CHAPTER 11 : HURT

Saat ini, Konoha High School sedang dalam tengah pelajaran. Seluruh murid mulai dari kelas X sampai XII tengah berada di kelasnya masing-masing. Tapi beda dengan dua anak dari kelas XI-A ini. Mereka tidak berada di kelasnya melainkan di atas atap gedung sekolah, membicarakan kedua hal yang sepertinya sangat penting. Keduanya saling menatap serius. Bola mata biru sapphire dan bola mata hitam onyx saling bertatapan. Sang pria berambut raven dan memiliki bola mata onyx baru saja selesai menceritakan masalahnya pada sahabat di depannya.

"Sou ka..." gumam pria berambut blonde spike. Bola mata birunya menatap sahabatnya prihatin. Sedikit demi sedikit dia mengerti perasaannya—walau tidak seratus persen. Uzumaki Naruto menghela napasnya, "Sekarang kau mau bagaimana, Teme? Aku tidak mau persahabatan kita terpecah belah!" ucapnya dengan sedikit berteriak.

Uchiha Sasuke mendengus, "Tidak akan kubiarkan itu terjadi." Pemuda yang memiliki rambut berbentuk raven dan berwarna biru donker itu bangkit dari posisinya duduk menyandar, sedikit kepayahan karena memar di wajahnya membuatnya pusing hingga kehilangan keseimbangan. Naruto juga ikut berdiri, dia menggigit bibir bawahnya—memikirkan apa yang harus dia katakan.

"A-Aku akan membantumu, Teme! Aku juga tidak bisa hanya diam seperti ini sementara kalian..." Naruto tidak berani melanjutkan ucapannya. Dia mendesis kesal. Padahal kalau biasanya, dia akan dengan santai mengatakan yang sebenarnya dengan blak-blakan tanpa memikirkan ke depannya. Tapi sekarang berbeda, entah kenapa.

Sasuke menggeleng tegas, "Tidak. Ini masalahku, aku yang akan menyelesaikannya sendiri." Jawabnya tanpa keraguan dan sangat yakin—khas Uchiha. "Aku akan mendapatkan Sakura dan tetap bersahabat dengan Sai, apapun yang terjadi." Sang sahabat yang memiliki tiga garis di pipi kanan dan kirinya hanya bisa tertegun. Dia mendengar kesungguhan dari nada suara bungsu Uchiha itu.

Naruto tertunduk setelah sekian lama mereka berdua terdiam, "Berjanjilah padaku, Teme. Kalau kau tidak bisa menyelesaikan masalah ini, maka aku akan menghajarmu."

"Hn," Sasuke mengerling sekilas sahabat di belakang tubuhnya sebelum akhirnya dia membuka pintu menuju dalam sekolah. Tak lupa kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celananya, "kau duduk saja dan lihat..."

.

.

.

"Salah satu kebodohan terbesar yang pernah kubuat adalah..."

"...saat aku jatuh cinta kepadamu."

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

Story © Kira Desuke

Warning : OOC, AU, misstypo?

Genre : Romance/Angst/Friendship/Drama

Pair(s) : SasuSaku, SaiSaku, and the others

.

.

REVIEW AND ART

.

.

"Seperti yang kita ketahui, dalam waktu dekat kita akan mengadakan pertukaran pelajar antara Konoha dan Kiri. Lalu..."

Sasuke sama sekali tidak mendengarkan apa apa yang dikatakan oleh guru di depan kelasnya. Pandangannya terus teralihkan pada pemandangan di luar. Memang tidak ada yang menarik—tapi itu lebih baik ketimbang harus mendengarkan ocehan gurunya tentang pertukaran pelajar yang akan diadakan antar dua sekolah terbaik di Konoha dan Kiri. Uchiha bungsu itu menghela napas bosan. Dia ingin cepat-cepat pulang dan yah... memang kemungkinannya sedikit sih tapi setidaknya dia ingin menjenguk seseorang yang kini absen di rumah.

"...Dan oleh karena itu, Shimura Sai kupilih untuk menjadi penyambut utama pelajar dari Kiri. Nanti sepulang sekolah, harap temui aku di ruang guru, Sai." Mendengar nama salah satu sahabatnya disebut, membuat Sasuke mengalihkan perhatiannya. Dia melirik Sai yang duduk di seberang kanannya. Pemuda yang memiliki kulit putih pucat itu dan sekilas terlihat mirip dengan Sasuke tersebut memejamkan matanya. Dia membuka matanya lagi dan mengangguk, "Baik."

Menyadari ada seseorang yang menatapnya dari kejauhan, Sai menolehkan kepalanya. Bola mata onyxnya kembali bertatapan dengan Sasuke. Lama, dalam, saling mencari arti tatapan masing-masing. Dan adu tatap itu berakhir dengan Sai yang membuang mukanya duluan. Sasuke menyusul perbuatan temannya itu, tapi kini bola matanya teralihkan pada kursi di sampingnya. Rasa khawatir yang terus menerus meledak di dalam hatinya menuntutnya untuk berpikir nekat. Kembali teringat dengan kegiatan Sai setelah ini... Mungkinkah ini kesempatannya?

Beberapa saat setelah sang guru bicara panjang lebar di depan kelas, bel pulang berbunyi. Tanpa mau membuang waktu, Sasuke segera membereskan tasnya. Bahkan kali ini dia keluar paling awal daripada teman-teman kelasnya yang lain—biasanya dia keluar paling akhir. Memang tidak ada yang menyadari kelakukan aneh pemuda raven itu, kecuali untuk sahabat dan mantan sahabatnya. Naruto menatap maklum dan mendukung sahabatnya dalam hati. Tapi lain dari yang seorang lagi, bola mata onyxnya memancarkan kebencian.

Sasuke berlari menuruni tangga menuju gerbang luar sekolah. Tak dipedulikannya tatapan bertanya dari orang-orang yang melihat memar di wajahnya. Mungkin saking terburu-burunya, dia sampai menabrak beberapa orang. Tentu saja Sasuke tahu jalan menuju rumah gadis itu. Beberapa bulan mengamati gadis itu cukup membuatnya tahu banyak. Berlari dan berlari, menantang angin yang menandakan akan datangnya musim semi. Hampir berkali-kali Sasuke terjatuh karena tersandung batu. Dan sempat sekali dia terjatuh hingga menimbulkan luka lecet di telapak tangannya. Salahkan jalan yang kelewat licin karena hujan seharian kemarin.

Uchiha bungsu menatap rumah kecil di depannya. Berusaha mengatur napasnya dan menyeka keringat yang mengalir di wajahnya. Setelah mengatasi kegugupannya beberapa menit, Sasuke memberanikan diri mengetuk rumah tersebut. Tok tok—suara ketukan itu rasanya berdengung di telinga Sasuke. Laki-laki itu memukul pelipisnya berusaha menenangkan diri seperti yang biasa ia lakukan. Tapi rasanya kali ini sangat susah, dia bahkan tidak bisa mengatur emosinya.

Saat pintu terbuka, rasanya Sasuke ingin menahan napas saat itu juga. Dan dari balik pintu, muncul gadis itu dengan wajah pucatnya yang membuat hati sang pria mencelos, "Sasuke?" tanya gadis itu pelan. Sasuke mengangguk dengan wajah datarnya. Suasana di sekitar mereka sempat canggung untuk beberapa saat sampai Haruno Sakura tersenyum kecil, "Silahkan masuk."

Sasuke menyusul Sakura masuk ke dalam rumah kecil tersebut. Bola mata onyx terus menatap rumah yang berukuran jauh lebih kecil dari rumahnya. Jika dibandingkan, mungkin 1 : 10000. Mungkin berlebihan, tapi itulah kenyataannya. Rumah kecil itu bercat putih kecoklatan, hanya ada satu kamar dan kamar mandi kecil di dalamnya. Begitu masuk, kau akan langsung melihat ruang tamu yang sangat sederhana bahkan hanya ada dua sofa berukuran sedang. Sasuke menghela napas, rasanya dia ingin memukul kepalanya sendiri mengingat dia dulu sangat keterlaluan menghina gadis itu. Pria berambut raven itu membayangkan pasti betapa susahnya hidup di rumah seperti ini.

Sasuke menatap punggung Sakura yang kesusahan berjalan. Dia menangkap tubuh ringkih gadis itu sebelum terjatuh, "Kau terlalu memaksakan diri," bisik Sasuke. Dia tahu dengan melihatnya, Sakura tengah mati-matian menahan sakitnya. Sasuke melirik kamar gadis itu, benar saja ada buku-buku pelajaran yang sepertinya habis dibaca di sana. Lagi sakit pun tetap belajar? Yang benar saja.

Sakura membuka matanya, menatap bola mata onyx pria yang tengah memeluknya dari belakang. Mereka berdua masih belum membetulkan posisi dan berada di tengah ruangan, "Tapi... kalau aku tidak belajar..." gadis itu terlihat mengatur napasnya yang kelelahan, "beasiswaku..." dan engahan napas selanjutnya, gadis itu sudah jatuh pingsan. Sasuke mendengus kesal. Digendongnya gadis itu ke atas tempat tidurnya.

Pria yang memiliki rambut berwarna biru donker itu membereskan buku-buku pelajaran yang entah kenapa mengganggu matanya. Setelah menidurkan gadis itu, Sasuke kembali melihat sekeliling. Sepertinya satu-satunya barang mewah di rumah kecil ini adalah laptop yang berukuran kecil. Entah bagaimana gadis itu mendapatkannya tapi tidak dipikirkan oleh Sasuke. Rasa penasarannya membuat Sasuke membuka laptop mini tersebut.

Di dalamnya ada banyak fic-fic yang sudah diketahui Sasuke. Tapi ada juga beberapa yang belum selesai. Kebanyakan menceritakan tentang persahabatan—sepertinya Sakura sangat menyukai genre itu. Salah satu fic yang masih dikerjakan menarik perhatian Sasuke. Dibukanya file itu dan dibacanya. Fic itu menceritakan tentang dua orang sahabat yang bertengkar karena salah paham. Keduanya saling mengeluarkan kata-kata pedas, adu kekuatan, tidak ada yang mau mengalah. Sasuke menyadari kondisi kedua sahabat di fic itu seperti dirinya dan Sai, sampai pertanyaan salah seorang sahabat memenuhi kepala Sasuke...

'Kita menjadi sahabat setelah melewati lima tahun, sementara sekarang kita menjadi musuh hanya dalam waktu seminggu!'

'Butuh berapa tahun lagi supaya kita kembali menjadi sahabat?'

"Jangan sembarangan membuka dokumen orang lain, Sasuke..." suara pelan itu membuyarkan lamunan Sasuke. Uchiha bungsu itu menoleh dan menatap gadis Haruno yang sedang terbatuk-batuk itu. Dia menatap dalam diam saat gadis itu menatapnya jengkel.

Sasuke berkedut kecil, "Maaf." Dengan senyum penuh arti Sasuke mematikan laptop dan menutupnya, "Aku membaca salah satu ficmu, tentang dua orang sahabat..." Sasuke membuka pembicaraan, dia melirik bola mata hijau emerald milik gadis di sampingnya yang sedang membetulkan posisi duduk, "kapan kau akan menyelesaikan fic itu?"

Sakura menghela napas, "Entahlah," setelah mendapatkan posisi yang nyaman, gadis bernama seperti bunga itu menyandarkan tubuhnya pada penyangga kasur di belakangnya, "fic itu sudah sangat lama kubuat dan... entah kenapa idenya hilang di tengah-tengah." Jawab Sakura dengan lugu. Dia bisa tersenyum lepas sekarang membuat pria di depannya tersenyum lega.

"Aku ingin membaca kelanjutannya..." Sakura menatap Sasuke bingung, "aku penasaran dengan akhir dari dua sahabat itu." Lanjut Sasuke lagi. Sakura tersenyum dan mengangguk. Tapi senyumannya hilang seketika begitu melihat memar biru di samping bibir laki-laki tersebut.

"Kau kenapa?" Sasuke memutar kepalanya, menatap Sakura dengan pandangan bertanya, "Memar di wajahmu itu!" Sakura melanjutkan ucapannya dan bergerak dari tempatnya duduk.

Sasuke mengernyit. Tidak mungkin dia bilang ini adalah perbuatan Sai. Selain tidak mau membuat Sai terlibat masalah, luka ini juga karena kesalahannya sendiri. Sakura kini duduk di samping Sasuke yang berada di tepi tempat tidur, dia membuka loker di bawah meja kayunya dan mengambil beberapa macam obat-obatan, "Sini!" dengan paksaan, Sakura memegang wajah Sasuke agar menghadap ke arahnya. Seandainya Sasuke tidak bisa mengendalikan wajahnya, mungkin semburat merah sudah terlihat di pipi kanan kirinya.

Sakura mengambil air panas di samping kamarnya. Sasuke hanya diam mengamati saat gadis itu mulai menyentuh luka-lukanya dengan kapas. Rasa sakit serasa hilang begitu saja ketika melihat wajahnya sedekat ini. Onyx Sasuke seakan tidak mau berkedip melihat wajah Sakura di depannya. Tidak peduli tentang ego semata, tidak peduli dia adalah milik sahabatnya, Sasuke menggenggam tangan gadis itu. Sakura tersentak kaget, wajahnya memerah seketika. Apalagi saat Sasuke mendekatkan wajahnhya, rasanya dunia berhenti saat itu juga. Sakura menggeleng cepat, tangannya menahan dada Sasuke untuk mendekat.

Sasuke tidak bereaksi. Dia tidak akan menanyakan alasannya karena dia sudah tahu dan tidak mau mendengarnya. Sasuke memundurkan tubuhnya dan menatap lurus ke depan—tidak menatap gadis itu lagi. Dia hanya diam saat gadis itu berbicara, "Kau tahu aku sudah milik Sai kan?" rahang Sasuke mengeras mendengar itu. Dia berusaha mengacuhkan apa yang diucapkan gadis itu.

Tapi niat itu lenyap seketika saat Sasuke mendengar suara isakan. Pemuda berambut raven itu menoleh dan menatap gadis yang tengah mati-matian menahan air matanya untuk tidak keluar, "Tolong, tahan aku..." Sakura menutup kedua matanya, menggigit bibir bawahnya agar tidak menangis—kelihatan lemah di depan laki-laki ini, "...jangan biarkan aku merasakan ini. Ini tidak boleh..."

"Eh?" Sasuke semakin bingung. Apa maksudnya? Merasakan apa? Apa tadi dia menyakitinya?

"Aku sudah milik Sai." Sakura menundukkan kepalanya semakin dalam, "Jangan buat aku bingung..." kata-kata ambigu yang terus Sakura keluarkan membuat Sasuke terus bimbang. Ada apa ini? "Aku tidak mau menyakiti siapapun, tolong... tahan aku..." tetes demi tetes air mata jatuh di atas lantai rumah ini.

Sasuke hanya bisa terpaku melihatnya, entah kenapa perasaannya mengatakan untuk membiarkan gadis itu terus berucap, "Sai... dia sudah sangat baik padaku. Aku tidak mau menyakitinya..." dan Sasuke hanya terdiam mendengar ucapan itu, "Sasuke, beri tahu aku..."

Bola mata onyx itu menegang dan tetap menatap Sakura tajam. Kini gadis itu sudah mengangkat kepalanya, air mata terus mengalir di pipinya, "Apakah aku salah... jika aku menyukaimu?"

Dan bibir Uchiha bungsu itu terasa membeku.

.

.

Sai mendengus kesal. Apa-apaan ini? Sudah hampir satu jam lamanya dia menunggu di depan gerbang sekolah untuk menyambut anak pertukaran pelajar dari Kiri dan dia belum juga datang. Ingin protes, tapi pasti para guru itu akan memberinya sejuta alasan agar dia tetap di sini. Menghela napas, Sai akhirnya memilih untuk menyandarkan punggungnya pada tembok di belakangnya. Menatap langit cerah hari ini.

Beberapa meter dari situ, tepatnya di balik tembok. Berdiri seorang gadis berambut pirang. Bola mata aquamarine yang indah itu terlihat sedih. Entah sampai kapan dia akan terus seperti ini, menatap dari jauh. Padahal dia adalah salah satu gadis tercantik dan terpopuler di sekolah ini, tapi untuk mendekati laki-laki yang sama populer dengannya saja rasanya susah sekali. Yamanaka Ino merutuk kesal pada sifat pengecutnya ini.

"Yamanaka Ino?" mendengar seseorang memanggil namanya, membuat Ino menolehkan kepalanya dan menatap guru yang tadi memanggilnya. "Kebetulan sekali, aku ingin kau melakukan sesuatu."

Kembali pada Sai, laki-laki itu terlihat semakin kesal. Berkali-kali dia melihat jam tangannya. Keterlaluan sekali pelajar dari Kiri itu, membuatnya berdiri menunggu selama hampir satu setengah jam. Ingin rasanya dia menghancurkan sesuatu di depannya, "S-Sai?" mendengar namanya dipanggil, Sai menoleh. Sebelah alisnya terangkat menatap gadis di sampingnya. Senyum di wajahnya keluar.

"Ya, ada apa Ino?" tanya Sai dengan senyumnya. Ino langsung salah tingkah, dia melihat ke sana kemari berusaha menyembunyikan wajahnya yang memerah.

"Etto... aku mendapat tugas untuk menemanimu menemui pelajar dari Kiri." Jawabnya canggung seraya menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Sai ber'oh' ria dan menggangguk membuat Ino tersenyum sumringah.

Sai membuka pembicaraan, "Syukurlah, aku bosan sekali sebab dari tadi aku menunggu sendirian di sini." Ino tersenyum. Biasanya Ino pasti akan lebih banyak bicara pada siapapun. Tapi kali ini tidak, dia ingin lebih meneliti setiap detail wajah laki-laki yang disukainya, "Kalau saja Sakura ada, dia pasti akan menemaniku tanpa perlu diminta."

Senyum di wajah Ino pudar. Ah, benar juga Haruno Sakura. Dalam segi kecantikan, menarik, Ino masih berada di atasnya. Tapi gadis berambut pirang itu sadar benar, bahwa itu semua tidak ada hubungannya dalam merebut hati Sai. Ino juga sadar, bahwa laki-laki pelukis itu tidak pernah melihat ke arahnya. Dalam bidang apapun, semua orang tahu Ino berada di peringkat atas dari Sakura. Tapi dalam hati Sai... ah, Ino tidak berani menyimpulkan sejauh mana dia di bawah gadis miskin itu.

Ino tersenyum kecut, "Iya, kau benar..."

Sai tersenyum lagi, dia sama sekali tidak menyadari perubahan nada bicara Ino. Dan mungkin dia akan kembali bercerita tentang Sakura apabila sebuah mobil tidak masuk ke dalam perkarangan sekolah mereka. Sai mendengus, "Sepertinya itu dia..." jelas sekali terdengar nada kekesalan di sana. Ino mengangguk saja. Mereka berdua berdiri tegak. Menunggu seseorang keluar dari mobil kemudi.

Dan turunlah anak pertukaran pelajar itu. Rambut panjang coklat laki-laki itu sedikit terkibar angin, bola mata lavendernya menatap tajam, wajahnya kelihatan tenang dan tidak peduli dengan sekitar. Sai mengernyit tidak suka, entah kenapa pandangan tajam lavender laki-laki itu mengingatkannya pada seseorang yang tidak ingin dia temui lagi dalam hidupnya. Pria berambut panjang itu berdiri dengan didampingi dua pria besar yang sepertinya adalah gurunya. Sementara satu pria lagi adalah guru dari Konoha High School itu sendiri. Hatake Kakashi.

"Maaf kami terlambat, ada macet di dekat bandara tadi." Kakashi terlihat tersenyum dari balik maskernya tapi tidak dihiraukan oleh Sai yang masih menatap sang murid dari Kiri dengan pandangan menilai. "Mungkin ada baiknya kau memperkenalkan diri." Ucap Kakashi pada murid di sebelahnya.

Pemuda berambut panjang itu mengangguk. Dia menatap bola mata onyx Sai tanpa rasa takut ataupun segan, "Hyuuga Neji." Ucap murid itu singkat. Sai mendelik kesal. Entah kenapa dari pertemuan pertama ini, Sai sudah menyimpulkan...

...dia tidak akan menyukai keberadaan murid pertukaran itu.

.

.

.

.

Sasuke masih diam dari tadi. Dia tidak tahu harus menjawab apa atas pertanyaan itu. Sasuke tidak bisa membohongi perasaannya. Tentu dia sangat senang dengan perasaan Sakura tersebut. Tapi... entah kenapa ada perasaan lain yang menuntutnya untuk tidak tersenyum bahagia. Ada masalah yang lebih besar menunggunya di depan sana. Uchiha bungsu itu menghela napas sekencang yang ia bisa. Dia menoleh menatap Sakura yang juga mulai kembali menatapnya.

"Pertanyaanmu itu bukan untukku, tapi untuk dirimu sendiri." Sasuke menyimpulkan apa yang ada di pikirannya, perasaan egois itu muncul kembali. Sakura terdiam, "Apa kau merasa salah dengan perasaanmu? Di antara siapa kau merasa lebih nyaman?" Sasuke terus memberinya pertanyaan-pertanyaan yang entah kenapa terlihat menekannya. Tubuh Sakura mulai bergetar seolah takut, "Ada kalanya kau harus egois tanpa perlu memikirkan perasaan orang lain."

"Ti-Tidak! Aku tidak mau!" Sakura menjawab cepat, "Walau hanya itu satu-satunya cara, aku tidak akan melakukannya..." Sasuke menatap dingin gadis di depannya, "bukankah jauh lebih menyedihkan jika kita tertawa di atas penderitaan orang lain?"

Mendengar pertanyaan itu, Sasuke tersentak. Dia tidak pernah memikirkan itu sebelumnya. Sementara Sakura sudah berpikir sejauh itu. Sasuke merasa malu pada dirinya sendiri. Tapi, "Bukankah sama saja?" Sakura tertegun, "Kau ingin bilang, kalau kau bersamaku maka itu akan membuat Sai menderita, dan kau tidak mau itu terjadi, iya kan?" kini Sasuke memegang bahu gadis itu dengan erat, "Lalu bagaimana denganku? Jika kau memilih Sai, aku juga akan menderita! Apa kau juga akan membiarkannya?"

Sakura menelan ludahnya. Dia menggelengkan kepalanya, air mata kembali mengalir di pipinya, "Menangis pun tidak ada gunanya!" Sasuke masih menahan dirinya untuk tidak membentak lebih dari ini. Tapi tetap saja menyakiti gadis itu, "Pada akhirnya pasti ada yang tersakiti! Kalau kau berpikir tidak ingin menyakiti siapapun, KAU TERLALU NAIF!" tangisan Sakura semakin kencang. Semua serasa tumpah begitu saja, ingin mengeluarkan semua dari dalam hatinya. Sasuke sendiri terlihat mengatur napasnya seraya menahan amarah yang terus meledak-ledak di dalam hatinya.

Sasuke menggigit bibir bawahnya, dia kembali mendudukkan dirinya dan menatap kosong. Sedikit perasaan salah terbesit di dadanya setelah menyadari baru saja dia membentak gadis yang disayanginya. "Aku mengerti..." ucapan gadis itu membuat Sasuke menolehkan kepalanya. Terlihat Sakura tengah menyeka air matanya sampai kering, "...maaf. Aku akan berpikir kembali." Dia menarik napasnya hingga kini dia bisa tersenyum, sangat tipis.

"Aku... ingin menjadi dokter suatu hari nanti." Sasuke menatap gadis itu dalam pandangan yang tidak bisa diartikan, "...dengan polosnya, aku selalu berharap dengan menjadi dokter aku akan menyembuhkan semua orang dari rasa sakit. Tapi—"

"Kau mempunyai niat yang baik," Sakura menoleh saat Sasuke memotong ucapannya, "tapi rasa sakit orang itu berbeda-beda," Uchiha bungsu itu memejamkan matanya, "ada rasa sakit yang tidak bisa disembuhkan oleh dokter sekalipun. Hanya orang yang merasakan rasa sakit itulah yang bisa menyembuhkan dirinya sendiri..." Sasuke kembali membuka matanya dan kini onyx juga hijau emerald saling bertatapan.

Sakura memalingkan kepalanya, tidak ingin menatap onyx itu lama-lama, "Tidak apa-apa." Sasuke kembali berbicara tapi Sakura tidak kembali menatapnya, "Kalau memang aku yang harus merasakan rasa sakit itu, aku akan belajar menyembuhkannya sendiri." Seusai Sasuke mengucapkannya, pria berambut raven itu langsung berdiri dan mengambil tas ranselnya, "Aku pulang sekarang, cepat sembuh." Dan tanpa mau memandang gadis di belakangnya, Sasuke berjalan keluar.

"Apa kau melarikan diri, Sasuke?" pertanyaan Sakura membuat Sasuke menghentikan langkahnya, "Naruto pernah bilang padaku, kau tipe yang akan mendapatkan yang kau inginkan dengan cara apapun..." keheningan kembali mendatangi mereka, "Tapi kau tidak melakukannya. Dan... bagaimana... bagaimana seandainya kalau aku memilihmu, Sasuke?"

"Kali ini beda." Sasuke memutar tubuhnya menghadap Sakura. Gadis itu sedikit tersentak kaget, "Kali ini aku tidak mau dan tidak bisa memakai cara pemaksaan ataupun cara licik yang biasa kugunakan untuk mendapatkan apa yang kumau." Sakura ikut berdiri, menatap Sasuke penuh tanya, "Alasan pertama, karena aku tidak mau memaksamu. Aku ingin kau menyayangiku tulus dari dasar hatimu. Dan aku memang akan melakukan apapun supaya itu terjadi, bahkan menghabisi lawanku pun akan kulakukan. Tapi... aku tidak bisa..." Sakura mengangkat sebelah alisnya tidak mengerti.

"Karena alasan kedua..."

"Lawanku adalah sahabatku."

.

.

To Be Continued

.

.

Special thanks for :

Valkyria Sapphire, LuthRhythm, Vany Rama-kun, Kurosaki Naruto-nichan, ame chocho Shawol, bintang, Kagami Hikari, resiwon407, Kazuma B'tomat, Papau, tharo muri chan, Ryosuke Michi626, Hanaxyneziel, Kurousa Hime, Ka Hime Shiseiten, VVVV(2x), Chousamori Aozora, Micon, Rin Akari Dai Ichi, Rievectha Herbst, Nawa Maito, 4ntk4-ch4n, Sagaarayuki, Ria Kishimoto(2x), Haruchi Nigiyama, Yume Hyuuna, rizkarina, KuMa LasLogin, Ritsuki Taka, Reborn, Frozenoqua, Hana-d'ichi, Nita UzuHaruChi, agnes BigBang, Hoshi Yamashita, Rurippe no Kimi, rizukauchiha29, Nanairo Zoacha, haruno gemini-chan, Draks Saku-chan, CacaChanUchiha, Nia Fujisaki, Sakura Haruno 1995, Dhevitry 'The Tomato Knight, Amel Mele, 7color, bebCWIB uchiHAruno, Cin19, Mei Lin SasuSaku, Maria Ai, lorist angela, Nunu uchiha, RestuAuliaChii(2x), valentina14, sherry masumi, delasachi luphL, Risha Ichigo, Soraka Menashi, putri premeswari, Hikaru Haruno, Kazuki Namikaze, Fiyui-chan, Saki-chan, 41 maylan

Dan untuk yang lain jika namanya tidak kesebut, terima kasih :)

Yo, lama tidak bertemu di fic ini minna-san =w= /slap

Sebelumnya maaf kalau ada kesalahan kata dan misstypo juga lainnya, karena buru-buru akhir-akhir ini saya jarang ngoreksi ulang orz Fic kemarin juga yang 'Confession' bikin stress karena ternyata BANYAK SEKALI TYPO! /headbang

Oh ya untuk semua yang ngereview di fic oneshot, terima kasih banyak yaaa maaf jarang bales tapi saya selalu baca review kalian kok xD Ngg, mungkin ini bocoran gak penting tapi sebenarnya di sini Neji tidak akan masuk sebagai saingan Sasuke dan Sai. Jadi, konfliknya tetap SasuSakuSai~ tapi Neji juga lumayan banyak perannya hohohoho baca yaa :D Kalau dipikir-pikir dua puluh chapter kayaknya gak mungkin =w= paling banyak lima belas chapter aja deh hehehe tapi itu juga kalau konfliknya bisa selesai di chapter segitu /dor

Untuk yang minta alamat Fbku, search aja Kuroi Kira Desuke pasti ketemu kok dengan saya~ /pede /diinjek Tapi berhubung saya jarang banget ke Facebook lagi, jadi kalau mau ngomong sama saya lewat twitter aja ya xD kalaupun tetep pingin jadi friend di FB, send me a message to confirm you~

Oh ya, umur saya masih 15 tahun kok ._.v jadi yang merasa lebih tua (?) *diinjek* Silahkan panggil saya Kira atau Desuke saja, oh ya makasih juga yang udah ngucapin selamat ultah kemaren~ :3

Terima kasih atas concrit-concritnyaa~ jika masih ada yang salah atau kurang, jangan ragu memberi saya concrit ;)

Yosh! Review ne? :D