Waktu itu ada request Yesung cemburu sama Kyu kan? Maaf banget baru bisa bikin. Beberapa hari ini moodku naik turun. Rasanya ga enak banget jadi orang yang sangat sensitif. Oke, maaf jadi curhat. Kkkk! Semoga FF ini tidak mengecewakan. Terima Kasih BANYAK untuk kalian yang masih setia membaca dan menunggu ffku *terharu*. JEONGMAL GUMAWO!

.

.

-Jalousie- [Yesung's Point Of View]

.

.

Cemburu. Ku kira hal itu hanya dirasakan oleh anak remaja yang baru dilanda rasa cinta. Sebuah perasaan aneh yang menggelikan. Dan kini aku baru menyadarinya, bahwa hal itu benar-benar menyakitkan dan membuatku ingin marah. Seperti inikah mereka semua yang sedang cemburu?

.

.

_Kyusung_

.

.

Aku memandang langit malam Hongdae. Tak ada bintang satu pun disana. Apa ini bentuk duka cita sang angkasa untukku? Mungkin. Dan aku cukup bersyukur, setidaknya masih ada yang mampu mengerti perasaanku.

Sesekali aku memandang ponsel. Ada satu pesan yang membuatku bimbang seharian ini. Kyuhyun mengajakku makan malam. Selama dua tahun menjalani hubungan, kami memang jarang sekali pergi berkencan. Ia disibukkan dengan dunia keartisannya. Menjalani beberapa drama musikal ditambah albumnya yang sedang naik. Sementara aku, hanya fokus pada solo karirku saja. Tidak ada yang spesial.

Aku melihat lagi pesan darinya. Entah sudah yang keberapa kali. Dia mengatakan jam sembilan akan menungguku di Sungai Han. Sementara sekarang sudah jam delapan. Hanya tinggal satu jam lagi, dan aku belum bersiap sama sekali. Entahlah, rasanya membingungkan.

Aku tahu, seharusnya aku senang karena kekasihku mengajak berkencan. Tapi rasa didalam hatiku menguapkan segalanya. Mungkin aku terlalu sensitif atau aneh. Sebab hanya karena perasaan ini aku menjauhi Kyuhyun hampir satu minggu. Perasaan tidak nyaman yang menyimpan perih. Aku cemburu padanya. Apa salah jika aku melakukan itu? Tapi mungkin aku bodoh, karena nyatanya Kyuhyun masih tetap baik-baik saja. Tidak sadar dengan apa yang aku lakukan padanya.

Aku menghela nafas.

Hubungan ini begitu datar. Kyuhyun bukanlah orang yang romantis seperti kebanyakan pria diluar sana. Ia selalu acuh pada apapun. Termasuk aku. Kekasihnya sendiri.

Inilah hal besar yang membuatku marah dan cemburu. Didalam konsernya ia bisa berkolaborasi begitu manis dengan partner duetnya. Sementara padaku, ia bahkan tak pernah menyisakan sedikit saja suaranya untuk menyanyikanku lagu.

Disetiap acara ia bisa dengan santai mengagumi banyak wanita. Menunjuk mereka satu persatu dengan terang-terangan. Mengatakan bahwa ia menyukai wanita itu. Sementara padaku? Bahkan kata cinta pun begitu jarang ia ucapkan. Hanya sebatas basa-basi khawatir menanyakan kabarku. Dan diluar sana, apa ada yang tahu bahwa aku adalah kekasihnya?

Air mataku menetes. Sekali lagi aku memandang ponsel dan ada sebuah pesan baru darinya.

"Jam Sembilan."

Gumamku menyuarakan pesannya. Hanya itu? Kyuhyun memang seperti ini. Selalu irit bicara. Terkadang aku berpikir, apa ia mencintaiku? Tidakkah ini menyakitkan untukku yang berstatus sebagai pasangannya? Aku sering iri dengan banyak orang. Mereka bisa berbahagia dengan kekasihnya. Saling mengumbar kemesraan. Sementara aku, harus selalu menahan apa yang aku rasakan demi menjaga perasaan Kyuhyun. Aku ingin kami selalu baik-baik saja. Tapi nyatanya aku sendiri yang harus menanggung perih.

Tak terasa lima belas menit berlalu. Aku melirik jam dinding. Sama sekali tak berniat untuk beranjak dari tempat ini.

Pikiranku menerawang jauh. Tepat ke enam hari yang lalu. Dan itu membuat air mataku jatuh menetes lagi. Aku meremas ujung baju. Dadaku rasanya nyeri. Bolehkah aku meluapkannya? Mengatakan aku tidak suka ia melakukan itu. Mengungkapkan dengan lantang bahwa aku cemburu padanya. Cemburu saat ia MENCIUM seorang gadis didalam drama musikalnya.

"Hiks."

Isakanku lolos. Aku sudah tidak kuat menahannya. Ini tidak adil. Kenapa aku yang harus selalu mengerti Kyuhyun? Kenapa sekali saja ia tidak pernah mau memahamiku? Mendalami seberapa besar arti diriku untuknya. Sebut saja aku kekanakan, tapi apa aku tidak boleh merasa iri? Aku kekasihnya, dan ciuman itu belum pernah aku dapatkan sama sekali. Tidakkah Kyuhyun begitu kejam?

Tubuhku jatuh terperosot. Rasa dingin lantai begitu menusuk. Dan hanya dinding ini yang bisa menopangku. Meski sejujurnya aku sangat butuh pelukan dari Kyuhyun. Tapi tidak mungkin aku merajuk. Yang ada hanya tatapan datar yang menamparku telak. Menyadarkanku bahwa sampai kapanpun Kyuhyun tidak akan pernah memperlakukan aku secara spesial. Seperti seorang kekasih.

.

.

_Kyusung_

.

.

Aku sudah terlambat sepuluh menit. Menghabiskan waktu untuk mengompres mata. Aku tak ingin Kyuhyun curiga jika melihat mataku membengkak karena menangis.

Aku berjalan menapaki rerumputan dipinggir sungai. Malam ini airnya begitu tenang. Dan anehnya tak ada seorang pun yang berlalu lalang. Padahal ini belum lewat tengah malam. Tapi tak apa, aku membutuhkan suasana yang seperti ini. Membuatku merasa sedikit nyaman.

Kembali pada Kyuhyun. Pria itu sama sekali tak nampak disini. Padahal ia yang mengingatkan pertemuan kami tepat pukul sembilan. Apa ia marah aku datang terlambat? Hanya sepuluh menit dan ia tega meninggalkanku pulang?

Hatiku kembali bersedih.

Aku mendudukkan diri diatas rumput. Menenggelamkan kakiku kedalam air. Rasanya dingin. Begitu menenangkan sampai aku tidak sadar seseorang sudah terduduk disisi kanan. Aku menoleh, mendapati sosok Kyuhyun yang duduk disampingku tengah menatap lurus kedepan.

"Kyuhyun-ah." Panggilku pelan. Ia menoleh. Manik kami bertemu, membuat debaran jantungku tak terkendali. Aku mencoba mengatur nafas dengan baik. Karena sampai sekarang, aku tidak pernah terbiasa berada didekat Kyuhyun. Begitu canggung dan menegangkan. "Maaf aku terlambat." Lanjutku.

Aku menunduk, mengalihkan diri dari tatapannya.

"Kau membuatku menunggu."

"Iya, maaf."

Suaraku mengecil. Aku takut. Tubuhku bergetar. Kyuhyun, bisakah kau tidak mengeluarkan nada suaramu yang dingin itu? Kapan? Kapan kau akan merubahnya untukku?

Kami terdiam. Hanya suara angin membentur air yang terdengar. Menambah kecanggungan diantara kami. Seperti inilah waktu berkencan yang selalu aku jalani bersamanya. Bukan sebuah obrolan panjang yang berkesan. Hanya sekedar temu pandang dan sedikit basa-basi. Semua orang tahu bahwa Kyuhyun itu angkuh. Tetapi ia bisa sedikit merubah sikapnya jika dimedia luar. Dan padaku, ia tetap mempertahankan sikapnya itu. Aneh memang, hubungan kami bisa bertahan selama ini.

"Kau habis menangis." Ucapnya entah itu bermaksud bertanya atau apa. Aku menarik nafas. Tidak mungkin aku jujur. Tidak akan ada manfaatnya. "Aku minta maaf."

Ujarnya lagi datar. Namun kali ini ia menatapku begitu dalam. Sampai aku benar-benar merasa sesak.

"Kenapa?"

"Aku pasti melakukan kesalahan."

Apa Kyuhyun sadar? Apa ia tahu bagaimana perasaanku? Kapan ia menjadi peka seperti ini? Padanganku sedikit buram karena air mata. Mungkin cukup terharu dengan sikapnya.

Aku menggigit bibir bawahku. Menahan isakan yang akan lolos. Aku sangat membutuhkan pelukanmu Kyuhyun.

GREB!

Jantungku rasanya ingin melompat. Air mataku menetes seketika. Benarkah Kyuhyun memelukku? Benarkah dada bidang dan lengan yang merangkul tubuhku ini milik Kyuhyun? Apa aku boleh berteriak? Aku bahagia. Sangat bahagia. Aku berharap waktu bisa berhenti. Mengabadikan momen ini lebih lama lagi.

Aku menggerakkan tanganku perlahan. Membalas pelukannya. Nyaman. Aku bisa mendengar detak jantung kekasihku ini. Merasakan hangat tubuh Kyuhyun melingkupiku. Sampai aku tidak sadar bahwa aku sudah menangis terisak. Ini terlalu indah.

Kyuhyun menyerukkan wajahnya diperpotongan leherku. Menciumnya sampai akhirnya tangisku pecah saat suara lembutnya berbisik "Menikahlah denganku."

Aku memeluknya erat. Menumpahkan air mataku didadanya. Apa ini mimpi? Apa aku begitu menggilai Kyuhyun sampai aku membayangkan ia melamarku?

Kyuhyun merenggangkan pelukan kami. Menyelami manikku dalam-dalam. Kedua tangannya menangkup wajahku. Aku merasakan wajahku memanas. Ini perlakuan Kyuhyun yang paling romantis

"Jadilah pendamping hidupku Yesung."

Aku mengangguk lemah.

"Iya."

Hanya itu yang mampu aku ucapkan. Lidah ini begitu kelu. Apa yang Kyuhyun lakukan sungguh sangat berpengaruh padaku.

"Saranghae."

Ungkap Kyuhyun. Sampai akhirnya untuk kali pertama ia menciumku. Tangisku lagi-lagi pecah. Malam ini adalah anugerah terbesar yang Tuhan berikan. Aku tidak pernah berani berdoa untuk hal sejauh ini. Tapi Tuhan memberikannya dengan sukarela untukku. Menebus segala kesabaranku untuk Kyuhyun. Terima kasih. Aku benar-benar bahagia.

"N-nado Kyu."

.

.

_Kyusung_

.

.

"Akhirnya jejak wanita didrama musikalku hilang."

"Apa maksudmu Kyu?"

"Lupa? Beberapa menit yang lalu kita berciuman Yesung."

.

.

.

FIN

.

.

Akhirnya FF ini selesai. Ini FF request waktu itu sekalian untuk membayar keterlambatanku update. Gimana hasilnya?

Aku suka banget sama karakter Kyuhyun yang begitu. Jadi ga heran kalau Don't lie, My Male Wife atau beberapa ffku Kyuhyunnya agak cuek-cuek gimana gitu. Karena Kyuhyun yang begitu terlihat cool. Kkkkkk~ *appa berkali-kali lipat lebih tampan kalau pendiem* XD

Maaf ya jika ada kesalahan kata atau gimana. Ini ff aku buat kilat setelah mendapatkan ide mendadak tadi.

Aku juga mau minta maaf karena aku belum update Saol Aisteach, Don't lie, Romantic Slave, My Male Wife, dsb. Aku beneran lagi krisis imajinasi. Ada banyak hal yang bikin aku galau berkepanjangan kemarin. Jeongmal mianhae. :'( Sampai-sampai aku berniat menghapus semua FFku. Huahhhh…

Ga ada habisnya aku mengucapkan TERIMA KASIH BANYAK kalian masih setia membaca ffku. Cukup sedih sebenarnya, karena ada beberapa nama yang menghilang. Begini-gini aku hafal loh penname kalian. Hanya saja aku cukup bodoh dan tidak tahu bagaimana caranya membalas review. *poor me*

Oke, sekian aja cuap-cuapnya.

Aku butuh komentar kalian tentang FF ini.

KAMSAHAMNIDA!

*deep bow*

Follow twitterku : KyusungFanfict