Lagi-lagi hari seperti ini kembali terjadi... aku dan Kagami dihadang oleh kawanan black itu lagi. Haah... tapi apa boleh buat, kawanan black itu pasti mengincar darah manusia yang segar dan hebat.
Darah...
Seperti darah Kagami...
DEG
'Ugh, tidak... tidak lagi...' Keseimbanganku mulai hilang dan kakiku gemetar. Aku mencoba bersandar di pintu sambil memegang kepalaku. Mataku terpejam menahan betapa sakitnya kepalaku.
'Ayo Kuroko, kau harus kuat!'
Ya benar! Aku harus bisa kuat dalam menghadapi hal-hal yang terjadi disekelilingku.
"Kuroko-cchi? Kuroko-cchi? Kamu kenapa?" Bisa kurasakan seseorang menghampiri dan memegang bahuku "Oh tidak lagi, Kuroko... kamu harus kuat"
Orang itu kemudian memelukku erat dan mengeluskan tangannya di kepalaku. Bisa kudengar suara cemasnya yang berusaha menenangkanku. Kubuka mataku perlahan. Walau masih buram, aku dapat melihat sekelebat rambut blonde.
"Ah... Kise-san... aku baik-baik saja..." Kataku pelan. Jujur saja sebenarnya kepalaku masih pusing. Tapi aku tidak ingin membuat Kise-san, yang sudah seperti waliku ini khawatir.
Kise-san mulai melepas pelukannya dari tubuhku. Diperhatikannya diriku dari atas sampai ke bawah, basah penuh air hujan. Ah, iya. Gara-gara pertarungan dadakan itu payungku rusak.
"Ini... pasti darah kan, Kuroko-cchi?" tanyanya penuh selidik. Tangannya memegang kemejaku yang basah. Mukanya menunjukan bahwa dirinya tidak suka dengan ini. Ah, kupikir bekas darah tadi sudah terbilas air hujan. Kise-san memang jeli.
"Iya... tapi tadi aku tidak ngapa-ngapain kok. Hanya ada insiden kecil di jalan..."
"Ya, dan kau masih berteman dengan bocah hunter itu kan? Huuh...!"
"Sudahlah, Kise-san... Kagami-kun menjagaku kok."
"Iya aku tau, tapi kan kalau kau dekat dengan dia, kamu juga akan diserang kawanan black itu!"
"Tapi aku-"
"Kalian ini ngapain sih ribut-ribut disini?!" Ah, Midorima-san muncul. Tangannya dilipat ke depan sambil memegang pisau dan tomat. Mukanya terlihat kesal.
"Midorima-cchi...! Lihat! Kuroko-cchi tidak mau menurutikuuu~" kata Kise-san manja. Dirematnya apron(1) putih panjang bermotif bunga yang dipakainya. Kulihat Midorima-kun menatapku tajam, menyadari apa yang diributkan kekasihnya.
"Kise, lebih baik kau membantuku memasak. Ah, dan jangan memanggilku dengan embel-embel aneh seperti itu. Kau juga Kuroko, cepat mandi dan bersiap untuk makan malam!"
Aku mengiyakan saja perkataan Midorima-san. Lebih baik menurut atau dipotong-potong menjadi bagian-bagian kecil sebagai pengganti tomat yang dia bawa.
Aku pun menuju kamarku di lantai dua. Rumah ini cukup besar mengingat lumayan banyak orang yang tinggal disini. Setidaknya cukup untuk membuat waktu makan bersama atau menonton TV bersama menjadi ramai. Selepas itu kami lebih memilih untuk sibuk dengan urusan masing-masing.
Aku pun meletakan tasku yang penuh lumpur. Mengeluarkan semua barang didalamnya dan turut membawanya ke kamar mandi bersamaku. Untung tasnya terbuat dari kulit, jadi buku-bukuku tidak basah dan aku hanya tinggal mengelapnya sampai bersih. Ah bajuku juga. Nanti aku bisa dimarahi Kise-san kalau ada bekas darah lagi...
Oh iya, Kise-san dan Midorima-san adalah sepasang kekasih. Kenapa? Heran sesama lelaki bisa menjadi kekasih? Kiyoshi-senpai saja boleh suka sama Hyuuga-sensei, kenapa tidak? Aku kan juga suka- ah maaf jadi curhat. Mereka berdua juga tinggal di rumah ini. Diantara yang lain, Kise-san yang paling menjagaku seperti anaknya sendiri. Makanya dia sebenarnya paling tidak suka kalau aku harus dekat dengan Kagami-kun dan terlibat pertarungan yang menurutnya tidak penting itu. Selain itu, Kise-san juga bekerja sebagai model terkenal. Baik untuk iklan di tv, majalah, bahkan catwalk pun sudah pernah dia lakukan. Wajahnya yang tampan sekaligus manis itulah yang menjadi incaran setiap orang. Walaupun bagiku sih dia hanya pria dewasa yang terlalu cerewet tentang diriku...
Beda dengan Midorima-san. Dia lebih, ralat, sangat tegas dan selalu berpikir sesuai logika. Yah, mungkin itu karena profesinya debagai dokter bedah yang menjadikannya seperti itu. Mengesankan dia bisa bertahan di tempat yang bernama rumah sakit, pasien, dan bedah... dan lagi yang kuheran, dari awal bertemu dengan Midorima-san, dia selalu membawa barang-barang aneh yang dia anggap dan percayai sebagai 'benda keberuntungan'. Yang aku heran, semua hal yang dikatakannya mengenai horoscope itu selalu benar. Heran.
.: LE ROUGE EST AMOUR :.
[Red is Love]
Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki
Le Rouge est Amour © SCL Project
Warning : AU, vampire fic, OOC, OC, typo, dll…
Pairing : KagamixKuroko slight AominexKuroko, dll…
[Blood two : True Vampire]
"Kuroko-cchi, makanan sudah siap!"
Samar-samar dapat kudengar suara teriakan dan langkah kaki Kise-san yang berlari ke lantai dua.
Aku pun membereskan buku-bukuku ke laci meja belajar dan bangkit dari kursi.
Krieeeeet
"Kuroko-c—u… uaaaaa"
Kise-san yang kaget karena aku sudah berdiri di depan pintu. Ia pun berhenti mendadak.
"Makanannya sudah siap, Kise-san?"
"Ku- Kuroko-cchi! Kok tau kalau Aku mau ke kamarmu?"
Haaah~ jelas tahu karena kau berisik sekali…
"Aku mendengar Kise-san tadi."
"Ah! Kalau begitu ayo makan! Semuanya sudah berkumpul!"
'Semuanya' eh? Benar?
Kami yang tinggal di rumah ini memang tidak mempunyai hubungan keluarga yang khusus. Aku pun begitu. Aku bisa tinggal di sini karena salah satu dari mereka yang membawaku…
Tapi nggak mungkin 'lengkap' kan…
-o-o-o-o-o-
"*nyam* Seperti biasa, Kise-chin berisik sekali… *nyamnyam~~*"
Tap tap tap
"Kuroko-kun sudah kupanggil dan—hey! Murasakibara-kun! Jangan makan snack sebelum makan malam!" Kise merebut snack yang dipegang Murasakibara.
Brak!
"Ha-hartaku! Kembalikan hartaku!" Murasakibara mengebrak meja makan, semuanya jadi ricuh. Pemandangan sehari-hari…
Aku yang baru datang langsung mengambil tempat duduk di meja makan. Melihat kelakuan Murasakibara-kun dan Kise-san yang saling berebut dan menyembunyikan snack. Sementara Midorima-san hanya menggeleng-geleng kepala dengan raut muka kesal sambil menyiapkan makanan di meja makan.
"Kise, Murasakibara… jangan berisik."
Deg
Semua orang di ruang makan terdiam. Ya, aku pun tidak berani mengeluarkan sepatah kata, apapun itu, jika sudah ada dia… sang pemilik rumah yang paling kami hormati sekaligus segani.
Dia datang dengan membawa hawa yang tajam, selayaknya dialah yang berkuasa dan terkuat di sini.
"A—Akashi-san… maaf." dan Kise-san pun segera merebut snack Murasakibara-kun selagi si pemilik snack bengong. Dan ketika sadar ia langsung men-deathglare Kise-san.
Akashi-san berjalan mendekat. Dia kemudian memegang pundakku dan mengelus kepalaku.
"Semuanya sudah 'lengkap', kan? Bagaimana kalau kita mulai saja makan malamnya."
Senyumnya... aku tidak suka.
"A-aah... baiklah, ayo dimakan! Menu hari ini adalah yakiniku!... kesukaan Murasakibara-cchin." Kise-san melirik Murasakibara-kun dengan tatapan 'kau berhutang budi padaku'.
"Ya, ya... kali ini aku memaafkanmu. Tapi jangan seenaknya mengambil snackku!" kata Murasakibara-kun malas tapi dengan tatapan menusuk. Dia mulai mengambil banyak nasi, yakiniku, dan lauk lainnya.
Murasakibara-kun juga salah satu penghuni rumah ini. Dia sebenarnya salah satu senior di sekolah dan sekelas dengan Teppei-senpai. Tapi dia lebih memilih untuk menutup diri dan tidak peduli dengan sekitarnya. Di rumah pun begitu, dia hanya senang berada dikamarnya tanpa seorang pun boleh masuk ke dalam.
Dan lagi, pria yang bernama Akashi. Akashi-san adalah pemilik rumah ini sekaligus 'yang paling disegani' bagi kami. Dia bekerja di bagian pemerintahan dan selalu pulang pada jam makan malam. Jika tidak bekerja ke kantor, dia biasanya mengurung diri di kamarnya. Memang kita semua mematuhinya karena dialah yang menghidupi para penghuni rumah dan mengijinkan kita tinggal di rumah ini. Tapi kenyataannya, bukan hanya itu saja alasannya…
-o-o-o-o-o-
"Gochizousama."
"Aaah... kenyang, kenyang! Nee, Kuroko-cchi, bagaimana makanannya? Enak?"
"Aku paling suka pai apelnya..."
"Ah, Kise-chin, painya kurang banyak!"
"Dasar gluton! Kau sudah makan tiga loyang sendiri tau!"
Twitch
Twitch
Tuh kan berantem lagi... Murasakibara-kun memang selalu minta makan lebih, aku heran, sepertinya hasil kerja part time nya habis hanya untuk membeli berbagai persediaan snack di kamarnya, ckck…
"Aku ke kamar dulu." Pamitku.
"Tunggu Kuroko."
Deg
"Bisa kau ke ruanganku dulu? Aku ingin bicara sebentar."
Lagi-lagi... semuanya hening dan hanya bisa memandang ke arahku dan Akashi-san.
"Ya, Akashi-san."
Akashi-san tersenyum -yang bagiku mengerikan- lalu berjalan terlebih dahulu ke ruangannya dan aku mengikutinya dari belakang.
"Kise-chin~ aku mau semua sisa makan malam tadi~! Mana jatah lebihku?" Murasakibara-kun mulai merajuk dan menarik-narik ujung baju Kise-san.
"Iya! Iya! Sekarang lepaskan tanganmu dari bajuku dulu!" teriak Kise-san, walaupun kesal ada raut cemas dimukanya waktu melihatku.
'Kuroko-cchi...'
-o-o-o-o-o-
"Nah Kuroko," Akashi berjalan memutari Kuroko perlahan, "Bagaimana dengan sekolahmu? Baik kah?"
"Aaah~ pasti baik." lanjut Akashi tanpa peduli apa jawaban Kuroko. Dia terus berkata dengan muka serius namun terkesan main-main.
"Dan... ah! Bagaimana dengan bocah itu?" Akashi berhenti di belakang Kuroko, "Si bocah Hunter." lanjutnya sambil memegang pundak Kuroko.
"Semuanya baik, Akashi-san." kata Kuroko mencoba tegar disaat ketegangan merasuki dirinya. Tangan dingin Akashi seolah-olah adalah pedang yang siap untuk memenggal kepalanya.
"Bagus." suara Akashi berubah menjadi serius, digigitnya tangan kanannya hingga keluar banyak darah dan menempelkannya ke mata Kuroko, "Jika kau memang ingin bertemu dengan-'nya', kau memang harus selalu dekat dengan bocah itu, Kuroko."
DEG
'Ti-tidak... jangan!'
Pikiran Kuroko melayang. Tubuhnya gemetaran. Dirinya berusaha untuk terlepas dari tangan berdarah itu. Tangan yang dapat membangkitkan 'insting liar' yang berusaha dia pendam.
'Ta-tahan... Kuroko!'
Ya, darah. Darah seorang vampire pureblood. Darah yang dapat membuatnya kembali gila.
'Si-sial…'
Dan seketika itu juga pandangan Kuroko kosong. Ia memegang tangan Akashi, tidak, lebih tepatnya mencengkram tangan itu kemudian di hisap darah yang mengalir deras dan menggigitnya untuk mendapat lebih banyak darah lagi.
Liar
"Kuroko..." Akashi mengelus rambut Kuroko dengan tangan kirinya, "Anak baik... patuhi tuanmu..."
Liar
"Sudah cukup."
Kuroko sudah terlalu liar untuk kembali menjadi dirinya yang semula. Ya, tidak mungkin sekarang dia peduli dengan berbagai suara lain selain cairan merah di depan matanya. Walaupun itu adalah suara perintah dari Akashi…
Dan, oh, Akashi sangat membenci orang yang mengabaikannya.
"CUKUP KUROKO!" tangan kiri Akashi langsung menjambak rambut Kuroko dan melempar anak itu ke arah lain seperti melempar anak kucing.
"Ugh!"
SRAK
Tapi Kise dengan sigap muncul dan menangkap Kuroko.
"Kuroko-cchi!"
Kuroko yang masih berada di alam bawah sadarnya pun berusaha lepas dari Kise untuk mengarah pada sang pureblood. Bagaimana pun juga, rasa sakit akibat dijambak ataupun dilempar seseorang tidak lagi dia rasakan.
'Cih, bahaya!' Kise pun dengan cepat menempelkan jari tengah dan telunjuknya ke dahi Kuroko sambil membacakan mantra untuk membuat Kuroko tertidur, 'Beres.'
"Oh, jangan mengganggu kesenanganku, Kise." Akashi berjalan mendekati Kise dengan langkah berat. Marah.
"Ta-tapi… jangan Kuroko-cchi! Dia, dia hanya anak yang dibawa'nya'! Jangan kau manfaatkan Hybrid ini! Dia tidak tahu apa-apa!" kata Kise. Dia mengeluarkan seluruh keberaniannya untuk menjelaskan segalanya kepada Akashi.
DUAGH
Akashi memukul pipi Kise hingga darah mengalir dari mulutnya. Membuat Kuroko terlepas dari pelukan Kise. Jelas Akashi melakukan ini semua karena dia marah. Apalagi dengan tindakan Kise yang menurutnya kurang ajar itu.
"Jaga bicaramu, Kise. Karena kaulah orang yang tidak tahu apapun tentang segala hal yang terjadi disini." kata Akashi dingin. "Kau hanyalah orang buangan. Vampire Half-blood terbodoh yang pernah ada!"
Akashi mengangkat tangannya seperti sedang mencekik leher seseorang dan mengarahkannya setinggi mungkin kea rah Kise. Sementara Kise yang berada tak jauh darinya merasa lehernya tercekik dan tubuhnya mulai terangkat hingga kakinya tidak bisa menapak lantai ruangan.
"Ugh! Le-lepas!"
"Aku tahu kau memang mempunyai silsilah hunter di dalam darahmu. Tapi jangan bersikap bodoh, Kise." Akashi mengencangkan cekikannya. "Kau tahu siapa ketuamu disini, kan?"
Sekarang Kise benar-benar tidak tahan lagi. Benar-benar terasa seperti ada sesuatu yang kuat mencekiknya. Bahkan tangannya pun tidak bisa melepasnya sekuat apa dia berusaha.
'Ka-kalau begini terus aku bisa..'
"Ma-maafkan aku, Akashi-san…" lirih Kise. Dia benar-benar merasa bodoh telah berani menggangu sang pemimpin. Tetapi mau bagaimana lagi? Ia benar-benar tidak tega melihat Kuroko tersakiti terus menerus seperti ini!
"Bagus kalau kau sadar." Akashi menurunkan tangannya.
Otomatis Kise langsung jatuh ke lantai. Ia langsung memegang lehernya dengan kedua tangannya.
'Walaupun aku 'tidak bisa' mati, tapi setidaknya dicekik seperti ini sangat mengerikan.' pikirnya.
"Midorima, keluar. Bawa Kuroko kembali ke kamarnya." kata Akashi, dan keluarlah Midorima dari sebelah rak buku, "Kise, kau juga keluar. Aku ingin sendiri."
Tanpa ba-bi-bu lagi, Midorima langsung menggendong Kuroko. Kise pun berdiri dan mengikuti Midorima berjalan keluar ruangan.
-o-o-o-o-o-
Di kamar Kuroko. Midorima membaringkan anak berambut biru muda itu ke atas kasur. Kise pun menyelimuti Kuroko dengan selimut, duku di sisi kasurnya dan membelai rambunya.
"Midorima-cchi, aku-"
"Tidak, ini salahku, Kise. Aku hanya diam saja melihatmu dalam bahaya. Maaf tidak dapat membantumu tadi." kata Midorima. Walaupun sepintas, tapi tetap terlihat rasa kecewa dan khawatir ketika melihat 'pasangan'nya dalam bahaya.
"Tidak. Memang aku yang bodoh karena telah bertingkah yang seenaknya. Maaf." Kise tersenyum pahit.
"Sebaiknya, untuk kedepannya. Jangan bertingkah aneh, Kise. Biarkan saja ketua yang mengatur segalanya." Midorima memperingatkan Kise, hal itu membuat Kise semakin khawatir.
"Jadi, sebenarnya memang ada hal yang belum kuketahui di sini?" Kise menatap Midorima, mencoba mencari jawaban dari kekasihnya itu.
Midorima terdiam sesaat. "Jangan terlalu dipikirkan, Kise. Ini tidak ada hubungannya denganmu, jadi tenang saja."
'Ya, asal kamu bisa bahagia, itu tidak jadi masalah.' tekad Midorima dalam hati.
'Tapi aku tidak bisa membiarkan Kuroko terus seperti ini, Midorima-cchi. Jika semuanya sudah keterlaluan, aku tidak bisa membiarkannya terjadi.' pikir Kise.
Ya, apapun yang terjadi, Kise tidak akan membiarkan anak kecil ini menderita.
[to be continue...]
Yak, chapter kedua akhirnya kelar juga! *tangis bahagia* Sebenarnya saya punya banyak ide untuk fic ini, lebih banyak dari KSSM malah. Tapi entah kenapa tangan serasa malas bergerak *ugh* dan chapter kali ini bahasanya agak berat. Banyak bahasa yang pastinya beda dengan bahasa Kagami yang 'gaul'. Jadi akhirnya malah nyelesain yang KSSM duluan, hehehe…
Sekarang sudah ketahuan kan kalau ternyata Kuroko adalah Hybrid dan Kise Half-blood. Jadi, ada yang salah menebak tentang '5 Pure-blood yang mengadakan perjanjian damai' yang ada di chapter awal? XD Hahaha… yang salah sabar yah, nanti pasti terungkap kok!
Terus, terima kasih karena banyak juga yang baca fic abal ini… *bungkuk badan* jujur saja, pengalaman nulis cerita 'berat' itu agak sulit. Dari jaman dahulu sampai sekarang rasanya belum mengalami perkembangan yang memuaskan. Jadi tolong masukan dan bimbingannya!
Terima kasih buat Vipris, kaizumielric2210, Uchy-san, dan reader lainnya!
