THIS CHAPTER IS DEDICATED TO: My mom~ Kaa-san, otanjoubi omodetou! XDDD

Disclaimer: I don't own VOCALOID, neither the song. As you see, I only own the story .w.

Author's Note : Sorry for the late update, I've been busy of some other... stuff but here I am, presenting you this chappie! Anyway, this chapter appeared a bit... psychological for some reason, both in Len and Rin part. I don't want to erase the humor or something, but I just want to deepen a bit the character's feelings, developing it. And anyways, I always add humors so far. Well then, happy reading, folks! ;D


*Len*

"Morning, Len," sapa Oliver di lorong.

Aku balas tersenyum. "Morning."

"Kau enak ya, tidak perlu sekolah di tempat biasa. Aku sih, harus terjebak di Creepy School itu sampai SMA," gerutunya.

Ya, benar. Oh, aku punya ide cemerlang. Bagaimana kalau aku bertukar peran denganmu dan kau dapat menikmati saat-saat menyenangkan dikurung di dalam mansion seumur hidupmu dan aku bersenang-senang di luar sana, menyalurkan hobi fotografiku keliling dunia?

Tapi bukannya aku menyangkal adikku, aku memutuskan untuk tutup mulut.

Oh. Soal adik-kakak-dan-apapun-itu. Ya, Oliver itu adikku. Tidak seperti aku, dia lebih beruntung soal kelahirannya. Dia. Sepenuhnya. Normal. Tidak seperti aku, anak hemofilia yang freak dan antisosial.

"Len?"

"Hah?"

"Kau melamun."

Aku hanya memutar bola mata, tidak menjawab. Sesampainya di ruang makan mansion Everrelock yang terkenal oleh keluasannya, aku duduk di depan meja, mengikat serbet ke leherku. Di seberangku, duduk seorang wanita berambut pirang panjang yang mengenakan dress yang berwarna dasar kuning dan diselingi warna hitam. Lebih tepatnya, kimono dress. Iris matanya berwarna biru jernih seperti air, memantulkan kerlip cahaya, yang jelas-jelas mengatakan pada orang lain bahwa, 'hei aku seorang wanita umur 40an yang imut dan innocent.' Atau dalam versiku; 'hei aku ibumu dan aku sedang melakukan hal bodoh yang kulakukan rutin tiap pagi.' Aku menepuk dahiku─kelewat keras, karena sekarang di dahiku muncul tanda merah berbentuk tangan. Ya, benar. Wanita di depanku ini, dengan malu kukatakan, adalah ibu kandungku.

"MOOOOM! Aku kan pernah bilang kalau cross-dressing itu hobi yang payah," protesku.

"Sudahlah, percuma saja, Len," ujar Oliver.

"Maksudku, bangsawan Inggris mana yang diam-diam cross-dressing di rumahnya?"

"Entahlah. Ibumu?" tanya lelaki berambut pirang di sebelah ibuku itu. Lelaki itu memiliki rambut pirang yang nyaris sebahu dan mata hijau seperti rumput segar (atau kurasa begitu. Aku kan tidak pernah benar-benar memperhatikan rumput). Garis mukanya tajam, namun tanpa kerutan tanda usia yang seharusnya ditunjukkan oleh wajah lelaki seumurannya. Bisa dibilang kedua orangtuaku ini... awet muda.

Awet muda sampai aku merasa ini mulai mengerikan.

"Morning Dad. Kapan kau pulang?"

"Tadi malam. Kereta di Cornwall benar-benar punya kecepatan yang payah. Kurasa lain kali aku harus naik pesawat," dengusnya sambil meraih garpu dan sendok. Ia menyendokkan sesendok sup krim ke mulutnya.

Well, meskipun ayahku, Leon Everrelock adalah bangsawan yang dikenal seantero benua Eropa dan bahkan Amerika, dia bangsawan satu-satunya yang kutahu masih memakai kendaraan kuno bernama kereta uap untuk berkunjung ke Cornwall. Tapi aku tutup mulut saat teringat ibuku, Lily Everrelock yang terhormat dan gemar memakai baju yang aneh-aneh.

Aku perlahan menghabiskan sarapan pagiku sambil mendengarkan ibuku berceloteh soal hobinya yang 'unik' dan 'sedang hangat' itu. Apa kata orang jaman sekarang? Apa katamu, deh.

"Ngomong-ngomong, Len. Hari ini semua jadwalmu dibatalkan," kata Mom.

Aku mendengar suara samar Ted berkata; 'Oh iya' di belakangku.

"Kenapa?"

"Hari ini kau harus cek darah ke rumah sakit, ingat? Dan pokoknya, setelah itu tunanganmu akan berkunjung kemari," terang Mom.

Ugh, lagi-lagi Nell. Ada urusan apa sih, kemari?

Aku mengelap bibir dengan serbet dan bangkit dari kursi. Dua kalimat dari Mom benar-benar membuatku tidak selera makan. Aku berbalik pergi tanpa mengucapkan salam seperti seharusnya, tapi toh, Mom atau Dad tidak memprotes. Aku melangkah menuju ruang musik, ruangan yang dapat membantuku memperoleh mood baikku kembali. Aku mendengar langkah ringan Ted mengikutiku, memperhatikan setiap langkahku.

"Mau kemana?" tanyanya.

"Kupikir kau sudah cukup tahu," tuturku mengangkat bahu.

Soal tunangan itu. Aku tidak benar-benar membenci Nell, dan aku tahu bahwa kurang lebih bangsawan itu wajib memiliki tunangan, terutama pewaris. Tapi aku tidak suka kenyataan bahwa aku, Leanden Everrelock, harus terikat pada cewek malang yang secara kebetulan adalah tunanganku. Sudah kubilang, aku tidak membencinya, menurutku dia manis untuk ukuran cewek seumurannya dan sebagainya, dan aku tidak membenci cewek─yup, aku straight. Memangnya kau pikir aku akan berpacaran dengan Ted?─tapi aku lebih merasa... bersalah. Nell seharusnya lebih beruntung dari itu. Seharusnya dia mendapatkan pria yang lebih baik.

Seharusnya cewek seperti dia mendapatkan tunangan yang lebih baik dari diriku.

Aku tidak perlu diberitahu seorang detektif kalau hidupku sudah tidak lama lagi. Dan aku tahu aku hanya duduk manis di mansion ini sampai aku mati perlahan-lahan. Nell juga kurasa sudah tahu soal itu. Tapi dia menolak kenyataan, dia ingin meyakinkan dirinya sendiri bahwa aku akan selalu berada di sampingnya. Mungkin dia menyukaiku atau semacamnya, hal ini sering terjadi pada pertunangan. Seperti yang sering kubaca di buku; "Cinta itu terjadi karena terbiasa." Sayangnya, kurasa aku tidak menyayanginya lebih dari rasa sayangku pada Oliver. Aku tidak suka mengecewakan orang lain, aku tidak suka membuat orang lain terbebani olehku. Mungkin itulah alasannya aku masih hidup hingga sekarang. Rasa bersalah.

Kalau bisa, aku tidak ingin terlahir di dunia ini sejak awal. Aku hanya menjadi beban bagi orang di sekitarku.

Sesampainya di ruang musik, tempat mansion ini menyimpan alat-alat musik dari cello sampai garpu tala, dari organ raksasa sampai harmonika. Ted berjalan ke sudut ruangan sementara aku menunggu. Tak lama kemudian, Ted menghampiriku sambil membawa sebuah kotak kayu berisi instrumen yang selalu merupakan instrumen favoritku. Kubuka kotak itu perlahan dan kuhirup napas dalam-dalam. Aroma kayu yang khas tercium dari violin di tanganku. Aroma sebuah seni.

Aku tidak sedang bicara soal air seni, dasar bodoh.

Pokoknya, violin ini punya cerita yang panjang. Yang melibatkan Band-Aid yang basah oleh darah, ambulans dan transfer darah darurat. Buruk? Sangat. Akan kuceritakan padamu? Hm, biar kupikir dulu. Tidak. Aku butuh banyak bujukan untuk membuat Mom dan Dad membiarkanku menyimpan violin ini dan lebih banyak lagi untuk membiarkanku meneruskan pelajaran violinku. Dan aku tidak akan bicara lebih banyak, yang jelas aku berhasil.

Dengan hati-hati, aku meraih busur dan menyandarkan violin itu ke daguku. Rasanya nyaman, terus seperti ini. Ted mengamatiku dan tersenyum, namun ia tidak berkomentar. Dia sudah cukup lama berada di sampingku dan kurasa dia cukup mengenalku. Misalnya, kapan untuk mengajakku bicara dan kapan tidak. Sesaat otakku berputar (pada dasarnya sih, tidak mungkin otak berputar, kalau itu terjadi aku pasti sudah mati. Tapi tahulah, masalah penggunaan metafora dan sebagainya), memikirkan lagu yang akan kumainkan, namun dalam waktu singkat aku tersenyum simpul. Aku menarik napas dalam dan mulai memainkan lagu itu. Aku memejamkan mata, meresapi setiap nadanya. Berhubung tidak banyak yang bisa kulakukan di mansion ini, musik adalah hobi keduaku setelah fotografi.

Melodi yang lembut perlahan menggetarkan udara. Aku seakan dapat merasakan samar udara hangat musim panas. Sinar mentari. Bunga bermekaran. Violin di tanganku melantunkan nada dengan lembut, tanpa cacat. Bahkan Ted menutup mata, dan aku yakin dia melihat pandangan yang sama denganku.

"Summer, Vivaldi. Solo violin. Dasar tingkat ti..."

Setidaknya itulah kalimat terakhir yang kudengar sebelum aku hanyut dalam melodi yang kumainkan.

Nada itu... terasa menggetarkan. Aku merasakannya menggetarkan gendang telingaku, masuk ke dalam aliran darahku. Setiap detak jantungku terasa berirama, menghanyutkan. Aku mencapai presto, bagian yang paling kusukai diantara semuanya. Musik yang semula pelan bergejolak penuh energi di bawah kulitku. Kalau saja bukan aku yang memainkan musik, aku pasti akan melompat kegirangan tanpa alasan.

Estate / Summer. Il Cimento dell' Armonia e dell' Inventione ─ Concerto II.

Aku selalu bertanya-tanya. Apa yang dipikirkan para composer yang menciptakan lagu? Seperti apa rasanya, menumpahkan setiap emosi dalam not balok? Menciptakan sebuah mahakarya?

Banyak orang yang berkata bahwa seniman terkenal biasanya punya kelainan jiwa.

Setelah kupikir lagi, hal itu bukannya mengherankan.


*Rin*

"AAAAAAAAKKKHHHH! GEOGRAFI SIAAAAAAL!" jeritku kesal ketika aku keluar dari ruang kelas. Aku dapat melihat DENGAN JELAS bahwa Teto berusaha untuk tidak tersenyum. Mr. Bright, guru Geografi kami menatap ke arahku tajam. Ups.

"Sudahlah, ini cuma ulangan Geografi biasa. Tidak bakal jadi masalah besar kalau kau harus mengulang lagi di ulangan berikutnya," ujar Teto santai.

"Betapa perhatian. Terimakasih," dengusku.

Geografi payah. Maksudku, yeah, aku cinta geografi karena beberapa hal. Tapi apa hubungannya dengan sosiologi? Kenapa pelajaran itu harus digabung dengan hal tidak penting seperti itu, sih? Yang benar saja.

Begitu kesal sampai aku tanpa sengaja menubruk seseorang.

"Ow, jalan lihat-lihat dong, dasar─ Oh. Lihat siapa ini. RinNerd," ejek cewek berambut tosca yang baru saja kutabrak.

Oke. Perkenalan. Namanya Michelle Quinn, anak terpopuler se-Crypton (rumornya). Ia memiliki rambut berwara tosca panjang yang dikuncir dua dan iris mata dengan warna serupa. Karena beberapa alasan dan mungkin pengaruh J-Pop Fever, dia menyingkat namanya dengan amat unik. Alias, dia menyingkat namanya jadi Mi-Q (baca: Miku. Hahaha). Punya obsesi tidak terbatas soal fashion dan daun bawang, dan bercita-cita memiliki toko parfum yang baunya seperti bawang. Aku sedikit tidak mengerti kenapa dia populer. Muka imut, check. Kaya, check. Cheerleader team, check. Popularitas melebihi batas dewa, check. Sifat? Um.. double-cross.

Well, dia punya banyak cecunguk, tapi cuma satu teman dekat. Namanya Michel, tepatnya Michel Keys dan karena namanya kebetulan mirip, dia memilih dipanggil Mic-Key (ya benar. Aku pernah berkomentar tentang Disney dan tikus dan hak cipta, tapi dia tak mau dengar. Percuma saja lah). Pokoknya, kurang lebih begitulah legenda singkat 'Kenapa Michel Dipanggil Miki'. Rambutnya merah, dengan sejumput rambut mencuat dari tengah kepalanya. Sumpah, kadang itu terlihat mengerikan. Tapi, kurang lebih sifatnya sama seperti Miku, yang bisa dideskripsikan dengan satu kata yang memiliki seribu arti. 'Menyebalkan.'

"Please, deh. Kenapa sih, sekolah ini mau saja menerima anak pengemis? Ini kan, harusnya menjadi sekolah elit se-Inggris," komentarnya Miki sengaja menyindirku. Orang tuaku bukan pengemis, dasar rambut merah. Mereka jurnalis!

"Kami tidak meminta pendapatmu, Mickey Mouse. Back off," balas Teto membelaku.

Tuh, dia teman yang baik!

"Oh? Jadi si pengemis berteman dengan si pembantu? Cocok sekali!" kata Miku, sengaja menyindir Teto. Teto memang punya kakak bernama Ted, dan Ted bekerja di mansion keluarga bangsawan sebagai pelayan pribadi seseorang yang bahkan tidak ingin kuketahui namanya. Wajah Teto berubah merah karena geram.

Kerumunan orang mulai mengelilingi kami, mencari tahu alasan pertengkaran kami. Agak memalukan, pastinya. Mengingat aku tidak terbiasa jadi pusat perhatian.

"Kau tidak punya hak untuk mengomentari apa yang harus kakakku lakukan! Menjadi pelayan bangsawan jauh lebih baik daripada menjadi pelacur mereka, seperti ibumu itu!" bentak Teto kasar.

"Hentikan, kalian berdua! Sekarang waktunya kelas Bahasa!" leraiku, yang sekarang kusadari kukatakan dengan cara yang salah. Maksudku, kalau kau jadi mereka, memangnya kau akan ikut pelajaran payah itu sementara keluargamu dipermalukan? Aku tahu, aku pelerai yang payah.

Aku akhirnya, dengan berbagai cara berhasil menyeret Teto menyingkir dari kekacauan yang lebih parah. Teto menggerutu selama kami berjalan, tapi setelah itu ia memutuskan untuk tidak berargumen lebih jauh.

Bicara soal awal musim panas yang cerah ceria, kan?

.

.

.

Aku benar-benar harus mengingatkanmu kalau itu sarkasme?


"Bye, Rin!" ucap Teto yang melambai dari kejauhan.

Aku balas melambai. Syukurlah, kelihatannya dia sudah melupakan insiden tadi pagi. Aku melirik jam tanganku. Yak, sudah waktunya aku kerja sambilan! Well, kalau kau tanya kenapa aku kerja sambilan padahal aku punya warisan yang seharusnya bisa kupakai sampai lulus sekolah, itu hanya karena aku punya keinginan. Suatu saat, saat tabunganku cukup, aku ingin wisata keliling dunia. Kedengarannya muluk ya? Seperti ingin pergi ke luar angkasa atau ingin menjadi astronot (apa bedanya, eh, beda sih). Tapi itu bukan sekadar keinginanku. Itu karena dulu, kedua orangtuaku ingin keluarga kami pergi suatu saat.

Sayangnya, sebelum impian itu terkabul, mereka meninggal karena kecelakaan kereta api saat pulang dari acara kelulusan kakak perempuanku, Lenka. Kakak perempuanku selamat, memang, tapi itu tidak bertahan lama. Aku sempat bertahan karena ada kakakku disampingku, yang mengerti betapa beratnya menghadapi itu semua, tapi kemudian hal itu terjadi. Seminggu kemudian, baru diketahui bahwa dia memiliki pendarahan otak karena benturan saat kecelakaan itu. Tak lama setelah itu, kakakku meninggal, seakan menyusul ayah dan ibuku. Aku akhirnya sendirian.

Saat itu aku masih kecil dan putus asa, tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku bertanya-tanya kenapa aku tidak ikut serta dalam acara kelulusan itu. Kenapa mereka memilih meninggalkanku di rumah dengan babysitterku? Kenapa aku tidak ada dalam kereta itu?

Kenapa aku tidak diizikan mati bersama mereka?

Yah, waktu berlalu dan aku mendorong diriku sendiri untuk terus maju, tentu saja. Waktu itu umurku baru 11 tahun, dan tidak mudah menghadapinya. Aku mulai bangkit, perlahan, tapi kemudian kenangan itu kembali lagi di mimpiku. Aku sering mendapati diriku terbangun dengan mencekik diriku sendiri, histeris. Terkadang, aku terbangun kesakitan karena mencakar-cakar tubuhku sendiri. Setelah berkunjung ke psikiater dan berkonsultasi, aku menyadari bahwa di dalam diriku, luka itu masih ada. Keinginan untuk menyusul mereka masih ada dalam benakku. Sayangnya, keinginan itu menyebabkan PTD (-AN: Post Traumatic Disease-) yang menyiksaku dalam pikiranku. Ia menyarankanku untuk melakukan apa yang ingin aku, kakakku, dan kedua orang tuaku lakukan. Dan dengan simpel aku menjawab; "Keliling dunia."

Dulu memang, aku melakukan semua ini untuk melupakan kenangan dan PTD itu. Namun, perlahan-lahan perasaan itu mulai menghilang. Sekarang aku tidak memaksakannya. Aku menginginkannya.

Penyakit itu pun perlahan menghilang walaupun, kadang di beberapa kesempatan, mimpi-mimpi itu kembali lagi. Tapi sudah dua tahun aku tidak mengalaminya, jadi bisa dibilang aku sudah sembuh.

Duh, kenapa aku jadi harus terdengan sentimental begini?

Aku berjalan menuju tempat kerja sambilanku, sebuah kafe kecil di pinggir jalan bernama Sweets Heavens. Tempat itu tidak buruk, lumayan hebat malah. Tidak terlalu sepi, tapi tidak bisa dibilang ramai juga. Bosku baik dan pengertian, meskipun sedikit aneh. Tipe orang dewasa yang kusuka. Tentu saja, tanpa human trafficking.

Sesampainya di depan kafe, aku membuka pintunya perlahan, yang langsung disambut dengan salam riang bosku.

"Riiiin~ Akhirnya kau datang!" ujar bosku yang berambut ungu panjang. Rambutnya dikuncir seperti biasa, membuatnya terlihat lucu. Pembawaannya ceria, membuat sekitarnya terpengaruh oleh aura kehadirannya.

"Hey, Mr. Kiers."

Mr. Kiers menggoyang-goyangkan jari telunjuknya.

"Gakupo saja, honey," ucapnya setengah menuntut setengah bercanda, seakan itu merupakan hal terpenting sedunia. Aku memutar bola mata.

"Terserah... Mr. Kiers."

Mr. Kiers adalah perintis kafe sweets ini. Dia adalah blasteran Amerika-Jepang yang tinggal di London sejak masa remajanya. Dan kau berpikir; 'Kalau dia bukan remaja lagi, berapa umurnya?' Kuingatkan, ya. Mr. Kiers agak sensitif dalam masalah umur. Kalau kau tidak mau cari masalah, sebaiknya tidak usah bertanya. Pelanggan yang pernah menuntut untuk bertanya berakhir di pelukan ibunya. Menyeramkan, memang, tapi kupastikan diluar semua itu, Mr. Kiers orang yang baik. Hanya... eksentrik.

Aku berjalan ke bagian belakang kafe. Kafe ini hanya sedikit lebih luas dari rumah pada umumnya. Nuansa biru dan ungu terlihat sejauh mata memandang. Di depan pintu yang bertuliskan 'Hanya untuk Karyawan,' sesosok wanita yang hanya berumur dua tahun lebih tua dariku melambai padaku.

"Rin! Sini, aku punya kerjaan untukmu!" panggil wanita berambut hijau rumput yang mengenakan apron itu.

"Hey, Gummy," sapaku.

"Gumi."

"Gummy lebih imut."

"Gummy itu dibaca 'Ga-mee,' atau Gami dalam bahasa Jepang. Kau benar-benar ingin memanggil aku 'dewa'?" tanyanya balik.

Sial. Dia benar juga.

"Aku akan tetap menamggilmu Gummy, titik," putusku. Gumi menghela napas menyerah.

"Terserah, lah."

Yeah, aku Rin si Hebat.


*Len*

"Kenapa sih, kita harus selalu menunggu seperti ini? Menyebalkan," gerutuku sambil merosot di bangku tunggu.

"Namanya juga rumah sakit. Apa sih, yang kau harapkan? Kamar suite dan kolam renang?" tanya Ted yang duduk di sampingku.

Seperti yang kau lihat, kami berdua (bukan berdua sih, bersama seorang bodyguard yang terlihat seperti baru pulang dari syuting film 'Matrix.' Payah. Mom benar-benar tidak percaya satu orang sudah cukup untuk mengantarku ke rumah sakit yang jaraknya tidak sampai satu kilometer dari rumah. Aku kelihatan seperti bayi bergelar bos mafia sekarang. Ted dengan baju pelayannya tidak memperbaiki keadaan) berada di rumah sakit. Sudah waktunya aku check-up dan transfusi trombosit, sih. Bangsawan juga harus mengantri di rumah sakit. Ironis, hahaha.

Aku sendiri juga memakai sweater v-neck warna teal, kemeja putih (buatan desainer, terimakasih, Mom), dan celana denim biru. Aku melepas rambut pirangku yang agak panjang, membiarkan ujung-ujungnya menggelitik sisi leher dan bahuku. Sedikit mirip Oliver, sih, tapi aku tidak terlalu peduli. Untung saja Mom tidak menyuruhku mengenakan baju formal bangsawan lagi. Sejak beberapa insiden yang melibatkan tuksedo, dasi, dan pendarahan hebat, Mom menyetujui aku boleh memakai baju semi-formal. Tetap saja, aku jadi pusat perhatian saat aku pergi ke rumah sakit. Komentar-komentar seperti;

"Hei lihat, ada aktor Men in Black dengan kacamata hitam!"

atau,

"Cowok dengan baju pelayan itu punya urusan apa di rumah sakit?"

atau,

"Cowok berambut pirang itu punya selera fashion yang jelek tapi wajahnya imut!"

mengelilingi kami. Bukannya aku tidak suka dipanggil imut, sih. Tahulah, maksudku.

"Tuan Muda Leanden, saya minta izin ke toilet," ucap bodyguard bermuka seram itu tiba-tiba. Aku mengangguk mempersilahkan.

Apa?

Tidak mungkin aku menyuruhnya menahannya sampai kandung kemihnya meledak, kan? Dia juga manusia.

Setelah dia pergi, seorang suster mendekati Ted dan mengatakan sesuatu tentang registrasi. Sekilas, aku melihat ia memutar bola matanya jengkel. Seketika, Ted bangkit berdiri.

"Aku harus pergi sebentar, ada sedikit masalah dengan registrasi. Jangan bergerak, aku akan segera kembali," tuturnya cepat seraya berjalan mengikuti suster yang menuntunnya menuju tempat registrasi.

Aku sendirian.

Sendirian...

Aku melirik pintu gerbang rumah sakit yang berada tepat di belakangku. Gerbang itu terbuka dan terekspos, di balik kaca terlihat pekarangan rumah sakit yang langsung menghadap ke jalan menuju kebebasan.

Tidak.

Tidak, tidak, tidak. Aku pasti sudah gila.

Akal sehatku menolak keras, namun batinku menjerit, menginginkan cahaya matahari yang panas dan menggairahkan. Melodi Summer seakan menggemakan nadanya di benakku.

Kau benar-benar ingin terpenjara selamanya?

Berisik. Bukan urusanmu.

Tapi aku KAMU.

Yeah, kalau begitu, hentikan itu, diriku.

Kau tahu kau menginginkannya. Kau tahu kau ingin membuktikannya dengan matamu sendiri. Kau ingin tahu seperti apa di luar sana.

Oh, diamlah!

Kau tahu kau tak dapat berbohong pada dirimu sendiri, Len.

Hentikan ini, Leanden. Cowok pintar macam apa, kau? Manusia berlogika manapun tidak akan melakukan hal bodoh seperti ini.

Tapi selagi aku berpikir seperti itu, aku mendapati diriku telah menjejakkan kaki di luar pintu gerbang rumah sakit.

Sial, sejak kapan?

Aku menoleh ke belakang dengan bimbang. Belum terlambat untuk kembali ke dunia normalku lagi, duduk di bangku rumah sakit dan menunggu Ted dan bodyguard itu kembali. Aku bisa membuat ini tidak pernah terjadi, dan hidupku akan berjalan seperti biasa,

Dan aku akan mati membusuk disini, tanpa harapan.

Oh sial, aku tidak percaya aku harus melakukan ini.

Sudahlah, sudah terlanjur.

Aku berlari keluar dari rumah sakit terkutuk itu, menyusuri jalan yang belum pernah kulewati tapi selalu kuhapalkan jalan-jalannya. Dalam waktu singkat, rumah sakit itu tidak terlihat lagi, tertutup oleh bangunan-bangunan bata merah dan deretan toko. Orang dengan berbagai paras dan wujud berlalu-lalang. Klakson mobil terdengar di sana sini, menyenandungkan lagu dan ritmenya sendiri. Kawanan merpati beterbangan di atap-atap, berkicau kecil.

Aku bebas.

Aku bebas, bebas, BEBAS.

Aku tertawa lepas selagi berlari menuju tikungan demi tikungan. Cahaya matahari, udara, langit, semuanya.

Apakah semua orang ini tahu betapa indahnya cahaya mentari saat musim panas? Hawa panas yang terbawa angin? Langit biru tanpa awan? Rasa kebebasan setelah terperangkap sedemikian lama dalam kungkungan rasa aman yang palsu?

Mudah. Ini sangat mudah. Kenapa aku tidak melakukannya dari dulu?

Aku berlari tanpa tujuan, tanpa sadar menabrak seseorang di depanku.

"AAAAAAHHHH!" jerit cewek yang kutubruk.

Terdengar banyak suara 'duk' di aspal di bawah kami, tanda bahwa ada beberapa barang jatuh. Aku limbung sesaat, namun tetap dapat mempertahankan posisi berdiriku. Cewek itu terpeleset dan jatuh terduduk. Aku segera sadar dan menariknya berdiri.

"Maaf maaf maaf maaf maaf! Kau tidak apa-apa?" tanyaku panik campur cemas. Aku tidak pernah menghadapi situasi seperti ini sebelumnya.

Cewek yang kutabrak itu memiliki rambut pirang yang mencapai bahu dan mata biru terang yang serupa dengan warna langit. Ia mengusap sikunya yang sempat menghantam aspal dan menyambut tanganku.

"Aku baik-baik saja, tapi kuenya tidak."

Kue?

Aku menunduk dan memandang ke bawah, menyadari bahwa dua lusin muffin telah terjatuh ke tanah sia-sia dalam proses jatuh kami.

"Maafkan aku! Aku akan menggantinya!" ujarku cepat seraya merogoh saku celanaku. Lalu aku teringat.

Aku menitipkan dompetku pada Ted tadi.

Sial.

"Uhh... dompetku tertinggal di rumah sa─ eh, apartemenku! Bisa tidak kau tunggu dulu? Nanti akan kubayar lain waktu."

Cewek berambut pirang itu menatapku tajam, menyelidik. Tatapannya membuaku merinding, seakan ia bisa melihat menembus diriku. Akhirnya, ia memutuskan untuk mempercayaiku dan mengangguk.

"Oke kalau begitu. Jadi, kapan kita bisa bertemu? Dimana?" tanyanya.

"Restoran Clair de Etoile saja, lusa malam," kataku menyebutkan nama restoran yang sering disebut-sebut oleh Mom dan Dad.

"Tapi restoran itu kan─"

"Oh iya. Aku lupa. Namaku Len. Len Aembrose. Namamu?" tanyaku setelah berhasil mengarang nama di otakku secepat kilat.

"...Rin. Rin Sanders."

"Salam kenal, Miss Sanders," ucapku tersenyum sambil mengulurkan tangan.


Readers, you always know what I want~

.:Read and Review:.