Waaiii! waii! Minna-san Konnichiwa-desu~ #author heboh
Akhirnya bisa update lagi \(^o^)/
Oke, langsung aja ke ceritanya.
Disclaimer : Shiecchan tidak punya vocaloid tapi Shiecchan punya fic ini :D
Happy Reading minna-chama~ #lebay
Len's POV
Matahari pagi yang menyilaukan menerobos masuk lewat celah tirai jendela, membangunkanku dari tidur lelap.
Aku benar – benar tidak ingin pergi ke sekolah hari ini.
Tok… tok…
Pintu kayu kamarku diketuk lembut oleh seseorang.
"Shota! Bangun! Kita bisa telat nih! Kemarin kau tidur jam berapa sih?"
Oke, coret yang tadi. Ketukannya sama sekali tidak lembut.
Aku mengulet sebentar lalu menarik selimut sampai menutupi seluruh tubuhku.
Aku tidak mendengar apapun… Aku tidak mendengar apapun… AKU TIDAK MENDE–
"SHOTAA!"
Oke, aku memang mendengar sesuatu.
BRAK!
Pintu kamarku dibanting oleh siapa lagi kalau bukan Rin. Terdengar suara kaki melangkah semakin dekat kearahku.
Rin langsung menarik selimutku dan…
.
.
.
"KYAAAHH!" teriak Rin.
Rin melihatku yang ehemtoplessehem. Aku memang biasanya tidak memakai pajamas. Pajamas biasanya hanya kupakai ketika aku kedinginan atau memang sakit.
Aku melihat Rin yang sedang menutupi wajahnya dengan kedua tangannya sambil memalingkan wajahnya dariku. Samar tapi pasti, aku bisa melihat wajah Rin yang merah padam dan pemandangan satu itu membuatku ingin menggodanya sedikit.
Aku beranjak dari tempat tidurku lalu mendekatinya.
"Sho – shota! Mau apa kau?! Jangan me – mendekat!" teriak Rin dengan agak terbata – bata.
Aku memamerkan sederet gigi putihku. "Mari kita bermain – main sedikit sebelum berangkat ke sekolah."
Aku memegang rambut blondenya yang terjuntai lalu mengecupnya singkat. Harum shampoo yang biasa digunakan Ne – Neru-nee memenuhi rongga hidungku, mengingatkanku tentangnya.
Aku menggeleng cepat. Dia bukan Neru-nee.
Muka Rin langsung memanas lalu menarik rambutnya dan mundur beberapa langkah sambil tetap memalingkan wajahnya.
"Hei, Rin. Lihat aku."
Rin tidak berkutik seakan dia tidak mendengar suaraku dan tetap memalingkan wajahnya.
Aku menyentuh pipinya lembut lalu mendekatkan wajahku kearahnya.
Dan...
-skip time-
"Shota! Kita benar – benar telat nih!" teriak Rin.
"Iya… iya… Kau terlalu bawel Rin, kau tahu?"
Rin hanya menirukan gaya bicaraku barusan lalu membuka pintu pagar rumahku.
"Tapi tidak kusangka. Ternyata hantu juga bisa karate."
Wajah Rin memerah lagi. "I – itu bukan karate tapi murni tamparan khas cewek!"
"Masa sih? Bukannya tinju?" tanyaku dengan nada mengejek.
Rin menggembungkan pipinya. "Kau saja yang terlalu lemah dan berlebihan!"
Aku mengusap pipiku yang merah.
"Tapi rasanya seperti ditinju cowok berbadan six pack. Sakiit… Ouch!"
Well, kuakui itu berlebihan. Tapi rasanya memang lebih sakit dibandingkan tamparan cewek biasanya. (Author : Nasib playboy suka ditampar)
"Biarin." jawabnya seakan atau memang tak peduli.
Aku lebih berharap yang seakan entah kenapa.
Flashback
Aku menyentuh pipinya lembut lalu mendekatkan wajahku kearahnya.
"Kenapa Rin? Kau takut?"
"Ba – baka Shota! Ini pelecehan seksual! Sexual Harassment! Kalau kau melakukan lebih dari ini, jangan salahkan aku kalau aku berbuat sesuatu kepadamu!"
Aku menyengir lebih lebar dan makin mendekat.
Ketika sudah beberapa inci lagi…
PLAK!
End Flashback
Dan begitulah caranya aku bisa mendapatkan cap telapak tangan berwarna merah di pipiku.
"Shoot! Bel masuk! Shota! Kita harus lari kalau tidak mau dimarahi Meiko – sensei!"
Oia, hari ini jam pertama adalah pelajaran Matematika.
Rin menggamit tanganku lalu mulai berlari.
Tangan kecilnya menyalurkan kehangatan ke tanganku yang lebih besar darinya. Aku merasa sedikit… nyaman. Sedikit lho!
ARGH! Kenapa aku bisa menjadi sepuitis ini?! Lupakan apa yang baru saja kuucapkan!
.
.
.
Aku serius. Lupakan!
Rin's POV
Kami, aku dan Len, berhasil masuk kelas dengan selamat, sehat walafiat alias tidak kena omelan Meiko – sensei.
Sekarang aku sedang menonton Len bermain basket di kursi penonton sedangkan disebelah kanan dan kiriku mereka meneriaki nama Len berulang – ulang dengan sorakan mulai dari yang nyambung ke basket sampai ke sorakan yang sama sekali nggak ada hubungannya dengan basket.
"Len – senpai! Ganbatte!"
"Lenn! You're so handsome!"
"LENN!GUE DENGER LU YAOI YAH?!"
"Heh! Siapa tuh yang bilang Len-sama yaoi?!"
Dan alhasil orang tadi (yang bilang Len yaoi) langsung menjadi musuh fangirlsnya Len.
Sang idola sendiri hanya tersenyum dan melambaikan tangannya kearah fans – fansnya yang mulai menggila karena kelakuannya itu. Belum lagi pada saat dia berhasil memasukkan bola basket ke dalam ring.
Kalau dipikir – pikir, Shota boy itu tidak buruk juga. Gaya permainannya juga bagus. Pantas saja dia mempunyai banyak fangirls dan pastinya banyak cewek yang menyukai– ARGH! Aku ngomong apa sih?!
Aku beranjak dari kursi penonton, menuju ke pintu keluar. Kalau aku tidak keluar, lama – lama telingaku bisa tuli!
Aku menyusuri pinggir lapangan basket dan…
"Awas!" teriak seorang cowok.
Aku menoleh kearah lapangan dan mendapati bola basket sedang menuju ke arahku, tepatnya ke wajahku. Spontan, aku melindungi diri dengan tanganku. Bola berhasil terpantulkan dan tidak mengenai wajahku tapi aku kehilangan keseimbangan dan jatuh terduduk.
"Ugh! Sakit…" rintihku.
"Rin! Bodoh! Kau ngapain di pinggir lapangan?!"
Len berlutut menghadapku dengan wajah khawatir.
Eh?
EKKHH?! KHAWATIR?!
"Sakit ya? Yang mana? Perlu kuantar ke UKS? Sudah kubilang tadi jangan bergerak selangkahpun dari kursi penonton!"
Yah, dia memang bilang begitu. Asal mulanya…
Flashback
"Len! Main basket bareng yuk! Udah lama nih kita nggak main bareng!"
"Boleh!" seru Len.
"Hah? Kamu bisa main basket?!" tanyaku dengan nada tidak percaya.
"Iya! Keren kan?"
"Puh… Bohong. Mana mungkin." Jawabku sambil tertawa kecil.
"Aku bisa kok!"
"Len! Jadi nggak?"
Len mengangguk lalu menarikku mengikuti mereka.
Setelah kami berada di lapangan indoor yang cukup luas, Len menarikku ke bangku penonton.
"Kau duduk disini dan jangan bergerak selangkahpun. Lihat aku. Dan hanya aku seorang. Oke?" tanyanya.
Sebelum aku sempat membalas, dia berlari turun ke lapangan, mulai bermain dengan teman – temannya.
End Flashback.
Pertanyaan dan ceramah Len bercampur menjadi satu. Aku tahu dia benar – benar cemas dari nada bicaranya. Kelihatan banget kok!
"Ngg… Nggak seberapa kok! Kau terlalu berlebihan hari i–"
"Guys, lanjutin aja mainnya!" seru Len kearah teman – temannya.
"Ihiy, Len. Pacar baru ya? Mau kemana?" tanya salah satu dari temannya.
Fans – fans Len terlihat menahan nafas, menunggu jawaban keluar dari mulut sang idola.
"Bukan. Mau pulang."
JLEB!
Kenapa rasanya sakit ketika Len bilang kalau aku bukan pacarnya? Hei para pembaca sekalian. Rasanya aku mulai gila.
Tanpa banyak bicara, Len langsung membopongku keluar dari lapangan.
Len's POV
Aku membopong Rin keluar dari lapangan yang makin riuh mungkin karena perlakuanku terhadap Rin barusan.
"Le – Len! Turunin! Aku nggak apa – apa! Bener!"
Aku melihat wajah Rin yang memerah dan itu membuatnya semakin im– Oh, syukurlah. Aku belum sempat menyelesaikan kata – kataku barusan. Walaupun dalam pikiranku sekalipun.
"Nggak mau!"
"Baka! Semuanya memperhatikan kita tahu!" protes Rin.
"I dont care"
"You should be!"
"Rin, wajahmu memerah lho!" godaku.
Mata biru azure Rin membulat lalu dia langsung menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
"Ja – jangan lihat! Baka Shota!"
Aku hanya bisa tertawa di sepanjang jalan pulang setelah melihat kelakuan Rin.
-skiptime-
"EEH?!"
"Kenapa? Mau protes?" tanya Rin.
"Ya! Dimana jatah makan malamku?!"
Tidak kusangka, Rin setega ini sampai dia tidak menyiapkan makan malam untukku.
"Nggak kubuat karena hari ini kau terus menggodaku."
"Tapi kan aku tidak menggod–"
"TIDAK ADA ALASANN!" potong Rin.
"Hah, yasudah."
Baru saja aku mau beranjak menuju kamarku.
"Tidak secepat itu, shota. Aku akan membuatmu menderita malam ini."
Aku menoleh kearah Rin yang sedang memegang seuntai tali yang dia dapat entah dari mana.
Uhh… I have a bad feeling about this…
-skiptime-
Aku duduk di meja makan dengan muka cemberut, melihat Rin yang gantian menggodaku dengan cara memakan makan malamnya perlahan – lahan.
"Sial! Rin! Kau makan selambat siput, kau tahu?!" seruku tak sabar.
"Kenapa? Ada yang salah? Ini namanya penghayatan. Aku sedang menghayati makanan yang aku makan ini! Ada masalah?"
"Ya! Kau membuatku semakin lapar!"
Rin memainkan sendok yang dipegangnya lalu menatapku.
"Kalau begitu, pergi saja ke kamarmu!"
"Bagaimana caranya aku bisa beranjak dari sini kalau kau mengikatku dengan bangku seperti ini?!"
Rin memang kejam. Ditambah lagi, aku seperti sedang melihat 'aku' makan. Ya. Pada saat Rin memasak, dia memang mengikat rambutnya dan sekarang Rin masih mengikat rambutnya. Dia terlihat hampir sama sepertiku.
"Usaha." ujarnya tak peduli.
ARGH!
TING! TONG!
"Ada orang diluar. Shota, bukakan pintunya."
"Bagaimana caranya kalau aku diikat seperti ini?!" ujarku frustasi.
"Huft… Kau memang tidak berguna."
APA KATAMU?!
Rin's POV
Aku berjalan menuju pintu masuk lalu membukakan pintu untuk seseorang yang menekan bel rumah Len.
"Sia–"
"LEENN!"
Aku langsung dipeluk (lebih tepatnya ditubruk) oleh seorang cewek.
Pelukannya terasa hangat sekaligus membuatku sesak nafas.
"Sudah lama ya! Aku kangen sekali!" ujarnya sambil melepas pelukannya lalu tersenyum.
Aku melongo kagum.
Rambut blonde cewek di depanku ini terlihat bersinar dibawah bulan. Tubuhnya ramping, stylenya yang oke bisa dilihat dari gaya rambutnya yang diikat satu kesamping dan baju yang dikenakannya. Ditambah lagi dengan wajah putihnya yang menambah kecantikannya.
"-en.. Len?"
"Ha – hah?"
Gawat. Baru kali ini aku bengong melihat sesama jenis.
"Uhh... Len? Kenapa kamu pakai rok?" tanya cewek di depanku dengan ekspresi yang sulit ditebak.
"A – ah.."
"Rin, siapa yang da–"
Sepertinya Len sudah berhasil melepaskan diri dari tali tadi.
Mata azure Len membulat ketika mereka bertemu, begitu juga mata cewek itu.
"Le – Len ada dua?!" ujar cewek itu shock sambil menunjukku dan Len yang asli secara bergantian.
"Nee-san?"
-To be Continued-
Gimana minna-san?
Maap sekali updatenya lama seabad! Mohon maapnyaa... m(_)m
Shiecchan sebentar lagi akan buat fic baru ^^ #drumrolls
Arigatou yang sebesar - besarnya untuk minna-san yang sudah mereview fic saya ini ^^
Read and Review okay? (buat SOULmate dan fic yang baru pastinya :D)
Ja~ Sampai jumpa di chappie berikutnya V^^V
