Minnaa! Shiecchan balik lagii!

Mohon maap yang sebesar – besarnya karena updet lama (digebukin readers)

Yah, kita langsung ke ceritanya aja. Jangan lupa review yaa! ^^

Disclaimer : Shiecchan tidak punya Vocaloid tapi Shiecchan punya fanfic ini. :D


Rin POV

Aku memang tidak pernah menjadi artis di kehidupan sebelumnya (setidaknya kupikir begitu) tapi aku tahu persis kenapa mereka seringkali merasa terganggu dengan orang – orang yang mengerumuni mereka.

Ya. Karena sekarang ini, aku sedang berada di posisi yang mirip seperti selebritas itu.

Teman – teman sekelasku yang baru langsung mengerumuniku seperti segerombolan kucing mengerumuni seekor tikus yang tidak berdaya.

"Kagami-san dulu sekolah dimana?" tanya seorang cewek

"Ah, dulu sa– "

"Mungkin saja dulu Kagami – san sekolah diluar negeri! Dia terlihat seperti bule sih! " potong salah satu teman (mungkin?) cewek itu.

"Kagami-san mirip sekali dengan Len – kun. Kalian bersaudara?"

"Kami ber –"

"Itu tidak mungkin. Karena marga keluarga mereka berbeda" potong salah satu cewek lagi.

Haah! Kalian kalau mau berdiskusi jangan disini donk!

Tu – tunggu. Tadi mereka bilang kalau marga buatanku dan marga Kagami – san tidak sama? Apa yang berbeda? Harusnya sekarang kami sudah dianggap sebagai saudara kembar!

"Tunggu dulu. Aku bersaudara dengan Kaga – uphh"

Sebelum aku menyelesaikan kalimatku, mulutku sudah dibekap oleh seseorang.

Aku mendongak keatas untuk melihat siapa yang berani melakukan pelecehan dengan membekap mulutku seperti ini.

Kagami – san!

Len POV

Aku langsung membekap hantu bodoh (ganti pangkat) itu lalu menariknya ke atap sekolah.

Tidak tahu kenapa, aku tidak suka dibilang kalau kami bersaudara.

Mungkin karena kami MEMANG tidak bersaudara.

"Kagami – san? Kau mau membawaku kemana?"

Aku melepaskan genggaman tanganku yang tadi menggenggam tangannya yang kecil.

"Berhenti memanggilku dengan marga buatanmu itu!"

Rin mengerucutkan bibirnya. "Itu bukan marga buatan, tahu!"

"Terserah apa katamu yang penting sekarang jangan panggil aku dengan marga keluargaku"

Rin berpikir sebentar lalu tersenyum.

"Aku boleh memanggilmu apapun selain marga keluargamu?" tanyanya.

Aku mengangguk.

"Kalau begitu… Lenny!"

Hah?

"A – apa? Kau bilang apa?"

Dia tersenyum lebar dan menjawab tanpa dosa. "Lenny!"

Oh Tuhan. Dia benar – benar mempunyai sense nama yang sangat bagus.

"Buang nama sialan itu dan panggil aku 'Len'!" perintahku.

Dia mendekat kearahku lalu tersenyum. "Nggak mau!"

"Len!" teriakku

"Lenny!" teriaknya juga.

"Len!"

"Lenny!"

"Len!"

"Shota!"

"Le– " Aku berhenti.

Darimana datangnya kata keparat itu?

"Dengar baik – baik, nenek sihir (ganti pangkat lagi!). Aku nggak shota dan kau harus memanggilku dengan namaku bukan nama – nama sampah buatanmu itu!" tegasku.

Dia memeletkan lidahnya kearahku. "Bleeh! Suka – suka!"

Rin membuka pintu menuju tangga lalu turun kebawah.

Aku mengerang kesal lalu mengikutinya turun kebawah.

Rin POV

Aku menuruni tangga dengan cepat.

Siapa tahu Lenny mengejarku atau semacamnya dan benar saja.

Aku sekarang lari menuruni tangga sambil sesekali melihat kebelakang.

Tanpa sadar aku terpeleset dan…

Terimakasih kepada gravitasi bumi yang langsung mengirimku jatuh kebawah tanpa ampun.

GUBRAK!

Eh? Kok nggak sakit? Hantu memang tidak mungkin jatuh tapi sementara dia ada di tubuh sementara, rasa sakit ketika jatuh pasti terasa!

"Aduh…" rintih seseorang dibawahku.

DIBAWAHKU!

Aku langsung membuka mataku dan melihat ada seseorang DIBAWAHKU!

DIBAWAHKU!

Oke, hentikan itu.

Ternyata aku menimpa seorang cowok berambut biru dengan mata berwarna senada.

Mataku dan matanya bertemu. Oh, Tuhan. Ternyata makhluk tampan di dunia ini benar – benar ada!

"Um… Anu…" Makhluk tampan itu melambai – lambaikan tangannya dan mengembalikan rohku dari alam mimpi ke bumi. (Author lebay)

"Ah! Maaf! Aku berat ya?" tanyaku spontan.

Kenapa kalimat itu yang muncul di kepalaku sih?

Aku langsung berdiri dari atasnya.

Dia berdiri lalu melihat kakiku.

Aku baru sadar kalau kakiku sedikit memar.

"Sini, kubawa kau sampai ke UKS" katanya lembut.

Deg.

"N – nggak usah. Cuma memar sedikit, kok!"

Tanpa berkata apapun lagi, dia langsung menarik tanganku menuju UKS.

Semburat merah tipis langsung muncul menghiasi pipiku.

Baru kali ini aku berpegangan tangan dengan seorangncowok.

Dia membuka pintu UKS lalu menyuruhku duduk sampai guru UKS datang.

Walaupun dia sudah bilang seperti itu, lebih baik aku mengobati lukaku sendiri.

"Terimakasih, um…"

"Kaito. Shion Kaito." potongnya.

" , Shion – san"

Dia mengangguk lalu keluar dari UKS.

Shion Kaito, ya?

Len POV

Aku masuk keruang UKS yang baru saja dimasuki Rin dan Kaito.

Aku mendekati Rin yang sedang mengobati lukanya sambil tertawa sendiri.

"Hei, kau terlihat seperti orang bodoh. Kau tahu?"

Dia menjulurkan lidahnya kearahku. "Biar saja. Aku sedang senang. Aku sepertinya sudah menemukan target-ku!"

Samar – samar aku bisa melihat api berkobar di belakang tubuh Rin.

Wow.

"Jadi? Siapa targetmu?" tanyaku.

"Hm? Kau ingin tahu?"

"Yah, karena setelah kau mendapatkan orang itu, aku bisa bebas, kan?" tanyaku balik.

Rin tertawa kecil. "Benar juga."

"Jadi? Siapa orangnya? Who's that most unfortunate guy?" tanyaku sok inggris.

"Unfortunate? Lebih cocok 'Who's that lucky guy!'" balasnya.

"Terserah. Jadi?" tanyaku mulai tidak sabar.

Semburat merah tipis langsung menghiasi wajah Rin yang putih bersih.

"Pangeranku, Shion Kaito."

.

.

.

Puh.

Tawaku lepas.

Dia bilang apa? Pangeranku? PANGERANKU?

Oke, maksudku BUKAN PangeranKU tapi PangeranNYA!

"H – hei! Apa yang salah?" tanya Rin dengan wajah semerah tomat.

"Pangeranku? Ahahahaha… Kau bisa melawak ternyata!"

Pipi Rin menggembung lalu dia menendang kakiku dengan kakinya yang tidak terkilir.

"ADUH!" rintihku.

"Shion – san keren kok! Jauh Lebih keren darimu!"

.

.

.

"Apa? Kaito lebih keren dariku?"

Rin mengangguk pasti.

Aku langsung menariknya keluar UKS.

"Hei! Aku mau dibawa kemana?" tanyanya.

"Dokter mata."

"Untuk?"

"Memeriksa matamu itu, hantu bodoh."

Rin berhenti.

"Mataku sehat kok!" belanya.

"Tidak setelah kau bilang kalau Kaito itu lebih keren dariku." ujarku.

Rin kembali menggembungkan pipinya lalu melepaskan pegangan tanganku.

"Aku hari ini pulang cepat!" katanya lalu pergi menjauh.

Rin POV

Dasar shota!

Beraninya dia menertawaiku!

Aku menambahkan kata 'pangeranku' kan hanya untuk mendramatisasikan suasana!

Aku menyelesaikan makan malamku lalu mencuci piringku.

Aneh. Len belum juga keluar dari kamarnya semenjak dia pulang tadi.

Makanan yang kubuatkan untuknya juga sudah dingin.

Aku mengetuk pintu kamar Len yang berada di lantai dua dekat kamarku.

"Lenny? Makan malammu sudah dingin lho!" ujarku.

Tidak ada jawaban.

"LENNY! SHOTA BOY!"

Masih tidak ada jawaban.

Tidak sengaja aku membuka knop pintu kamarnya.

Tidak dikunci.

Aku memasuki kamar Len yang lumayan besar dan gelap.

Tidak kalah dengan kamar kakak perempuannya yang juga luas. Ada kamar mandi dalam juga!

Di kamar Len juga sepertinya ada kamar mandi dalam karena aku selalu melihat Len sudah memakai seragam lengkap pada saat dia keluar dari kamarnya.

Jujur, aku terkejut.

Kamar Len sangat rapih tidak seperti kamar cowok yang kubayangkan sebelumnya.

Aku melihat ada foto kecil yang dipasang di pigura duduk dekat meja belajarnya.

Aku memegang pigura duduk itu untuk melihat lebih jelas. Ingat? Kamar Len gelap.

Seorang cewek berambut blonde panjang sedang tersenyum saat difoto.

Cantik.

KRIEK!

Samar – samar aku bisa melihat Len yang keluar dari kamar mandi.

Aku langsung menaruh pigura duduk itu dengan terburu – buru.

Entah kenapa, aku merasa Len tidak mau aku melihat foto itu.

"Kau, kau lihat apa?" tanyanya dengan nada serius.

"Ah, maaf. Tadi aku memanggilmu beberapa kali dari luar tapi nggak sengaja aku membuka pintu knop kamarmu jadi aku masuk untuk mengecek. Mungkin saja kamu keracunan atau pingsan didalam jadi kau tidak bisa menjawab" jelasku panjang lebar.

Len semakin mendekat kearahku.

Entah kenapa aku terus mundur sampai punggungku menyentuh tembok kamar Len yang dingin.

Len menaruh tangannya di tembok yang mencegahku untuk kabur melewati pintu yang memang ada disebelahku lalu mendekatkan wajahnya kearah wajahku.

Aku bisa merasakan kalau pipiku mulai memanas.

Aku sangat bersyukur karena lampu kamar Len tidak nyala jadi dia tidak bisa melihat semburat merah di pipiku.

Dia terus mendekatkan wajahnya.

Aku menutup mataku ketakukan.

Tanpa sadar, tubuhku mulai gemetaran.

Aku bisa merasakan keringat dingin keluar dari pori – pori kulitku.

Nafas Len pindah yang tadi di depanku ke telingaku.

"…Jangan pernah masuk ke kamarku tanpa ijin!" bisiknya pelan di telingaku.

Dia menarik wajah dan tangannya lalu mendorongku keluar kamarnya.

BLAM! Pintu kamarnya ditutup.

BRUK!

Aku langsung ambruk setelah kejadian itu.

Tubuhku bergetar hebat.

Walaupun dia terlihat seperti anjing, serigala tetaplah serigala. (Baca : serigala disini itu inisial cowok)


-TBC-

Gomen minna.

Updatenya lama banget TT^TT

Tapi kali ini Shiecchan bener – bener meras otak memikirkan kata – kata untuk scene yang terakhir.

Mohon reviewnya ya? ^^

Sampai jumpa di chapter berikutnya..