CHAPTER 13 : DECISION
Bukan Tuhan yang mempermainkan manusia.
Tapi manusia... yang mempermainkan diri mereka sendiri.
.
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto
Story © Kira Desuke
Warning : OOC, AU, misstypo?
Genre(s) : Romance/Hurt/Comfort/Friendship/Drama
Main Pair : SasuSakuSai
REVIEW AND ART
.
.
.
"...ne, cherryblossom?" bisik pemuda yang tampan itu tanpa ekspresi seolah dia tidak mengucapkan kata-kata yang tabu atau berbahaya bagi orang yang mendengarnya. Namun yang dirasakan gadis cantik di depannya justru sebaliknya. Dia terlihat sangat terkejut mendengar nama panggilan yang ditujukan padanya.
"Ba-Bagaimana?"
Hyuuga Neji tetap menjaga ekspresi tenangnya. Tiupan angin yang menerbangkan sedikit rambut coklatnya yang panjang tetap tidak membuat dua lavender yang indah miliknya kehilangan ketajamannya. Haruno Sakura memundurkan tubuhnya satu langkah. Entah kenapa degup jantung gadis itu berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya.
"Karena aku sudah tidak sopan membuka privasimu, maka aku juga akan mengaku..." Neji menundukkan kepala dan memejamkan matanya, "aku adalah salah satu dari sekian banyak pembaca fic milikmu, Dark Lavender—" belum sempat Sakura terkejut lagi, Neji kembali melanjutkan, "—mungkin kau tidak mengenalku, jadi anggap saja pernyataanku tadi tidak ada."
Sakura menggeleng cepat, "Te-Tentu saja aku tahu! Dark Lavender terkenal karena concrit-nya yang selalu tepat dan tajam! Apalagi kau termasuk author senior yang kukagumi! Aku tidak menyangka kalau ternyata aku dan kau seumur, sebab kata-katamu selalu terlihat dewasa! Senang bertemu denganmu!" ucap Sakura bertubi-tubi, wajahnya terlihat lebih bersinar dan bersemangat daripada sebelumnya membuat Neji sedikit bingung. Tapi ekspresi itu cepat berubah sehingga pria yang rupawan itu menyunggingkan senyum tipis di wajahnya.
"Arigato." Balas Neji dengan senyum tipisnya yang berhasil membuat wajah Sakura memerah. Pria berambut coklat panjang itu menatap kembali gadis di depannya dari bawah ke atas lalu menatap kedua hijau emerald itu. Kedua mata yang indah. Entah kenapa sedikit demi sedikit Neji bisa mengerti alasan mengapa ada dua pria yang begitu menginginkan gadis berambut soft pink di hadapannya, "Jadi, boleh aku bertanya sekarang, emm Haruno-san?"
Gadis bermarga Haruno itu tersenyum mantap dan mengangguk, "Hai! Apa yang ingin kau tanyakan, Hyuuga-san?"
Bisa dibilang Neji sedikit merasa bersalah dia akan menanyakan hal yang kemungkinannya besar akan menyakiti hati gadis di depannya. Kedua lavender itu kembali menatap dalam sang emerald. Hanya dengan menatapnya saja Neji tahu, Sakura sendiri sangat tahu keadaan dirinya sekarang. Dan sesuai perkiraannya Sakura sendiri masih belum menemukan jawabannya. Meninggalkannya di tengah kebimbangan selamanya juga sepertinya bukan pilihan yang baik. Neji kembali memejamkan matanya, mengingat hal yang dulu sekali pernah dia alami. Laki-laki Hyuuga itu mengepalkan kedua tangannya.
Jangan sampai—
"Haruno-san," nada panggilan Neji yang sedikit aneh membuat Sakura menghilangkan senyumnya. Gadis manis itu menatap Neji dengan penasaran. Berapa kali pun Sakura menatap seorang Hyuuga Neji, pria itu tetap terlihat jauh lebih dewasa dari umurnya. Dari cara bicara, menatap, bahkan berperilaku. Perlahan tapi pasti, Sakura meyakini dirinya semakin mengagumi pria di hadapannya, "di antara Sasuke dan Sai... siapa yang kau cintai?"
—kau menjadi sepertiku.
.
.
"...Sakura lama sekali." Gumam pemuda berambut hitam kelimis itu pada dirinya sendiri seraya melihat angka pada jam yang melilit tangan kirinya. Pemuda bernama Sai itu menghela napasnya untuk ke sekian kalinya dan kali ini dia memilih untuk duduk di kursinya.
Pikiran-pikiran negatif mulai menyerang pemikiran Sai, jangan-jangan terjadi sesuatu antara kekasihnya dengan anak pertukaran pelajar itu? Tapi Sai juga merasa tidak boleh berpikir negatif tentang seseorang yang baru dia temui. Sekitar lima menit kemudian, akhirnya Sai memutuskan untuk menyusul kekasihnya itu.
Saat Sai akan memegang kenop pintu kelas, seseorang dari luar sudah membukanya terlebih dahulu. Sai mengernyitkan alisnya tak suka melihat siapa orang yang akan masuk kelas itu, "Sedang apa kau di sini?" tanya Sai dengan sinis.
Uchiha Sasuke yang ditanya hanya menatap Sai dengan ekspresi yang sulit ditebak, "...buku catatanku ketinggalan." Jawab Sasukedan tanpa menunggu balasan dari Sai, laki-laki yang dingin itu melewati sahabatnya dan berjalan menuju mejanya. Sasuke membungkukkan tubuhnya untuk mengambil buku catatan dari laci mejanya.
Laki-laki berambut hitam itu memperhatikan gerak-gerik Sasuke. Tidak ada yang aneh, dia hanya mengambil buku catatannya dan pergi begitu saja. Pemuda berambut raven itu melewati Sai tanpa menoleh sedikit pun. Sasuke keluar dari kelas dan menutup pintunya.
Walau dia seolah tidak peduli atau semacamnya, tetap saja Sasuke memikirkan keadaan ini. Sai yang belum pulang jam segini dan sendirian, dilihat dari tingkahnya sepertinya dia menunggu Sakura. Tapi kalau begitu, dimana Sakura sekarang? Keraguan menyelimuti hati Uchiha bungsu tersebut. Sasuke berkali-kali menoleh ke arah pintu kelas yang tadi dia tutup. Sai masih di dalam sana dan belum keluar. Jadi, apa yang akan dia lakukan? Kalau ingin melihat Sakura, hanya sekarang kesempatannya.
Sasuke mendecih dan langsung berlari. Ingin. Dia ingin bertemu dengan gadis yang disukainya sekali lagi hari ini. Walau dia tidak tahu dimana sekarang gadis itu. Hanya saja saat ini kakinya membawanya menuju atas gedung sekolah. Entah kenapa.
Dia hanya mengikuti kemana arah kakinya menuju.
Harusnya... tidak ada yang spesial.
.
.
.
.
.
.
Sakura menatap Neji di hadapannya. Dia sedikit tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya dari senpai yang dia hormati itu. Lama kemudian, Sakura tersenyum sedih, "Jadi, kau sudah tahu..." bisiknya pelan. Neji sedikit menundukkan wajahnya, rasa bersalah melewati hatinya.
"Maaf jika aku—"
"Ah tidak-tidak! Kau tidak perlu meminta maaf!" potong Sakura cepat seraya mengibas-ngibaskan kedua tangannya. Setelah berhenti, gadis itu kembali tersenyum kaku dan menghela napasnya, "Hanya saja... bukan cuma kau, bahkan aku sendiri masih belum tahu jawabannya."
Neji terdiam mendengar ucapan gadis di depannya. Sakura sama sekali tidak berbohong—terlihat dari nada bicara dan mimik wajahnya. Kedua bola mata lavender itu tertutup kelopak mata saat Sakura melanjutkan kembali ucapannya, "Aku harus mengakui, aku bodoh dalam hal ini. Selain tidak pernah mengalami bagaimana rasanya menyukai lawan jenis, aku pernah menyombongkan diri kalau aku tidak akan pernah merasakannya," gadis itu tertawa hambar di akhir kalimat.
"Tapi ternyata..." Sakura memandang langit biru di atasnya dan awan-awan putih yang berarak bebas di sana, "...karma memang ada."
Laki-laki bermarga Hyuuga itu sedikit tersentak mendengar kata-kata yang diucapkan Sakura. Kata-kata itu... sama persis seperti yang dia ucapkan dulu saat berada di posisi gadis yang berdiri di hadapannya. Dirinya di masa lalu yang berdiri menyedihkan di bawah derasnya hujan. Sampai-sampai air matanya berbaur dengan air-air hujan hingga sang gadis tercinta tidak bisa melihat tangis penyesalannya itu.
Ah, kenangan yang menyebalkan.
Neji menggertakkan giginya mengingat kembali memori yang paling ingin dia lupakan seumur hidupnya. Kedua bola mata lavender miliknya menatap tajam kedua hijau emerald di hadapannya. Sakura sedikit kaget melihat Neji yang biasanya tenang itu kini terlihat gusar, "Apapun yang terjadi, jangan sampai salah memilih, Haruno-san!" ucap Neji dengan sedikit membentak.
Sakura terkejut mendengar nada suara pria berambut panjang itu sedikit mengeras, "Hyuuga-san..." melihat tatapan Neji, Sakura mengerti. Laki-laki di hadapannya tak kurang dan tak lebih semata-mata hanya mengkhawatirkannya—walau Sakura sendiri tidak tahu mengapa dia mengkhawatirkan dirinya yang notabene baru bertemu dengannya hari ini. Gadis berumur tujuh belas tahun itu tersenyum kecil.
"Tapi, aku mengerti satu hal," wajahnya terlihat sedih namun di saat bersamaan dia merasa lega, "ada seseorang yang sangat kusayangi. Dan bisa dibilang, aku menyayanginya dengan tanpa alasan. Perasaan ini datang begitu saja," ucap Sakura dengan senyum yang jauh lebih lebar dari sebelumnya.
Neji tertegun, wajahnya pun menyiratkan kebingungan. Sakura tertawa kecil melihatnya. Entah kenapa dia senang, dia bahagia. Melihat wajah Neji yang begitu mengkhawatirkannya, dia kembali mengingat wajah orang-orang yang pernah memasang ekspresi seperti itu di depannya. Sakura mendekapkan kedua tangannya di depan dadanya. Seolah suatu pertanyaan besar di dalam dirinya kini telah terjawab. Sepertinya mulai sekarang gadis itu harus bisa kembali membuka jati dirinya yang sebenarnya.
"Kau benar, Sasuke..."
"Aku akan baik-baik saja, terima kasih sudah mengkhawatirkanku, Hyuuga-san," lanjut Sakura dengan ekspresi yang ceria. Menghapus ekspresi kebingungan Neji. Laki-laki berambut panjang itu juga mengerti satu hal, dia tersenyum tipis membalas Sakura yang menatapnya dengan polos.
"Aku tidak sendiri."
Berbeda dari sebelumnya, senyum yang berasal dari lubuk hatinya terdalam kini terlepas begitu saja. Jujur saja, Sakura belum pernah tersenyum seperti ini sejak masuk sekolah yang didapatkannya karena beasiswa. Apalagi sejak bertemu Sasuke. Laki-laki itu selalu membuatnya menyembunyikan senyumnya dalam-dalam tergantikan dengan rasa sakit hati melebihi apapun. Hanya saja, harus dia akui—
—laki-laki itu pula yang perlahan-lahan menarik kembali senyuman yang dia sembunyikan itu.
Walau Sai yang terlihat lebih dulu mengeluarkan senyum itu, tetap saja tidak semua dari senyum itu menampakkan dirinya. Masih ada keresahan di hatinya yang dia takutkan. Tapi itu pun perlahan-lahan sirna dengan perkataan Sasuke...
'Meski banyak orang yang memusuhimu, pasti masih ada di antara mereka semua yang menyayangimu,'
"Sakura..." dua orang insan yang berada di atap sekolah itu menoleh begitu seseorang memanggil nama sang gadis. Di sana, Sasuke berdiri dengan terengah-engah, terlihat sekali kalau dia ke sini dengan berlari. Kedua onyx miliknya menatap khawatir kepada gadis yang tengah berdiri di hadapan Neji. Sakura tersenyum menatapnya.
"Sasuke," senyuman lebar yang ditunjukkan Sakura perlahan tapi pasti memunculkan semburat merah tipis di kedua pipi Sasuke. Dengan cepat, pria itu memalingkan mukanya dan menutupnya dengan satu tangannya. Ini pertama kalinya dia melihat senyum Sakura yang begitu tulus—mengingat dia sendiri yang selalu membuat Sakura menangis. Apalagi senyuman ini ditujukan padanya.
Sasuke menarik napasnya berusaha seperti biasa. Namun detak jantungnya yang berdegup dua kali lebih cepat tidak bisa diajak kompromi dan itu membuat Sasuke semakin gugup saja, "I-Itu..." Sasuke mengutuk dirinya sendiri yang pasti terlihat bodoh di depan gadis yang disukainya. Kedua bola mata obdisiannya kali ini tidak bisa menatap langsung kedua hijau emerald di depannya. Dengan sikap tenang yang sudah seperti biasa, kini Sasuke berharap semoga Sakura tidak mendengar detak jantungnya yang semakin mengeras.
"Sai... menunggumu," di tengah kepanikan untuk mempertahankan imejnya, kata-kata yang keluar dari bibir tipis dan dinginnya malah kata-kata itu. Sepertinya Sasuke sendiri harus belajar melatih kata-katanya kalau mau menarik Sakura ke dalam pelukannya. Sakura tidak begitu memperhatikan perubahan pemuda di depannya, dia membalas dengan anggukan lalu berjalan mendekati Sasuke.
Sebelum pergi, Sakura menyempatkan diri untuk melambaikan tangan pada Neji, "Kalau begitu, aku duluan Hyuuga-san..." tanpa menunggu balasan dari anak pertukaran pelajar itu, Sakura langsung membalikkan badan.
"Kalau kau memang mau bahagia, putuskan dari sekarang," Sakura menghentikan langkahnya tanpa menghadap Neji kembali, "kau pasti tahu dengan baik kan? Semuanya ada di tanganmu sekarang, kebahagiaan Sasuke dan Sai tergantung denganmu. Aku bicara begini, karena aku mempercayaimu," lanjut Neji lagi dengan tenang namun terdengar tegas juga.
Mengabaikan kenyataan bahwa ada Sasuke di tempat ini yang juga mendengarkan, Neji tersenyum tipis, "Ada hal yang harus kau ingat lagi, Haruno -san," Neji sendiri berjalan menuju pintu masuk sekolah. Dan dia melewati Sakura juga Sasuke yang masing-masing masih terpaku di tempatnya.
"Pada dasarnya, manusia menyadari perasaan mereka yang sebenarnya saat orang yang disayangi meninggalkan mereka."
.
#
.
Sai melirik kekasihnya untuk yang ke sekian kalinya dalam perjalanan pulang ini. Setelah turun dari atap sekolah tanpa siapapun yang menemaninya, Sakura jadi lebih pendiam dari sebelumnya. Sai menatap khawatir. Padahal dia sudah bertanya berkali-kali, tapi Sakura hanya menjawab seadanya saja dan bilang padanya agar jangan khawatir.
"Sakura..." panggilan Sai yang terdengar ragu membuyarkan lamunan Sakura. Gadis bermahkota soft pink tersebut menoleh dan menatap kekasihnya. Sai terlihat berpikir sesaat sebelum akhirnya dia kembali melanjutkan ucapannya, "Tadi... apa saja yang kau bicarakan dengan Hyuuga-san?"
Sakura terlihat menyadari sesuatu. Dia menatap kedua bola mata hitam milik Sai. Kedua bola mata hijau emerald itu kembali bergerak dan melirik sudut kiri ujung matanya seolah berpikir. Tak butuh waktu lama hingga ekspresi kebingungan gadis manis itu berubah menjadi ekspresi kesedihan.
Sai pun sama. Dia bingung harus memasang ekspresi seperti apa sekarang. Tingkah Sakura yang biasanya bisa dia tebak dengan mudah kini seolah berubah drastis dan dia tidak bisa menerka apa yang tengah terjadi. Sebenarnya, apa yang Neji katakan pada kekasihnya itu? Namun sekali lagi, ego laki-laki itu lebih memilih untuk jangan berpikir negatif tentang anak pertukaran pelajar yang baru datang hari ini.
"Aku... ingin mengucapkan terima kasih... padamu... Sai—" Seolah mengabaikan pertanyaan Sai sebelumnya, Sakura mengangkat wajahnya dan tersenyum. Tapi bagi Sai, senyum itu terasa aneh dan terkesan... memaksa, "—dan juga Sasuke."
Seketika itu, rahang Sai langsung mengeras.
Sebelum Sakura sempat melanjutkan kembali ucapannya, Sai langsung memotong, "Untuk apa berterima kasih dengan laki-laki itu?"
Menyadari nada suara Sai yang terdengar mengeras, membuat Sakura menghilangkan senyumnya. Entah kenapa dia merasa tegang menghadapi kekasih di depannya, "Eh... waktu kau telat datang di saat aku sakit, dia menjagaku. Jadi... bukankah sudah seharusnya aku mengucapkan terima kasih?" tanya Sakura balik. Mencoba memberi jawaban sesuai dengan kenyataan yang ada.
"Tidak perlu!" bentak Sai membuat Sakura tersentak dan reflek memundurkan tubuhnya satu langkah, "Laki-laki itu yang membuatmu tersiksa di sekolah ini! Apa kau lupa, Sakura? BUKA MATAMU! Laki-laki seperti dia tidak pantas mendapat terima kasih dari perempuan yang telah dia siksa!" lanjut Sai lagi dengan setengah berteriak. Kedua bola mata hitam miliknya menatap tajam Sakura.
"Tapi Sai, tetap saja aku harus berterima kasih! Kalau bukan tanpa dia mungkin aku—"
"Aku bilang tidak ya TIDAK!" napas Sakura tertahan seiring dengan teriakan Sai di depan wajahnya. Gadis bermarga Haruno itu menatap Sai tidak percaya. Mencoba untuk bertahan, Sakura memejamkan matanya sesaat dan balas menatap pemuda berambut hitam di depannya tak kalah tajamnya.
"Walau kau adalah kekasihku, aku tidak berniat membiarkan hidupku diatur ketat olehmu, Sai!" Sakura balas berteriak membuat Sai tak ragu lagi untuk menunjukkan ekspresi kemarahannya. Mengibaskan tangannya tepat di depan laki-laki pertama yang menjadi kekasihnya, Sakura melanjutkan semua kata-kata yang selama ini tercekat di tenggorokannya, "Kuakui Sasuke dulu memang menyebalkan. Aku berani bersumpah bahwa dulu aku sangat membencinya! Tapi itu bukan berarti aku tidak bisa memaafkannya jika dia mau berubah!" teriaknya.
Sakura menggertakkan giginya. Dia menundukkan kepalanya pelan. Dadanya naik turun mencoba memompa jantungnya teratur kembali setelah dia mengeluarkan kata-kata yang cukup menguras oksigennya, "Aku juga ingin bertanya, Sai..." bibir tipisnya bergetar. Kedua bola emerald miliknya enggan menatap wajah kekasihnya seperti sebelumnya, "Kau berubah. Ada apa denganmu? Kau yang kukenal selalu bersikap ramah pada orang lain, selalu tersenyum, auramu selalu terasa hangat. Aku sangat menyukai dirimu yang seperti itu. Tapi sekarang—"
Dengusan Sai yang seolah menahan tawa menghentikan ucapan Sakura. Gadis itu menatap Sai sedih sementara pemuda berambut hitam kelimis itu menyeringai di depan sang kekasih, "Jadi, menurutmu aku berubah?" kedua tangan Sai yang mengepal kini terlihat bergetar, "Kau tidak akan pernah berpikir kalau aku berubah jika kau tidak pernah memikirkan Sasuke!"
"Sasuke tidak ada hubungannya! Kau memang—"
"BAGUS! SEKARANG KAU MEMBELANYA!" teriakan Sai yang menggema di sepanjang jalan yang sepi ini membuat Sakura terkesiap dan menahan ucapannya lagi. Melihat tatapan Sai yang belum pernah dia lihat sebelumnya entah kenapa membuat getaran di tubuhnya semakin kencang. Haruskah dia menyadarkan dirinya bahwa kini dia tengah ketakutan karena kekasihnya sendiri?
"Matamu sudah dibutakan oleh laki-laki sialan itu! Harusnya kau tahu kalau yang bisa dia lakukan hanyalah menyakitimu! Apa yang dia lakukan hingga membuatmu menjadi semenyedihkan ini, Sakura?" tanya Sai dengan nada yang meremehkan.
Sakura merasakan air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Lagi, gadis itu kembali menggelengkan kepalanya seraya menghapus air mata itu sebelum Sai sempat melihatnya, "Kau salah, Sai... Sasuke tidak melakukan apapun," Sai mengerutkan alisnya tak suka mendengar nada bicara Sakura yang lagi-lagi seolah membela mantan sahabatnya itu, "aku merasakannya. Sasuke sebenarnya baik, sama seperti kau! Menurutku, dia hanya tidak bisa menunjukkan kebaikannya. Lagipula, bukankah kau pernah bilang kalau kau sangat mengenal Sasuke bahkan lebih dari siapapun? Harusnya kau juga tahu itu!" tegas Sakura.
Sai mendecih dan membuang wajahnya. Sungguh, dia benci ini. Pemuda itu sangat membenci keadaan dimana seseorang yang paling dia sayangi di dunia ini kini tengah membela mati-matian orang yang paling dia benci. Sangat bertolak belakang. Cucu dari pelukis terkenal di Konoha itu pun terdiam sampai akhirnya dia tersentak seolah menyadari sesuatu. Dia menatap Sakura di depannya dan tersenyum mengejek.
"Ah ya, benar juga... Pantas saja kau membelanya mati-matian, bagaimana aku bisa lupa," gumaman Sai membuat Sakura menaikkan kedua alisnya bingung. Sai memang menatapnya, tapi entah kenapa Sakura merasa tatapan Sai tidak benar-benar ditujukan padanya. Tatapan itu cenderung lebih terlihat menerawang, "Tentu saja! Karena Sasuke adalah Aoi-san yang kau puja-puja itu kan, HAH?"
Mendengar nama yang masih membekas di hatinya, membuat Sakura lagi-lagi tersentak. Dia menggelengkan kepalanya cepat, "Tidak! Ini tidak ada hubungannya dengan Aoi-san!" balas Sakura dengan nada hampir membentak.
"OMONG KOSONG!" Sai membalas tatapan kekasihnya dengan sinis, "Apalagi kalau bukan karena pengecut bermulut manis itu! Iya kan? Sebab aku yakin sebaik apapun kau, tidak mungkin kau bisa memaafkan Sasuke semudah itu!" tanpa mencoba mendengarkan penjelasan Sakura, Sai terus mengeluarkan apa yang ada di pikirannya. Tidak peduli jika saat ini dia terlihat egois, menyebalkan, atau semacamnya. Menurutnya, dia hanya mengatakan sesuai dengan kenyataan.
Sakura menutup matanya erat dan menutup kedua telinganya dengan tangannya. Dia terus menggeleng. Kata-kata Sai seolah mencabik-cabik dadanya, "Itu tidak benar Sai, kumohon percayalah..." air mata yang sedari tadi tertahan kini mulai mengalir.
Begitukah, Sai?
Jadi seperti itukah dirinya di matamu sekarang?
"Aku juga tadinya tidak ingin percaya..." melihat Sakura yang terus menundukkan wajahnya membuat Sai semakin kesal—entah kenapa. Laki-laki itu mulai menggertakkan giginya, "tapi aku juga tidak bodoh. Selama kita bersama, kau pikir aku tidak tahu? Kau pikir, aku tidak melihat senyummu yang jauh lebih tulus ketika membaca kata-kata dari pengecut itu ketimbang senyummu ketika bersamaku? KAU PIKIR AKU TIDAK TAHU?" dan tanpa bisa menahan emosinya yang semakin memuncak. Akhirnya Sai kembali membentak Sakura tepat di depan wajahnya.
Sakura terus menggeleng dan kini kedua tangannya yang tadi menutup telinganya mulai bergerak mencengkram rambut soft pink miliknya. Kenapa jadi begini? Kenapa dia seolah menjadi satu-satunya yang salah di sini? Sakura tidak menginginkan ini. Tidak adil. Kalau memang hanya dia yang salah, mungkin dia bisa menerima perlakuan ini. Dan lagi, Sakura hanya ingin mengucapkan terima kasih, namun kenapa Sai sampai semarah ini?
"Kalau sudah begini, aku jadi ingin tahu," Sakura mencoba mengangkat wajahnya. Gadis itu bisa menangkap perubahan ekspresi Sai meskipun hanya sedikit saat pelukis itu melihat air mata yang mengalir di pipinya. Sakura menggigit bibir bawahnya, kembali menahan rasa sakit, "seandainya Aoi-san bukan Sasuke, apa kau juga akan seperti ini? Membelanya mati-matian meskipun kau tidak tahu seperti apa orang itu sebenarnya? Benar kan? Siapapun tidak masalah, asal dia Aoi-san kan?"
PLAK
Tangan Sakura seolah bergerak sendiri saat gadis itu menampar pipi Sai begitu keras. Sai sendiri juga terlihat kaget dan seperti tersadar dari dirinya yang sempat lepas kendali. Gadis berambut soft pink itu terengah, dia mengangkat wajahnya lagi untuk menatap Sai dengan tatapan penuh kekecewaan. Pemuda bermata onyx itu mundur selangkah seraya memegang pipinya yang mulai memerah. Melihat air mata Sakura yang mengalir begitu deras membuat Sai sepenuhnya tertarik kembali ke dalam alam sadarnya.
Apa yang baru saja dia katakan?
Napas Sakura mulai teratur kembali walau sesekali isakannya masih terdengar. Setelah menampar Sai, tangannya bergetar. Bukan hanya rasa sakit di tangannya, tapi rasa sakit di hatinya menganga semakin lebar, "Kalau memang aku terlihat seperti itu di matamu, aku minta maaf," gadis yang selalu memaksakan dirinya untuk kuat itu tidak bisa menghentikan tangisnya. Isakannya pun mulai terdengar semakin keras, "walau begitu, aku tetap tidak ingin kau terus melihatku seperti itu. Harus kuakui... aku memang menyayangi Aoi-san—tidak, bukan hanya dia. Aku menyayangi semua reviewer dan reader di kotak review milikku." Lanjut Sakura.
"Aku tidak peduli jika Sasuke adalah Aoi-san atau bukan..." Sakura tersenyum tipis di tengah isakannya. Perasaan hangat menyelimutinya. Seperti waktu itu, saat Neji menanyainya di atas atap sekolah.
"Aku membela Sasuke... karena dia adalah Sasuke..."
Sai terpaku mendengar pernyataan Sakura. Laki-laki itu bisa saja kembali mengelaknya, namun bibirnya terasa kelu. Ada rasa sakit yang menyelip di hatinya saat Sakura mengucapkan itu. Sangat sakit. Kedua insan itu kembali terdiam sampai akhirnya Sakura kembali menunduk, "Sampai jumpa besok... Sai..." tanpa menunggu balasan dari kekasihnya, Sakura segera berlari meninggalkan laki-laki itu. Meskipun berlari cepat, Sakura tetap tidak bisa menyembunyikan air matanya yang jatuh saat Sai meliriknya.
Padahal... Sasuke tidak ada di sini...
Tapi kenapa... Sang pelukis itu merasa kehilangan?
.
.
.
.
"Uhuk uhuk," Uchiha bungsu itu sekali lagi terbatuk di belakang kakaknya yang sedang memilih telur untuk dibeli. Sasuke menghela napasnya. Berkali-kali dia memegang kepalanya yang terasa pusing setelah pulang sekolah. Sasuke memijat dahinya pelan, tubuhnya terasa meriang.
Sang kakak yang selesai memilih telur menoleh ke belakangnya, "Kau sakit, Sasuke?" tanyanya tidak benar-benar memperhatikan keadaan adiknya. Karena sebelum Sasuke menjawab, Itachi sudah kembali berjalan ke counter berikutnya untuk mencari bahan-bahan makanan yang dipesan ibunya.
Sasuke mengangguk pelan, tidak peduli jika Itachi tidak melihatnya, "Sepertinya," jawabnya enggan.
"Hm, tumben," balas Itachi dengan nada menggoda membuat Sasuke mendengus kesal. Kebiasaan kakaknya yang suka mengerjainya ini sepertinya mulai kambuh lagi. Itachi mengambil beberapa bahan dan memasukkannya ke dalam keranjang sehingga kedua saudara ini sekarang menuju kasir terdekat, "setahuku kau jarang sakit. Apa kau kurang tidur? Atau ketularan teman?" tanya Itachi lagi dengan asal tanpa melihat adiknya yang memutar kedua bola matanya dengan bosan.
Bisa saja Sasuke menjawab 'ketularan teman' tapi tetap saja, sepertinya Uchiha bungsu itu tidak mau menggunakan kata teman. Seandainya saja, dia bisa menjawab pertanyaan Itachi itu dengan kata-kata 'ketularan kekasih' atau kurang lebih seperti itu, pasti menyenangkan.
Sasuke memilih tidak menjawab pertanyaan Itachi. Sementara kakaknya itu masih mengantri di kasir, Sasuke pun berjalan keluar supermarket setelah sebelumnya memberi tahu kakak satu-satunya itu. Tadinya Sasuke ingin segera masuk ke dalam mobilnya dan tidur barang sebentar saja, tapi niat itu tertahan begitu melihat hujan turun lagi dengan deras. Memang, sekarang sedang musim hujan. Sasuke menghela napas kesal, akhirnya dia menyandarkan dirinya pada tembok di belakangnya.
Pemuda yang suka membaca cerita itu mengangkat tangannya dan menyentuh dahinya. Panas. Sepertinya dia akan demam setelah ini. Sekali lagi, Sasuke menghela napas. Semoga saja sakit ini tidak begitu parah jadi dia masih bisa masuk sekolah besok. Harus Sasuke akui, dia tidak mau melewatkan satu hari tanpa bertemu gadis yang paling disukainya itu. Lihat saja, baru berpisah dengan gadis bernama Haruno Sakura itu beberapa jam rasanya sudah ingin bertemu lagi.
Cinta memang gila.
Sasuke menghembuskan napasnya ke langit-langit. Saking dinginnya, laki-laki itu bisa melihat napasnya sendiri mengepul di atasnya. Sasuke terus mengamati itu sampai kedua bola mata onyx miliknya menangkap sosok yang sangat dia kenali dari kejauhan. Laki-laki itu tersentak dan segera menegakkan tubuhnya. Hei, bagaimana mungkin kau tidak kaget jika melihat orang yang kau sayangi kini tengah kehujanan di depan sana tanpa pelindung apapun? Apalagi, dia baru saja sembuh dari sakitnya.
Laki-laki berumur tujuh belas tahun itu mendecih dan segera berlari ke tengah hujan menuju mobilnya. Mengambil payung dari sana kemudian berlari menuju gadis yang sepertinya masih belum sadar akan keberadaannya. Sasuke segera membuka payung itu dan meletakkannya di atas kepala Sakura yang masih terdiam. Menyadari tidak ada lagi hujan yang menyiramnya, gadis yang sudah sepenuhnya kebasahan itu menoleh untuk melihat siapa yang telah melindunginya dari salah satu proses alam tersebut.
"Sasu...ke..." bisik Sakura melihat Sasuke berdiri di depannya dengan tatapan khawatir. Aneh, padahal biasanya Sasuke menatapnya dengan dingin. Dia selalu bisa menyembunyikan emosinya sekecil apapun. Tapi sekarang, selain terlihat khawatir, dia juga terlihat marah.
Sasuke menggeram, "Bodoh! Apa yang kau lakukan di tengah hujan begini?" bentak laki-laki berambut raven itu. Sakura hanya diam menatap kedua bola mata di depannya tanpa berniat menjawab, "Kau ini baru saja sembuh! Jangan sok kuat!" bentak Sasuke lagi, kali ini lebih keras seolah melawan hujan yang juga semakin deras.
Sakura masih diam tanpa menjawab. Sasuke pun sepertinya mulai sadar ada yang aneh. Sakura masih memakai seragam sekolahnya, itu artinya kemungkinan besar dia belum sampai ke rumahnya. Padahal Sasuke ingat sekali, setelah mengantar Sakura kembali ke kelas, gadis itu berjalan menuju rumahnya bersama Sai yang tak lain dan tak bukan adalah kekasihnya. Kalau begitu, apa yang terjadi di tengah perjalanan itu?
Sementara Sasuke terlihat berpikir, Sakura masih menatap Sasuke dengan tatapan intens namun lemas—karena terlalu lama terkena hujan. Perlahan tapi pasti, senyum tipis terukir di wajah gadis manis itu.
Di balik kata-kata kasar dan dinginnya, selalu tersembunyi perhatian yang begitu besar dan hangat.
Kenapa gadis itu baru sadar sekarang?
Inilah Uchiha Sasuke yang sebenarnya...
"Sasuke..." Sakura menunduk, sehingga Uchiha bungsu itu tidak bisa melihat bagaimana ekspresi gadis itu. Namun kedua bola mata onyx milik Sasuke membulat ketika dia menangkap suara isakan. Dia... menangis? "Terima kasih..."
Sasuke bingung dengan maksud 'Terima kasih' dari Sakura itu. Apa maksudnya? Terima kasih untuk apa? Tak lama setelah itu, tangan Sakura terulur menyentuh ujung jaket yang dikenakan Sasuke. Tangan itu bergetar. Seolah mengerti apa maksudnya, Sasuke yang masih diam kini melangkah hingga posisi kedua anak Adam Hawa itu semakin dekat. Kemudian Sakura ikut maju selangkah hingga dia bisa menyandarkan kepalanya di atas bahu yang tegap itu.
Memang hangat.
Tubuh Sakura bergetar membuat Sasuke mengerti kalau gadis itu menangis lagi. Entah apa alasannya. Lebih baik biarkan dulu dia seperti ini. Sampai gadis itu kembali tenang dan dapat menceritakan masalahnya.
Setidaknya... sampai hujan ini berhenti.
.
.
.
.
Dan lagi, yang jauh lebih menyedihkan...
Manusia tidak hanya mempermainkan dan menyakiti diri mereka sendiri.
.
Tapi mereka juga...
Mempermainkan dan menyakiti para manusia lain.
Seolah tanpa menyakiti manusia lain,
mereka tidak akan bisa hidup di dunia ini.
.
.
.
.
Menyedihkan, bukan?
.
.
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
Special thanks for :
Yuuki Aika UcHiHa, Ay, Eunike Yuen, risa-chan-amarfi, Valkyria Sapphire, Rievecta Herbst, blackcurrent626, Haza ShiRaifu, Kikyo Fujikazu, ChieAkane, Laura Pyordova, IzuYume SaitouKanagaki, Na Fourthok'og, 4ntk4-ch4n, selenavella, ck mendokusei, Micon, Chini VAN (2x), Parapluei De Fleurs, Tsukiyomi Aori Hotori, RizkaRina, Ritard., Ny. Sakamoto Suwabe, Ka Hime Shiseiten, Cherry Blue Rei-chan, Asadia Akil, ArHiiDe-chan 'HongRhii' Hikari, LuthCi, RestuChii SoraYama, Frozenoqua, Ayhank-chan UchihArlinz, Sorane Midori, Uchiha The Tomato Knight, WonderWoman Numpak Rajawali, ReyNa ArMey, Hany-chan DHA E3, pindanglicious, My 'Beibi' is, OraRi HinaRa, Uchiha ney-chan, Sindi 'Kucing Pink', YUPI-Locks, Naomi azurania belle, princess dilsa, FAYSasuSaku, NamikazeNida, Cherry Blossoms, Saranghae ThunderSiwonOppa (3x), Just Fullmoon, mysticahime (6x), saitou ayumu uchiha, clarasteffanie, Amel Mele, chitanblueIceCream, Watari-hime, SasuSaku 4ever, matsuhiko-san
Dan untuk yang lainnya juga, terima kasih banyak yaaa hehehe xD #plak
...Lama. Pasti lama banget kan updatenya? Gomen (_ _) #nunduknunduk #diinjekbarengbareng Silahkan gebukin saya, tapi jangan sakit-sakit ya? #tatapanmemelas #ditendang
Rencananya fic ini mau saya selesaikan setelah Choose Me! selesai, berhubung fic dengan rating M itu tinggal satu chapter lagi jadi saya sudah mulai melanjutkan fic ini. Dengan updatenya chapter ini, Insya Allah setelah update chapter terakhir Choose Me, fic ini akan kembali dilanjutkan. Atas kesetiaannya menunggu fic ini, saya ucapkan TERIMA KASIIIIIIH 8D #dor
Ano... feelnya masih kerasa gak? ._. Saya takut-takut nggak nih update chapter ini, soalnya jujur aja chapter ini melenceng jauh dari niat awal saya orz Yang lumutan nungguin fic ini maaf ya, nih saya siram biar lumutnya hilang :3 #woy
Tapi jujur saya terharu melihat fic ini reviewnya masih nambah walau sudah saya telantarkan berbulan-bulan. Saya bacain satuTerima kasiiiiih banget walau saya pegel nulisin namanya satu-satu, saya tetep seneng masih ada yang nungguin. Makasih banget lho xD saya nggak bosen deh ngomong 'terima kasih' berkali-kali hwehehehe~
Nah, review lagi? X3 #dzig
