Minna-san, Shiecchan balik lagi dengan update chapter terbaru.
Mohon maaf atas update yang lama TT^TT
Reviewnya ditunggu yaa… Saran dan kritik boleh sekali tapi no flame ya :D
Untuk minna-san yang uda review, ARIGATOU! ^^
Disclaimer : Shiecchan tidak punya Vocaloid tapi Shiecchan punya fanfic ini :D
Selamat membaca! ^^
Len POV
Aku mengenakan seragam Vocaloid School dan melangkah keluar kamarku.
KRIEKK!
"Pagi, Kagami-san!" sapa seorang nenek sihir ketika aku membuka pintu kamarku.
BLAM!
Tolong seseorang bilang kalau aku sedang mimpi buruk.
"Kagami-san! Jangan ditutup lagi pintunya! Kau tidak mau kesekolah?" tanyanya.
Aku mencubit pipiku yang tidak bersalah dan mengeluarkan kata – kata 'Auw' tanpa suara.
KRIEKK!
"Pagi!" ulangnya lagi.
"Mau apa kau kesini? Gara – gara kau, kemarin aku tidak bisa tidur memikirkan aku sudah membiarkan seorang nenek sihir nggak tahu diri tidur dirumahku ini!" semprotku sinis.
Rin mengerucutkan bibirnya. "Pertama, aku bukan nenek sihir. Kedua, kau yang memperbolehkanku tidur dirumahmu karena kau sendiri yang bilang begitu. Ketiga, kau tidak mau sarapan? Menu hari ini nasi kari seperti kemarin lho!"
Aku memalingkan wajahku. "Siapa yang bilang aku mau makan nasi kari itu?"
Ugh… Kuakui, nasi kari kemarin memang membuatku ketagihan.
"Oh, yasudah. Padahal aku sudah membuat banyak untukmu. Kumakan saja, deh."
"Eh? Tu – tunggu!"
Rin berhenti berjalan dan menoleh kearahku. "Apa? Berubah pikiran?"
"A – ah, bukan begitu. Kalau kau makan semuanya, nanti perutmu itu akan semakin gendut!"
Itu alasan terbodoh yang pernah melintas dalam pikiranku soal berurusan dengan cewek.
Rin tersenyum sekilas tapi berbeda.
"… tidak ada bagian untukmu, shota!" gumamnya dengan nada sadis.
Rin langsung berlari kearah meja makan dan memakan bagianku terlebih dahulu.
Aku langsung menghentikannya dengan melahap sendok penuh nasi kari diatasnya.
"Ah! Itu…"
"Ini punyaku!" potongku lalu melanjutkan makan.
Rin perlahan bangkit dari tempat duduk dan membiarkanku menghabiskan nasi kari sementara dia memakan bagiannya.
Aku memakan nasi kariku dengan perlahan untuk menikmati rasanya sementara Rin sudah habis.
"Aku tidak tahu kau segitu sukanya dengan nasi kari buatanku" ujarnya dengan senyum.
GLEK!
Aku langsung tersedak dan terbatuk.
Rin langsung menepuk punggungku dan menawariku minum yang langsung kutenggak habis.
Puh! Nenek sihir itu pasti sedang mencoba membunuhku dengan cara membuatku tersedak! Pasti!
Rin menghela nafas lega lalu tertawa kecil. "Habiskan makananmu. Aku mau pergi untuk mengurus sesuatu."
"Pergilah dan jangan pernah kembali lagi, nenek sihir!" usirku.
Dia tertawa ala bangsawan lalu melanjutkan. "Maaf untuk merusak imajinasimu tapi aku pasti kembali untuk merusak hidupmu, shota boy."
"Sudah kubilang, AKU NGGAK SHOTA!" teriakku.
"Aw! Baik, baik. Apapun katamu, shota" ujarnya tanpa rasa bersalah sama sekali dan pergi ke kamarnya.
Aku melanjutkan makan pagiku dan menatap sendok yang memantulkan wajahku.
Tunggu, kalau dipikir – pikir, sendok ini… Rin makan nasi kariku dengan sendok ini.
Ya! Sendok ini! Sendok yang sekarang kupakai! Sendok terkutuk ini! Sendok yang sudah terinfeksi! Sendok ya– oh, sudahlah.
Aku menyentuh bibirku lalu bergegas ke wastafel dan mencucinya beberapa kali.
AKU, LEN KAGAMINE, SEORANG PLAYBOY YANG HIDUPNYA DIUSIK OLEH NENEK SIHIR, BARU SAJA CIUMAN TIDAK LANGSUNG DENGAN NENEK SIHIR ITU!
-skip time-
"Yo! Len! Kau kenapa lesu begitu?" sapa teman sekelasku, Utatane Piko.
"Yo! Piko! Pernahkah kau membayangkan kalau kau ciuman tidak langsung oleh nenek sihir yang merusak hidupmu?" balasku sinis.
Ya, pikiranku masih ada di kejadian pagi itu. Dan ciuman tidak langsung itu terjadi karena salahku juga. Kenapa aku tidak menahan tangannya saja? Kenapa aku malah memakannya? Dan berbagai penyesalan lainnya.
Yah, setidaknya di sekolah aku tidak bertemu dengan nenek sihir itu.
Piko menatapku bingung lalu tertawa. "Kau masih berada di alam bawah sadar ya? Kalau aku sih tidak pernah membayangkan akan ciuman tidak langsung dengan nenek sihir yang merusak hidupku. Kecuali nenek sihirnya cantik, tapi itu tidak mungkin" terangnya panjang lebar sementara aku berjalan menuju ke bangkuku.
"Mana ada nenek sihir cantik." ujarku.
Dia hanya tertawa. "Ngomong – ngomong, katanya ada murid baru dan gender-nya cewek!"
Aku langsung duduk dan menaruh tasku dan menyuruh piko duduk di kursi sebelahku yang kosong.
"Biar kutebak, kau mau menjadikannya mangsamu berikutnya" ujar Piko.
Aku mengangguk pasti.
"Kudengar cewek itu kecantikannya setara atau lebih dari Miku" jelas Piko.
Aku mengangguk lagi.
"Aku menantangmu kali ini. Aku akan mentraktirmu jika kau bisa mendapatkan cewek baru itu!"
"Simpan duitmu yang terbatas itu, Piko. Kau tahu aku bisa mendapatkan semua cewek yang kuinginkan" ujarku.
Piko menggeleng. "Aku punya firasat kalau kau akan susah menaklukkan yang satu ini."
"Aku mempertaruhkan namaku dalam merebut hati cewek itu" ujarku enteng.
"Apakah itu berarti kau akan melakukan apa saja jika kau kalah?" tanyanya.
Aku berpikir sekilas lalu mengangguk. "Anggap saja begitu. Tapi kalau aku menang, kau harus membelikanku es krim pisang yang mahal itu!"
Piko mengangguk. "Deal!"
Tepat pada saat itu bel berbunyi lalu beberapa saat kemudian, Meiko-sensei, guru yang terkenal suka mabuk masuk ke kelas.
Aku sampai tidak habis pikir kenapa Vocaloid School memperbolehkan Meiko-sensei mengajar matematika dan pelajaran itu selalu saja dikaitkan dengan bir yang disukainya. Misalnya satu botol bir ditambah satu botol bir hasilnya dua botol bir atau semacamnya.
"Semuanya tenang. Pasti kalian sudah mendengar gossip yang keluar dari mulut Piko Utatane kalau hari ini ada murid baru" jelasnya asal – asalan.
Aku langsung melotot kearah Piko dengan tatapan kau-mengintip-ke-ruang-guru-lagi-?
Dia hanya mengeluarkan cengiran khasnya lalu memperhatikan Meiko-sensei lagi.
"Silahkan masuk" ujar Meiko-sensei akhirnya.
Benar saja apa yang dikatakan Piko.
Cewek itu berambut blonde dan wajahnya familier.
Tunggu… Dia kan!
"ARGH! KAU! NENEK SIHIR NGGAK TAHU DIRI!" teriakku spontan.
Entah kenapa aura hitam langsung keluar dari arah Meiko-sensei.
"Kau bilang apa tadi, Kagamine Len? Kau bilang apa tentangku?" bentaknya dan berjalan kearahku dengan kecepatan super.
Ih, nih guru satu ge-er banget.
Meiko-sensei mencengkram kerahku lalu mendekatkan wajahnya ke wajahku.
Samar – samar aku bisa mencium bau alkohol dari mulutnya. Ya. Dia setengah mabuk. Kurasa.
"Maksudku dia bukan Meiko-sensei." Jariku menunjuk Rin. Ya. Rin yang berdiri di depan kelas.
Meiko-sensei langsung melepas cengkraman di kerahku lalu kembali ke depan kelas.
"Len, kalau nenek sihir yang kau bilang tadi pagi itu dia, mau banget!" bisik Piko yang duduk disebelah kananku.
Aku hanya bisa menatapnya bingung. "Kau benar – benar aneh, Piko."
Piko geleng – geleng kepala lalu menatapku. "Justru kau yang aneh, Len."
"Hei! Utatane! Kagamine! Bisakah kalian atau kau mau berkenalan dengan sepatuku dulu?" ujar Meiko-sensei sambil bersiap melepas sepatu hak 10 centinya.
"Maaf, Meiko-sensei" ujarku dan Piko pelan.
Meiko-sensei lalu menyuruh Rin untuk memperkenalkan diri.
"Nama saya Rin. Kagami Rin. Mohon bantuan kalian semua" ujarnya lalu membungkukkan badannya sedikit.
Meiko-sensei mengangguk. "Bagus! Sekarang kau duduk disebelah Kagamine dan Kagamine Len," Meiko-sensei menunjuk kearahku. "Tugasmu adalah mengantarnya keliling sekolah pada saat istirahat."
"APA?" teriakku spontan lagi.
"Berisik! Kuulangi sekali lagi. Kagamine Len, tugasmu adalah mengantar Kagami Rin keliling sekolah pada saat istirahat. Mengerti?" ujarnya dengan nada marah.
Aku hanya bisa menatapnya tajam pada saat Rin mengulurkan tangannya.
"Mohon bantuannya" ujarnya dengan senyum yang terlihat seperti senyuman iblis bagiku.
Aku mengabaikannya lalu menaruh kepalaku diatas meja.
Dua kata, Hidupku Hancur.
-TBC-
Chapter ini memang cuma ada Len POV ^^
Mohon reviewnya ya! Kutunggu lho!
Kritik dan saran boleh tapi no flame ya :D
Sampai jumpa di chappy berikutnyaa XD
