Minnaa~ jumpa lagi hehe XD *plak* maaf ya kalau lama update, keasyikan main di deviant art hohoho *kicked* ah ya, sekalian promosi, mampir ke DAku ya minna. Gampang kok, tinggal klik aja link 'KiraDesuke13 – DeviantArt' di profilku. Kalian sudah langsung ke sana hohoho~ *apa banget*
Hmm, lalu mari kita mulai saja. Happy reading ^^
Naruto © Masashi Kishimoto
Story © Kira Desuke
Warning : OOC, AU, typo?
Genre : Romance/Friendship/Angst
Flames NOT ALLOWED and that won't work with me
.
.
REVIEW AND ART
CHAPTER 7 : TWO FLASHBACK
"A.. Aoi-san?" tanya gadis itu terbata-bata. Laki-laki di depannya tidak menjawab, maupun berbalik hanya sekedar untuk menatap kedua mata emerald milik gadis itu, "Sasuke? Kau.. Aoi-san?" tanya gadis itu lagi dengan hati-hati. Dia membuka selimutnya, bermaksud berdiri dari kasur dan mendekati laki-laki berambut raven yang masih membelakanginya.
Sakura, nama gadis itu. Dia duduk di tepi kasur. Menunggu jawaban Sasuke, laki-laki di depannya. Namun Sasuke tidak menjawab, dia malah memegang kenop pintu dan membukanya, membuat suara yang berisik di tengah keheningan mereka.
"Tunggu!" Sakura akhirnya memutuskan untuk berdiri dari kasur dan berjalan mendekati Sasuke. Meskipun dia hampir saja jatuh karena matanya kembali berkunang-kunang, "jawab aku," pintanya sambil menahan lengan Sasuke yang hendak keluar.
Sakura menarik tangannya hingga akhirnya mau tak mau Sasuke tertarik dan mata onyxnya kini ditantang dengan mata emerald di depannya. Sakura terus menatap Sasuke seolah dia tidak akan bisa berkedip lagi. Sasuke masih tetap diam mengamati, perlahan dia merasakan genggaman tangan Sakura padanya semakin kuat. Meski berusaha ingin menikmati genggaman ini, tetap tidak bisa. Bagaimanapun Sakura sudah menjadi milik Sai. Dan Sai, dia adalah sahabatnya sedari kecil. Dengan berat, Sasuke melepaskan genggaman Sakura pada tangannya.
"Aku bukan Aoi-san," jawab Sasuke palan, dari suaranya dia hanya berusaha terlihat tegas. Sakura mengerutkan alisnya tak percaya, hingga akhirnya Sasuke berkata, "hanya seorang silent reader,"
Wajah Sakura masih menunjukkan ekspresi tidak percaya saat Sasuke menjawab pertanyaannya. Sasuke menarik nafas pelan dan tersenyum pahit, dengan pelan dia melepaskan tangan Sakura dan segera berbalik. Wajah Sakura saat menatapnya tadi, tidak bisa dilupakannya. Cih, ingin rasanya dia memutar waktu saat dia baru pertama kali dikenalkan dengan fanfiction, belum mengenal Sakura. Saat dia baru mengenal, siapa itu cherryblossom...
.
Flashback
DHUK DHUK DHUK
"TEMEEE! TEMEEE!" teriak seseorang di koridor rumah Sasuke yang bagaikan istana ini. Memang, Sasuke itu anak orang kaya, rumahnya saja seperti istana begini. Koridor menuju kamarnya dari pintu depan pun cukup jauh.
Dengan kesal, Sasuke membuka pintunya, "Berisik Dobe! Apa maumu kali ini hah?" tanya Sasuke dengan wajah kesal tak beraturan. Terlihat dari wajah kusutnya yang dari tadi malam, membuktikan dia belum menyelesaikan tugas dari kemarin.
Naruto mencerucutkan bibirnya, "Ugh, tak perlu sampai semarah itu juga kan?" rajuk Naruto. Sasuke yang sudah tidak tahan lagi, bergegas menutup pintu namun lagi-lagi dihalang Naruto, "owowo tunggu Teme!"
"Apalagi sekarang?" tanya Sasuke dengan nada yang ditekankan. "Dobe, besok sudah mulai MOS dan aku sama sekali belum menyelesaikan tugas-tugas bodoh yang diberikan para OSIS, karena itu bisakah kau lebih tenang sedikit?" gerutu Sasuke akhirnya.
"Oh well, tapi biarkan aku masuk ke kamarmu, aku bosan sekali. Sekalian aku pinjam Hpmu Teme, mau ngenet hehe. Pulsaku habis," pinta Naruto dengan wajah memelas.
Sasuke memutar bola matanya bosan, "Dasar miskin pulsa," ketusnya. Namun pada akhirnya dia biarkan saja Naruto memasuki kamarnya dan seenaknya meminjam Hpnya.
Naruto melempar dirinya sendiri di atas kasur sementara Sasuke masih stress dengan kerjaan menumpuk di atas mejanya. Berkali-kali Sasuke mendengus kesal karena terganggu dengan kikikan-kikikan kecil dari Naruto. Untuk kesekian kalinya Sasuke masih bisa bersabar sampai...
Brak
"Wha? Eh te-Teme? Ada apa?" tanya Naruto bingung. Melihat tatapan tajam Sasuke padanya, Naruto bisa mengerti bahwa kini dirinya sudah berada di ujung tanduk.
"Ngg, Teme.. Itu.. Ah kau stress ya? Baca fic aja!" cengir Naruto berusaha menyelematkan dirinya dari ancaman yang sebentar lagi akan datang. Namun sepertinya percuma, karena Sasuke masih berdiri di hadapannya dengan tatapan siap membunuh, "di-dijamin kalau baca fic, Teme pasti hilang stressnya!" ucap Naruto sambil membentuk dua jarinya seperti huruf V.
"Fic?" Sasuke mengerutkan alisnya, "apa itu?" tanyanya tajam. Naruto menelan ludah.
"Ngg semacam cerita gitu, cerita berdasarkan imajinasi seseorang," Naruto berkoar.
Sasuke masih menatap Naruto tajam, "Maksudmu seperti khayalan?" tanya Sasuke, Naruto hanya menggangguk, "kau pikir aku anak kecil, hah?" dan pernyataan Sasuke barusan sukses membuat Naruto merasa hampir tersambar petir kemarahan.
"Bu-Bukan maksudku mengatai kau anak kecil Teme, tapi..." Naruto menimang-nimang kata yang tepat, "aku cuma ingin membuatmu merasa rileks saja hehe," cengir Naruto lagi. Sasuke terdiam, menatap Naruto dengan tampang tidak percaya.
"A-Aku serius Teme! Kau baca sendiri saja!" tukas Naruto dan dengan berat dia kembalikan Hp Sasuke. Pemuda raven itu mengangkat sebelah alisnya dan menerima Hpnya, namun bukan dilihat justru Sasuke malah memasukkan Hpnya ke dalam saku celananya.
"Lho—"
"Akan lebih baik kalau kau pulang sekarang Dobe. Aku sedang tidak dalam mood untuk bersabar denganmu," ketus Sasuke dingin. Naruto menghela nafas kesal akhirnya lagi-lagi dengan berat hati, Naruto melangkahkan kakinya keluar kamar Sasuke.
Beberapa saat setelah Naruto keluar dari kamarnya, Sasuke kembali berkutat dengan tugas-tugasnya yang tidak jelas. Berkali-kali Sasuke mengumpat kesal, walau akhirnya pekerjaan itu tetap selesai di tangannya yang jenius. Dengan langkah gontai, Sasuke berjalan menuju kasurnya dan membaringkan diri. Sesaat, Sasuke meraba-raba saku celananya lalu mengambil Hpnya. Dia memandangi layar Hpnya dan memikirkan kata-kata Naruto tadi.
"Fic.." Sasuke bergumam, "apa bagusnya sih?" tanya Sasuke pada dirinya sendiri. Akhirnya setelah mengalami perdebatan hati, Sasuke memutuskan untuk membuka browser Hpnya.
Pemuda raven biru donker itu terdiam dan membuka history browsernya. Life, an anime fanfic – FanFiction Net. Sasuke sedikit mengangkat alisnya dan karena judul fic itu menarik perhatiannya, akhirnya Sasuke mengklik link tersebut.
Fic itu menceritakan tentang kehidupan seorang anak yang dingin namun disukai banyak wanita. Dia selalu menyendiri, tapi setidaknya dia mempunyai satu sahabat yang selalu menemani suka dan duka, sehingga anak itu merasakan apa yang dimaksud dengan kehidupan. Sasuke tersenyum kecil membaca fic itu, pasalnya tokoh utamanya sangat mirip dengan Sasuke dan sifat sahabat anak itu sangat mirip dengan Naruto. Meski kesal, Sasuke mengakui bahwa bersahabat dengan Naruto membawa kesenangan tersendiri seperti di dalam fic itu.
Entah kenapa, rasa penasaran kepada sesuatu yang disebut fic semakin besar di dada Sasuke. Dengan cepat, dia menscroll layar Hpnya ke atas, mencari siapa yang membuat fic itu. Matanya tertuju dengan tulisan cherryblossom lalu di bawahnya bertuliskan author of 5 stories. Sasuke mengernyitkan alisnya.
"Mungkin ini," gumam Sasuke sambil menekan klik pada link cherryblossom tersebut. Dengan teliti, Sasuke membaca profil cherryblossom, laki-laki itu sedikit tertegun saat membaca bagian kalimat—
Oh ya, sebenarnya nama cherryblossom diambil dari arti namaku juga. Nama asliku Sakura Haruno. Salam kenal minna! :D
"Sakura... Haruno?" Sasuke terlihat berpikir sesaat, "rasanya aku pernah melihat atau mendengar nama itu," Sasuke turun dari kasurnya lalu mengambil tasnya. Setelah sedikit mengobrak-abrik, akhirnya Sasuke berhasil menemukan daftar absen baru di kelasnya. Mata onyxnya menelusuri nama-nama pada kertas yang dipegangnya.
28. Sakura Haruno
"Ah, dia sekelas denganku rupanya," gumam Sasuke. Lalu laki-laki itu berusaha mengingat seperti apa rupa Sakura, "sebentar, rasanya dia itu anak yang bisa masuk karena beasiswa," lanjutnya lagi.
Keesokan harinya, Sasuke berniat untuk memperhatikan Sakura lebih dalam. Namun fakta yang bisa didapatnya hanyalah gadis itu sering berdiam di pojokan dan melihat keluar jendela. Terkesan misterius, sering memainkan anak rambutnya yang berwarna soft pink. Sasuke sedikit berkedut menyadari Sakura di dunia nyata sangat berbeda dengan di dunia maya.
Meski begitu, Sasuke masih ragu. Akhirnya dengan iseng dia mencoba mereview anonym. Awalnya Sasuke bingung, nama apa yang harus dipakainya sampai Naruto berteriak, "Temeee, aku pinjem spidolmu yang Aoi yaaa!" dan muncullah nama Aoi-san di benaknya. Sasuke mengetik cepat apa yang dipikirkannya di dalam kepalanya. Setelah selesai, laki-laki itu kembali memperhatikan Sakura dari jauh.
Beberapa saat kemudian, Sakura terlihat membuka Hpnya. Merasa itu kesempatan bagus, Sasuke berpura-pura berjalan menuju Kiba yang kebetulan duduk di depan Sakura. Dan rupanya itu tidak sia-sia karena setelah itu Sasuke melihat Sakura tersenyum dan bergumam, "Aoi-san, namanya lucu juga," sejak itulah Sasuke merasa pasti bahwa gadis itulah cherryblossom.
Sialnya, Sasuke yang tadinya berniat cukup mencari tahu bahwa cherryblossom adalah Sakura Haruno yang ada di kelasnya, malah jadi terpikat. Sasuke tidak bisa berhenti mengamati, bahkan sebagian besar dia mengamati Sakura tanpa sadar. Jika dia akan duduk di tempatnya, refleks kepalanya langsung menoleh ke arah tempat duduk Sakura, memastikan gadis itu ada di sana atau tidak. Dan kalau tidak ada, maka Sasuke akan mencari alasan supaya dia bisa keluar dari kelas, untuk mencari Sakura. Mungkin karena itu, Sasuke jadi tahu tempat-tempat tersembunyi yang selalu disinggahi Sakura untuk menenangkan hatinya.
Sasuke tidak pernah mengerti kenapa dirinya jadi perhatian seperti itu. Pernah Sasuke mencoba untuk menahan dirinya supaya tidak mencari Sakura saat melihat bangku gadis itu kosong. Namun tetap saja dia tidak bisa tenang, berkali-kali dia gusar bahkan tidak bisa berpikir jernih untuk mengerjakan soal-soal yang ada di depan matanya. Dengan berat, Sasuke pun akhirnya meminta izin ke ruang UKS untuk menenangkan pikirannya.
Tapi, pilihan ke ruang UKS membuat perasaannya senang sekaligus kesal di saat bersamaan. Begitu Sasuke membuka pintu, ternyata Sakura sudah di balik pintu siap untuk keluar. Sasuke merasakan degup jantungnya berdegup kencang saat itu, saat dia menatap mata hijau emerald Sakura di depannya. Sasuke harus menahan mati-matian wajahnya untuk tidak mengeluarkan semburat merah. Dan berkat itu, kata-kata munafik kembali meluncur di mulutnya.
"Apa yang kau lihat? Menghilang dari hadapanku," yeah, Sasuke mengutuk kata-katanya di dalam hati saat itu. Tapi meski begitu, ego Uchiha terlalu besar untuk membuatnya menarik kembali kata-katanya. Sakura hanya menunduk dan tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia berjalan melewati Sasuke yang terpaku.
Akhirnya Sasuke menyadari perasaannya saat itu. Melihat senyum Sakura, membuat hatinya lega. Sebaliknya jika melihat kesedihan Sakura, membuat hatinya panas dan bergemuruh, juga sesak. Ini yang pertama bagi Sasuke dan dia mengerti itu. Sasuke menggigit bibir bawahnya, menerima kenyataan yang ada.
"Aku... menyayanginya,"
End of flashback
.
Sasuke masih akan melamun seandainya dia harus dipaksa sadar saat seseorang menabrak bahunya. Dengan kesal, Sasuke mendelik pada seseorang di sampingnya.
"Oh. Maaf, Sasuke," ujar pria pucat itu dingin dan dengan lirikan tajam dia memandang Sasuke sinis lalu membuang muka. Sasuke sedikit tertegun melihat perilaku teman sedari kecilnya itu.
"Sai," gumam Sasuke. Namun tanpa berkata apa-apa, Sai meninggalkan Sasuke yang terdiam. Sasuke terpaku di tempatnya, ini pertama kalinya dia mendapat perilaku dingin dan ketus dari seseorang.
Apalagi ini dari sahabatnya sedari kecil?
Sasuke menarik nafas kencang. Apalagi sekarang? Ini memang salahnya yang munafik dari awal, dia tahu itu. Tapi tetap saja terasa sesak. Sasuke tidak suka ini. Dia berada di pilihan yang sulit sekarang, pertama mendapatkan Sakura dan mengacuhkan Sai atau kedua meghargai Sai dan membiarkan Sakura di tangannya. Ingin rasanya Sasuke memilih pilihan pertama.
Ingat, tidak ada manusia di dunia ini yang 'tidak egois'.
Namun ingatlah juga, tidak ada manusia yang 'tidak memikirkan teman atau musuhnya' saat melakukan sesuatu.
Sasuke menarik nafas lagi, apakah kali ini dia memang harus mengalah?
.
"Sakura!" teriak Sai saat laki-laki pucat itu membuka pintu UKS dan mendapati Sakura yang baru saja akan meminum obat—pemberian dari Sasuke tadi.
"Sai?" sebelum Sakura bertanya lagi, Sai langsung menerjang memeluknya. Meski sekilas, Sakura bisa melihat wajah Sai yang sangat khawatir.
Sai mengeratkan pelukannya, "Kau tidak apa-apa kan Sakura?" tanyanya masih dalam posisi memeluk Sakura. Gadis itu hanya tersenyum lembut dan mengangguk, "Syukurlah," bisik Sai.
Laki-laki berkulit putih pucat itu melepaskan pelukannya, menatap Sakura dengan tatapan penuh arti, "Kau tahu? Seorang seniman siapapun itu pasti akan sedih jika lukisannya memudar," Sai tersenyum, senyuman yang sangat bahagia, "karena itu jangan pernah memudar lagi Sakura,"
Sakura menatap Sai senang. Perasaannya sangat bahagia mengingat di sekolah ini masih ada yang menyayanginya begitu tulus seperti Sai. Sementara itu, Sai kembali mengingat saat di mana dia ditakdirkan untuk mengenal Sakura pertama kalinya.
.
Flashback
"Apa-apaan ini Sai?" bentak seorang kakek tua yang duduk di atas kursi sementara Sai memilih duduk di atas karpet tepat di depan kakek tua dengan tanda silang di dahinya itu.
Sai terdiam seribu bahasa saat menyaksikan kakek tua itu merobek-robek lukisan hasil jerih payahnya yang rencananya akan dipamerkan pada pameran minggu depan. Dengan tanpa ekspresi, Sai menerima sisa robekan kertas lukisannya itu dilemparkan pada wajahnya.
"Kau benar-benar payah!" bentak kakek tua itu, "apa jangan-jangan bakat melukismu menurun?" tanyanya dingin. Sai masih diam juga, tidak berniat menjawab. Dia malah merapikan robekan-robekan kertas lukisnya.
Kakek tua itu mengetukkan tongkat kayunya dengan keras pada lantai di bawahnya, "JAWAB AKU SAI!" teriaknya.
"Maaf kakek Danzou," jawab Sai tanpa menghilangkan nada dingin dari kata-katanya, "saya tidak bisa melukis jika saya tidak menyukai obyek yang saya lukis," jelasnya sarkastik.
Danzou—nama kakek itu—tertegun mendengar penuturan cucu angkatnya. Walau malu mengakuinya, tapi memang benar apa yang dikatakan Sai. Obyek yang menarik dan disukai itu mempengaruhi sang pelukis untuk membuat gambar yang lebih bagus. Karena Danzou saat muda pun begitu. Danzou merengut tidak suka saat menyadari Sai menatapnya dengan tatapan menang dari mata onyxnya.
"Huh, baiklah," Danzou akhirnya menyerah, dia berdiri dari kursinya, "sekarang obyek lukisan kuserahkan padamu. Tapi awas saja sampai minggu depan kau tidak mendapat obyek bagus untuk dipamerkan, maka saat itu juga aku akan mengurus kepindahanmu ke Ame," ancamnya. Sai terdiam hingga akhirnya dia mengangguk sekilas.
Beberapa hari setelah itu Sai mulai berburu obyek di sekolahnya. Gampang saja sebenarnya mengingat Sai banyak penggemarnya dan laki-laki pucat itu tinggal memilih obyek yang disukainya. Namun, sayang sekali karena sekali lagi Sai tidak menemukan obyek yang bagus menurutnya di antara para penggemarnya. Lima hari menuju hari H pameran dan Sai belum menemukan obyek yang pas, membuatnya pasrah.
Sai menarik nafas, "Huff, sepertinya aku memang harus pindah ke Ame," laki-laki itu menerawang, "aku harus menyiapkan kata-kata yang pas untuk minta izin pada Sasuke dan Naruto," gumamnya.
Setelah melamun beberapa saat, Sai memutuskan untuk berjalan menuju pintu keluar mengingat hari sudah terlalu larut untuk berada di sekolah. Sejenak Sai berhenti saat menyadari pintu menuju atap gedung sekolah terbuka. Laki-laki itu mengangkat sebelah alisnya.
"Kenapa terbuka? Apa para OB lupa?" tanya Sai pada dirinya sendiri. Akhirnya Sai memutuskan untuk menutupi pintu itu sendiri.
Tapi langkah Sai terhenti ketika menyadari masih ada seseorang di atap gedung sekolah, tepatnya di depan kawat pembatas. Di sana seorang gadis berambut soft pink tengah menikmati angin sore yang berhembus sepoi-sepoi menerpa wajahnya dan menerbangkan sedikit helai demi helai rambutnya. Mata hijau emeraldnya tertutup dan bibirnya melengkungkan senyum damai. Sai tertegun sesaat, jauh dari dalam lubuk hatinya dia merasa kagum akan pemandangan yang dia lihat saat ini. Dengan cepat, Sai segera mengambil buku sketsanya dan pensil kesayangannya.
Dengan cekatan dan teliti, Sai menggoreskan ujung pensilnya pada kertas sketsa di bawahnya. Membentuk sketsa wajah, tubuh, dan sekarang latar belakang. Sai tersenyum puas. Akhirnya dia menemukan obyek yang disukainya. Dengan langkah ringan, Sai berjalan pulang dan segera menunjukkan hasil karyanya pada Danzou.
"Bagaimana?" tanya Sai tegang, "mungkin sedikit jelek karena saya belum memberikan beberapa sentuhan terakhir karena itu—"
"Tidak perlu," Danzou tersenyum, senyum puas yang sudah lama tidak dilihat Sai, "ini sempurna. Kerja bagus Sai," terang Danzou. Sai tersenyum lega lalu dia pun berjalan kembali ke kamarnya.
Di dalam kamar, Sai masih tidak bisa berhenti memikirkan gadis itu. Siapa gadis itu? Pertanyaan yang sama terus terulang di benak Sai. Bahkan dalam keadaan melamun pun, Sai masih bisa menggambar model yang baru ditemuinya tadi dalam berbagai pose. Sai tersenyum kecil memandangi model barunya tersebut.
"Dia cantik, tapi kenapa aku tidak pernah melihatnya sebelumnya ya?" batin Sai dalam hati. Pokoknya kali ini dia berniat untuk mencari tahu siapa gadis itu.
Nasib baik benar-benar berpihak padanya. Waktu itu Sai dan yang lainnya tengah mengerjakan soal yang diberikan Iruka. Lalu tiba-tiba pintu terbuka, Sai spontan mendongak untuk melihat siapa yang baru datang sesiang ini. Mata hitamnya membulat sempurna.
"Kau terlambat lagi Haruno?" tanya Iruka sedikit kesal. Gadis pink itu mengangguk pelan, rambutnya bergerak sesuai gerakan tubuhnya, "Ck, ya sudah sana duduk!" perintah Iruka. Setelah menelan ludah, Sakura langsung berlari kecil menuju tempat duduknya di pojok dan mata Sai mengekorinya.
"Itu siapa?" tanya Sai, masih tidak mengalihkan pandangan matanya dari Sakura. Shino yang kebetulan di samping Sai pun menjawab, "Itu Haruno Sakura, anak yang bisa masuk sini karena beasiswa, masa' tidak tahu?" balasnya.
Sai menggeleng pelan, merespon jawaban Shino. Setelah itu Sai menyadari bahwa memang tidak mudah mendekati Sakura. Selain dirinya yang selalu dikejar-kejar penggemar, Sakura cenderung tidak pernah bergabung dengan para penggemarnya dan terkesan misterius. Meski begitu, sampai sekarang Sai tidak bisa berhenti untuk melukis gambarnya. Saat dia melamun, tersenyum, sedih, dan berbagai macam ekspresi lainnya. Sai sering tersenyum melihat gambarnya dan akhirnya bergumam.
"Aku.. sepertinya memang menyukainya,"
End of flashback
.
Sai terkekeh sendiri mengingat masa lalunya. Membuat Sakura bingung sendiri, "Kenapa Sai? Ada yang lucu?" tanya Sakura akhirnya. Sai tersentak lalu menggeleng.
"Oh, ah tidak ada apa-apa," kekeh Sai. Sakura mau tak mau jadi ikut tertawa kecil, "Ah, kau sudah baikan kan? Sudah minum obat?" tanya Sai lagi. Sakura menggeleng.
"Belum sih," Sakura menatap obat yang berada di genggamannya, "tadi Sasuke memberikannya padaku, baru akan kuminum," ucap Sakura.
"Sasuke?" Sai mengernyitkan alisnya. "Obat itu dari Sasuke?" tanya Sai lagi. Sakura mengangguk polos. "JANGAN! Jangan minum obat itu!" bentak Sai tiba-tiba.
"Eh? Ke-Kenapa?" tanya Sakura kaget.
"Pokoknya, aku tidak suka kau meminum obat pemberian Sasuke," Sai merebut obat di tangan Sakura, "biar kubelikan obat yang baru!" dan dengan kasar, Sai melempar obat itu ke bawah dan menginjaknya hingga hancur berserakan. Sakura tertegun menatap obat itu lalu sekarang menatap Sai.
"Tunggulah, aku akan membelikan obat untukmu," Sai berkata lembut. Dengan tenang, dia meninggalkan Sakura yang masih menatapnya kaget di belakang.
Keluar dari ruang UKS, Sai menutup pintunya. Laki-laki itu menyandar pada tembok di belakangnya. Sai menggigit bibir bawahnya. Matanya menyiratkan kemarahan. Tangannya pun mengepal erat.
"Maaf Sasuke, aku tidak berniat memberikannya padamu!"
To Be Continued
Woh, dengan sukses saya membuat Sai begitu menyebalkan di fic ini *dikejar Sai FC minta tanda tangan (?) -digampar*
Special thanks for :
Megumi Kisai, Dara-SasuSaku ShikaTema Lovers, Miss Uchiwa SasuSaku, Uchiha Cesa, Shard Vlocasters, Imuri Ridan Chara, Ka Hime Shiseiten, Rievectha Herbst, Haruchi Nigiyama, 4ntk4-ch4n, Dhevitry Haruno, LuthRhythm, Rin Akari Dai ichi, Uchiha Sakuya-chan, Made kun, Aurellia Uchiha, Lady Harumi Aika, Ame chocoSasu, Murasaki Sakura, Karerurippe, aya-na rifa'i, shakuya takumaru, Michiru No Akasuna, Delasachi luphL, Naru-mania, Fun-Ny Chan, Eien no Hana – KuroShiro6yh, Reader ajjah, Micon, Chiho Nanoyuki, Peaphro, Fujita-Ryou, Kokoro Fujisaki, Mila Mitsuhiko, 19amey haruna uchiha96, Misaky Uchiha, Tsukimori Raisa, Michi-chan, imechan, Nanairo Zoacha, Azuka Kanahara
Pokoknya thanks buat kalian yang review maupun tidak. Yang pasti maaf gak bisa bales satu-satu reviewnya, udah tengah malem sih =_= thank you very much! XD
Oh ya, ngomong-ngomong acc twitter saya yang debbyorkira kok gak bisa dibuka ya ==' yang pasti sekedar info aja, aku sudah pindah ke acc desukekun silahkan difollow jika berkenan X9 *kicked*
Boleh minta review? X3
