kehilangan dia untuk yang kedua kalinya. Kembali ke asalnya, ha, cium saja pantat ibumu."

"Maka dari itu aku harap kau mau berhenti sebentar—"

"TETSU—"

"AOMINE-KUN!"

"..."

"..."

"..."

"...kau perlu istirahat."

"..."

"Kise-kun sudah tidak ada lagi di dunia ini."

"..."

"Dan apapun yang terjadi hanyalah halusinasimu, Aomine-kun, tentang apa yang kaubicarakan tentang menjaga Kise-kun untuk tetap tinggal..."

"...tapi—"

"Aku akan mampir ke sana. Taiga dan aku akan membawa makanan."

"Untuk membantuku."

"Untuk membantumu."

"...menolong Kise?"

"Melepas penat yang ada. Aku minta maaf, Aomine-kun, tetapi aku tidak pernah percaya adanya takhayul."

"..."

"Kau harus menerima kenyataannya, bahwa—"

"Stop."

"—bahwa pesawat yang dibawa Kise-kun—"

"Aku bilang berhenti, Tetsu!"

"—menabrak—"

KLIK.

(piip)

.

.

.

"...Aomine-kun?"

.

.

.


"Gochisousama!"

Kise mengatupkan kedua telapak tangannya cekatan setelah membereskan alat makannya, diikuti dengan 'gochisousama' yang digumamkan Aomine dengan malas. Jam dinding menunjukkan pukul setengah satu siang dan kedua pemuda sama sekali belum melakukan apapun yang produktif hari ini—kecuali beberapa ciuman pagi di ranjang yang mengantarkan Kise pada tidur paginya, tentu saja, membuat Aomine tidak bisa menahan diri untuk tidak menguap lebar-lebar setelah menyantap semangkuk sup miso dan telur goreng yang gosong di beberapa bagian.

"Aominecchi sudah semakin mahir," Kise menjilat bibir atasnya—Aomine mau tidak mau harus mengakui betapa mata itu tidak mampu melepaskan atensi terhadap gestur kekasihnya—setelah meneguk beberapa tenggak jus jeruk dari cangkirnya. "Kau seharusnya mengajariku memasak, Aominecchi, sehingga suatu saat nanti aku bisa menghidangkan beberapa masakan buatan sendiri..."

Merupakan impiannya, dulu, sebelum pesawat yang dikendarai Kise menabrak salah satu punggung bumi.

"Seperti Kagamicchi."

Aomine mendelik.

"Kurokocchi adalah salah satu yang beruntung, menurutku."

Aomine memutar bola matanya.

"Mereka akan datang malam ini." Ia berkata tegas, berusaha mengusir bayang-bayang bahwa mereka secara teknis telah gagal mewujudkan impian satu sama lain. Aomine meregangkan kedua lengannya ke atas, menguap lebar sekali. "Ada pertandingan basket di salah satu saluran lokal malam ini, dan kami memutuskan untuk menonton bersama di tempatku, kamu tahu—Kagami yang akan membawakan makanan. Aku tidak perlu masak malam ini."

"Kegiatan seperti ini," Kise mengetuk jemarinya ritmis di permukaan meja, "rutin?"

"Pertama kali setelah tragedi."

...

"Mereka tahu keberadaanku?"

"Tidak."

.

.

.


"Aomine-kun, membeli bunga yang salah?"

Seorang Kuroko Tetsuya bertanya pada hari yang sama, beberapa saat setelah Akashi meninggalkannya sendiri bersama peti kosong sebagai simbol penghormatan.

"Tidak."

"Kupikir..." ada jeda yang dibiarkan menggantung oleh sang mantan bayangan, dan Aomine menunggu. Hanya ada napas yang dihela alih-alih lanjutan kalimat, dan Kuroko menambahkan, "...bukan apa-apa. Kise-kun pasti bahagia, menerima afeksi yang begitu signifikan darimu."

Aomine memperhatikan Kuroko meletakkan setangkai krisantemum tepat di depan potret diri Kise yang mengenakan seragam Kaijou, melakukan gestur yang sama dengan semua orang yang mampir untuk meletakkan setangkai-dua tangkai krisantemum sebagai tanda penghargaan sosok di hadapan—mengatupkan kedua tangannya, melantunkan doa yang nantinya akan mewujud sebagai alunan melodi, terus naik ke atas sampai eksistensi yang bersangkutan akan mendengar serentetan nada tersebut; lantas akan merasa dicintai, begitu dihargai dan dihormati, sehingga kepergiannya dari dunia tidaklah sia-sia.

Kise, dengan segala kebodohan yang dimilikinya, adalah orang yang teramat dihormati oleh Kuroko.

"Ayo, Aomine-kun."

Kuroko mengulurkan tangannya.

Aomine meletakkan sebuket bunga di tengah-tengah peti, atensi terfokuskan pada spektrum yang menyala tanpa dipaksakan di atas peti mati. Ia kemudian menerima ajakan Kuroko untuk kembali ke barisan agar upacara penghormatan bisa dimulai. Betapa berpasang-pasang mata akan menatapnya heran, dia tidak akan peduli. Betapa perlakuannya mungkin akan mematahkan tradisi yang telah ada, persetan dengan semua tentang itu.

Bukan sebuket krisantemum pemberian Aomine yang membuat orang tua Kise merasakan dada mereka seolah dihunjam seribu tombak.

Bunga matahari itu memiliki tempat tersendiri.

.

.

.


"Yo, Ahomine."

"Selamat sore, Aomine-kun."

"Kurokocchi! Kagamicchi!"

Krimson dan biru langit sama sekali tidak menyadari adanya warna emas yang memandang penuh rindu.

.

.

.


chapter one - end