Halo minna~ =='a
Maaf telat lagi ya. Habis gara-gara kecelakaan kemaren, jadi untuk sementara saya tidak bisa kemana-mana hoho. Sekarang saya jadi mengerti istilah "Sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan terjatuh juga," (TTvTT) *menangis terharu (?)*
Sudahlah, kesimpulannya saya ngerti gak boleh ngebut kalau naik motor. Tapi yang saya bingung, insting ngebut selalu muncul saat saya mengendarai, jadi gimana tuh? Ada yang bisa ajarin seorang gadis manis ini supaya tidak boleh ngebut di jalan? (=A=')a *dihajar readers*
Yosh, sudah dulu curcolnya. Happy reading~! :)
Naruto © Masashi Kishimoto
Warning : OOC, AU, little typo
Genre : Romance/Friendship
Pairing : SasuSaku, SaiSaku
Don't like, don't read
.
.
REVIEW AND ART
CHAPTER 5 : MY SACRIFICE
"Aoi-san… tidak akan muncul lagi di dunia fanfiction?" tanya laki-laki berambut hitam kelimis itu mengulangi kata-kata yang baru saja diucapkan teman sekaligus sahabat dari kecilnya itu. Sementara yang ditatapnya hanya mengangguk tanpa ekspresi.
"Ya, kenapa Sai? Bukannya harusnya kau senang?" tanya laki-laki berambut raven itu. Sedangkan laki-laki yang tadi dipanggil Sai hanya tertegun. Dia berusaha mencari arti lain pada mata onyx milik sahabatnya tersebut. Rupanya tidak, laki-laki itu serius dengan ucapannya.
"Ta… Tapi—"
"Sai," laki-laki berambut raven itu berjalan mendekati sahabatnya, lalu menepuk bahunya, "maaf," bisiknya lagi. Sai kehabisan kata-kata, ingin rasanya dia berbalik dan menahan temannya itu. Tapi, apa yang mau dia katakan? Bukankah ini semua memang keinginannya? Dengan begini Sasuke—nama sahabat itu—tidak akan mengganggu hubungannya dengan Sakura.
Sai menoleh sedikit mendapati Sasuke berjalan dengan tegapnya menuju keluar pintu. Sasuke tidak bisa membohongi Sai yang notabene adalah sahabatnya sejak kecil dengan Naruto. Ya, karena kesedihan terlihat dari punggung laki-laki berambut raven tersebut. Sai merasa bersalah, namun segera dia tepis perasaan itu. Buat apa merasa bersalah? Sekarang Sakura sudah menjadi miliknya, dan sudah tidak ada lagi yang berhak mendapatkannya. Meskipun itu sahabatnya sendiri.
Sai segera mengambil tasnya yang berada di mejanya, dan melesat keluar menyusul Sasuke yang sudah berjalan duluan. Sementara Sasuke hanya berjalan dengan tenang, Sai berlari melewatinya. Sasuke hanya terdiam menatap punggung laki-laki yang tengah berlari di depannya. Perlahan tapi pasti dia mengambil nafas lalu mengeluarkannya. Sai segera berbelok ke kanan, di sana memang ada pintu keluar sekolah. Sedangkan Sasuke terus saja berjalan dengan tenangnya sampai akhirnya dia pun ikut berbelok. Mata Sasuke membulat begitu melihat pemandangan di depannya.
Sai. Dia tengah berbicara dengan seorang gadis sampai wajahnya memerah. Namun, bukan laki-laki itu yang menarik perhatiannya. Melainkan gadis itu. Gadis berambut pink itu. Rupanya dia sengaja menunggu Sai di pintu keluar. Wajahnya sangat bahagia dan seolah lega melihat kekasihnya sudah datang. Sasuke menghela nafas, wajahnya mengeluarkan semburat merah tipis saat melihat senyum gadis itu. Tapi ketika disadarinya senyum itu untuk orang lain, wajahnya kembali dingin. Setelah berhasil mengatasi rasa sakit di dadanya, Sasuke kemudian melangkah menuju pintu keluar yang berada di belakang mereka.
Sai menoleh begitu mendengar suara sepatu melangkah, "Eh? Sasuke," gumam Sai. Sementara Sakura—nama gadis itu—ikut melihat ke arah yang dilihat Sai, namun begitu menyadari orang itu adalah Sasuke, Sakura langsung membuang mukanya.
"Hn," hanya itu yang diucapkan Sasuke saat mendengar namanya disebut Sai. Dia terus saja berjalan tanpa mempedulikan Sai maupun Sakura, dia menatap lurus hingga akhirnya dia keluar juga dari sekolah ini.
Sasuke menghela nafas lega saat berhasil menghirup udara di luar sekolah. Rasanya di dalam itu seperti tidak ada udara, menyesakkan. Dadanya terasa sangat sesak, entah karena apa. Ingin rasanya dia melihat ke belakang, melihat apa yang tengah dilakukan kedua kekasih itu. Tapi tidak mau, dia tidak mau kesakitan lagi.
.
.
.
Keesokan harinya…
Hari ini, sekolah masuk pagi. Hingga Sakura yang biasanya ke atas gedung sekolah dulu di pagi hari, tidak sempat ke sana. Sakura mengeluh bosan, berkali-kali dia menjatuhkan kepalanya di atas meja. Ngantuk sekali rasanya hari ini, dan ingin juga rasanya dia cepat pulang.
"Anak-anak, sekarang kita adakan perpindahan tempat duduk," ucap Kurenai. Ada yang bersorak sorai senang, berharap bisa bersebelahan dengan orang yang disukainya. Namun ada juga yang malas menanggapi.
Akhirnya perpindahan pun dimulai, ada yang beruntung. Dan ada yang tidak. Mungkin di kelas itu, yang bisa bersebelahan dengan Sai atau Sasuke adalah orang paling beruntung. Tapi sayangnya tidak, karena Sai duduk bersebelahan dengan Naruto. Dan Sasuke? Ternyata dia duduk di sebelah Sakura. Tentu saja hal ini membuat Sakura tambah bad mood dan ingin secepatnya keluar dari kursi ini.
"Baiklah anak-anak, sekarang buka buku matematika halaman 30," seru Kurenai, guru pelajaran matematika hari ini. Anak-anak yang lain mengeluh kecewa, dengan malas-malasan mereka membuka buku dan mengerjakan soal yang ada di sana.
Sakura mengucek matanya sesaat lalu dengan malas, dia mengambil tasnya dan membukanya. Sasuke sudah membuka bukunya duluan, dan tengah berkutat dengan soal yang ada di sana. Yah, walau tidak bisa dipungkiri sesekali mata onyxnya melirik pada gadis di sampingnya. Awalnya, saat Sakura memasukkan tangannya ke dalam tas untuk mengambil buku, wajahnya biasa saja. Namun, lama-lama ekspresinya makin panik dan tangannya pun mulai mengobrak-abrik isi tasnya. Wajahnya terlihat pucat.
"Aduh, mati aku! Bagaimana ini? Aku tidak bawa buku," batin Sakura dalam hati. Degup jantungnya berdegup kencang sesaat, membayangkan hukuman apa yang akan dijatuhkan Kurenai padanya. Dan yang paling buruk, bisa saja nilai poinnya di sekolah ini diturunkan, mengingat masuk sini saja dia sudah susah payah.
Sasuke melirik sesaat wajah Sakura yang panik. Awalnya dia juga terlihat ragu, namun akhirnya Sasuke sudah memutuskan. Sasuke menaruh pensilnya di atas buku. Dengan tenang, dia menggeser bukunya di atas meja Sakura, membuat gadis itu menatapnya bingung. Setelah itu Sasuke berdiri dari tempat duduknya membuat yang lain menoleh ke arahnya.
"Maaf Kurenai-sensei, saya tidak bawa buku," ungkap Sasuke membuat Sakura terkaget. Kurenai menatap Sasuke sesaat lalu menggelengkan kepalanya.
"Kau tidak bawa buku Sasuke? Dasar, poinmu akan kuturunkan. Sana, keluar kelas!" perintah Kurenai dengan nada yang tegas, setelah itu dia kembali berkutat dengan buku absennya.
Sasuke hanya mengangguk sesaat, dan segera menggeser kursinya agar dia bisa keluar. Sakura hanya menatap Sasuke dengan tatapan tidak percaya sementara Sasuke dengan cuek terus saja berjalan hingga keluar kelas. Sakura mengalihkan pandangannya, menatap buku matematika Sasuke yang diberikan padanya. Dengan ragu, Sakura membukanya dan mencermati apa yang ada di sana. Semua soal bisa saja dia kerjakan seandainya dia bisa konsentrasi. Namun tidak, perbuatan Sasuke tadi cukup mengganggu pikirannya.
Sakura menggeser kursi lalu berdiri, "Boleh saya izin ke belakang Kurenai-sensei?" tanya Sakura pelan. Kurenai mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya. Dengan segera, Sakura langsung keluar kelas tanpa menyadari Sai yang terus memperhatikannya.
Di luar, Sakura langsung berbelok dan mendapati Sasuke yang tengah bersandar pada tembok di belakangnya. Sakura menatap tajam pada Sasuke, sedangkan laki-laki raven itu hanya membalas dengan tatapan dingin tanpa ekspresi. Mulutnya terbuka, "Kenapa kau?" kata-kata yang tidak sama dengan isi hatinya itu pun meluncur dari bibir Sasuke.
Sakura mengernyitkan alisnya, "Harusnya aku yang tanya! Kenapa?" ucap Sakura, dia mengepalkan tangannya, "kenapa kau memberi bukumu padaku dan sengaja mengaku pada Kurenai-sensei?" tanya Sakura, nada bicaranya mulai melemah.
Sasuke menghela nafas, "Tak apa kan? Bagiku nilai poin itu tidak berarti apa-apa. Aku berbeda denganmu, aku kaya dan kalaupun aku dikeluarkan dari sekolah, maka aku bisa masuk ke sekolah lain dengan uangku. Sedangkan kau?" Sasuke terdiam, sepertinya sengaja menggantungkan kata-katanya.
"Apa? Kalau begitu aku juga sama! Walau nilaiku dikurangi, aku bisa menutupinya dengan nilaiku yang lain! Aku tidak butuh bantuanmu!" ujar Sakura sedikit membentak. Sasuke mendengus dan memutar bola matanya bosan.
"Oh ya? Jangan bodoh. Kau tahu kan kalau banyak sekali yang ingin kau keluar dari sekolah ini, dan demi itu banyak yang melakukan cara untuk memfitnahmu. Jujur saja, para fansgirlku banyak yang mengaku kalau mereka sering memfitnahmu dan para guru percaya," Sasuke menyeringai, "dan berkat itu, martabatmu turun di depan para guru. Kau harus banyak berdoa. Harusnya kau berterima kasih padaku," jelas Sasuke lagi. Sakura menggigit bibir bawahnya.
"Tapi, kenapa?" tanya Sakura dengan pelan. Dari suaranya, Sasuke bisa tahu kalau Sakura tengah menahan tangis.
"Kau masih tidak sadar? Ini sekolah orang kaya, bodoh! Anak miskin tidak dibutuhkan di sini, hanya akan menurunkan pamor sekolah ini," ketus Sasuke. Sakura masih terdiam, menahan tangis untuk keluar.
"Begitu, berarti kalau aku keluar dari sekolah ini semuanya akan selesai?" tanya Sakura dengan pelan. Kepalanya masih tertunduk. Sasuke tersentak, yah memang harus diakui dia tidak mau sampai itu terjadi. Sasuke terlihat berpikir sesaat lalu tersenyum kemudian tertawa.
"Hahaha, dasar sok. Dapat flame saja kau menangis, apalagi dikeluarkan dari sekolah?" tanya Sasuke dalam. Sakura masih terdiam, "sudahlah, jangan berpikir bodoh. Kau tidak akan bisa keluar dari sekolah ini,"
Sakura tidak menjawab, dia hanya berjalan dengan pelan menuju pintu kelas. Sasuke memperhatikannya sesaat lalu menarik nafas, "Ah ya, satu lagi," ucapan Sasuke sukses menghentikan langkah jalan Sakura.
"Meski di tengah badai, pohon kecil itu tetap bertahan karena tanah yang menahannya," Sakura terlihat bingung dengan kata-kata Sasuke lalu dia berbalik dan mata emeraldnya berhadapan dengan mata onyx Sasuke.
"Walau banyak yang memusuhimu, pasti masih ada yang menyayangimu dan mendukungmu," Sasuke menutup matanya dan kembali bersandar pada tembok di belakangnya, "itu saja yang ingin kukatakan, sana masuk kelas," ketus Sasuke lagi. Nada bicaranya kembali saat di awal.
Sakura menatap Sasuke sesaat lalu menarik nafas, dengan langkah berat dia memasuki kelasnya. Mendengar suara pintu kelas yang tertutup, Sasuke membuka matanya. Ternyata, mengucapkan kata-kata pedas untuk orang yang disayangi secara tak langsung menyakiti hatinya sendiri. Sasuke memukul mukul tembok di belakangnya dengan kesal. Menyesali perbuatannya beberapa menit lalu. Kenapa? Kenapa dia tidak bisa jujur barang sekali saja? Kepada orang yang disayangi, meski tidak akan berbalas. Kenapa harus begini? Kenapa harus dia terus yang berkorban dan mengalah?
Kenapa? Sampai sekarang laki-laki itu belum menemukan jawabannya.
.
.
"Hoi teme! Tumben sekali kau tidak membawa buku tadi pagi?" sapa Naruto, sahabat sejak kecil Sasuke dan Sai. Orang tua mereka bertiga pun berteman baik.
Sasuke menoleh menatap Naruto yang tengah memakan ramen di sampingnya, "Memang kenapa? Sekali-kali tidak apa kan?" tanya Sasuke balik. Naruto hanya memutar bola matanya dengan kesal.
"Iya iya deh terserah," balas Naruto sambil terus memakan ramennya. "Hmph, ngomong-ngomong kapan kau akan mempunyai pacar teme?" pertanyaan Naruto sukses membuat Sasuke yang tengah memakan ramen tersedak.
"Uhuk uhuk, kenapa menanyakan itu dobe?" tanya Sasuke tajam. Naruto hanya terkekeh melihat reaksi Sasuke.
"Yah, kau tahulah. Aku sudah punya Hinata, Sai sudah punya Sakura. Sedangkan kau? Yah kuakui kau memang paling tampan dan keren di antara kita bertiga. Tapi masa' paling lama dapatnya sih?" tanya Naruto panjang lebar. Sasuke menarik nafas, dia cukup kesal saat mendengar kata-kata Naruto, 'Sai sudah punya Sakura'.
"Bukan urusanmu, aku sedang tidak tertarik dengan siapapun," dengus Sasuke. Naruto hanya menatap Sasuke dengan tatapan tidak yakin.
"Masa'? Tapi Sai bilang kau sedang suka dengan seseorang kok," ucap Naruto polos membuat alis Sasuke mengernyit.
"Ha? Sai bilang apa?" tanya Sasuke penasaran. Naruto menelan ramennya dan terlihat berpikir sesaat.
"Sai bilang kau memang sedang menyukai seseorang tapi Sai tidak suka, makanya aku bingung," jawab Naruto. Sasuke terdiam.
"Begitu rupanya," hanya itu kata-kata yang keluar dari Sasuke dan laki-laki itu pun kembali terdiam. Naruto menatap Sasuke.
"Teme," Sasuke menoleh, "kenapa akhir-akhir ini kau jadi terlihat aneh? Kau tidak pernah menceritakan apapun padaku lagi?" tanya Naruto. Wajahnya mengeluarkan aura serius.
"Do—"
"Lagipula sebenarnya ada yang ingin kutanyakan teme," tanya Naruto sambil memainkan sumpit yang dia gunakan untuk memakan ramen, "melihat sikapmu dan Sai yang kurang baik akhir-akhir ini, aku jadi berpikir jangan-jangan yang kau sukai itu…" Naruto terlihat ragu dan menatap Sasuke tak yakin.
"…Sakura?"
Sasuke terdiam. Dia tidak berniat menjawab pertanyaan Naruto sama sekali. Seolah tidak ada apa-apa, Sasuke kembali memakan ramennya yang tadi sempat tertunda. Naruto mengernyitkan alisnya, tak biasanya Sasuke tidak langsung menjawab pertanyaan yang diberikan padanya.
"Kalau kau tidak jawab, berarti benar kan?" tanya Naruto. Sasuke masih tidak menjawab, dia biarkan saja Naruto berkoar. Lama kemudian Naruto terus memperhatikan dan menunggu Sasuke, hingga laki-laki raven itu menyelesaikan makannya dan berdiri.
"Aku duluan dobe, ada urusan dengan Kakashi-sensei," ucap Sasuke dan laki-laki itu pun berlalu meninggalkan kantin. Naruto menatap sedih punggung Sasuke yang semakin menjauh.
"Teme…"
.
.
"Bagaimana Sakura? Bagus tidak?" tanya Sai, kini dia bersama kekasihnya tengah berada di atas gedung sekolah. Wajah kekasihnya memerah melihat model lukisan yang baru saja dilukis oleh Sai.
"Ba… Bagus, terima kasih Sai," ucap Sakura sambil menerima lukisan yang tadi dibuat Sai untuknya. Sai tersenyum melihat wajah Sakura yang memerah.
"Kau jago sekali, bisa membuat gambar sebagus ini," puji Sakura pelan. Sai terkekeh melihat Sakura dan mengusap rambut gadis pink itu, kemudian mencium pipinya.
"Arigato Sakura-chan," goda Sai sambil mencubit pipi Sakura membuat gadis itu sedikit mengaduh. Sai kembali tertawa kecil melihatnya.
Laki-laki berkulit pucat itu tersenyum melihat Sakura yang tengah asyik mengagumi lukisan buatannya. Bibir gadis itu yang membentuk senyuman selalu menarik perhatiannya. Ingin Sai mencium bibir itu. Tak apa kan? Toh mereka sudah pacaran. Sai memegang dagu Sakura dan mengangkat wajah gadis itu untuk ditatapnya.
"Sa… Sai?" tanya Sakura terbata-bata saat wajah Sai semakin mendekat dengan wajahnya. Hidung mereka sudah bersentuhan hingga—
Brak
Sai tersentak kaget dan langsung mengangkat wajahnya begitu pula Sakura yang langsung menjauh dengan muka memerah. Roman wajah Sai berubah cemberut melihat siapa yang datang.
"Sudah kuduga kalian ada di sini," gumam Sasuke. Laki-laki itu menarik nafas, "Sai, Kakashi-sensei mencarimu. Apa kau lupa urusan tadi pagi?" tanya Sasuke lagi. Sai terlihat memukul kepalanya sendiri.
"Ah iya, kenapa aku bisa lupa? Maaf Sakura, aku pergi dulu," izin Sai dan tanpa melihat apa-apa lagi dia langsung berlari yang kemudian melewati Sasuke berdiri. Sepertinya dia lupa, dan meninggalkan Sasuke Sakura berdua.
Dengan malas, Sakura langsung berdiri dari kursi dan berjalan seandainya Sasuke tidak memegang tangannya untuk menahannya, "Kau mau ke mana?" tanya Sasuke dan menatap mata emerald Sakura.
Sakura mendecih kesal, "Bukan urusanmu!" ketusnya dan berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Sasuke.
Laki-laki raven itu terus terdiam dan menatap wajah Sakura yang menatapnya tajam dan berusaha melepaskan diri dari genggamannya. Sasuke mengambil nafas sesaat dan langsung menarik Sakura ke dalam pelukannya membuat gadis berambut pink itu tersentak kaget. Sakura berusaha berontak dan melepaskan diri, namun Sasuke tidak membiarkannya. Pelukannya semakin lama semakin kencang.
"Sa-Sasuke! Lepaskan aku!" pinta Sakura. Lama kemudian Sasuke melepaskannya dan kembali menatap mata emerald Sakura. "Sebenarnya apa maumu hah?" tanya Sakura dengan nada sedikit membentak. Sasuke hanya diam.
"Cuma sekali, untuk yang pertama dan terakhir," gumam Sasuke membuat Sakura kembali bingung. Laki-laki itu, dengan tanpa ekspresi menarik wajah Sakura semakin mendekat ke wajahnya.
Lebih dekat, terus hingga dahi mereka bersentuhan. Sakura mencengkram tangan Sasuke berusaha melepaskan diri. Namun, wajah itu semakin dekat. Kemudian hidung mereka bersentuhan, lalu…
Bibir.
Ya, ini yang pertama juga yang terakhir.
Sekali saja, aku ingin dekat denganmu meski hanya sesaat.
Tidak hanya dengan sekedar review.
Aku ingin lebih dekat dari itu.
Berilah hadiah atas pengorbananku selama ini.
Meski hanya sesaat…
Boleh kan?
To Be Continued
Special thanks for :
Risle-coe, popoChi-moChi, Mila Mitsuhiko, Megumi Kisai, Ame chocoSasu, Aurellia Uchiha, Naru-mania, MissUchiwa, FB SwidHya cHaN nHak d'FouRS, MozzaMozzi, Shard VLocasters, Kaori a.k.a Yama, Yusha'chan Higurasi, Imuri Ridan Chara, Micon, Ka Hime Shiseiten, Ayano Hatake, akasuna hataruno teng tong, LuthMelody, Fun-Ny Chan, Kasumi, dinemica, Uchiha Cesa, Just Ana, Nanako-hime, Utsukushii – KuroShiro6yh, Chiho Nanoyuki, aya-na rifa'i, Arishima Ryuu-chan, Rhaa Yamanaka, Uchiha-chan, Azuka Kanahara, Uchiharuno Rin, AnnZie-chan Einsteinette, widiiew xie kabogoh sasuke, Icha Beside Door, Dhevitry Haruno, Haruchi Nigiyama, Misaky Uchiha, chiu-chi Hatake, Murasaki Sakura, Mochida Suzu, hikari miyamori cherryblossom, Tsukimori Raisa, Nathalia Saphitrie, Je-jess, Avy-kurohime, Fujita-Ryou, Enda-Versailles, Michiru no Akasuna, Silver Cloud Hatake
Aurellia Uchiha : Halo, hehe maaf kalau aku jarang bales review ya, habis suka bingung mau ngomong apa ^^7 *dihajar* iya, terima kasih banyak sudah mau mendukungku. Aku senang sekali XD Terima kasih banyak ya, thanks for the review! :3
Misaky Uchiha : Hoho sama-sama. Aku juga senang mendapat teman baru X3 tenang saja, yang kumaksud orang gila cuma flamer yang gak jelas aja. Selebihnya aku yakin normal semua XD *ditendang* yosh! Makasih udah RnR! Baca terus yaa *plak bhug*
Megumi Kisai : Neee? Kenapa adikku yang satu ini? X( *ngelus ngelus kepala Megu -plak* Megu banyak dosa ke aku sih jadi gini deh *dihajar rame-rame* haha bercanda, yang penting makasih udah review. Ah ya, ficmu lanjut terus dong wkwkwk XD
Haduh, capek ngetik =='
Oh ya, A/N kali ini penting. Sebab ada yang mau aku kasih tahu, jadi mohon JANGAN DILEWAT ya ^^a
Pertama, karena banyak yang bertanya apa kisah fic ini mirip dengan kisahku. Jawabannya tidak. Sebab, beda 180 derajat dengan Sakura yang menangis ketika mendapat flame, saya Kira Desuke *halah* malah tidur ketika mendapat flame *jiah* =='a Yah, mungkin memang aneh tapi itulah kenyataannya haha *plak plak* lagipula saya orangnya cuek, kalau ada yang berbau flame pasti langsung saya hapus tanpa melihat isinya. Jadi untuk para flamer, maaf ya sebab selama ini Kira nggak pernah baca flame tak bermutu kalian ^^
Kedua, ada yang bilang fic ini mirip dengan komik 'I am Here' by Ema Toyama ya? Hei, saya suka sekali komik ituuuu XDD *bawa-bawa spanduk Ema Toyama (?)* saya juga baru sadar kalau ternyata agak mirip. Padahal sebesar apapun rasa sukaku pada komik itu, aku tetap tidak berniat menjiplak atau sebagainya. Jadi maaf kalau ternyata mirip, saya akan berusaha untuk ke sananya tidak mirip lagi. Terima kasih ya sudah ingetin, yah walau kata-katanya kasar sih wkwk XD
Kayaknya itu aja deh untuk sementara ini, lukaku gak bisa diajak kompromi lagi nih (TT_TT) oh ya, aku mau tanya. Sebenarnya ada kisah di fic ini yang mirip dengan kisahku di sekolah tentang author dan flamer juga, err mau diceritain nggak? Kalau mau, chapter depan aku tambahin bonus tentang itu. Cukup bilang di review saja hohoho~
Boleh minta review? :3
