Huwaaaa! Minnaa, hontou ni arigatou untuk reviewnya!

Gomennasai minna-san karena Shiecchan baru bisa update sekarang TT^TT

Mohon reviewnya kembali ya ;D

Disclaimer : VOCALOID (termasuk karakter) bukan punya Shiecchan tapi Shiecchan punya fanfic ini :D


Rin's POV

Aku menatap wajah Len yang menatap wajah cewek berambut blonde di depan pintu dengan tatapan shock itu dengan bingung. (eh?) Pokoknya aku menatap Len dengan tatapan bingung dan Len menatap cewek itu dengan tatapan shock. Kuakui, penjelasan yang kedua lebih baik daripada yang pertama.

"Uhh… Len? Dan… Len? Yang mana yang Len? Dua – duanya?" tanya cewek itu dengan linglung.

Len maju selangkah mendekatinya lalu menunjuk dirinya sendiri. "Aku Len yang asli, nee-san."

.

.

.

"LEENN! Aku merindukanmu!"

Seketika itu juga, tubuh Len ditubruk oleh cewek itu. Bukannya terjengkang atau apa tetapi Len tetap berdiri di tempat, tidak sesuai dengan harapanku. Len tersenyum lembut kearah cewek itu lalu mengusap rambutnya. Tersenyum LEMBUT!

"Selamat datang, nee-san." ujarnya lembut sambil melepaskan diri dari pelukan cewek berambut pirang tersebut.

JLEB!

Ouch. Aku mulai khawatir tentang keadaan jantungku. Mungkin besok aku harus pergi ke rumah sakit untuk check-up.

"Nee-san kapan pulang dari Amerika? Kenapa nee-san tidak memberitahuku dulu?" tanya Len lagi.

"Sebenarnya, nee-san ingin memberikan kejutan untukmu tapi sepertinya nee-san malah mengganggu ya?" tanyanya sambil melirik kearahku.

GLEK!

Aku yakin cewek itu salah paham. Pasti salah paham. Len yang sepertinya juga berpikiran seperti itu langsung terlihat panik. Aku menyikutnya pelan dan memberi tatapan kau-beri-tahu-yang-sebenarnya-dan-bisa-kupastikan-nyawamu-akan-melayang kearah Len lalu mulai menyusun cerita di otakku.

Len's POV

Sekarang aku berada di ruang tamu, disertai dengan Rin yang menceritakan masa lalu yang jelas – jelas dikarangnya dan Neru-nee yang terlihat percaya dengan ceritanya sambil memegang sekotak tissue dan sesekali mengelap air matanya.

"Ja – jadi, setelah harta bendamu dicuri, kedua orang tuamu kecelakaan lalu sekarang rumahmu terbakar habis? Hiks… Hiks…" ujar Neru-nee sambil terisak.

Ingin rasanya aku berteriak 'Hei, hantu bodoh! Kau sangat pandai mengarang cerita! Kenapa kau tidak membuat novel saja dan uangnya digunakan untuk membangun kembali rumah khayalanmu yang terbakar habis itu?!' tapi jelas itu tidak mungkin kuucapkan setelah mendapatkan ancaman darinya tadi.

"Benar. Jadi sementara ini, saya menumpang di rumah Len berhubung Len sendiri yang menawarkan bantuannya terlebih dahulu kepada saya."

APA?!

"Len benar – benar orang yang sangat baik, suka menolong dan juga murah hati. Anda sangat beruntung mempunyai adik sebaik Len, Neru-san." kata Rin.

Pujian itu terdengar seperti pelecehan di telingaku. Neru-nee mengangguk – agguk setuju lalu memelukku erat.

"Nee-san sangat bangga padamu, Len!" ujarnya.

Entah kenapa setelah mendengar suara nee-san, semua kekesalanku terhadap Rin lenyap. Aku hanya bisa tersenyum lalu membalas pelukan hangatnya. Neru-nee sama sekali tidak berubah. Masih sama seperti dulu. Neru-nee yang paling kusayangi.

"Um... Neru-san benar – benar dekat dengan Len ya? Tidak seperti saudara pada umumnya." kata Rin dengan hati – hati.

Neru-nee tersenyum kearah Rin. "Ya, karena kami memang bukan saudara kandung, Rin-chan."

Mata Rin membesar. Dari reaksinya, aku yakin kalau dia shock betulan dan bukannya dibuat – buat.

"Oh..." katanya akhirnya.

Rin's POV

Aku benar – benar tidak menyangka kalau Neru-san dan Len bukan saudara kandung. Dan hanya 'Oh...' yang bisa kukatakan ketika aku mendapatkan fakta itu. Speechless mungkin kata – kata yang tepat untuk mendeskripsikan keadaanku sekarang ini.

"Uh... Um... Kalau begitu, aku ke kamar dulu ya, Len?" kataku sambil berjalan menuju tangga.

Tanpa sadar, aku melihat kebelakang dan menyadari bahwa Len mengikutiku. Oh, mau apa lagi dia sekarang?! Aku mempercepat langkahku lalu menutup pintu cukup keras.

"Oii! Ha – Rin! Buka pintunya!" katanya sambil memukul – mukul pintu yang tidak berdosa itu.

"Len baka! Kenapa kau mengikutiku?! Kau mau apa dariku?!"

"Aku tidak ada urusan denganmu tahu!" katanya membela diri.

"Jadi kenapa kau mengikutiku kalau tidak ada urusan denganku?!"

"Karena aku ada urusan dengan kamar yang sedang kau tempati ini!"

Oh.

Aku membuka pintu sedikit lalu mengintip Len yang juga sedang menatapku.

"Um… Len, memangnya ini kamar siapa?" tanyaku.

"Neru-nee. Bukankah aku sudah pernah bilang hal ini kepadamu?"

Ya. Aku tahu itu.

"Aku lupa. Kalau begitu, aku akan membereskan barang – barangku."

"Eh? Kenapa? Bukankah kalian bisa tidur berdua ata–"

Aku menjitak dahinya pelan lalu membuka pintu kamar lebar – lebar.

"Mana bisa begitu, baka! Hanya ada 1 tempat tidur dan itu hanya untuk satu orang. Kakakmu baru pulang dari Amerika. Neru-san pasti sangat lelah dan aku tidak mungkin mengganggu istirahatnya!" ujarku panjang lebar.

Len mengangguk – angguk. "Jadi, kau tidur dimana?"

"Aku tidak bisa tidur di kamar tamu bawah karena kamar itu berdebu. Mungkin hari ini aku akan tidur di sofa lalu besok, aku baru akan membersihkannya."

Len menatapku dengan tatapan terkejut. "Kau mau tidur di sofa?!"

Aku mengangguk singkat, merasa tidak ada yang aneh dengan hal itu. Diluar dugaanku, Len menggeleng tidak setuju lalu turun kebawah, masuk ke dalam kamarnya lalu keluar beberapa menit kemudian.

"Rin, malam ini, kau tidur di kamarku saja. Aku yang akan tidur di sofa!" ujarnya.

Ucapannya cukup untuk membuatku merinding dan membuka mulutku lebar – lebar. APA?!

"Le – Len, kau salah makan ya hari ini? Atau kau baru saja ke – kerasukan?" tanyaku terbata – bata.

Len menepuk dahinya lalu menarikku masuk ke dalam kamarnya.

"Kau malam ini tidur disini. Bagaimana pun juga, kau itu cewek. Mengerti?" ujarnya sebelum menutup pintu.

Len's POV

Apa yang kupikirkan, sih? Membiarkan hantu bodoh itu tidur di kamarku?! ARGH! Sudahlah. Aku tidak mengerti.

"Len, nee-san tidak keberatan kalau harus berbagi tempat tidur dengan Rin-chan."

Aku menggeleng cepat lalu mengangkat koper Neru-nee keatas sedangkan Neru-nee mengikutiku.

"Neru-nee hari ini harus istirahat. Aku tidak mau melihat nee-san sakit." kataku sambil menurunkan koper Neru-nee di depan pintu kamarnya.

"Arigatou, Len."

Neru-nee tersenyum sekilas sebelum mengecup pipiku lalu menutup pintu kamarnya. Aku hanya bisa membeku di tempat sambil memegang pipiku dengan wajah yang kurasa mulai memerah, mencerna apa yang baru saja terjadi sebelum berbaring di atas sofa, mencoba untuk tidur.

Rin's POV

Len memang bodoh. Ya. Dia memang bodoh. Sangat bodoh. Sekarang aku berada di ruang tamu, melihat Len yang terbaring diatas sofa sambil menggigil kedinginan. Udara di ruang tamu memang cukup dingin dibandingkan di dalam kamarnya. Walaupun dia biasanya tidur dengan ehemtoplessehem tapi selimut yang dipakainya benar – benar tebal. Aku serius.

"Kau benar – benar bodoh, Len. Berpura – pura kuat seperti itu…" ujarku yang lebih terdengar seperti bisikan sambil tersenyum kecil melihatnya.

Aku berjalan masuk kedalam kamarku lalu keluar dengan membawa selimut tebalnya, menyelimuti tubuhnya yang lumayan dingin.

"Untuk kali ini saja, terima kasih." kataku lalu menunduk untuk mengecup pipinya singkat sebelum kembali masuk ke kamarnya.


-TBC-

Gimana minna? Agak cliché ya?

Sepertinya tulisan Shiecchan semakin memburuk karena sudah lama tidak menulis cerita TT^TT

Review, onegaishimasu! ^^

Sampai jumpa di chappy selanjutnyaa!