DISCLAIMER: The song OR the singer will never ever be mine (but I'll glad to tell the world that I own Len ;D #shot)

AN: It's been a while... the last time I updated this is, as I concerned, September, which is 5 months ago O.o

Nope, I'm not dead, just hiatusing actually. If you open my profile, you'll see a HIATUS status on the page. Now you know why I can't continue any of my stories. Sorry, folks, the real world is really trying to separate me from FanFiction. Okay fine, I'll be straight. I'm a student, and I'm preparing final exam. And that's that. I probably could be active again after... May. If any of you ask again. I got so many complains like this on Karakuri Burst, and I feel kinda guilty that I can't explain it to him. Or her. Whatever.

Alrighty, happy reading!


*Rin*

"Haaahh? Kau ketemu cowok imut dan kau biarkan pergi begitu saja?" tanya Teto tak percaya.

Haaah, mulai lagi deh.

Biarpun Crypton High punya reputasi buruk soal namanya (yang memilihnya sih, yang salah), sekolah ini punya kantin yang keren. Kaserol sayuran? Payah. Hamburger? Biasa saja. Kacang kaleng? Yuck. Creme brulee? Nah, itu yang kumaksud 'kelas satu'. Berhubung sekolah ini berisi orang kaya, mereka menuntut makanan yang biasa mereka makan di rumah untuk kantin sekolah. Jadi, kepala sekolah mengambil kebijakan untuk mendatangkan chef dari sebuah hotel bintang lima untuk memasak di kantin sekolah. Kebijakan paling keren yang pernah dibuat seorang kepala sekolah, kuakui itu. Aku mengulum cherry dari fruit parfait─hidup koki!─di mulutku, memainkan chicken ala maryland di piring dengan ujung garpuku. Aku menghela napas dan membuka mulut sebelum Teto menghujaniku dengan rentetan pertanyaan.

"Sudah kubilang, aku cuma tidak sengaja menabraknya di depan Sweets Heavens, dan dia berjanji untuk menggantinya besok malam. Memangnya aku harus bilang apa, sih?"

Alis mata Teto menunjukkan ketertarikannya. Jelas sekali dia sedang membayangkan beberapa adegan opera sabun yang menceritakan tentang dua-insan-dengan-pertemuan-tak-disengaja-lalu-konflik-lalu-bersatu-lalu-cerai dan semacamnya. Kalau aku boleh jujur, aku bukan fans cerita-cerita macam itu. Cerita-cerita seperti itu (menurutku lho, maaf kalau kau di pihak Teto) biasanya punya character development yang payah, alur yang berputar-putar, DAN heroine yang jual tampang. Well, memang ada beberapa yang bisa dibilang punya kualitas, tapi aku tidak bisa bilang aku menyukainya.

"Besok malam? Ketemu dimana? Jangan-jangan di─"

"Restoran, Teto. Restoran. Entah bagaimana dia memilih Clair de Etoile," putusku tidak sabar.

"Claire de Etoile? Claire de Etoile yang itu?" Teto menggeleng-gelengkan kepalanya, "Cowok itu pasti sangat kaya! Kau beruntung banget, sih?"

Tunggu, jangan bilang, 'Rin sayang, jelaskan soal restoran Claire de Eto-apapun itu karena kami kaum miskin tidak pernah mendengar tentang itu!' Apa? Kau benar-benar tidak tahu? Huh, baiklah. Claire de Etoile adalah salah satu restoran bintang lima termewah di negara ini. Restoran Prancis itu dipenuhi artis, bangsawan, sampai pengusaha ternama. Tidak sembarang orang dapat masuk kesana, berhubung kita paling tidak harus mendaftar sebulan sebelumnya untuk mendapatkan meja, kecuali kau punya kekuasaan tertentu. Jadi, bisa dibilang diundang ke sana adalah suatu hal yang... extraordinary. Sekali seumur hidup lah, istilahnya.

Aku mengingat-ingat saat kami sempat mengobrol sebentar. Kalau tidak salah, namanya Len Aembrose, atau apalah. Walaupun namanya tidak menunjukkan begitu, jelas-jelas aksen itu aksen British kental. Rambutnya terurai nyaris mencapai bahunya, membuatnya terlihat agak feminim. Cowok berambut pirang itu terlihat polos, dan caranya melihat sekelilingnya itu... unik, bisa dibilang begitu. Ketika ia melihat ke tempat lain, ada suatu binar di matanya, seakan dia tertarik kepada semua benda di sekitarnya. Tapi di saat yang sama, ia terlihat waswas, seperti sedang dikejar-kejar seseorang. Entah benar begitu atau tidak, aku tak terlalu mempermasalahkannya. Ada sesuatu dalam dirinya... sesuatu yang membuatku percaya padanya.

"Entahlah. Dia tidak terlihat seperti itu. Aku tidak yakin aku harus datang besok atau tidak, mungkin saja dia mengerjaiku," gumamku sambil mengulum dua tangkai cherry dalam mulutku. Kau pasti tahu kan, apa yang sedang kucoba. Dan gagal. Sebagai gantinya, aku menggigit lidahku sendiri tanpa sengaja. Uh.

Teto memanyunkan bibirnya, hal yang dilakukannya saat menunjukkan bahwa dia tak menyerah.

"Jangan begitu dong! Kau sendiri sebenarnya percaya padanya, kan? Kalau tidak, kenapa kau tidak mengomelinya atau semacamnya?"

"Sudah kubilang, kan? Aku tak tahu, oke? Lagipula, siapapun takkan seratus persen yakin kalau orang yang baru sekali bertemu denganmu secara tidak sengaja benar-benar mengajakmu ke restoran itu."

"Well, kalau aku sih─"

"Yeah, Ratu Percaya Saja Apa Kata Orang," tukasku cepat.

"Oke, bagaimana kalau kita buat perjanjian. Kalau aku bisa mengaitkan kedua tangkai cherry itu di mulutku, kau bakal pergi kesana," usul Teto.

...

Hening sejenak.

"Apa?"

"Kubilang, kalau aku bisa─"

"Aku tahu, tapi, kenapa harus cara itu? Lagipula, tidak mungkin kau bisa─"

Teto mengangkat tangannya menghentikanku. Ia mengambil dua buah cherry yang lengkap dengan tangkainya dan tersenyum lebar.

"Watch and learn, Rin Sanders," ia menegaskan sebelum memasukkan buah merah yang manis itu ke mulutnya.

Ia menghabiskan cherry itu secepat kilat dan mulai memainkan tangkai buah itu di mulutnya. Hahaha, sudah kuduga dia akan─

Tiba-tiba, ia membuka mulutnya, menunjukkan kedua tangkai cherry yang terikat di bagian tengahnya. Aku ternganga.

"Tidak mungkin..." kataku pelan, mata membelalak.

"Jangan pernah remehkan seorang penggemar croissant," ia tersenyum sambil menyendok parfaitnya.

"...hubungannya?"

"Maksudku, banyak-banyaklah makan makanan manis. Kalau kau tidak menikmati rasa cherrynya, kau tidak akan bisa melakukannya sampai kapanpun. Kurangi makan asam-asam seperti jeruk, nanti jadi nggak manis, lho," ujarnya sok menasihati.

"Seperti hal itu penting saja," dengusku. Diam-diam aku mengingat-ingat hal itu di benakku. Jangan bilang Teto lho.

"Pokoknya, karena aku dapat melakukannya, sesuai janji ya? Kau harus datang~"

"..."

Apa boleh buat.

Yah, kuakui aku sedikit penasaran dengan cowok itu.

Tekanan di kata 'sedikit' .


*Len*

Aku bodoh, bodoh, bodoh.

BODOH.

Maksudku, kok aku sebegitu cerobohnya sampai aku berjanji untuk mengajak seorang cewek yang tidak kukenal ke restoran? Bahkan untuk kabur satu kali saja aku sudah mati-matian. Bagaimana caranya aku dapat kabur ke restoran itu dua hari lagi tanpa sepengetahuan orang tuaku?

Bodoooooh!

Dan seperti yang kau duga, sepulangnya aku dari 'pelarianku' itu, aku dikuliahi tentang betapa berbahayanya itu bagi hidupku, resiko aku tertabrak mobil (tidak kok, mama. Cuma menabrak orang), dan hal-hal tidak berguna lainnya yang aku tidak benar-benar ingin tahu. Maksudku, please deh, aku sudah cukup umur untuk keluar tanpa si aktor Matrix mejeng itu! Ada apa sih dengan orangtuaku? Oke, aku memang rentan dan lemah. Oke, aku memang belum berpengalaman. Dan oke, aku memang si cowok hemofilianya disini. Tapi, apa salahnya sih untuk keluar sekali-sekali? Aku juga butuh dunia luar! Aku juga butuh kebebasan! Kenapa semua orang merebutnya dariku?

Ini. Tidak. Adil.

Sama sekali.

Tapi, di satu sisi aku tahu mereka semua benar. Kalau aku mau terus hidup, aku harus begini. Tidak peduli aku suka atau tidak. Tidak peduli aku terima... atau tidak.

Aku tahu, takdirku payah. Aku akan terus di sini, di balik tembok-tembok ini hingga aku membusuk dan mati. Atau mati dulu baru membusuk. Sama saja.

Aku tidak akan keluar lagi. Titik.

Aku tidak mau menghawatirkan orang-orang yang menyayangiku lagi. Terlalu berat. Mereka hanya ingin melindungiku, aku tahu itu. Aku tau itu demi kebaikanku sendiri. Karena itu... aku menyerah.

Tapi

Bagaimana dengan cewek itu? Mungkin saja dia benar-benar menungguku! Aku sudah berjanji, dan melupakan janjiku sendiri bukan gayaku. Seperti kata ayahku, 'Seorang gentleman selalu menepati janjinya, seberapapun susahnya.' Aku bukan fans Dad, tentu saja, tapi aku merasa dia kadang ada benarnya. Apa kalau begitu... aku harus kabur lagi?

Apa kata orang jaman sekarang? Dilema.

Aku tak mau membuat orang-orang disekitarku direpotkan lagi. Kehadiranku saja kurasa sudah membuat hidup mereka seratus persen lebih menyulitkan. Bagaimana kalau aku membuat masalah?

Di sisi lain, aku sudah berjanji. Aku tidak mau mengecewakan cewek itu, meskipun baru pertama kali kutemui dan sebagainya. Aku harus menepatinya, dan itu mutlak. Jadi, apa yang aku harus lakukan?

"Leanden, kau tidak mendengarkan," gerutu Profesor Fitzherald, guru bahasa Prancisku.

Aku ingin berteriak, "Berisik banget sih?! Aku sedang berpikir, dasar tua bangka!" sambil mendorongnya jatuh ke luar jendela lantai 4 tapi aku cukup bisa menahan diri.

"Maafkan saya, Profesor," gumamku setengah hati yang dibalas gerutuannya lagi.

Di dalam hati aku berkata, "Berterimakasihlah karena aku tidak jadi mendorongmu jatuh ke bawah, Fitzherald."

"Ensuite, essayez de lire ce poème, Leanden," suruh si guru menyebalkan dalam bahasa Prancis. Argh, aku sudah cukup capek dengan pikiranku sendiri dan kau masih menyuruhku membaca puisi tidak berguna itu?

Aku tidak mencoba memprotes tentu saja, aku punya harga diri untuk tidak menunjukkan amarahku ke sembarangan orang, tidak profesional namanya, maka aku menghela napas dan mulai membaca.

"Comme un morceau de verre, cela ferait du tort

Cependant, vous restez toujours et de la conserver

Notre sale petit secret profond de notre coeur

Afin que personne ne le saurait

Vous devez donc rester dans le bas de l'obscurité jusqu'à ce que la vérité a révélé elle-même."

Selesai membaca, aku menengadah, bertemu dengan wajah ternganga sang profesor.

Ha, rasakan itu.

"Well, Leanden," ia berdeham kemudian melanjutkan, "pelafalan yang amat fasih, titi nada pembacaan yang sempurna. Saya rasa, pelajaran hari ini berakhir disini," ujarnya seraya berdiri dan merapikan barang-barangnya. Aku menangkap nada pasrah dalam suaranya.

Ups.

Apa dia sedang memikirkan surat pengunduran diri seperti guru lainnya?

Sial, padahal Dad telah mewanti-wantiku soal menahan diri. Apa boleh buat.

Setelah profesor menyedihkan itu keluar dari ruangan, aku berjalan keluar ke arah ruang musik. Seperti biasa, aku meraih rak atas lemari dan mengambil violin kesayanganku. Aku butuh ketenangan untuk memutuskan apa aku harus datang atau tidak.

Aku mengecek biolaku sejenak, mengecek setiap nada dan mulai memainkannya. Nada-nada Der Erlkönig karya Schubert/Ernst menari di udara dengan melodinya yang tajam dan khas. Aku menutup mata dan membuat jiwaku melebur dalam setiap gesekannya.


Seorang ayah yang duduk di atas kuda pada tengah malam.

Di tangannya terbaring seorang anak.

"Anakku, mengapa kau menutup wajahmu dengan ketakutan?"

"Ayah, apakah kau tidak melihat Raja Alder yang sedari tadi di samping kita?"

"Anakku, itu hanya bayangan di dalam kabut."

"Anak kecil, kemarilah. Ibuku dan aku ingin bermain denganmu!"

"Ayah, ayah, apakah kau tidak mendengar suara Raja Alder yang berbisik padaku itu?"

"Anakku, tenanglah. Itu hanyalah suara gemerisik dedaunan."

"Anak kecil, jika itu tak cukup untukmu, anak-anakku perempuan akan datang menemanimu sepanjang waktu."

"Ayah, apakah engkau tak mendengarnya? Bagaimana Raja Alder menunjukkan anak-anaknya perempuan kepadaku?"

"Anakku, jangan takut dan tenanglah. Itu hanya pohon-pohon willow kelabu yang berbayang."

"Anak kecil, betapa cantiknya rupamu. Jika engkau tak mendengarku, aku pun harus memaksamu."

"Ayah, ayah! Ia memegangku! Raja Alder menyakitiku!"

Sang ayah yang diserbu kepanikan tak terduga, di tangannya sang anak meronta

Ia mempercepat derap kudanya ke rumah, dimana didapatinya buah hatinya telah tiada


"─en, Len!" jerit seseorang.

Aku tersentak dari dunia imajinasiku yang terbentuk dari melodi yang menggantung di udara dan berhenti bermain.

"Eh─apa... ah..." gumamku tak jelas saat aku melihat kelebatan rambut pirang di hadapanku mengguncang-guncang bahuku."

Mata orange kekuningan gadis di hadapanku berbinar ketika mendapati akhirnya dia mendapat perhatianku. Ia menelengkan kepalanya sedikit ke samping, membuat rambutnya yang panjang dan dikuncir satu kesamping berkibar.

"A-khir-nya! Kenapa sih, kau selalu seperti kehilangan kesadaran begitu saat bermain violin? Aku saja dilupakan! Lagipula, apa bagusnya lagu menakutkan tentang anak-yang-dijemput-kematian-atau-raja-Alder-terserahlah macam itu? Lagipula, itu kan lagu yang sulit!"

Aku menghela napas panjang sambil memasukkan violin kesayanganku itu ke box-nya .

"Karena sulit makanya aku merasa tertantang untuk memainkannya, Nell," balasku datar.

"Aaah! Len begitu lagi! Kan sudah kubilang, panggil aku Nerucchan. Lebih imut, tahu?" pintanya sambil bergelayut di lenganku.

"Apa kata dunia kalau seorang lady Inggris ternyata seorang penggemar J-pop, Nell?"

"Suka-suka aku, dong~" senandungnya dengan nada manja.

Aku berusaha menjauhkannya (yang amat, SANGAT, sia-sia) sebelum akhirnya menyerah dan mengerang perlahan.

Apa kau bertanya-tanya siapa cewek ini? Oh well.

Nell, seperti yang kuberitahu di kesempatan sebelumnya, adalah tunanganku. Yep, tunangan. Kedengaran agak menjijikkan sih, tapi apa boleh buat. Soal pertunangan, anak pertama bangsawan biasanya sudah ditunangkan dengan anak bangsawan lain sebelum lahir. Maklum, kami adalah pewaris gelar berikutnya dan orangtua kami harus memastikan kemakmuran keluarga kami ke generasi setelahnya.

Singkatnya, Oliver, dasar kau berandal kecil yang beruntung.

"Ng, Len? Kudengar kemarin kau kabur dari rumah sakit, ya?"

Here comes the hard part.

Aku menggumamkan persetujuan dengan enggan.

"Kenapa memangnya? Kalau begitu, mau nggak kau dan aku kabur ke taman bermain atau pusat perbelanjaan sekali-kali? Pasti seru tanpa bodyguard bodohmu itu!" usulnya spontan tiba-tiba.

"...kau... bercanda kan, Nell?"

"Iiih! Aku ce-li-yus, tahu! Mau nggak? Mau nggak?"

"Nell, kau lupa bagaimana Mom mengamuk bagai Godzilla saat aku kabur? Dan terlebih lagi, karena itu bodyguard itu dipecat. Tanpa surat referensi!" tukasku sedikit jengkel. Kenapa sih, semua orang mengingatkanku soal besok malam? Bikin kesal saja.

"Len unyuuuu deh~" ucapnya gemas seraya mencubit kedua pipiku yang mulus.

"Ow, ow, OW! Nell, hentikan! Aku nggak mau berakhir di rumah sakit karena tidak sengaja menggigit lidahku sampai berdarah lagi!" seruku, memberi tekanan kata lagi.

"Iya deh, iya, tapi Len temani aku minum teh di taman belakang ya? Ya?"

Aku menggerutukan kata 'Terserah' dan memutuskan untuk membiarkan diriku diseret olehnya.

Pergi atau tidak, itulah pertanyaannya.

...aku merasa seperti Shakespeare galau kedua.


"Tuan Muda? Anda kelihatan gelisah," Ted menanyakan dengan cemas.

"Sudah kubilang jangan pakai bahasa formal!" seruku kesal, sedikit lebih keras dari yang kumaksudkan. Ted tersenyum lebar.

"Len? Kau kelihatan payah."

"...lupakan."

Aku membalik halaman novel 'The Hunter' karya Asa Nonami yang kubaca, yang tak satupun kata-katanya menempel di benakku mengingat waktu terus berjalan. Sekarang pukul 22.45. Oh sial, jamnya maju terus. Kenapa waktu itu dibuat cepat sekali? Kenapa tidak dibuat satu hari itu 56 jam? Ugh. Aku tidak mau cepat-cepat besok. Kuputuskan untuk mengobrol dengan Ted, berharap ini membuatku berhenti melirik ke arah grandfather clock yang berada di sudut ruang belajar.

"Ngomong-ngomong, Ted...," aku memulai.

"Ya?"

"Apa menurutmu sebuah janji itu harus ditepati, apapun konsekuensinya?" tanyaku hati-hati, berusaha agar Ted tidak dapat menebak apa yang kumaksud. Ted memincingkan mata dan tersenyum lebar.

"Apa ini masalah cewek?"

Moga-moga Ted tidak bisa mendengarnya, karena sekarang ini jantungku berdentum seperti genderang di telingaku.

"AKU CUMA BERTANYA!" jawabku panik, tak sengaja menyenggol jatuh novel itu dari atas meja. Buku itu mencium lantai dengan suara 'Buk!' pelan.

"Apa ini ada hubungannya dengan Nona Nell?" tanya Ted lagi, menyelidiki. Aku memanyunkan bibir, meraba dahiku kalau-kalau disana muncul tanda X merah besar.

"Sudahlah, Ted!"

Manservant itu tertawa kecil. "Iya, iya. Saya kan cuma bertanya. Ng, kalau menurut saya sih, jika anda bisa, anda harus memegang janji itu. Apalagi kalau anda berjanji dengan cewek. Meskipun anda merasa janji tersebut adalah kesalahan, tepati saja. Bagi mereka, kepercayaan adalah segalanya."

Aku mengangkat alis dan tersenyum mengejek. "Berdasarkan pengalaman pribadi nih, ceritanya?" Wajah pemuda itu berubah menjadi sepink rambutnya.

"TENTU SAJA TIDAK! Hanya... adik saya, anda tahulah," suara Ted memelan ketika mengakhiri kalimatnya. Aku tersenyum simpul. Kata-kata Ted sepertinya memotivasiku lebih dari yang kukira. Jujur saja, aku tidak suka membuat orang lain kecewa, kenal atau tidak.

"Baiklah kalau begitu. Ted, bisa keluar sebentar? Aku ada janji chat dengan Nell," ujarku seraya meraih laptop yang kuletakkan di sudut meja. Ia kelihatan ragu sebelum tersenyum dan berpesan untuk memanggilnya kalau ada masalah. Aku terus mempertahankan senyumku sampai Ted menutup pintu.

Tepat setelah manservant-ku itu tidak terlihat, aku mulai membuka Google Map untuk rute tercepat menuju Restoran Claire de Etoile dari mansion ini dan membuka file blueprint mansion ini. Aku harus mulai melakukan ini secepatnya.

"Sori, Ted," gumamku entah pada siapa.


*Rin*

Aku merasa seperti cewek terbodoh sedunia.

Pertama, bisa-bisanya aku terbujuk oleh senyum manis Teto dan membiarkannya memakaikanku mini dress hitam sutra tanpa lengan ini. Bukannya aku bakal hanya pakai kemeja flanel kotak-kotak dan jins belel biasa, tentu saja. Maksudku, aku kan bisa pakai dress formal yang lebih simpel! Selama di jalan, supir taksi tua yang penasaran bertanya padaku, 'Kenapa kau tidak minta diantar pacarmu saja? Kalian berdua sedang bertengkar?'

Aku menahan diri untuk menonjok hidungnya kuat-kuat dan membalasnya dengan senyum yang terpaksa. Dasar om-om genit! Perlu ya, menanyakan hal seperti itu? Selain itu, memangnya aku benar – benar terlihat seperti akan makan malam dengan pacarku? Memangnya aku terlihat seperti berdandan mati-matian, harap-harap cemas, dan akan pergi ke restoran mahal untuk jamuan permintaan maaf?

.

.

.

Setelah kupikir-pikir, aku memenuhi semua kriteria diatas.

Bukan mauku memakai dress diatas lutut dan flat shoes. Bukan mauku aku menyanggul rambutku dan memakai aksesori. Bukan mauku berangkat ke Claire de Etoile sendirian jam sembilan malam. Bukan mauku menunggu di luar gerbang restoran Prancis itu seperti cewek malang yang kehilangan pacar. Semua orang lewat di depanku dan menatapku dengan tatapan iba, yang entah kenapa aku tidak ingin tahu maksudnya. Aku merogoh ke dalam tas tangan (pinjaman dari Teto, tentu saja. Aku cuma punya tas selempang dan ransel travel besar untuk jaga-jaga. Dan satu koper, kalau itu dihitung) bermerek Prada yang sudah menemaniku sejak dari rumah dan mengambil handphone, hanya untuk memastikan waktu. Dari sejak aku turun dari taksi sampai sekarang, baru lima menit.

BARU LIMA MENIT.

Kenapa menunggu lima menit terasa seperti dua jam?

Tepat ketika aku menggerutu seraya memasukkan hp itu kembali ke tas tanganku─Teto melarangku memakai jam tanganku yang biasa, gila tidak?─ sosok yang kutunggu-tunggu itu menampakkan dirinya di gerbang. Ia mendekatiku dan mengangguk sesaat. Aku memerhatikannya bernapas terengah sambil membungkuk dengan kedua telapak tangan di lututnya. Wajahnya kemerahan, kelihatannya seperti sehabis berlari keliling kota 26 kali. Kali ini cowok ini memakai baju formal yang kurang lebih mirip dengan yang pernah kulihat di majalah mode musim panas sebelumnya. Saat aku melihatnya, aku sempat berkomentar kenapa orang-orang mau-maunya meniru model yang merepotkan dan gerah itu, padahal sekarang musim panas. Yup, cowok berambut pirang itu memakai sweater hitam sutra turtle neck yang terlihat cocok dengan figurnya yang tidak terlalu tinggi. Ia mengenakan celana hitam panjang dan sepatu... tunggu, apa itu sepatu kets warna putih? Ya, sepatu kets warna putih. Kurang cocok dengan bajunya, harus kuakui, tapi bagiku dia tetap terlihat menarik. Setelah beberapa saat, napasnya merileks dan dia menatapku dengan tatapan minta maaf. "Maaf. Menunggu lama?"

"Tidak juga. Aku baru sampai lima menit yang lalu."

"Oh, baguslah," cowok itu tersenyum, dan aku melihat kembali wajahnya. Sisi-sisi wajahnya lembap oleh keringat, dan rona wajahnya belum hilang. Aku mengerutkan kening.

"Kau terlihat seperti maling yang baru dikejar-kejar selusin Doberman."

Ia menatapku kaget sampai aku nyaris percaya kalau aku baru saja menebak dengan benar apa yang baru ia lakukan.

"Ngomong-ngomong, daripada kita menghabiskan waktu kita diluar, bagaimana kalau kita masuk ke dalam?" tanya Len Aembrose. Aku mengangguk tanda persetujuan dan Len membuka pintu untuk mempersilahkan aku masuk.

"Ladies first."


Sorry if my style of writing changes a lot :( But I've tried my best, and this is how Spica Dee writes now. Hope 'cha like it.

Btw, review~