Chapter 4
Naminé memutar-mutar sendok makannya. Di hadapannya adalah makan malamnya yang belum tersentuh.
Nenek memandangnya dari seberang meja keheranan,
"Naminé, ada apa? Kamu tidak suka makan malam nya?"
Yang ditanya menengadahkan kepalanya,
"Ah? Ohh... tidak nek, aku hanya tidak nafsu makan..." ucapnya lirih.
Nenek mendesah,
"Naminé... bagaimana hari pertamamu di sekolah?"
Clak!
Sebutir kacang polong yang sedari tadi dimainkan sendok Naminé terpantul dari piringnya, dan dengan manisnya mendarat di lantai. Naminé menyembunyikan wajahnya di balik surai pirangnya,
"Ti-Tidak buruk! Tidak! Tidak buruk sama sekali!"
"Aah...begitukah?"
Kepala pirang pucatnya mengangguk kecil.
"... Sudah menemukan teman baru kalau begitu?"
"Semacam... itulah..." Naminé mengunci pandangannya pada makanannya yang sekarang sudah dingin. Dari sudut matanya ia melihat neneknya mengangguk-angguk pelan, mungkin terbohongi oleh jawaban Naminé.
Kesunyian kembali mengisi ruang makan kecil tersebut. Hanya suara jangkrik yang mengalun kencang di taman belakang rumah nenek yang berhasil mengisi kesunyian tersebut.
krik krik krik krik krik krik krik!...
Naminé menajamkan telinganya. Lho...? Suara jangkrik tersebut berhenti...
WOOFF WOOFF WOFF! WOF WOF WOF WOF...!
Tiba-tiba terdengar Hachi yang menggong-gong liar dari halaman belakang rumah.
Naminé kontan berdiri dari kursinya. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang dari biasanya. Hachi menggong-gong sendiri di malam hari adalah kejadian yang jarang terjadi. Kemungkinan pertama yang terlintas di pikirannya adalah ada seseorang tak dikenal yang berusaha masuk lewat taman belakang. Seorang pencuri!
Hiiii Naminé memikirkannya saja seram. Terlebih tidak ada siapa-siapa di rumah itu selain ia dan neneknya. Tetangga juga tidak terlalu banyak di daerah desa pinggir kota begini. Berarti yang dapat melindungi neneknya hanya diri dia sendiri!
"Nek, tunggu di dalam!" Perintah Naminé, menghentikan nenek yang juga sudah beranjak dari kursinya, hendak menuju halaman belakang. Nenek terlihat ragu-ragu, namun mengangguk mengerti. Ia mengambil sebuah teflon dari lemari dapur, kemudian menyerahkannya kepada cucunya tersebut,
"Waspadalah cucuku!"
Naminé menerima teflon tersebut sambil mengangguk keras. Kemudian ia pergi menuju halaman belakang.
x-x-x
WOOF WOOF WOOF!
Gonggongan Hachi menjadi tambah keras begitu melihat Naminé mendatanginya dari kejauhan sambil membawa teflon di tangan. Angin malam yang dingin bertiup, menghembuskan rok putih Naminé. Kedua kakinya yang hanya beralaskan sandal jepit menggigil kedinginan.
"WOF WOF!" Panggil Hachi, berusaha menunjuk-nunjuk ke sebuah arah dengan semangat, sampai-sampai rantai yang mengikat lehernya menegang ditarik-tarik. Naminé menyipitkan kedua mata birunya. Hachi menuntunnya ke arah sumur tua di belakang rumah neneknya.
Jantungnya kehilangan sekali degupnya, ketika tiba-tiba ia menyadari sesosok tubuh berbalut jubah hitam tengah menyandar pada dinding berlumut sumur tersebut. Gelapnya malam memperburuk pengelihatan Naminé, mencegahnya mengetahui dengan jelas rupa sosok tersebut. Sialnya ia jadi teringat cerita-cerita hantu, hingga sekujur tubuhnya merinding tanpa dapat dicegah. Jangan sekarang Naminé! Jangan sekarang!
Ia mengangkat teflonnya siaga, sambil mendekat ke sosok tersebut. Sosok tersebut tampaknya tidak menyadari kehiruk-pikukan yang terjadi di sekelilingnya, sampai Naminé tinggal berjarak dua langkah darinya, ia mengangkat wajahnya.
Sepasang bola mata Aquamarine dengan dalam membalas matanya, menyelami dirinya jauh ke dalam jiwanya. Pandangannya tertahan begitu berat. Naminé pun memberanikan diri,
"Si-siapa kamu?! Untuk apa kamu di sini?!"
Terdapat sedikit kilat kekhawatiran dan keraguan, sebelum akhirnya kedua mata Aquamarine-yang ternyata milik seorang lelaki-tersebut tertutup, dan badannya limbung ke tanah dengan debum keras.
Naminé tercengang.
Ia terdiam untuk beberapa detik, sebelum akhirnya berlari kembali ke dalam rumah mencari bantuan.
