Konnichiwa minna-san!

Shiecchan balik lagii… Akhirnya bisa update! \(^o^)/

Gomennasai buat apdet yang lamanya seabad m(_ _)m

Arigatou reviewnyaa minna…

Disclaimer : Shiecchan tidak punya Vocaloid tapi Shiecchan punya fanfic ini :D

Happy reading and don't forget to review ^^


Len's POV

Dia melihatnya…

Foto itu…

Aku berusaha menenangkan diriku.

Tarik nafas. Buang. Tarik nafas. Buang. Fuhh…

Aku keluar dari kamarku dan berjalan menuju ke ruang makan.

Seperti biasa, Rin sudah berada disana dan sarapanku juga sudah tersedia.

Aku mulai memakan sarapanku dalam diam.

"Foto…" Aku memulai.

"Hm?"

"Kau… melihatnya ya?" tanyaku.

Rin mengangguk. "Aku melihatnya…"

Dugaanku benar… Dia melihatnya…

"Foto di pigura duduk itu…"

Eh?

"Foto yang dimana?" tanyaku.

Rin menatapku bingung. "Di… pigura duduk?"

Aku menghela nafas lega.

Dia TIDAK melihatnya.

Tanpa kusadari, Rin sudah menghabiskan sarapannya lalu berjalan menuju pintu.

"Soal kemarin, maafkan aku." ujar Rin pelan.

Aku mengangguk.

"Aku juga sepertinya sedikit keterlaluan… Soal kemarin…"

Aku bisa melihat sedikit semburat merah menghiasi wajah putihnya. Atau cuma perasaanku saja?

Dia mengangguk lalu membuka pintu depan rumahku.

"Bagaimana dengan mangsamu?" tanyaku.

"Hari ini aku akan menembaknya!" jawabnya tiba – tiba semangat.

APA?!

Dia baru bertemu denganmu kemarin dan kau mau MENEMBAKNYA?!

"Oi! Tunggu! Janga–"

"Aku pergi dulu!" potongnya lalu berlari keluar rumah.

Aku yakin dia tidak akan berhasil.

-skip time-

Aku membuka bungkus roti pisang yang barusan kubeli di kantin lalu memakannya.

"Jadi?"

"Aku… Ditolak."

Tuh kan?

Aku menghela nafas panjang lalu membuangnya perlahan.

"Kau itu benar – benar… Kalau kau mau merebut hati seorang cowok, kau harus menyusun rencana bagaimana cara menaklukannya dulu!" ceramahku.

Rin menggeleng sedih. "Mungkin itu juga tidak bisa."

"Maksudmu?"

"Shota boy, sudah berapa lama kau pacaran dengan Hatsune Miku?"

Hei! Dia menyebut nama Miku dengan benar! Dunia akan kiamat!

"Hmm… sekitar 2 tahun?" tanyaku balik.

"Shion – san menyukai Hatsune – san. Dia sudah menyukainya sejak lama dan dia masih menunggu Hatsune-san sampai sekarang. Dia bilang kalau dia itu pengecut karena dia tidak pernah bisa menyatakan cintanya kepada Hatsune-san."

Aku melahap roti pisangku lalu membuang bungkusnya.

Hei! Aku mendengarkan kok!

Rin menggigit roti jeruknya sedikit lalu mendongak keatas melihat langit.

"Memang tidak bisa… ya?" tanyanya kepada langit.

Aku kembali duduk lalu meminum habis susu pisangku.

"Shion-san bilang kalau aku bisa menemukan cowok yang lebih baik daripada dirinya yang pengecut itu."

Suara Rin mulai terdengar serak.

Walaupun dia hantu, cewek tetap cewek ya?

Entah karena angin atau hujan, aku mulai mendekatinya lalu menepuk – nepuk rambutnya lembut.

"Kau sudah berusaha, Rin."

Rin menatapku lalu tersenyum.

"Arigatou… Len…"

Deg.

RIN's POV

Makhluk cowok yang kupanggil 'Shota boy' itu tiba – tiba menepuk – nepuk kepalaku.

"Kau sudah berusaha, Rin."

Jujur, aku terkejut.

Dia menyemangatiku?

Serius nih?

Mungkin niatnya memang benar – benar tulus.

Aku mengangguk lalu tersenyum tulus kearahnya.

Untuk kali ini saja lho!

"Arigatou… Len…"

Len's POV

…Kenapa?

Kenapa harus aku?

Hantu itu… selalu saja seenaknya sendiri.

Sekarang aku sedang berdiri di depan pintu kelas Kaito seperti orang bodoh.

Kenapa?

Yah, karena aku berkali – kali menyentuh knop pintu kelas tapi tidak membukanya.

Ini semua gara – gara rencana hantu bodoh itu!

Flashback

"Hei shota, bagaimana kalau kita buat Shion-san bisa menyatakan cintanya kepada Miku-chan?" usulnya.

"Hah? Untuk apa? Dan sejak kapan kau memanggil Miku dengan embel – embel '–chan' seperti itu?"

"Aku kan temannya Miku-chan. Dia sendiri yang mau kupanggil begitu."

"Lalu tadi kenapa kau memanggilnya 'Hatsune-san'?"

"Hm? Untuk menegangkan suasana?" tanyanya balik sambil mengedip.

Aku memalingkan mukaku lalu membuat pose seakan aku mau muntah.

"Hentikan itu! Menjijikan!"

Hanya tawa Rin yang menyanggupi perkataanku tadi.

"Balik ke topik. Ayolah shota! Bantu Shion-san, bukan. Bantu aku!"

"Ti-dak! Aku malas."

"Shota pemalas!"

"Biarin."

Rin menggembungkan pipinya lalu mengambil surat dari kantong bajunya.

"Nih, tolong kasih ini ke Shion-san."

"Apa itu? Kenapa suratnya berwarna pink dan disegel dengan sticker bentuk hati?"

"Aku kehabisan sticker dan amplop surat. Pilih, kau mau menjelaskan panjang lebar kepada Shion-san atau cuma menyerahkan surat ini lalu pergi?"

Dasar.

Aku merebut surat pinky itu dari tangannya lalu turun, menuju kelas Kaito.

End of Flashback

Dan beginilah jadinya.

Aku masih bingung kenapa aku mau menyanggupi permintaan hantu itu.

GREK!

Aku membuka pintu ruang kelas lalu menuju ke meja Kaito.

"Oi Kaito, sepulang sekolah, datang ke atap sekolah."

Aku meletakkan surat pinky Rin itu diatas mejanya.

"LEN! Jadi selama ini… kau… suka sesama jenis?" sembur Kiyoteru.

Terimakasih untuk suaranya yang hampir menyamai suara toa mesjid, sekarang kelas Kaito mengira kalau aku suka sesama jenis.

"APA?! LEN SUKA SESAMA JENIS?"

"PANTAS SAJA PAS AKU NEMBAK, DIA TOLAK!"

"AIH, GOSSIP BARU NIH!"

"BELI! BELI! KORAN DENGAN HEADLINE 'LEN TERNYATA SUKA SESAMA JENIS!' HANYA 2000 RUPIAH!"

"AKU NGGAK SUKA SAMA KAITO!" teriakku.

Kelas hening.

"DIA NGGAK SUKA SAMA KAITO!"

"JANGAN – JANGAN DIA SUKA SAMA PIKO!"

"MASA SIH?! BUKANNYA KIYOTERU?"

"KOK NAMAKU DIBAWA – BAWA SIH?!" sembur Kiyoteru.

Aku membiarkan kelas ini berdebat lalu keluar kelas.

Paling rumornya akan berhenti pada saat mereka sadar kalau aku punya pacar.

Hah?

Pacarku siapa? Miku, ingat?

Rin's POV

"Miku-chan!" sapaku kepada cewek berambut tosca panjang itu.

"Rin-chan! Kamu kemana saja?" tanyanya.

"Maaf Miku-chan, tadi aku ada urusan."

Miku mengangguk mengerti.

"Miku – chan, sepulang sekolah ada waktu?" tanyaku.

"Ada kok, kenapa?" tanyanya.

"Ada yang mau ketemu sama Miku-chan. Dia nunggu di atap sekolah."

Miku berpikir sebentar lalu mengangguk.

"Oke, makasih ya, Rin."

"No problem." ujarku sambil tersenyum.

Semoga rencana ini bisa berhasil.

The next day…

"RIINN!"

Aku langsung disambut dengan tinju dari Miku-chan.

"Auw.. Gimana? Hasil rencanaku tidak dibuang sia – sia kan?" tanyaku.

Miku tiba – tiba diam lalu menundukkan kepalanya.

Walaupun dia mencoba untuk menutupi mukanya, aku bisa melihat ada semburat merah di pipi putihnya.

"Aku… jadian sama Kaito…" ujarnya malu – malu.

"Selamaat!"

"TInggal satu masalah lagi…"

Raut muka Miku-chan berubah.

"Aku belum minta putus ke Len!" ujarnya.

"EHH?!"

Oia, Len dan Miku pacaran. Aku lupa.

Tiba – tiba pintu kelasku dibuka…

Dan muncullah Len.

"Hei! Panjang umur kau!" ujarku sambil menepuk bahu Len.

"Hah? Apaan sih?"

Dia menepis tanganku lalu menuju kearah Miku dan memberikan sebuah kertas yang sudah dilipat.

Miku langsung membacanya.

Mata hijau tosca itu mulai berkaca – kaca.

Shota boy! Kau apakan dia?!

"Miku-chan? Boleh kulihat kertasnya?" tanyaku.

Miku mengangguk lalu menyerahkan kertas yang tadi ditulis Len tapi kertas itu langsung direbut lalu dimasukkan ke kantong baju penulis kertas lipat itu sehingga aku hanya bisa melihat sekilas.

Aku mengedikkan bahu lalu berjalan kearah kursiku.

Sebenarnya tanpa membaca pun, aku sudah tahu isinya.

Kok bisa?

Entah kenapa aku bisa membaca sesuatu dengan cepat walaupun hanya sekilas.

'Selamat. Berbahagialah dengan Kaito, Miku'

Len's POV

Aku menelungkupkan kepalaku di atas meja.

Seorang Len, diputuskan oleh pacarnya.

Hiks.

Bisa jadi sejarah nih.

Aku masih memikirkan di museum mana topik ini akan dipajang dan pikiran itu melayang dengan sukses ketika Piko masuk ke kelas lalu menepuk bahuku.

"Len, jadi kau suka sesama jenis?" tanyanya.

"Tidak. Kau lupa aku punya pacar?"

Piko menatapku bingung.

"Bukannya Miku sekarang sama Kaito?" tanyanya balik.

.

.

.

Oia..

.

Sekarang Miku sudah sama Kaito.

.

.

Berarti Miku sudah tidak menjadi pacarku.

.

.

.

Aku single.

.

.

.

Oh Sialan.

"Jadi… kau benar – benar suka se–"

"TIDAK!" potongku.

Aku harus mencari pacar baru.

HARUS!


-To Be Continued-

Hehe.. Gimana Minna?

Shiecchan sengaja nggak ceritain kejadian pas Kaito nembak Miku karena Shiecchan lagi kehabisan ide.. #ditampol readers.

Shiecchan minta maap karena updetnya lamanya seabad. m(_ _)m

Review yaa.. ^^

Sampai jumpa di chappie berikutnya!