Chapter 3
Setiap detik yang bergulir menyebabkan kaku-kaku pada ototnya terasa membakar. Secret menjulurkan sedikit lidahnya untuk mengecap udara beku malam itu. Kedua mata hitamnya menerawang menuju gelapnya hutan, mencari celah untuk berkelit.
Penunggangnya tetap bersikukuh untuknya tetap menjaga kecepatan larinya. Pria tersebut melecut tali kekangnya, menuntut chocobonya untuk menambah jarak dengan para pengejar mereka.
Tiba-tiba telinganya dapat mendengar desingan cepat sesuatu yang menembus udara, mengarah cepat ke arah mereka. Sebelum pengendara tersebut berhasil menoleh, chocobonya telah terjembab jatuh dengan debuman keras ke tanah. Pengendara tersebut terlempar ke depan karena gerakan mendadak tersebut. Wajahnya bertemu dengan tanah yang keras di bawah.
"..Nghh..."
Pengendara tersebut berusaha mendorong bangun badannya, ketika ringkihan chocobonya terdengar di belakangnya. Kedua mata aquamarine-nya dengan kalut melihat kedua kaki chocobonya telah terbelit temali, yang di tiap ujungnya terpasang batu bulat hitam, otomatis mengikatnya.
Pengendara tersebut bergeming untuk beberapa detik, keputusannya tercabik menjadi dua. Ia memandangi mata hitam Secret, yang langsung menusuk matanya sendiri. Angin dingin menerpa wajahnya yang pucat, membawa serta seruan menang para pengejarnya.
Ketika tampaknya sudah berjam-jam ia membatu di sana, akhirnya ia memutar badannya dengan cepat, dan memutuskan untuk meneruskan pelariannya, meninggalkan Secret di belakang.
x-x-x
[Beberapa waktu yang lalu]
Ia berdiri di ambang pintu ruangan bundar tersebut. Sulur-sulur perak berpendar di atas cat hitam dindingnya, menambah hawa mistis ruangan tersebut. Di tengah-tengah ruangan berdiri sebuah bulatan besar, seperti globe, yang terbuat dari kaca. Di sekeliling bulatan besar tersebut terdapat bulatan-bulatan kecil lainnya yang bergerak mengitarinya, disokong oleh batang-batang hitam.
Di belakang globe tersebut, seorang gadis tengah memejamkan matanya. Ia mengenakan gaun merah gelap, dengan sedikit renda hitam dibagian dadanya. Kedua tangannya ia sampirkan di atas globe tersebut, tanpa menyentuhnya.
"Waktunya telah tiba...Riku." ucap gadis tersebut, tanpa menolehkan wajahnya.
Lelaki berambut perak tersebut, Riku, melangkah memasuki ruangan tersebut. Jantungnya memburu di dalam dadanya, meski ia tidak menunjukkannya.
"Yah, aku tahu itu. Dia sudah membuatnya jelas."balas Riku cepat. Suaranya terdengar bergetar tanpa dapat dicegahnya. Ia berhenti tepat di depan globe, berhadap-hadapan dengan gadis tersebut.
"Apa yang harus kulakukan sekarang, Xion?"
Pertanyaan tersebut menggaung di ruangan bundar tersebut. Terkesan rapuh dan penuh pengibaan. Riku sendiri membenci dirinya untuk pernah menanyakannya kepada gadis tersebut.
Gadis berambut hitam tersebut membuka kedua mata birunya. Kedua matanya berkilat,
"Apakah kau pernah mendengar sebuah legenda tentang Sumur Kuno?"
"Sumur Kuno...?" nama itu terasa familier di lidahnya.
"Legenda Sumur Kuno tersebut telah di wariskan dari generasi ke generasi lewat lagu atau dongeng. Tentunya, sang Ratu Agung pernah mendongengkannya kepadamu dulu?"
Riku mendengus, "Mungkin, aku tidak ingat."
Xion melanjutkan, "Legenda menyebutkan Sumur Kuno tersebut terletak di ujung utara hutan pohon ek. Sumur tersebut, menurut yang mereka katakan, memiliki kemampuan untuk memberi perlindungan bagi orang-orang yang membutuhkannya. Yah, tapi secara spesifiknya tidak dijelaskan di dalamnya."
Riku termenung, mencerna informasi tersebut dalam diam. Resah merayapi dirinya. Ia tidak dapat percaya begitu saja kepada legenda yang bahkan sumbernya saja tidak diketahui. Seakan dapat membaca pikirannya, Xion berkata,
"Terserah kepada dirimu, ingin memercayainya atau tidak. Tapi menurutku itu lebih baik dari tidak melakukan apapun sama sekali. Jika ternyata legenda ini hanyalah dongeng, akhirnya akan sama saja bukan?"
Akhirnya akan sama saja... Riku mengernyitkan alisnya. Tiba-tiba telinganya menangkap langkah sepatu-sepatu boot di atas lantai marmer yang dingin dari luar ruangan. Ia menghentakkan kepalanya ke sumber suara. Para penjaga istana sudah dekat...
Suara gesekan dinding menarik perhatiannya. Di sisi terjauh ruangan tersebut, Xion berlutut. Di depannya telah terbuka sebuah pintu tingkap, menunjukkan jalan rahasia bawah tanah.
Riku segera melangkah menuju pintu tingkap tersebut. Sebelum memasukinya, Ia berhenti dan menoleh ke arah Xion. Xion mengangkat alisnya,
"Apa lagi yang kau tunggu?"
Namun Riku hanya terdiam. Matanya memandang jauh ke dalam mata biru Xion. Terdapat secercah kekhawatiran dalam pandangannya.
Xion tersenyum kecil, "Tenang saja, kita akan bertemu lagi. Aku jamin itu."
Pandangan Riku melunak, kemudian dengan anggukan kecil, ia berbalik dan melompat ke dalam kegelapan bawah tanah.
x-x-x
Ranting pohon berderak patah di bawah bebannya. Nafasnya pendek-pendek menjadi tidak teratur. Jubah hitamnya, meski menjaganya tetap hangat, namun juga mempersulit langkahnya. Pedang di pinggangnya berkali-kali menggores betisnya. Lebih dari sekali ia berlari terhuyung-huyung dan mengira dirinya akan terjatuh. Namun setiap kali, tekadnya membangunkannya lagi.
Sebentar lagi... Sebentar lagi kita akan sampai, Riku! ucapnya dalam hati, menyemangati diri sendiri. Ia menyadari, pohon-pohon di sekitar areanya menjadi lebih sedikit dan menepi. Seperti membukakan jalan untuknya.
Kemudian kedua matanya menangkap sesuatu di kejauhan.
Sebuah sumur berdiri sendiri, di area yang hampir bersih dari pepohonan. Riku membiarkan sebuah seringai terlepas di bibirnya. Ia berhasil menemukannya!
Ia mempercepat langkahnya menuju Sumur Kuno tersebut, tanpa menghiraukan kaki-kaki nya yang bergetar di bawahnya. Ketika ia tinggal beberapa langkah lagi dari sumur tersebut, tiba-tiba seekor chocobo berhasil melesat melewatinya. Terkejut, Riku mengerem langkahnya, hampir tergelincir tanah berumput tersebut.
Hanya beberapa langkah lagi! Geram Riku. Ia kemudian mencabut pedangnya, menunjukkan bilahnya yang berwarna hitam malam. Pengejar di hadapannya turun dari chocobonya dan melakukan hal yang sama. Kedua pengejar lainnya berjaga di belakang Riku, memerangkapnya.
Riku mengarahkan pedangnya ke arah pengejar di hadapannya, yang juga mempersiapkan pedangnya. Beberapa detik berlalu. Keduanya tetap mempertahankan posisi mereka. Ketika Riku akhirnya membuka mulutnya,
"Apa yang ia janjikan kepada kalian jika kalian dapat menangkapku?"
Kedua penjaga istana di belakangnya saling berpandang. Namun penjaga di hadapannya menjawab dengan tegas,
"...Yang Mulia menjanjikan tanah yang makmur dan sejahtera, negeri yang akan memberi kehidupan kepada kami semua-"
"Yang Mulia...eh? Dia belum menjabat bukan, kakak ku itu?"
"Belum...hingga kami dapat menangkap anda!"
Penjaga di depannya merengsek maju, mengayunkan pedangnya dengan cepat. Pedangnya menghantam pedang Riku dengan suara keras. Riku kemudian membalas dengan dorongan keras ke kanan, melontarkan pedang lawannya. Selagi penjaga di hadapannya masih terkejut, ia segera melesat melewatinya, menuju Sumur Kuno tersebut. Kedua penjaga di belakang bergegas mengejarnya.
Thump!
Tangan Riku menyentuh dinding sumur tersebut. Namun tidak terjadi apa-apa.
Penjaga di belakangnya telah siap dengan pedangnya. Ia menebaskan pedangnya ke bahu kanan Riku dengan cepat. Tidak terhindarkan.
Rasa terbakar membuncah dari pedang dingin yang menyayat bahunya.
Waktu terasa melambat.
Tubuhnya goyah.
Terjungkal ke belakang.
Terjatuh ke dalam lubang sumur gelap tersebut.
Hai Hai, Flame di sini. Fiuh! Akhirnya setelah berabad-abad ditinggalkan berdebu, Flame update juga cerita ini.
Untuk Hikari Shourai-san: I knew it! I made it too slow OAO *sob sob* Flame harap chapter ini tidak membingungkan lagi, karena tiba-tiba Flame sedang suka bikin cerita yang slow paced and mendetail sewaktu bikin chapter sebelumnya. Kayaknya pengaruh baca novel-novel tebel nih ehehe. anyway, terima kasih atas kritik dan reviewnya! :)
Ehehe Riku kasihan sekali dikejar-kejar seperti itu... kira-kira kenapa ya? Nyehehe jangan lupa di Review yak, kritik dan saran Flame terima~ :3
