Jumpa lagi. Maaf telat ya semuanya :D Gimana puasanya? *banyak bacot –dilempar ke sumur*

Oke, menemani hari puasa kalian *apa sih* saya update nih haha. Semoga bisa menghibur di tengah perjuangan menahan lapar dan haus XD

Oke, happy reading~!


Naruto © Masashi Kishimoto

Story © Kira Desuke

Warning : OOC, AU, typo?

Pairing : SasuSaku, SaiSaku

Genre : Romance/Friendship/Angst

Flames NOT ALLOWED and that won't work with me

.

.

REVIEW AND ART


CHAPTER 6 : HATRED

"Apa yang kau lakukan?" geram seorang gadis berambut soft pink tersebut. Wajahnya terlihat berang dan memerah antara marah dan malu. Dia menatap tidak percaya pada laki-laki dingin di depannya. Tak lupa dengan punggung tangannya yang menutupi bibirnya—yang baru saja bersentuhan dengan bibir sang laki-laki di depannya.

Sakura, nama gadis berambut soft pink itu. Mata emeraldnya menyiratkan semua perasaannya saat ini. Marah, kesal, gusar, benci, malu—semua menjadi satu. Ditatapnya mata onyx tajam di depannya. Mata onyx itu terasa hampa dan dingin, sama sekali tidak menunjukkan ekspresi apapun. Membuat Sakura kesulitan untuk mencari maksud tertentu dari mata onyx yang gelap itu. Mata emeraldnya terus menunggu jawaban, namun laki-laki yang tak lain bernama Sasuke Uchiha itu tetap diam. Dia hanya menatap dan terus menatap gadis di depannya dengan ekspresi yang sulit dideskripsikan. Entah biasa saja, malu, marah, senang, atau kecewa?

Sakura sudah akan berlari meninggalkan laki-laki itu seandainya Sasuke tidak membuka mulutnya dan hanya menggumamkan sepatah kata, padat namun artinya cukup jelas, "Maaf,"

Gadis itu hanya membelalakkan mata emeraldnya. Tak dapat dipungkiri air mata menggenang di kelopak matanya siap untuk mengalir. Dengan segera, dia berbalik dan berlari menuruni tangga. Meninggalkan seorang Sasuke Uchiha yang terpaku di sana. Menatap punggung kecilnya yang semakin lama menghilang. Mata onyx yang dingin itu pun tertutup. Tangan sang laki-laki mengepal kuat, berusaha menahan semua rasa yang ada. Pelan namun pasti, bibirnya terbuka untuk membisikkan sesuatu.

"Aishiteru, Sakura.."

.

"Keterlaluan, keterlaluan!" isak Sakura di tengah koridor menuju kelas. Sebelah tangannya berkali-kali berusaha menahan air mata agar tidak terjatuh dari pipi putihnya. Sementara sebelah tangannya lagi mencengkram erat baju di depan dadanya. Menahan rasa sesak di sana.

Sakura akan terus menangis di tengah koridor tersebut kalau seseorang tidak menepuk pundaknya, "Kau Sakura kan?" tanya seseorang yang sepertinya dari suaranya adalah laki-laki. Sakura menoleh, menatap laki-laki berambut spike blond itu. "Sedang apa kau di sini? Dan.. kenapa kau menangis?" tanya laki-laki itu tanpa jeda. Sakura menatap mata biru pemuda itu sesaat lalu menggeleng.

"Aku tidak apa," jawab Sakura sekenanya. Dia segera mengusap-usapkan tangannya untuk menghapus air mata dan jejaknya di wajahnya. Dan segera saja Sakura beranjak pergi sementara laki-laki itu masih memperhatikannya.

"Oh ya, aku Naruto Uzumaki," ucap laki-laki itu saat Sakura melangkahkan kakinya, "aku kenal baik dengan Sai dan Sasuke, karena itu kalau kau ada masalah dengan mereka, ceritakan saja padaku," dan pernyataan Naruto barusan sukses membuat langkah Sakura terhenti.

Naruto tersenyum melihat Sakura yang berhenti, "Aku benar kan? Kau ada masalah dengan Sai? Atau Sasuke?" tanya Naruto dengan sedikit toa. Membuat suasana yang tadinya tenang menjadi berisik. Sakura masih tidak bergeming.

Naruto masih tidak menyerah, dia berjalan mendekati Sakura. Dia menatap wajah Sakura yang terlihat ragu dan menimang-nimang perkataannya, "Bagaimana Saku—"

"Dobe,"

Suara panggilan yang khas itu membuat Sakura terlonjak kaget. Degup jantungnya tidak beraturan. Kejadian di atas atap kembali teringat di benaknya, Sakura mengepal tangannya erat dan menggigit bibir bawahnya. Menahan diri agar tidak segera mengeluarkan kata-kata kotor untuk mencaci maki laki-laki itu. Merasa dipanggil, Naruto menoleh ke belakangnya dan Sakura, "Ah teme,"

"Sedang apa kau di sini?" tanya Sasuke. Laki-laki itu mendekati Naruto dan berhenti di samping Sakura, melirik sesaat gadis itu sebelum akhirnya berkata, "..dengan anak miskin ini?" sindir Sasuke.

Mata biru Naruto membulat mendengar pertanyaan Sasuke yang terkesan ketus, sinis, dan tentunya menyindir gadis di sampingnya. Segera saja Naruto melirik Sakura, dan dugaannya benar. Sakura tengah memejamkan matanya erat, dan Naruto yakin pasti saat ini Sakura berusaha untuk menulikan pendengarannya agar tidak lagi mendengar kata-kata Sasuke.

"Teme! Kau keter—"

"Tidak apa Naruto," potong Sakura cepat. Naruto tertegun menatap mata emerald Sakura yang berkaca-kaca, "memang aku miskin, aku beda dengan dia yang sempurna," suara Sakura bergetar saat mata emeraldnya kembali melirik Sasuke yang tengah menatapnya dalam diam. Dan tak perlu diminta, Sakura langsung berlari meninggalkan dua siswa itu.

"Ah Sakura!" Naruto hendak mengejar Sakura, namun tak bisa saat tangannya digenggam kuat oleh Sasuke.

"Sudahlah dobe! Ingat, kau sudah punya Hinata! Buat apa mengejar dia?" tanya Sasuke. Naruto bisa melihat teman sejak kecilnya itu tengah ragu apalagi saat dia mengatakan, "dan anak miskin itu sudah punya Sai,"

Naruto melepas genggaman tangan Sasuke, "Bukan itu masalahnya!" laki-laki blond itu menggertakan giginya, "kau bodoh teme! Mau sampai kapan kau menyakitinya terus hah?" geram Naruto. Sasuke tertegun.

"Dobe, kau—"

"Ya teme, aku tahu semuanya! Kau menyukai Sakura kan? Kenapa kau tidak bilang padanya? Mau munafik sampai kapan hah? Terus saja kau hina dia dalam kehidupan nyata tapi kau puja di dunia maya!" bentak Naruto panjang lebar. Jadi, selama ini pun Naruto tahu, bahwa Aoi-san adalah Sasuke.

"Kau hanya mau memiliki dia di dunia maya? Apa hanya dengan itu kau puas?"

"..."

"Kau merasa bahagia setelah menyakitinya? Benar begitu?"

"Diam,"

"Mana bisa aku diam? Aku kesal dan terus menahan diri setiap kau terus berbuat bodoh seperti ini tahu!"

"Kubilang diam,"

"Kalau aku tak mau? Pokoknya aku akan terus ngomong sampai kau dan Sakura—"

"BERISIK DOBE!" teriak Sasuke marah. Naruto sedikit bergidik ngeri melihat tatapan onyx tajam Sasuke padanya. Sasuke terlihat menggertakan giginya, "walau kau sahabatku dari kecil, aku tetap tidak mengizinkanmu kalau kau berusaha mencampuri hidupku," ancamnya.

Naruto menelan ludah, "Oh, jadi kau mau terus seperti ini? Kalau begini terus, kau akan dibencinya dan tidak akan pernah bisa mendapatkannya," Naruto menatap Sasuke tajam. Namun, setajam-tajamnya biru langit, tetap tak akan bisa mengalahkan ketajaman sang onyx.

"Terserah," Sasuke bergumam dan segera melangkah menjauhi Naruto, "lagipula dari awal juga dia sudah membenciku," ucap Sasuke yang masih terus berjalan.

Naruto memutar bola matanya dan berjalan mengikuti Sasuke dari belakang, "Yeah, dan itu semua karena kebodohanmu," sindirnya. Sasuke hanya tersenyum tipis.

"Hn,"

.

.

"Halo semuaaa!" sapa Naruto saat masuk ke dalam kelasnya. Semua langsung melihat ke arahnya dan tertawa-tawa yang hanya dibalas Naruto dengan cengiran.

Sasuke tidak begitu mempedulikannya. Juga tatapan-tatapan dari para fansgirlnya, terus saja dia acuhkan. Mata onyxnya hanya tertuju pada bangkunya yang sekarang ada di pojokan, dan berada di samping gadis yang disayanginya. Dilihatnya Sakura tengah menunduk hingga membenamkan wajahnya di balik tangannya. Menjatuhkan kepalanya di atas meja. Sasuke mendengus pelan, bahu dan tubuh gadis itu tidak bergetar, itu berarti dia tak menangis. Mungkinkah sekarang dia sedang tidur?

"Dasar, sudah miskin, pemalas lagi," sinis Sasuke lagi. Namun, tak kunjung mendapatkan respon, dan wajah gadis itu masih menunduk. Oleh karena itu, Sasuke hanya mengambil kesimpulan bahwa Sakura benar-benar tertidur saat ini. Dan dia tidak mau mengganggunya.

Beberapa menit kemudian, pintu kelas terbuka. Dan sebagian anak-anak yang tengah sibuk dengan urusannya masing-masing langsung kembali ke tempat duduk mereka melihat sang guru yang terkenal selalu terlambat kini sudah datang, "Maaf terlambat anak-anak, tadi saya membantu Asuma cuci piring dulu di dapur," para siswa hanya memutar bola mata mereka bosan. Jelas mereka tahu itu bohong, secara Asuma sedang ada perpindahan mengajar sejak seminggu yang lalu.

Kakashi—nama guru itu segera mengambil lembaran yang ada di dalam tasnya, "Karena jumlah kertasnya terbatas, jadi satu lembar kalian berdua ya dengan pasangan sebangku kalian," perintah Kakashi. Yang lain hanya mengangguk.

Saat sudah mendapat kertas lembarannya, Sasuke melirik Sakura yang masih belum bangun juga. Perlahan dia mendengus, "Hei bangun, mau tidur sampai kapan?" panggil Sasuke. Aneh, masih belum ada respon juga. Sasuke mengernyitkan alisnya.

Dengan ragu, Sasuke menyentuh tubuh Sakura dan sedikit mengguncangkan tubuhnya, "Sakura?" panggil Sasuke. Akhirnya setelah memberanikan diri, Sasuke menyibakkan rambut soft pink yang menutupi wajah gadis itu. Tunggu, wajahnya pucat? Tangan Sasuke bergerak untuk memegang wajah pucat Sakura, dan sesaat mata onyxnya membulat.

"Panas sekali,"

"Ada apa Sasuke? Kenapa Sakura?" tanya Kakashi yang dari tadi heran melihat tingkah Sasuke di belakang. Spontan Sasuke menarik tangannya dari wajah Sakura. Mata onyxnya melirik ke sana kemari dengan gugup.

"Ah ngg, sepertinya Sakura sakit sensei," jawab Sasuke. Kakashi mengangkat sebelah alisnya lalu menghampiri tempat duduk Sakura. Dia sedikit membalik tubuh Sakura dan memegang kening gadis itu dan terdiam.

"Hmm memang panas, tolong bawa dia ke UKS ya Sasuke. Kau bisa menggendongnya kan?" tanya Kakashi. Dia tidak menyadari di belakangnya, para fansgirl Sasuke tengah berdoa agar Sasuke tidak menuruti sang sensei.

Sebenarnya, tanpa perintah Kakashi pun. Sasuke memang berniat membawa Sakura ke UKS. Wajahnya terlihat cemas, walau masih dia berusaha sembunyikan dengan wajah dinginnya. Dengan cepat, Sasuke menggendong Sakura dengan bridal style. Kepala Sakura menyandar pada dada bidang Sasuke. Matanya masih terpejam dan wajahnya sangatlah pucat. Melihat itu, bisa ditebak bagaimana sikap para fansgirl Sasuke. Ya, iri.

Bukan cuma para fansgirl Sasuke, seseorang yang tak lain adalah pacar Sakura pun merengut kesal. Dia baru saja kembali dari tugasnya mengantar sebagian tugas Kakashi ke ruang guru dan harus melihat pemandangan memuakkan di depannya. Sai mendengus kesal dan langsung melihat soal di bawahnya. Naruto yang duduk di sampingnya hanya menggeleng-gelengkan kepala. Dia menatap Sasuke yang kini sudah keluar kelas.

"Gomen Sai, kali ini aku ingin mendukung teme,"

.

Sesampai di ruang UKS, Sasuke langsung menaruh Sakura di atas kasur. Diambilnya selimut untuk menutupi tubuh gadis itu agar tidak kedinginan. Sesekali Sakura mengeluarkan batuk-batuk kecil. Sementara menunggu Sakura bangun, Sasuke memasak air di water heater. Mengambil obat yang pas. Setelah air sudah hangat, Sasuke membuat teh hangat dan juga air hangat biasa. Tak lupa, memasang kompres di dahi Sakura. Sisanya, dia mengambil kursi dan duduk menunggu di samping Sakura.

Sekitar setengah jam lamanya, Sakura tertidur. Sesekali Sasuke menguap bosan dan hampir saja ikut tertidur kalau dia tidak mengingat tanggung jawabnya sekarang. Untuk terakhir kalinya, mata Sasuke hampir menutup saat terdengar suara Sakura yang mulai bangun.

"Ng," Sakura membuka matanya perlahan. Dia melihat ke kanan kiri, berusaha mengenali ada di mana dia sekarang. Dengan susah payah Sakura berusaha bangkit, namun dia terkejut melihat siapa di sampingnya.

"Sa-Sasuke?" tanya Sakura. Sasuke hanya mengangkat alisnya dan menjawab 'Hn'. Wajah Sakura berubah merah dan dia kembali menggertakan giginya.

"Kau! Aku tidak perlu bantuanmu! Ngapain kau di sini?" tanya Sakura kesal. Sasuke tidak mempedulikannya, dia mengambil obat dan memberikannya di depan Sakura.

"Minum obat i—"

Plak

Sakura menangkis tangan Sasuke yang memegang obat. Hingga obat yang berbentuk kapsul itu berjatuhan di bawah kaki Sasuke. Laki-laki raven itu hanya mengamati sesaat gerakan obat kapsul tersebut lalu mata onyxnya kembali menatap emerald di depannya, "Jawab aku!" perintah Sakura. Nafasnya tidak beraturan, pastilah Sakura terlihat susah payah untuk menarik nafas. Wajahnya pun sampai memerah seperti itu.

Dan untuk yang kedua kalinya, Sasuke masih tidak peduli. Dia mengambil tissue dan mengambil obat yang jatuh di bawah. Di lapnya obat-obat itu, "Ini obat terakhir," gumam Sasuke. Setelah menyelesaikan kegiatannya membersihkan obat-obat itu, Sasuke bertanya pada Sakura, "kau masih mau meminum obat ini?"

Kali ini Sakura tidak menjawab, dia membuang mukanya dari tatapan Sasuke. Mata emeraldnya lurus menatap ke depan, "Aku sangat membencimu Sasuke," bisik Sakura namun tetap bisa didengar Sasuke. Baiklah, Sasuke memang sudah sering mendengar kata-kata ini dari Sakura. Tapi entah kenapa untuk yang terakhir ini rasanya lebih menusuk dari biasanya.

Sasuke terdiam, "...Begitu," dia menarik nafas, "lalu kau ingin aku melakukan apa?" tanya Sasuke lagi. Sakura terlihat menggigit bibir bawahnya dan menggenggam erat selimut yang menutupi kakinya.

"Pergi dari hadapanku," jawab Sakura dengan tegas. "Aku tidak mau melihat wajahmu lagi," sinis Sakura. Sasuke tidak berkata apa-apa, dia segera berdiri dan berbalik.

Sakura sedikit melirik punggung Sasuke yang kini semakin menjauh. Tangan Sasuke pun sudah memegang gagang pintu UKS dan tepat berhenti di saat itu, Sasuke bergumam.

"Kau boleh membenciku, tapi.." Sakura terus menatap punggung Sasuke, "tetaplah semangat dan tersenyum. Teruslah berkarya,"

"Eh?" Sakura tertegun sesaat. Kata-kata Sasuke, rasanya pernah dia lihat atau dengar di suatu tempat. Sakura mengerutkan alisnya, dia tidak bisa mengingat dimana dia melihat atau mendengar kata Sasuke tersebut hingga...

"Jangan lama update ya. Ficmu selalu bisa membuatku bersemangat," Sasuke terlihat kaku, "begitu pula senyummu,"

Sakura tersentak. Fic? Semangat? Teruslah berkarya? Tetaplah tersenyum? Memang, reader lain selalu berkata agar Sakura semangat dan terus berkarya. Tapi, satu-satunya reader dan reviewer yang selalu mengatakan 'tetaplah tersenyum' hanya dia. Ya, dia..

"A.. Aoi-san?"

To Be Continued


Nyaaa, kayaknya semakin tragis ya kisah hidup Sasuke. Ckckck *dichidori* haha oke deh. Special thanks for :

UmyA-uMya-UmYa-Nyaa, Miss Uchiwa SasuSaku's Lover, Naru-mania, N.P.N-11CC, Silla ichigo uchiha, Delasachi luphL, Chiho Nanoyuki, Ka Hime Shiseiten, Daniss Uchiha-chan, Shard Vlocasters, Azuka Kanahara, uchiha kazuma, Imuri Ridan Chara, Uchiharuno Rin, Nanako-hime, Michiru No Akasuna, Uchiha Cesa, Fun-Ny Chan, Mila Mitsuhiko, LuthMelody, Haruchi Nigiyama, aaamiaw, 4ntk4-ch4n, Lady Harumi Aika, SakuNuSasu, ara Aphrodite, moonmu3, Ame chochoSasu, Nakamura Kumiko-chan, Rievectha Herbst, Mozza Dio, Murasaki Sakura, Aurellia Uchiha, Peaphro, So-Chand 'Luph pLend', Megumi Kisai, Chousamori Aozora, nichan, aya-na rifa'i, Misaky Uchiha, OraRi HinaRa, huchiha, uchiha ran, Nanairo zoacha, Nu-Hikari Uchiha, Arishima Ryuu-chan,

Misaky Uchiha : Heheh makasih atas wanti-wantinya XD *dilempar* sebelumnya maaf banget ya Misaky-chan jadi ngerasa bersalah. Padahal yang salah aku, yah aku emang gak tahu sih apa salahku sampai konan-chan atau sinis kuntet itu jadi benci sama aku. Yang pasti di ficku yang dulu, aku sudah bilang kalau dia udah nggak kuanggap ada. Mohon maafkan atas gangguan kenyamanan anda sebagai reader m(_,_)m Dan lain kali gak usah ladenin orang gila kayak gitu hehe *plak* Thanks udah review! :3

Aurellia Uchiha : Haha dasar anda ini XD emm kali ini balas apa ya? Ah Aurellia mau nanya apa? :D *kicked* hehe thanks udah review! ^^

Yuuna Kira : Udah dibalas nih haha. Sebelumnya terima kasih banyak atas pujiannya :) terus Sakura sama siapa, kuusahakan dengan Sasuke. Mengingat tokohnya aja SasuSaku hehe *plak* oke, thanks udah review! XD

Dan terima kasih untuk semuanya yang sudah baca. Baik yang sempet review maupun tidak. Terima kasih banyak ya minna ^^ Oh ya kalau ada yang namanya gak ketulis. Maaf banget~ m(_,_)m

Dan sesuai janji, ini kisah nyata berdasarkan kehidupan saya lho hahaa :D *dikejar*


Bonus

(untuk keamanan, namanya disamarkan *halah*)

Waktu itu kelas sedang mendapat waktu yang kosong. Dikarenakan guru dalam bidang pelajaran tersebut sedang dinas ke luar kota. Kira—sang anak baik (?) *bacot banget -dihajar* berputar-putar di dalam kelas.

Kira : Eh ada yang lihat Roro? Gua mau nanya tugas kelompok ntar.

Roro : Apaan? *muncul tiba-tiba*

Kira : Oh ini dia, eh tugasnya gimana? Gua belum ngerjain apa-apa nih.

Roro : Udah gua kerjain dodol! Makanya kerja jangan molor terus! *mukul kepala Kira* Oh ya, lu dapet flame gak?

Kira : Ha? Kapan? Oh inget! Yang **** bukan? Emang kenapa?

Roro : Iya kali. Kok gak ada ya gua lihat lagi tadi.

Kira : Udah gua hapus haha. Daripada jadi sampah di review fic gua, lagian flamenya gak mutu gitu ntar bikin emosi -,-Emang kenapa sih? Itu lu bukan yang ngeflame fic gua?

Roro : Iya haha, gua mau coba jadi flamer rasanya gimana. Tapi tenang aja, kalau gua mah bukan flamer alay.

Kira : Jah? Dodol. Flamer alay itu bukan berarti juga tulisannya alay. Kalau ngomong gak jelas, dan malah menurunkan niat seseorang untuk menulis itu juga disebut flamer alay! Ada dua macam flamer, dan flamer yang gua hormatin itu cenderung ngeflame gaya penulisan, typo, dan semacamnya, tapi dia masih mendukung author itu untuk lebih baik meski kata-katanya kasar. Dan memang ada flamer kayak gitu dulu, tapi sekarang yang tersisa mah alay semua :/ *ceramah*

Roro : Yaelah banyak amat penjelasannya. Terus yang disebut flamer yang baik itu gimana?

Kira : Yeh? Mana gua tahu, gua gak pernah ngeflame pak =A=' *ngeloyor*

Roro : Eh tunggu, satu lagi!

Kira : Apa sih?

Roro : Ajarin gua jadi flamer yang baik! *nyiapin buku catatan*

Kira : *sweatdrop*

Waktu itu Kira berpikir, seandainya semua flamer adalah orang polos seperti Roro. Mungkin FFN akan jadi damai *apa banget –dihajar sekampung*

The End (?)


Ah ya, review? :3