CHAPTER 14 : YOU AND ME
Suara detik jarum jam yang berputar mengisi keheningan di kamar yang bernuansa biru tua tersebut. Hujan di luar masih enggan untuk berhenti bahkan kini terdengar suara angin kencang yang menemaninya. Suara deru hujan yang menghantam kaca jendela turut mengisi keheningan di dalam kamar yang berisi dua anak manusia tersebut.
Pemuda yang memiliki bola mata sehitam batu obsidian itu melirik untuk yang ke sekian kalinya pada gadis yang duduk di depannya. Sudah hampir satu jam berlalu sejak mereka berdua tiba di rumah Uchiha Sasuke dan memasuki kamar pribadinya. Setelah memberi Haruno Sakura sebuah handuk untuk mengeringkan rambut dan tubuhnya lalu memberinya baju ganti, Sasuke menyuruh gadis bermahkota soft pink itu duduk di tepi kasurnya dan mulai menceritakan masalahnya. Namun nihil, sampai detik ini pun Sakura masih enggan membuka mulutnya barang sedikit saja.
Jangan tanya apakah Sasuke sudah mencoba mengajak Sakura berbicara karena sudah hampir lima kali Uchiha bungsu itu mencobanya. Walaupun baru lima kali, jumlah itu sudah cukup untuk memecahkan rekor bagi Uchiha Sasuke yang memang hampir tidak pernah mengajak berbicara seseorang lebih dulu.
Laki-laki itu tampak begitu gelisah, sesekali terlihat kedua tangannya saling mencengkeram satu sama lain. Ini memang bukan kali pertama gadis yang disukainya berada di kamarnya. Tapi tetap saja dia tidak bisa menampik degup jantungnya yang berdetak dua kali lebih cepat. Sasuke hanya bisa berharap semoga suara degup jantungnya itu tidak terdengar oleh gadis manis di depannya.
Gerakan pelan Sakura yang berniat mengambil cangkir teh di sampingnya membuat dada Sasuke terasa hampir meledak karena kaget. Laki-laki itu dengan panik berusaha mempertahankan wajah datarnya sementara dadanya sendiri terlihat naik turun pelan mencoba mengatur hembusan napasnya. Untunglah Sakura sepertinya tidak menyadari gelagat anehnya itu—atau memang Sasuke yang pintar menyembunyikannya—ah entahlah. Yang jelas, sekarang Sakura sendiri mulai mendekatkan pinggir cangkir teh panas itu di depan bibir ranumnya.
Sasuke masih memperhatikan gerakan Sakura ketika gadis itu menghentikan laju cangkir teh sehingga dia tidak jadi meminum isinya. Sakura meletakkan kembali cangkir itu ke atas meja dan menghela napasnya. Sesaat dia melirik hujan deras di luar dari jendela kamar yang dimiliki laki-laki yang duduk di depannya. Kedua tangan Sakura terlihat mengepal di atas pahanya sendiri ketika gadis bernama bunga tersebut menunduk dan akhirnya berbicara.
"Maaf jadi merepotkanmu."
Laki-laki berambut raven itu tersentak seketika dan dengan cepat menjawab, "Hn. Bukan masalah," mendengar suara Sakura setelah sekian lamanya entah kenapa malah membuatnya jauh lebih kaku dari sebelumnya. Sasuke melirik ke sudut kiri ujung matanya, "...sedikit lebih baik?" tanyanya singkat.
Sakura hanya mengangguk tanpa menjawab sepatah kata pun. Gadis itu mengambil handuk yang menutupi rambut basahnya dan melipatnya dengan rapi, "Terima kasih atas handuk dan bajunya... akan ku-laundry dulu sebelum kukembalikan padamu." Ucap gadis beriris hijau emerald tersebut.
"Tidak perlu sampai seperti itu, cukup kau cuci seperti biasa saja," sebelum Sakura sempat membantah, Sasuke buru-buru melanjutkan, "kau tidak perlu menghabiskan uang makanmu selama seminggu hanya untuk membayar laundry bajuku, dasar bodoh."
Tersadar, Sasuke reflek menutup mulutnya dengan punggung tangan kanannya. Alisnya tertarik menyiratkan rasa bersalah, lalu dia menundukkan kepalanya. Entah kapan terakhir kali dia mengeluarkan kata-kata kasar untuk menyakiti gadis di depannya demi menyembunyikan perasaannya sendiri dalam-dalam. Laki-laki yang memiliki rambut berwarna biru donker tersebut menggertakkan giginya di balik bibir tipisnya.
Sungguh.
Justru Uchiha Sasuke lah yang bodoh di sini.
Namun tawa kecil yang keluar setelahnya membuat Sasuke mengangkat kepalanya. Kedua bola mata onyx itu membulat melihat Sakura yang akhirnya tersenyum di depannya. Padahal sampai tadi, Sasuke masih belum bisa melupakan wajah menangis Sakura di bawah hujan deras sebelumnya dan berulang kali memikirkan cara untuk menyingkirkan ingatan itu di kepalanya. Tapi sepertinya sekarang dia tidak perlu memikirkan itu lagi. Perlahan tapi pasti senyum tipis terbentuk di bibir Sasuke.
Sakura masih belum menghilangkan senyum di wajahnya ketika dia menundukkan kepalanya dan bergumam, "Sasuke, kau memang—" mendengar namanya disebut, pemuda berumur tujuh belas tahun itu semakin menatap gadis di depannya dengan begitu intens. Seolah tidak ingin melepaskan wajah itu dari pandangannya barang sekejap saja.
"—tidak pernah berubah."
.
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto
Story © Kira Desuke
Warning : OOC, AU, misstypo?
Genre(s) : Romance/Hurt/Comfort/Friendship/Drama
Main Pair : SasuSakuSai
REVIEW AND ART
.
.
.
Sai mengerjapkan matanya ketika suara kertas robek menyadarkannya dari lamunannya. Pelukis itu menatap kosong kertas gambar di bawahnya yang kusut dengan lubang baru di tengahnya. Sepertinya dia menghapus di atas kertas itu terlalu kasar. Sai menghela napas, untuk yang ke sekian kalinya dia meremas kertas gambar—entah yang ke berapa—lalu melemparnya ke dalam tempat sampah di belakangnya. Walau pada akhirnya tetap saja remasan kertas gambar itu tidak berhasil masuk ke dalam keranjang sampah tersebut, karena isinya telah penuh dengan remasan kertas-kertas sebelumnya sejak tadi.
Dia sedang gusar dan tentu saja dia sendiri tahu akan hal itu. Sai memijit pelipisnya dengan sedikit keras lalu bangkit dari kursi kerjanya. Tugas menggambar untuk pelajaran seni besok, bisa dia selesaikan dalam waktu sepuluh menit sebelum berangkat sekolah atau sebelum pelajarannya dimulai nanti. Laki-laki itu melompat ke atas tempat tidurnya dan menghela napas lagi. Ketika dia menghadapkan tubuhnya ke arah tembok, mendadak laki-laki berambut hitam itu merintih pelan dan memegang pipinya sendiri.
Hari sudah menjelang hampir tengah malam, tapi pipinya masih terasa perih. Ini pertama kalinya Sai mendapat tamparan dari seorang perempuan dan dia tak menyangka rasanya sesakit ini. Padahal dia cukup percaya diri dengan hukum alam bahwa tenaga perempuan lebih lemah dibanding laki-laki. Apa karena yang menamparnya adalah Sakura? Walau begitu, Sai tetap masih merasa ragu. Yang sakit ini... benar pipinya atau—
—hatinya?
"Aaaargh!" lagi, entah untuk yang ke berapa kalinya Sai mengacak-acak rambutnya. Laki-laki bermata onyx tersebut mengambil guling dan memeluknya kencang. Dia sentuhkan dahinya dengan tembok bercat putih di sampingnya. Apapun rela dia lakukan, asal bisa menghapus wajah Sakura yang tengah menangis dari dalam kepalanya.
Kalau dipikir-pikir lagi, tadi kata-katanya memang keterlaluan. Bahkan sekarang Sai tak habis pikir bagaimana bisa dia membiarkan kata-kata itu keluar dari mulutnya. Atau mengapa bisa-bisanya dia dibutakan oleh kemarahan sampai-sampai tak bisa mengendalikan emosinya sendiri. Sai membuka matanya setelah lama terpejam, lalu menggertakkan giginya.
Ini semua gara-gara laki-laki sialan itu!
Jika Sai mau berpikir sehat, sebenarnya ini tidak sepenuhnya salah Uchiha Sasuke. Dia sendiri yang menyulut api kemarahan di antara dirinya dengan kekasihnya. Sakura juga hanya ingin mengucapkan terima kasih, tidak lebih. Lagipula bukankah waktu itu Sasuke sendiri yang bilang dia akan mengalah padanya? Ayolah Sai, tenang... tenang!
Setelah cukup memakan waktu lama untuknya mencoba berpikir lebih logis, Sai menghela napasnya. Laki-laki yang memiliki kakek bernama Danzo itu menenggelamkan wajahnya pada bantal empuk di bawahnya. Sempat terdengar beberapa erangan kesal sebelum akhirnya pelukis itu jatuh tertidur.
Aaah...
Mengapa rasanya jadi begitu sulit?
.
.
.
.
.
.
#
Kalau bisa, Sakura ingin sekali bolos hari ini.
Gadis itu menghela napasnya keras-keras ketika dia sampai di depan gerbang gedung sekolahnya sekarang. Biasanya, Uchiha Sasuke adalah salah satu alasan kuat mengapa Sakura ingin cepat-cepat memutar waktu hingga waktunya pulang sekolah tiba. Tapi sekarang, Sakura tidak habis pikir malah kekasihnya sendiri yang menjadi alasan utama untuknya enggan memasuki salah satu sekolah kebanggaan Konoha tersebut.
Namun, toh tetap saja mau tak mau gadis itu melangkah masuk dan menuju ke kelasnya di lantai dua. Ingat, Haruno Sakura yang memiliki kehidupan pas-pasan, bisa masuk ke sekolah ini dengan beasiswa cuma-cuma. Saat sebelumnya dia absen sakit sehari saja, Sakura sudah dipanggil kepala sekolah dan diberi peringatan akan pencabutan beasiswanya. Apalagi jika dia bolos tanpa pemberitahuan yang jelas? Bukan tidak mungkin kepala sekolah yang glamour itu akan dengan senang hati mengeluarkannya dari Konoha high school ini.
Sakura juga tidak cukup bodoh untuk tidak mengetahui bahwa keberadaannya di sini mengganggu beberapa siswa kaya lainnya. Sebelum Sasuke datang dan menghasut anak-anak lain untuk mengucilkannya, Sakura sudah bisa merasakan pandangan atau bisikan murid-murid yang merendahkannya di setiap langkahnya berjalan. Baru setelah itu, Sasuke lah yang mengajak mereka semua—yang tadinya hanya menghinanya di belakangnya saja—kini berani menghinanya langsung tepat di depan wajahnya.
Suara langkah gadis bermahkota soft pink tersebut menggema di lorong sekolah yang masih sepi ini. Seperti yang sebelumnya pernah dikatakan, Sakura selalu datang paling pagi dari murid-murid lainnya. Tapi percuma saja, datang paling pagi atau sedikit lebih siang dari yang lain pun hasilnya tetap sama. Tidak akan ada yang mau menganggapnya ada di sekolah ini bahkan sampai sepulang sekolah. Dia selalu sendiri, setidaknya sampai dia memiliki kekasih.
Pintu kelasnya berderit ketika Sakura menggesernya untuk membukanya. Gadis itu sedikit terkejut melihat sudah ada yang datang lebih dulu darinya. Dan lagi... mengapa dari semua anak yang ada di sekolah ini, malah pelukis dari salah satu pangeran sekolah itu yang sudah datang?
Sai sendiri setelah mendengar suara pintu terbuka, langsung mengangkat kepalanya. Reaksinya kurang lebih sama seperti Sakura. Laki-laki itu menghindar dari tatapan kekasihnya dan mengeratkan pensilnya yang dia genggam. Sai menarik napas panjang dan mengeluarkannya, kemudian dia mencoba melanjutkan kembali sketsa di atas kertas gambarnya walau tangannya sedikit kaku.
Melihat reaksi Sai, Sakura menelan ludah. Dia menundukkan kepalanya sekilas lalu berjalan perlahan memasuki kelasnya. Di dalam ruangan yang hanya berisi dua anak manusia tersebut hanya terdengar suara gesekan ujung pensil dengan kertas sketsa tersebut. Sakura berusaha menuju tempat duduknya tanpa melihat ke arah Sai yang berada di ujung berlawanan dengan tujuannya. Begitu pula dengan Sai yang mencoba berkonsentrasi pada gambarnya tanpa harus memperhatikan Sakura.
Tapi, tetap saja penasaran.
Sakura dan Sai saling menggigit bibir bawahnya satu sama lain. Rasanya sangat tidak nyaman seperti ini, apalagi sekarang mereka sedang menjalani suatu hubungan yang bisa dikatakan spesial. Setelah dua sisi mereka saling berargumentasi, akhirnya keduanya pun memutuskan dan menoleh bersamaan, "Ano..."
Sesuai yang diperkirakan, wajah kedua kekasih itu memerah. Mereka tak menyangka mempunyai pemikiran yang sama, bahkan sampai memanggil secara bersaman seperti itu. Detik berikutnya mereka kembali menunduk sementara degup jantung mereka berdetak dua kali lebih cepat. Seakan mereka adalah dua pasangan yang baru saja bertemu dan saling menyukai.
Sekali lagi, mereka mencoba menoleh dalam gerakan kaku. Kedua insan itu saling menatap dari kejauhan. Sai menunduk sekilas sebelum akhirnya berkata, "Maaf untuk yang kemarin..."
Sakura sedikit tersentak mendengar ucapan kekasihnya. Namun melihat semburat merah yang semakin terlihat dari kedua pipi Sai, membuat gadis bermahkota soft pink itu tersenyum lembut, "Tidak apa... maaf, aku juga salah." Sakura tertawa kecil pada akhir kalimatnya membuat laki-laki yang menjabat sebagai ketua kelas itu memberanikan diri untuk menoleh lagi. Mereka kembali bertatapan kemudian tersenyum kecil.
Adegan itu tak bertahan lama, ketika suara pintu kembali menggema di dalam ruangan kelas tersebut. Mereka berdua secara bersamaan menoleh ke arah pintu, untuk melihat siapa orang ketiga yang datang ke sekolah pagi ini. Dan bola mata keduanya saling membulat.
Mungkin di sini, arti dari 'orang ketiga' bisa diartikan sebagai urutan datangnya Uchiha Sasuke ke dalam kelas ini.
Tapi bagi Sai, 'orang ketiga' itu memiliki dua arti selain yang disebutkan sebelumnya.
Sai mendecih sesaat sebelum kembali melanjutkan tugas sketsanya, sementara Sakura menunduk seraya memainkan jari-jarinya di bawah meja. Langkah Sasuke terdengar begitu keras di telinga dua orang yang sudah datang lebih dulu tersebut. Tanpa berusaha mempedulikan perubahan aura yang sangat tertera di sana, laki-laki berambut biru donker itu terus berjalan hingga akhirnya dia mendudukkan dirinya di samping Sakura—yang memang merupakan tempat duduknya.
Sakura melirik Sasuke yang terlihat biasa saja dan tengah mengambil buku dari dalam tas ranselnya. Salah satu pangeran sekolah selain Sai itu membuka bukunya dan membaca tiap baris kalimat-kalimat yang ada di sana. Gadis itu kembali menunduk dan menatap kesepuluh jarinya. Di kepalanya kembali berkelebat kejadian kemarin sore. Sakura memang belum menceritakan alasannya menangis, tapi tentu saja kurang lebih Sasuke tahu mengapa.
Setelah cukup lama terdiam, gadis berumur tujuh belas tahun itu baru teringat akan adanya ulangan sejarah pada jam pelajaran kedua. Sakura buru-buru mengambil buku pelajaran itu dan membacanya dengan panik. Ketika Sakura tengah sibuk menghafal, Sasuke yang sedari tadi mempertahankan wajah tidak pedulinya akhirnya luluh juga. Uchiha bungsu itu melirik wajah gadis di sebelahnya.
"Hei."
"Ng?" mendengar bisikan Sasuke yang seperti memanggilnya, membuat Sakura menoleh pelan. Gadis itu menatap Sasuke yang kedua matanya masih tertuju pada buku di bawahnya. Meski begitu, mulut laki-laki itu tetap berbicara.
Gadis bermarga Haruno tersebut sempat menangkap gemingan wajah laki-laki yang duduk di sampingnya, "Kau... sudah berbaikan dengan Sai?" bisiknya pelan. Sakura tertegun. Entah kenapa wajahnya menyiratkan rasa bersalah lalu kedua tangannya meremas ujung rok di bawahnya. Tanpa perlu menjawab dengan kata-kata, gadis itu mengangguk pelan.
Sayang Sakura tak sempat melihat alis-alis Sasuke yang tertarik sehingga menunjukkan ekspresi antara lega namun kecewa, "Begitu..." laki-laki itu dengan cepat menutup setengah wajahnya sehingga yang terlihat dari sudut pandang gadis itu hanyalah senyum tipisnya yang cukup terlihat dipaksakan. Mendengar kata-kata Sasuke selanjutnya, membuat Sakura menggigit bibir bawahnya semakin kuat sementara tubuhnya disiksa dengan rasa bersalah yang begitu besar.
"...syukurlah."
#
.
.
.
.
#
"Hyuuga-san, maaf aku tidak bisa menemanimu, para guru memanggilku untuk membantu mereka lagi," Sai menghela napas di akhir kalimat. Hyuuga Neji baru menoleh setelah beberapa detik kemudian. Kedua bola mata lavender miliknya menatap tepat di kedua bola mata onyx milik Sai, "haaah, dasar guru-guru merepotkan." Gerutu pelukis muda tersebut.
Neji mendengus dan tersenyum tipis, "Sudahlah, aku juga bukan anak kecil yang perlu kau perhatikan setiap saat," laki-laki berambut coklat panjang itu kembali menatap buku tebal yang selalu dibacanya jika ada waktu. Dibalikkannya halaman yang sudah selesai dia telusuri itu, "lagipula sepertinya adik sepupuku dan kekasihnya yang bodoh itu akan menemaniku sampai pulang nanti."
"Ah sou..." Sai tertawa kecil dan melipat kedua tangannya di depan dada, "Baiklah, tapi jika ada yang kau perlukan tak perlu sungkan memanggilku, Hyuuga-san," lanjutnya seraya berbalik dan melambaikan tangannya sekali. Neji hanya membalasnya dengan mengangguk, tak perlu waktu lama hingga dia kembali menenggelamkan dirinya di dalam dunia buku kesukaannya itu.
Meskipun waktu tengah menunjukkan jam istirahat dan kelasnya terdengar sangat bising, Neji tetap tidak terganggu. Mungkin lebih tepatnya dia sudah terbiasa dengan situasi ini dan juga terbiasa mengunci dirinya sendiri dari aktivitas tak berguna seperti yang sekarang tengah dilakukan para murid lainnya. Namun sepertinya sekarang usaha Neji untuk mengasingkan dirinya sendiri itu tidak diperlukan lagi, tepat ketika seseorang menggebrak mejanya dengan seenaknya.
BRAK
"NEJI! NEJI!"
"Tch, apa Naruto?" gusar pewaris klan Hyuuga tersebut. Neji tak bisa menyembunyikan ekspresi kesalnya pada kekasih adik sepupunya itu. Jujur saja, sifat Uzumaki Naruto memang hampir sama berisiknya dengan Rock Lee yang sering mengganggunya di Kirigakure. Hanya saja, Naruto seratus kali jauh lebih menyebalkan.
Neji memijat pelipisnya ketika Naruto kembali bertanya, "Tadi aku dengar dari Sai, kau berbicara berdua dengan Sakura di atas atap sekolah, apa itu benar?" melihat gerakan Neji yang terhenti membuat Naruto yakin akan jawaban laki-laki tampan yang memiliki kedua bola mata lavender tersebut, "Apa... yang kalian bicarakan?" tanyanya lagi.
Tadinya Neji ingin balik bertanya pada Naruto mengapa dia bertanya seperti itu. Tapi lagi-lagi Naruto memotongnya, "Sai juga menceritakan padaku kalau dia dan Sakura sempat bertengkar saat pulang kemarin," kali ini Neji langsung mengangkat kepalanya, menatap kedua bola berwarna biru langit di depannya, "masa' sih yang kau dan Sakura bicarakan itu—"
"Kurang lebih sama yang ada di pikiranmu." Potong Neji cepat, membuat Naruto tak bisa menahan kekagetannya.
"BAGAIMANA KAU BISA TAHU?" teriakan Naruto seketika menghentikan semua kegiatan yang ada di kelas. Neji mendelik kesal. Menjadi pusat perhatian sama sekali bukan keinginannya, "HANYA DALAM SEHARI—BAGAIMANA?" walau mendapat tatapan tajam seperti itu, tetap tidak membuat Naruto menurunkan volume suaranya. Berteman dengan seorang Uchiha sepertinya cukup memberinya latihan yang berguna, sehingga dia sudah kebal.
Anak pertukaran pelajar tersebut menghela napasnya seraya memijat pelipisnya pelan. Dia menatap Naruto sesaat sebelum akhirnya laki-laki yang biasanya bersikap tenang itu berdiri dari kursinya, "Ikut aku." Perintahnya. Tanpa menunggu jawaban dari pemuda berambut pirang itu, Neji sudah lebih dulu berjalan keluar kelas.
Naruto menyamakan langkahnya dengan—mungkin—calon saudara sepupunya tersebut. Sepertinya Neji memang berniatnya mengajak berbicara di tempat yang sepi atau jarang ada orang yang mau menuju tempat itu. Di sekolah ini, hanya ada satu tempat yang seperti itu. Atap gedung sekolah.
Namun anehnya, ketika kedua laki-laki itu sudah menaiki tangga dan tinggal membuka pintu menuju atap gedung sekolah, tangan Neji terhenti. Naruto menatap aneh pada tangan Neji yang memegang kenop. Padahal laki-laki berambut coklat panjang itu tinggal memutarnya. Cukup lama mereka terdiam, hingga akhirnya Neji menarik kembali tangannya dan menghadap Naruto, "Kita bicara di sini saja."
"Eh? Kena—"
"Tadi kau bertanya mengapa aku bisa tahu semuanya kan?" Naruto merasa heran dengan pertanyaan Neji yang seolah membelokkan pertanyaannya. Tapi, teringat dengan tujuan utamanya yang lebih penting, sepertinya lebih baik tidak perlu menjadikan tempat mereka berada sekarang menjadi masalah, "Hhh, haruskah kujelaskan?" desah Neji dengan malas.
Naruto memutar bola matanya bosan, "Baiklah, terserah kau saja mau menjelaskannya atau tidak," ucap laki-laki berambut spike itu dengan malas. Naruto melipat kedua tangannya di depan dada dan terlihat seperti memikirkan sesuatu. Kedua bola mata biru langit itu kembali menatap kedua lavender di depannya, "lebih baik kau jelaskan saja padaku, apa tujuanmu sekarang?" tanya anak presdir perusahaan Uzumaki tersebut.
Neji tidak langsung menjawab pertanyaan Naruto. Pewaris klan Hyuuga itu melirik ke bawahnya lalu kemudian menoleh pada jendela kecil yang terdapat di pintu menuju atap gedung sekolah tersebut. Naruto menaikkan sebelah alisnya tak mengerti. Detik demi detik berjalan hingga Neji kembali menatap Naruto seraya mengangkat bahunya dengan tenang.
"Mengikuti feeling... mungkin?"
"Jawab yang serius!" gusar Naruto pada akhirnya. Jika Neji sudah menjawab asal-asalan rasanya sangat menyebalkan, apalagi dengan wajah datarnya itu. Jika bukan karena dia adalah kakak sepupu dari kekasihnya, pasti Naruto sudah mengomelinya sedari tadi untuk berbicara dengan benar.
Neji tersenyum tipis, "Aku serius, Naruto." Jawabnya lagi. Namun wajah Naruto masih belum menunjukkan kepuasan akan jawaban Neji sedikit pun. Laki-laki berambut pirang itu menghentakkan kakinya berkali-kali membuat laki-laki berambut coklat panjang tersebut menghela napas lagi, "Aku serius. Kau juga merasakannya kan? Dengan siapa feeling-mu berpihak," tanya balik kakak sepupu Hyuuga Hinata itu padanya.
Naruto menghentikan hentakan kakinya, "He?"
Kepala Neji bergerak seolah memberi isyarat 'lihat-sendiri-lewat-jendela-kecil-ini'. Naruto mengernyitkan alisnya bingung, tapi toh dia tetap menuruti perkataan Neji. Pewaris klan Hyuuga itu menggeser tubuhnya sehingga laki-laki yang identik dengan rubah itu bisa mendekatkan wajahnya dengan jendela kecil yang dimaksud. Kedua bola mata biru langitnya membulat melihat siapa yang ada di atap gedung sekolah. Dan mungkin inilah alasan Neji tidak jadi mengajaknya ke sana.
Entah bagaimana awalnya, Sakura terlihat tertidur seraya memeluk buku sketsa yang sepengetahuan Naruto adalah milik Sai. Memang, tadi laki-laki yang suka memakan ramen itu melihat salah satu sahabat baiknya memberikan buku itu pada Sakura untuk dilihat olehnya. Lalu sepertinya Sakura melihat-lihat isi buku itu di sini hingga kemudian dia tertidur. Wajahnya terlihat bahagia dengan semburat merah di kedua pipinya dan tubuhnya menyandar pada pagar kawat pembatas.
Namun, bukan itu yang menjadi pusat perhatian Naruto.
Sahabat sepermainannya yang lain terlihat berjalan mendekati Sakura yang tengah tertidur itu. Entah Sakura sadar atau tidak akan keberadaan Sasuke di sana, namun dilihat dari bagaimana wajah gadis itu yang bahagia seolah tanpa beban, membuat Naruto dan Neji mengambil keputusan bahwa Sakura tidak menyadarinya. Awalnya Sasuke terlihat ragu dan masih berdiri di samping Sakura yang duduk tertidur di bawahnya. Tapi akhirnya, laki-laki beriris obsidian itu menurunkan tubuhnya.
Naruto menelan ludahnya penasaran melihat reaksi Sasuke selanjutnya. Beda dari Naruto yang terlihat begitu antusias, Neji hanya memperhatikan keduanya dari ujung matanya. Sesekali dia melihat ke arah lain, karena sejujurnya setiap melihat kedua insan itu, Neji selalu merasa sakit di dadanya—mengingat masa lalunya yang menyebalkan. Walau dia tidak pernah menunjukkannya lewat ekspresi di wajahnya.
Tangan Sasuke terlihat akan menyentuh pucuk kepala Sakura, tak ayal tangan Uchiha bungsu itu sempat berkali-kali mundur karena ragu. Ketika sampai, Sasuke mengelusnya perlahan agar gadis yang disayanginya itu tidak terbangun dari mimpi indahnya. Dari sini, Naruto bisa melihat senyum tipis Sasuke yang terasa begitu menyakitkan. Belum lagi dengan tatapan mata pemuda itu yang biasanya terlihat begitu tajam, kini melemah seakan bisa menangis kapan saja saat pertahanannya runtuh.
Laki-laki berambut pirang spike itu mengepal kedua tangannya di atas permukaan pintu, giginya dia gertakkan semakin keras, hampir saja Naruto menggebrak pintu itu seandainya Neji tidak menyentuh bahunya, "Jangan berbuat bodoh." Ucapnya dengan nada tegas. Naruto menatap Neji sesaat kemudian memejamkan matanya erat. Rasanya lebih baik melihat Uchiha Sasuke yang selalu menyombongkan dirinya sendiri dengan senyum angkuh di bibirnya daripada melihatnya hancur seperti ini.
Kekasih Hyuuga Hinata itu menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya. Sekali lagi, dia melirik pada jendela kaca di sampingnya. Sekarang Sasuke tengah melepas jasnya lalu menjadikannya selimut untuk menutupi tubuh gadis itu. Pangeran sekolah itu sempat terdiam beberapa saat sampai akhirnya dia memberanikan diri memajukan wajahnya untuk mencium kening Sakura.
Mengingat bagaimana Sasuke yang selalu mempertahankan bahwa Sakura adalah milik Sai di luar sana, membuat Naruto tak bisa menahan dirinya untuk tidak mengeluarkan ekspresi sedihnya. Kalau memang rasa sayang Sasuke pada Sakura melebihi perkiraannya, Naruto tidak bisa membayangkan bagaimana sakitnya setiap Sasuke mempertahankan fakta yang ada ketika gadis itu sudah dimiliki orang lain.
"Sekarang, aku yang bertanya..." Naruto masih belum menoleh ketika Neji akhirnya berbicara lagi setelah sekian lamanya. Tanpa menunggu jawaban lebih lama, murid pertukaran pelajaran tersebut melanjutkan kata-katanya, "...jika kau menjadi Sai atau Sasuke—"
Anak tunggal Uzumaki itu kembali memejamkan matanya.
"—saat menjadi siapa kau akan merasakan sakit yang lebih menyiksa?"
.
.
.
.
#
Entah sudah yang ke berapa kalinya Sai mengutuk dirinya di masa lalu yang memilih untuk menjadi ketua kelas. Well, itu pribadi memang salahnya—tapi tetap saja terasa kesal. Pelukis berbakat tersebut menghela napasnya pelan dan kembali berkutat dengan tumpukan kertas di hadapannya.
Suara pintu ruang guru yang terbuka menyadarkan laki-laki berambut hitam rapi itu. Sai tersenyum melihat siapa yang datang, "Ah, maaf jadi merepotkanmu, Yamanaka-san." Ucapnya sopan. Gadis bernama lengkap Yamanaka Ino itu sempat salah tingkah, namun dengan cepat dia menutupinya dengan menganggukkan kepalanya sebagai tanda membalas ucapan Sai.
Ino mengambil kertas-kertas ulangan yang sudah diperiksa Sai untuk dibawanya ke ruangan guru yang kedua. Sebelum benar-benar pergi, gadis yang suka menguncir satu rambut panjangnya itu menatap Sai yang sedang serius memeriksa lembar kerja yang lain. Laki-laki itu seolah terhisap ke dalam dunianya sendiri tanpa menyadari Ino yang belum pergi dan masih memperhatikannya. Diam-diam anak penjual bunga itu menghela napas dari balik tumpukan kertas yang dibawanya.
Selalu saja seperti ini.
Sedikit pun, Sai tidak pernah menyadari keberadaannya.
Gadis berambut pirang itu sudah berbalik ketika laki-laki yang memiliki bola mata sehitam batu obsidian tersebut memanggilnya, "Ah maaf, Yamanaka-san," mendengar namanya dipanggil, dengan cepat Ino berbalik walau sedikit kesusahan. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat, berharap lebih dengan kata-kata Sai selanjutnya. Senyum polos mengembang di bibir tipisnya.
"Sepertinya aku akan terlambat pulang, karena itu jika kau bertemu dengan Sakura, tolong katakan padanya agar dia pulang duluan saja. Tidak perlu menungguku."
Senyum Ino menghilang seketika. Alis-alis gadis itu tertarik, menunjukkan kekecewaan tanpa berniat menyembunyikannya. Tapi sepertinya itu pun percuma saja, karena setelah mengucapkannya Sai kembali melanjutkan pekerjaannya. Entah tidak peduli atau tidak sadar. Yang mana pun, bagi gadis cantik itu sama kejamnya.
Bahkan di saat Haruno Sakura tidak ada di sini pun, tetap saja dia menjadi dinding kuat penghalang di antara mereka. Tubuh Ino bergetar sementara tangannya memegang tumpukan kertas semakin erat, bahkan dengan reaksi yang cukup terlihat jelas ini, Sai masih tidak melihat ke arahnya. Yang ada di matanya hanya Sakura, Sakura, dan Sakura. Sungguh, ini membuatnya muak!
Ino sudah tidak peduli lagi. Dilemparnya kertas-kertas yang sudah tersusun rapi di tangannya itu hingga jatuh melayang-layang dan berserakan. Tentu saja Sai kaget melihat itu. Belum lagi ketika dia menoleh, tiba-tiba gadis yang poninya menutup sebelah matanya itu menarik kerahnya dan menunduk hingga wajah mereka berdekatan. Sai menahan napasnya terkejut ketika Ino menyentuhkan kedua bibir mereka.
Tubuh Sai terasa kaku. Dia ingin menghindar dan mendorong tubuh Ino untuk mundur. Namun getaran lemah pada kedua tangan Ino yang berada di kerahnya, seolah mengunci gerakannya. Kertas-kertas yang melayang-layang jatuh di sekitar mereka seolah sudah tidak dianggap ada lagi. Ciuman itu hanya saling menyentuh—tidak lebih. Ino melepaskan ciuman bibir di antara mereka sekitar beberapa detik kemudian. Amarah Sai pun akhirnya tertahan ketika melihat air mata yang mengalir deras dari kedua bola mata biru sapphire yang seharusnya indah tersebut.
Gadis yang merupakan salah satu putri Konoha highschool tersebut mengisak begitu keras. Dia sudah lelah, dia kesal. Sudah cukup dia memakai topeng untuk mempertahankan kepopulerannya selama ini yang katanya selalu bisa menarik lelaki manapun. Kenyataannya, menarik perhatian seorang laki-laki yang sudah dia sukai sejak SMP saja dia tidak mampu. Dan fakta yang membuktikan bahwa dirinya telah kalah dari seorang perempuan dari kalangan biasa membuatnya semakin jatuh terpuruk.
Untunglah ruang guru ini sedang sepi. Sai masih bingung harus melakukan apa. Harus dia akui, dia tidak pernah menghibur perempuan yang sedang sedih sebelumnya—selain Sakura yang memang sudah dia ketahui cara-cara menghibur khusus untuknya. Pelukis muda itu menatap Ino yang masih menangis, gadis itu mulai mendekatkan wajahnya pada dada bidang Sai yang tertutup kemeja, "Hiks—Sai... kumohon—"
Jika seandainya laki-laki itu akan membencinya setelah ini...
"—sekali saja, tolong... lihat aku di sini."
...dia sudah siap.
.
.
.
.
.
A bad or happy ending is not a fate
.
But its a result of the way that have you been choose
.
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
Special thanks for :
Naomi azurania, Obsinyx Virderald, Cherry Blossoms, Kikyo Fujikazu, Cherry'lila-chan, Sei, Fitrielyamyan (3x), Ka Hime Shiseiten, Tsundere evil, Uchiha Steffanie, ck mendokusei (2x), saitou ayumu uchiha, Eunike Yuen, DEVIL'D, Hany-chan DHA E3, puppetslova, mysticahime, Saranghae ThunderSiwonOppa (2x), Roxannie Cosgrove, ChieAkane, Frozenoqua, Nakano Mayumi, Regita blahblah, Gracia De Mouis Lucheta, Nanairo Zoacha, ArhiiDe-chan 'HongRhii' Hikari, Niley Sasku, sichi, princess'nadeshiko, Sakamoto Suwabe, Sorane Midori, Tsukiyomi Aori Hotori, Arlene Shiranui, Kurosaki Naruto-nichan, Ay, chitanblueIceCream, OraRi HinaRa, SawaiiStillDoll, Retno UchiHaruno, skyesphantom, selenavella, Uchiha The Tomato Knight, Luthfiyyah Zahra, Sayasukakomikpilempotter, Uchika hoshy-chan, Light Uchiha, Black Cherry, niycan, tsuki-chan, jhfly3424
Dan untuk yang lainnya juga saya ucapkan terima kasih banyak. Maaf, kalau ada yang namanya tidak tertulis, saya lihatnya buru-buru D:
Saya terharu banget baca review-reviewnya, terima kasih banyak minna-saaan ;A; #ngelapingus Serius, saya pikir udah pada lupa sama fic yang entah sudah berapa lama saya telantarkan ini. Aaaa, sini yuk saya cium satu-satu :'* #ditendang
Untuk yang nanya fic ini sampai berapa chapter... saya juga masih belum bisa mastiin berapa. Soalnya jujur, saya juga belum nemuin penyelesaian konfliknya =..= #dibakar Oh ya, kalau ada yang mau nanya-nanya, silahkan nanya lewat facebookatau twitterya, soalnya kalau di kotak review takut saya lupa dan gak sempet ngebales. Gomeeeeen (_ _) Yang mau diconfirm pertemanannya juga kirim pesan aja yaaa.
Hm, apalagi ya. Bingung nih mau ngebacot apaan =w= ya sudah semoga feelnya masih kerasa dan mind to review please? Thanks before~ :D
NB : Sebelumnya saya minta maaf atas keterlambatan saya mendapat informasi. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun, turut berduka cita atas meninggalnya rekan sesama author Raffa PART II. Sebagai sesama author SasuSaku, saya doakan semoga Raffa-san bisa diterima di sisi-Nya dan pergi dengan tenang. Amin.
